Bab 2

Kata kebanyakan orang, tidak ada manusia yang sempurna. Namun Elena merasa itu sedikit salah. Dia yakin suaminya begitu sempurna, setidaknya pria itu melebihi apapun yang ia harapkan dalam kehidupan berumah tangga.

Dari mulai kondisi fisik, hati, sampai kepribadian, sudah pantas menganggapnya sempurna.

Pria itu bernama Sam, orang yang ia kenal selama sepuluh tahunan dan kini telah menjadi suaminya semenjak tiga tahun belakangan. Suami terbaik yang pernah ia tahu.

Secara fisik, dia luar biasa menawan. Tubuhnya tinggi nan atletis, berbahu lebar, lengan dan dada yang keras, wajah pun tampan. Iya, seolah-olah dia diciptakan ke dunia untuk membahagiakan mata wanita yang memandangnya.

Selama ini hampir tidak ada orang yang sebaik Sam di hidup Elena. Dermawan, murah senyum, menyenangkan, humoris, tutur kata pun selalu halus.

Selama sepuluh tahunan saling mengenal, ia tidak pernah mendengar satu kata kasar keluar dari mulutnya.

Biasanya seseorang akan menunjukkan kebiasaan lain saat sudah menikah.

Kebanyakan hal buruk, seperti malas bangun, tidak disiplin atau semacamnya, akan tetapi tidak dengan Sam, dia memang sempurna.

Elena tidak pernah sekalipun mendengar suaminya mengeluh, apalagi bersedih. Padahal mereka sudah mengenal terlalu lama akan tetapi mengapa Sam begitu sempurna?

Sejak kelahiran putra mereka hampir setahun silam, Sam juga bertambah perhatian pada istrinya itu. Jadwal pulang kerjanya tidak pernah telat. Dia memilih menghabiskan malam dengan keluarga kecilnya ketimbang lembur di kantor.

Selama empat bulanan, pria ini juga bangun lebih pagi demi membuat sarapan. Berdiri di depan meja dapur dengan kondisi sudah berkemeja rapi. Dia semakin ingin memperlihatkan bahwa dirinya adalah sosok suami idaman.

Elena berjalan masuk ke ruang makan dengan membawa bayi laki-lakinya. Wanita muda ini terlihat masih dalam balutan kimono sutra merah saga.

"Kamu gak perlu menyiapkan sarapan tiap pagi, aku jadi merasa bersalah, tahu," kata wanita berambut hitam lurus sebahu itu. Dia berjalan mendekati meja makan. Setelah mendudukkan putranya di kursi bayi khusus, dia duduk pula di salah satu kursi.

"Gak masalah, kamu duduk saja dan biarkan aku membuat selai stroberi ini— sebentar saja, kok," kata Sam mengambil sekotak buah stroberi dari dalam lemari pendingin.

Ia memanaskan sebuah wajan teflon di atas api kompor kecil. Kemudian, ia memasak buah-buahan itu beserta bahan-bahan lain. Keahliannya memasak pun tidak perlu diragukan. Sekarang pertanyaannya, apa yang tidak dikuasai pria ini?

Elena merasa dunianya bak negeri dongeng, dimana ia sudah menikahi seorang pangeran dan kini kehidupannya akan selalu bahagia. Hampir tidak mungkin ada masalah berat yang menjerat mereka.

Hubungannya dengan Sam juga sangat terbuka, tidak ada rahasia yang tersembunyi— itu yang ia tahu.

"Sudah siap selai kesukaanmu, Elena Cantik." Sam menaruh beberapa roti tawar di atas meja, lalu satu mangkuk selai buatannya. Tak lupa, dia juga sudah menyiapkan susu anaknya. "Dan ini untuk Elliot yang paling imut."

Bayi itu sudah bisa memegang botol sendiri. Dia tersenyum pada Sam saat mulai meminum susu.

