Dalam keremangan malam, tampak mobil yang melaju di jalanan yang berbelok-belok. Di dalam mobil ada Ayu, wanita cantik berusia tiga puluh tahun bersama Dicky suami barunya yang lebih muda tiga tahun darinya. Dengan masih mengenakan pakaian pengantin, mereka berdua di mobil berencana pergi bulan madu. Dicky menyetir mobil, di samping Ayu yang auranya semakin terpancar memakai kebaya putih lengkap dengan riasan mahkota, siger, dan melati di kepalanya. Mereka tampak bahagia.
“Akhirnya aku bisa nikahin kamu, Ayu,” ucap Dicky.
“Alhamdulillah. Aku juga senang Allah ngasih aku jodoh lagi. Semoga bulan madu kita ini jadi bulan madu yang indah,” sahut Ayu.
Dicky termenung sesaat memikirkan sesuatu. Ayu melirik Dicky bingung.
“Kenapa, Mas? Kok melamun? Mikirin apa sih?”
Dicky tersenyum seraya membelai lembut pipi Ayu. “Dulu banyak yang bilang aku bisa kena musibah kalo nikah sama kamu. Bisa cepet mati kayak suami kamu dulu.” Dicky tertawa meremehkan, “buktinya mana? Nih, aku udah nikah sama kamu, tapi masih sehat! Ha ha ha ....”
Mobil Dicky belok ke tikungan dan pada saat yang sama muncul mobil truk!
Ayu langsung panik. “Awas!”
Sayang Dicky tidak mampu merespons dengan cepat. Di dalam mobil sepasang pengantin baru itu berteriak histeris.
“Arrrrgh!”
Dicky membanting setir, belok kiri, tapi karena kecepatan tinggi susah dikendalikan hingga menabrak pohon besar. BRAKKK! Keluar asap dari mobil Dicky. Tubuh Dicky kejang-kejang menahan sakit, lalu akhirnya terkulai sudah tidak bernyawa dalam keadaan berlumuran darah.
Ayu menggerak-gerakkan tubuh Dicky sambil menangis histeris.
“Mas Dicky! Bangun, Mas! Jangan pergi tinggalin aku, Mas! Kita baru aja menikah. Kamu udah janji nggak akan ninggalin aku, Mas! Mas Dicky!”
Tangisan Ayu pecah.
Warga sekitar berdatangan untuk menolong Ayu dan almarhum Dicky. Saat jenazah Dicky akan dipindahkan ke mobil ambulans, Ayu malah berusaha menahan tubuh Dicky dengan emosional.
“Mau ke mana kalian bawa suamiku? Jangan bawa suamiku! Jangan!” Ayu menempis tangan warga yang mau mengangkat tubuh Dicky.
“Sabar, Mbak. Istighfar. Suami Mbak udah meninggal,” ujar salah satu warga.
“Iya, Mbak. Biar jenazahnya diurus dulu. Yang sabar, Mbak. Ikhlasin ya. Kasihan suami Mbak,” ujar warga yang lain.
“Nggak! Jangan!” Ayu terus berteriak frustrasi. Siger dan riasan melati di kepalanya jatuh berantakan. Ayu menangis tersedu-sedu menyaksikan jenazah lelaki yang baru menikahinya itu dibawa pergi.
Kenapa Dicky harus meninggal juga? Kenapa suami ketiganya juga harus meninggal?
***
SATU TAHUN KEMUDIAN
Pagi itu di sebuah masjid, Ayu sudah bersiap untuk melangsungkan ijab qabul di depan penghulu dengan calon suami barunya, yaitu Hendry berusia dua puluh tujuh tahun. Di dekat Ayu ada Vano, adik Ayu. Para tamu undangan memperhatikan Ayu. Ada beberapa ibu-ibu membicarakan Ayu.
“Itu pengantin wanitanya kan janda, tapi masih kayak perawan ting-ting, ya,” ujar Bu Iroh penuh rasa penasaran memperhatikan Ayu dari atas ke bawah.
“Iya, katanya udah janda tiga kali, tapi kok masih cantik dan awet muda, ya?” Bu Hera balik bertanya sambil mencibir sinis melihat Ayu.
Ela, adik kandung Hendry yang ada di dekat situ diam-diam menguping pembicaraan ibu-ibu itu. Wajahnya tampak kesal dan malu. Namun pembicaraan tentang Ayu masih berlanjut di antara ibu-ibu karena menjadi topik yang seru selama beberapa dekade.
“Emang ibu-ibu nggak tahu, ya? Dia bisa awet muda gitu kan karena pake tumbal. Suaminya yang dijadiin tumbal,” kata Bu Rosa.
Ibu-ibu langsung heboh. Ada menggeleng tidak percaya melihat Ayu, ada yang ketakutan, dan ada yang terus berbisik-bisik melanjutkan cerita. Ketika Pak RT berdehem sambil melirik ke arah ibu-ibu itu, baru mereka berhenti bergosip.
Sementara Ela jadi curiga pada Ayu dan semakin kesal.
Diam-diam ibu-ibu masih kasak-kusuk saat Hendry menyalami penghulu, mengucap Ijab qabul.
“Saya terima nikahnya Ayu binti Sulaiman dengan mas kawin tersebut dibayar tunai,” ucap Hendry.
“Bagaimana saksi? Sah?” tanya penghulu kepada para saksi.
“Sah!” sahut para saksi.
“Alhamdulillah,” ucap Hendry lega sekaligus bahagia. Seluruh ruangan dipenuhi gemuruh rasa syukur dan ucapan selamat kepada kedua mempelai.
Hendry memandang Ayu dengan bahagia. Begitu juga Ayu. Namun di sisi lain, Ela terlihat tidak suka dan memandang Ayu dengan kesal. Tiba-tiba Hendry memegangi dadanya yang terasa sakit!
“Aduuuh! Kenapa dadaku jadi sakit begini?” rintih Hendry.
Ayu dan keluarga beserta tamu langsung panik.
“Mas Hendry kenapa?” tanya Ayu cemas sambil memegangi suaminya.
Hendry tidak sanggup menahan rasa sakit dan terus merintih. Tidak lama kemudian ia ambruk jatuh ke lantai. Dengan terbata-bata ia berkata kepada keluarganya, “Tolong jaga Ayu baik-baik. Rawat Ayu dengan baik.”
Setelah mengatakan itu, Hendry pingsan.
“Mas Hendry!” Ayu berusaha menyadarkan Hendry, tapi wajah Hendry sudah sangat pucat. “Vano, tolong bantu kakak bawa Mas Hendry ke rumah sakit!” kata Ayu kemudian kepada adiknya.
Vano dengan sigap segera menolong, mau bawa Hendry ke rumah sakit. Namun saat Arya memeriksa denyut nadi Hendry, ternyata sudah tidak bernyawa.
“Innalillahi wa innailaihi rajiun. Denyut nadinya sudah nggak ada. Mas Hendry sudah pergi,” ucap Vano.
“Innalillahi wa innailaihi rajiun.” Sontak para keluarga dan tamu mengucapkan kalimat itu. Seketika ruangan masjid diisi dengan teriakan histeris dan tangisan. Atmosfer langsung berubah sesak dan suasana jadi muram.
Ayu langsung memeluk Hendry sambil menangis histeris.
“Mas Hendry! Jangan tinggalin Ayu, Mas!” pekik Ayu pilu.
Ela sangat terkejut dan shock. Ia menangis di samping jasad kakak laki-lakinya. Ibu-ibu yang tadi menggunjingkan Ayu kembali berkomentar.
“Aku bilang juga apa? Setiap lelaki yang nikah sama Ayu pasti mati,” ujar Bu Rosa.
Semua menoleh ke Bu Rosa.
“Astaghfirullah hal adzhim. Kenapa Ibu tega ngomong kayak gitu? Semua manusia pasti akan kembali pada Allah. Hanya waktunya saja yang berbeda,” kata Vano.
Ela menyambar Vano. “Kamu belain dia karena Ayu kakak kamu, kan? Mending kamu diam aja karena yang dibilang ibu itu benar!”
Ayu jadi sedih. Vano juga sedih mendengar perkataan Ela dan tuduhan ibu-ibu itu.
Vano lalu membacakan surah Annisa ayat 78. “Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendati pun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” (QS Annisa: 78)
Ibu-ibu terdiam dan malu, tapi Ela masih tampak kesal. Lalu Pak RT dan warga lain ikut menengahi.
“Sudah, Ibu-Ibu, tolong jangan memperkeruh keadaan apalagi sedang ada yang terkena musibah. Ingat, fitnah itu dosa besar!” pesan Pak RT.
“Tapi kan memang Ayu udah empat kali menikah dan semua suaminya meninggal mendadak atau dengan cara aneh. Masa Pak RT dan yang lain nggak curiga?” celetuk Bu Rosa berkeras.
“Astaghfirullah. Udah, Bu. Tolong utamakan empati di saat seperti ini. Siapa pun dari kita semua bisa mengalami hal seperti ini. Ayo sekarang bantu Mbak Ayu dan keluarga almarhum,” kata Pak RT.
Warga lalu membantu mengangkat jenazah Hendry dan melaksanakan segala proses semestinya. Sementara Ayu sekali harus menerima cobaan hidup kehilangan suami di saat baru saja menikah. Bahkan sudah keempat kalinya.
Ya Allah, ya Rabb, apa salah hamba? Apa dosa hamba sehingga harus menerima ujian seberat ini sampai berkali-kali? Hamba hanya bisa berserah kepada-Mu, batin Ayu perih.
***
Setelah Hendry meninggal, Ayu tinggal di rumah Hendry. Rumah yang sengaja dibeli Hendry untuk ditinggalinya bersama Ayu setelah menikah. Aroma cat rumah masih terasa, perabotan juga masih baru dan mengkilat.
Ayu duduk di tepi tempat tidur, memeluk pigura foto Hendry. Ayu menitikkan air mata sedih. Matanya sembap. Entah sudah berapa kali ia menangis. Hari-harinya kini diisi dengan kesedihan dan sedu sedan.
“Ya Allah, kenapa begitu cepat Engkau panggil suamiku,” ucap Ayu.
Tiba-tiba Ela masuk dan langsung marah.
“Harusnya kamu itu nggak usah punya suami! Mestinya kamu sadar, semua yang jadi suami kamu pasti mati menyedihkan!” seru Ela.
“Ela … aku juga nggak mau suamiku meninggal dunia,” ujar Ayu.
“Udah! Jangan banyak alasan kamu! Mana mungkin seorang penjahat mau ngaku! Mending sekarang kamu cepat angkat kaki dari rumah ini! Karena ini rumah Mas Hendry, bukan rumah kamu!” Ela langsung menarik Ayu kasar.
Dalam kondisi terkejut, Ayu berusaha bertahan. “Tapi aku masih sah jadi istrinya Mas Hendry. Ela, tolong jangan kayak gini,” pinta Ayu memelas.
Ela naik pitam. “Oh, kamu nggak mau pergi? Pasti kamu mau ngarepin harta warisan Mas Hendry, kan?”
Ayu menangis. Kata-kata yang baru diucapkan Ela begitu menyakitkan baginya. Lagi-lagi dia harus menerima tuduhan demi tuduhan.
“Enggak, Ela! Aku cuma ingin menghormati almarhum suamiku. Tolong izinkan aku tinggal di sini. Aku sedang berduka atas kepergian Mas Hendry.”
Ela malah mendorong Ayu tanpa ampun. “Simpan air mata buaya kamu! Ayo cepat pergi!”
Ela menyeret Ayu keluar dengan sangat kasar.
“Ela, aku mohon, aku ingin tinggal sebentar aja di sini buat Mas Hendry.”
Ela tidak peduli dan terus menyeret Ayu keluar meskipun Ayu berusaha bertahan. Tepat saat itu Vano datang untuk melihat kondisi Ayu. Pemuda itu langsung kaget melihat sang kakak diperlakukan kasar oleh Ela. Vano dengan geram melepas tangan Ela yang menyeret Ayu. “Ada apa ini? Kenapa Kak Ayu diperlakukan seperti ini?” seru Vano.
“Ini u internal keluarga kami! Jangan ikut campur! Kami udah nggak menghendaki perempuan perenggut nyawa suami seperti dia! Dia udah korbanin suaminya sendiri cuma biar awet muda dan cantik!” balas Ela sengit. “Jadi cepat pergi, Ayu!” Ela kembali mendorong Ayu kasar.
“Kamu jangan percaya ucapan orang-orang soal Kak Ayu pake tumbal. Itu cuma fitnah keji!” ucap Vano emosi.
Aku nggak rela Ayu dapat warisan harta Kak Hendry. Ayu, sampai kapan pun aku nggak akan maafin kamu karena udah ambil nyawa kakakku, batin Ela penuh dendam kesumat.
Ela mendorong Ayu ke tubuh Vano. “Aku nggak mau denger apa pun lagi! Cepat bawa Ayu pergi!”
Ela mendorong Ayu dan Arya keluar pintu. JEBRET! Ela membanting pintu.
Ayu terus saja menangis. Sementara Vano berusaha menghiburnya.
“Sabar, Kak. Ayo kita pulang sekarang,” ajak Vano.
“Iya, Vano. Makasih karena kamu selalu belain Kakak,” kata Ayu.
“Itu udah kewajiban aku, Kak.”
Kemudian Ayu pergi bersama Vano. Sebelum pergi, Ayu memperhatikan rumah Hendry. Teringat saat Hendry pertama kali mengajaknya melihat rumah itu. Betapa bahagia mereka menyambut pernikahan yang akan dilangsungkan. Sama seperti suami sebelumnya, Ayu pun sempat ragu dan memperingatkan Hendry perkara kutukan yang santer dituduhkan orang-orang padanya. Namun Hendry tidak peduli. Bagi Hendry, ia lebih baik mati daripada tidak sama sekali mencoba mempersunting Ayu, wanita cantik yang telah membuatnya tergila-gila.
Kini Hendry pun telah tiada sama seperti kedua suami Ayu yang lain.
***
BEBERAPA BULAN KEMUDIAN
Saat duduk di taman bersama Vano, Ayu melamun sedih.
“Sampai kapan kak Ayu akan terus meratapi kesedihan begini?
Ayu menghela napas. Terlihat banyak menyimpan beban dan luka batin. “Aku takut ketemu orang-orang, Vano. Aku juga selalu teringat suami-suami aku yang udah meninggal. Apa mungkin memang aku perempuan pembawa sial?”
“Astaghfirullah. Istighfar, Kak. Allah nggak suka sama orang yang berputus asa.” Vano berusaha menghibur Ayu, saudara satu-satunya itu.
Vano lalu membacakan surah Al-ankabut ayat 2-3. “Adakah manusia itu menyangka bahwa mereka dibiarkan saja setelah mengatakan; “Kami telah beriman,” sedangkan mereka tidak diuji? Dan sesungguhnya Kami ( Allah) telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang berdusta.” (Al-Ankabut: 2 – 3).
Ayu menangis tapi kemudian tersenyum, merasa lebih tenang hatinya.
“Lebih baik sekarang Kak Ayu cari kegiatan aja biar nggak larut dalam kesedihan. Kak Ayu harus semangat, harus move on!” ujar Vano sambil memberikan secarik kertas kepada Ayu. “Ini ada lowongan kerja yang sengaja aku cariin buat Kak Ayu.”
Ayu menerima kertas tersebut. “Makasih ya Vano,” ucap Ayu sambil bersyukur mempunyai seorang adik yang baik seperti Vano.
“Sama-sama, Kak. Ya udah aku pergi dulu.” Vano lalu pergi meninggalkan Ayu. Dari jauh teman sekolah Vano di SMA yang bernama Safa melihat Vano dan Ayu.
“Itu kan Vano ... perempuan yang di dekat Vano itu siapa?” Safa tampak semakin penasaran lalu datang mendekati Vano.
“Vano, apa kabar?” sapa Safa ketika sudah berdiri di depan Vano.
Vano memperhatikan Safa sekilas lalu tersenyum. “Safa? Kamu Safa kan? Anak IPS?” Vano memastikan.
Safa tersenyum malu-malu lalu mengangguk. “Iya, aku Safa. Ternyata kamu masih ingat sama aku.”
“Ingat dong. Kan dulu kamu pernah pingsan waktu ada pesantren kilat di sekolah, tepat di depan aku lagi pingsannya,” ujar Vano.
Sontak wajah Safa langsung memerah. Malu-malu lalu ia beranikan diri bertanya. “Mbak yang duduk di sana itu siapa? Kayaknya kamu dekat banget sama dia. Apa dia pacar kamu?”
Vano tersenyum lalu menggeleng. Safa langsung melting lihat senyuman manis Vano.
“Maaf ya aku udah lancang nanya-nanya kamu. Habis, aku penasaran,” kata Safa.
“Nggak apa-apa, kok,” sahut Vano. “Oh ya, itu Kak Safa, kakak kandungku.”
Safa langsung senyum semringah. “Oh, kakak kamu. Syukurlah.”
“Hah?” Vano jadi bingung.
Safa gugup. “Eh, aku pergi dulu ya. Udah ditungguin sama Mama. Tadi cuma mampir beli minuman.”
“Oke.” Vano tersenyum sekali lagi ke Safa yang langsung ngacir pergi. Gadis itu sampai tersandung dan hampir jatuh saking gugupnya. Sementara Vano tertawa melihat tingkah lucu Safa.
***
Di sebuah komplek perumahan Ayu yang sedang menawarkan produk-produk peralatan dapur kepada para ibu-ibu.
“Yang ini anti karat, dijamin nggak nyesel beli yang ini! Harganya mahalan dikit, tapi awet.” Ayu bercuap-cuap mempromosikan produk-produk dagangannya.
“Oh gitu, ya? Boleh kredit nggak bayarnya?” celetuk salah satu ibu-ibu.
“Oh, boleh… asal syarat-syaratnya udah lengkap,” kata Ayu.
Muncul Ela. Ia terkejut melihat Ayu.
“Ayu?” pekik Ela kesal.
Ayu menatap Ela dan tersenyum ramah.
“Ela? Tiga bulan lebih nggak ketemu apa kabar?”
“Nggak usah basa-basi! Mending kamu segera angkat kaki dari sini!”
Ayu terkejut. Ibu-ibu juga terkejut.
“Ibu-ibu semuanya, saya kasih tahu, ya! Jangan pernah bergaul dengan perempuan ini! Dia ini perempuan perenggut nyawa suami!” kata Ela berapi-api.
Semua orang terkejut.
“Buktinya dia nikah sama kakak aku terus kakak aku langsung mati! Suami-suami sebelumnya juga mati semua setelah nikah sama dia!” Ela terus mempengaruhi ibu-ibu komplek.
“Ih, serem amat, ya?” celetuk seorang ibu.
“Aku juga pernah denger cerita tentang dia. Katanya emang suaminya dijadiin tumbal biar cantik dan awet muda,” sahut ibu yang lain.
“Makanya jangan biarin dia ada di sini atau nanti suami ibu tergoda sama dia, atau anak lelaki ibu-ibu yang tergoda! Dia kayak gini pura-pura jualan cuma modus. Aslinya mau cari mangsa baru!” kata Ela.
Ayu bangkit dengan kesal. Sudah lama ia bersabar dan menahan semua amarah atas perlakuan Ela. “Ela, kamu jangan fitnah aku! Demi Allah aku sama sekali nggak pernah mencari tumbal atau bikin pesugihan seperti yang kamu tuduhkan!”
“Jangan dengerin omongan dia! Ayo kita usir dia biar jauh-jauh dari tempat kita!” Ela terus memprovokasi warga.
Ela mendorong-dorong Ayu agar pergi. Ibu-ibu juga ikut mendorong Ayu agar pergi. Ayu menangis sedih.
“Ya Allah, apa yang kalian lakukan! Jangan! Saya mohon jangan!” Ayu memelas mengharap rasa iba dari Ela dan para warga. Namun semua orang sudah kalap dan termakan rayuan setan.
Ibu-ibu melempari Ayu dengan panci, wajan, dan barang-barang lain-lain yang tadi dibawa Ayu untuk dijual. Ayu menangis sambil memunguti barang-barang dagangannya sambil menahan rasa sakit di tubuhnya.
***
Siang itu di kantor produk peralatan dapur terlihat pada Jayadi, sang direktur, marah pada Ayu yang ketakutan di depannya dengan keadaan berantakan.
“Kamu sudah bikin aku rugi banyak, Ayu! Udah jualan nggak ada yang beli! Barang-barang dagangan rusak! Kalo udah peyot-peyot gitu mana laku barangnya dijual!” seru Jayadi berang.
“Maaf, Pak. Saya juga tidak tahu kejadiannya bakalan begini.” Ayu melipat kedua tangannya memohon maaf. Air matanya berlinang. Sebenarnya tubuhnya masih sakit dan luka akibat ditimpukin warga.
Ayu tampak sedih, matanya berkaca-kaca. Jayadi memandangi Ayu. Ayu menundukkan wajah. Jayadi tersenyum genit.
“Gini aja, kamu sekarang nggak usah ke lapangan jualin produk! Kamu jadi sekretaris saya aja di kantor,” perintah Jayadi.
Ayu terperanjat kaget. “Bapak serius mau jadiin saya sekretaris? Tapi bapak kan sudah punya sekretaris?”
“Nggak masalah, itu bisa diatur. Yang penting kamu mau aku ajak kencan malam ini!” kata Jayadi dengan wajah genit.
Ayu kaget! “Maaf. Pak. Kalo gitu, saya jadi sales aja di lapangan jualin produk,” ucap Ayu seraya beranjak menjauh dari Jayadi. Namun dengan cepat Jayadi meraih tangan Ayu.
“Ayolah … nggak usah sok jual mahal. Aku tahu kamu ini janda kesepian,” ujar Jayadi.
Tepat saat itu Sinta datang. Ia adalah istri Jayadi yang langsung marah melihat Jayadi memegang-megang tangan Ayu.
“Dasar perempuan nggak tahu diri! Berani-beraninya godain suami orang!” pekik Sinta emosi.
Ayu dan Jayadi terkejut. Jayadi refleks melepas tangan Ayu. Jayadi panik.
Sinta berjalan mendekati Ayu dengan penuh kemarahan. Matanya mendelik ke Ayu seperti singa yang siap menyerang mangsanya.
“Heh, kamu ini emang cantik, tapi kelakuan kamu nggak secantik wajah kamu! Sekarang juga kamu keluar dari sini! Nggak usah kerja lagi di sini!” seru Sinta.
Ayu terkejut. Lalu Ayu menitikkan air mata sedih. Kehilangan pekerjaan bukanlah hal yang ia inginkan apalagi zaman sekarang susah mendapatkan pekerjaan bagi orang-orang tertentu termasuk Ayu.
“Tapi, Bu … saya ....” Ayu berusaha menjelaskan, tapi Sinta langsung mendorongnya kuat hingga Ayu hampir terjatuh.
“Saya yang berkuasa di sini! Dan saya nggak mau denger apa pun! Cepat pergi!” Sinta mengusir Ayu, mengarahkan telunjuknya ke arah pintu pada Ayu.
Jayadi mencoba menengahi. “Ma, ini bukan salah dia .…”
Sinta langsung mendelik pada suaminya. “Aku juga bisa pecat Papa kalo berani belain dia! Ingat, Pa, ini perusahaanku. Papa cuma kerja sama aku!”
Jayadi tampak kesal, tapi berusaha sabar. Ia sudah tidak bisa berkutik seperti serigala ompong yang tidak mampu berbuat apa-apa lagi.
Sinta kembali mendorong Ayu tidak sabar. “Tunggu apa lagi! Cepat pergi!”
Ayu pun menangis sedih dan melangkah pergi.
***
Ayu tampak sedih, duduk di teras sambil membuka-buka handphone.
“Ya Allah kenapa sih lowongan kerjanya nggak ada yang buat lulusan SMA? Yang diminta sarjana semua?” gumam Ayu.
Ayu memandang dengan tatapan sedih.
“Kalo aku nggak segera dapat kerja, gimana aku bayar kontrakan rumah sama biaya hidup sehari-hari? Aku nggak boleh nyerah.”
Ayu kembali mengecek handphone, melanjutkan pencarian lowongan kerja yang sekiranya bisa ia lamar. Tidak lama kemudian senyuman berbinar di wajahnya.
“Alhamdulillah, ini ada lowongan kerja yang cocok buat aku.”
***
Pagi itu di sebuah salon kecantikan yang besar dan mewah, Ayu sedang melamar kerja. Sudah terlihat rapi dengan pakaian hitam putih sesuai persyaratan. Seorang karyawan yang bertugas sebagai HRD menyapa Ayu.
“Mohon maaf, Mbak. Kuota lowongan pekerjaannya sudah terpenuhi semua. Mungkin lain waktu Mbak bisa melamar lagi kalau ada lowongan,” jelas karyawan itu.
Ayu tampak sangat kecewa. “Yaah, padahal baru aja dua hari iklan lowongan pekerjaannya ditayangkan. Masa nggak ada harapan lagi buat saya, Mbak? Beneran saya lagi butuh pekerjaan. Please, Mbak, bantu saya.” Ayu memohon.
“Maaf, Mbak. Memang udah nggak ada lowongan yang tersedia lagi,” kata karyawan itu.
Di tengah pembicaraan Ayu dan sang karyawan, muncul Ruben, pemuda tampan, pemilik salon memperhatikan Ayu dengan saksama.
Akhirnya dengan tampang sedih Ayu terpaksa menyerah. “Ya udah kalau gitu, Mbak. Terima kasih. Permisi,” ucap Ayu.
Ayu melangkah pergi.
Ruben tersentak begitu bisa melihat wajah Ayu dengan jelas. Jantungnya langsung berdebar kencang. Berjuta-juta rasa dan kenangan hadir kembali menyelimutinya.
“Tunggu!” seru Ruben ke arah Ayu.
Ayu menghentikan langkah, lalu membalikkan badan dan menghadap Ruben.
Ruben mendatangi Ayu. Senyuman manis menghiasi wajahnya. “Lowongan untuk karyawan pelaksana memang sudah terpenuhi semua. Tapi masih ada lowongan untuk jadi manajer salon di sini! Dan saya rasa Anda orang yang tepat untuk menduduki posisi tersebut,” ujar Ruben.
Ayu terkejut menatap tidak percaya pemuda tampan di depannya. “Ehm, bagaimana Bapak bisa yakin? Saya kan belum punya pengalaman jadi manajer,” tanya Ayu heran.
“Pengalaman bisa dibuat seiring berjalannya waktu. Yang penting kita punya kemauan dan kemampuan!” Ruben mengulurkan tangan mengajak salaman Ayu. “Saya Ruben, pemilik salon ini, menerima Anda kerja di sini.”
Ayu menyalami Ruben dengan ragu-ragu. Ruben tersenyum.
“Ternyata kamu masih seperti dulu ya, Ayu. Tetep cantik dan mempesona,” ujar Ruben.
Ayu mengerjab-ngerjabkan matanya bingung. “Maksud Bapak?”
“Kamu nggak ingat sama aku? Aku Ruben! Adik kelas kamu di SMA dulu yang pernah nembak kamu, tapi kamu tolak!” kata Ruben antusias.
Ayu terkejut! Ayu pun tersenyum.
“Oh ya, saya ingat! Sekarang Pak Ruben sudah beda, kelihatan dewasa makanya saya pangling!” kata Ayu sungkan. Wajahnya bersemu merah.
“Jadi gimana? Apa aku masih punya kesempatan untuk singgah di hati kamu?” tanya Ruben serius. Ia menatap lekat Ayu.
“Maksud Bapak?” Ayu jadi gugup.
“Ayu, sampai sekarang aku masih suka sama kamu. Dan tadi waktu aku lihat kamu, aku kaget. Aku langsung mikir kalo kamu emang jodoh aku! Kalo enggak, kenapa kita dipertemukan lagi?” Ruben tersenyum manis sekali membuat Ayu berdebar-debar.
Ayu terdiam.
Ruben akhirnya memecah keheningan di antara mereka. “Ayu, kamu mau kan jadi pendamping aku?”
Ayu terkejut lagi.
“Kalau kamu nggak bisa jawab sekarang juga nggak apa-apa. Kamu masih punya waktu memikirkannya. Yang pasti, aku bener-bener tulus cinta sama kamu.” Ruben tampak sangat yakin.
Ayu mendadak muram. “Tapi kamu belum tahu bagaimana kehidupan aku yang sekarang,” ucapnya.
“Aku nggak peduli,” sambar Ruben.
Ayu terdiam, bingung. Sementara Ruben terus menatapnya penuh damba. Pemuda itu masih sangat mencintai Ayu dan terpesona oleh kecantikan dan aura khas Ayu.
***
Safa membantu Vano memasukkan buku-buku yang akan disumbangkan ke anak-aak panti asuhan. Ayu tampak sedih dan galau, berjalan menghampiri Vano dan Safa.
“Assalamualaikum,” sapa Ayu.
“Waalaikumsalam,” balas Vano dan Safa berbarengan.
Vano melihat ekspresi Ayu yang sedih jadi cemas. “Mbak Ayu ditolak kerja lagi, ya? Jangan sedih, nanti aku bantu cari kerja lagi,” kata Vano.
Ayu duduk di samping Safa.
“Justru aku diterima kerja, tapi aku bingung. Masalahnya, orang yang terima aku kerja juga pengen aku jadi istrinya,” ujar Ayu.
Deg! Vano dan Safa terkejut.
“Hati-hati, Mbak. Bukannya mau suudzhon sama orang. Tapi zaman sekarang harus hati-hati, takutnya modus,” pesan Vano memperingatkan.
“Nggak juga sih. Dia temen sekolah aku dulu. Dari dulu aku juga kenal dia anak baik-baik,” kata Ayu.
“Kalo gitu mungkin Mbak bisa mencoba memberi kesempatan,” kata Vano.
“Tapi aku takut ...” Ayu ragu untuk melanjutkan perkataannya.
“Gimana kalo Kak Ayu shalat istikharah biar keputusan yang diambil jadi lebih yakin,” usul Vano. Safa di sampingnya ikut mengangguk.
Ayu mengangguk. “Insyaallah aku akan sholat istikharah.”
“Wa-ankihuu al-ayaamaa minkum waalshshaalihiina min ‘ibaadikum wa-imaa-ikum in yakuunuu fuqaraa-a yughnihimu allaahu min fadhlihi waallaahu waasi’un ‘aliimun. (Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberikan kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui).”
Ayu tersenyum seraya memperhatikan Safa.
“Lho? Ini siapa, Vano?” tanya Ayu. “Astaghfirullah. Maaf. Kakak terlalu asyik sama masalah seniri sampai nggak merhatiin kalau ada tamu.”
Vano tersenyum melirik Safa sekilas. “Perkenalkan, Kak, ini Safa, temanku. Dia ke sini buat bantu aku di acara amal di panti asuhan. Udah lama nggak ketemu, akhirnya kita ngobrol di facebook dan mutusin buat ikut acara amal bareng,” jelas Vano.
Safa segera menyalami Ayu dan tersenyum ramah. Vano kembali menyusun buku-buku ke dalam kardus dibantu Safa. Ayu tersenyum melihat mereka.
***