Langit malam itu tak berbulan. Gelap menelan pekarangan rumah reyot di pinggir kota, seakan ikut menyembunyikan rahasia kelam yang bersemayam di dalamnya. Dinding rumah Olivia retak, catnya terkelupas, dan bau lembap bercampur asap rokok menguar dari ruang tamu. Lampu kuning tua berkelip, nyaris padam, membuat setiap sudut rumah terasa seperti lorong yang siap menelan siapa saja yang melangkah.
Di tengah ruang yang sempit, Olivia duduk di kursi kayu lapuk, kepalanya tertunduk. Jemari kurusnya meremas kain rok lusuh yang melekat di tubuhnya. Detak jantungnya berlari tak beraturan, seolah tubuhnya tahu malam ini akan mengubah segalanya.
"Jangan duduk diam saja seperti mayat!" suara kasar itu memecah kesunyian.
Ayah tirinya, Pram, berjalan gontai dari dapur dengan botol bir di tangan. Tubuhnya tambun, wajahnya merah, dan matanya menyipit karena mabuk. Bau alkohol yang menyengat membuat Olivia ingin muntah. Ia selalu membenci lelaki itu-bukan hanya karena kebiasaannya menenggak minuman murahan, tapi karena tatapan rakusnya yang tak pernah menyembunyikan kebencian.
"Ayah..." suara Olivia gemetar, lidahnya kelu. "Aku... aku tidak bisa-"
Sebuah tamparan keras mendarat di pipinya sebelum kalimat itu selesai.
"Diam!" Pram menggeram, bibirnya basah oleh busa minuman. "Kau pikir kami masih punya pilihan? Utang ibumu itu-sudah menumpuk. Kalau bukan karena aku, kau dan dia sudah dilempar ke jalanan oleh rentenir itu."
Sosok lain muncul dari balik tirai kusam. Seorang perempuan dengan wajah penuh bedak murahan dan bibir merah menyala. Ibu tirinya, Ratna. Tatapannya menusuk tajam, penuh perhitungan, tapi juga dingin.
"Kau harus belajar berterima kasih, Olivia," katanya sinis. "Dengan tubuhmu, kau bisa menyelamatkan keluarga ini. Bukankah itu lebih baik daripada kami mati kelaparan atau diburu seperti anjing?"
"Tubuhku bukan barang dagangan," Olivia membalas, suaranya lirih tapi bergetar. Pipinya masih perih. "Aku bukan budak kalian."
Ratna tertawa pelan, getir. "Sayang sekali, malam ini kau akan belajar bahwa kehormatan itu cuma ilusi bagi orang miskin. Harga diri tidak bisa membeli beras, tidak bisa melunasi utang."
Olivia merasakan perutnya mengeras. Nafasnya tercekat. Ia ingin berlari, ingin melompat keluar jendela reyot itu dan kabur sejauh mungkin. Tapi dua pasang mata itu mengurungnya, seperti predator yang menunggu mangsanya lemah.
Pram mendekat, mencengkeram dagu Olivia dengan kasar. "Dengar, bocah. Ada pria kaya yang mau membayar mahal untukmu. Malam ini, kau hanya perlu diam, lakukan apa yang diperintahkan, dan setelah itu urusan selesai."
Air mata menggenang di sudut mata Olivia. Ia ingin berteriak, tapi tenggorokannya kering. "Kalau aku menolak?"
Cengkeraman itu makin kuat, kukunya hampir menembus kulit. "Kalau kau menolak, aku sendiri yang akan menyeretmu ke sana. Kau pikir kau punya pilihan?"
Ratna menyilangkan tangan di dada, tatapannya penuh kejijikan. "Sudah cukup drama. Mobil itu sebentar lagi sampai. Jangan membuat malu kami."