Sam duduk di samping sang istri. Sambil mengoleskan selai di rotinya, dia bertanya, "bagaimana dengan rencana makan malam kita nanti di restoran pilihanku, kamu mau'kan?"

"Tentu saja," jawab Elena tersenyum bahagia. Dia mengambil satu roti, lalu mengoleskan selai di atasnya. Aroma manis stroberi sukses membuat perut bergemuruh pelan. Apalagi ini buatan tangan Sam, rasanya akan lebih manis. "Apa ada hal yang ingin kamu rayakan?"

Sam tersenyum jahil. "Rahasia, dong, pokoknya kamu harus berdandan cantik— pakai gaun yang sudah kubelikan kemarin."

"Beneran gak bawa El?" tanya Elena entah mengapa malah berdebar bak seorang remaja yang menanti kado pacarnya.

Demi menghindari pandangan dari mata penuh pesona dari Sam, dia menatap Eliott yang masih meminum susu.

Sam mengelus rambut anaknya. "Jangan, El kita titipkan saja pada Tante kamu, nanti 'kan sampai malam, aku berencana kita menginap di hotel saja."

"Aku jadi penasaran, ada apa, sih?" Elena menatap kedua mata hitam suaminya, berusaha untuk membaca pandangan penuh cinta itu. "Hari ini bukan hari jadian kita, bukan anniv pernikahan kita juga, bukan hari-hari penting, apalagi ulang tahun."

"Bukan, Elen, ini hari Senin biasa, hari senin di bulan Mei biasa, aku cuma ingin menghabiskan waktu denganmu malam ini."

"Karena?"

"Rahasia, jangan berusaha mengulik kejutanku." Sam mulai menggigit rotinya, mengunyahnya pelan dengan pandangan tetap tertuju pada sang istri.

Sorot matanya sangat lembut, penuh cinta dan ketulusan seolah tidak ada kebohongan apapun. Apakah iya?

Elena membalasnya dengan senyuman. "Aku akan tampil cantik untukmu."

"Kamu memang selalu cantik, Elen, walaupun baru bangun tidur begini, entah ini hanya karena aku terlalu cinta atau apa, rasanya kamu selalu bisa memikatku," kata Sam berniat menggodanya.

"Gombal terus tiap pagi." Raut muka Elena menjadi sedikit kemerahan. Meskipun sudah bukan seorang remaja, dia tetap tersipu.

Segala ucapan halus yang keluar dari bibir sang suami mampu menghipnotisnya. Dia takluk dari awal pertemuan mereka, dia selalu tertegun untuk mengagumi sosoknya.

Seorang pria berjiwa besar dan bertanggung jawab ini sudah menjadi suaminya. Setiap hari hanya rasa syukur yang terbesit dalam benak Elena.

Sam meraih telapak tangan kanan Elena. Kemudian meremasnya lembut seraya berkata, "aku beruntung memilikimu, Elen. Aku sangat mencintaimu, dan makin hari rasanya semakin cinta."

"Aku juga mencintaimu."

"Aku tidak sabar melihatmu dalam balutan gaun itu nanti malam. Dan— tentu saja, aku menantikan malam kita di hotel."

Elena tergelak pelan. "Kurasa kamu mengajakku berkencan pasti hanya karena stress masalah pekerjaan."

"Stress? sejak kapan aku tertekan? aku suka pekerjaanku. Mana mungkin aku menghabiskan waktu dengan istriku hanya karena ingin melepaskan penat kerja?"

"Buktinya El gak boleh ikut, seperti ngajakin Honeymoon saja," goda Elena balas menggelitik telapak tangan suaminya.

"Kamu bisa saja." Sam menarik tangannya agar tidak semakin geli. Dia mengalihkan perhatiannya pada sang putra yang sudah meletakkan botolnya di atas meja. "Kayaknya El sudah kenyang— mau bubur gak?"

Bayi itu berusaha menyentuh wajah sang ayah sembari melafalkan kata, "Wa—"

"Pa," ralat Sam. Dia mendekatkan wajahnya agar dibuat mainan oleh jemari mungil bayi itu.

"Ma," balas El tersenyum.

"'Pa'-nya mana?" goda Sam mencubit pipi kanan El selembut mungkin. Ia masih bersikeras mengajarkan sebutan sederhana pada anaknya. "Pa— pa."

"Maaaa~" El kian keras mengucapkannya.

Elena tertawa mendengar mereka saling berkomunikasi. Tadinya dia ingin menggendong El untuk mandi, namun tiba-tiba terdengar bunyi ketukan pintu di depan.

***

Bab 3

Suara ketukan pintu terus terdengar. Suara tersebut semakin keras dan keras.

Tidak biasanya tetangga bertamu sepagi ini, kemungkinan besar sanak saudara atau kenalan— itulah yang dipikirkan Elena.

"Sebentar, aku buka dulu, siapa tahu Tante datang, walau kayaknya nggak mungkin sepagi ini," katanya segera berdiri dan berjalan keluar. Sementara Sam tetap sibuk menggoda bayi mereka.

Kenyataannya yang berdiri di luar pintu depan bukanlah sosok Tante ataupun kenalan lain, melainkan seorang pria empat puluh tahunan bersetelan hitam. Orang ini tidak terlalu asing bagi Elena, selama empat bulan belakangan, dia sangat mengenalnya.

Pria ini mengaku bernama—

"Pak Harold?" sapa Elena menyunggingkan senyuman palsu.

Dia mungkin mengenalnya, tapi bukan berarti mengetahui asal usulnya. Selama ini ia sudah curiga, sebenarnya apa hubungan orang ini dan suaminya?

"Pagi, Nyonya Adinata, maaf kalau terlalu pagi, tapi apa suaminya anda sudah siap? saya menjemputnya," ucap pria bernama Harold itu menatap Elena yang tentu terlalu seksi untuk mata tuanya.

Elena segera menutup kain atas dada yang longgar. Dia lupa kalau tidak sopan berkeliaran dengan kimono seperti ini. Kalau saja tahu tamunya Harold

Sejujurnya, dia tidak suka dengan kedatangan pria ini yang menjemput Sam setiap minggu. Kalau diingat kembali, benar juga, sekarang hari senin— hari dimana suaminya akan dijemput untuk pertemuan. Pagi hari, di hari senin, dengan orang yang sama. Mencurigakan.

Elena lantas berkata, "sebentar ya, saya panggilkan dia dahulu."

"Tentu, Nyonya," sahut pria berparas ramah ini.

Dia tersenyum aneh, lebar dan misterius seolah-olah ada tawa tersembunyi di baliknya. Terkadang Elena tidak nyaman bicara dengan pria ini.

Dia berjalan ke ruang makan dengan was-was. Entah mengapa sejak melihat orang itu, perasaannya jadi kalut. kebahagiaan menanti malam hari menjadi sirna.

Sam masih menaruh perhatiannya pada El. Mereka kompak tertawa sambil bermain tepukan tangan.

"Sam, aku sampai lupa— ada yang menjemputmu, pantas aja kamu sudah siap berpakaian rapi," kata Elena mengagetkan suaminya.

Sam mengangguk. "Maaf ya, aku tinggal kerja dulu." Dia berdiri, mengecup kening El, kemudian berjalan mendekati istrinya. "Jangan lupa nanti."

"Sebenarnya kenapa dia selalu menjemputmu tiap minggu? kamu bilang dia bukan atasanmu atau rekan kerja?" Elena bingung ingin mengutarakan isi hatinya.

Sam mencium kening wanita itu sesaat. "Kan sudah kubilang Pak Harold itu karyawan di anak perusahaan tempatku bekerja, walau tidak satu area, tetap saja kami pada dasarnya rekan— lagipula dia itu semacam Om bagiku."

"Pertemuan apa?"

"Kenapa tanya lagi? tentu saja pertemuan untuk pekerjaan."

"Iya sudah. Hati-hati."

Sam pergi dengan langkah cepat.

Akibat keberadaannya yang menghilang dari ruang makan, El menangis. Anak itu memutar tubuh agar bisa melihat sang ayah.

"Waaa~" rengek El.

Elena segera menggendongnya, lalu mengajaknya ke pintu depan. Sambil menepuk punggung El, dia merayu, "itu Papa— kamu jangan nangis, Papa cuma kerja, Sayang, nanti pulang lagi."

El mengarahkan kedua tangannya kepada punggung Sam yang menjauh. Semakin jauh sampai tidak terjangkau.

Ayahnya sama sekali tidak menoleh, malah buru-buru menutup pintu.

Tangisan kembali pecah.

Sebenarnya Elena tahu kalau lebih baik membawa El kembali ke kamar, tapi dia juga penasaran dengan sikap Sam. Dia mengintip tingkah laku aneh pria itu dari balik jendela.

Sam dan Harold saling bercakap sebentar. Keduanya terlihat pergi keluar dari halaman depan menuju mobil hitam yang terparkir di seberang jalan. Mereka kompak memasang raut wajah tegang seakan ada peristiwa penting sedang terjadi.

Selalu saja begini, selalu saja setiap minggu.

Dia pernah mengikuti mereka pergi, tapi entah kenapa jejak mereka menghilang. Mungkin kelihatannya tidak ada masalah serius, tapi firasat berkata lain.

Seorang istri selalu memiliki firasat kuat tentang suaminya. Dan, kali ini firasat buruk.

Kata orang manusia itu tidak sempurna. Akan tetapi bagi Elena, suaminya sudah pantas disebut sempurna. Fisik, hati dan kepribadian Sam sudah memenuhi kriteria pendamping hidup terbaik. Luar biasa baik— tidak pernah berbohong ataupun melanggar janji.

Seharusnya begitu, tapi semenjak pria bernama Harold itu datang, rasanya aneh, tidak wajar, apakah benar suaminya itu sempurna?

Dia mulai goyah.

Apalagi setelah sepanjang sore, ia menunggu dalam balutan gaun malam hitam nan seksi, tapi sang suami tak kunjung pulang.

Padahal bayi mereka sudah ia titipkan, jadi dia sudah siap berangkat. Sam masih belum datang.

Makin malam dan malam.

"Dimana dia ini?" tanya Elena sembari memanggil nomor suaminya. Tidak aktif selama berjam-jam?

Aneh.

Dia melanggar janji? untuk pertama kalinya?, tanya Elena dalam hati.

Kata sempurna itu pun akhirnya retak. Memang benar kata orang, kesempurnaan pada seseorang tidak akan terbentuk selamanya.

Ada sesuatu dengan "pertemuan" yang dimaksud itu. Setiap minggu ada saja hal membuat Sam telat. Masalahnya sekarang sudah sangat larut.

Ia khawatir. Apa jangan-jangan Sam terjebak masalah?

Dan, ponselnya pun bergetar saat sudah pukul delapan malam. Sebuah pesan suara dari Sam masuk. Saat diputar, pria itu terdengar menjelaskan situasi:

"Sayang, aku minta maaf, maaf banget telat mengabari pertemuannya ternyata sampai tengah malam nanti, maaf, kita akan jadwal ulang saja, kamu jangan ngambek ya— Kamu tidur duluan saja, kemungkinan aku akan menyewa kamar hotel dan besoknya langsung kerja, jadi kita bertemu besok sore ya. Aku mencintaimu."

"Aku harus ke kantornya besok," ucap Elena mematikan ponselnya.

Pertemuan kerja apa yang sampai menyita waktu suaminya sepanjang hari? makin lama— orang bernama Harold itu terdengar berbahaya. Apa yang terjadi di antara mereka? kemana suaminya dibawa?

***

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED