Bab 3

Keesokan harinya, Rebecca bangun pagi-pagi. Selama ini, dia dan Adrian tidur di kamar yang berbeda. Alasan pertama, karena Adrian belum sepenuhnya menerimanya. Alasan kedua, Adrian sangat mementingkan kebersihan. Dia tidak dapat menoleransi orang lain masuk ke kamarnya.

Setelah mandi, Rebecca pun pergi ke firma hukum temannya. Monica akhirnya mengetahui segalanya setelah berbincang dengan Rebecca.

“Jadi, kamu bersikap begitu baik terhadap Adrian cuma karena terikat kontrak?”

Rebecca mengangguk.

Setelah mendengarnya, Monica menghela napas lega. “Waktu baca berita belakangan ini, aku sangat khawatir padamu. Setelah tahu semua ini hanya dilandaskan kontrak, aku sudah jauh lebih tenang.”

Monica bertanya lagi, “Jadi, buat apa kamu cari aku hari ini? Kamu mau aku buatkan surat cerai untukmu?”

Rebecca menertawakan dirinya sendiri. “Aku dan Adrian nggak pernah daftarkan pernikahan kami. Kali ini, aku datang untuk suruh kamu buatkan surat perjanjian penyerahan hak asuh anak.”

Monica sangat terkejut setelah mendengarnya. “Siapa yang nggak tahu kamu sayang banget sama anakmu? Sekarang, kamu malah mau lepaskan hak asuh Aiden?”

Tebersit sedikit kesedihan di mata Rebecca. Dia mengangkat kepala dan menjawab, “Kamu cuma perlu buatkan surat itu.”

Setelah mendengar ucapan ini, Monica juga tidak enak hati untuk berbicara lebih lanjut. Dia pun menyiapkan surat itu dengan cepat, lalu menyerahkannya kepada Rebecca.

Rebecca menggenggam erat surat itu, lalu berjalan pergi. Melihat punggungnya, Monica merasa sangat sedih. Dia berseru, “Rebecca, kamu sudah habiskan lima tahun, tapi masih nggak mampu menangkan hatinya. Kelak, simpanlah semua kebaikan yang kamu berikan padanya untuk dirimu sendiri.”

Rebecca menghentikan langkahnya, lalu menoleh dan menjawab sambil tersenyum, “Oke. Aku akan berbuat begitu.”

...

Ketika Rebecca tiba di rumah, waktu telah menunjukkan pukul 10 pagi. Namun, ruang tamu masih kosong. Sarapan yang disiapkannya sebelum meninggalkan rumah juga masih terletak di meja makan dan sudah dingin.

Rebecca memanaskan sarapan itu sekali, lalu pergi ke lantai atas untuk membangunkan Aiden dan Adrian seperti biasa.

Adrian tidak suka orang lain masuk ke kamarnya secara asal. Dia pun menetapkan peraturan untuk mengetuk pintu sebelum masuk.

Baru saja Rebecca mengetuk pintu, pintunya sudah dibuka. Irene sedang meregangkan tubuhnya. Setelah melihat Rebecca, dia juga masih terlihat sangat santai.

“Aku masuk ke kamar Adrian untuk pinjam kamar mandi. Entah kenapa pagi ini pinggangku masih sakit.”

Wajah Rebecca pun memucat. Baru saja Irene hendak lanjut memprovokasi, Adrian yang mengenakan piama berjalan keluar.

“Irene, siapa yang ketuk pintu? Aiden?”

Rebecca mengalihkan pandangannya ke arah datangnya suara, lalu melihat leher Adrian yang dipenuhi dengan bekas ciuman. Dia pun menertawakan dirinya sendiri.

Selama lima tahun pernikahan, mereka nyaris tidak pernah melakukan kontak fisik. Rebecca mengira Adrian tidak tertarik pada hal seperti ini. Dinilai dari keadaan sekarang, Adrian sepertinya hanya tidak tertarik padanya.

Setelah melihat Rebecca, Adrian terlihat panik. Dia buru-buru menarik pakaiannya untuk menutupi lehernya, lalu menjelaskan pada Rebecca, “Irene cuma datang untuk pinjam power bank. Kamu jangan pikir kejauhan.”

Setelah mendengarnya, Rebecca pun tersenyum sinis. Sebelum berbohong, mereka bukannya terlebih dahulu menyamakan alibinya. Namun, dia juga tidak mengungkapkan kebohongan mereka. Dia hanya memberi tahu bahwa sarapannya telah siap dan langsung turun.

Pernikahan ini hanya sebatas kontrak. Rebecca tidak peduli Adrian ingin bermesraan dengan siapa saja. Yang perlu dilakukannya sekarang hanyalah menunggu. Lewat minggu ini, dia sudah bisa meninggalkan rumah ini.

Lima menit kemudian, Adrian, Aiden, dan Irene baru turun.

Melihat pangsit di meja, Aiden mengernyit. “Pangsit ini sudah dipanaskan, nggak segar lagi. Mama, Aiden mau makan cakwe buatanmu!”

Adrian menasihati dengan sabar, “Aiden, Mama sudah buat sarapannya. Kita nggak boleh menyia-nyiakan makanan. Besok, Mama baru buatkan cakwe. Oke?”

“Nggak! Aku mau makan sekarang juga!”

Adrian tidak pernah memanjakan anak. Baru saja dia hendak memarahi Aiden, Irene malah tiba-tiba menyela, “Rebecca, dengar-dengar, cakwe buatanmu sangat enak. Aku juga mau cicip.”

Mendengar Irene juga ingin makan, sikap Adrian langsung berubah. Dia memberi perintah pada Rebecca, “Berhubung semua orang mau makan, kamu buat saja.”

“Nggak bisa.” Rebecca lanjut memakan pangsitnya tanpa mendongak sekali pun.

“Kalau pengen makan, kalian masak saja sendiri. Aku yang bungkus pangsit ini tadi pagi. Kalau kalian nggak mau makan, dibuang saja.”

Bab 4

Adrian pun tertegun. Seingatnya, Rebecca hampir tidak pernah menolak permintaannya. Tidak peduli seberapa tidak masuk akal pun permintaannya, Rebecca juga akan selalu berusaha melakukannya. Dia sangat jarang mendengar Rebecca menolak.

Setelah mendengar ucapan Rebecca, Irene menertawakan dirinya sendiri. “Aku yang salah. Hanya dengan pindah kemari saja, aku sudah cukup merepotkan. Sekarang, aku malah berharap untuk makan masakan Rebecca.”

Seusai berbicara, Irene pun hendak pergi.

Begitu mendengarnya, Aiden pun merengek dan memukul Rebecca. “Mama jahat! Kamu nggak boleh tindas Bibi Irene!”

Adrian buru-buru menarik lengan Irene, lalu menyalahkan Rebecca. “Kamu masih marah soal kejadian tadi pagi? Sudah kubilang Irene cuma datang pinjam power bank. Buat apa kamu mempermasalahkannya?”

Rebecca menjawab dengan ekspresi datar, “Aku lagi nggak enak badan, nggak punya tenaga untuk masak.”

“Mama, kamu sakit?”

Aiden terlebih dahulu merasa terkejut, lalu menutup mulutnya dengan jijik. “Mama, kenapa kamu nggak bilang dari awal? Tubuh Bibi Irene sangat lemah, gimana kalau dia ketularan sakitmu?”

Seusai berbicara, Aiden menarik lengan baju Adrian dan berujar, “Nggak bisa begini. Papa, untuk jaga-jaga, sebaiknya kita pergi belikan obat buat Bibi Irene.”

“Aiden, nggak usah. Bibi nggak apa-apa.”

Namun, Adrian malah menatap Irene dengan penuh kasih sayang. “Dengar saja kata-kata Aiden. Kamu jangan paksakan diri lagi. Dulu, setiap sakit, kamu butuh hampir setengah bulan untuk sembuh.”

Ketiga orang itu pun keluar rumah dengan bergandengan tangan. Yang tersisa di rumah hanya Rebecca dan pangsit yang dingin lagi.

Setelah hidup bersama bertahun-tahun, suami dan putra kandungnya bukan hanya tidak peduli padanya, malah pergi membelikan obat untuk Irene yang tidak sakit sebagai bentuk pencegahan. Rebecca pun membuang pangsit yang tersisa dan temenung untuk sesaat.

Tidak lama kemudian, Rebecca menerima pesan dari Adrian.

[ Kami mau pergi ke supermarket. Bawalah mobil kemari untuk jemput kami. ]

Ketika Rebecca tiba, hanya ada Irene dan Aiden.

“Bibi Irene, aku pengen makan es krim!”

Irene mencubit pipi Aiden dan menjawab, “Oke! Kalau Aiden mau makan, Bibi akan membelikannya untukmu.”

Rebecca pun mengernyit dan menghampiri mereka untuk mencegahnya.

“Aiden, kamu lupa apa pesan dokter? Perutmu sensitif, kamu nggak boleh makan es krim.”

Aiden yang awalnya terlihat gembira langsung cemberut.

“Rebecca, kalau anak pengen makan, ya dibelikan saja. Kamu nggak perlu begitu khawatir.”

Rebecca pun menyahut dengan ekspresi muram, “Ini urusan keluargaku, kamu nggak usah ikut campur.”

Baru saja Rebecca selesai berbicara, Adrian pun kembali.

Irene menatap Adrian dengan tampang sedih. “Adrian, aku mau belikan es krim buat Aiden, tapi Rebecca nggak setuju.”

Rebecca menjelaskan dengan suara berat, “Dokter baru berpesan, kita boleh belikan makanan ringan lain buat Aiden, tapi dia baru boleh makan es krim setelah sembuh.”

Adrian sama sekali tidak dapat menerima membiarkan Irene merasa sedih. Ekspresinya pun menjadi dingin.

“Makin kamu bersikap begini, anak juga akan makin membencimu. Memangnya kamu nggak bisa biarkan dia makan sesuap, lalu kamu makan sisanya? Lagian, Irene juga berniat baik. Buat apa kamu perbesar masalahnya?”

Hati Rebecca terasa seperti sudah disayat. Dia tidak menyangka Adrian bahkan tidak peduli pada kesehatan anak demi membela Irene. Adrian bahkan sengaja menggunakan hal yang paling dipedulikannya untuk mengejeknya.

Rebecca pun tersenyum getir, tetapi tidak membantah Adrian lagi. Sebab, dia tiba-tiba menyadari bahwa sejak Irene kembali, dirinya sudah sepenuhnya menjadi orang luar. Tidak peduli seberapa banyak pengorbanannya, di mata mereka, dia tetap tidak dapat dibandingkan dengan Irene.

Bab 5

Irene tidak dapat menyembunyikan kepuasannya. Sementara itu, Aiden juga berseru, “Papa dan Bibi Irene memang baik! Nggak seperti Mama jahat yang nggak bersedia belikan es krim untuk Aiden!”

Ucapan Aiden segera menarik perhatian orang lainnya. Semua orang pun mulai membicarakan Rebecca. Hati Rebecca terasa makin dingin. Inilah putra yang sudah dibesarkannya dengan sepenuh hati selama empat tahun.

Di sisi lain, Adrian juga membiarkan Aiden merengek dengan suara kuat. Dia sama sekali tidak berniat untuk menghentikan rengekan Aiden. Pada akhirnya, Irene yang berpura-pura menghibur Aiden sehingga keributan ini akhirnya berakhir.

Seusai berbelanja di supermarket, Adrian, Aiden, dan Irene mengusulkan untuk pergi ke restoran yang terkenal karena hidangan pedasnya. Ngomongnya saja itu hanyalah usulan, sebenarnya mereka sama sekali tidak memberikan Rebecca kesempatan untuk menolak.

Adrian memesan banyak makanan. Selain telur tumis tomat untuk Aiden, hampir setiap makanan lainnya adalah makanan pedas. Tidak ada seorang pun yang menanyakan pendapat Rebecca. Mereka langsung menyerahkan pesanan itu.

“Adrian, aku nggak nyangka setelah berpisah begitu lama, kamu masih ingat semua makanan kesukaanku.”

Irene menyentuh tangan Adrian dengan penuh kemesraan. Sementara itu, telinga Adrian langsung memerah. Setelah semua pesanan keluar, Adrian tidak berhenti mengambilkan makanan untuk Irene.

Rebecca hanya bisa menunduk dan makan nasi putih. Dia sama sekali tidak menyentuh satu pun lauk yang dipesan.

Adrian bertanya dengan bingung, “Kenapa kamu nggak makan lauk?”

Rebecca menjawab dengan tenang, “Aku nggak bisa makan pedas.”

Adrian pun terkejut. Setiap kali, Rebecca selalu memasakkan makanan yang pedas. Dia mengira Rebecca juga menyukai makanan pedas, tetapi sama sekali tidak pernah memperhatikan selera makannya.

Hati Adrian tiba-tiba terasa tidak nyaman. Dia pun mengambil buku menu dan berujar, “Kalau begitu, aku akan pesankan beberapa lauk lagi. Kamu suka makan apa? Katakanlah padaku.”

“Nggak usah. Kalian makan saja.”

Adrian masih ingin mengatakan sesuatu, tetapi seseorang tiba-tiba menunjuk Irene dan berseru, “Kamu itu Irene? Kamu Pak Adrian?”

Melihat Irene yang mengangguk pelan, orang itu berseru dengan penuh semangat, “Aku ini penggemar kalian! Berita kalian di internet benar-benar manis! Kisah kalian mirip banget sama drama romantis! Kalian benar-benar sudah balikan?”

Setelah mendengar pertanyaan itu, Adrian melirik Rebecca, lalu bertemu pandang dengan tatapan penuh harap Irene. Kemudian, dia mengangguk pada penggemar itu dan mengiakannya.

Penggemar itu langsung berseru kegirangan, “Setelah lima tahun penuh lika-liku, kalian akhirnya bersama lagi. Apa lagi ini namanya kalau bukan cinta sejati?”

Irene menjawab sambil tersenyum, “Dulu, aku yang nggak tahu cara menghargai Adrian. Kelak, aku akan menghargainya dengan baik.”

Adrian menatap Irene dengan tatapan penuh kebahagiaan.

Setelah orang itu pergi, Aiden juga bertanya dengan gembira, “Papa, berhubung kamu dan Bibi Irene sudah bersama, apa itu berarti aku sudah boleh ganti mama?”

Adrian buru-buru menutup mulut Aiden dan mengisyaratkannya untuk tidak lanjut berbicara. Kemudian, dia menatap Rebecca dan berkata, “Aiden masih kecil, kamu nggak usah taruh kata-katanya ke hati.”

Melihat Rebecca yang tidak menunjukkan reaksi apa pun, Adrian berujar lagi, “Tadi, aku bilang begitu karena memikirkan karier Irene.”

Rebecca mengangguk. “Aku tahu. Kamu nggak perlu menjelaskannya padaku.”

Melihat Rebecca yang bersikap setenang itu, Adrian merasa agak aneh.

Irene yang berada di samping menggenggam tangan Adrian dengan lembut. “Adrian, cepat makan. Nanti makanannya dingin.”

Setelah mendengar ucapan itu, Adrian pun tersenyum manis. Tidak lama kemudian, dia tenggelam lagi dalam kelembutan Irene dan sama sekali lupa pada Rebecca.

Seusai makan, mereka berjalan ke tempat parkir di seberang jalan. Tiba-tiba, ada sebuah mobil sedan kecil yang melaju keluar dari persimpangan.

Setelah menyadarinya, Adrian secara refleks menarik Irene dan Aiden ke pinggir jalan. Namun, dia malah melupakan Rebecca yang berjalan di jalan raya.

Pada detik berikutnya, terdengar suara berdecit mobil sedan mengerem mendadak dan suara Rebecca jatuh ke lantai. Begitu melihat keadaan ini, Adrian langsung panik. Dia buru-buru melepaskan Irene dan pergi memeriksa keadaan Rebecca.

Sekujur tubuh Rebecca terasa luar biasa sakit. Dia meringkuk di lantai dan keningnya dipenuhi keringat dingin.

Seluruh perhatian Adrian saat ini sedang tertuju pada Rebecca. Suaranya terdengar cemas hingga gemetar. “Rebecca! Gimana keadaanmu? Aku antar kamu ke rumah sakit sekarang juga!”

Rebecca ingin menjawab, tetapi rasa sakit hebat itu membuatnya tidak bertenaga untuk berbicara. Dia mencoba menggenggam tangan Adrian untuk menyuruhnya tidak perlu khawatir.

Baru saja Rebecca mengulurkan tangan, Aiden sudah berseru ke arah Adrian, “Papa, Bibi Irene hampir pingsan! Cepat kemari!”

Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED