“Bram!” panggil Widi, istri dari Bramasta Araya yang merupakan gitaris handal dengan terburu. “Kau harus dengarkan aku, Bram!”
“Apa?” tanya Bram dengan nada tak bersemangat.
“Kau harus lihat ini,”
“Apa?” ulang Bram yang sudah siap naik pentas untuk konser terakhirnya di tur 7 kotanya kali ini. “Aku tak punya banyak waktu, katakan cepat!”
“Kita harus mempersiapkan acara 3 bulanan anak kita,”
Wajah Bram langsung berkerut mendengar permintaan istrinya itu. “Kenapa harus ada acara seperti itu?”
“Ayahku yang minta! Kita harus merayakan kehamilanku ini. Kau tak boleh tak datang,”
Hah!
Bram menghela nafasnya berat lalu menggelengkan kepalanya. “Kenapa urusan begini kau tanyakan sekarang,”
“Ayahku yang minta, kita tak boleh tak menjalankan tradisi ini,”
“Hah! Kau pasti bercanda,”
“Tidak! Aku tak bercanda. Acara ini sakral untuk ayahku, jadi kamu harus pulang mempersiapkan semua ini!”
“Ih!”
“Aku tak mau tau, kita harus menuruti permintaan ayahku. Aku sudah hamil 3 bulan, ini saatnya fansmu tahu soal pernikahan kita!”
Bukannya berbahagia atas kabar yang baru dia dengar, Bram justru membekap mulut Widi dengan tangannya yang kasar kemudian mendekatkan bibirnya ke daun telinga kekasihnya yang seketika jadi ketakutan.
“Kau harus diam. Jangan apa yang tau soal ini!”
“Eh!”
“Kalau ada yang tau aku akan merusak masa depanku dan kau taukan apa jadinya,” ancam Bram dengan wajah yang seketika jadi serius.
“Ih! Ini permintaan ayahku!” kesal Widi dengan mulut yang masih disumpal tangan Bram yang kekar.
“Iya, kau tak mau aku sampai kita tak punya masa depan untuk anak itu kan?”
Widi mengangguk lalu meraih tangan kekasihnya yang semakin erat menyumbat mulutnya dan saat Bram melonggarkan tangannya, Widi melanjutkan kata-katanya, “aku bisa dinego.
Pokoknya kamu bertanggung jawab atas anak ini. Aku cuma tak mau anakku lahir tanpa ayah,”
“Bagus!” Bram tersenyum tipis membuat Widi percaya kata-kata gitaris tampan ini.
“Tapi kalau kau sampai lari, kau juga tau apa yang akan aku lakukan, kan?!”
“Apa?” Bram melebarkan kembali matanya.
“Aku akan katakan ayahku kalau kau pengguna narkoba dan kau tau apa yang bisa dilakukan ayahku selaku pemilik perusahaan rekaman tempatmu bernaung!”
Deg!
Jantung Bram seperti ditikam sembilu. Dia sungguh tak menyangka jika wanita yang dinikahi secara siri ini ternyata bisa juga membuat dadanya sesak.
“Bagaimana? Kau mau main-main denganku?” tanya Widi membuat Bram hanya bisa menghela nafasnya.
“Iya, aku pasti akan datang dan memenuhi permintaan ayahmu untuk menjelaskan statusmu di hadapan fansku,” bisik Bram lagi. “Pokoknya ijinkan dulu aku menghabiskan kontrak kerja dengan promotor dulu. Setelah kontrak tur kali ini selesai, aku pasti akan katakan soal pernikahan kita!”
“Bagus! Sekarang kembalilah ke konser dan aku tunggu semua janjimu atau ancamanku akan rasakan akibatnya,”
Bram mengangguk tanda setuju lalu membiarkan Widi pergi dari hadapannya dan sesaat kemudian pria tampan ini pun mencoba menenangkan dirinya sebelum kembali menuju backstage.
Memang setahun terakhir, gitaris kenamaan ini sedang mereguh kejayaanya dan tentunya Widi, putri yang merupakan putri tunggal pemilik perusahaan rekaman yang memiliki peran besar dibalik semua ini.
Dia bersama Band kampusnya, D’Klok mendapatkan kontrak eksklusif dari sebuah label yang membuatnya mendapatkan kesempatan konser di banyak kota di Indonesia dengan perjanjian selama tour berlangsung Bram tak boleh terikat pernikahan dengan siapapun.
Tentu dia tak mau merusak kesempatan ini sehingga meminta dengan sangat pada Widi untuk merahasiakan pernikahannya.
Resiko dari pekerjaan ini tak sedikit, untuk mempertahankan staminanya dia butuh suplemen yang bisa menjaga performanya dan satu-satunya suplemen yang paling pas untuk menopang semua ini adalah sabu, barang haram yang selalu disuplai managernya setiap hari.
“Bram kau harus siap,” bisik Kholil, manager band yang sudah siap di tangga menuju panggung.
“Iya, siap!” seru Bram seperti biasa.
Konser dimulai dan riuh penonton mulai terdengar.
Pria yang memang senang jadi center of attention itu mulai memainkan gitarnya dengan ciamik hingga teriakan para groupies mulai menggelegar membuat semangat Bram semakin menggila.
Tubuhnya memang lelah tapi semua teriakan itu membuat semangatnya kembali menggebu.
Satu jam pertama telah Bram jalani dan ini waktunya dia beristirahat di backstage. Dengan langkah gontai Bram melangkah turun dari panggung lalu mendekati kursi tunggu.
“Bram!” panggil kru yang memberi kode pada gitaris ini. “Sekarang waktumu,”
“Siap?!” tanya Bram lalu mendekati pintu toilet yang berjarak beberapa langkah dari tempat duduknya.
Dia tak menyangka jika gerak-geriknya sedang diawasi sepasang mata elang yang sudah siap mencari bukti akan ketergantungannya pada benda haram yang selama beberapa bulan ini sudah menjadi teman baiknya.
Krek!
Bram kemudian menguncinya lalu melirik ke sebuah kantong plastik kecil berisi sabu sudah siap di wastafel kamar mandi dan tanpa butuh berpikir panjang Bram segera diendusnya.
“MMM!” Hanya butuh sedetik saja untuk Bram menikmati efek dari benda jahat itu. Tubuhnya yang tadi lelah perlahan terasa sangat ringan. “Fly!” bisiknya sambil menatap langit-langit toilet dengan tatapan kosong.
“Bram!” panggil kru backstage sambil menggedor pintu karena gitaris ini tak juga keluar dari kamar mandi. “Jangan lama-lama, kita harus kembali konser!”
Bram terperanjat, dia segera mengumpulkan kesadarannya dan bangkit. “Ah, aku terlalu terlama di sini,” bisiknya sembar melangkah keluar dari toilet.
“Kenapa, Bro?” tanya kru yang menggedor pintu.
“Aku pusing, barang yang kau bawa terlalu bagus,” kekeh Bram lalu meraih gitar yang diletakkan di atas kursinya kemudian menghadap ke cermin ruang tunggu berukuran besar. “Tapi aku sudah siap,” tambahnya.
“Yakin kau sudah siap?” tanya kru backstage sambil menepuk-nepuk bahu Bram dengan kuat.
“Siap! Kau tak usah khawatir!”
“Bagus kalau kau sudah siap!” Kru menepuk bahu Bram sekali lagi kemudian menuntun langkah Bram yang masih belum sepenuhnya sadar menuju panggungnya malam ini.
Malam itu, Bram menutup konser dengan sangat indah. Semua penonton mengelu-elukan namanya membuat tak ada lagi orang yang meragukan kepiawaiannya dalam memainkan senar gitar.
Setelah malam itu, Bram segera bergegas pulang, dia terlalu lelah dengan hingar bingar pekerjaannya hingga butuh tempat untuk pulang.
“Kau pulang kemana?” tanya supir yang membawa mobil band dini hari itu.
“Aku pulang ke rumah nenekku saja,”
“Tak ke rumah Widi?”
“Tidak! Aku lelah, aku butuh tempat yang tenang untuk tubuhku,”
“Baik, terserah kau saja kalau begitu!” Supir kemudian mengarahkan mobil ke sudut Kota Bandung tempat rumah nenek Bram berada. “Tar kalau Neng Widi tanya aku bilang kalau kau tidur di rumah nenekmu ya,”
“Iya, aman! Dia mana mungkin cemburu pada neneku,” kekeh Bram sambil bersandar ke jok mobil yang sudah kosong karena teman-temannya sudah turun duluan.
