Dua bulan sudah berlalu sejak hakim mengetuk palu, memutuskan ikatan suami istri antara Tari dan Deo. Keduanya duduk seakan mereka orang asing, lalu pergi begitu saja setelah sidang berakhir. Proses perceraian berjalan tak terlalu rumit.
Tak ada satupun sidang yang mereka datangi selain sidang putusan terakhir. Walau awalnya Deo menolak keras, tapi dia tak bisa melakukan apapun ketika Tari akhirnya menunjukkan foto-fotonya ketika bersama dengan Nadine.
Tari mendapatkan semua foto itu dari mantan pacar Nadine, lelaki yang menghubunginya malam itu, membuatnya menyaksikan kelakuan bejat suaminya. Dia tidak berterima kasih, karena pria itu pun langsung menghilang kembali.
Sekarang, Tari melanjutkan hidupnya seakan tak ada yang terjadi. Dia sibuk bekerja di toko kuenya, menciptakan berbagai resep baru yang membuat pelanggannya semakin betah. Toko kuenya semakin besar, bahkan Tari berencana membuka cabang baru.
Perempuan yang memakai jumpsuit berwarna maroon dengan sepatu hak putih itu tersenyum menyapa para karyawannya. Dia berhenti di depan etalase kue, melihat tart ulang tahun yang dihias sedemikian rupa.
"Selamat siang, Bu. Tumben sudah keluar dari kantor," sapa seorang pria, salah satu pegawainya.
"Iya, Di. Udah selesai semua kerjaannya. Sama pengen lihatin kalian kerja, takutnya ada yang males-malesan," gurau Tari.
Adi menegakkan badan, meluruskan tangan di kanan dan kiri tubuh. "Aman, Bu Boss. Kita semua bekerja dengan giat. Apalagi toko selalu rame. Walau sebenarnya lelah, tapi harus tetap alhamdulillah."
Tari menggelengakn kepala. "Kalau toko sepi, gaji kalian terpaksa nunggak."
Langsung saja Adi mengangkat kedua tangan di depan wajah. "Ya Tuhan, tolong bantu toko Lovely Tar tetap jaya sepanjang masa," do'anya.
Tari tertawa. Dia menggelengkan kepala melihat tingkah salah satu karyawannya. Karena toko masih ramai, Adi pun kembali bekerja, menyajikan kue ke meja-meja di ujung ruangan. Selain take away, toko kue Tari juga menyajikan meja untuk pelanggan yang ingin makan kue langsung di tempat. Karena tak hanya kue utuh, tapi ada juge kue slice.
"Kerja yang semangat."
Setelah memberi semangat dengan senyum manis, Tari pun melangkah ke dinding, lalu duduk di tembok setinggi paha yang memang dibuat agar pelanggan bisa menunggu sambil bersantai.
Suara bel berbunyi ketika pintu toko terbuka. Tari tersenyum melihat siapa yang datang. Dia bangkit ketika pria dibalut kemeja biru langit itu mendekatinya. Parfum dengan bau khas yang membuat Tari merasa seakan ada di tengah hutan hijau tercium ketika pria itu berdiri di depannya.
"Mau beli apa, Mas?"
Pria yang satu kancing atasnya tak tertaut itu tersenyum, memperlihatkan satu-satunya lesung yang berada di pipi bagian kanan. Namanya Noah, tapi dia tak punya bakat dalam musik sama sekali. Suaranya sumbang, dan juga suka mendahului nada lagu asli.
Noah memasukkan tangan kirinya ke dalam saku celana kain. "Beli resep baru."
Alis Tari mengernyit. "Nggak ada resep baru perasaan. Adi! Emang ada resep baru?"
Adi, yang tengah mengantar sepotong kue coklat menggelengkan kepala. Tari kembali menatap Noah. "Nggak ada kue baru, Mas. Mas salah info kali. Emang kata siapa ada resep baru di sini?"
Menggedikkan bahu santai, Noah menjawab, "Katanya ada resep baru istimewa. Manisnya bikin diabetes melonjak tinggi."
Semakin dalam kernyitan di kening Tari. Tapi bibirnya malah mengulas senyum, merasa lucu dengan perkataan Noah. "Itu mah bukan istimewa Mas, tapi kemanisan. Lo kayaknya dibohongin deh, Mas. Emang nama resepnya apa?"
Noah menaikkan satu alisnya. "Tar … Tari?"
Tawa Tari menyembur. Tangannya terangkat, memukul lengan Noah keras. Hanya beberapa detik, dan tawanya langsung lenyap. Dia menatap Noah dengan raut datar.
"Gombal," ujarnya.
Ganti Noah yang tertawa. "Lagian tanyanya ada-ada aja. Gue ke sini ya udah pasti beli kue, Tar."
"Kue Tar?"
"Kue, Tar!"
Tari tersenyum. "Gantian, Mas," ujarnya.
Noah menggelengkan kepala. Tari memang selalu membalas secepat kilat ketika dijaili. Perempuan itu tak terima kalau harus menunda 'balas budi' barang satu detik. Masalahnya Noah sangat suka mengisengi Tari, yang membuat perempuan itu pun tak segan membalas.
"Jadi, mau beli kue apa, nih?"
Tari duduk kembali. Noah bergabung dengannya, menatap karyawan yang berlalu lalang dengan nampan di tangan mereka. Ada juga yang membawa satu kotak kue, memberikannya pada driver online yang sudah menunggu.
"Kayak biasa. Burning eyes cake."
Tari tertawa mendengar perkataan Noah. Kue itu, menjadi kue favorit Noah. "Kira-kira kapan Mas bakal berhenti order Burning eyes dan coba resep lain?"
"Nggak akan, Tar. Gue suka cuma sama yang satu itu?"
Tari mengangguk-angguk mengerti. "Aneh. Si paling nggak suka manis tapi malah jadi pelanggan setia toko kue."
"Burning eyes kan istimewa. Ada rasa asam yang segar di mulut, manisnya pas, nggak bikin gedek dan merinding."
"Iya. Burning eyes emang resep yang istimewa." Tari menepuk pahanya, lalu bangkit berdiri. "Ayo. Kayaknya tadi ada yang mateng."
"Panas, dong."
Tari berbalik. "Biar lidah lo menyala, Mas."
Noah tergelak. Dia mengikuti Tari ke etalase kue, membuat matanya bisa menyaksikan berbagai macam bentuk kue yang amat sangat cantik. Seperti yang Tari katakan, dia itu sebenarnya tidak suka makanan manis.
"Desi, Burning eyes spesial satu."
Desi, karyawan yang memakai jilbab paris itu mengangkat jari telunjuk dan jempol yang membentuk lingkaran. Sebisa mungkin karyawan toko itu mnwgurangi bicara saat berada di depan kue, walau masker plastik khusus sudah terpasang di dagu mereka.
Tak butuh waktu lama. Sebuah kue yang tersaji di dalam bungkus coklat Desi hidangkan. Dia mengoperkannya pada Noah, tersenyum ramah. Noah membayar menggunakan ATM, membiarkan Tari mengketuk-ketuk lantai menungguinya selesai.
"Udah. Ayo," ajaknya, memasukkan ATM ke dompet.
"Hati-hati di jalan, Mas," pesan Tari, melambaikan tangan.
Tetapi Noah malah berhenti. "Ayo pulang bareng. Udah nggak ada kerjaan, kan?"
"Kok tahu Mas kalo gue udah nggak ada kerjaan?"
Noah mengantongi tangan kirinya, menggedikkan bahu santai. "Kalau kamu masih ada kerjaan, nggak mungkin keluar dari kantor. Setiap aku ke sini pun harus telpon kamu dulu baru keluar."
Benar juga. Tari terkekeh. "Yaudah. Ayo. Kuenya biar aku yang bawa."
"Nanti di taruh belakang aja," ujar Noah, tak ingin menyulitkan Tari.
"Jangan. Nanti kebalik. Sayang." Tari meraih paper box di tangan Noah. Bagian atas kotak itu terbuat dari plastik transparan, membuat tari bisa melihat kue berpola abstrak dengan paduan warna merah dan putih itu.
"Iya, Sayang," balas Noah.
Sontak saja Tari mengangkat kepala, melotot mendengar jawaban pria di depannya ini. Tangannya terangkat, memukul dada Noah keras. Pria itu malah tergelak, senang sekali mengusili Tari.
Tari mencebik. "Asbun banget sih, Mas. Gue jahit juga mulutnya."
Setelah itu Tari berjalan lebih dahulu, meninggalkan Noah di belakang.
"Tunggu, Tar!"
Tari pura-pura tak dengar. Noah terkekeh, merasa tingkah Tari begitu menggemaskan. Satu ujung bibirnya naik. "Sayang, tunggu!" serunya, yang membuat Tari sontak berbalik dengan raut kesal.
Karyawan dan pelanggan yang mendengar pun langsung melempar godaan-godaan untuk mereka berdua. Noah tersenyum lebar, senang sekali melihat mata Tari memicing galak.
"Gue cukur kepala lo, Mas!"
Tari menyatukan rambutnya dalam satu kepalan, lalu mengambil karet yang dia selipkan di bibir. Rambut panjangnya dia ikat erat, agar tak mengganggu aktifitasnya. Baju dan celana tidur hitam dengan motif bibir berwarna merah melekat di tubuhnya.
Tari keluar dari kamar dan menuju dapur. Kontrakan berukuran 7×7 meter ini sudah dia tempati kurang lebih dua bulan. Yang pasti setelah memergoki Deo dan Nadine malam itu, Tari tidak pulang ke rumah. Dia menginap di tempat temannya, Vania. Esoknya ia langsung mengemasi pakaian dari rumahnya, bahkan sebelum Deo pulang.
Sekarang dia hidup seorang diri. Tak ada siapapun yang harus dia urus, bagus juga. Tapi, walau begitu cucian piring dan baju tetaplah banyak. Tari berkacak pinggang, menatap tumpukan piring di wastafel dapur. Tak ada noda bumbu apapun karena dia biasanya hanya menggoreng atau merebus bahan masakan. Tari tak bisa memasak makanan berbumbu.
"Lama-lama gue pake kertas minyak biar nggak perlu cuci piring. Makan juga cuma dua kali, kadang satu kali malahan. Kok bisa sampe numpuk gini?"
Dia memakai sarung tangan karet khusus untuk mencuci piring. Dia meminggirkan gelas, lalu memilih sebuah piring yang hanya ditempeli
sedikit kerak nasi. Busa yang sudah dia beri sabun cuci piring pun dia gosokkan ke bagian permukaan, sedikit diberi tekanan agar kerak nasi itu menghilang.
Tari membersihkan alat makannya dengan sungguh-sungguh. Kurang lebih tiga puluh menit, semua piring maupun gelas sudah terbalur busah tertumpuk rapi menunggu dibilas. Tari memutar keran, tapi air tak kunjung mengalir.
"Kenapa lagi ini gusti?"
Tangannya memutar-mutar keran walau tak juga berhasil. Air yang dia dan piring-piring itu tunggu tak kunjung mengalir. Menyerah. Tari melepas sarung tangan karetnya dan melemparnya ke atas tumpukan piring. Dia menghela napas frustasi.
"Gue udah berusaha ngalahin rasa malas buat cuci piring loh, Ran. Tapi lo malah macet kayak gini, mau ngajak berantem?" tanyanya, pada benda mati berwarna silver itu.
"Masak dibiarin gini aja? Atau gue beli kotak nasi, biar piring-piring ini gue buang," monolognya
Tari menggaruk kepala, membuat beberapa helai rambut keluar dari ikatan. Namun, hal itu membantunya mendapat solusi. Matanya sedikit membesar, senang. Dia berdecih pada keran air yang mempersulit hidupnya, lalu pergi begitu saja keluar dari rumah.
Tujuannya adalah rumah tetangga yang berada tepat di sampingnya. Pintu rumah itu tertutup, tapi di dalamnya pasti ada orang. Karena rumah Tari pun selalu tertutup walau dia ada di dalamnya.
Tari mengetuk pintu dengan tulang di punggung tangannya, sehingga bisa mengeluarkan bunyi yang lumayan nyaring. Salah satu keahliannya adalah mengetuk pintu tanpa merasa ngilu, bahkan setelah bermenit-menit berlalu.
Namun, belum juga dua menit Tari sampai di teras rumah itu, pintu sudah dibuka oleh si tuan rumah. Pria yang mengenakan kaus polos dan celana pendek selutut itu muncul di ambang pintu, mengundang senyum di wajah Tari.
"Mas Noah. Gue mau minta tolong buat benerin keran gue yang mati. Katanya Mas lulusan SMK, kan?"
Alis Noah naik. "Gue lulusan SMA," ujarnya santai.
Tari berkedip-kedip polos. Bodoh. Bisa-bisanya dia berkata dengan begitu yakin tanpa tahu kebenarannya. Padahal dia sudah berharap Noah bisa membantunya untuk memperbaiki kerannya.
"Eh, maaf Mas. Kayaknya gue salah inget. Yaudah kalo gitu, maaf udah ganggu malam-malam, ya. Good night."
Tari menunduk singkat, lalu hampir berlalu pergi. Tetapi tangan Noah menahan tangannya, membuatnya kembali berbalik menatap pria itu dengan alis bertaut.
"Tunggu, gue pake celana dulu."
Setelah mengatakan itu Noah melepas tangan Tari. Dia bergegas masuk kembali ke dalam rumahnya, meninggalkan Tari seorang diri di teras. Tak berselang lama, hanya lima menit tepatnya, Noah sudah kembali dengan kaki yang sudah terpasang celana jeans.
Dia mengunci pintu. "Ayo," ajaknya.
Mereka berdua kembali ke rumah Tari. Tari memimpin jalan menuju dapur, menunjukkan kerannya yang rusak. Piring yang tertumpuk sudah bersih dari busah. Pasti butiran buih-buih itu sudah menguap, hanya meninggalkan tekstur lengket pada permukaan piring.
"Lo ada alat-alatnya?"
Tari mengangguk. Dia mengambil kotak kayu di gudang dan memberikannya pada Noah. Di dalamnya ada berbagai macam peralatan seperti paku, palu, obeng, dan beberapa lainnya. Noah berjongkok di depan saluran keran yang menempel di dinding meja dapur. Pria itu terlihat begitu fokus, membuat Tari yang berjongkok di sampingnya ikut menatap palaron yang tengah dia perbaiki.
"Mas, jadi masalahnya ap—"
Saat tengah memutar kunci inggris, tiba-tiba air menyembur dari celah paralon. Semburannya begitu besar, mampu membasahi sekujur tubuh Tari dan Noah. Keduanya hingga jatuh terduduk di atas lantai yang kini tergenang air.
"Mas Noah! Kenapa kok gini?" teriak Tari, beringsut menjauh.
"Matiin saluran utamanya Tar!" teriak Noah, berusaha mengencangkan kembali celah palaron yang merenggang.
Tari bergegas lari ke luar. Dia menghampiri flow meter yang ada di bagian pojok rumah. Walau panik, akhirnya Tari bisa mematikan laju air. Menghela napas lega, dia kembali ke dapur untuk melihat keadaan Noah. Pria itu sedang duduk dengan satu kaki ditekuk sedang satunya diluruskan. Tangannya masih menggenggam kunci inggris, sedangkan sekujur tubuhnya basah.
Tari meringis. Walau lebih baik, tapi pakaiannya pun sama basahnya. "Mas …."
Noah mendongak. Saat melihat keberadaan Tari, dia tersenyum. Senyumnya semakin lebar, hingga berubah menjadi sebuah tawa. Layaknya virus, tawa Noah kini menular pada Tari. Keduanya menertawakan keadaan mereka, basah sekujur tubuh seperti orang bodoh.
…
Noah menatap dirinya di pantulan cermin. Pakaiannya sudah berganti dengan kemeja hitam milik Tari. Perempuan itu tadi begitu senang saat menemukan kemeja dengan ukuran besar di dalam lemarinya, dan langsung menyuruh Noah berganti di kamar tamu, atau yang lebih pantas disebut gudang karena dipenuhi tumpukan barang-barang.
Noah mengedar pandang, lalu menatap sebuah figura yang sedang dalam keadaan tertelungkup di atas laci usang. Dia menghampirinya, membalik figura itu karena penasaran. Di dalam figura kayu itu, Tari terlihat begitu cantik dibalut oleh gaun pengantin. Senyum indah dan matanya yang dilapisi cairan bening mampu menyentuh hati Noah.
Namun, di samping Tari ada seorang pria asing. Senyumnya sama lebarnya, matanya bahkan sampai menyipit seakan ikut tersenyum juga. Keduanya memakai pakaian pengantin, saling menautkan lengan layaknya pasangan paling berbahagia di dunia.
"Mantan suami Tari?"
Noah tahu bahwa Tari sudah bercerai, tapi dia tidak pernah melihat wajah mantan suami perempuan itu. Dia berdecak, lalu memasukkan figura itu ke dalam laci. Siapapun pria itu, dia sangat bodoh karena melepaskan Tari.
"Ganteng gue," ucapnya pongah.
Noah mencebikkan bibir, lalu keluar dari kamar itu. Dia menghampiri Tari di ruang tamu. Perempuan itu juga sudah berganti pakaian. Menggunakan kaus dan kulot yang memiliki pita di bagian perut.
"Syukur deh Mas kemejanya pas. Maaf ya Mas, gara-gara bantuin gue sampe basah semua tadi bajunya."
"Santai aja Tar. Lo juga nggak papa, kan? Takutnya nanti masuk angin karena tadi sempet keluar juga."
Tari menggelengkan kepala. "Aman, Mas. Oh iya, makasih Mas udah perbaikin kerannya. Besok gue buatin Burning eyes cake spesial sebagai balasan."
Noah mendekat ke sofa panjang di hadapan sofa yang Tari duduki. "Gue duduk dulu, ya?"
Tari langsung berdiri. "Sampe lupa nyuruh duduk," katanya.
Noah hanya tertawa. Dia mengayunkan tangan, menyuruh Tari kembali ke posisinya. "Kuenya lo buat sendiri, kan? Kan spesial," tanyanya, kembali membahas janji Tari.
"Iya, dong Mas. Gue buatin langsung di rumah. Khusus buat Mas Noah."