Adrian pun tertegun. Seingatnya, Rebecca hampir tidak pernah menolak permintaannya. Tidak peduli seberapa tidak masuk akal pun permintaannya, Rebecca juga akan selalu berusaha melakukannya. Dia sangat jarang mendengar Rebecca menolak.
Setelah mendengar ucapan Rebecca, Irene menertawakan dirinya sendiri. “Aku yang salah. Hanya dengan pindah kemari saja, aku sudah cukup merepotkan. Sekarang, aku malah berharap untuk makan masakan Rebecca.”
Seusai berbicara, Irene pun hendak pergi.
Begitu mendengarnya, Aiden pun merengek dan memukul Rebecca. “Mama jahat! Kamu nggak boleh tindas Bibi Irene!”
Adrian buru-buru menarik lengan Irene, lalu menyalahkan Rebecca. “Kamu masih marah soal kejadian tadi pagi? Sudah kubilang Irene cuma datang pinjam power bank. Buat apa kamu mempermasalahkannya?”
Rebecca menjawab dengan ekspresi datar, “Aku lagi nggak enak badan, nggak punya tenaga untuk masak.”
“Mama, kamu sakit?”
Aiden terlebih dahulu merasa terkejut, lalu menutup mulutnya dengan jijik. “Mama, kenapa kamu nggak bilang dari awal? Tubuh Bibi Irene sangat lemah, gimana kalau dia ketularan sakitmu?”
Seusai berbicara, Aiden menarik lengan baju Adrian dan berujar, “Nggak bisa begini. Papa, untuk jaga-jaga, sebaiknya kita pergi belikan obat buat Bibi Irene.”
“Aiden, nggak usah. Bibi nggak apa-apa.”
Namun, Adrian malah menatap Irene dengan penuh kasih sayang. “Dengar saja kata-kata Aiden. Kamu jangan paksakan diri lagi. Dulu, setiap sakit, kamu butuh hampir setengah bulan untuk sembuh.”
Ketiga orang itu pun keluar rumah dengan bergandengan tangan. Yang tersisa di rumah hanya Rebecca dan pangsit yang dingin lagi.
Setelah hidup bersama bertahun-tahun, suami dan putra kandungnya bukan hanya tidak peduli padanya, malah pergi membelikan obat untuk Irene yang tidak sakit sebagai bentuk pencegahan. Rebecca pun membuang pangsit yang tersisa dan temenung untuk sesaat.
Tidak lama kemudian, Rebecca menerima pesan dari Adrian.
[ Kami mau pergi ke supermarket. Bawalah mobil kemari untuk jemput kami. ]
Ketika Rebecca tiba, hanya ada Irene dan Aiden.
“Bibi Irene, aku pengen makan es krim!”
Irene mencubit pipi Aiden dan menjawab, “Oke! Kalau Aiden mau makan, Bibi akan membelikannya untukmu.”
Rebecca pun mengernyit dan menghampiri mereka untuk mencegahnya.
“Aiden, kamu lupa apa pesan dokter? Perutmu sensitif, kamu nggak boleh makan es krim.”
Aiden yang awalnya terlihat gembira langsung cemberut.
“Rebecca, kalau anak pengen makan, ya dibelikan saja. Kamu nggak perlu begitu khawatir.”
Rebecca pun menyahut dengan ekspresi muram, “Ini urusan keluargaku, kamu nggak usah ikut campur.”
Baru saja Rebecca selesai berbicara, Adrian pun kembali.
Irene menatap Adrian dengan tampang sedih. “Adrian, aku mau belikan es krim buat Aiden, tapi Rebecca nggak setuju.”
Rebecca menjelaskan dengan suara berat, “Dokter baru berpesan, kita boleh belikan makanan ringan lain buat Aiden, tapi dia baru boleh makan es krim setelah sembuh.”
Adrian sama sekali tidak dapat menerima membiarkan Irene merasa sedih. Ekspresinya pun menjadi dingin.
“Makin kamu bersikap begini, anak juga akan makin membencimu. Memangnya kamu nggak bisa biarkan dia makan sesuap, lalu kamu makan sisanya? Lagian, Irene juga berniat baik. Buat apa kamu perbesar masalahnya?”
Hati Rebecca terasa seperti sudah disayat. Dia tidak menyangka Adrian bahkan tidak peduli pada kesehatan anak demi membela Irene. Adrian bahkan sengaja menggunakan hal yang paling dipedulikannya untuk mengejeknya.
Rebecca pun tersenyum getir, tetapi tidak membantah Adrian lagi. Sebab, dia tiba-tiba menyadari bahwa sejak Irene kembali, dirinya sudah sepenuhnya menjadi orang luar. Tidak peduli seberapa banyak pengorbanannya, di mata mereka, dia tetap tidak dapat dibandingkan dengan Irene.
Irene tidak dapat menyembunyikan kepuasannya. Sementara itu, Aiden juga berseru, “Papa dan Bibi Irene memang baik! Nggak seperti Mama jahat yang nggak bersedia belikan es krim untuk Aiden!”
Ucapan Aiden segera menarik perhatian orang lainnya. Semua orang pun mulai membicarakan Rebecca. Hati Rebecca terasa makin dingin. Inilah putra yang sudah dibesarkannya dengan sepenuh hati selama empat tahun.
Di sisi lain, Adrian juga membiarkan Aiden merengek dengan suara kuat. Dia sama sekali tidak berniat untuk menghentikan rengekan Aiden. Pada akhirnya, Irene yang berpura-pura menghibur Aiden sehingga keributan ini akhirnya berakhir.
Seusai berbelanja di supermarket, Adrian, Aiden, dan Irene mengusulkan untuk pergi ke restoran yang terkenal karena hidangan pedasnya. Ngomongnya saja itu hanyalah usulan, sebenarnya mereka sama sekali tidak memberikan Rebecca kesempatan untuk menolak.
Adrian memesan banyak makanan. Selain telur tumis tomat untuk Aiden, hampir setiap makanan lainnya adalah makanan pedas. Tidak ada seorang pun yang menanyakan pendapat Rebecca. Mereka langsung menyerahkan pesanan itu.
“Adrian, aku nggak nyangka setelah berpisah begitu lama, kamu masih ingat semua makanan kesukaanku.”
Irene menyentuh tangan Adrian dengan penuh kemesraan. Sementara itu, telinga Adrian langsung memerah. Setelah semua pesanan keluar, Adrian tidak berhenti mengambilkan makanan untuk Irene.
Rebecca hanya bisa menunduk dan makan nasi putih. Dia sama sekali tidak menyentuh satu pun lauk yang dipesan.
Adrian bertanya dengan bingung, “Kenapa kamu nggak makan lauk?”
Rebecca menjawab dengan tenang, “Aku nggak bisa makan pedas.”
Adrian pun terkejut. Setiap kali, Rebecca selalu memasakkan makanan yang pedas. Dia mengira Rebecca juga menyukai makanan pedas, tetapi sama sekali tidak pernah memperhatikan selera makannya.
Hati Adrian tiba-tiba terasa tidak nyaman. Dia pun mengambil buku menu dan berujar, “Kalau begitu, aku akan pesankan beberapa lauk lagi. Kamu suka makan apa? Katakanlah padaku.”
“Nggak usah. Kalian makan saja.”
Adrian masih ingin mengatakan sesuatu, tetapi seseorang tiba-tiba menunjuk Irene dan berseru, “Kamu itu Irene? Kamu Pak Adrian?”
Melihat Irene yang mengangguk pelan, orang itu berseru dengan penuh semangat, “Aku ini penggemar kalian! Berita kalian di internet benar-benar manis! Kisah kalian mirip banget sama drama romantis! Kalian benar-benar sudah balikan?”
Setelah mendengar pertanyaan itu, Adrian melirik Rebecca, lalu bertemu pandang dengan tatapan penuh harap Irene. Kemudian, dia mengangguk pada penggemar itu dan mengiakannya.
Penggemar itu langsung berseru kegirangan, “Setelah lima tahun penuh lika-liku, kalian akhirnya bersama lagi. Apa lagi ini namanya kalau bukan cinta sejati?”
Irene menjawab sambil tersenyum, “Dulu, aku yang nggak tahu cara menghargai Adrian. Kelak, aku akan menghargainya dengan baik.”
Adrian menatap Irene dengan tatapan penuh kebahagiaan.
Setelah orang itu pergi, Aiden juga bertanya dengan gembira, “Papa, berhubung kamu dan Bibi Irene sudah bersama, apa itu berarti aku sudah boleh ganti mama?”
Adrian buru-buru menutup mulut Aiden dan mengisyaratkannya untuk tidak lanjut berbicara. Kemudian, dia menatap Rebecca dan berkata, “Aiden masih kecil, kamu nggak usah taruh kata-katanya ke hati.”
Melihat Rebecca yang tidak menunjukkan reaksi apa pun, Adrian berujar lagi, “Tadi, aku bilang begitu karena memikirkan karier Irene.”
Rebecca mengangguk. “Aku tahu. Kamu nggak perlu menjelaskannya padaku.”
Melihat Rebecca yang bersikap setenang itu, Adrian merasa agak aneh.
Irene yang berada di samping menggenggam tangan Adrian dengan lembut. “Adrian, cepat makan. Nanti makanannya dingin.”
Setelah mendengar ucapan itu, Adrian pun tersenyum manis. Tidak lama kemudian, dia tenggelam lagi dalam kelembutan Irene dan sama sekali lupa pada Rebecca.
Seusai makan, mereka berjalan ke tempat parkir di seberang jalan. Tiba-tiba, ada sebuah mobil sedan kecil yang melaju keluar dari persimpangan.
Setelah menyadarinya, Adrian secara refleks menarik Irene dan Aiden ke pinggir jalan. Namun, dia malah melupakan Rebecca yang berjalan di jalan raya.
Pada detik berikutnya, terdengar suara berdecit mobil sedan mengerem mendadak dan suara Rebecca jatuh ke lantai. Begitu melihat keadaan ini, Adrian langsung panik. Dia buru-buru melepaskan Irene dan pergi memeriksa keadaan Rebecca.
Sekujur tubuh Rebecca terasa luar biasa sakit. Dia meringkuk di lantai dan keningnya dipenuhi keringat dingin.
Seluruh perhatian Adrian saat ini sedang tertuju pada Rebecca. Suaranya terdengar cemas hingga gemetar. “Rebecca! Gimana keadaanmu? Aku antar kamu ke rumah sakit sekarang juga!”
Rebecca ingin menjawab, tetapi rasa sakit hebat itu membuatnya tidak bertenaga untuk berbicara. Dia mencoba menggenggam tangan Adrian untuk menyuruhnya tidak perlu khawatir.
Baru saja Rebecca mengulurkan tangan, Aiden sudah berseru ke arah Adrian, “Papa, Bibi Irene hampir pingsan! Cepat kemari!”
Begitu mendengar seruan itu, Adrian segera mengalihkan perhatiannya ke arah Irene. Kekhawatiran di matanya terlihat makin pekat dari sebelumnya.
Irene berkata dengan keras kepala, “Adrian, aku baik-baik saja, cuma fobia darah. Kamu nggak usah peduli padaku. Saat ini, keadaan Rebecca lebih serius.”
“Bibi Irene, wajahmu sudah sepucat ini, tapi kamu masih bilang baik-baik saja! Papa, jangan bengong lagi! Cepat antar Bibi Irene ke rumah sakit! Mobilnya sudah ngerem kok! Mama pasti cuma lagi sandiwara biar bisa rebut perhatianmu dari Bibi Irene!”
Seusai Aiden berbicara, Adrian menatap Rebecca dengan agak curiga. Dia mengerutkan kening dan tidak tahu harus membuat keputusan apa.
Ketika mendengar Irene mengerang kesakitan beberapa kali, Adrian sontak kehilangan seluruh akal sehatnya. Dia buru-buru memapah Irene, lalu berjalan ke arah mobil. Ketika melewati Rebecca, dia bahkan menutupi mata Irene.
Setelahnya, Adrian menoleh dan berkata dengan penuh rasa bersalah, “Tubuh Irene memang lemah sejak kecil. Dia nggak boleh kenapa-napa. Aku sudah telepon ambulans. Nanti, akan ada orang yang datang menjemputmu. Kamu tunggu saja dulu.”
Seiring dengan suara langkah kaki mereka yang menjauh, Rebecca juga perlahan-lahan menerima kenyataan bahwa dirinya telah ditelantarkan. Dia ingin tersenyum getir. Namun, begitu dia mengangkat sudut mulutnya, darah pun mengalir keluar dari mulutnya.
Ketika ambulans tiba, Rebecca sudah hampir kehilangan kesadaran. Dia hanya mendengar suara staf medis berkata, “Orang macam apa itu? Habis telepon ambulans, mereka malah langsung tinggalkan orang yang terluka sendirian.”
Ketika tersadar lagi, Rebecca sudah berbaring di atas ranjang pasien. Dokter datang dan berkata, “Kamu kecelakaan, ‘kan? Tubuhmu penuh luka gores dan kamu juga mengalami gegar otak ringan.”
Rebecca tidak terkejut setelah mendengar diagnosisnya. Meskipun pengemudi mengerem tepat waktu, dia tetap terkena benturan ringan. Dia pun menatap dokter dan bertanya, “Kapan aku bisa keluar dari rumah sakit?”
Dokter buru-buru menghentikannya. “Kamu masih berpikiran untuk keluar dari rumah sakit? Dengan keadaan gegar otak seperti ini, kamu paling nggak harus dirawat di rumah sakit selama empat hari!”
Setelah dokter pergi, Rebecca pun membunyikan jarinya. Masih tersisa lima hari sebelum kontraknya berakhir. Setelah keluar dari rumah sakit, yang tersisa hanya sehari lagi.
Begitu memikirkan hal ini, Rebecca pun menghela napas panjang. Dia akhirnya akan segera terlepas dari semua penderitaan ini.
“Eh, kamu tahu nggak? Irene juga diopname di rumah sakit ini, lho! Pria yang digosipkan bersamanya juga datang!”
“Serius?”
“Tentu saja! Kamu nggak tahu betapa cemasnya Pak Adrian waktu itu. Dia yang gendong Irene sepanjang perjalanan ke kamar rawat VIP! Dia juga suruh ahli terbaik dalam industri untuk periksa Irene!”
Begitu mendengar percakapan itu, Rebecca langsung tersenyum pahit. Dia berjalan selangkah demi selangkah ke kamar rawat VIP sambil bertopang pada dinding.
Melalui celah kecil dari pintu kamar rawat VIP, Rebecca melihat Irene berbaring di atas ranjang pasien dan Aiden menggenggam tangannya dengan erat. Sementara itu, Adrian menyuap Irene makan bubur dengan penuh perhatian. Tatapannya penuh dengan kelembutan yang tidak pernah dilihat Rebecca.
Mereka terlihat hangat dan bahagia bersama, sedangkan Rebecca yang berdiri di luar pintu sangat mirip dengan pengintip yang mengintip kebahagiaan orang lain.
Seorang perawat datang untuk mengganti obat Irene. Dia mengira Rebecca adalah seorang penggemar dan bergosip dengannya.
“Kamu juga merasa mereka sangat bahagia, ‘kan? Waktu Pak Adrian antar orangnya kemari, dia sangat sakit hati dan berharap yang pusing itu dirinya sendiri. Dinilai dari kecemasan yang ditunjukkannya, rumor di internet seharusnya asli.”
Begitu mendengarnya, Rebecca menjawab dengan suara serak, “Mereka memang sangat bahagia.”
Setelah perawat itu pergi, Rebecca juga diam-diam kembali ke ruang rawatnya. Sejak dia diopname di rumah sakit, ponselnya tidak berdering sekali pun. Tidak peduli itu putra maupun suaminya, tidak ada seorang pun yang mengirim pesan untuk menanyakan kabarnya. Dibandingkan dengan perlakuan yang diterima Irene, dirinya benar-benar tragis.
Rebecca hanya menerima sebuah e-mail yang ditandai dengan warna merah di kotak surat. Itu adalah e-mail dari penerbit luar negeri untuk memberitahunya bahwa kompetisi akan segera berlangsung dan karyanya harus dikirim melalui e-mail.
Setelah menerima kabar tersebut, Rebecca pun menyuruh Monica untuk mengantarkan laptop kepadanya. Dia berencana untuk menulis di rumah sakit. Dia tinggal di kamar rawat inap khusus. Jadi, situasinya lumayan tenang. Hal ini membuatnya dapat lebih fokus untuk berkarya.
Demi tidak diganggu dunia luar, Rebecca menonaktifkan ponselnya, juga mengatur laptopnya ke mode offline.
Selama lima tahun bersama Adrian, Rebecca mencurahkan seluruh perhatiannya pada Adrian. Dia sangat jarang menulis. Namun, dia tidak merasa asing ketika harus memulai untuk menulis kembali.
Rebecca mencurahkan seluruh perhatiannya pada menulis hingga bahkan tidak memperhatikan waktu yang berlalu. Sampai perawat memberitahunya bahwa dirinya sudah boleh keluar dari rumah sakit, dia baru menyadari bahwa empat hari telah berlalu.
Saat ini, Rebecca kebetulan juga telah selesai menulis naskah prosanya. Setelah mengirim karyanya, dia baru mengeluarkan ponselnya. Begitu mengaktifkan ponsel, langsung masuk notifikasi pesan dan panggilan tak terjawab dari Adrian. Jumlahnya lebih dari 99 notifikasi.