Senja berwarna jingga begitu indah, sang surya bersiap kembali ke peraduan setelah seharian menyinari bumi dan isinya.
Seorang wanita berumur sekitar 26 tahun terlihat turun dari sebuah taksi, menenteng sebuah keranjang bayi dengan kedua tangan. Wanita itu bernama Della Mahardika, terlihat memakai jaket dengan penutup kepala dan berjalan ke arah apartemen.
"Bagas, Mama minta maaf. Secepatnya Mama akan datang untuk menjemputmu, kamu baik-baik ya, Nak."
Della mengecup kening hingga kedua pipi putranya yang baru berumur beberapa bulan, meski tidak ingin tapi harus melakukannya. Ia meninggalkan puteranya di depan pintu salah satu unit apartemen yang didatangi, mengetuk pintu kemudian pergi begitu saja dari sana tanpa menunggu penghuni unit keluar.
Della pergi menaiki sebuah taksi, memejamkan mata dan berharap kalau pemilik apartemen yang diketuknya mau menjaga dan merawat putranya sementara waktu.
"Alvian, aku akan mencincangmu, lihat saja!" Della mengepalkan telapak tangan karena geram.
Della terpaksa meninggalkan sang putra karena suaminya kabur dengan wanita lain, membuat geram dan darah tinggi. Della ingin memberi pelajaran pada pria yang tak tahu diuntung, Alvian dulu pengangguran dan dibantu mendapat pekerjaan berkat Della. Lantas keduanya menjalin hubungan dan menikah, tapi begitu pria itu sudah mandiri dan bisa hidup enak, Alvian malah berselingkuh dan pergi bersama wanita lain.
***
Della pergi ke luar kota naik bus. Ia nekat mencari keberadaan Alvian berbekal info dari rekan kerja pria itu, yang mengatakan kalau pasangan selingkuh itu berada di kota yang sekarang didatangi.
Della hampir putus asa ketika mendatangi alamat yang didapat, tapi ternyata Alvian sudah tidak di sana, bahkan sudah mencoba bertanya-tanya dengan orang disekitar sana.
"Ke mana lagi aku harus mencari bedebah itu?" Della merasa geram.
Hampir dua minggu Della terlunta-lunta tak jelas, memikirkan kekesalan terhadap suami juga memikirkan kondisi putranya yang entah bagaimana sekarang kondisinya.
"Mama rindu kamu, sayang." Della duduk di bangku yang terdapat di trotoar, menatap foto Bagas yang ada di ponsel.
Della berusaha menjadi wanita yang kuat, tidak mau kalau dianggap remeh karena hanya bisa menangis. Namun, sebagai wanita, wajar jika Della juga ingin sekali meluapkan rasa sakit yang menekan rongga dada.
"Di mana kamu Alvian? Demi Bagas, aku tidak akan memaafkan!" gerutu Della yang kembali geram.
Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Baru saja menggerutu, Della melihat sosok Alvian yang tengah berjalan merangkul wanita selingkuhannya, mereka tampak masuk taksi dan pergi.
Della pun buru-buru mencegat taksi, meminta sang sopir mengikuti taksi yang ditumpangi Alvian dan wanita selingkuhan.
"Mati kamu, Al! Aku pastikan kamu akan menyesal!"
***
Taksi yang ditumpangi Della mengikuti hingga sampai di sebuah area kos-kosan. Della pun segera turun untuk mengikuti Alvian dari jauh, hingga melihat keduanya masuk ke sebuah kos bebas.
Della sudah berdiri di depan pintu kos tempat Alvian tinggal, dadanya terasa terbakar dan begitu sesak ketika mendengar tawa keduanya dari dalam.
"Ih, jangan gitu! Geli, Al."
"Apanya geli? Masa gini aja geli, bagaimana kalau aku sentuh begini, geli nggak?"
"Ahh ... jangan gitu. Al, tanganmu nakal!"
Kepala Della rasanya mendidih mendengar suara pasangan selingkuh itu. Namun, Della tak lantas bersikap terburu-buru, dengan terus bersikap tenang mengeluarkan ponsel, mencari celah dari jendela dan merekam apa yang dilakukan dua manusia itu di dalam. Della memejamkan mata saat merekam, tak kuasa melihat percintaan sang suami dan selingkuhan.
"Ini sudah cukup untuk menjadi bukti perselingkuhanmu, setelah ini kamu tidak akan bisa mengelak."
Della mengakhiri merekam kegiatan dua manusia itu, lantas mencari pemilik kos dan mengadukan kelakuan mereka, menunjukkan surat nikah miliknya dan mengatakan kalau penghuni kos itu adalah pasangan tidak sah.
"Apa? Wah mereka gila, rumah kosku bukan tempat mesum!" Wanita pemilik kos sangat murka.
Wanita itu memanggil ketua Rt, kemudian mendatangi kamar kos yang dikontrak Alvian, hendak menggerebek pasangan tidak sah itu.
"Mati kamu!" Della tersenyum iblis meski hatinya terasa sakit.
***
"Dobrak aja Pak pintunya!" perintah Della yang sudah tidak sabar.
"Eits, ini pintu baru, mana bisa asal dobrak!" cegah ibu kost.
"Lah, terus gimana, Bu?" tanya Della.
Pak Rt malah bingung sendiri dan memilih menunggu instruksi. Ibu kos merogoh saku daster, mengambil rentengan kunci cadangan untuk kamar kos miliknya.
"Pakai kunci cadangan, tanpa merusak," ujar ibu kos yang merasa begitu cerdas.
Della mengacungkan jempol untuk memberi nilai tindakan ibu kos yang gerak cepat.
Alvian dan wanita selingkuhannya mendengar suara ribut di luar, hingga keduanya tampak panik dan langsung menghentikan adegan gulat mereka serta memilih langsung memakai pakaian.
Begitu pintu terbuka, si wanita sudah memakai busana, sedangkan Alvian hanya baru memakai celana.
"Oalah, pasangan edan (gila)!" umpat ibu kos yang kesal. "Kalian kira ini tempat prostitusi, hah! Ngaku pasangan nikah habis kecopetan, ternyata sungguh ter-la-lu!" ujar ibu kos dengan akhir kata yang terdengar mirip dengan nada bicara penyanyi loma alama.
Alvian begitu terkejut melihat ibu kos dan ada pak Rt, lebih terkejut lagi ketika melihat Della yang ada di sana.
Della berjalan masuk dengan cepat, kepalanya seakan tumbuh tanduk iblis dengan dua taring yang muncul dari mulut. Kini Della menjelma jadi iblis yang akan melumat habis Alvian dan wanita selingkuhan.
Della langsung menarik wanita selingkuhan Alvian, menjambak rambut lantas mendorong hingga terjerambab ke lantai dan membentur dinding.
"AW! Sakit!" pekik wanita itu seraya memegangi kepala dan lengan yang terbentur.
"Sa--" Alvian ingin menyebut wanita selingkuhan dengan sebutan sayang, tapi urung ketika melihat tatapan Della yang siap menghabisinya.
"Mau duel denganku!" tantang Della dengan gaya menggulung ujung lengan, padahal dia memakai kaos pendek.
Alvian sedikit takut, itu karena tahu siapa Della dan kemampuan yang dimiliki wanita itu.
Namun, bukan Della namanya jika berdiam diri saat tertindas, apalagi memaafkan dengan mudah setelah disakiti. Ia mengepalkan tangan dan melayangkan pukulan tepat mengenai rahang Alvian.
"Aghh!" Alvin memekik kesakitan, bahkan sampai berpaling ketika pukulan Della mendarat.
Ibu kos dan pak Rt begitu terkejut, mereka seperti sedang melihat adegan action seperti di televisi dengan mulut menganga.
"Wah, mantap," gumam ibu kos dengan menggeleng kepala.
"Ampun, Del!" Alvian memohon ketika dirinya sudah terjatuh di lantai, mencoba mengiba agar Della tidak menggila.
"Ampun apa, hah? Menelantarkan istri dan anak, tak bertanggung jawab dan malah enak-enakkan hokya-hokya dengan wanita sialan itu. Sekarang kamu minta maaf! Wow, hebat sekali!" cerocos Della yang sudah tidak bisa menahan amarah. Kedua tangan berkacak pinggang dengan tatapan mata yang berapi-api.
"Ampun, Del! Aku khilaf!" Alvian memeluk kaki Della, mencoba sekali lagi meminta belas kasih istri sahnya itu.
Della semakin geram ketika mendengar kata 'khilaf' keluar dari mulut Alvian, hingga dengan kasarnya Della menyingkirkan tangan Alvian dari kaki, bahkan mendorong tubuh pria itu dengan kuat, sudah tidak peduli jika dianggap istri durhaka.
Alvian terdorong ke belakang karena dorongan Della, hingga ketika pria itu terjerembab, dengan sekali hentak Della menginjak pabrik penghasil bibit lele milik Alvian. Seharusnya Alvian bersyukur karena Della tidak memakai high heels tapi hanya sepatu kets biasa.
"AGHH!! Sakit!" pekik Alvian seraya memegangi pabrik lelenya.
Ibu kos dan pak Rt kembali terperangah dengan keberanian Della. Ketika ibu kos menutup mulut bahkan memejam sekilas karena terkejut, pak Rt tanpa sadar menutupi pabrik lelenya karena miris dan membayangkan betapa sakitnya itu.
"Bisa produksi lagi nggak, tuh?" tanya ibu kos berbisik pada pak Rt.
"Entah, Bu. Aku aja belum pernah ngerasain, dan semoga tidak pernah," jawab pak Rt yang ikut berbisik dengan mengedikkan pundak karena merinding.
"Kalau begitu jangan ikut jejaknya tuh orang lucknut, kalau nggak nanti bu Rt menginjak burung titit tuitmu, Pak." Bisa-bisanya bu kos bercanda di tengah panasnya atmosfer di sekitar.
"Nggak berani." Seketika pak Rt merasa takut dengan kemampuan dan keberanian wanita yang biasa disebut dengan 'The power of emak-emak' yang sering dibaca dalam akun sosial media yang terkadang pak Rt lihat.
Alvian masih merintih kesakitan, sedangkan wanita selingkuhannya ketakutan ketika melihat betapa garangnya Della yang dikira lemah dan penurut.
"Ck, sakit? Semoga kamu sudah investasi banyak bibit lele di rahimnya," ujar Della seraya melirik wanita simpanan sang suami.
"Jadi, kalau nanti pabrikmu itu mengalami kerusakan, maka masih ada modal dan harapan memiliki lele dumbo di sana," imbuh Della santai, seakan tak takut dan tak merasa bersalah.
"Kamu kok tega banget, Del. Bagaimanapun aku ini masih suamimu," rintih Alvian masih dengan memegangi pabrik lelenya.
"Ck, kamu aja tega, kenapa aku tidak bisa? Ini hanya hukuman kecil, setelah ini jangan sampai aku melihatmu atau akan aku musnahkan pabrikmu itu!" ancam Della seraya membuat gerakan menggunting dengan kedua jari di depan wajah Alvian.
Alvian menelan saliva, tidak berani berkata apa-apa, terlalu takut melihat murka Della yang melebihi singa beranak.
Setelah mengancam Alvian, Della memaksa pria itu menandatangani surat cerai yang sudah disiapkan jauh-jauh hari. Awalnya Della ingin memberi kesempatan dan berharap Alvian berubah, tapi setelah diselidiki dan didiamkan ternyata Alvian tidak menyadari kesalahan dan malah semakin menggila, membuat Della naik pitam dan memutuskan untuk meminta cerai daripada makan hati. Lagi pula, Della adalah wanita mandiri yang kuat, tidak susah baginya hidup sendiri bersama putra semata wayangnya.
"Terima kasih, Bu, Pak. Maaf sudah merepotkan," ucap Della setelah mendapatkan tanda tangan Alvian.
"Sama-sama," balas pak RT dan ibu kos bersamaan.
"Terus, mereka gimana, Mbak?" tanya ibu kos, melirik sekilas pada Alvian yang masih merintih di lantai dan selingkuhan yang beringsut dan menempel di dinding—seperti cicak.
Della menoleh sekilas pada Alvian yang masih merintih kesakitan, hingga kemudian mengulas senyum dan menjawab, "Terserah Ibu, saya sudah tidak ada urusan lagi dengannya. Kami sah bercerai!" Della mengangkat surat cerainya. "Mau dibawa ke kantor polisi dan dilaporkan sebagai pasangan mesum, atau mau diarak keliling kampung biar malu, saya sudah tidak peduli!"
"Owh, Mbaknya emang mantap dan tegas. Berantas perpelakoran ya, Mbak!" Ibu kos mengangkat kepala ke udara, sebagai tanda dukungan untuk Della.
Pak Rt hanya mengangguk-angguk setuju, sebagai suami idaman yang setia tentu saja pak Rt tidak suka melihat perselingkuhan.
Akhirnya setelah berterima kasih dan berpamitan, Della pun pergi. Dalam langkah sebenarnya ada rasa sakit yang begitu dalam, pria yang dicintai dan ayah dari putranya, ternyata tega berbuat seperti itu dan hanya memanfaatkannya saja sejak dulu. Namun, Della juga merasa lega karena dirinya tak selamanya dimanfaatkan.
"Bhagas, Mama datang."
Della kembali mengembangkan senyum, mencoba menepis rasa sakit dan bercita hidup bahagia hanya dengan putra yang kini dititipkan kepada saudara tirinya.
***
Della kembali ke kota di mana dirinya meninggalkan putra kesayangannya di rumah kakak tirinya. Della berharap Bagas baik-baik saja bersama kakak tiri yang sebenarnya belum mengenalnya—anehkan?
Della sudah sampai di depan pintu tempat meninggalkan Bagas, tak terasa sudah pergi lebih dari sebulan. Della menarik napas panjang hingga menghela perlahan, kemudian mengepalkan telapak tangan dan mengangkat untuk mengetuk pintu.
TOK! TOK! TOK
Tak butuh waktu lama untuk Della menunggu, beberapa saat kemudian pintu terbuka dan Della melihat seorang wanita yang umurnya lebih muda darinya.
Della tersenyum riang seakan sudah merasa kenal dengan wanita yang kini berdiri di hadapannya.
"Maaf, Anda cari siapa, ya?" tanya wanita itu sopan, sepertinya dia adalah istri dari kakak tiri Della.
"Ahhh, kamu pasti istrinya Malik," kata Della yang membuat wanita itu terkejut.
Malik Mahardika adalah kakak tiri Della, beda ibu satu ayah.
"Kamu kenal suamiku?" tanya wanita itu memastikan karena baru melihat Della pertama kali.
"Oh tentu saja, tapi sebenarnya aku yang kenal dan suamimu tidak," ujar Della kemudian, masih dengan senyum merekah.
Wanita yang kini berdiri di hadapan Della terlihat mengernyitkan dahi menatap Della.
"Tunggu! Kamu wanita itu?" tanya kakak ipar tiri Della, menunjuk wajah Della seakan kenal.
Della melihat kakak tirinya berjalan ke arahnya, merasa senang karena ternyata tidak salah menaruh Bagas.
"Kamu wanita yang membuang Bagas ke sini, 'kan?!" Wanita itu menebak. Della tidak tahu kalau istri kakak tirinya adalah seorang Hacker, tentu saja mudah bagi wanita itu mencari info tentang Della.
"Hah, siapa membuang? Aku cuman nitipin aja," kilah Della dengan senyum lebar yang memperlihatkan deretan gigi putihnya.
"Oh, jadi kamu yang membuang Bagas!" Malik yang mendengar akan hal itu pun langsung menghampiri Susan—istri Malik.
Della yang melihat Malik pun tampak begitu senang, membuat Susan pasang badan karena menganggap kalau Della menyukai suaminya.
"Hai, Kak!" sapa Della dengan senyum mengembang pada Malik dan tangan yang melambai.
"Kak?!" Malik dan Susan terkejut bersamaan, mereka saling tatap sebelum kembali menatap Della.
Della mengangguk-angguk melihat Malik dan Susan yang kebingungan. Sepasang suami-istri itu benar-benar dibuat heran dan tidak mengerti dengan apa yang terjadi.
Akhirnya, Susan mengajak Della masuk. Mereka melakukan percakapan membahas apa yang sebenarnya terjadi.
Della adalah putri dari ayah Malik, Mahendra Mahardika. Ayah Malik memang tidak menikah secara sah sejak ibu Malik meninggal, pria itu memilih menikah siri dengan ibu Della karena takut jika memberikan ibu baru akan mempengaruhi psikolog Malik waktu itu. Bagi ayah Malik, putranya itu adalah segalanya mengingat jika ayahnya begitu mencintai sang istri. Hingga akhirnya terjadilah pernikahan siri itu dan menghasilkan Della yang bisa dibilang saudara sedarah dengan Malik.
Susan dan Malik mendengarkan dengan seksama cerita Della, hingga akhirnya ada perasaan lega di hati keduanya.
"Hmm ... jadi begitu, lalu kenapa kamu mengatakan kalau Bagas dan suamiku memiliki darah yang sama? Membuatku salah paham dan hampir meninggalkannya!" protes Susan karena saat menemukan Bagas, Susan mengira bayi itu adalah darah daging sang suami, hasil dari perselingkuhan.
"Hehehehe. Maaf, aku buru-buru. Kalau aku bilang keponakan nanti kalian semakin bingung lagi," kilah Della seraya nyengir kuda.
"Lalu, apa alasanmu menitipkan Bagas?" tanya Malik kemudian.
"Itu karena--" Della menghentikan ucapannya, ia lantas teringat kepada putranya. "Bagas mana? Aku kangen," ucapnya.
"Jawab dulu, baru setelah itu kami kasih lihat. Kalau kamu bohong atau alasanmu tidak masuk akal, jangan harap bisa bertemu Bagas!" ancam Malik dengan tatapan tajam.
"Ck ... galak amat, nggak kayak ayah yang lemah lembut dan baik hati!" cicit Della mencebik.
Malik memicingkan mata karena dikata galak, hingga sang istri malah menahan tawa karena ucapan Della.
"Ceritakan yang sebenarnya dan kamu bisa bertemu Bagas," ujar Susan.
Della menceritakan semuanya, kenapa dirinya sampai meninggalkan Bagas di sana. Susan dan Malik akhirnya mencoba mengerti dan membawa Della ke rumah orangtua Susan karena Bagas dititipkan di sana.
Mereka pun sampai di rumah orangtua Susan, dan kakak ipar Della itu langsung menjelaskan siapa Della pada ibunya, juga duduk permasalahan kenapa Della membuang Bagas.
Livia—ibu Susan pun mencoba memahami dan mengerti perasaan Della, wanita mana yang rela diduakan apalagi diselingkuhi.
"Sayang, maafin Mama. Mama udah pulang dan nggak akan meninggalkan kamu lagi," ucap Della pada Bagas yang sudah berada dalam gendongan. Della terus mengecup wajah tampan putranya.
Livia terkejut mendengar ucapan Della, apakah itu artinya wanita paruh baya itu akan kehilangan Bagas, bayi menggemaskan yang sudah menemani kesepiannya selama sebulan ini.
"Del, kamu akan bercerai dengan suamimu. Lalu setelah itu kamu akan ke mana?" tanya Susan.
"Entah, intinya aku hanya ingin bersama Bagas meski dia buah cinta kami dan ayahnya tidak menginginkan, tapi tetap saja dia itu putraku," jawab Della yang sebenarnya tidak memiliki rancangan kedepannya untuk dirinya juga Bagas.
Mendengar jawaban Della membuat Livia tersenyum lebar. Ia langsung berpindah duduk di sebelah Della seakan bersiap merayu agar wanita itu tidak membawa pergi Bagas.
"Kamu butuh pekerjaan buat menghasilkan uang, 'kan!" Livia menebak dan langsung mendapat jawaban sebuah anggukan dari Della.
Susan, Malik, dan Juan—ayah Susan, saling lempar tatapan, sepertinya mereka tahu arah pembicaraan Livia.
"Kalau kamu kerja nggak ada yang rawat Bagas dong!" Livia menebak lagi dan kini mendapat jawaban sebuah gelengan dari Della.
"Aku punya ide. Biar Bagas di sini, kamu bekerja di restoran punyaku saja, di sana lagi butuh pramusaji. Kalau perlu kamu tinggal di sini, juga tidak masalah." Livia memberi tawaran yang tampak menggiurkan. Bagi wanita itu, asal Bagas tidak dibawa pergi saja sudah cukup.
Della terlihat bingung, menatap Susan dan Malik secara bergantian seakan sedang meminta pendapat apakah dia harus mengambil tawaran itu.
Susan yang bisa menangkap maksud dari tatapan Della pun tersenyum, lantas berkata, "Terima saja, lagi bukankah sekarang kamu juga nggak punya siapa-siapa selain Bagas dan kami. Lagi pula, aku dan mamah juga kami semua sudah menganggap Bagas sebagai bagian keluarga kami."
Ucapan Susan mendapatkan sebuah anggukan dari Malik, Juan, dan Livia, mereka seakan mengiakan apa yang dikatakan oleh Susan.
Della menatap anggota keluarga itu secara bergantian, tidak menyangka jika bisa bertemu keluarga yang begitu baik. Akhirnya Della mengiakan tawaran Livia, itu tidak akan merugikannya, malah akan menjamin hidup putranya.
Setelah berbincang dengan kakak tiri dan keluarganya, Della pun istirahat karena sebenarnya lelah setelah perjalanan panjang menggunakan bus. Ia diberi tempat oleh Livia, wanita paruh baya itu sangat senang karena Della mau menerima tawarannya.
"Kamu pasti rindu Mama, ya?" tanya Della pada Bagas yang berbaring di sampingnya.
Della masih tak henti menciumi wajah menggemaskan putranya, tatapan Della masih menyiratkan sebuah kesedihan.
"Mama janji akan selalu menyayangi dirimu, biarlah papa durjanamu pergi, yang terpenting kita selalu bersama," ucap Della seraya menggesekkan hidung mereka.
"Mama akan selalu menyayangi dan tidak akan pernah membuatmu kekurangan sesuatu apapun, Mama janji."
Della menatap Bagas yang tertawa ala bayi, seakan mengerti dengan apa yang diucapkan dan membuat Della semakin bahagia, serta bisa melupakan kesedihannya.
***
Seorang pemuda tampak duduk berhadapan dengan pria paruh baya. Pemuda yang diperkirakan umur sekitar 26 tahunan, memakai jaket houdini berwarna hitam dengan wajah terlihat kusam.
"Mas, pulang ya!" ajak pria paruh baya.
"Pak Slamet, aku udah bilang nggak mau pulang!" kekeh pemuda itu.
"Kenapa, Mas? Kasihan nyonya sakit," ujar pria paruh baya itu.
"Pak Slamet, kalau mama mau nurutin apa yang aku inginkan, maka aku akan pulang. Pak Slamet tahukan bagaimana mama?" tanya pemuda itu balik.
Pria paruh baya yang dipanggil dengan nama Slamet itu menggaruk-garuk kepala, sudah tidak tahu lagi bagaimana cara membujuk putra majikannya agar mau pulang.
Pemuda yang diajak bicara tampak berdiri, langsung memakai penutup kepala yang terdapat di houdini.
"Kalau mama setuju dengan keinginan aku, maka aku bakal pulang," kata pemuda itu lagi yang kemudian memilih berlalu pergi.
"Mas, Mas Dimas!" terika pria paruh baya itu seraya mengacak rambut karena stres.
Sudah berbulan-bulan Slamet disuruh membujuk dan membawa pulang putra majikannya yang bernama Dimas Anggara, tapi pada kenyataannya semua usahanya sia-sia. Dimas yang kesal dengan sikap dan keras kepalanya sang ibu, memilih meninggalkan rumah dan hidup alakadarnya di luaran sana.
***
Dimas terlihat berjalan ke sebuah gedung apartemen tua, melangkahkan kaki menaiki setiap anak tangga yang terdapat di sana. Ia sampai di lantai 5 gedung itu, berjalan menuju sebuah pintu yang terdapat di ujung koridor.
Baru saja akan mengangkat tangan untuk mengetuk pintu, ternyata pemilik apartemen sudah membukanya terlebih dahulu.
"Mau ke mana kamu?" tanya Dimas ketika melihat gadis yang ada di hadapannya. Dimas memindai pakaian gadis itu, sangat minim dengan wajah ber-make up tebal.
"Biasalah, Dim. Kayak nggak tahu aja!" ujar gadis itu seraya membetulkan letak tali rantai tasnya di pundak.
"Naya, apa kamu nggak bisa berhenti? Jangan seperti ini!" cegah Dimas.
"Apa sih? Dia cinta aku, lalu kenapa aku harus berhenti?" tanya Kanaya tanpa dosa.
Dimas menyukai seorang gadis bernama Kanaya, tapi sayangnya gadis itu malah senang menjadi selingkuhan pria beristri. Kanaya sendiri memang tidak pernah menyesal menjadi seorang selingkuhan, asalkan dirinya bisa tetap mendapatkan uang untuk menunjang hidupnya.
Apalagi, pria yang menjadikannya selingkuhan selalu berkata manis dan berjanji akan menikahinya.
"Tapi dia sudah punya istri, Nay!" Dimas mencoba menasihati tapi selalu saja tak dianggap.
Kanaya memutar bola mata, sadar kalau perdebatan antara dirinya dan Dimas tidak akan ada akhir.
Kanaya tersenyum manis, lantas menyentuh sisi wajah Dimas dan mengusap perlahan.
"Kamu tahu aku sangat mencintainya, 'kan?" tanya Kanaya dan langsung mendapat sebuah anggukan dari Dimas.
"Aku juga tahu kamu menyukaiku," kata Kanaya lagi. "Lalu, bagaimana perasaanmu jika aku memintamu untuk berhenti mencintaiku?" tanya Kanaya yang sebenarnya mengandung jebakan.
"Aku tidak mau!" jawab Dimas cepat seraya menggenggam telapak tangan Kanaya yang masih di pipi.
Kanaya lagi-lagi tersenyum manis untuk memikat pemuda itu, membuat Dimas tidak pernah bisa berpaling meski cinta terus bertepuk sebelah tangan.
"Makanya, aku tidak akan pernah melarangmu berhenti mencintaiku. Aku membiarkanmu ada di sisiku, 'kan! Karena itu juga, biarkan aku mencintai pria itu, oke!"
Dimas hanya termangu, entah kenapa setiap Kanaya sudah berkata lembut dan menyentuh wajahnya. Ia seperti terhipnotis dan tidak bisa menolak apa yang diucapkan gadis itu.
"Aku tidak akan pulang malam ini, kalau kamu mau menginap di sini, silahkan!" Kanaya menepuk pelan sisi wajah Dimas, lantas meninggalkan pemuda itu.
Dimas menghela napas kasar, menatap punggung Kanaya yang berlalu.
"Kapan kamu akan melihatku? Andai mama tidak menentang aku menyukaimu, mungkin kamu bisa menyukaiku."