“Kayra Angelina Atmaja, sekarang kamu saya cerai hari ini juga!”
“Detik ini kamu bukanlah istriku!”
Plak!”
Sebuah tamparan berhasil mendarat dipipinya, meninggalkan bekas berwarna merah muda.
Tuan Bima Prasetya Atmaja menjadi murka saat laki-laki itu yang baru lima menit menikah dengan putrinya langsung menalaknya di depan khalayak ramai.
“Mas, maksudmu apa, kenapa kamu menalakku, padahal baru lima menit yang lalu kamu mengucapkannya!” teriak Kayra bingung.
“Kurang ajar kamu, Bayu, kamu pikir pernikahan ini main-main, dengan seenaknya kamu membatalkan pernikahan ini!” ucap Bima geram.
“Apa-apaan ini Pak Bima, mengapa pengantinnya tiba-tiba menceraikan anak Bapak, dan kamu Bayu buat apa kamu menikahi putri kami, kalau akhirnya kamu menceraikannya?” tanya Pak Bagas kenalan bisnis Tuan Bima.
“Tanyakan saja kepada teman Bapak terhormat ini! ”jawabnya lantang.
“Apa maksudmu, Mas Bay?” tanya Kayra penasaran.
“Oh jadi anak sama Bapak telah sekongkol ya mempermainkan saya, Tuan Bima yang terhormat saya baru tahu kalau putri Bapak ini pernah dirawat di rumah sakit jiwa, kan?” tanya Bayu di hadapan para tamu.
Semua tamu penting dan lainnya terkejut, saat Bayu mengatakan fakta baru dan tidak ada yang percaya kalau seorang Kayra Angelina Atmaja putri konglomerat di kota itu pernah dirawat di sana.
Mereka hanya tahu kalau dia adalah seorang janda muda yang ditinggal pergi tiga tahun lama akibat kecelakaan mobil.
Ya tepat tiga tahun yang lalu Kayra dinikahkan oleh kenalan bisnis ayahnya di usia muda.
Anak pertama dari seorang konglomerat yang berusia dua puluh dua tahun itu harus kehilangan masa mudanya hanya untuk bisnis agar bisa berkembang pesat dan meraih keuntungan sebesar-besarnya.
Kayra seorang gadis cantik, humoris, periang dan penurut, tidak pernah mengecewakan kedua orang tuanya.
Walaupun masih kuliah Tuan Bima tetap menikahkan dengan seorang pria bernama Farhan Al Gazali anak dari rekan bisnisnya.
Awalnya Kayra tidak setuju tetapi dia tidak ingin membuat ayahnya yang tinggal orang tua satu-satunya merasa sedih, akhirnya dia menyetujui pernikahan itu.
Mereka akhirnya menikah dan betapa terkejutnya Kayra saat pria yang dijodohkannya adalah pria yang menjadi dosen di tempat dia kuliah dan pria itu yang disukai olehnya.
Begitu juga Farhan yang sangat menyukai Kayra tetapi sangat sungkan untuk berterus terang, dan akhirnya mereka sepakat kalau setelah selesai kuliah yang tinggal setahun lagi baru mereka merencanakan untuk berhubungan layaknya suami istri, karena Farhan tidak mau hamil saat kuliah yang akan mengganggu konsentrasinya belajar.
Namun malang tak dapat di raih tepat setahun pernikahan mereka, Kayra akhirnya berhasil menyelesaikan kuliahnya tetapi dia juga mendapat hadiah yang sangat menyakitkan kalau suaminya kecelakaan dan meninggal di tempat kejadian.
***
“Saya terima kalau dia janda tetapi saya tidak terima kalau wanita yang akan menjadi istri saya ternyata pernah masuk rumah sakit jiwa, apa maksudnya itu, Tuan Bima!”
“Saya sangat selektif dalam menilai pasangan, lagian anak Tuan juga bekas orang lain, jadi tidak usah malu untuk menikahkan dengan yang tidak sepadan dengan kita!” jelas Bayu yang sangat menyakitkan hati Tuan Bima.
“Pi, jadi Papi tidak memberitahukan kepada Mas Bayu kalau Kayra pernah masuk rumah sakit jiwa, kenapa Pi?”
“Bukankah setiap Kayra tanya ke Papi katanya Papi sudah mengatakannya tapi ini!” tanya Kayra kesal.
“Maafkan Papi, Kay!”
“Papi hanya tidak ingin mereka membatalkan seperti yang sudah-sudah kalau kamu pernah di sana, tetapi ...”
“Iya Pi, tetapi sekarang kita menjadi malu Pi !” ucapnya Kayra bersedih.
Melihat Kayra bersedih, Tuan Bima merasa bersalah dan tidak tega melihat putrinya seperti itu.
“Jangan Sayang, jangan bersedih, Papi minta maaf, Papi tidak tahu kalau jadinya seperti ini!”
“Papi minta maaf sama kamu!” ucap Tuan Bima tidak ingin anaknya bersedih.
Namun Kayra juga tidak ingin papinya merasa bersalah, biar bagaimanapun maksud papinya hanya ingin Kayra bahagia dan bisa melupakan masa lalunya.
Namun ternyata aib menurut Tuan Bima harus ditutupi akhirnya Bayu mengetahuinya.
“Bayu, seharusnya kamu tidak melakukan hal ini, kamu tidak memikirkan keluarga Tuan Bima akan dipermalukan seperti ini di depan orang banyak pula!” ucap Pak Bagas teman Tuan Bima.
“Lebih baik sakit hati sekarang daripada nanti di sini saya yang menjadi korban, karena kalian sudah membohongi saya dan keluarga saya kalau wanita ini dulu pernah tidak waras!” ucap Bayu lantang.
Plak!”
Satu tamparan lagi mengenai pipi Bayu kembali, membuat para tamu yang hadir menjadi kikuk, ada yang merekam kejadian itu, ada yang mengasihani Bayu maupun Kayra.
Keluarga dari pihak wanita meminta maaf dan memohon agar semua tamu undangan segera meninggalkan tempat acara.
Sebagian sudah meninggalkan acara, sebagian lagi ingin tetap di sana karena ingin mengetahui kelanjutannya kisah mereka.
Bahkan ada yang berani mengundang pihak pencari berita panas seperti ini.
Berbagai wartawan pencari berita itu sudah datang dan berusaha mengambil gambar mereka untuk dijadikan bahan berita mereka.
Apalagi Tuan Bima sangat terkenal sebagai pebisnis ulung dan seorang konglomerat.
Hal ini juga menjadi kesempatan bagi pesaing bisnis Tuan Bima yang tidak suka dengannya dengan menjatuhkan mental dan tentu saja bisnisnya.
“Kenapa, seharusnya justru saya yang malu, punya istri sudah janda, pernah gila pula, mau taruh di mana harga diri kami, Tuan Bima?” tanya Bayu yang masih kelihatan emosi.
“Seharusnya kita menyelesaikan baik-baik, tidak dengan seperti ini, kamu bisa saja menceraikan Kayra setelah selesai acara ini, tidak di sini, di mana rasa kemanuasianmu,Bayu?” tanya balik Tante Mira kakak kandung Tuan Bima yang dituakan.
“Maaf Bu Mira, saya masih menghormati Anda karena paling tua diantara kami, tetapi bukan berarti kami berdiam diri dengan masalah ini!”
“Wajar dong anak saya dan kami keluarga besar merasa ditipu oleh keluarga Anda, walaupun Anda adalah orang terpandang sekalipun jika kami mempunyai menantu seperti dia, buat malu kami saja!” jelas Bu Clara ketus.
“Mas, aku pikir kamu mencintaiku, ternyata aku salah, kamu tidak bisa menerima kekuranganku, hanya sebatas itukah cintamu , Mas?” tanya Kayra yang hampir mau membuka dirinya untuk orang lain.
“Eh Kayra seharusnya kamu tahu diri, walaupun kamu masih cantik, tetapi kamu itu hanya janda muda, masih kami terima, tetapi kamu pernah gila, nggak sudi saya punya menantu seperti kamu!” jelas Bu Clara marah.
“Sudah terima jawabannya kan, Kay?”
“Jadi aku sarankan jika kamu akan menikah lagi entahlah masih ada yang denganmu setelah kejadian ini, tetapi aku beritahu ke kamu sebaiknya berterus terang saja kalau kamu pernah masuk rumah sakit jiwa!"
“Jadi kalau kamu sewaktu-waktu kambuh gilanya tidak kaget, Hahaha ...” tawa Bayu diikuti keluarga Bayu yang lain.
“Ayuk Mah, tidak usah diladeni mereka, lebih baik kita pulang saja, dan sudah banyak wartawan!” ucap Bayu tersenyum sinis.
“Untungnya kita tidak membawa dia menjadi menantu di rumah, kalau nggak bisa sial keluarga kita!” celetuk Bu Clara
“Tunggu!” ucap Kayra saat keluarga Bayu ingin meninggalkan gedung itu.
“Ada yang ingin kamu sampaikan sebelum kami pergi dari sini?”
“Aku harap ini adalah pertemuan terakhir kita, aku tidak ingin jika suatu hari ada masalah dan saat aku memiliki pasangan dan aku akan mengundang kamu khusus!”
Akan kutunjukkan bagaimana calon istri yang masuk kriteriaku!” jelas Bayu sombong.
“Kamu benar, aku tidak pantas buatmu karena kamu juga sebenarnya bukan tipeku, lagian aku tidak terlalu sakit hati dengan ucapanmu, lagian itu benar semua!”
“Kuakui Papi memang salah karena tidak memberitahukan sejujurnya, karena beliau sangat takut anaknya tidak mempunyai jodoh lagi karena mempunyai gelar janda!”
“Namun aku juga sudah menyesal mengenal kamu, karena caramu salah, telah menceraikan di mana saat pernikahan kita baru saja digelar di depan orang banyak dan menghina keluarga!”
“Ini juga menjadi pelajaran buat keluargaku, agar mencari laki-laki yang betul-betul mencintaiku apa adanya!” jelas Kayra dengan tegas.
“Memang siapa yang akan menikahimu, setelah kejadian ini, dan kamu tidak lihat banyak wartawan di sini!”
“Akan tertulis disebuah surat kabar kalau seorang putri kolongmerat Tuan Bima Prasetya Atmaja telah ditalak oleh suaminya saat hari itu juga setalah usai pernikahan berlangsung!” jelas Bayu tersenyum sinis.
“Wajahmu memang cantik tetapi kamu adalah bekas orang lain, entah siapa yang akan mau denganmu, Kay!” lanjutnya lagi sinis.
“Aku tidak marah denganmu Bayu, tetapi perlu kamu ingat mulai sekarang kamu tidak usah datang ke kantor lagi!”
“Hei, apa maksudmu, siapa kamu sebenarnya!”
“Kamu itu bukan siapa-siapa saya, sedangkan Bos saya itu Pak Darmaji, bukan kamu, sombong banget jadi orang!” sahut Bayu marah dan emosi.
“Iya nih sok banget, bukan kamu saja punya perusahaan di Jakarta!”
“Sudah Bayu, nggak usah didengarkan, mulai gilanya kumat, semua perusahaan punya dia!” sanggah Bu Clara ikut membela Bayu.
“Pak Darmaji!” panggil Kayra tegas.
“Iya, Bu saya!” ucap Pak Darmaji datang menghampiri Ningrum.
Seketika Bayu mulai tegang dengan kedatangan Pak Darmaji dalam acara pernikahan itu.
“Loh, Pak Darmaji ada di sini juga, Bapak di undang juga dalam pernikahan ini?” tanya Bayu penasaran.
“Kamu memang Bayu, di kantor kamu berbuat ulah dan di pernikahan kamu juga berbuat ulah, saya capek kasih tahu kamu!” ucap Pak Darmaji kesal.
“Bu Kayra saya kan sudah bilang tidak usah berkenalan dengan pria ini, gaya hidupnya terlalu mewah apalagi keluarganya!” lanjutnya lagi.
“Apa maksud semua ini, Pak Darmaji?” tanya Bayu semakin penasaran.
“Bayu, maaf apa yang dikatakan Bu Kayra adalah benar kalau sebenarnya yang punya perusahaan adalah Kayra Angelina Atmaja!”
“Jadi sesuai keputusan Bu Kayra, saya harus mengeluarkan secara tidak hormat dan mengenai semua uang yang kamu korupsi akan ditotalkan semuanya sesuai yang kamu ambil!”
“Bisa jadi semua aset-aset berhargamu menjadi jaminan selama kamu bisa melunasi semuanya!” ucap Pak Darmaji dengan tegas.
“Apa maksud Bapak, saya tidak pernah korupsi, jangan tuduh sembarangan, itu jatuhnya fitnah!”
“Bapak bisa saya tuntut dan lapor ke polisi dengan pengaduan pencemaran nama baik! ”teriaknya.
“Kayra kamu mau balas dendam ya, sehingga kamu melakukan semua ini?” tanya Bu Clara tersulut emosi.
“Kenapa? Kalian takut akan kebusukan anakmu Bayu, hah?”
“Kalian sudah mencoreng nama baik saya dan saya balas dengan yang lebih menyakitkan!” sahut Tuan Bima.
“Kalian tidak tahu berhadapan dengan siapa, berani berbuat berani mengambil risiko dan ini adalah risiko yang akan kalian alami!”
“Kita lihat apakah Bayu bisa bertahan dengan kemiskinan?”
“Pak Darmaji segera urus pemecatannya dan jangan sampai dia bawa kabur semuanya, kalau perlu sita rumahnya sebagai jaminan hutang!” perintah Tuan Bima tegas.
“Tidak! Kalian tidak bisa mengambil rumah saya dan apa buktinya kalau saya mengambil uang perusahaan?” tanya Bayu yang masih belum mengakui kesalahannya.
“Bayu, kamu memang tidak korupsi kan?” tanya Bu Clara bingung.
“Tidak, Mah, mereka salah orang!”
“Si Firman yang telah korupsi bukan Bayu, Mam!” kilahnya.
Seketika itu juga anak buah Tuan Bima membuka proyektor dan menyetel video rekaman yang memperlihatkan Bayu telah mengambil uang di brankas di ruangan kepala keuangan dengan mudahnya.
Wajahnya kembali tegang dan tentu saja malu, karena sudah terbukti kalau dia bersalah bukan Pak Firman yang sempat dipecat karena ulah dia.
“Bagaimana Bayu, bukannya kamu menjunjung kejujuran dan kamu tidak mau ada kebohongan?”
“Itulah anakmu Clara, sok pintar, dan sekarang kalian sendiri yang kena batunya!”
“Kamu pikir setiap kamu minta uang ke Bayu, saya tidak tahu, apa?”
“Saya tahu, karena kalau kamu minta dengan Bayu, otomatis kamu akan mengambilnya dari kantor, benarkan Bayu?”
“Kalian licik, ternyata kalian memang nggak punya perasaan!” teriak Bu Clara emosi yang meluap-luap.
“Loh, bukannya kalian yang mulai duluan, dan ini akibatnya!”
“Sekarang selamat datang kemiskinan dalam hidup kalian!”
“Hei kamu, rekam semua gambar mereka dengan ekspresi wajahnya masing-masing!” ucap Tuan Bima menyuruh beberapa wartawan mengabadikan foto mereka.
“Ayuk Kay, tidak baik kamu berlama-lama di sini, kita pulang!” ajak Tuan Bima kepada putrinya.
“Jadikan sebuah pelajaran yang berharga dalam hidupmu, Mas!”
“Jangan memandang rendah orang lain, karena akan menimpa ke kamu sendiri, contohnya seperti kamu!”
“Kamu tahu, aku bersyukur kamu sudah menalakku hari ini, jika kalau tidak hartaku akan habis hanya untuk kamu dan keluargamu saja!” ucap Kayra tersenyum.
“Kay, tolong, jangan usir kami!”
“Biar Mamah yang akan membujuk Bayu akan menikahi kamu lagi, ya!”
“Bay, kamu mau kan menikah kembali dengan Kayra, jangan sampai harta kita diambil oleh mereka semua untuk membayar hutang kamu!”
“Mamah nggak mau jatuh miskin seperti masih ada Papah dulu!”
“Mamah nggak mau!” teriaknya histeris seperti orang gila.
“Sudah Mah, malu banyak wartawan!”
“Hei kalian jangan ambil foto kami, kurang ajar kalian!” teriak Bayu marah.
Lalu Bayu menghajar salah satu wartawan yang telah meliput dirinya hingga babak belur.
Tidak terima dengan perlakuan bayu yang menyerang salah satu wartawan, mereka serempak melaporkan perbuatannya ke kantor polisi kalau Bayu sudah melakukan tindakan menyerang pada saat bertugas meliput berita.
Terjadilah keributan di aula gedung pernikahan itu, yang seharusnya diwarnai dengan canda tawa bahagia dari keluarga besar, tamu dan kedua mempelai yang bersanding di pelaminan tidak sempat dirasakan oleh Kayra untuk kedua kalinya.
Tak lama kemudian polisi datang dan menangkap Bayu atas tindakan penganiayaan seorang wartawan.
“Aku akan membalas kamu Kayra!”
“Kamu tidak akan menemukan jodoh sampai kamu tua, dasar perawan tua! Hahaha ... tawa Bayu sembari menangis karena tidak mau dibawa ke kantor polisi.
“Lepaskan, aku!”
“Pak, saya minta maaf, jangan bawa saya!” ucapnya lagi.
Bayu sampai diseret oleh dua polisi, karena tidak mau ikut dengan mereka.
Semua orang memandang ke arah Bayu yang seperti anak kecil yang merengek minta jajan.
Ada yang mencibir, menertawakannya dan mengejek kelakuan Bayu.
“Kalian tahu apa, kenapa menertawakan anak saya!” teriak Bu Clara emosi.
“Eh Bu anaknya tolong dikondisikan dong, tadi berani banget memukul wartawan sekarang saat ditangkap seperti anak kecil!” celetuk salah satu wartawan di sana.
“Ayuk teman-teman kita pergi dari sini, sudah selesai beritanya!” ucapnya yang lain.
Akhirnya mereka pun pergi dari sana meninggalkan Kayra dan keluarganya di pelaminan itu.
Bu Clara merasa putus asa lalu bersama yang lain pergi menyusul Bayu ke kantor polisi.
Kayra memandang ke arah pelaminan yang sudah dihias dengan indahnya dengan mawar putih kesukaan dirinya.
Tak terasa bulir-bulir air matanya menetes, rasa perih pun mulai menyerang , tetapi Kayra harus berusaha tegar saat melihat Tuan Bima terduduk lesu dan bersedih dan tiba-tiba mengeluarkan air mata.
Belum sempat air mata itu jatuh, Kayra lalu membuka telapak tangannya agar jatuh ke tangan Kayra.
Seketika Tuan Bima mendongak kepalanya dan melihat Kayra sudah duduk bersimpuh di hadapannya.
“Kenapa Papi sedih, jangan menangis, air mata Papi sangat berharga buat Kayra!”
“Kay, nggak apa-apa Pi, jangan khawatir lagian ini bukan kali pertama ditolak mentah-mentah dengan seorang pria,” jelasnya.
Tuan Bima masih diam, matanya sembab, mulutnya terkunci rapat, hanya kedua tangannya mengepal, seakan-akan masih ada yang menjadi beban dalam pikirannya.
“Ada apa, Pi?”
“Apa yang Papi pikirkan, kenapa pi?” tanya Kayra merasa khawatir.
Tuan Bima menatap lekat putrinya lalu memeluknya dengan hangat.
“Apakah kamu bahagia, Sayang?”
“Apakah Papi, bahagia?
“Loh kok malah balik bertanya sama Papi, sih?”
“Pi, jika Papi bahagia pasti Kayra ikut bahagia.
“Sayang, apakah menurutmu Papi sangat egois sama kamu?”
“Hanya karena Papi ingin lebih diakui di dunia bisnis Papi membuatmu menjadi janda di usia muda, bahkan kamu sempat depresi dan ya memang Papi tidak menceritakan itu semua, tetapi yang Papi heran kenapa dia tahu semua tentang hidupmu?”
“Papi lupa menanyakan itu kepada Bayu, dia tahu dari mana coba, kalau bukan ada mata-mata di keluarga kita, Kay!”
“Seharusnya tidak Papi biarkan dia mendekam di penjara sebelum Papi menghajarnya sampai puas!”
“Dia berani memenjarakan hati anakku dan ini balasan yang setimpal,” ucap Tuan Bima kesal.
“Sudahlah Pi, biarlah sudah berlalu juga tidak usah dibahas lagi,” ucap Kayra berusaha tegar.
“Oh ya mana mami dan Dion, kok dari tadi tidak melihat mereka?” tanya Tuan Bima yang mulai sadar kalau kehadiran mereka tidak ada.
“Atau jangan-jangan mereka yang memberitahukan kepada Bayu kalau kamu pernah dirawat di sana?”
“Mana mereka?” tanyanya yang mulai emosi.
“Pi, tenang, jangan terbawa emosi tidak baik untuk kesehatan Papi!” sahut Kayra menenangkan Papinya.
“Bagaimana Papi mau sehat melihat tingkah laku mereka, seharusnya Papi tidak menikah dengan Mami Sandra ternyata dia itu benalu!”
“Alex!”
“Siap, Tuan!”
“Cari Nyonya Sandra dan Tuan Muda Dion seret mereka kalau tidak mau pulang, biasanya jam segini mereka ada di mal!”
“Mereka hanya tahu cara menghamburkan dari pada bisa menghasilkan uang!“ucap Tuan Bima kesal.
“Sudah Pi, kita pulang yuk, lebih baik kita tidak usah lagi membicarakan masalah ini ya ,Pi!” sahut Kayra yang sudah malas membicarakan tentang kejadian ini.
“Kay, bagaimana kehidupanmu selanjutnya?”
“Apakah kamu tidak mau menikah lagi?”
“Papi janji hanya keputusanmu yang diambil bukan yang lain, tetapi Papi mohon carilah pasangan agar kamu bisa membagi suka dukamu kepada pasanganmu seperti Papimu ini!”
“Kamu tahu, Papi juga dulu mempunyai kekasih yang tidak direstui oleh eyang, tetapi Papi sangat bersyukur bertemu dengan mamimu yang sangat baik hatinya!”
“Papi jadi rindu sama mami!”
“Seandainya mami masih hidup, tentu kamu tidak akan mengalami seperti ini!” ucapnya sedih.
“Hanya kamu peninggalan dari mamimu, wajah dan kelembutanmu sama persis dengan mendiang mamimu!” lanjutnya sembari menatap lekat wajah Kayra yang masih memakai kebaya lengkap.
“Tidak usah kamu memikirkan yang lain Bima, sekarang bukan saatnya mencarikan kembali jodoh buat Kayra, disaat yang tepat pasti ada yang akan melamar putrimu!”
“Hanya saja Allah masih menyembunyikan jodohmu itu,” sahut Tante Mira tersenyum kepada Kayra.
“Mbak, saya hanya tidak ingin saat saya sudah menyusul maminya di surga, Kayra sendirian di sini!”
“Siapa bilang Kayra sendirian, Papi?” tanya Sandra yang baru datang dari luar bersama Dion.
Sandra dan Dion menghampiri Bima yang masih terduduk lemas. Sandra memandang ke segala arah dan melihat sudah sebagian para pekerja membersihkan semua atribut pernikahan.
“Loh sudah selesai acaranya, padahal Mami baru saja sampai , kok acaranya sudah bubar?” tanya Sandra penasaran.
“Memang nggak jadi lagi ya, atau memang kamu anak pembawa sial bagi keluarga kita!” ucap Sandra ketus.
“Dari mana saja kamu, jam segini baru kelihatan, kamu tahu hari ini hari apa, hah?” tanya Tuan Bima marah.
“Ya tahu, hari ini kan hari Sabtu, waktunya Mami dan Dion Shopping!” ucapnya semringah.
“Mami, ini kan hari pernikahan Mbak Kayra, masa lupa sih?” ucap Dion anak kedua dari Tuan Bima tersenyum.
“Iya Mami tahu kok, buktinya Mami tadi tanya kenapa cepat sekali selesainya, padahal kita belum lama loh pergi Shopping, buru-buru ke sini, eh tahu sudah pada bubar!”
“Cepat banget acaranya, terus Bayu mana?”
“Paling-paling kabur lagi Mi, biasalah kalau mereka tahu kalau Mbak Kayra itu mantan orang gila!” celetuk Dion cengengesan.
“Dion, jaga bicaramu!” teriak Tuan Bima.
“Bagaimanapun juga dia itu kakakmu, kamu harus menghormatinya!” jawab Bima emosi.
“Ya elah Papi, kita itu tidak sedarah lain ibu dan lain Papi, jadi dia bukan siapa-siapa Dion, kali!” celetuknya santai.
“Sudah-sudah tidak usah di bahas nggak enak di sini, malu dilihati orang!” celetuk Sandra tersenyum.
“Tahu nggak Pi, Mami banyak sekali beli baju buat kita semua, nggak pelit kan Mami!”
“Mami juga sudah membelikan gaun malam dan baju tidur lebih tepatnya linggre satu set, supaya nanti kamu malam pertama dengan suami barumu lebih menantang!” ucapnya membisikkan di telinga Kayra dengan bahagia.
“Aduh Mami bagaimana sih, nggak lihat apa acaranya sudah bubar?” ejek Dion di samping Kayra dengan tersenyum sinis.
“Oh nggak jadi lagi, maaf Kay, kamu mungkin tidak ditakdirkan untuk menikah lagi kali, soalnya setiap ada yang mendekati kamu pasti ujung-ujungnya nggak jadi, buat malu keluarga saja!”
“Dan sekarang kamu lihat sendiri kan semuanya menjadi berantakan, sia-sia, kita sudah banyak menghabiskan uang hanya untuk pernikahan kamu ini ditambah harga diri kita sudah dipermalukan seperti ini! “jelas Sandra emosi.
Tuan Bima langsung pergi dari gedung itu diikuti keluarga yang lain, meninggalkan Sandra dan Dion dalam kebingungannya.
“Pi, tunggu! Kenapa sih Papi bersikap begitu, apa yang dikatakan oleh Mami, betulkan?” tanya Sandra membela dirinya sendiri.
Semua orang hanya diam Sandra berkomentar panjang lebar, tetapi tidak satu pun yang mendengarkan celoteh Sandra.
Hal ini membuat Sandra merasa senang karena Kayra lagi-lagi gagal lagi menikah dan membuat posisinya masih tetap aman sebagai salah satu keluarga besar Atmaja.