Bab 2

"Aku tidak mau memberi tahu orang asing!" ketus Alesya. Bertepatan dengan kalimatnya, handphone milik Edward berdering, panggilan dari Barra mengudara maka dirinya segera berpamitan, tetapi gadis ini menahannya, memaksanya untuk membantu mengeluarkannya dari sini.

"Maaf, Nona. Aku akan menyelamatkan kamu, tapi tidak sekarang." Grasah-grusuh Edward berlalu. 'Ada apa antara gadis itu dan ayah?' Pria berusia dua puluh tujuh tahun ini kembali ke sisi ayahnya dan para kolega bisnis sang ayah hingga waktunya habis di tempat ini. Satu jam kemudian, kapal menepi. Dirinya mengingat Alesya hanya saja tidak dapat melakukan apapun, sang ayah tidak membiarkannya pergi.

Maka, kini Alesya mendapatkan masalah besar, dirinya tidak dapat terlepas begitu saja dari masalahnya di kapal ini. "Pria menyebalkan itu sama brengseknya dengan si brengsek itu!" Jadi, tidak ada pilihan lain selain menghubungi kakek dan neneknya untuk menyelesaikan masalah.

Tiga jam berlalu, Alesya baru saja menepi di sebuah apartemen. "Jadi setiap hari aku harus mengunjungi perkebunan sekalian bertemu seorang pria yang kakek bilang akan membeli sebagian lahan. Hm ..., kenapa kakek jual sebagian lahan perkebunan, apa kakek bangkrut?" Ini adalah pulau yang kaya akan penghijauan, terdapat banyak sekali sumber daya alam di atas tanah ini, hanya saja hamparan tanah subur ini jarang dijamah oleh pria tua bernama lengkap Wijaya kusuma.

Alesya membersihkan diri di bawah shower yang hangat, tanpa memikirkan apapun lagi karena masalahnya telah ditangani oleh sang kakek termasuk masalah keuangan, seorang utusan yang tinggal tidak jauh dari sini sudah menjadi pelantara sebagai penyalur dana. "Semoga aku tidak bertemu pria menyebalkan itu lagi dan semoga aku berhasil menangkap si pembunuh!”

Alesya tidak mengatakan kecurigaannya pada sang kakek bahwa baru saja dirinya melihat pria yang mirip dengan pembunuh ayahnya karena Wijaya memiliki penyakit jantung, pun neneknya tidak dapat mendengar kabar mengerikan seperti ini karena mungkin akan menimbulkan hal buruk berkepanjangan, sedangkan sang ibu adalah seorang biasa saja, tetapi kali ini wanita itu tidak tinggal bersama keluarga mendiang suaminya karena menjadi objek bersalah atas tiadanya pewaris satu-satunya Wijaya.

Di sisi lain, Barra sedang menitipkan pesan pada sang putra, "Besok kamu harus melakukannya sebaik mungkin. Jangan sampai salah. Dua orang kepercayaan Papa akan mendampingi.”

"Harus ya, Edward yang melakukannya. Kenapa bukan Papa?”

"Karena nantinya perkebunan itu milik kamu, kamu yang harus mengelola semuanya.”

"Tapi Edward tidak betah tinggal di pulau ini.”

"Tidak perlu tinggal, kelola saja, pekerjakan beberapa orang pribumi saja sudah cukup." Tatapan Barra mulai menginterograsi, "apa kamu tidak siap menjadi penerus semua usaha Papa?”

"Bukan begitu, Pa.”

"Lakukan yang terbaik, Nak. Papa memercayakan semuanya padamu." Barra segera berlalu, dirinya tidak dapat tinggal lama di kota ini. Sore ini si pria hebat harus mengunjungi kota lain untuk memeriksa bisnisnya yang berhubungan dengan pertambangan.

Ingin menanyakan perihal tindakan sang ayah pada gadis bernama Alesya, tetapi Edward tidak memiliki waktu untuk itu karena Barra telah berlalu bagaikan angin.

Hari berganti. "Kamu!" Bagaimana bisa Alesya tidak terperanjat saat bertatap muka dengan Edward yang adalah pembeli setengah dari lahan milik sang kakek.

"Ternyata kita bertemu lagi. Ini sangat tidak terduga," kekeh Edward yang juga ingin kaget seperti Alesya, tetapi mana mungkin, dirinya harus menjaga image sebagai seorang pria berwibawa apalagi di hadapan wanita walau yang ada kini hanya wanita kecil, belum cukup matang di matanya.

"Siapa kamu, berani-beraninya datang ke perkebunan!" omelan Alesya alih-alih menyambut si pembeli hingga Edward menggaruk kepala tidak gatal.

"Apa kamu yakin tidak menyukai kehadiran aku?”

"Katakan dulu tujuan kamu!" lantang Alesya yang seolah sedang memperebutkan wilayah kekuasaan hingga Edward tertawa singkat, kemudian memerintahkan salah satu bawahannya untuk menunjukan surat perjanjian jual beli lahan perkebunan ini. Seketika, mulut Alesya menganga lebar.

"Ja-jadi kamu yang akan membeli sebagian perkebunan kakek!”

"Kurang lebih begitu.” Senyuman teduh dan bersahabat Edward.

"Ya Tuhan ..., apakah dunia ini cuma selebar daun pisang. Apa tidak ada manusia yang lebih baik yang siap membelinya!”

"Hei, apa maksud kamu lebih baik, hm?" Lembut Edward saat bersuara selaras dengan tatapannya.

Alesya mengibaskan satu tangannya. "Lupakan, percuma aku jelaskan, paling kamu tidak akan mengerti!”

Edward hanya tersenyum tipis nan hambar saat menanggapi kalimat gadis minim berpikir sebelum berbicara. Maka, proses jual beli segera berlangsung di atas materai serta tanda tangan kedua belah pihak. "Untuk pembayaran sudah ditransfer ke nomor rekening ini, kamu bisa memeriksanya," tunjuk si pria. Bukti transfer itu sangat transfaran dan gamblang.

"Iya, aku tahu!" Wijaya sudah menjelaskan tentang keuangan serta memberitahukan jika pembelinya sudah melakukan pembayaran pukul tujuh pagi, jadi gadis ini hanya tinggal menandantangi saja sekitar pukul sembilan pagi.

Edward hanya tersenyum kecil menyaksikan sikap datar Alesya. "Apa hari ini kamu punya banyak waktu?”

"Kalau punya kenapa dan kalau tidak kenapa?”

"Kalau punya, ayo kita sarapan bersama," ajakan lembut Edward. Awalnya Alesya ingin menolak, tapi perutnya berbunyi maka tidak ada alasan untu menolak. Maka, keduanya makan di restoran tidak jauh dari perkebunan.

"Aku tinggal di apartemen tidak jauh dari sini," ceplos Edward yang tidak merasa formal sama sekali saat menatap Alesya yang berwajah baby face seolah anak sekolah.

"Aku juga tinggal tidak jauh dari perkebunan.”

"Baguslah, jadi kita bisa sering bertemu. Lagipula perkebunan kita bersebelahan." Senyuman teduh Edward di sela-sela menyuap.

"Aku tidak mau sering datang ke perkebunan, panas. Kulitku akan terbakar dan rambutku akan lepek. Biarkan saja para pekerja yang melakukannya!" pengakuan polos Alesya hingga membuat Edward menggelengkan kepalanya bersama tawa kegelian.

"Bisa-bisanya kamu dipercaya memegang perkebunan!" celetuk Edward karena Alesya seperti bocah di matanya.

"Apa maksud kamu bicara seperti itu. Memangnya aku kenapa? Aku juga mampu kok mengelola perkebunan seperti itu. Huft!" kesal Alesya yang tidak benar-benar merasa sanggup menggeluti bidang pekerjaan pertamanya ini. Lagipula kuliahnya belum selesai, tetapi sang kakek memaksanya belajar terjun ke dunia bisnis.

"Iya, kamu mampu." Senyuman kecil Erdward yang tidak merasa yakin pada kemampuan Alesya. Tidak sampai tiga puluh menit, sarapan keduanya berakhir. "Aku tidak punya teman di sini, kamu mau jadi temanku?”

"Tidak!" tolak mentah-mentah Alesya seiring meninggalkan duduknya, "aku punya banyak urusan. Sudah ya!" Gadis ini berpamitan dengan sikap dingin karena dirinya harus kembali mencari si pembunuh.

"Tunggu!" cegah Edward, "biar aku antar kamu. Tadi aku yang membawa kamu kesini, sekarang izinkan aku mengantar kamu.”

Alesya memutar bola mata malas, tetapi menerima tawaran Edward karena di luar sana tidak ada taxi nongkrong satu pun, dirinya tidak ingin menunggu. Namun, saat gadis ini duduk di sisi jok pengemudi, Edward memasang sebuah foto.

"Sorry, aku kira fotonya kemana, ternyata jatuh di bawah jokku." Senyuman teduh Edward, tetapi ekspresi Alesya tidak seteduh itu karena di dalam gambar terdapat Edward dan pria yang diduga membunuh ayahnya hingga kedua mata si gadis membelalak lebar.

Bersambung ....

Bab 3

"Si-apa orang yang bersamamu?”

"Oh, ini papa," kekeh Edward, tetapi tentu saja ekspresi Alesya selalu berbeda dengannya.

'Jadi, Edward adalah anak si pembunuh. Jadi, yang membeli lahan kakek adalah orang yang memusnahkan papa!' Alesya berusaha mengingat dengan jelas wajah pembunuh ayahnya yang sempat ditangkapnya dalam kamera handphone walau kini wajah itu hanya tinggal dalam memori otaknya, tetapi ditatap berulang kalipun wajahnya tetap sama seperti yang ada di foto.

Edward mengendarai mobilnya tanpa menyadari jika sang ayah sedang menjadi bahan perhatian Alesya. "Apa Nona masih punya waktu lebih, aku bisa mengajak Nona keliling kota ini," kekeh si pria yang sudah memiliki ketertarikan khusus pada Alesya.

"Iya, aku punya waktu lebih," jawaban yang diberikan Alesya padahal sebelumnya dirinya tidak memiliki niat pergi bersama Edward.

"Syukurlah. Nona mau kemana?" Edward sering sekali melirik Alesya karena dirinya dibuat gembira oleh jawaban si gadis.

"Mengunjungi tempat tinggal kamu juga tidak apa," ceplos Alesya di luar dugaan Edward. Sontak pria ini terhenyak, baru kali ini dirinya bertemu wanita yang langsung to the point seperti ini.

"Eu, apa!”

"Iya, aku mau melihat kediaman kamu," lugas Alesya karena dirinya ingin mencari bukti tentang si pembunuh yang ternyata sangat dekat dengannya, setidaknya jika dirinya memiliki hubungan dekat dengan Edward maka secara otomatis memiliki aset penting milik si pembunuh yang bisa dipakainya untuk mengancam sebagai upaya menjebloskan si pria itu.

Edward sedikit tabu dengan ajakan Alesya, tetapi dirinya tetap menyetujui karena mana mungkin menampik seorang tamu. Maka, tidak perlu menunggu lama sebuah apartemen menaungi keduanya. "Aku hanya akan tinggal sementara di sini. Kamu bagaimana, apa pindah ke pulau ini?”

"Tidak, aku juga cuma sementara." Tatapan Alesya begitu dingin saat menyapu ruangan yang sejajar dengan arah matanya. 'Ya Tuhan, detik ini aku masuk ke dalam salah satu sarang pembunuh itu. Apa aku akan selamat?' Gadis ini ingin membuktikan kecurigaannya, tetapi terdapat banyak sekali rasa takut yang menyelubunginya saat ini karena pembunuh itu sangat brutal saat menghabisi nyawa ayahnya, apalagi dirinya yang tidak akan mampu melakukan perlawanan apapun.

"Hei, kenapa melamun," kekeh Edward seiring menjentikan jemarinya di hadapan wajah Alesya hingga gadis itu mengerjap.

"Maaf, ini pertama kalinya aku masuk ke apartemen lelaki." Senyuman hambar Alesya saat membuat alasan cukup diterima logika hingga Edward terkekeh.

"Silakan duduk." Edward menjamu tamunya dengan hangat sebagaimana pada rekan bisnisnya yang lain karena Alesya memang salah satunya, pria ini tidak melihatnya sebagai seorang teman. Belum, itu yang dia tanamkan karena di titik ini mereka bertemu karena bisnis tidak ada alasan lain, "tunggu sebentar, aku akan membuatkan minuman." Ramahnya bersama senyuman selaras.

"Iya." Datar Alesya. Baru saja Edward menuju dapur, gadis ini segera bangkit dari duduknya untuk mencari informasi penting. 'Apatemen ini cukup kosong, tidak banyak benda di sini, terutama bukti yang harus aku dapatkan. Sepertinya dia tidak punya rencana tinggal lama, sampai kapan dia di sini? Aku tidak boleh kehilangan jejaknya, kita harus tetap saling mengenal. Teman. Iya, aku harus menjadi temannya supaya kita tidak putus kontak!’

Alesya merancang rencana dalam waktu singkat demi sebuah pembuktian. Edward berdeham kala si gadis berdiri di dekat kaca besar apartemennya. "Kamu suka jeruk? Kebetulan cuma ada buah jeruk, jadi aku cuma membuatkan jus jeruk," kekeh pria ini. Edward sangat tulus berbeda dengan Alesya maka sikap hangatnya tanpa kepalsuan sama sekali.

