Aurielle terbangun dengan rasa pusing yang menggigit. Matahari baru saja menyinari jendela kamar tidurnya yang terhalang tirai tebal, namun hangatnya terasa tidak nyaman di kulitnya. Kepalanya berat, dan tubuhnya terasa lelah, meskipun ia baru saja terbangun. Kehamilan ini, meskipun baru memasuki bulan ketiga, sudah membawa beban yang berat. Namun, yang lebih berat dari fisiknya adalah hati yang terasa hampa.
Ia memandang sekeliling ruangan mewah yang tidak pernah ia inginkan. Semua yang ada di sini adalah simbol dari kehidupannya yang dipaksakan. Tidur di tempat ini, di ranjang yang besar dan megah, tidak pernah bisa menutupi kenyataan pahit bahwa pernikahan ini hanyalah sekadar kewajiban bagi suaminya, Cassian.
Mata Aurielle beralih ke meja rias di sebelahnya. Di sana tergeletak cincin pernikahan yang berkilau-barang yang ia pakai karena kewajiban, bukan karena cinta. Sementara Cassian, suaminya, tidak pernah sekali pun melihat cincin itu dengan makna yang sama. Suaminya lebih tertarik pada pekerjaan dan urusan bisnis yang tak ada habisnya, lebih menyibukkan diri dengan dunia luar daripada berurusan dengan istrinya.
Dia memijat pelipisnya yang mulai berdenyut, mencoba mengingat kembali bagaimana ia bisa sampai di titik ini. Pernikahan mereka tidak dimulai dengan cinta, itu sudah jelas. Bahkan dari awal, semua yang terjadi lebih seperti transaksi yang dipaksakan daripada hubungan yang didasari oleh perasaan. Orangtuanya, yang lebih mementingkan status dan kekayaan, membuat keputusan ini jauh sebelum Aurielle mengetahui apa yang akan terjadi dengan hidupnya. Tidak ada ruang bagi suara hatinya, tidak ada pertimbangan tentang apa yang ia inginkan. Semua telah dipilih untuknya.
Suaminya datang dari keluarga kaya dan berpengaruh, dengan wajah tampan yang selalu mampu memikat banyak perempuan. Namun, di balik pesona itu, ia lebih mirip dengan batu yang keras-dingin dan tak terjangkau. Aurielle tahu itu sejak awal, namun kini, dengan perut yang membesar, ia harus menerima kenyataan yang lebih pahit. Suaminya bahkan tidak peduli dengan keadaannya. Ia terlalu sibuk dengan dunia luar, sementara Aurielle terkurung dalam rumah ini, menanti waktu yang entah kapan akan datang.
Tiba-tiba, pintu kamar terbuka perlahan. Aurielle menoleh dengan cepat. Cassian berdiri di ambang pintu, tampak segar seperti biasa dengan jas yang rapi. Wajahnya tak menunjukkan ekspresi apapun, seolah ia baru saja keluar dari pertemuan bisnis yang penting.
"Aurielle," suaranya datar, "ada yang perlu kita bicarakan."
Aurielle menatapnya, mencoba untuk mengatur napas. Rasanya, setiap kali Cassian berbicara, ada sesuatu yang tak terucapkan-sesuatu yang selalu membuatnya merasa seperti ia hanya ada di dunia ini untuk memenuhi kewajiban.
"Apa lagi yang harus kita bicarakan?" jawab Aurielle dengan nada dingin, meskipun hatinya bergetar. "Apakah itu soal perceraianmu dengan dia?" Ia tidak bisa menahan diri untuk tidak menyebutnya. Sejak awal pernikahan ini, ada nama yang selalu mengganggu pikirannya-selalu ada bayangan tentang wanita itu, yang bahkan tak pernah ia temui.
Cassian tidak menunjukkan reaksi apa pun pada kata-kata itu. Hanya ada kesunyian yang semakin menambah beban di udara. Dia melangkah lebih dekat dan duduk di tepi tempat tidur, menatap Aurielle dengan tatapan yang sulit dibaca.
"Aurielle," ucapnya pelan, "Kamu tahu bahwa aku tidak pernah menginginkan pernikahan ini. Kita berdua tahu itu."
Kalimat itu seperti cambuk yang menyayat. Aurielle menggigit bibirnya, menahan air mata yang hampir tumpah. Ia tidak ingin terlihat lemah di depan pria itu, tetapi hatinya sakit sekali. Semua yang ia terima adalah kenyataan yang harus diterima dengan ikhlas, meski tidak pernah ia harapkan.
"Aku... aku sudah berusaha," Aurielle berkata dengan suara bergetar, "Aku tahu aku tidak bisa memberikan apa yang kamu inginkan, tapi aku... aku sedang hamil, Cassian. Apa yang akan terjadi padaku?"
Tanyaannya menggantung di udara, penuh dengan ketakutan dan keputusasaan. Kehamilannya ini, meskipun berharga, tidak pernah diterima dengan suka cita. Bahkan, Cassian lebih sering mengabaikan kenyataan bahwa dia akan menjadi seorang ayah. Sementara itu, dia hanya berusaha untuk bertahan, meski tanpa dukungan dari pria yang seharusnya menjadi pelindungnya.
Cassian menatapnya dengan kosong, seakan kata-katanya tidak mempengaruhi apa pun dalam dirinya. "Kamu akan baik-baik saja," jawabnya datar, "Aku akan segera mengurus perceraian kita. Seperti yang sudah aku bilang, aku ingin hidupku kembali, Aurielle. Aku sudah punya pilihan, dan itu bukan kamu."
Kalimat itu menghantam Aurielle dengan keras. Semua yang ia lakukan, semua usaha yang ia buat, semua kesabaran yang ia simpan, ternyata tidak berarti apa-apa bagi Cassian. Ia merasa seperti tak lebih dari sekadar bayang-bayang yang diabaikan.
Namun, sesuatu di dalam dirinya bangkit. Ketika Cassian beranjak pergi, tidak ada rasa sesal yang menyertai langkahnya. Yang ada hanya tekad. Tekad untuk bertahan, meskipun hanya dirinya yang bisa melakukannya.
Aurielle menatap cermin di depan kamar, melihat sosoknya yang semakin berubah. Hamil, terluka, dan terjebak dalam pernikahan yang dipaksakan-dia tahu ini adalah pertarungan terbesar dalam hidupnya. Tetapi kali ini, ia tidak akan menyerah begitu saja. Tidak lagi.
Aurielle duduk di tepi ranjang, memandangi pintu yang tertutup setelah kepergian Cassian. Setiap kata yang diucapkan suaminya bergema dalam kepalanya, seperti suara yang tak bisa dia hilangkan. Perceraian. Itu yang diinginkan Cassian, dengan atau tanpa persetujuannya. Kehidupan mereka hanya tinggal kenangan pahit yang terhapus begitu saja oleh keputusan satu pihak. Dan Aurielle? Ia hanya tinggal menunggu detik-detik perpisahan itu, meskipun hatinya menjerit menolak.
Ia mengusap perutnya yang membesar. Tidak peduli seberapa besar kesedihan yang menggerogoti hatinya, ada kehidupan yang sedang tumbuh di dalamnya. Itulah satu-satunya alasan yang membuatnya bertahan-satu-satunya alasan yang mencegahnya tenggelam dalam lautan kepahitan yang dihadiahkan hidup.
Tiba-tiba, sebuah ketukan terdengar dari pintu kamar, memecah keheningan yang tebal. Aurielle menoleh dengan cepat, masih dengan hati yang tak pasti. Siapa lagi yang datang ke sini?
"Masuk," suaranya serak, seperti baru saja menangis.
Pintu terbuka perlahan, dan seorang pelayan wanita masuk, membawa nampan berisi makanan. Mata pelayan itu tampak ragu sejenak saat melihat wajah Aurielle, namun ia segera menyembunyikan keraguannya dan menempatkan nampan di meja samping ranjang.
"Apakah Anda ingin makan, Nyonya?" tanya pelayan itu lembut, mencoba menjaga jarak.
Aurielle mengangguk pelan, meskipun perutnya tidak benar-benar lapar. Lebih dari itu, ia hanya butuh kesendirian, jauh dari perhatian, jauh dari tatapan kasihan yang mungkin ada di mata orang-orang sekitarnya.
"Terima kasih," jawab Aurielle, memaksakan senyum yang tak sampai ke matanya.
Pelayan itu hanya membungkuk dan beranjak pergi, meninggalkan Aurielle dengan pikirannya yang kacau.
Ia menatap nampan di depannya, tidak tahu harus mulai dari mana. Makanan yang terhidang terlihat lezat, namun apalah arti semua itu jika hatinya kosong. Aurielle merasa seperti tersesat dalam labirin kesedihan yang tak berujung.
Tiba-tiba, sebuah suara yang lebih dalam, lebih berat, memecah keheningan kembali.
"Aurielle."
Nama itu disebut dengan lembut namun penuh keyakinan. Aurielle menoleh cepat, matanya membesar ketika melihat sosok yang baru saja masuk. Adrian, pria yang seharusnya sudah lama menghilang dari hidupnya, berdiri di ambang pintu dengan wajah yang tampak serius namun tidak bisa menyembunyikan kekhawatiran di matanya.
Adrian-pria yang dulu pernah menjadi teman dekatnya, sebelum hidupnya berputar begitu jauh ke arah yang tak terduga. Pria yang kini tampak lebih matang, dengan mata yang lebih tajam dan aura misterius yang membungkus tubuhnya. Adrian tidak datang dengan sekadar senyuman, tetapi dengan perhatian yang mendalam, sesuatu yang jarang ia temui dalam hidupnya.
"A-Apakah kamu...?" Aurielle terkejut, suara yang tercekat.
Adrian menutup pintu di belakangnya dengan lembut dan melangkah masuk, tetap dengan tatapan tajam yang tidak pernah bisa disembunyikan.
"Aku mendengar kabar tentang pernikahanmu. Kabar tentang Cassian." Suaranya rendah, namun penuh penekanan. "Aku tidak bisa hanya diam saja, Aurielle."
Aurielle merasa seakan dunia berhenti berputar sesaat. Bagaimana Adrian tahu tentang semuanya? Apa yang sebenarnya dia ketahui tentang hidupnya sekarang?
"Kenapa kamu datang?" tanya Aurielle, suaranya bergetar. "Kenapa sekarang? Setelah sekian lama?"
Adrian berhenti di hadapannya, menatap dengan pandangan yang penuh makna. "Karena aku tidak bisa melihatmu hancur seperti ini, tidak bisa membiarkanmu berjuang sendirian. Aku tidak bisa membiarkanmu menderita hanya karena keputusan bodoh yang dibuat oleh orang lain," jawabnya, nada suaranya penuh dengan kemarahan yang terpendam. "Kamu berhak mendapat lebih dari ini, Aurielle."
Kata-kata itu menyentuh hatinya lebih dalam daripada yang bisa ia bayangkan. Aurielle merasa sesak di dadanya. Seumur hidup, ia merasa seperti tidak ada yang peduli padanya. Tidak ada yang mengerti betapa beratnya hidup ini, betapa sulitnya bertahan dalam pernikahan yang dipaksakan, ditambah dengan keadaan hamil yang semakin mempersulit segalanya.
Namun, Adrian ada di sini, di hadapannya, memberikan perhatian yang selama ini tak pernah ia rasakan.
"Tapi... apa yang bisa kamu lakukan?" tanya Aurielle, hampir tidak percaya. "Cassian sudah membuat keputusan. Aku hanya... hanya bisa menunggu dia menceraikan aku, Adrian."
Adrian mendekat, menunduk sedikit agar wajahnya sejajar dengan wajah Aurielle. "Tidak. Kamu tidak perlu menunggu apapun lagi," katanya dengan tegas, tangannya perlahan menyentuh tangan Aurielle. "Aku di sini untuk membantumu. Aku tidak akan membiarkanmu terperangkap dalam kebohongan ini lebih lama lagi."
Kata-kata itu seperti memberi cahaya baru dalam hidupnya yang gelap. Adrian, yang dulu ia anggap hanya teman lama, kini hadir dengan keyakinan yang memberi harapan. Tapi apakah ia siap untuk menerima bantuan itu? Apakah ia bisa mempercayai seorang pria setelah begitu banyak pengkhianatan dalam hidupnya?
"Aurielle," Adrian melanjutkan dengan suara lembut, "Aku tahu ini tidak mudah, tapi aku berjanji, aku akan ada di sini untukmu. Tidak peduli apa pun yang terjadi."
Air mata tak bisa lagi dibendung oleh Aurielle. Ia menunduk, merasakan rasa lega yang tak terucapkan. Selama ini, ia berjuang sendirian. Tapi kini, mungkin, ada secercah harapan yang datang dalam bentuk yang tak pernah ia duga.
Namun, rasa takut masih ada-takut akan pengkhianatan yang mungkin datang lagi. Takut akan jatuh lagi dalam kekecewaan. Tapi, satu hal yang ia tahu pasti, ia tidak akan lagi berjuang dalam kesendirian.
Aurielle masih terpaku di tempatnya, menatap Adrian dengan mata yang dipenuhi ketidakpastian. Kata-katanya tadi masih menggema di kepalanya-janji bahwa ia tidak akan sendirian lagi. Tapi bagaimana bisa ia mempercayai janji itu? Setelah semua yang terjadi, setelah hidupnya berkali-kali dihancurkan oleh keputusan orang lain, bagaimana mungkin ia membiarkan dirinya berharap lagi?
"Aku tidak tahu harus berkata apa," gumamnya, suaranya hampir tak terdengar. "Aku bahkan tidak tahu apa yang bisa kulakukan sekarang."
Adrian menarik napas dalam, menahan sesuatu yang jelas ingin ia katakan. "Aurielle, aku tidak akan memaksamu. Tapi aku ingin kamu tahu bahwa ada jalan lain. Kamu tidak harus menunggu Cassian menyingkirkanmu seperti barang yang tidak ia inginkan. Kamu bisa keluar dari sini... sebelum semuanya semakin buruk."
Aurielle menggigit bibirnya, jari-jarinya mencengkeram seprai dengan erat. Seandainya sesederhana itu. Seandainya ia bisa meninggalkan semua ini tanpa harus memikirkan konsekuensinya. Tapi Cassian bukan tipe pria yang membiarkan sesuatu berjalan di luar kendalinya.
"Jika aku pergi begitu saja, aku tidak tahu apa yang akan dia lakukan," katanya lirih. "Cassian bukan seseorang yang bisa diremehkan."
Adrian mendekat sedikit, pandangannya penuh dengan sesuatu yang sulit diartikan-kemarahan, kekhawatiran, atau mungkin keduanya. "Aku tahu siapa dia. Aku tahu betapa berbahayanya keluarganya. Tapi kamu tidak bisa terus berada dalam situasi ini, Aurielle."
Keheningan melingkupi mereka, hingga tiba-tiba suara langkah kaki terdengar dari luar. Aurielle langsung menegang, jantungnya berdetak lebih cepat. Adrian dengan cepat berdiri tegak, sorot matanya berubah menjadi waspada.
Pintu kamar terbuka tanpa peringatan, dan Cassian berdiri di sana, ekspresinya dingin seperti biasanya, tetapi matanya menggelap ketika melihat Adrian di ruangan yang seharusnya hanya milik mereka.
"Apa yang kau lakukan di sini?" suaranya tajam, penuh kecurigaan.
Adrian tetap tenang, tapi ada ketegangan yang tak bisa diabaikan dalam sikapnya. "Aku hanya datang untuk memastikan Aurielle baik-baik saja."
Cassian menyeringai, tapi tidak ada kehangatan dalam ekspresi itu. "Lucu sekali. Sejak kapan urusan istriku menjadi kepedulianmu?"
Aurielle merasakan hawa dingin merambat di sepanjang tulang punggungnya. Cassian selalu seperti ini-menjaga jarak, tetapi juga memastikan bahwa setiap orang tahu siapa yang berkuasa.
"Aku hanya memastikan dia tidak sendirian di saat seperti ini," jawab Adrian, suaranya tetap terkendali.
Cassian mendekat, lalu menatap Aurielle seolah ia adalah sebuah benda yang perlu diperiksa. "Sendirian?" ia mengulang kata itu dengan nada mengejek. "Aurielle tahu perannya di sini. Dia tahu bahwa tidak ada yang akan mengubah keputusan yang sudah dibuat."
Aurielle mengepalkan tangannya, menahan amarah yang mendidih di dadanya. "Keputusan yang kamu buat, Cassian," katanya dengan suara bergetar. "Aku tidak pernah diberi pilihan."
Cassian menatapnya sejenak, sebelum mengalihkan pandangannya kembali ke Adrian. "Jadi, kau ke sini untuk menyelamatkannya?" suaranya terdengar penuh ejekan. "Atau kau hanya ingin bermain pahlawan?"
Adrian menatap Cassian tanpa gentar. "Aku ke sini karena aku peduli. Sesuatu yang jelas tidak pernah kau lakukan untuknya."
Cassian tersenyum kecil-senyum yang sama sekali tidak mengandung humor. "Peduli?" ia tertawa pelan. "Kalau kau benar-benar peduli, kau seharusnya datang lebih awal. Sekarang, sudah terlambat."
Aurielle merasa jantungnya mencelos mendengar kata-kata itu. Terlambat? Apa maksudnya?
Cassian menatapnya dengan dingin sebelum akhirnya mengucapkan kata-kata yang mengguncang dunia Aurielle.
"Kau tidak perlu menunggu perceraian, Aurielle. Karena aku sudah membuat keputusan lain."
Aurielle menahan napas. "Apa maksudmu?"
Cassian mendekat, membungkuk sedikit hingga wajah mereka hampir sejajar. "Kau tidak akan pergi dari sini dengan mudah. Aku tidak akan melepaskanmu sampai aku benar-benar menginginkannya."
Darah Aurielle seakan membeku.
Adrian mengepalkan tangan, sorot matanya penuh kemarahan. "Jadi, kau berencana menahannya di sini? Seperti tahanan?"
Cassian mengangkat bahu dengan santai. "Tahanan? Tidak. Aku hanya memastikan bahwa istriku tidak melakukan sesuatu yang bodoh."
Aurielle tahu. Cassian bukan hanya sekadar ingin menundanya. Ada sesuatu yang lebih besar yang sedang ia rencanakan, sesuatu yang membuatnya semakin merasa terjebak.
Dan kali ini, mungkin tidak akan ada jalan keluar.