Mobil tiba di rumah reot di pinggiran Kota Bandung, langit masih gelap saat Bram turun dari mobil dan mengetuk pintu rumah wanita tua yang begitu dia sayangi.
“Enin!” panggil Bram di subuh hari saat wanita paruh baya yang merawatnya pasca perceraian kedua orang tua gitaris berbakat itu baru saja selesai sholat subuh.
“Ujang, ya?!” (Panggilan anak laki-laki dalam bahasa Sunda)
“Iya, Ening. Ini Bram. Buka pintu,” pinta Bram dan Enin segera membukakan pintu rumah sederhananya di pinggiran Kota Bandung dengan lembut.
Dia memang lebih senang tinggal di rumah sederhana ini bersama neneknya ketimbang tinggal di rumah mewah yang disewa perusahaan rekaman untuknya karena di rumah ini dia menemukan cinta sejati dari wanita tua yang selalu mendidiknya sejak kedua orang tuanya berpisah.
“Kok pulang ke sini?”
“Iya, nanti siang Bram baru pulang ke rumah Widi,” jelas Bram sambil melangkah masuk ke dalam rumah setelah pamit pada supir yang mengantarkannya.
“Sudah sholat, Jang?” tanya Enin dengan lembut.
“Mmm!” jawab Bram yang sudah tak tahan lagi dengan rasa kantuk di matanya.
“Alhamdulillah. Enin gak minta apa-apa. Ujang mau sholat aja Enin udah senang,”
“Mmm!” Bram melangkah dengan gontai menuju kamarnya lalu membaringkan tubuhnya yang lelah di atas tempat tidurnya sebelum kemudian suara dengkurannya terdengar nyaring.
Melihat cucunya kembali tidur dengan wajah yang kelelahan, Enin segera kembali ke atas sajadahnya lalu menengadahkan tangannya tinggi kemudian berdoa. “Bismillah hirohman nirohim. Ya Allah jaga selalu cucuku. Aku yang salah mendidik putriku ini tak ingin semua kesalahan putriku terulang pada Bram yang masih muda belia. Ya Allah kabulkanlah,”
Tilulit!
Ponsel Bram berdering dan matanya segera membaca pesan singkat dari Widi.
‘Tidur nyenyak, Sayang. Ingat kau punya tanggung jawab dirahimku. Ok kau tak pulang sekarang, tapi besok hadapi ayahku untuk rencananya,”
“Cuih! Dasar betina. Tak bisa apa dia tak usah mengingatkanku untuk hal yang menyebalkan itu!” kesal Bram lalu mematikan ponselnya dan kembali mencoba tidur, hal yang sangat mahal baginya saat ini.
“Menyesal aku menikahi wanita bawel itu. Mentang-mentang ayahnya pemilik perusahaan rekaman di tekannya aku terus,” tambah Bram sambil mencoba menutup matanya yang memang sudah sangat mengantuk.
Enin yang baru selesai sholat dan mendengar perkataan Bram lalu melangkah mendekati pintu kamar cucunya yang terbuka. Sesaat matanya melirik ke arah Bram yang wajahnya pucat.
Sudah seminggu ini wajah pucat itu jadi perhatian, tapi sungguh Enin tak berani bertanya banyak pada pria yang sangat dia sayangi ini.
“Apa dia sedang sakit, ya? Belakangan ini dia tidur terus,” gerutu Enin sambil terus memperhatikan cucu satu-satunya itu. “Apa aku tanyakan pada perawat kelurahan saja, ya?”
Kecurigaan ini memang pantas diucapkan, maklum cucunya jadi sering mengeluh sakit kepala, mood swing dan yang paling parah dia selalu tidur dalam waktu yang lama. Dia bisa tidur 13 jam sehari dengan keluhan yang selalu sama, yaitu lelah.
Enin yang khawatir akhirnya pergi ke puskesmas tanpa sepengetahuan Bram untuk menanyakan pada perawat tentang keadaan cucunya tanpa membawa Bram.
Perawat yang sudah kenal Enin kemudian memberikan multivitamin pada wanita paruh baya itu untuk diberikan kepada Bram sebagai pengobatan awal.
Setelah konsultasinya, Enin kemudian kembali ke rumahnya untuk bertemu dengan cucu kesayangannya itu.
“Jang,” panggil Enin sambil mengguncang bahu Bram yang sudah tidur hingga jam 12 siang. “Ujang udah tidur kelamaan. Bangun, Jang. Sholat Dhuhur dulu!”
“Mmm!” Bram mulai bergerak lalu membuka matanya perlahan. “Badan Bram sakit semua,”
“Ujang, Sayang. Ini Enin bawakan multivitamin dari puskesmas. Kata perawat, Ujang pasti kelelahan,”
“Hah!” Mata Bram melebar. “Kenapa Enin pergi ke puskesmas? “ Bram langsung memasang wajah tak senang.
“Eh! Memangnya kenapa kalau Enin ke puskesmas?”
“Jangan, Nin! Jangan!”
“Iya, tapi kenapa?” Enin merasa sangat heran.
“Aduh, Enin ini gimana. Terus perawatnya bilang apa? Enin cerita apa saja soal Bram?”
Bram terus memutar otak agar Eninnya tak bercerita banyak pada siapapun tanpa membuat neneknya ini curiga.
“IH! Orang Enin cuma bilang kamu sering kelelahan aja, gak ngomong yang lain.”
“Benar?!”
“Ya, bener, atuh. Masa Enin bohong. Memangnya kenapa? Takut amat?” Enin kembali melihat keanehan di diri cucunya itu.
“Mmm!” Bram memejamkan matanya berusaha terlihat tenang. “Enin jangan bilang siapa-siapa soal Bram. Bram ini kan artis, ya. Jadi harus hati-hati. Cuma takut kalau ada yang kepo terus bikin hoax,”
“Iya, Enin juga paham. Jangan takut kelewatan gitu. Ujang banyak-banyak istigfar. Enin teh sayang ke Ujang. Masa Enin tega nyebar-nyebarin berita yang bikin Ujang kena masalah,”
Bram tersenyum simpul pada Neneknya dan berusaha menganggap semuanya baik adanya.
“Tapi emang Ujang Cuma kelelahan, kan?”
“Kenapa Enin bilang gitu?” Bram yang baru saja merasa tenang kembali merasa insecure.
“Soalnya namanya artis kan banyak godaannya. Enin Cuma gak mau, Ujang teh keperosok ke dunia yang aneh-aneh. Kaya narkoba, ih auzubilah hamidalik nya Jang.”
“Enin,” bisik Bram yang seketika jadi takut nenek yang sangat dia sayangi ini tau kondisinya yang sebenarnya.
“Cucu Enin mah gak mungkin kegoda yang gitu-gitu kan, Jang?”
“Iya atuh, Nin. Cucu Enin mah paling godaannya cewek cantik doang,” kekeh Bram mencoba menutupi rasa bersalahnya.
“Ah! Itu mah turunan dari bapak kamu,” kekeh Enin.
“Sudah kalau sudah turunan ya, Nin”
“Kalau bapakmu pernah salah, kamu ya jangan ikutan salah, Jang”
Bram membalas ucapan neneknya dengan senyuman.
“Udah! Sini Enin doain.” Enin meraih pipi Bram kemudian berbisik di ubun-ubun cucunya. “Bismillah Ya Allah, jauhkan Ujang ganteng ini dari yang jelek-jelek. Enin teh cuma punya Bram sekarang, jadi sing jauh dari musibah, Ya Allah!” Enin meniup ubun-ubun Bram tiga kali, hal yang selalu dia lakukan sejak kecil.
“Aamiin,” sahut Bram dengan tatapan nanar ke arah sang nenek yang duduk di depannya.
“Sudah! Sekarang Ujang sholat. Sholat itu cara kita minta ampunan dan perlindungan dari Allah Subhana wata'ala, Jang. Jadi jangan sampai telat sholat, ya.”
Enin berdiri dari samping tempat tidur lalu melangkah keluar untuk memberikan waktu pada Bram yang akan bersiap menjalankan ibadah sholatnya siang ini.
Meski berat, Bram akhirnya bangkit dan berjalan menuju kamar mandi untuk membilas peluh yang belum sempat lepas dari tubuhnya.
Sesekali matanya menatap ke arah cermin kamar mandi kecil di dalam ruangan sederhana itu melihat pantulan wajahnya yang pucat, wajah seorang pecandu narkoba. “Aku harus sembuh dari kecanduan ini, uh! Tapi bagaimana caranya,” gerutu Bram lalu meremas wajahnya.
Dia terus memandangi wajahnya sendiri berharap ada cara untuk keluar dari semua ujian hidupnya ini, tapi semakin dia berpikir rasa bersalahnya pada sang nenek semakin memenuhi hatinya.
“Enin, maafkan Bram. Kalau tidak begini, kontrak kerja dengan label musik ngak akan bisa selesai,” bisik Bram lalu meraih rambutnya dan menjambaknya lagi. “Aku ini bodoh. Seharusnya hari itu aku gak menerima sabu dari Kholil. Ya Allah, beri aku jalan untuk keluar dari kecanduan ini,”
Selang sedetik dari doa terdalamnya di kamar mandi tiba-tiba…
Brak!
Brak!
Brak!
“Bram!” panggil Enin sambil menggedor pintu kamar mandi. “Keluar, Jang. Enin mau bicara!!”
“Hah! Kenapa dengan Enin?”
“Jang! Keluar, Jang!”
“Ada apa?” tanya Bram lirih sambil menoleh ke arah pintu.
“Buka saja pintunya, Jang!”
Suara panik sang Nenek membuat Bram bergegas. Dia segera membasuh sisa sabun di tubuhnya kemudian mengeringkan tubuhnya.
Tak lama kemudian pria 20 tahun itu sudah keluar dengan wajah bingung sambil berharap tak ada hal buruk yang akan diberitahukan neneknya siang itu.
“Ada apa?” tanya Bram yang rambutnya masih basah.
“Jang, apa benar manager teh namanya Kholil, kan?” tanya Enin dengan wajahnya yang datar.
“Iya, memangnya kenapa?”
Mendengar jawaban cucunya, Enin langsung terduduk lemas di atas lantai rumahnya. “Astagfirullah hal adzim,” bisiknya lalu menatap Bram yang masih berdiri dengan wajahnya yang bingung.
“Enin, ada apa?”
Wanita itu ketika meneteskan air mata dengan tatapan kosong berharap kabar yang baru diterima hanyalah gosip belaka.
“Ada apa?” tanya Bram yang semakin cemas saja lalu meraih bahu sang nenek yang masih belum bisa berkata-kata.
“Enin tadi nonton berita infotainment, katanya yang namanya Kholil ditangkap polisi dengan barang bukti sabu seberat 10 gram yang akan dibagikan,”
Blaz!
Wajah Bram yang pucat semakin pucat saja mendengar apa yang baru saja dikatakan neneknya, “Enin!”
“Dia juga ngaku kalau semua grup band D’Klok pake barang dari dia, berarti kamu juga....”
“Enin!” bisik Bram dengan air mata yang sudah tak bisa lagi dibendung. “Maafkan, Bram, Nin!”
“Astagfirullah hal adzim. Jang, kenapa kamu kejam sekali sama Enin.”
“Dengar dulu, Nin!”
“Enin teh nggak punya siapa-siapa lagi sekarang. Cuma kamu, Jang. Kalau seperti ini, terus Enin harus gimana!”
“Tapi ini bisa diatur kok, Nin!”
“Jang, apalagi yang diatur. Polisi dalam perjalanan kemari. Kamu tau itu artinya apa?”
“Nin!” Bram memeluk neneknya dengan pelukan penuh rasa bersalah, dia terus menangis memohon maaf dari wanita yang sudah membesarkannya itu.
“Kalau polisi sampai datang kemari, jangan sampai Enin lihat kamu naik mobil polisi. Hancur hati Enin, Jang!”
“Tapi mereka belum tentu datang hari ini, Nin. Pasti Bram masih punya waktu untuk kabur,”
Plak!
Tangan Enin yang masih kokoh menampar keras wajah Bram membuat cucunya itu terbelalak karena nya.
“Denger, Jang. Enin ngajak kamu untuk apa? Untuk kabur dari tanggung jawab? Nggak, Jang. Enin gak mau kamu kayak bapakmu yang lari dari tanggung jawabnya.”
“Tapi...”
“Kamu harus tanggung jawab. Salah gak salah kamu tetap harus ke kantor polisi untuk bereskan urusanmu disana.”
Bram menghapus air mata yang sudah berlinang di wajahnya. “Bram gak mau, Nin!”
“Kalau kamu mau kabur, Enin yang akan ikat kamu di kamar sampai mereka datang nyusul Ujang. Gak ada, Jang. Enin gak akan biarkan mau kabur kayak bapakmu. Durhaka kamu sampai lari dari tanggung jawab!”
Bram menggelengkan kepalanya lalu teringat pada banyak orang yang berjanji akan menolongnya jika dia dalam keadaan terburuk sekalipun.
“Tunggu! Bram mau telepon orang-orang label dulu, Nin. Tunggu di sini!” seru Bram lalu meraih ponselnya dan mulai menghubungi satu persatu temannya yang dia kira bisa membantunya.
“Tidak diangkat,” ketus Bram lalu menghubungi temannya yang lain.
“Kenapa, Jang?”
“Tak ada yang angkat panggilan teleponku, Nin. Tunggu!”
“Sudah, Jang. Di saat seperti ini, tak akan ada orang yang mau membantumu. Sudah! Kau hadapi saja penegak hukum itu,”
“Tapi, Nin! Mereka janji akan bantu Bram. Pasti ada yang mau bantu, paling tidak biar Bram gak usah ke kantor polisi. Ini memalukan.”
“Memalukan? Kenapa kau tak pikirkan ini sebelum kejadian, Jang?”
“Nin! Aku terpaksa, Nin. Ini semua perintah manajer Bram, jadi Bram tidak seharusnya ke kantor polisi!”
“Kamu bicara apa? Memangnya kenapa kalau kamu ke kantor polisi untuk tanggung jawab?”
“Malu, Nin. Malu. Apa kata dunia kalau sampai mereka lihat Bram di televisi. Hancur karir Bram, Nin!”
“Sudah, Jang!”
“Tapi Nin. Ini memalukan!” Bram mulai merengek seperti anak kecil yang tak dapat bagian permen, dia terus merengek antara malu, menyesal dan kesal.
Enin yang begitu menyayangi Bram kemudian memeluk cucunya kemudian berbisik, “Percaya sama Enin. Di saat seperti ini, hanya Allah yang bisa tolong Ujang. Gak usah berharap sama manusia, Jang.”
“Tapi mereka kemana?”
“Tidak usah kau cari. Kita siapkan saja dirimu, agar saat kau disusul polisi, aku sudah siap secara mental!”
Tak punya pilihan, Bram akhirnya menangguk meyakinkan kalau dia tak akan lari seperti sebersit ide buruk dalam kepalanya saat ini.
Dengan berat hati dia kemudian menunggu hingga akhirnya…
Tok!
Tok!
Tok!
“Permisi,”
“Astaga itu mereka, Nin,” bisik Bram dengan mata yang terpejam dan sebenarnya tak pernah siap di susul polisi dengan kondisinya saat ini. “Aku kabur aja,” bisik Bram yang kali ini mulai melirik jalan yang sekiranya bisa digunakan untuk kabur.
“Bram! Sudah, tak usah takut. Enin akan ada di sisimu, Jang. Tak apa, ya Enin bukakan pintu untuk mereka?”
“Tapi, Nin!” Bram kembali terlihat cemas.
“Kamu harus tanggung jawab, Jang. Kamu tau kalau kamu salah kan,”
Bram memanggil yakin dan Enin kemudian berdiri menuju pintu untuk menyambut tamunya. Dengan berani Enin kemudian membukakan pintu.
“Selamat siang, kami dari kepolisian. Benar Bramasta Araya tinggal disini?” sapa seorang polisi berbaju preman yang tersenyum ramah pada nenek tua itu.
“Benar, Pak. Cucu saya ada di dalam,” tegas Enin lalu membuka pintu rumahnya lebar untuk tiga orang anggota polisi yang berdiri di depan pintu rumahnya.
“Terima kasih kerjasamanya. Kami harus bawa Bram ke kantor polisi sekarang,”
“Iya!” Enin meraih tangan polisi yang berjalan paling awal. “Pak, tapi Ujang Bram saya jangan digebugin, ya!”
“Digebukin?” Polisi itu menatap Enin dengan wajahnya yang tertunduk.
“Iya, Pak. Enin sayang sekali sama ujang sholeh ini, mungkin dia nakal tapi Enin mau jadi jaminan untuk dia. Dia gak akan kabur, Pak. Sudah Enin marahi dia tadi!” tutur Enin dengan polos dan tulus.
Tentu wajah tulus Enin yang tergambar begitu jelas membuat tiga orang anggota polisi langsung terenyuh karena nya. Mereka yang tadinya bersiap dengan wajah gahar berubah jadi lembut untuk menghormati wanita paruh baya ini.
“Iya, Nin. Dia gak akan kami gebukin. Kami juga percaya kalau dia gak akan kabur. Tapi dia harus tetap kami bawa,”
“Mangga,” ( Mangga adalah permisi dalam bahasa Sunda.). “Enin gak akan halangi,”
Polisi itu lalu mendekat ke arah Bram kemudian menyiapkan borgol untuk tangan gitaris ini.
‘Ya, Allah, kenapa aku begitu bodoh sehingga membiarkan Enin begitu terluka karena tingkahku,’ ucap Bram dalam hati namun dia tak bisa lari lagi dari hadangan tiga orang polisi yang berdiri tegak di depannya.
“Ikut kami ke polisi,” tutur polisi yang menyusul Bram dengan tegas namun tetap lembut. “Kami punya bukti kalau kamu pengguna sabu,”
“Iya!” jawab Bram lalu membiarkan polisi itu memasangkan borgol tanpa perlawanan.
“Pak, ingat, ya. Saya mau jadi jaminan untuk cucu saya. Dia gak akan kabur jadi jangan pukuli dia. Saya mohon!” ulang Enin sekali lagi.
“Iya, Nin Kami ngerti. Tapi nanti ada teman kami yang akan bantu Enin beres-beres rumah, ya. Mohon di terima baik seperti kami ini!”
“Eh, kenapa bantu Enin beres-beres rumah? Rumah Enin walau di pinggiran gini tetap rapi, kok?”
“Iya, kami tau. Rumah Enin emang rapi. Tapi mereka mau nyari tambahan barang bukti tambahan. Takut aja ada yang ketinggalan, gitu. Jadi kamar Ujang jangan dirapiin dulu, ya,”
“Oh, nyari barang bukti. Iya atuh kalau gitu, Enin nurut aja. Tapi janji ujang sholehnya Enin jangan dipukul, ya. Enin gak mau dia babak belur, Pak!” pinta Enin dengan polosnya.
“Ujang sholeh,” kekeh salah seorang polisi sambil menatap wajah Bram yang tertunduk malu karena panggilan neneknya itu.
“Kami harus pergi sekarang,” pamit polisi tadi dengan wajahnya yang ramah. “Nanti kami hubungi lagi jika ada data yang harus dilengkapi pihak keluarga sebagai tanda Nenek bersedia jadi jaminan,”
“Iya, Pak! Enin bersedia dihubungi kapan saja. Silahkan bawa anak ini sekarang,”
Polisi lalu menggiring tubuh Bram menuju mobil polisi yang terparkir di depan rumah sederhana Enin tanpa diikuti wanita paruh baya yang memang sejak awal tak bersedia melihat cucunya pergi dengan pengawalan dari polisi.
Mobil yang membawa Bram kemudian melaju kencang menuju kantor polisi terdekat.
Selama pemeriksaan gitaris yang bandnya sedang naik daun itu terus menunduk hingga akhirnya seorang wanita yang mengaku sebagai pengacara yang ditunjuk label untuknya datang dengan wajahnya yang ramah.
“Selamat siang, saya Swarna,” ucap pengacara muda bersetelan jas biru tua itu sambil mengulurkan tangannya kepada Bram.
“Swarna? Siapa?”
“Saya dapat mandat dari label rekaman yang menaungimu, Bram. Saya diminta untuk membantumu dalam kasus ini,”
Bram menghela nafasnya panjang lalu menatap Swarna yang baru kali ini dia lihat. “Katakan padaku siapa yang melaporkan kami ke polisi?”
“Mmmm, saya tak mengurusi masalah itu. Saya hanya ditugaskan label mengurusi kalian sampai kalian semua mendapatkan keringanan berupa rehabilitasi,”
“Tak mungkin,” Bram terkekeh lalu berdiri menghadap Swarna yang begitu anggun meski dia adalah seorang pengacara yang identik dengan kesan sangar dan tak bersahabat. “Pasti ada yang melaporkan kami,”
“Saya sungguh tak tau. Tapi kalau boleh saya bertanya, kira-kira siapa yang kau duga melakukan hal ini pada kalian,”
“Widi!” tegas Bram dengan wajah datar.
“Mmm, sepertinya bukan,”
“Hah! Berarti kau tau siapa pelakunya?”
“Teh!” Swarna terkekeh menyadari blundernya sendiri. “Hahahaha! Aku keceplosan,”
“Katakan saja!” desak Bram.
“Baiklah, tapi kau jangan kaget, ya,”
“Siapa? Katakan saja, aku tak mau menjalani semua ini dengan penasaran,”
“Pelakunya adalah ayah mertuamu,”
“Astaga! Tega sekali dia,” Bram terduduk mendengar nama itu terucap.
“Ya, ini dunia yang kejam. Kau tak akan bisa percaya pada siapapun dan bahkan tak tau kenapa lawanmu menyakitimu,”
“Kau benar, Swarna. Sekarang karirku sudah hancur dan aku tak tau lagi harus berbuat apa.”
Swarna tersenyum simpul lalu menepuk bahu Bram yang begitu kaku karena tau yang sebenarnya.
“Pokoknya kamu harus mau direhab, itu satu-satunya cara agar kau bisa kembali membangun karirmu yang harus terhenti karena tangan jahat musuhmu,”
Bram mengangguk, hanya itu satu-satunya cara untuknya menjawab permintaan Swarna saat ini.
Setelah pertemuannya dengan pengacara yang dikirimkan label rekaman, Bram akhirnya melanjutkan proses hukumnya.
Dia harus mulai melakukan pemeriksaan dengan dokter hingga dinyatakan dia adalah orang yang positif menggunakanan narkoba jenis sabu namun hanya sebagai pemakai bukan pengedar.
Tak cuma proses pemeriksaan dokter, Bram juga harus melakukan sesi jumpa pers yang membuatnya sangat tak siap.
“Kau siap?” tanya Swarna saat semua anggota grup band terkenal ini sudah berkumpul di sebuah ruangan dekat lapangan belakang kantor polisi tempat mereka ditahan sementara.
“Ayo, Bram. Semakin cepat, semakin bagus,” bisik Kholil yang juga sudah ada di ruangan itu.
“Iya!”
Setelah semuanya siap, Swarna meminta polisi untuk membantu kelima anggota band dan managernya itu menuju tempat jumpa pers.
Cahaya blitz kamera mulia menyala dan Bram semakin ketakutan dibuatnya.
“Bram!” panggil beberapa wartawati yang memang sangat mengidolakan gitaris yang terkenal begitu piawai memainkan senar-senar gitarnya. “I love you! Semangat, ya!”
“Duh!” keluh Bram tak menyangan masih saja ada orang yang memujanya di saat seperti ini.
Konferensi pers segera dimulai setelah semua anggota band berjajar rapi membelakangi para wartawan.
Bram berdiri paling kiri dan paling tertunduk karena kejadian ini.
Setelah semua siap, satu persatu wartawan pun mulai bertanya dan Bram semakin tertunduk malu karena nya.
“Jadi benar semua anggota grup band D’Klok menggunakan narkoba?” pertanyaan pertama itu sungguh membuat Bram yang berdiri membelakangi para wartawan tak bisa lagi berkata-kata.
“Benar! Semua anggota band dituntut sebagai pemakai saja, sedang Kholil, managernya sebagai peyuplai!”
“Apa mereka akan dihukum?”
“Tidak semua! Sesuai pasal 127 undang-undang nomor 35 tahun 2009, para pengguna narkoba ini akan menjalani rehabilitasi di Rumah Sakit Ketergantungan Obat atau RSKO,”
“Lalu yang mengedarkan?’
“Nah! Sedang pengedarnya yaitu saudara Kholil akan kami jerat pasal 115 undang-undang narkoba dengan hukuman minimal 4 tahun dan maksimalnya 12 tahun,”
Deg!
Bram tersentak mendengarkan hukuman yang akan diterima managernya itu. Meski semua ini adalah ulah Kholil, tapi rasanya hukuman itu akan sangat berat dijalani sang manager yang akan lama berpisah dengan kedua anaknya.