Alesya segera berbalik ke arah sumber suara. "Iya, aku menyukainya." Kini, dirinya kembali duduk di hadapan Edward.

"Aku dengar kamu masih anak kuliahan." Basa-basi Edward. Namun, hal itu membuat Aleya curiga.

"Tahu dari mana?”

"Dari papa karena papa punya hubungan baik dengan kakek kamu.”

"Oh." Datar nan dingin Alesya, kemudian menambahkan senyuman kecil dalam kalimatnya, "iya, aku masih kuliah, apa itu terdengar buruk?”

"Tidak, tidak sama sekali." Tawa kecil Edward, "sesekali aku ingin mengunjungi kampus tempat kamu belajar." Tatapan Edward sangat insten seolah sedang menunjukan maksudnya jika dirinya ingin lebih mengenal Alesya.

"Silakan, tapi tidak ada apapun yang bisa kamu lihat di sana." Senyuman palsu Alesya berpura-pura ramah.

"Ada.”

Alesya mengeryitkan dahinya. "Kamu pernah ke sana sebelumnya?”

"Belum, tapi aku bisa melihat kamu di sana." Senyuman teduh Edward mulai diperlihatkan sebagaimana seorang pria yang memiliki ketertarikan khusu pada lawan jenis. Alesya membalasnya dengan senyuman kecil yang dibuat seolah merona. "Silakan diminum jusnya," tawaran ramah Edward.

Alesya menerima jusnya walau sedikit ragu karena mungkin Edward menambahkan bumbu kejahatan di dalamnya, tetapi nama kakeknya menjadi jaminan untuk Edward membatasi diri, itu yang bersemayam dalam benak Alesya hingga dirinya berani menyeruput seujung bibir. "Ini manis, kamu pandai membuat jus," pujian palsunya.

"Itu sudah keahlianku," kekeh Edward saat tersipu mendapatkan pujian dari gadis yang membuatnya menumbuhkan ketertarikan khusus.

'Aku harus tetap berbaik hati pada laki-laki ini seolah mau berteman dan terus mengenalnya. Ayo Alesya, kamu bisa menjebloskan si pembunuh itu, pasti papa akan tenang di alam sana dan bangga sama kamu!' Asupan semangat untuk dirinya sendiri.

Edward menyalakan televisi besar. "Andai apertemen kita bersebelahan, kita akan lebih mudah bertemu, aku tidak suka sendiri." Hampir semua kalimat yang diucapkannya selalu ditambahkan kekeh hangat.

"Aku juga tidak suka sendiri." Alesya meniru gaya bicara Edward supaya menunjukan persamaan antara mereka walau itu hanyalah kepalsuan.

"Bagaimana kalau selama di sini aku sering jemput kamu untuk menghabiskan waktu bersama?" usulan yang dikatakan Edward sangat ragu karena mungkin dirinya akan tampak seperti pria agresif.

"Ide bagus, kita bisa menonton bersama atau mungkin memasak," kekeh palsu Alesya yang sedang berpura-pura tertarik pada tawaran Edward.

"Bagus sekali." Puas Edward karena dia pikir telah menemukan gadis yang sefrekuensi. Maka, kini keduanya menikmati acara televisi bersama.

'Bagus sekali, sampai di titik ini semuanya mulus. Pa, Alesya akan membantu papa membalas dendam, papa cuma tinggal mendukung Alesya dari atas sana, lindungi Alesya.’

Edward tertawa saat menyaksikan acara komedi. "Lucu sekali.”

"Ngomong-ngomong, apa kamu sendiri di pulau ini?" Alesya mulai mempertanyakan ayah si pria yang entah di mana dan siapa nama pria keji itu.

"Ada papa, hanya saja sekarang papa entah di mana. Papa bilang sore ini harus pergi ke kota lain di pulau ini.”

"Apa ada kemungkinan papa kamu datang kesini?" Alesya mulai gelisah karena bagaimanapun juga dirinya harus betatapan langsung dengan si pembunuh.

"Entahlah." Senyuman kecil Edward. Pertanyaannya di kapal belum terjawab, mengapa Alesya bisa mendapatkan masalah dari ayahnya? Apa hubungan keduanya?

"Apa kamu pernah mengenal papa?" Ini adalah salah satu pertanyaan demi menjawab rasa penasarannya walau tidak berharap Alesya akan memberikan jawaban, tetapi andaipun tidak mendapatkan jawaban dari si gadis, dirinya masih memiliki sang ayah untuk ditanyai.

Bersambung ....

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED