Bab 1

Jingga berada di Love Cafe, menyeruput kopi sambil melihat orang-orang lewat di jalan. Kafe itu menjadi tempat nongkrong favoritnya, saat tidak melakukan apa-apa atau menghabiskan waktu. Mereka memiliki kopi yang enak dan dia dapat dengan mudah mengetahui apa yang terjadi di luar. Kafe ini dekat dengan jalan raya.

Jingga sedang menghela nafas, saat tiba-tiba melihat orang tuanya masuk ke dalam cafe, dia pun berdiri untuk menyambut.

"Halo, Ma." Jingga menyapa ibu seraya mencium pipinya. Kemudian berbalik ke ayah lalu memeluknya. "Halo, Ayah."

Setelah itu, dia kembali ke mejanya lalu menunggu orang tuanya duduk terlebih dahulu.

"Gimana kabarnya?" Jingga bertanya.

Ibunya menghela napas sebelum berkata. "Jing, kamu kapan mau nikah?"

Dia tercengang dengan pertanyaan ibunya. Bagaimana mungkin mereka langsung membahas pernikahan, sedangkan Jingga ingin bertanya tentang rindu, karena mereka sudah lama tidak bertemu-berbulan-bulan.

"Mama, saya belum siap ...."

"Dasar perawan aneh!." Ibunya memotong kalimat Jingga seraya tersenyum. "Kamu itu sebenarnya siap, Jing. Asal kamu tau, sebenarnya Mama sudah punya calon yang cocok untukmu."

Dia meringis. Lagi-lagi ibunya mau memperkenalkannya pada seseorang, padahal selama ini semua calon pilihan ibunya itu tidak ada yang membuatnya suka.

"Ma, saya yakin siapa pun pilihan Mama, pasti seorang pria yang baik, tapi belum tentu juga cocok untuk saya." JIngga berkata dan di bibirnya terlukis senyum palsu.

"Jingga, ayolah. Itu tidak benar," ucap ibunya sambil menyentuh tangan Jingga. "Kamu kan sudah dua puluh sembilan tahun. Sudah waktunya kamu mempunyai anak!"

Saat ibunya berbicara, dia meringis. Apa yang dikatakan ibunya benar-benar membuatnya muak. Dia menatap ayahnya, menyipitkan matanya untuk melihat apakah si ayah tidak peduli atau hanya berpura-pura saja membaca koran. Namun, Jingga memang tidak mungkin mendapat pembelaan dari ayahnya.

Dia mengalihkan pandangan ke ibunya, menarik napas dalam-dalam sebelum berbicara. "Ma, ya sudah, saya coba dulu berkencan dengannya." Dia berkata dengan senyuman yang palsu. Dia berpikir, jika menolak tawaran ibu, itu hanya memperpanjang masalah.

Ibunya pun tersenyum lebar. "Aww, kamu baik sekali, Sayangku. Baiklah, Mama akan menelepon Lodrick sekarang," ucapnya seraya menekan tombol ponsel.

Jingga menatap ibunya dengan aneh. "Emangnya Mama punya nomor pria itu?"

Ibunya mendongak dari ponselnya. "Ya. Mama yakin kamu pasti suka dia. Mama janji, Lodrick adalah seorang pria terhormat."

Alih-alih menjawab ibu, dia hanya tersenyum keras padanya. Dia sungguh tidak bisa berkata apa-apa lagi, hanya bisa mendengar percakapan antara ibu dan Lodrick. Frustasi membuatnya menyesap kopi.

Tiba-tiba ibunya membuatnya kaget.

"Yah, Lodrick setuju berkencan denganmu! Nama lengkapnya adalah Lodrick Gamez," ucapnya seraya meletakkan ponsel. "Kalian akan bertemu di Igor Restaurant. Sudah Mama bilang padanya kalau kamu akan mengenakan gaun putih."

"Apa? Gaun putih? Ma, itu norak!"

Ibunya memberi tatapan tajam. "Jing, gaun putih adalah gaun formal untuk wanita sepertimu!"

Jingga pun tertawa. "Oke, Ma, terserah Mama aja."

"Oke, Sayangku. Bagaimanapun, Ayah dan Mama akan pergi. Kami akan pergi ke tempat lain."

"Oke. Hati-hati."

"Kamu juga, Sayangku, hati-hati. Jangan lupa kencanmu dengan Lodrick."

Jingga meringis mengingat alarm kencan nanti oleh ibunya. "Tentu, Ma. Saya tidak akan melupakannya."

Mereka berdiri dan mengucapkan selamat tinggal sebelum berpisah. Orangtuanya seperti tidak punya tujuan lain selain menjodohkan Jingga dengan Lodrick. Sedangkan Jingga berpikir bahwa mereka akan terikat sebagai sebuah keluarga tetapi itu hanya sebauh harapan..

Dia menarik napas dalam-dalam kemudian mengembuskkannya. Betapa dia akan berkencan karena ibunya.

Dia berdiri kemudian pergi meninggalkan kafe. Dia berjalan menuju mobilnya yang ada di tempat parkir. Saat hendak membuka mobilnya, seseorang menepuk bahunya. Ketika dia melihat siapa orang itu, bibirnya sedikit terbuka.

Pria di depannya terlihat seperti selebritas yang aneh. Cukup tinggi beberapa inci dibandingkan dirinya. Dia memakai kaos polo hitam dan jeans denim. Matanya menggiurkan bagai cokelat cair. Rambutnya hitam legam. Jingga tidak menyangka bahwa ada pria tampan seperti itu, memiliki hidung runcing dan bibir tipis yang terlihat lembut. Dia memiliki kumis jarang. Meski Jingga tidak pernah menyukai pria berkumis karena menurutnya terlihat kotor, tetapi pria ini berbeda. Kumisnya menambah kejantanan dan itu cocok untuknya. Sialnya, baunya sangat enak. Itulah yang Jingga inginkan dari seorang pria, aroma yang harum.

Pria itu menyeringai. "Saya tahu saya tampan, tapi kamu tidak perlu membuka lebar mulutmu. Nanti ada lalat yang masuk."

Jingga secara otomatis menutup mulutnya yang terbuka. "Saya sedang tidak mengagumimu, ya!" JIngga mengelak.

Pria itu pun tertawa. "Hmm. Ya. Tidak apa-apa, semua wanita yang saya pasti tergila-gila. Saya yakin kamu tidak berbeda dari mereka."

Jingga tercengang. "Wow. Percaya diri sekali kamu, Woy!"

"Saya hanya bicara fakta. Kamu kagum dengan ketampanan saya, kan?"

Jingga memperhatikannya kembali. Ya, pria ini indah, tetapi juga sangat sombong. Sayang, itu adalah salah satu kualitas yang dia benci dari seorang pria. Pria seperti itu pasti seekor buaya.

"Apa yang kamu butuhkan dan kenapa kamu menyentuhku? Jika kamu sedang tersesat, tanyakanlah pada Google Map. Tanya mereka, jangan tanya saya!"

"Saya yakin Google Map tidak tahu namamu."

Bibir Jingga menganga karena terkejut. "Apa!"

"Saya menepuk bahumu untuk menarik perhatianmu agar aaya bisa menanyakan siapa namamu."

"Apa?"

Pria itu memutar matanya lalu menyodorkan tangan untuk menjabatnya. "Hai, saya Carlos. Siapa namamu?"

"Jingga."

Carlos tersenyum.

"Jingga. Hmm ... nama yang bagus," ucapnya seraya melepaskan tangannya. "Sampai jumpa, JIng!" Setelah itu dia lewat di depan Jingga lalu masuk ke mobil yang diparkir di sebelah mobilnya.

Jingga menggeleng dengan lembut. Apa yang baru saja terjadi sangat aneh. Dia kira pria itu ingin menanyakan arah sehingga menyentuhnya, ternyata hanya menanyakan siapa namanya.

Jingga menjadi gusar saat masuk ke mobilnya dan mengendarainya ke unit kondominiumnya.

#####

Saat berkendara ke rumah orang tuanya, Carlos menelepon Radit, salah satu teman dekatnya yang memiliki koneksi ke Kantor Perhubungan Darat. Mereka adalah teman sekelas SMA-nya dan meskipun mereka memiliki mata kuliah yang berbeda di Perguruan Tinggi, mereka tidak pernah kehilangan komunikasi satu sama lain. Dia adalah salah satu teman sejati yang bisa Carlos hubungi.

"Hei, DIt. Bisakah saya meminta bantuanmu?"

Radit menjawab sinis, "Saya baik-baik saja. Terima kasih sudah bertanya."

"Apakah saya masih harus bertanya apakah Anda baik-baik saja? Saya baru saja datang dari sana di bengkelmu."

"Memangnya mau minta bantu apa?"

"Saya akan kirimkan nomor platnya. Kamu bisa tidak mengetahui siapa pemiliknya dan di mana dia tinggal?"

Radit tertawa di seberang sana. "Woah, kamu sedang menguntit seseorang, ya?"

Carlos memutar matanya. "Untuk apa saya menguntit seseorang? Itu plat nomor orang yang sudah menabrak mobilku. Dia kabur. Untung saya dapat plat nomornya."

"Hilih ... masalah sepele saja, tidak usah membuatmu sibuk! Jangan mengejar pemiliknya. Biarkan saja. Bawa saja mobilmu ke bengkel dan saya akan memperbaikinya.”

"Kamu mau bantu tidak sebenarnya!"

Radit menghela napas. "Baik. Saya akan membantumu. Kirimkan saya nomor plat, nanti saya telpon kamu lagi.."

"Oke. Terima kasih."

"Tidak masalah."

Carlos mematikan panggilan lalu mengirimi Radit nomor plat. Setelah itu, dia melempar ponselnya ke dashboard, kemudian memusatkan seluruh perhatiannya ke jalan.

Setelah dua puluh menit, akhirnya dia tiba di rumah orang tuanya. Ponselnya berdering tepat pada waktunya. Dia mengambil ponsel di dasbor dan ketika melihat Radit yang menelepon, dia dengan cepat menjawabnya.

"Bagaimana, apa kamu sudah tahu siapa pemilik plat itu?" Carlos segera bertanya tepat saat menjawab panggilan.

"Ya. Mobil itu milik Jingga Amelia. Dua puluh sembilan tahun dan dia tinggal di Kondominium Mawar, lantai sepuluh, unit satu-nol-lima."

"Status?"

"Lajang." Radit pun tertawa. "Woy, kamu gak tanya kapan ulang tahunnya?"

"Tidak. Terima kasih."

"Oke."

Carlos mengakhiri panggilan dengan senyum di wajahnya. Jingga Amelia. Hmm. Nama yang bagus.

#######

Sebelum Jingga memasuki Restoran Manda, dia mengatur gaun putih yang dia kenakan.

"Permisi, reservasi untuk Lodrick Gamez?"

Pelayan tersenyum padanya. "Lewat sini, Bu."

Jingga dibimbing ke meja di mana seorang pria ramping duduk dan mengenakan kacamata.

Sial! Jadi ini si Lodrick?

"Tuan Gamez, teman kencan Anda telah tiba." Pelayan berkata kepada pria itu dan JIngga merasa ngeri.

Dia mencoba tersenyum pada pria itu dan duduk di kursi kosong. "Hai, selamat malam."

"Selamat malam juga untukmu." Suara Lodrick pecah.

Jingga meringis. Apakah ini yang dikatakan ibu cocok untuknya? Tuhan!

"Saya Jingga Amelia."

"Ibumu benar, kamu sangat cantik."

Jingga tersenyum palsu. "Terima kasih."

Lodrick tersenyum. "Nama saya Lodrick. Hobi saya golf dan bowling." Dia tertawa dan terlihat cupu! "Ngomong-ngomong, saya sudah memesan untukmu. Saya yakin kamu akan menyukainya."

Ya Tuhan, tolong saya! Jingga diam-diam berdoa kepada tuhan.

Dia ingin berterima kasih kepada pelayan yang telah melayani pesanan Lodrick. Sambil makan, Lodrick bercerita tentang bisnisnya dan tempat-tempat yang pernah dia kunjungi. Dia hanya mengangguk mantap saat Lodrick menceritakan kisah itu. Dia tidak begitu tahu tapi satu jam sudah cukup untuk berbicara dengannya, sehingga dia tahu bahwa pria itu hanyalah salah satu dari orang-orang yang selalu menginginkan perhatian dan itulah yang paling tidak disukainya.

Dia benar-benar merasa lega ketika makan malam selesai. Ketika Lodrick menawarkan untuk mengantar, dia menolak. Ketika Lodrick bertanya apakah mereka bisa makan malam lagi dalam beberapa hari ke depan, dia menolak dan mengatakan kepadanya bahwa Lodrick bukan tipe prianya dan harus mencari wanita lain. Jingga merasa tidak enak, tapi itu lebih baik daripada membuat pria itu berharap.

Ketika kembali ke unit kondominiumnya, Jingga segera menanggalkan pakaian dan berbaring di tempat tidur. Tidak memakai apa-apa selain selimut. Dia memang seperti itu saat tidur, harus telanjang karena kalau tidak tidurnya tidak akan nyenyak.

Setelah beberapa menit memejamkan mata, rasa kantuk akhirnya merenggut kesadaran.

Keesokan paginya, Jingga terbangun karena suara yang berasal dari ponselnya. Dia perlahan membuka mata lalu meraih ponsel di meja nakas.

"Halo?" Suaranya masih terdengar mengantuk.

"Jingga Amelia! Kenapa kamu mempermalukan Lodrick!?" Ibunya berteriak marah dari seberang. "Dia hanya berusaha bersikap baik itu sebabnya dia memintamu berkencan lagi-"

"Ma, saya tidak menyukainya."

Keesokan paginya, harinya langsung hancur. "Saya tidak butuh kencan, oke? Lodrick bukan tipe saya jadi tolong, biarkan saya sendiri."

"Jangan kasar sama Ibu, Jing! Saya ibumu. Lodrick pria yang baik. Kalian berdua cocok."

Jingga menyipitkan matanya. "Ma, tolong, berhenti mengurusi percintaan saya!"

Jinga mematikan panggilan dan melepas baterai ponselnya. Dia tahu ibunya, tidak akan berhenti memanggilnya sampai dia setuju untuk berkencan dengan Lodrick lagi. Astaga! Apakah mengapa ibu tidak mengerti bahwa dia tidak menyukai Lodrick?

Alih-alih kembali tidur, dia bangkit dan berjalan ke dapur untuk menyeduh kopi. Dengan percaya dirinya dia berjalan telanjang di unit kondominiumnya karena dia tahu tidak ada yang bisa melihatnya.

Setelah membuat kopi, dia hendak menyetel musik. Sambil minum kopi, dia menggiling dengan mantap.

Ketika mendengar ketukan di pintu, dia mengecilkan volume speaker dan pergi ke pintu untuk mengecek siapa yang mengetuk.

Pintu dibuka. Jingga sangat syok ternyata pria yang mengetuk pintunya itu adalah pria yang menepuk bahunya di tempat parkir cafe.

"Apa yang kamu lakukan di sini?" .

Pria itu tidak menjawabnya; dia hanya memandanginya dari ujung kepala sampai ujung kaki. Kemudian seringaian muncul dari bibirnya. "Apakah hari ini hari kelahiranmu, karena kamu benar-benar memiliki setelan hari lahir yang luar biasa."

Dahi Jingga berkerut. "Baju ulang tahun apa yang kamu katakan?" Bibirnya terbuka ketika melihat dirinya sendiri dan sadar bahwa tidak ada seutas benang pun menutupi tubuhnya. "Aaaaahh, sial!"

Dia membanting pintu seraya menutup mulutnya. Matanya melotot karena kaget. Dia hanya mematung di tempatnya berdiri saat tatapan pria itu membelainya seperti plakat rusak yang diputar ulang di otaknya. Mengapa saya lupa tidak mengenakan pakaian?

Dia terkejut mendengar ketukan lagi.

"Hei, buka!" Teriak dari luar. "Saya tidak melihat apa-apa, kok!"

Alih-alih menjawabnya, Jingga berlari ke kamarnya untuk berpakaian.

Bab 2

Saat sedang berpakaian, aku masih bisa mendengar pria itu mengetuk pintu. Aku buru-buru berpakaian dan pergi untuk membukanya. Matakumenyipit saat dia tersenyum melihatku.

"Apa yang kamu senyumi?"

"Tidak ada."

Aku menatapnya. Tidak ada jawaban tetapi aku tahu dia sedang mengingat tubuh telanjangku.aa

"Apa yang kamu butuhkan?" Aku berusaha mengubah topik pembicaraan. "Kenapa kamu mengetuk pintu?"

"Karena kamu mengganggu. Saya sedang tidur nyenyak di kamar tapi suara musikmu mengganggu."

Aku bertanya-tanya dan mengintip ke unit sebelah. "Apakah itu milikmu?"

"Ya, saya baru saja membelinya."

"Oh."

Selama ini aku memang selalu memutar musik keras-keras karena memang tidak ada yang tinggal di sebelah kamarku. Jadi, mulai sekarang aku harus memakai headset untuk mendengarkan musik. "Kalau gitu siap-siap saja, musik saya akan membunuhmu."

Saat aku hendak menutup pintu, lengan Carlos menahanku. Dengan tanpa permisi dia menempelkan bibirnya ke bibirku. "Selamat pagi, tetangga." Dia berkata seraya berbalik pergi ke kamar seolah tidak melakukan kesalahan.

Aku menegang karena apa yang baru saja dilakukannya. Itu hanya sebuah kecupan tetapi mampu mengguncangku. Kini aku dalam keadaan linglung. Aku masih bisa merasakan bibirnya di bibirku.

Aku pun marah lalu menggedor pintu unitnya. "Buka pintunya brengsek!"

"Kenapa? Kamu mau ciuman lagi?" jawabnya, dari dalam kamar.

"Cium dinding saja, Bodoh!" Darahku mendidih selama menunggu pintu terbuka. "Buka pintunya!

Saat dia membuka pintu, sepertinya ada kaca di mataku. "Sialan kamu! Kenapa kamu menciumku!"

Dia menyandar ke kusen pintu lalu menatapku dengan saksama. "Saya menciummu karena saya mau, kenapa kamu bersedih?"

Aneh, tak mengerti dengan pria yang berdiri di depanku. "Kenapa bisa kamu melakukan seenaknya!"

Dia hanya menghela nafas. Tiba-tiba dia mendekatkan wajah ke wajahku. Hingga bibirku hanya berjarak satu senti dari bibirnya.

"Hey, jauhi saya!" perintahku.

Dia menyeringai padaku, lalu perlahan, dia membungkuk, tetapi sebelum bibirnya menyentuh bibirku, aku berlari ke unitku kemudian mengunci pintu.

Aku menghela nafas sambil mengusap dada, seolah berpacu dengan denyut nadi yang sangat cepat. Menyentuh bibir seraya mengingat dia yang barusan menciumku. aku menggeleng berusaha menghapus ingatan itu di benakku. Aku masih ingin waras!

Nada peringatan pesan ponsel berdering. Tidak kusangka bahwa ibu yangmengirim pesan. Ketika membacanya, ternyata tentang Lodrick.

Menjengkelkan sekali karena ibu mempermasalahkan penolakanku untuk berkencan kembali dengan Lodrick.

Ketika tidak bisa lagi menahan dering ponsel, aku mematikannya. Ibu tidak akan benar-benar berhenti sampai berhasil membuatku berkencan dengan Lodrick lagi. Pokoknya aku tidak mau!

Aku buru-buru mandi lalu pergi ke rumah orang tuaku.

Aku memergoki ayah yang sedang membaca koran di ruang tamu,sedangkan ibu pada menatapku dengaan kening berkerut.

"Ma, saya gak mau berkencan dengan Lodrick!" Aku telah mendahulu sebelum ibu bisa berbicara.

"Kenapa? Dia pemuda yang baik!"

"Karena dia bukan tipe saya, oke?" Aku benar-benar marah. "Saya gak suka. Apa saya harus berteriak agar Mama mengerti!"

Sepertinya ibu kecewa. "Emangnya kenapa kamu gak suka? Ibu gak percaya kamu gak suka sama dia."

Aku menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri. "Ma, saya gak suka Lodrick karena saya gak suka. Titik. Gak ada alasan lain!"

"Hilih. Kamu gak suka Lodrick pasti karena suatu alasan, mungkin kamu naksir orang lain!"

"Emang kenapa si!" aku mulai kesal. "Bukan itu!"

"Jangan berbohong,, JIngga. Ibu tahu kamu pernah menelepon seseorang."

"Ma, saya gak menyembunyikan apa-apa!"

"Jika kamu menyembunyikan sesuatu, Ibu bersumpah ....-"

"Mama!"

"Ibu akan menghapus kamu dari kartu keluarga!"."

"Hadeh, baiklah!" Aku menyerah dan menghela nafas panjang. "Saya sudah punya pacar." Aku terpaksa berbohong agar ibu berhenti bicara.

Wajah ibu seolah penasaran. "Siapa pacarmu? Kenapa kami tidak saling kenal?"

"Mmm namanya ...." Kebetulan aku melihat ke koran yang sedang dibaca ayah. Carlos Santana, seorang Fotografer terkenal yang bekerja untuk National Geographic Channel dan dianugerahi penghargaan sebagai fotografer terbaik di Asia. Aku tersenyum. "Namanya Carlos Santana." Aku mengatakan nama yang kubaca di headline koran tersebut.

"Apa? Santana?" Ibu tertawa. "Kok namanya terdengar seperti keluarga?"

Ayah menjatuhkan koran. "Dia gak asing bagimu karena nama itu adalah nama fotografer muda yang mendapat kehormatan. Bukankah dia ada di berita tadi malam?"

Aku menggigit bibir. Apakah Carlos begitu populer? Sial! Sepertinya aku akan langsung dipecat jika berbohong. Ibu akan membantaiku ketika dia tahu aku berbohong.

"Ya, benar tuh." respon ibu, "beneran kamu pacaran sama dia?"

Aku terpaksa mengangguk.

"Kamu gak bohong?"

Aku menggeleng. "Enggak!"

Senyum lebar tersungging di bibir ibu. Dia memelukku erat. "Ya Tuhan, Sayangku, kamu membuatku bangga! Kamu sangat beruntung dengan pacarmu!" ucapnya, kemudian melepaskan pelukan dan melanjutkan, "Ibu minta maaf tentang Lodricj. Saya sudah maksa kamu. Ibu kira kamu belum punya pacar. Kalau saja Ibu tahu bahwa Carlos Santana adalah pacarmu, Ibu pasti gak akan memaksamu berkencan dengan Lodrick. "

"Kapan kami bisa melihat pacarmu?" Ayah mulai masuk dalam pdrcakapan.

"Secepatnya, dia hanya sibuk sekarang," jawabku.

"Ya Tuhan! Ibu sangat bersemangat!" Ibunya terkikik seperti remaja lalu memeluknya lagi. "Ibu ikut bahagia, Sayang."

Aku tersenyum paksa, "Ya, saya juga senang."

Ketika ibunya melepaskan pelukan, aku buru-buru mengucapkan selamat tinggal.

"Saya pergi, Ma, Ayah. Masih banyak yang harus saya kerjakan."

"Oke, hati-hati."

Wajah ibu terlihat penuh kebahagiaan. Sedangkkan wajah ayah, tetap terlihat seperti Poker. Saat meninggalkan rumah, aku menutup mata erat-erat. Rasanya ingin menginjak-injak diriku sendiri karena berbohong.

Aku masuk mobil kemudian mengendarainya menuju Hotel Mewah di mana aku adalah Manajer di sana. Ketika sampai, aku langsung pergi menuju kantorku. Saat baru saja ingin membuka, sekretaris datang menghampiriku.

"Bu, sekretaris Pak Santana menelepon." Dia mengatakan bahwa orang yang dimaksud adalah pemilik Hotel tempat dia bekerja. "Anda disuruh ke kantor Tuan di Santana Group of Resorts."

"Mengapa?"

Pembicara mengangkat bahu. "Saya tidak tahu, tetapi Anda harus pergi sebelum matahari pagi."

Aku melihat jam di tangan, betapa kagetnya saat tahu ternyata sudah jam sembilan.

"Terima kasih." aku membalas dan bergegas kembali ke mobil.

Ketika tiba di gedung Santana Group of Resorts, aku hendak menemui Mr. Santana tetapi hanya diterima oleh sekretarisnya yang sepertinya sedikit lebih tua dariku.

Ketika sudah masuk kantor Santana, aku melihat seorang pria, mungkin berusia pertengahan lima puluhan, yang sibuk membaca beberapa file.

Aku menyapanya. "Selamat pagi, Pak."

Pria tua itu mendongak karena mendengar suara. Ketika melihatku, dia menunjuk ke kursi pengunjung.

"Silahkan duduk." perintahnya.

Aku duduk dengan gugup. Sejak menjadi Manajer Hotel ini, aku hanya melihat pria itu empat kali. Pertama adalah ketika dia mewawancarainya untuk posisi Manajer. Kedua adalah ketika aku mendapatkan penghargaan sebagai karyawan yang paling berprestasi. Ketiga adalah ketika dia diundang untuk menghadiri pesta amal yang diselenggarakan oleh Mr. Santana, dan terakhir, aku diundang ke hari ulang tahunnya.

"Mengapa Anda memanggil saya, Tuan?" Aku tidak sabar untuk mengetahui tujuannya padaku.

"Bersemangat, bukan?" Dia berkata sambil tersenyum.

"Ya, agak."

"Bagus, saya memanggil Anda ke sini untuk berbicara tentang tugas baru Anda di Kuta Beach Resort. Anda akan menjadi Manajer baru di sana."

Mataku sedikit terbelalak kaget. "Serius? Apakah Anda tidak bercanda, Tuan?" Kuta Beach Resort adalah salah satu Beach Resort paling indah dan populer di Asia. Bisa mengelola hotel yang merupakan ternama di Asia itu sungguh menghangatkan hati.

"Kenapa saya harus berbohong?" Dia bersandar di kursi putar. "Banyak Manajer Hotel telah mengajukan aplikasi untuk ditugaskan ke sana. Dan dari semua yang mengajukan, Andalah yang saya pilih. Anda memiliki keterampilan dan kecerdasan untuk menjalankan Kuta Hotel. Saya yakin Anda lebih daripada mampu menanganinya."

Saat aku mengajukan Aplikasi untuk menjadi manajer Kuta Hotel, aku tidak tahu yakin akan dipilih. Kesenangan menyelimuti seluruh keberadaanku. Ini adalah mimpiku untuk menjadi manajer Kuta Hotel! Dan sekarang menjadi kenyataan! Rasanya ingin melompat kegirangan tetapi aku menahan diri karena sedang berada di depan bosku.

"Terima kasih, Pak." Aku membalas dengan senyum yang sangat lebar..

"Terima kasih kembali." Dia tersenyum. "Ngomong-ngomong, besok kita akan berangkat ke Resort menggunakan Helikopter perusahaan. Saya akan menemanimu ke saba. Saya akan menunggumu, di sini, di kantorku."

Aku mengangguk. "Ya, Pak."

"Oke, kamu bisa pergi sekarang."

Senyum lebar masih melekat di bibirku bahkan ketika sudah berada di dalam mobil dan dalam perjalanan pulang.

Setibanya di Condominium, aku memarkir kendaraan di garasi lalu berjalan menuju lift. Saat lift baru saja mau menutup, Carlos Santana masuk!

"Hai." Dia menyapaku.

Aku hanya menanggapi dengan senyum seperti anjing.

"Bagaimana harimu?"

