Jantung Kania selalu terasa seperti es yang retak setiap kali mobil hitam mewah itu memasuki halaman rumah. Rumah megah, bak istana, tapi baginya ini adalah sangkar dingin yang penuh jeritan senyap. Bukan rumah, melainkan penjara. Penderitaan ini dimulai tepat enam bulan lalu, hari di mana ia dipaksa mengenakan gaun putih paling indah dan mengucap janji suci di hadapan semua orang. Janji yang terasa basi bahkan sebelum ia mengucapkannya.
"Cepat! Apa kamu tuli? Kenapa teh ini dingin sekali?!"
Suara berat dan menusuk itu, milik Rendra, suaminya. Atau lebih tepatnya, si pemilik sah penderitaannya.
Kania terperanjat, buru-buru menunduk. Tangan kurusnya gemetar memegang nampan perak. Udara di ruang tamu itu begitu tebal, dipenuhi aroma kopi mahal dan bau arogansi. Di sofa, duduk Rendra, dengan tatapan mata yang tak pernah menunjukkan kehangatan. Di sebelahnya, ada Mertua Kania, Nyonya Besar Ratna, yang selalu menatap Kania seolah ia adalah kotoran di bawah sol sepatu mahalnya.
"Maaf, Mas. Saya akan segera ganti." Kania berusaha agar suaranya tidak bergetar. Bergetar sedikit saja, hukuman yang didapat bisa berlipat ganda.
Rendra mendengus kasar. "Dasar perempuan bodoh. Teh saja tidak becus. Apa gunanya kamu di rumah ini selain menghabiskan jatah oksigen?"
Nyonya Ratna ikut menimpali, suaranya melengking tajam, "Dengar itu, Kania. Jangan pernah lupa posisimu. Di rumah ini, kamu hanya pelayan yang kebetulan berstatus istri. Jangan samakan dirimu dengan menantu lain yang berpendidikan tinggi."
Kania mengepalkan jemari di balik punggung. Ucapan itu adalah menu harian, sarapan, makan siang, dan makan malamnya. Ia sudah mati rasa, tapi setiap kata itu tetap meninggalkan bekas luka baru. Ia tahu ia hanya perempuan kampung yang didatangkan ke rumah ini karena "Wasiat Konyol" yang dibuat mendiang kakek Rendra, yang entah bagaimana, hanya dia yang bisa memenuhinya. Kania tak pernah tahu detail pastinya. Ia hanya tahu, pernikahan ini adalah kontrak, dan ia adalah budak bayaran.
Saat Kania berbalik menuju dapur, Rendra melemparkan majalah tebal yang baru ia baca, mendarat tepat di punggung Kania.
Malam harinya, setelah semua tugas rumah selesai, Kania baru bisa menyentuh telepon genggamnya yang usang. Ia membuka galeri, melihat foto adiknya, Bintang. Bintang yang tersenyum lemah, terbaring di ranjang rumah sakit dengan selang-selang di sekitarnya. Melihat wajah Bintang adalah satu-satunya alasan ia masih bernapas, masih kuat menelan semua hinaan dan perlakuan kasar.
Bintang sakit parah, penyakit langka yang butuh biaya pengobatan ratusan juta. Dan keluarga Rendra, melalui wasiat itu, adalah pihak yang menanggung penuh semua biaya.
Kania menghela napas panjang. Ia harus kuat. Ini semua demi Bintang.
Tiba-tiba, pintu kamar didobrak keras. Rendra masuk dengan wajah merah padam. Jelas, ia baru saja minum lagi.
"Kamu, dari mana saja?!" bentaknya, menarik kasar rambut Kania hingga kepala Kania mendongak.
"Di dapur, Mas. Saya baru selesai mencuci piring..."
"Dapur?!" Rendra tertawa sinis. "Sejak kapan pembantu bisa mencuci piring sampai selarut ini? Jangan bohong. Tadi siang, kamu bertemu siapa di luar?"
Kania membeku. Ia ingat, tadi siang saat ia disuruh membeli kebutuhan mendadak, ia sempat berpapasan dengan seorang pria di minimarket, dan pria itu-seorang asing-sempat membantunya memungut barang belanjaan yang jatuh. Itu saja. Hanya beberapa detik.
"Saya tidak bertemu siapa-siapa, Mas. Saya hanya di minimarket."
PLAK!
Tamparan keras mendarat di pipi Kania. Panas, perih, dan memekakkan. Air mata Kania tumpah, namun ia tak berani mengeluarkan suara isak.
"Jangan anggap saya bodoh! Saya lihat CCTV di luar! Kamu berani menggoda pria lain saat kamu adalah istri sah saya?! Ingat Kania, kamu milik saya! Sampai saya bosan dan membuangmu!" Rendra mencengkeram rahang Kania.
"Saya tidak menggoda siapa-siapa, Mas. Saya mohon..."
"Diam!" Rendra mendorong Kania ke dinding. "Kamu tahu apa yang terjadi kalau kamu berkhianat? Malam ini juga, Bintang akan saya pindahkan dari rumah sakit terbaik itu ke puskesmas kumuh. Biaya perawatannya akan saya hentikan. Kamu mau adik kesayanganmu mati, hah?"
Ancaman itu selalu berhasil. Ini adalah kartu mati Rendra. Mendengar nama Bintang, Kania langsung merosot ke lantai, menangis tanpa suara. Tamparan tidak seberapa sakit dibandingkan ketakutan kehilangan Bintang.
"Tolong, Mas. Jangan lakukan itu pada Bintang. Saya janji, saya tidak akan bertemu siapa-siapa lagi. Saya akan melakukan apa pun yang Mas mau." Kania memohon dengan suara serak.
Rendra menatap tubuh Kania yang bergetar di lantai dengan pandangan puas. Kekuasaan. Ia suka melihat Kania tak berdaya.
"Bagus. Sekarang, berdiri. Dan jangan pernah lupa, kamu itu hanya boneka di rumah ini. Milik saya. Dan jangan pernah berani menolak sentuhan saya, karena itu juga bagian dari kontrakmu."
Kania menutup mata. Ia merasakan jijik yang tak terhingga, tapi ia membiarkan Rendra melakukan apa yang ia mau. Membiarkan dirinya menjadi benda mati. Ini adalah harga yang harus ia bayar agar Bintang tetap hidup. Di balik kemewahan rumah ini, di dalam kamar yang seharusnya menjadi saksi cinta, hanya ada pemaksaan, ketakutan, dan air mata yang mengering setiap malam.
Keesokan paginya, Kania harus tetap menjalankan peran sempurna sebagai menantu, meskipun wajahnya lebam dan hatinya hancur. Ia menyiapkan sarapan, menyetrika baju Rendra, dan membersihkan setiap sudut rumah. Tubuhnya terasa remuk redam, tapi ia memaksakan diri.
Saat sedang membersihkan taman belakang, ia mendengar percakapan antara Nyonya Ratna dan Ibu Mertua.
"Aku tidak mengerti, Bu. Kenapa Kania masih di sini? Rendra sudah punya kekasih, kenapa harus menahan perempuan kampung itu?" tanya Ibu Mertua, suara berbisik tapi cukup terdengar.
Nyonya Ratna menyesap tehnya dengan anggun. "Sabar, Sayang. Sampai kontrak itu selesai. Kita butuh dia. Ingat, hanya dengan dia, kita bisa menguasai semua aset warisan Kakek. Jika kita menceraikannya sekarang, wasiat itu akan batal, dan semua aset jatuh ke tangan yayasan. Kita tidak bisa biarkan itu terjadi."
"Tapi Rendra sudah semakin tidak sabaran dengannya."
"Biarkan saja. Selama dia tidak membunuh anak itu, itu baik. Perempuan seperti Kania itu gampang diatur. Cukup ancam adiknya yang sakit, dia akan patuh seperti anjing terlatih." Nyonya Ratna tertawa jahat.
Kania yang mendengar itu, hatinya seperti tertusuk belati es. Jadi, ini semua tentang aset dan warisan. Bukan sekadar wasiat kosong. Pernikahan ini, penderitaannya, semua hanyalah strategi licik untuk memindahkan kekayaan. Kania bukan istri. Dia adalah kunci, objek, alat tawar-menawar. Dan yang paling menyakitkan, mereka menggunakan Bintang-adiknya-sebagai rantai untuk mengikatnya.
Kania menyandarkan diri di pohon. Air matanya tak keluar, tapi dadanya terasa sesak sampai ia sulit bernapas. Kania menyadari, ia tidak hanya terjebak dalam pernikahan yang kejam, tapi ia adalah korban dari permainan kotor yang jauh lebih besar dan rumit daripada yang ia bayangkan. Penderitaannya di rumah ini, di mata mereka, adalah hal yang sangat murah dan sebanding dengan miliaran rupiah aset yang mereka incar.
Ia harus mencari cara, mencari celah. Tidak hanya untuk dirinya, tapi untuk Bintang. Tapi bagaimana? Di rumah sebesar ini, ia bahkan tak punya teman bicara. Ia benar-benar sendirian, terisolasi, dan tak berdaya. Babak baru penderitaan Kania baru saja dimulai, dan ia tahu, hari-hari di depan akan semakin gelap.
Kania berjongkok di balik semak kembang sepatu. Napasnya masih tercekat, sisa dari percakapan yang tak sengaja ia dengar. Jadi, ini semua sandiwara. Pernikahan ini, statusnya sebagai istri, semua hanya kunci. Kunci untuk membuka brankas warisan kakek Rendra. Hatinya yang sudah remuk kini terasa hampa. Ia bukan istri, bukan menantu, ia hanya alat.
Yang paling membuatnya gemetar adalah kenyataan bahwa mereka tahu persis kelemahannya. Bintang.
"Cukup ancam adiknya yang sakit, dia akan patuh seperti anjing terlatih."
Kata-kata Nyonya Ratna berputar-putar di kepalanya, tajam dan menghina. Kania menekan dadanya, berusaha meredakan denyutan nyeri yang terasa sampai ke tenggorokan. Ini bukan hanya penderitaan personal lagi, ini adalah peperangan yang tidak adil, di mana nyawa adiknya dijadikan pion.
Sambil memaksakan diri berdiri, Kania mengusap pipinya yang masih terasa nyeri akibat tamparan semalam. Ia harus bersikap seolah tidak ada yang terjadi. Topeng sempurna seorang "menantu yang penurut" harus dipakai kembali.
Siang itu, Kania disuruh menemani Nyonya Ratna ke perkumpulan arisan sosialita. Biasanya, Kania diizinkan tinggal di rumah, sibuk di dapur. Kali ini, ia wajib ikut.
"Duduk tegak, Kania. Jangan menunduk seperti pengemis. Dan jangan pernah berani membuka suara, kecuali ditanya. Ingat, kamu di sini hanya sebagai aksesoris. Cerminan keluarga terhormat kita," bisik Nyonya Ratna dingin, sesaat sebelum memasuki ballroom hotel bintang lima.
Di antara tawa renyah, perhiasan berkilauan, dan aroma parfum mahal, Kania duduk kaku di sudut, di belakang Nyonya Ratna. Ia merasa seperti alien. Semua mata memandanginya, bukan dengan rasa hormat, melainkan rasa ingin tahu yang merendahkan. Mereka tahu ia "hanya" menantu wasiat yang datang dari desa.
Saat Nyonya Ratna asyik berbincang, salah satu temannya, Ibu Laras, mendekati Kania.
"Jadi, kamu Kania? Istri Rendra?" tanyanya, suaranya dipenuhi nada meremehkan, matanya menyapu penampilan Kania dari atas ke bawah.
Kania menunduk sedikit. "Iya, Tante."
"Oh, ya ampun. Kamu sangat berbeda dari foto-foto Rendra di media sosial. Dia selalu terlihat sangat bahagia, kamu tahu? Kalian tampak harmonis sekali. Saya pikir kamu ini lulusan luar negeri, ternyata..." Ibu Laras menggantung kalimatnya, dan tawanya sangat tidak menyenangkan.
"Saya... saya lulusan SMA, Tante."
"Lulusan SMA? Astaga. Kasihan sekali Rendra. Tapi sudahlah, namanya juga wasiat. Warisan memang selalu punya harga yang harus dibayar mahal, ya?" Ibu Laras berbisik, tapi cukup keras.
Kania merasakan wajahnya memanas. Mereka semua tahu. Mereka semua tahu pernikahan ini palsu, dan mereka menikmati penderitaannya seolah itu tontonan menarik. Mereka tidak peduli dengan martabatnya. Ia hanya barang dagangan yang dipamerkan.
Saat Ibu Laras pergi, Kania merasakan getaran ponselnya di saku. Itu dari rumah sakit.
Perawatan Bintang harus ditunda sore ini. Administrasi belum mengonfirmasi perpanjangan jaminan.
Dunia Kania seolah runtuh. Ditunda. Ini berarti Rendra atau keluarganya sedang memainkan permainan kotor lagi. Mereka menahan jaminan Bintang untuk memberinya pelajaran. Jantung Kania berdebar gila-gilaan. Bintang tidak boleh ditunda perawatannya.
Dengan keberanian yang didapat dari keputusasaan, Kania bangkit dan menghampiri Nyonya Ratna yang sedang tertawa lepas.
"Maaf, Bu. Saya harus bicara sebentar." Kania berbisik, sangat pelan, tapi nadanya penuh tekanan.
Nyonya Ratna langsung menatapnya tajam, matanya menyala marah. Ia menarik tangan Kania kuat-kuat ke sudut yang sepi.
"Berani-beraninya kamu mengganggu saya di depan teman-teman saya, hah?! Apa maumu?!" Nyonya Ratna berbisik penuh ancaman.
"Bintang, Bu. Kenapa perawatannya ditunda? Mohon jangan jadikan Bintang mainan. Kalau saya ada salah, hukum saya. Jangan Bintang." Kania memohon, air matanya sudah siap tumpah.
Nyonya Ratna tersenyum sinis, senyum yang sama sekali tidak mencapai matanya. "Oh, Bintang. Sayang sekali. Ya, itu sengaja. Rendra sedang kesal karena kamu masih berani-beraninya melirik pria lain kemarin."
"Saya sudah bilang, saya tidak melirik siapa-siapa! Saya hanya membantu memungut barang! Saya mohon, Bu, jangan main-main. Bintang harus segera dioperasi. Kondisinya-"
Ceklek.
Nyonya Ratna mencengkeram lengan Kania, kukunya menembus kulit Kania. "Dengarkan baik-baik. Jangan pernah membantah. Jangan pernah menangis. Jangan pernah mempertanyakan keputusan kami. Kalau kamu berani melawan sedikit saja, kamu bukan hanya akan kehilangan jaminan Bintang, tapi juga kehilangan Bintang selamanya. Paham?"
Ancaman itu diucapkan dengan nada yang begitu tenang, begitu dingin, sehingga membuat Kania merinding. Itu bukan gertakan, itu janji. Nyonya Ratna punya kekuasaan, dan ia tidak segan menggunakannya.
Kania terhuyung mundur. Ia tidak bisa melawan. Ia harus kembali patuh. Untuk Bintang.
"Saya paham, Bu. Maaf." Kania berbisik, lalu buru-buru kembali ke sudutnya, berusaha keras mengendalikan napasnya agar tidak menimbulkan isak tangis.
Perjalanan pulang terasa seperti menelan batu. Kania duduk di belakang, diapit oleh kebisuan Nyonya Ratna. Begitu sampai di rumah, ia langsung dipanggil ke ruang kerja Rendra.
"Duduk." Perintah Rendra pendek, matanya tertuju pada laporan keuangan.
Kania duduk di kursi kayu keras, berjarak dua meter dari Rendra.
"Nyonya Ratna bilang kamu tadi membuat keributan di arisan. Menangis dan memohon-mohon seperti pengemis. Itu memalukan," ujar Rendra tanpa melihat.
"Maaf, Mas. Saya hanya khawatir dengan Bintang..."
Rendra meletakkan pulpennya. Kini ia menatap Kania, tatapan dingin yang mampu membekukan darah. "Khawatir? Itu bukan khawatir. Itu perlawanan. Saya sudah bilang, tugasmu hanya diam, patuh, dan melayani. Tidak lebih. Statusmu di sini hanyalah penjamin warisan."
Ia bangkit, berjalan mengelilingi meja, dan berdiri di depan Kania. "Sekarang saya akan beri kamu pelajaran, agar kamu tahu siapa yang memegang kendali penuh atas hidupmu dan nyawa adikmu."
Rendra mengeluarkan ponselnya, menelepon seseorang, lalu mengaktifkan mode loudspeaker.
"Halo. Batalkan semua jaminan kesehatan atas nama Bintang Laksana per malam ini. Ganti jaminan ke rumah sakit kelas tiga. Saya tidak peduli alasannya. Lakukan sekarang." Rendra memberi perintah dengan suara datar.
Kania menjerit tanpa suara. Ia bangkit, meraih tangan Rendra.
"Mas! Jangan! Tolong, jangan lakukan itu! Bintang butuh perawatan khusus, Mas. Rumah sakit kelas tiga tidak punya alatnya. Mas, saya mohon!" Kania memeluk kaki Rendra, air matanya membasahi sepatu kulit mahal itu.
Rendra menarik kakinya kasar, membuat Kania tersungkur. Ia menatap Kania, puas.
"Lihat? Inilah yang saya inginkan, Kania. Kepatuhan total. Saya akan mengembalikan jaminan itu, tapi kamu harus ingat, ini bisa saya tarik kapan saja. Kamu harus melakukan apa pun yang saya perintahkan tanpa bantahan. Malam ini, siapkan pakaian saya untuk perjalanan besok. Dan jangan pernah berani menolak saya lagi di kamar. Mengerti?"
Kania hanya bisa mengangguk, terisak-isak, membiarkan rasa sakit di hatinya merambat ke seluruh tubuh. Ia sudah mencapai titik terendah. Di rumah ini, ia benar-benar tak punya harga diri, tak punya suara, dan tak punya pilihan.
Rendra tersenyum kecil, lalu mematikan teleponnya. "Bagus. Sekarang pergi dan siapkan semuanya. Dan jangan lupa bersihkan air matamu. Jangan sampai saya melihat wajah jelekmu itu menangis lagi."
Kania merangkak berdiri, tubuhnya gemetar, lalu berjalan keluar dari ruangan itu seperti robot tanpa jiwa. Ia baru menyadari, ia terjebak dalam lingkaran setan kekerasan emosional dan ancaman yang tak berkesudahan. Dan satu-satunya cara untuk keluar dari lingkaran ini adalah dengan mengorbankan segalanya, termasuk nyawa adiknya sendiri.
Kania berjalan gontai menuju kamarnya. Langkahnya terasa berat, seolah ia membawa beban seluruh istana mewah ini di bahunya. Rumah sebesar ini, dengan puluhan ruangan dan pekerja, tapi Kania merasa seperti tinggal di bilik isolasi yang dingin.
Ancaman Rendra tadi sore, yang secara gamblang menggunakan nyawa Bintang, benar-benar merobek pertahanan terakhirnya. Selama ini ia pikir, jika ia patuh, jika ia menelan semua hinaan, Bintang akan aman. Ternyata, tidak. Kepatuhannya hanya membuat mereka semakin haus kekuasaan. Mereka akan menarik dan mengulur nyawa Bintang sesuka hati mereka.
Di kamar, Kania duduk di pinggir ranjang, memeluk lututnya. Ia harus memikirkan jalan keluar.
"Aku nggak bisa begini terus," bisiknya pelan, suaranya parau. "Kalau aku tetap di sini, Bintang nggak cuma sakit, tapi dia juga akan jadi alat tawaran sampai kapan pun."
Kania memutuskan ia harus mencari tahu detail wasiat itu. Keluarga Rendra, terutama Nyonya Ratna, sangat tertutup soal itu. Mereka hanya bilang Kania harus menikah dengan Rendra untuk memastikan warisan tidak jatuh ke tangan orang lain. Tapi, warisan apa? Dan kenapa hanya Kania?
Malam itu, setelah Rendra sudah pulas dalam tidur mabuknya, Kania diam-diam menyelinap keluar kamar. Jantungnya berdebar kencang. Ini adalah kali pertama ia berani melanggar perintah secara frontal. Ia tahu, kalau ketahuan, hukumannya akan jauh lebih berat daripada tamparan atau ancaman.
Ia tahu ruang kerja Rendra adalah tempat menyimpan dokumen penting. Ruangan itu selalu terkunci, tapi Kania ingat, sore tadi Rendra begitu terburu-buru hingga ia lupa mengunci pintu kabinet arsip.
Dengan langkah berjinjit, Kania menuruni tangga utama yang megah. Lampu-lampu kristal di lorong remang-remang, menciptakan bayangan panjang yang menyeramkan. Kania seperti pencuri di rumahnya sendiri.
Ia sampai di depan pintu ruang kerja. Terkunci. Ia mencari kunci duplikat yang biasanya disimpan di bawah patung singa kecil di dekat sana, tapi kuncinya tidak ada.
"Sial," desisnya.
Kania kembali ke kamar Rendra, mengambil dompet Rendra, dan mencari kunci ruang kerja. Ditemukannya! Tangannya gemetar saat ia memegang kunci perak tebal itu. Rasanya seperti memegang bom waktu.
Kania kembali ke ruang kerja. Dengan hati-hati, ia memutar kunci, dan pintu itu terbuka dengan bunyi klik pelan.
Di dalam, ruangan itu gelap, hanya diterangi cahaya rembulan yang masuk dari jendela besar. Kania menyalakan senter ponselnya, mengarahkan cahayanya ke kabinet arsip.
Kabinet itu memang tidak terkunci. Kania menarik laci teratas. Penuh dengan dokumen-dokumen keuangan yang tidak ia mengerti. Ia terus mencari, hingga akhirnya di laci paling bawah, ia menemukan sebuah map kulit tua bertuliskan: Wasiat Terakhir Tuan Hardiman.
Kania menarik napas dalam-dalam. Ini dia. Kunci semua penderitaannya.
Ia membuka map itu. Isinya surat wasiat bermeterai dan beberapa lampiran. Kania tidak punya banyak waktu, jadi ia langsung mencari bagian yang menyebut namanya.
Matanya menyusuri baris demi baris, membaca cepat dalam cahaya redup.
...Dengan ini, saya Tuan Hardiman, menetapkan bahwa seluruh aset properti dan perusahaan akan dialihkan sepenuhnya kepada cucu saya, Rendra Mahesa, hanya jika Rendra menikahi perempuan dari garis keturunan Laksmi, yang dibuktikan dengan nama keluarga Laksana.
...Apabila Rendra Mahesa gagal memenuhi persyaratan ini hingga usia 30 tahun, atau apabila terjadi perceraian dengan istri yang sah dari garis Laksana dalam waktu 10 tahun sejak pernikahan, maka seluruh aset akan diserahkan kepada Yayasan Sosial Sejahtera...
Garis keturunan Laksana. Kania adalah Kania Laksana. Ayahnya dulu pernah bercerita bahwa mereka adalah keturunan dari keluarga kaya raya yang jatuh miskin. Ternyata, itu adalah garis keturunan yang diinginkan Tuan Hardiman.
Kania merasa mual. Jadi, ia bukan dipilih karena cinta, atau bahkan karena kebetulan. Ia dipilih secara spesifik karena nama belakangnya. Ia adalah pewaris biologis yang dinikahkan dengan pewaris administratif untuk memastikan aset keluarga tetap utuh.
Dan yang paling penting, Kania membaca ulang klausul tentang perceraian: Perceraian sebelum 10 tahun akan membatalkan wasiat, dan aset jatuh ke yayasan.
Inilah yang ditakuti Nyonya Ratna dan Rendra! Mereka tidak bisa menceraikannya. Mereka terpaksa menahannya selama sepuluh tahun, atau mereka akan kehilangan segalanya.
Kania tiba-tiba merasa sedikit kuat. Ia punya kartu AS. Ia punya kendali yang mereka kira mereka miliki sepenuhnya.
Tapi, kekuatan itu langsung runtuh saat ia membalik lampiran terakhir. Itu adalah surat perjanjian yang ditandatangani oleh ayahnya, sebelum ayahnya meninggal.
...Sebagai imbalan atas jaminan pengobatan seumur hidup untuk putri kedua saya, Bintang Laksana, saya setuju bahwa putri sulung saya, Kania Laksana, akan menikah dengan Rendra Mahesa dan tidak akan menuntut perceraian atau pembatalan perjanjian selama 10 tahun ke depan, atas alasan apa pun, demi keberlangsungan pengobatan Bintang...
Kania tersentak. Ayahnya telah menandatangani persetujuan bahwa Kania tidak boleh menuntut cerai selama sepuluh tahun. Mereka bukan hanya mengancamnya secara verbal, tetapi mereka punya kontrak hukum yang menjeratnya, menggunakan Bintang sebagai jaminan mutlak. Jika Kania menuntut cerai, dia melanggar kontrak, dan jaminan pengobatan Bintang akan batal total.
Air mata Kania menetes di atas kertas bermeterai itu. Ayahnya pasti dalam posisi putus asa sekali sampai menandatangani kontrak mengerikan ini.
Tiba-tiba, terdengar bunyi langkah kaki dari lorong. Jantung Kania seperti akan melompat keluar dari rongganya. Ia buru-buru melipat kembali dokumen wasiat itu, menyembunyikannya kembali ke laci, dan menutup kabinet.
Langkah kaki itu semakin mendekat. Itu Nyonya Ratna.
Kania bergerak cepat ke belakang tirai jendela besar. Ia menahan napas.
Nyonya Ratna masuk, menyalakan lampu kecil di meja. Dia memeriksa sesuatu di mejanya, mungkin dokumen yang sedang ia kerjakan. Kania hanya bisa melihat siluetnya.
Setelah sekitar dua menit yang terasa seperti dua jam, Nyonya Ratna mematikan lampu dan berjalan keluar, mengunci pintu ruang kerja.
Kania menunggu di balik tirai selama beberapa saat lagi, memastikan Nyonya Ratna benar-benar pergi.
Saat suasana kembali sunyi, Kania menyelinap keluar, menutup pintu, dan menguncinya kembali dengan kunci yang ia curi. Ia harus mengembalikan kunci itu.
Berlari pelan kembali ke kamar, Kania mengembalikan kunci ke dompet Rendra. Ia terbaring di ranjang, tubuhnya masih gemetar hebat. Ia sudah tahu segalanya.
Ia tidak bisa bercerai karena kontrak yang ditandatangani ayahnya. Ia harus bertahan. Sepuluh tahun. Sepuluh tahun lagi sebagai boneka di rumah ini, menahan kekejaman suaminya, menahan hinaan, demi adiknya.
Kania merasa dirinya benar-benar terperangkap dalam sangkar baja. Malam itu, bukan hanya karena tamparan, tapi karena kebenaran pahit itu, Kania menangis, menangis sejadi-jadinya tanpa suara, membenamkan wajahnya di bantal mahal yang dingin. Ia harus menemukan cara lain. Cara yang tidak melibatkan perceraian, tapi bisa membebaskan Bintang dan dirinya dari kendali tirani keluarga ini.