Suasana rumah semakin mencekam. Jam dinding berdetak keras, seakan menghitung mundur ke detik penyerahan. Olivia meremas rok lusuhnya lebih erat, tubuhnya gemetar. Kenangan masa kecilnya yang singkat-tawa kecil, cahaya hangat matahari-terasa jauh, seolah milik orang lain.
Tiba-tiba suara klakson terdengar dari luar. Panjang, berat, memecah kesunyian. Olivia terlonjak. Pram menegakkan tubuhnya, wajahnya menyeringai puas.
"Itu dia," katanya pelan, seperti iblis yang baru saja membuka pintu neraka.
Ratna melangkah ke jendela, menyingkap tirai sedikit. Matanya berbinar. "Mereka datang."
Olivia berdiri spontan, tapi tangannya segera diraih kasar. Pram menyeretnya keluar kamar, langkahnya berat tapi penuh kuasa. Olivia meronta, "Lepaskan! Aku tidak mau! Aku bukan milik kalian!"
"Diam, pelacur kecil!" Pram menggeram, mendorong tubuh Olivia hingga hampir tersungkur di lantai berdebu. Ratna menutup pintu rumah dengan cepat, lalu menyusul, wajahnya dingin tanpa rasa iba.
Udara malam menusuk kulit Olivia saat mereka mendorongnya keluar. Di depan rumah berdiri sebuah mobil hitam mengkilap-terlalu mewah untuk lingkungan kumuh ini. Kaca jendelanya gelap, seperti mata iblis yang menatap. Mesin masih menyala, suara bergetar rendah seperti hembusan napas predator.
Olivia terhuyung saat Pram mendorongnya mendekat. Pintu mobil terbuka perlahan dari dalam.
"Masuk," suara Ratna terdengar dingin, tanpa keraguan sedikit pun.
"Aku tidak mau! Tolong... jangan!" Olivia berteriak, suaranya pecah. Tapi jeritan itu tertelan keheningan gang sepi. Tak ada tetangga yang berani peduli. Tak ada yang mau melawan uang.
Pram meraih lengannya lebih keras, menyeretnya hingga ia jatuh menubruk kursi kulit di dalam mobil. Nafas Olivia tersengal, tubuhnya bergetar. Ia merasakan udara di dalam mobil jauh lebih dingin, penuh aroma wangi asing yang menusuk hidungnya.
Pintu menutup dengan bunyi dentum berat. Gelap menyelimuti.
Dengan gemetar, Olivia menoleh ke kursi belakang. Di balik bayangan lampu jalan yang redup, ia melihat sosok seorang pria tua duduk tegak, wajahnya tak sepenuhnya terlihat, tapi rambutnya memutih, tubuhnya besar, dan tatapannya terasa menusuk.
Darah Olivia membeku.
Udara di dalam mobil begitu pekat, seolah setiap helaan napas Olivia menambah berat beban di dadanya. Mesin meraung lembut, dan kendaraan hitam itu melaju perlahan meninggalkan gang kumuh tempat ia dilahirkan dan dibesarkan. Lampu-lampu jalan yang redup berkelebat cepat, menimbulkan bayangan panjang yang menari-nari di kaca jendela gelap.
Olivia duduk kaku, tubuhnya terhimpit di antara kursi kulit yang terlalu empuk untuk dirinya yang terbiasa dengan kerasnya lantai kayu rumah reyot. Jemarinya meremas rok lusuh, matanya tak berani menatap lurus. Bayangan sosok pria tua di kursi belakang masih menekan batinnya. Ia tak berani mengangkat kepala, takut jika tatapannya bersirobok dengan mata yang mungkin penuh nafsu sekaligus kekuasaan.
Mobil melaju mulus, namun di dalam dirinya, dunia berguncang hebat.
"Apakah ini takdirku?" bisiknya dalam hati.
Sejak kecil, Olivia selalu percaya pada janji-janji manis ibu tirinya, Ratna. Janji bahwa suatu hari hidup mereka akan lebih baik. Bahwa jika Olivia patuh, tekun, dan berusaha, keberuntungan akan datang. Bahwa suatu saat ia bisa keluar dari rumah penuh pertengkaran itu.
Tapi semua itu hanya fatamorgana.
Ia masih ingat jelas, ketika usianya baru enam belas tahun, Ratna pernah menatapnya dengan senyum palsu sambil berkata, "Kau adalah harapan keluarga ini, Liv. Kalau kau menuruti kami, aku akan pastikan kau mendapatkan hidup yang layak."
Kenyataannya, "hidup layak" yang dijanjikan itu kini berarti menjual kehormatan. Bukan masa depan, melainkan neraka.
Olivia menggigit bibir bawahnya, menahan tangis. Rasa asin darah bercampur dengan getir di lidahnya. Ia tahu, menangis tak akan menyelamatkan dirinya. Tapi menahan air mata juga terasa mustahil.
Suara pria yang duduk di kursi belakang terdengar samar-batuk kecil, napas berat. Olivia merinding. Bayangan itu makin nyata di kepalanya. Ia membayangkan tangan-tangan kasar yang akan menjamah tubuhnya, napas basi yang akan menyapu wajahnya.
Tubuhnya gemetar. Ia menyandarkan kepala ke jendela, menatap kilatan lampu jalan yang melintas. Ia ingin berlari keluar, tapi pintu terkunci. Ia ingin berteriak, tapi tak ada yang akan mendengar.
Apakah hidupku hanya akan berakhir di sini? pikirnya putus asa. Seandainya Ibu masih ada, mungkin semuanya akan berbeda.
Seketika, wajah almarhum ibunya muncul dalam ingatan. Wanita lembut yang dulu sering menyisir rambutnya sambil bersenandung pelan. Wanita yang selalu berkata, "Olivia, kau harus kuat. Hidup tidak pernah adil, tapi kau bisa memilih untuk tetap berdiri."
Air mata mengalir tanpa bisa dibendung.
Tapi sejak ibunya meninggal, dunia runtuh. Pram masuk ke rumah sebagai ayah tiri, membawa kebiasaan buruknya, lalu Ratna-yang seharusnya menjadi pengganti ibu-justru menjelma monster yang lebih kejam.
Olivia mengingat janji Ratna yang terakhir: "Kau hanya perlu melakukan ini sekali saja. Setelah itu, utang lunas, dan kau bebas. Kau akan kubiarkan hidup tenang."
Sekali.
Sekali saja, katanya.
Tapi Olivia tahu itu kebohongan. Ratna tak pernah menepati janji. Janji-janji itu hanyalah tali yang semakin menjerat lehernya.
Mobil berbelok ke jalan lebih sepi. Lampu kota menghilang, digantikan kegelapan pekat. Pohon-pohon besar menjulang di sisi jalan, bayangannya menutupi pandangan. Olivia semakin panik. Ke mana mereka membawanya?
Ia mengintip melalui kaca samping, tapi hanya terlihat jalan panjang tanpa penghuni. Jauh dari pusat kota, jauh dari mata siapa pun.
Jika aku berteriak sekarang... pikirnya. Lalu ia sadar, tak ada gunanya. Tidak ada yang akan mendengar.
Hening terasa menyesakkan. Hanya suara mesin dan detak jantungnya sendiri yang menemani.
Olivia menutup mata, mencoba mengatur napas. Namun semakin ia mencoba tenang, semakin sesak rasanya. Bayangan masa depan yang menunggunya membuat tubuhnya lumpuh.
Ia ingin percaya bahwa masih ada keajaiban. Tapi keajaiban tak pernah datang pada orang sepertinya.
Detik demi detik berjalan lambat, seperti jarum jam yang disengaja menunda ajalnya.
Tiba-tiba, mobil melambat. Olivia terlonjak. Jalan di luar semakin gelap, hanya ada satu lampu jalan yang berkedip samar. Suara kerikil berderak di bawah ban mobil saat kendaraan itu masuk ke sebuah halaman luas.
Jantung Olivia berdetak kencang. Nafasnya memburu.
Di sinilah aku akan diserahkan...
Mobil berhenti dengan hentakan kecil. Sunyi yang mencekam kembali jatuh, menutup dirinya rapat.
Pintu depan terbuka, lalu menutup dengan suara keras. Olivia menahan napas, tubuhnya menegang. Beberapa detik kemudian, pintu di sampingnya terbuka paksa. Tangan kasar meraih lengannya, menariknya keluar.
"Tidak! Lepaskan aku!" jeritnya putus asa, meronta sekuat tenaga. Tapi genggaman itu terlalu kuat.
Udara malam menusuk tulang saat Olivia diseret di atas tanah berbatu. Suara langkah kaki bergema di antara kesunyian, dan di hadapannya berdiri sebuah bangunan tua-gudang besar dengan dinding besi berkarat, pintu besarnya menganga seperti mulut raksasa yang siap menelannya.
Olivia menatap dengan ngeri, tubuhnya gemetar hebat.
Gudang itu gelap, hanya sedikit cahaya rembulan yang menyingkap bayangannya. Angin malam berhembus melalui celah-celah besi berkarat, membawa aroma karat dan debu yang menusuk hidung.
Ia diseret semakin dekat, kakinya menyeret tanah, lututnya tergores.
"Tidak... tolong..." bisiknya lirih, nyaris tak terdengar.
Namun tak ada belas kasihan. Pintu besi berderit saat didorong, suaranya melengking, memecah malam.
Udara gudang itu bagai racun. Sesaat setelah pintu besi menutup rapat di belakangnya, Olivia merasa seolah dirinya telah dikubur hidup-hidup. Gelap melingkupi dari segala arah, hanya sedikit cahaya lampu kuning redup di sudut ruangan yang berkelip-kelip, seolah akan mati kapan saja.
Kakinya goyah, tubuhnya limbung. Ia masih bisa merasakan sakit di pergelangan tangannya akibat seretan kasar sebelumnya. Nafasnya memburu, dan dalam keremangan itu, ia sadar ada bayangan besar yang berdiri tak jauh di depannya.
Seorang pria tegap.
Olivia tak mampu mengukur tinggi badannya secara tepat, tapi bayangan yang terpantul dari cahaya redup itu sudah cukup untuk menebarkan aura mengintimidasi. Bahunya lebar, tubuhnya padat, otot-ototnya tampak mengeras di balik kemeja hitam ketat yang dikenakan. Tatapan matanya dingin, tak berperasaan, seolah ia hanya alat yang diciptakan untuk satu tujuan: mengikat dan menyerahkan.
"Pegang ini," perintah seseorang di belakang Olivia-suara berat yang ia kenali sebagai pria yang menyeretnya masuk.
Pria tegap itu maju selangkah, dan tanpa berkata apa pun, ia meraih lengan Olivia. Sekejap kemudian, tubuhnya didorong ke depan dengan kasar. Olivia terhuyung, hampir jatuh, tapi sebelum lututnya menghantam lantai semen yang dingin, tangan keras itu sudah lebih dulu menahan, lalu menariknya kasar.
"A-aku mohon... jangan...," suara Olivia pecah, parau, namun sia-sia.
Pria tegap itu tidak menggubris. Dengan cekatan, ia meraih kedua pergelangan tangan Olivia, melipatnya ke belakang, lalu mengikat dengan tali kasar. Gesekan tali menorehkan kulitnya, meninggalkan rasa perih yang membuat tubuhnya semakin gemetar.
Jeritan tertahan lolos dari bibir Olivia. Ia mencoba meronta, namun kekuatannya hanyalah debu di hadapan genggaman yang sekeras baja itu. Ikatan semakin kencang, dan Olivia tahu ia tak lagi punya harapan untuk melarikan diri.
"Lepaskan aku... tolong..." air matanya mengalir. Ia tidak peduli jika wajahnya basah. Hanya ada ketakutan yang membuncah, menelan harga dirinya sedikit demi sedikit.
Namun tidak ada belas kasihan.
Tanpa peringatan, kain hitam pekat melingkupi wajahnya. Pria tegap itu menutup mata Olivia dengan penutup mata, lalu menarik ikatannya di belakang kepala.
Gelap.
Sekali lagi, Olivia tenggelam dalam kegelapan mutlak. Tak ada cahaya. Tak ada arah. Hanya napasnya sendiri yang terengah, berbaur dengan detak jantung yang menggedor-gedor dadanya.
Ketika penglihatannya direnggut, telinganya menjadi lebih peka. Ia mendengar suara langkah kaki berkeliling, suara derit besi, bahkan hembusan angin yang menyusup lewat celah dinding gudang. Namun yang paling membuat tubuhnya kaku adalah suara itu.
Suara seorang pria tua.
"Hmm..." Suaranya serak, rendah, dan penuh kuasa. "Anak ini akhirnya tiba juga."
Olivia membeku. Suara itu menggema di ruang besar, menusuk gendang telinganya, lalu merayap ke seluruh tubuh. Ia tak bisa melihat wajahnya, tapi cukup dengan suara itu saja, ia merasa seolah sedang berdiri di hadapan sosok yang lebih mengerikan daripada mimpi buruk terkelamnya.
Pria tua itu mendekat. Olivia tahu dari langkah yang semakin jelas terdengar, dari hawa panas napasnya yang tiba-tiba terasa di dekat wajahnya. Bau khas-campuran tembakau, obat-obatan, dan sesuatu yang basi-menyerang hidungnya, membuatnya mual.
"Cantik..." bisik pria itu. Nafasnya terasa di telinga Olivia, membuat kulit tengkuknya meremang. "Muda... segar... lebih dari yang kubayangkan."
Olivia menahan napas. Ia ingin berteriak, tapi pita suaranya seolah tercekik. Ia ingin mundur, tapi pria tegap di belakangnya masih memegang tubuhnya kuat-kuat, menahannya agar tak melangkah ke mana pun.
"Kau tahu?" lanjut pria tua itu, suaranya berubah jadi lirih, hampir seperti bisikan mesra namun penuh racun. "Banyak gadis yang rela mati hanya untuk mendapatkan perhatian dariku. Tapi kau... kau lebih dari sekadar beruntung. Kau dipersembahkan langsung ke tanganku."
Perut Olivia berputar. Ia merasakan mual yang mendesak, seolah isi perutnya ingin keluar begitu saja. Air matanya mengalir deras, menetes melewati dagu dan jatuh ke lantai dingin.
"T-tidak...," bisiknya lirih. "Jangan... aku mohon..."
Tawa kecil lolos dari bibir pria itu. Tawa rendah, berat, penuh kemenangan. "Dia milikku sekarang."
Dan tepat ketika Olivia merasa seluruh harapannya padam, dunia mendadak berguncang.
-BRAK!
Pintu besi gudang terbuka keras, menghantam dinding. Suara dentumannya menggema panjang, membelah keheningan yang menyesakkan. Cahaya dari luar menembus masuk, menampar kegelapan yang selama ini menelan Olivia.
Satu detik kemudian, suara dentuman lain terdengar. Bukan sekadar pintu. Bukan sekadar langkah.
Dentuman keras, tajam, menghentak telinga. Seperti ledakan kecil.
Olivia terlonjak. Seluruh tubuhnya membeku, napasnya tercekat. Ia tidak tahu apa yang baru saja terjadi. Yang ia tahu, dunia yang tadi sudah kelam kini tiba-tiba berubah lebih mencekam.