Aku mengabaikannya seraya melipat tangan.

"Oh ayolah, apa kamu marah sama saya?"

Aku tetap diam.

"Ayolah, jangan marah." Dia berbicara dengan suara lembut. "Saya hanya menciummu karena tubuh saya menyuruh saya begitu."

Mataku tajam menatapnya. "Mati saja kamu!"

Dia menyeringai. "Jika saya mati, pria tampan di dunia akan berkurang. Saya yakin kamu gak mau membiarkan itu terjadi."

Ya Tuhan. Darahku benar-benar mendidih pada pria ini. Aku bersyukur pada-Mu karena akan bekerja di sebuah pulau, jauh dari pria kurang ajar ini!

"Di pulau mana kamu akan bekerja?" Dia bertanya seolah mendengar apa yang baru saja hatiku katakan.

Ups! Apakah hatiku berkata dengan keras?

Aku melihat ke atas. "Apa pedulimu?"

"Jadi kamu akan pergi?" Nada bicaranya seolah-olah dia memiliki tanggung jawab untuk itu.

"Ya, saya pergi." aky mengangkat alis karenanya. "Hati-hati."

Emosi di wajah pria itu menghilang dan jika dia tidak salah, ekspresinya menjadi gelap. Apa masalah pria ini?

"Kemana kamu pergi?"

"Bukan urusanmu." Aku menatapnya. Tepat saat lift terbuka, aku bergegas keluar dan berjalan menuju unitnya.

Saat aku sedang meletakkan kunci di lubang, aku mendengar suara di belakang,

"Di pulau mana kamu akan bekerja?" Ternyata dia lagi.

Aku semakin kesal menghadapinya. "Apa pedulimu? Bagaimana kabarmu dan apakah kamu perlu tahu di mana saya akan bekerja? Terakhir yang saya tahu, kamu hanya tetangga yang kurang ajar."

Aku berbalik dan membuka kondominium, setelah itu kubanting pintu dengan keras.. Pria itu benar-benar menyebalkan!

Saat aku melihat seseorang yang tampan, aku akan menirumu Carlos. Aku akan mencium juga karena itulah yang diinginkan tubuhku. Ha ha ha

Bab 3

Aku sangat senang akhirnya bisa menginjakkan kaki di pulau ini. Sangat menyenangkan bisa bekerja di tempat surga ini. Aku akan melakukan segalanya agar tidak mengecewakan bosku, Pak Santana.

Rasanya penuh semangat bekerja sebagai manajer Kuta Hotel.

Saat berjalan berdampingan dengan Pak Santana, aku tidak bisa berhenti memikirkan cara terbaik untuk meningkatkan layanan Hotel.

"Tidak usah terlalu tenggelam dalam berpikir, Bu Jingga," ucapnya secara tiba-tiba.

Aku menoleh dan tersenyum padanya. "Saya hanya memikirkan pendekatan yang baik kepada pelanggan, Pak. Saya juga memikirkan bagaimana meningkatkan layanan Hotel."

Pak Santana tersenyum. "Saya tahu karena saya mempekerjakanmu karena suatu alasan. Bagaimanapun, saya percaya kemampuanmu."

Senyumku melebar mendengar ucapannya. Sangat lucu jika dipikir bahwa dia memiliki kepercayaan pada kemampuanku.

Saat kami memasuki Hotel Kuta, Pak Santana memperkenalkan akusebagai manajer baru. Karyawan Hotel terlihat tampak baik.

"Besok kamu akan mulai bekerja," ucaonya. "Untuk saat ini, istirahat dulu. Atau, kamu bisa berkeliaran untuk mengenal pulau."

Seseorang memberi aku kunci. "Ini adalah kunci penthouse tempat AnDa tinggal. yaitu di lantai 40 hotel ini. Ada dua kamar, jadi kamu bisa mengundang keluarga untuk menginap jika kamu mau."

"Terima kasih, Pak Santana."

“Jangan sebut dia. Semua mantan manajer Hotel tinggal di sana. Sebenarnya itu dibuat untuk anakku tapi ternyata, dia lebih suka hutan dan binatang daripada pantai dan pulau.” Wajahnya muram saat aku menyebut nama anaknya.

Aku tidak bisa berkata apa-apa. Aku merasa tidak salah mengatakan sesuatu karena memang tidak mengenal putranya. Jadi aku hanya diam dan menunggunya berbicara lagi.

"Yah," ucapnya, memecahkam keheningam. "Saya pergi. Semoga berhasil, Bu, Jingga."

"Terima kasih, Pak."

Aku mengikuti tatapan Pak Santana hingga menghilang dari pandangannya.

Aku perlahan berjalan ke lift yang akan menuju ke penthouse. Aku tersenyum saat naik lift ke lantai paling atas di mana penthouse berada.

Ketika tiba dan melihat penthouse tersebut, aku kagum betapa indahnya tempat itu. Tak bisa dipungkiri juga bahwa perabotan di dalam penthouse pasti mahal harganya.

Aku melepas sandal sebelum menginjak lantai berkarpet. Rasanya sangat lembut. Pasti mahal, dan ketika melihat ke kanam, senyum muncul di bibirku ketika melihat mini-bar penuh dengan minuman keras yang berbeda.

" Ini surga atau apa?" ucapku dengan seringai di wajah.

Akau mendekati bar dan menuangkan segelas sampanye.

Saat menyesap sampanye, mataku berkeliaran ke sekitar. Ada satu set sofa kulit di tengah dan lukisan-lukisan mahal digantung di dinding. Kemudian mataku berhenti di pintu sebelah mini-bar.

Rasa ingin tahuku semakin mendalam.

Aku berjalan ke pintu sebelah mini bar lalu membukanya.

Angin dingin menyerang ketika membuka pintu. Sebuah balkon? Aku perlahan berjalan mendekati pagar balkon.

Adegan di depannya membuat napasnya terengah-engah. Matahari berada di puncak dan sinarnya membuat lautan berkilau bagai berlian. Pemandangan dari sini benar-benar indah.

Aku tidak tahu berapa menit berdiri di balkon dan menatap laut. Saat cuaca panas, aku kembali ke dalam dan menyesap sisa sampanye dari gelas lalu menuju pintu dekat ruang tamu. Ketika membukanya, aku tidak tahu apa harus berkomentar apa..

Kamarnya sangat bagus.

Lantainya dilapisi karpet Persia, dindingnya dilapisi warna putih-merah muda dan terlihat enak dipandang. Aku pergi ke tempat tidur dan duduk di sisinya. Sangat lembut, rasanya enak sekali tidur di ranjang seperti ini. Tapi alih-alih tidur, aku meninggalkan kamar untuk berkeliling pulau.

Aku tidak memiliki hobby untuk tidur, aku harus mengenal pulau itu.

#####

Carlos duduk di sofa, di sebelah ibunya. Mereka memanggilnya tanpa alasan yang jelas. Sebenarnya, dia tahu apa alasannya dan mereka memanggilnya dan itulah alasan dia pulang ke Indonesia.

Dia duduk diam bersama ibu seraya menunggu ayahnya datang.

Beberapa menit telah berlalu dan akhirnya sang ayah datang. Ayahnya memiliki ekspresi tegas di wajahnya.

“Apakah kamu di sini hanya untuk berkunjung?” tanya ayahnya.

"Tergantung mood saya."

"Kamu tahu kami membutuhkanmu, kan? Perusahaan membutuhkanmu," ucap ibu.

Dia menatap ayahnya, kemudian tatapannya beralih ke ibunya. "Saya tidak tahu, masih menimbang."

Sang ibu duduk di sebelahnya dan memegang tangannya. "Ayah dan Ibu sudah tua." Suaranya diwarnai dengan kesedihan dan Carlos merasa bersalah. "Kami hanya memintamu sekali. Ketika kamu memberi tahu kami bahwa ingin belajar fotografi, kami membiarkan, meskipun kami ingin kamj mengambil Manajemen Bisnis. Ketika kamu memberi tahu kami ingin pergi mengejar impian, kami membiarkan , karena kami mencintaimu. Kami membiarkanmu melakukan hal-hal yang ingin kamu lakukan karena kami ingin kamu bahagia. Kami tidak menghentikan, tetapi sekarang, kami sudah tua. Jadi kami memintamu untuk membantu kami. Jangan anggap enteng, jika tidak, perusahaan akan dipegang oleh siapa saja. Tolong pertimbangkan tawaran kami."

Carlos merasa tercekik saat mendengar ibunya memohon agar dia mengambil alih Perusahaan. Apakah dia anak yang buruk karena hanya memikirkan dirinya sendiri?

Merah menatap ayahnya. "Saya tidak tahu apa-apa tentang bisnis, Ayah. Perusahaan mungkin bangkrut karena saya. Namun saya tidak menginginkan itu."

"Saya akan mempekerjakan orang yang dapat membantu memahami bisnis. Dan saya akan mengajarimu secara pribadi, jadi, jangan khawatir."

Carlos menarik napas dalam-dalam. "Ayah, bagaimana bisa begitu yakin bahwa saya bisa belajar sesuatu? Bagaimana bisa begitu yakin bahwa saya bisa menjalankan perusahaan sendiri? Saya seorang Fotografer, bukan lulusan Manajemen Bisnis."

Ayahnya tersenyum. "Karena kamu anakku dan bisnis berjalan dalam darah kita."

Carlos melihat ke bawah dan tidak berbicara. Dia tahu kapan akan menolak dan kembali bekerja di Geo, orang tuanya pasti akan membiarkannya pergi bahkan jika mereka tidak setuju dengan keputusannya. Begitulah cara mereka mencintainya. Mereka selalu menginginkan kebahagiaannya lebih dari apapun di dunia ini. Mungkin, ini saatnya dia melakukan sesuatu untuk orang tuanya. Sudah waktunya baginya untuk membuat mereka bahagia.

Dia mengambil napas dalam-dalam. "Saya akan berusaha tapi saya tidak menjanjikan. Saya tidak ingin menjanjikan sesuatu yang tidak pasti."

Ayahnya tersenyum. "Itu cukup bagus untuk kami. Besok, kamu akan memulai latihanmu."

Pelatihan? Betapa dia berharap pelatihan ini pergi ke hutan untuk memotret pemandangan indah yang berbeda, tetapi dia tahu lebih baik, bagi ayahnya, pelatihan berarti duduk di belakang meja yang penuh dengan kertas kerja yang membosankan.

Keesokan harinya, Carlos bangun pagi-pagi untuk mengikuti pelatihan yang dikatakan ayahnya. Dia tahu bahwa ini akan menjadi hari yang panjang.

"Apakah kamu siap?" Ayahnya bertanya apakah dia bisa masuk ke kantornya.

Dia mengangkat bahu. "Saya tidak tahu siap atau tidak, tapi, ayo lakukan ini."

Ayahnya tersenyum dan menyuruhnya duduk di kursi tamu untuk memulai latihannya.

#####

Jingga bangun dengan senyum di wajahnya. Ini hari pertamanya sebagai Manajer Kuta. Dia sangat bersemangat untuk bekerja.

Setelah mandi, dia berdandan dan pergi ke kantor Manajer.

Sesampainya disana, sekretarisnya yang bernama Andi sudah ada disana. Ini adalah sekretaris Manajer Hotel terakhir yang sudah pensiun.

"Selamat pagi, Andi." Dia menyapanya dengan senyuman.

Sandi tersenyum kembali. "Selamat pagi juga, Bu Jingga."

"Lepaskan formalitas, panggil saja, Jingga." Apa yang paling dia tidak suka adalah mendapat panggilaan Ibu.

"Baiklah, Nona Jingga."

Nah, itu lebih oke daripada Bu. Dia tersenyum pada Andi dan masuk ke dalam kantornya.

Ketika masuk ke dalam, dia segera mulai bekerja.

Jingga tidak menyadari waktu, ketika melihat jam di tangannya, itu adalah waktu makan siang.

Dia bangkit dari tempat duduknya dan pergi ke Restoran Kuta yang ada di dalam Hotel. Saat memasuki restoran, dia duduk di meja samping dan tidak terlalu diperhatikan oleh orang-orang yang masuk. Dia memesan makan siang sederhana. Saat dia makan, matanya berkeliaran di sekitar restoran. Sepertinya dia tidak perlu mengubah apa pun di hotel, yang harus dia lakukan hanyalah Mengelola Hotel dengan benar.

"Halo wanita cantik." Suara memanggil dari belakangnya.

Dia menoleh ke belakang untuk melihat siapa orang itu. Seorang pria tampan, mungkin sedikit lebih tua darinya. "Ya? Ada yang bisa saya bantu?"

"Kamu sangat cantik, saya tidak bisa menahan diri. Saya harus mengenalmu lebih baik."

"Tidak, tinggalkan saya sendiri."

Pria itu tersenyum kecut.

"Hei, namaku Revi Sanders. Kalo kamu?

"Apa yang membuatmu menyangka bahwa saya akan memberitahumu?" Jingga menjawab dengan ketus.

Senyum pria itu tidak goyah. "Karena saya tampan dan ...."

"Dan penuh dengan percaya diri," jawab seorang pria membawa nampan makanan.

"Apakah ini seorang pelayan? Pelayan ini tampan." Jingga berkomentar dalam hati.

Pria itu meletakkan nampan makanan dan mengulurkan tangannya. "Hei, namaku Revan Sanders."

"Sanders?" Jingga mengangguk lalu menatap Revi. "Saudara?"

"Saudara kembar." Revan mengedipkan mata padanya. "Tapi jangan bilang siapa-siapa. Saya malu mengakui saudara kembarku."

Dia menahan diri untuk tidak tersenyum. "Oke, saya tidak akan memberitahu siapa pun."

"Bagus." Revj tersenyum. "Jadi siapa namamu?"

"Jingga, nama saya Jingga Amelia."

"Apa?" ucap keduanya sekaligus. Seolah-olah terkejut dengan namanya.

"Apa?" Jingga memelototi keduanya.

"Anda Manajer Hotel yang baru?" Keduanya bertanya secara bersamaan.

Dia mengangguk. "Ya, bagaimana kamu tahu?"

Sebelum keduanya bisa menjawab, seseorang memanggil mereka. Revi dipanggil oleh seorang wanita seksi dan Revan dipanggil oleh seorang pelayan. Setelah mereka pergi, Andi mendekatinya tepat pada waktunya.

"Bapak kenal merek, Andi?" Dia bertanya pada sekretarisnya.

"Ya, Nona Jingga. Pria yang datang ke dapur, itu Revan, dia Chef Hotel. Yang dipanggil wanita penggoda, itu Revi, dia Manajer seluruh Pulau."

Jingga tercengang. Koki dan Manajer Pulau?

"Nona JIngga?" Andi membangunkannya.

"Ya?"

"Pak Santana menelepon dan saya mencari Anda. Dia bilang dia tidak bisa menghubungi ponsel Anda jadi dia menelepon kantor."

Dia menerima ponsel itu. "Terima kasih, Andi."

Dia meletakkan telepon di telinganya. "Pak Santana, ini Nona Amelia yang berbicara."

"Oh, halo, Nona Amelia. Mungkin kamu bertanya-tanya mengapa saya menelepon, ya, karena saya ingin bertanya apakah kamu bisa membantu saya?"

Dia bingung. "Bantu saya? Bapak ingin bantuan saya untuk apa, Pak?"

"Ya, ini tentang anak saya. Dia membutuhkan orang yang sangat profesional yang akan mengajarinya cara mengelola Hotel. Itu bagian dari pelatihannya. Saya akan sangat menghargai jika kamu menjawab ya. Kamu salah satu karyawan saya yang terampil. dan cukup cerdas untuk mengajari anakku.”

Siapa dia jika menolak? Dia telah dipuji dan satu lagi, memalukan jika dia menolak. Dia hanya akan mengajari putranya bagaimana menangani Hotel. Itu tidak sulit.

"Baik Pak. Saya setuju untuk mengajar anak Anda."

"Terima kasih banyak!" Santan berseru gembira. "Dia akan berada di sana dalam waktu tiga minggu. Dia masih berlatih di departemen akuntansi. Saya akan meneleponmu jika sudah waktunya dia pergi ke sana."

"Oke, Pak." Jingga tersenyum.

"Terima kasih." Santana berkata bahwa suaranya diwarnai dengan sukacita. "Oke, saya harus menutup telepon. Terima kasih lagi."

Panggilan itu mati dan dia menutup telepon. Dia melihat ke luar restoran di mana laut terlihat jelas.

Dia menarik napas dalam-dalam dan melanjutkan makannya. Kemudian dia akan memikirkan bagaimana cara mengajar putra Tuan Santana.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED