Matahari terbenam menemani seorang gadis, yang baru saja memarkirkan sepedanya di depan kost-an mungil miliknya, ia menyeka peluhnya yang mengucur di atas pelipisnya, rambut panjang sebahunya sudah lepek karena keringat.
"Nak Zera, baru pulang nak?"
Merasa namanya di panggil, gadis bernama Zera itu membalikkan tubuhnya menghadap seorang wanita paruh baya, yang berada di belakangnya.
Senyuman wanita paruh baya itu membuat lelah Zera menguap, entah kenapa, Zera selalu tenang ketika melihat dan berada di dekatnya.
"Iya, hari ini Zera gak dapat pekerjaan lagi," jawabnya dengan lesu, kepalanya tertunduk dengan jari - jari yang bertautan.
Salah satu kebiasaan Zera, menautkan dan memainkan jarinya ketika ia sedih, takut, atau gugup.
Wanita paruh baya yang memakai gamis hitam dan kerudung abu - abu itu tersenyum, tangan halusnya menyeka keringat Zera yang kembali mengucur di pelipisnya.
"Jangan sedih, nak. Allah tidak memberikan ujian pada hamba Nya, kecuali beserta dengan solusinya. Dan Allah tahu kamu itu mampu melewatinya."
"Zera tadi jatuh, mik. Lihat, lutut Zera luka."
"Yaa Allah, nak. Ayo ikut umik, biar umik obati."
"Zera obati sendiri aja, mik."
"Udah ayo ikut umik, kebetulan ada anak umik yang kuliah dokter, dia baru aja pulang dari tugas KOAS nya."
"Malu, umik."
Wanita paruh baya yang di panggil umik itu tetap memaksa, ia menggandeng lengan Zera dan membawanya ke rumahnya di samping masjid tidak jauh dari kost-an Zera.
Pondok Pesantren Dar Al Hadi
Terpampang nama pesantren di depan gerbang besar berwarna serba putih, Zera hanya menunduk sambil menggenggam erat tangan umik Hanna.
Rumah umik Hanna berada di dalam pesantrennya, namun memiliki pintu khusus di sebelah kiri, sebelum memasuki pesantren. Jadi mereka tidak harus melewati pintu yang di lalui oleh para santri putera di sana.
Sedangkan tempat untuk santri puteri berada di seberang bangunan ini, memiliki gerbang tinggi lagi yang memisahkannya dari gedung santri putera.
"Nak, duduk dulu ya di sini? Umik mau panggil anak umik dulu," ucap umik Hanna sebelum menghilang di balik pintu coklat berukir lafadz Allah dan Rasulullah.
Semua pintu di rumah dan pesantren Al Hadi memiliki ukiran Allah, Rasulullah, nama - nama sahabat, istri Rasulullah dan puteri Rasulullah.
Tidak lama Zera menunggu, umik Hanna keluar bersama seorang puterinya yang calon dokter.
Berbalut gamis berwarna hijau tosca, gadis cantik itu tersenyum dan duduk di sebelah Zera.
"Dek Zera kenapa kok bisa luka?" tanyanya dengan lembut.
Mendapat perhatian yang hangat dari umik Hanna dan puterinya, Zera menjadi terharu dan tak sadar menitihkan air matanya.
Umik Hanna dan puterinya terkejut, akan tetapi mereka tetap tenang. Tidak mau membuat Zera semakin gusar.
Dengan perlahan, umik Hanna memeluk Zera dari sisi kanannya, mengelus punggung gadis cantik itu dengan lembut, sedangkan puterinya dengan telaten dan hati - hati, mengobati luka di lutut Zera.
"Yaa Allah umik, itu kenapa anak orang di buat nangis?"
Suara abi Hanan membuat ketiganya menoleh, menatap seorang lelaki paruh baya yang berwibawa dan tatapan hangatnya.
"Abi, kenalin ini Zera. Yang suka umik ceritain itu, anaknya cantik kan bi?"
"Oh ini nak Zera? Kenalin ya, nak. Abi Hanan, suaminya umik Hanna dan ayahnya Aisyah," kata Abi sambil tersenyum pada Zera.
Sedangkan Zera yang berada di pelukan umik Hanna, hanya mengangguk dan tersenyum semanis yang ia bisa.
Matanya sembab dan wajahnya memerah mendengar pujian cantik dari umik Hanna.
"Terus kenapa Zera kok nangis?"
"Zera luka, abi. Ini Aisyah baru aja obatin," jawab Aisyah sambil merapikan kotak obat miliknya.
"Astaghfirullah, nak. Kenapa bisa luka kaya gini?"
"T-tadi jatuh dari sepeda," cicit Zera kemudian bangun dan merapihkan rok sebetisnya, kemudian berjalan mundur.
"Zera pulang dulu, makasih ya umik, kak Aisyah, abi, assalamu'alaikum," sambungnya dengan nada bergetar dan buru - buru keluar dari rumah tersebut.
Dengan perasaan berkecamuk, Zera berjalan cepat menuju kostannya, sambil sesekali menyeka air mata yang mengalir di pipi putihnya.
Berada di tengah - tengah kehangatan keluarga umik Hanna, membuat Zera merasakan sesak di dadanya.
Tiba - tiba ia mengingat bagaimana ia akhirnya berakhir tinggal seorang diri di sebuah kost kecil ini, sendirian dalam sunyi dan dingin.
Bahkan Zera harus rela sekolahnya berhenti di kelas 2 SMA, dan mencari pekerjaan kesana kemari demi sesuap nasi. Luka itu selalu ada, membekas dan selalu terasa.
Sampai kapan Zera harus begini?
Zera ingin menyerah, rasanya sakit sekali ketika hidup tapi terombang - ambing, tidak ada yang menginginkannya, tidak ada yang membelanya bahkan di saat terpuruk sekalipun.
Bersambung ...
"Laper banget," lirih Zera sambil meringkuk di kasur lantainya yang terasa lebih dingin malam ini, karena hujan.
Zera belum makan sedari pagi, ia sibuk mencari pekerjaan yang hasilnya nihil. Tidak ada yang menerimanya dengan ijazah SMP, dan Zera tidak memiliki tabungan sama sekali.
Kost-an yang di tempatinya pun di bayar oleh umik Hanna. Ketika itu Zera sedang luntang lantung, tak tahu akan kemana dan ia bertemu umik Hanna.
Kemudian umik Hanna mencarikannya kost-an di dekat pondoknya, saat itu umik Hanna sudah akan menawarkan kasur dan perabotan lainnya, namun Zera menolak. Di bayarkan kost untuk dua bulan saja, Zera sudah sangat berterima kasih.
Selebihnya ia akan mencari uang sendiri, pikir Zera. Namun sampai saat ini, ia belum mendapat pekerjaan apapun.
Tok tok tok
Mata Zera yang tadinya terpejam menahan sakit di perutnya terbuka perlahan, ia berjalan mendekati pintu kost-nya dengan tubuh ringkih.
Sebelum membuka pintu, Zera lebih dulu merapihkan diri dan bersikap biasa saja. Ia tak mau orang lain tahu bahwa ia kesakitan atau lemah, Zera benci di pandang lemah dan rendah oleh orang lain.
Tok tok tok
"Iya."
Kreeet
"Dek Zera," suara lembut itu mengalun indah di pendengaran Zera, Aisyah ternyata yang datang dengan seorang lelaki di belakangnya.
"Kak Aisyah, ada apa kak?"
"Assalamu'alaikum, Zera."
"Wa-wa'alaikumussalaam, kak Aisyah."
"Boleh masuk?"
"Oh, boleh kak. Tapi rumah ku kotor, sempit."
"Aduh kamu ini, gak apa, Zera. Ayo."
Zera akhirnya mengangguk dan mempersilakan Aisyah beserta satu orang lelaki masuk ke kost-nya.
Karena tak ada kursi, hanya ada karpet yang melapisi lantai, mereka bertiga duduk lesehan.
"Dek, kakak bawain kamu makanan. Kamu udah makan belum?" tanya Aisyah dengan hati - hati, ia takut menyinggung perasaan gadis kecil di hadapannya.
Umik Hanna bilang, kalau Zera itu sangat perasa, dan memang sebagai hamba Allah kita juga tidak boleh berbicara atau bertingkah yang bisa membuat orang lain tersinggung. Terlebih muslim, harus saling menghargai dan menyayangi. Sesama muslim adalah saudara.
"Eh? Emm, aku... aku u-udah makan kak," jawab Zera sambil menunduk.
Aisyah menoleh pada abangnya yang sedari tadi hanya diam memperhatikan, sikap cuek abangnya kadang membuat Aisyah gemas sendiri.
Melihat abangnya yang hanya menaikkan sebelah alisnya, membuat Aisyah kesal. Ia kembali menatap Zera yang memperhatikannya dengan tatapan polos dan kebingungannya.
"Hehe, Zera. Ya udah gak apa kalau udah makan, ini aku mau kasih ini aja, barangkali kamu nanti mau makan lagi, atau buat besok masih bisa di makan kok."
"Eh engga usah, kak. Zera besok mau cari pekerjaan lagi."
Jawaban penolakan Zera seakan mengandung arti berbeda di telinga Ali, abangnya Aisyah yang sedari tadi menyimak.
Meski terlihat cuek, dan tidak ramah, Ali adalah orang yang peka terhadap sekitarnya. Terkadang orang - orang akan segan, karena sifat Ali yang terlalu peka, sebelum orang itu bicara pun Ali sudah menawarkan dahulu.
"Nama mu, Zera. Benar?"
Suara tegas namun lembut seperti Aisyah itu membuat Zera menoleh, menatap sepasang mata kecoklatan itu dengan lekat.
"Zera, daripada kamu mencari pekerjaan, kenapa tidak sekolah?"
"Abang," tegur Aisyah dengan pelan, sambil mencubit perut Ali. Ali hanya mengambil tangan sang adik, lalu mengelusnya.
"Zera cari kerja karena gak punya uang, untuk makan dan bayar kost. Gimana lagi kalau sekolah?" tanya Zera balik, kepalanya tertunduk dan perlahan bahunya bergetar.
Siapa yang tidak ingin sekolah?
Zera sangat ingin sekolah, cita - citanya menjadi dokter seperti Aisyah, namun bagaimanapun, Zera harus sadar diri dan menghapus impiannya.
Sebelumnya Zera tinggal dengan orang tua angkatnya, sebelum sesuatu terjadi dan membuat dirinya menjadi seperti sekarang, hidup sebatang kara. Hanya mengharapkan takdir baik dari Allah.
"Tinggalkan kost ini, kalau memberatkan."
"Lalu Zera tinggal dimana, abang?! Udah deh, ayo pulang aja. Abang buat masalah aja!" bisik Aisyah yang jengkel dengan sikap Ali.
"Zera, datanglah ke rumah kami. Saya akan biayai kamu, asalkan kamu penuhi setiap perintah saya."
Mendengar pernyataan dengan nada perintah itu, Zera menoleh pada Aisyah. Gadis kecil itu merenyit bingung, ia tidak mengerti apa yang di maksud Ali.
Berbeda dengan Aisyah yang sudah menangkap maksud sang abang, wajah cantiknya kini berseri. Tangannya tidak lagi mencubit perut abangnya.
Tangan lembut Aisyah yang mirip dengan tangan umik Hanna menangkup kedua sisi wajah Zera, menatap manik berkaca - kaca Zera.
Aisyah tahu, Zera sedang menahan sakit perut. Tangan Zera sudah gemetar dan badannya pun panas, semenjak mengobati luka di lutut Zera tadi memang Aisyah sudah mengetahui kondisi Zera sedang tidak baik.
Kedatangan mereka pun di perintahkan oleh abi Hanan, dan umik Hanna. Mereka berdua sengaja mengirim Aisyah bersama dengan Ali.
Aisyah yang notabene calon dokter itu peka dengan keadaan tubuh seseorang, dan Ali, kepercayaan abi Hanan. Ali bisa di andalkan membuat keputusan, menyelesaikan masalah, dan seperti yang dijelaskan tadi, Ali itu peka terhadap sekitarnya.
"Adek mau ya?" tanya Aisyah dengan harapan Zera menyetujui tawaran Ali.
"Zera gak mau merepotkan orang lain," cicit Zera sambil meremas jarinya sendiri di atas paha. Kelakuannya itu di perhatikan Ali.
"Tidak ada yang di repotkan dan merepotkan. Kamu tinggal bersama kami, bantu mengurus pondok, dan belajar," timpal Ali yang sudah berdiri dan melihat pintu yang terbuka, kamar Zera.
"Aisy, kamu bantu bereskan barang Zera. Ayo sebelum hujan bertambah deras," katanya lagi dan keluar kost. Ali merasa tak nyaman berada di dalam rumah bersama yang bukan mahromnya, meski di sana juga ada Aisyah.
Bukan bermaksud untuk memaksakan kehendak, tapi Ali sungguh tidak akan bisa tidur dengan nyenyak, kalau gadis kecil itu belum mendapatkan kehidupan yang lebih layak.
Bagaimana Ali bisa menikmati kehidupan kerkecukupan dari Allah SWT, kalau di sekitarnya masih ada saudara muslimnya yang menderita?
Tidak, hati Ali akan ikut teriris melihat gadis seringkih Zera menjalani kehidupan yang sangat berat, sedangkan Ali dan keluarganya tertawa dan perut kenyang setiap saat.
Ali terdiam di depan pintu kost, sambil sesekali menoleh ke belakang dan melihat Aisyah yang memeluk Zera.
Gadis kecil itu mencoba kuat meski di matanya terlihat menyedihkan, perlahan kedua gadis itu bangkit dan beberes barang Zera di kamar.
Ali berharap, kehidupan Zera akan lebih baik setelah ini.
Bersambung ....
Perlahan Zera membuka matanya, rasanya sangat nyaman dan enggan untuk membuka mata. Namun kantuk sudah hilang.
Matanya melihat ke setiap penjuru ruangan, dinding berwarna cream dengan pintu yang berukiran lafadz Ustman bin Affan rhadiyallahu anhu.
Lalu banyak sekali buku yang tersusun rapih di rak dinding, kemudian lemari pakaian yang setengahnya terisi pakaian orang lain.
Zera yakin, ini kamar orang lain. Zera jadi merasa tidak enak, namun ia tak bisa menolak tawaran Aisyah dan Ali semalam. Karena jujur, Zera sangat butuh tangan seseorang.
Manusia tidak bisa hidup tanpa bantuan orang lain, termasuk Zera. Terkadang ada masalah yang bisa kita atasi sendiri, namun ada juga yang kita butuh untuk menerima uluran tangan seseorang.
Duri yang menusuk, butuh tangan untuk mencabutnya. Ali bagaikan tangan si pencabut luka yang ada di diri Zera, senyuman terbit memikirkan bagaimana kebaikan pemuda bersarung itu semalam.
"Apa ini kamar bang Ali? Tapi nama pintunya Utsman," gumam Zera sambil menegakkan tubuhnya dan duduk bersandar di ranjang.
Ranjang empuk dan nyaman ini membuat Zera tertidur pulas, sampai ia tak sadar sudah memasuki jam 11 siang.
Cklek
Suara pintu terbuka membuat Zera mengalihkan pandangannya dari jendela di sampingnya.
"Umik."
"Zera, sudah bangun nak?"
Tangan lembut umik Hanna mengelus rambut Zera dengan sayang, senyumannya terus bertengger di wajahnya.
"Umik, maaf Zera kesiangan," cicit Zera merasa bersalah.
"Gak apa, sayang. Gimana, betah gak? Maaf ya sayang, kamu di sini dulu. Kamar mu sedang mas Jidan bereskan dulu, nanti kalau sudah rapih, kamu bisa tempati."
Zera mengangguk dan memeluk umik Hanna, "umik Zera mau ucapin makasih ya sama umik, umik tolong Zera. Zera mau kok umik suruh apa aja."
"Sayang, umik cuma mau Zera nurut sama umik. Mulai sekarang, Zera anak umik ya nak?"
Air mata Zera mengalir deras, mendengar penuturan umik Hanna.
Ada jejak luka di sana,
Di dalam kegelapan hati yang menyelimuti setiap rasa.
•••
Suara sendok berdenting, mengiringi makan siang hari ini. Di meja makan ndalem itu kini terdapat sosok baru, Zera Syifana.
Abi Hanan telah mengajukan untuk mengadopsi Zera, menjadi anggota keluarganya. Namun Ali yang juga mengerti akan itu, membuat harapan Hanan dan Hanna sedikit retak.
Zera tidak bisa di adopsi, karena ia masih tercatat memiliki kedua orang tua lengkap, bahkan bukan tergolong keluarga fakir.
Mereka belum sempat menanyai perihal keluarga pada Zera, bukan enggan tapi mereka ingin memulihkan keadaan mental Zera.
Sorot mata Zera mengandung banyak sekali kesedihan yang tidak di ungkapkan, kelak ketika Zera sudah bisa berdamai dengan dirinya sendiri, Hanna dan Hanan akan mengajak Zera untuk bicara.
Kini, mereka hanya ingin membiarkan Zera menghirup udara yang segar, mengenal apa itu tertawa tanpa beban, dan menjalani hidup tanpa memikirkan hal yang membuat hatinya terluka lagi.
Aisyah pagi tadi sudah pergi untuk panggilan di kampusnya, gadis itu sudah mulai akan memulai ujiannya.
Sedangkan Ali, ia kini memiliki tanggungan untuk memberikan Zera tugas pertamanya di pesantren dan sekaligus menjadi salah satu anggota keluarga ini.
"Zera, nanti kamu akan ikut belajar di pondok. Dan mengejar ketertinggalan," ucap Ali dengan pandangan tidak melihat pada Zera, ia senantiasa menunduk. Cukup malam tadi Ali menatap mata Zera.
"Tapi Zera belum pernah ikut mondok, Zera sekolah formal sebelumnya. Zera takut gak bisa."
"Tidak ada yang tidak bisa, semuanya akan mudah kalau kamu niat dan mau. Formal atau pondok sama aja, bedanya di sini lebih banyak ilmu agama."
Zera mengangguk saja mendengar penjelasan lebih panjang dari Ali, lelaki itu sama sekali tidak menatapnya dan membuat Zera bingung.
Apa ia menjijikan?
Padahal tadi Zera sudah mandi, bahkan pakaiannya yang ia kenakan hari ini adalah pakaian terbaik yang ia punya. Tergolong sopan.
Setelah menyelesaikan makanannya, Ali hendak pergi namun langkahnya kembali terhenti dan sedikit menoleh ke belakang.
"Zera, mas Jidan selesai merapikan kamar mu, bawa barang mu ke sana. Malam ini saya tidur di kamar saya," ucapnya lalu pergi, meninggalkan Zera yang masih tidak mengerti.
Umik Hanna dan abi Hanan hanya terkekeh melihat wajah kebingungan Zera, rupanya gadis ini benar - benar masih polos.
Abi Hanan berharap, akan mudah mendidik Zera menjadi gadis muslimah seutuhnya.
"Umik, abi, memangnya pakaian Zera jelek yah? Atau wajah Zera geli yah?"
"Maksudnya gimana, nak?" tanya abi Hanan yang santai sambil menyeruput teh hangatnya, ia sudah mengerti arah pembicaraan Zera, namun tak mau langsung memberikan Zera ceramah.
Abi Hanan adalah seorang kiyai yang tersohor akan kesabaran dan cara penyampaian nasihatnya sangat baik. Bisa di terima banyak orang, dari kalangan tua maupun muda.
Abi Hanan membedakan bagaimana cara mengajak anak muda untuk berdakwah, dan bagaimana cara berdiskusi dengan para orang tua.
Triknya ampuh hingga yang muda mengikuti arahannya tanpa terpaksa atau marah, dan yang tua tidak tersinggung karena mendapat kritikan.
"Kenapa bang Ali gak mau liat Zera?"
Kali ini, umik Hanna yang menyeruput teh hangatnya, lalu menaruhnya dengan pelan.
"Coba Zera berdiri, umik mau liat," jawab umik Hanna.
Menurut, Zera berdiri di hadapan abi Hanan dan umik Hanna sambil merapikan pakaiannya.
"Apa yang salah?" tanya Zera kembali, ia masih tidak mengerti apa yang salah pada dirinya. Sampai abangnya Aisyah itu enggan menatapnya.
"Menurut umik, gak ada yang salah. Ya bi?" respon umik Hanna, sembari meminta pendapat sang suami.
"Iya, bagus kok bajunya. Tapi, Zera mau tau gak alasan bang Ali nunduk?"
Mendengar itu, Zera lantas mengangguk dan kembali duduk di kursinya. Menatap penasaran pada abi Hanan, dan umik Hanna.
Tatapan polos Zera membuat hati umik Hanna bergetar, ia jadi teringat Aisyah. Puterinya itu sudah sibuk dengan urusan kedokterannya, sampai waktu bersama keluarga jadi menyempit. Akan tetapi Allah SWT sungguh Maha Baik, Dia mengirimkan Zera.
Abi Hanan menjelaskan secara perlahan pada Zera.
"Bang Ali menunduk itu karena Zera cantik. Sangat cantik, sampai saking terlalu cantiknya, seharusnya Zera tutupi itu."
"Kenapa di tutupi, kan cantik? Nanti gak kelihatan."
Jawaban lugu itu kembali terdengar dan membuat abi Hanan tertawa.
"Nak, dalam islam, wanita itu berharga. Semua wanita cantik, makanya Allah memerintahkan untuk menutup auratnya. Karena mereka sangat cantik, termasuk Zera. Kenapa sih, kok di tutupi kecantikannya?"
"Coba Zera pikirkan, mutiara sama kerikil beda gak?" lanjut abi Hanan dengan bertanya balik kepada Zera.
"Beda, dong!"
"Bedanya apa?"
"Kerikil kan berserakan di pinggir jalan, dimana - mana ada. Kalau mutiara adanya di dalam cangkang kerang."
"Cantik mana mutiara sama kerikil?"
"Mutiara dong, bi. Kan tertutup, jadi cantiknya terjaga. Kalau kerikil ke injak - injak."
"Nah itu dia, nak. Bagi islam, wanita itu kaya mutiara. Sangat cantik, berharga, makanya ditutupi. Kalau terbuka, apa bedanya sama kerikil? Kerikil ada dimana - mana, bahkan di pegang, di injak, di lempar dengan semena - mena. Gak berharga. Walau, banyak manfaatnya."
Zera mematung mendengar perumpamaan dari abi Hanan, bukan ia tak mengerti. Tapi kali ini, ia sangat mengerti.
Betapa berbunganya hati, mendengar bahwa dirinya sangat berharga bagai mutiara.
Di saat banyak orang di luar sana, menghakimi dan melempar Zera ke penderitaan begini seperti kerikil yang tiada arti. Walaupun masih bisa berguna untuk beberapa aspek.
Dahulu, Zera berpikir, dirinya tak di cintai oleh satu orang pun. Akan tetapi mendengar penjelasan abi Hanan, Zera jadi menyadari betapa Allah SWT mencintai dirinya sebagai perempuan.
Dan Ali, menghargai dirinya untuk tidak melihat sembarangan di saat Zera terbuka tanpa cangkangnya.
"Allah SWT berfirman, dalam surat Al Ahzab ayat 59, yang artinya, 'Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka."' Gitu kata Allah."
"Dan yang namanya aurat itu secara bahasa punya beragam makna salah satunya adalah dari kata 'aar yang berarti aib. Kalau aurat itu bisa di katakan aib juga, siapa yang ingin aibnya nampak? Gak ada. Makanya tutuplah ia."
Sambung abi Hanan yang sudah mulai merambat pada dalil, ketika raut wajah lawan bicaranya nampak tenang dan tak ada penolakan untuk nasihatnya.
"Zera berarti membuka aib ya bi?"
Abi Hanan tersenyum, nasihatnya di terima oleh Zera. Yang menandakan hati Zera masih hidup, dan lembut.
Hati dikatakan mati dan bahkan keras adalah ketika ia tak menerima nasihat dari orang lain, tidak bergerak pada kebaikan yang ada di hadapannya.
"Zera hanya tinggal memakai jilbab seperti kak Aisyah dan umiknya Zera," jawab abi Hanan sambil mengusap puncak kepala umik Hanna.
Abi Hanan hanya akan memanggil umik kepada istrinya, ketika di hadapan anak - anaknya. Namun, saat berdua panggilannya akan berubah.
Sesuai dengan anjuran, kalau suami dan istri tidak memanggil ayah / ibu kepada masing - masingnya. Karena suami bukan orang tua istrinya, dan istri bukan orang tua suaminya. Maka, panggilan bunda, ayah, dan semacamnya itu hanya untuk anak kepada orang tuanya saja.
"Dalam kitab mausu'ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah, tertulis
مَا يَحْرُمُ كَشْفُهُ مِنَ الْجِسْمِ سَوَاءٌ مِنَ الرَّجُلِ أَوِ الْمَرْأَةِ
Aurat adalah bagian-bagian tertentu dari tubuh laki -laki maupun perempuan yang tidak boleh ditampakan."
"Termasuk rambut Zera ya bi? Mik?"
"Iya, sayang. Zera ikut umik yuk, ke kamar kak Aisyah? Nanti umik pinjamkan jilbabnya kak Aisyah."
"Mau!"
Abi Hanan dan umik Hanna tertawa melihat Zera antusias, termasuk seseorang di balik dinding yang sedari tadi mendengarkan.
Ali mengintip sedikit, melihat sorot mata Zera kini mulai berbinar dan melunturkan rasa sedih yang terpancar sebelumnya.
Bersambung ....