Bab 2

Aurielle duduk di tepi ranjang, memandangi pintu yang tertutup setelah kepergian Cassian. Setiap kata yang diucapkan suaminya bergema dalam kepalanya, seperti suara yang tak bisa dia hilangkan. Perceraian. Itu yang diinginkan Cassian, dengan atau tanpa persetujuannya. Kehidupan mereka hanya tinggal kenangan pahit yang terhapus begitu saja oleh keputusan satu pihak. Dan Aurielle? Ia hanya tinggal menunggu detik-detik perpisahan itu, meskipun hatinya menjerit menolak.

Ia mengusap perutnya yang membesar. Tidak peduli seberapa besar kesedihan yang menggerogoti hatinya, ada kehidupan yang sedang tumbuh di dalamnya. Itulah satu-satunya alasan yang membuatnya bertahan-satu-satunya alasan yang mencegahnya tenggelam dalam lautan kepahitan yang dihadiahkan hidup.

Tiba-tiba, sebuah ketukan terdengar dari pintu kamar, memecah keheningan yang tebal. Aurielle menoleh dengan cepat, masih dengan hati yang tak pasti. Siapa lagi yang datang ke sini?

"Masuk," suaranya serak, seperti baru saja menangis.

Pintu terbuka perlahan, dan seorang pelayan wanita masuk, membawa nampan berisi makanan. Mata pelayan itu tampak ragu sejenak saat melihat wajah Aurielle, namun ia segera menyembunyikan keraguannya dan menempatkan nampan di meja samping ranjang.

"Apakah Anda ingin makan, Nyonya?" tanya pelayan itu lembut, mencoba menjaga jarak.

Aurielle mengangguk pelan, meskipun perutnya tidak benar-benar lapar. Lebih dari itu, ia hanya butuh kesendirian, jauh dari perhatian, jauh dari tatapan kasihan yang mungkin ada di mata orang-orang sekitarnya.

"Terima kasih," jawab Aurielle, memaksakan senyum yang tak sampai ke matanya.

Pelayan itu hanya membungkuk dan beranjak pergi, meninggalkan Aurielle dengan pikirannya yang kacau.

Ia menatap nampan di depannya, tidak tahu harus mulai dari mana. Makanan yang terhidang terlihat lezat, namun apalah arti semua itu jika hatinya kosong. Aurielle merasa seperti tersesat dalam labirin kesedihan yang tak berujung.

Tiba-tiba, sebuah suara yang lebih dalam, lebih berat, memecah keheningan kembali.

"Aurielle."

Nama itu disebut dengan lembut namun penuh keyakinan. Aurielle menoleh cepat, matanya membesar ketika melihat sosok yang baru saja masuk. Adrian, pria yang seharusnya sudah lama menghilang dari hidupnya, berdiri di ambang pintu dengan wajah yang tampak serius namun tidak bisa menyembunyikan kekhawatiran di matanya.

Adrian-pria yang dulu pernah menjadi teman dekatnya, sebelum hidupnya berputar begitu jauh ke arah yang tak terduga. Pria yang kini tampak lebih matang, dengan mata yang lebih tajam dan aura misterius yang membungkus tubuhnya. Adrian tidak datang dengan sekadar senyuman, tetapi dengan perhatian yang mendalam, sesuatu yang jarang ia temui dalam hidupnya.

"A-Apakah kamu...?" Aurielle terkejut, suara yang tercekat.

Adrian menutup pintu di belakangnya dengan lembut dan melangkah masuk, tetap dengan tatapan tajam yang tidak pernah bisa disembunyikan.

"Aku mendengar kabar tentang pernikahanmu. Kabar tentang Cassian." Suaranya rendah, namun penuh penekanan. "Aku tidak bisa hanya diam saja, Aurielle."

Aurielle merasa seakan dunia berhenti berputar sesaat. Bagaimana Adrian tahu tentang semuanya? Apa yang sebenarnya dia ketahui tentang hidupnya sekarang?

"Kenapa kamu datang?" tanya Aurielle, suaranya bergetar. "Kenapa sekarang? Setelah sekian lama?"

Adrian berhenti di hadapannya, menatap dengan pandangan yang penuh makna. "Karena aku tidak bisa melihatmu hancur seperti ini, tidak bisa membiarkanmu berjuang sendirian. Aku tidak bisa membiarkanmu menderita hanya karena keputusan bodoh yang dibuat oleh orang lain," jawabnya, nada suaranya penuh dengan kemarahan yang terpendam. "Kamu berhak mendapat lebih dari ini, Aurielle."

Kata-kata itu menyentuh hatinya lebih dalam daripada yang bisa ia bayangkan. Aurielle merasa sesak di dadanya. Seumur hidup, ia merasa seperti tidak ada yang peduli padanya. Tidak ada yang mengerti betapa beratnya hidup ini, betapa sulitnya bertahan dalam pernikahan yang dipaksakan, ditambah dengan keadaan hamil yang semakin mempersulit segalanya.

Namun, Adrian ada di sini, di hadapannya, memberikan perhatian yang selama ini tak pernah ia rasakan.

"Tapi... apa yang bisa kamu lakukan?" tanya Aurielle, hampir tidak percaya. "Cassian sudah membuat keputusan. Aku hanya... hanya bisa menunggu dia menceraikan aku, Adrian."

Adrian mendekat, menunduk sedikit agar wajahnya sejajar dengan wajah Aurielle. "Tidak. Kamu tidak perlu menunggu apapun lagi," katanya dengan tegas, tangannya perlahan menyentuh tangan Aurielle. "Aku di sini untuk membantumu. Aku tidak akan membiarkanmu terperangkap dalam kebohongan ini lebih lama lagi."

Kata-kata itu seperti memberi cahaya baru dalam hidupnya yang gelap. Adrian, yang dulu ia anggap hanya teman lama, kini hadir dengan keyakinan yang memberi harapan. Tapi apakah ia siap untuk menerima bantuan itu? Apakah ia bisa mempercayai seorang pria setelah begitu banyak pengkhianatan dalam hidupnya?

"Aurielle," Adrian melanjutkan dengan suara lembut, "Aku tahu ini tidak mudah, tapi aku berjanji, aku akan ada di sini untukmu. Tidak peduli apa pun yang terjadi."

Air mata tak bisa lagi dibendung oleh Aurielle. Ia menunduk, merasakan rasa lega yang tak terucapkan. Selama ini, ia berjuang sendirian. Tapi kini, mungkin, ada secercah harapan yang datang dalam bentuk yang tak pernah ia duga.

Namun, rasa takut masih ada-takut akan pengkhianatan yang mungkin datang lagi. Takut akan jatuh lagi dalam kekecewaan. Tapi, satu hal yang ia tahu pasti, ia tidak akan lagi berjuang dalam kesendirian.

Bab 3

Aurielle masih terpaku di tempatnya, menatap Adrian dengan mata yang dipenuhi ketidakpastian. Kata-katanya tadi masih menggema di kepalanya-janji bahwa ia tidak akan sendirian lagi. Tapi bagaimana bisa ia mempercayai janji itu? Setelah semua yang terjadi, setelah hidupnya berkali-kali dihancurkan oleh keputusan orang lain, bagaimana mungkin ia membiarkan dirinya berharap lagi?

"Aku tidak tahu harus berkata apa," gumamnya, suaranya hampir tak terdengar. "Aku bahkan tidak tahu apa yang bisa kulakukan sekarang."

Adrian menarik napas dalam, menahan sesuatu yang jelas ingin ia katakan. "Aurielle, aku tidak akan memaksamu. Tapi aku ingin kamu tahu bahwa ada jalan lain. Kamu tidak harus menunggu Cassian menyingkirkanmu seperti barang yang tidak ia inginkan. Kamu bisa keluar dari sini... sebelum semuanya semakin buruk."

Aurielle menggigit bibirnya, jari-jarinya mencengkeram seprai dengan erat. Seandainya sesederhana itu. Seandainya ia bisa meninggalkan semua ini tanpa harus memikirkan konsekuensinya. Tapi Cassian bukan tipe pria yang membiarkan sesuatu berjalan di luar kendalinya.

"Jika aku pergi begitu saja, aku tidak tahu apa yang akan dia lakukan," katanya lirih. "Cassian bukan seseorang yang bisa diremehkan."

Adrian mendekat sedikit, pandangannya penuh dengan sesuatu yang sulit diartikan-kemarahan, kekhawatiran, atau mungkin keduanya. "Aku tahu siapa dia. Aku tahu betapa berbahayanya keluarganya. Tapi kamu tidak bisa terus berada dalam situasi ini, Aurielle."

Keheningan melingkupi mereka, hingga tiba-tiba suara langkah kaki terdengar dari luar. Aurielle langsung menegang, jantungnya berdetak lebih cepat. Adrian dengan cepat berdiri tegak, sorot matanya berubah menjadi waspada.

Pintu kamar terbuka tanpa peringatan, dan Cassian berdiri di sana, ekspresinya dingin seperti biasanya, tetapi matanya menggelap ketika melihat Adrian di ruangan yang seharusnya hanya milik mereka.

"Apa yang kau lakukan di sini?" suaranya tajam, penuh kecurigaan.

Adrian tetap tenang, tapi ada ketegangan yang tak bisa diabaikan dalam sikapnya. "Aku hanya datang untuk memastikan Aurielle baik-baik saja."

Cassian menyeringai, tapi tidak ada kehangatan dalam ekspresi itu. "Lucu sekali. Sejak kapan urusan istriku menjadi kepedulianmu?"

Aurielle merasakan hawa dingin merambat di sepanjang tulang punggungnya. Cassian selalu seperti ini-menjaga jarak, tetapi juga memastikan bahwa setiap orang tahu siapa yang berkuasa.

"Aku hanya memastikan dia tidak sendirian di saat seperti ini," jawab Adrian, suaranya tetap terkendali.

Cassian mendekat, lalu menatap Aurielle seolah ia adalah sebuah benda yang perlu diperiksa. "Sendirian?" ia mengulang kata itu dengan nada mengejek. "Aurielle tahu perannya di sini. Dia tahu bahwa tidak ada yang akan mengubah keputusan yang sudah dibuat."

Aurielle mengepalkan tangannya, menahan amarah yang mendidih di dadanya. "Keputusan yang kamu buat, Cassian," katanya dengan suara bergetar. "Aku tidak pernah diberi pilihan."

Cassian menatapnya sejenak, sebelum mengalihkan pandangannya kembali ke Adrian. "Jadi, kau ke sini untuk menyelamatkannya?" suaranya terdengar penuh ejekan. "Atau kau hanya ingin bermain pahlawan?"

Adrian menatap Cassian tanpa gentar. "Aku ke sini karena aku peduli. Sesuatu yang jelas tidak pernah kau lakukan untuknya."

Cassian tersenyum kecil-senyum yang sama sekali tidak mengandung humor. "Peduli?" ia tertawa pelan. "Kalau kau benar-benar peduli, kau seharusnya datang lebih awal. Sekarang, sudah terlambat."

Aurielle merasa jantungnya mencelos mendengar kata-kata itu. Terlambat? Apa maksudnya?

Cassian menatapnya dengan dingin sebelum akhirnya mengucapkan kata-kata yang mengguncang dunia Aurielle.

"Kau tidak perlu menunggu perceraian, Aurielle. Karena aku sudah membuat keputusan lain."

Aurielle menahan napas. "Apa maksudmu?"

Cassian mendekat, membungkuk sedikit hingga wajah mereka hampir sejajar. "Kau tidak akan pergi dari sini dengan mudah. Aku tidak akan melepaskanmu sampai aku benar-benar menginginkannya."

Darah Aurielle seakan membeku.

Adrian mengepalkan tangan, sorot matanya penuh kemarahan. "Jadi, kau berencana menahannya di sini? Seperti tahanan?"

Cassian mengangkat bahu dengan santai. "Tahanan? Tidak. Aku hanya memastikan bahwa istriku tidak melakukan sesuatu yang bodoh."

Aurielle tahu. Cassian bukan hanya sekadar ingin menundanya. Ada sesuatu yang lebih besar yang sedang ia rencanakan, sesuatu yang membuatnya semakin merasa terjebak.

Dan kali ini, mungkin tidak akan ada jalan keluar.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED