Bab 2

“Sudah pukul tujuh. Aduh, itu berarti aku harus sudah pergi menuju ke kantor Tuan Arthur saat ini,” bisik Eva. Atau seharusnya gadis itu sudah berada di dalam kantor Arthur demi menyerahkan laporan bulanan yang baru selesai dia kerjakan itu. “Apalagi Tuan Arthur adalah CEO yang sangat perfeksionis, yang sangat disiplin, dan juga sangat mematikan. Huh, aku tidak berani membayangkannya.”

Dengan gerakan tergopoh-gopoh dan juga kebingungan, Eva menyambar hasil laporan bulanan miliknya. Lalu dengan langkah kaki secepat kilat gadis itu segera menuju pada satu-satunya undakan tangga di ruangan tersebut. Tangga itu akan mengantarkan Eva secara langsung menuju ke kantor milik Arthur.

Sempat tersandung, dan juga lutut menghantam pada tangga besi di bawahnya. Beberapa kali Eva juga terseok seperti terkena serangan lumpuh dalam sekejab. Saat itu dia sudah hampir menangis.

“Aku mau pulang saja,” erang gadis itu menyeka matanya yang masih kering. “Aku ingin tinggal saja bersama Ibu.” Akan tetapi itu hanya impian belaka karena saat ini dia harus berhadapan dengan seorang pemimpin perusahaan paling diktator di perusahaan di mana dia bekerja.

Di puncak tangga, Eva sempat tersengal kelelahan. Rasanya, semua udara di dalam paru-paru miliknya telah terenggut dari dalam tubuhnya. Rasanya, Eva ingin pingsan di tempat, bersama tubuhnya yang lemah dan berkeringat yang kini bersandar pada tembok kantor berwarna putih di belakangnya.

Di tengah itu tiba-tiba saja pintukantor milik Arthur terbuka. Nampaklah Arthur yang berdiri angkuh di luar pintu. Kedua lengan jatuh bebas di udara, dan mata memandang keji pada Eva yang tiba-tiba merasakan aura dingin menusuk pada tulang belakangnya.

“Tu-Tuan Arthur!” gagap Eva tanpa sadar di posisinya berdiri saat ini. Setelah pundaknya melompat karena terlalu kaget, kini Eva sudah berjalan cepat dengan wajah menunduk demi mendekati Arthur. ‘Bersikaplah biasa saja, Eva! Jika kau ingin segera keluar dari ruangan itu dan jika kau tidak ingin berlama-lama dengan CEO-mu yang galak itu, maka kau harus bersikap seperti biasa saja!’

“Masuk!” singkat Arthur pada gadis itu. Gila, bahkan suaranya saja seperti petir yang sudah menghancurkan keberanian Eva.

Eva benar-benar bisa menjadi gadis paling pengecut di depan Arthur, tapi justru itulah hal yang paling wajar. Tidak ada yang akan berani melawan kebengisan Arthur yang sangat keji.

“Ini laporan harian bulan ini, Tuan.” Setelah masuk dengan mengekori langkah tegap dan tegas milik Arthur, Eva menyerahkan laporan itu di atas meja Arthur. Dorongan pelan dan patah-patah milik Eva menggambarkan ketakutan terdalam milik gadis muda itu.

“Duduk!” perintah Arthur. Wajahnya masih tidak berekspresi sama sekali, seakan dia memiliki kelainan pada syaraf wajahnya. Akan tetapi jika memang begitu lalu kenapa Arthur bisa terlihat sangat bengis dan kejam? Belum lagi matanya yang sangat dingin dan beku, dan seringai mengerikan yang selalu dia tampilkan di depan Eva.

Sekarang hanya keheningan yang tersisa dan menyelimuti. Itu justru terdengar lebih mengancam lagi, apalagi napas Eva yang sedari tadi tidak bisa ditahan agar tidak tersengal. Pacuan jantungnya semakin menggila apalagi kala dia diam-diam melihat telapak tangan kekar milik Arthur yang kini sibuk membolak-balik kertas laporan miliknya, seolah mencoba mencari celah untuk membunuh Eva.

Eva tau bahwa laporan itu belum selesai diperiksa, akan tetapi jemari Arthur berhenti untuk membaliknya.

GLEK! Ini pasti ada masalah. Eva ingin menanyakan apa kesalahannya. Akan tetapi, sial, suaranya terlalu susah untuk dikeluarkan. Bahkan hanya untuk mendongak dan menatap langsung pada mata Arthur saja dia tidak berani.

“Napasmu,” gerung Arthur, yang saat ini membuat Eva seperti mendapat hantaman kapak di kepalanya.

‘Napasku? Ada apa dengan napasku?’ Eva menggigil di dalam hati.

“Terlalu keras,” sambung Arthur. “Aku tidak bisa berkonsentrasi. Apa kau sengaja melakukan itu untuk menggodaku?”

HAH?

Eva mendongak secara reflek. Secara mendadak gadis itu melupakan betapa takut dirinya pada sosok CEO yang berada di depannya untuk saat ini. Wajah Eva masih pucat pasi, dengan kepalanya yang kini menggeleng keras. “Ti – tidak. Bukan begitu. Saya….”

Eva terbatuk, karena kesulitan bernapas. Gadis itu megap-megap dan matanya melirik sekilas pada Arthur yang duduk tak peduli sembari melihatnya. ‘Apa dia gila? Aku bisa saja mati di depannya. Kenapa dia tidak terlihat cemas sedikit pun?’

Tak lama kemudian Eva bisa menenangkan dirinya sendiri, batuk sudah reda akan tetapi sebagai konsekuensinya tenggorokannya kini serasa perih. Sembari memegang tenggorokannya dengan canggung Eva berkata, “Ma – maaf, Tuan. Saya – saya sedang tidak enak badan.”

Hening kembali.

‘Tamat sudah,’ pikir Eva. ‘Aku pasti akan dikeluarkan dari perusahaan ini. Tidak ada yang lebih masuk akal dari itu, apalagi jika CEO-ku itu memang tidak menyukaiku sejak awal.’

Mungkin Eva yang kurang kompeten dan maka dari itu Arthur berusaha menyingkirkan Eva secara terselubung.

Diam-diam gadis itu sudah mempersiapkan diri. Eva juga sudah memikirkan barang-barang apa yang akan dia kemas terlebih dahulu, dan kemana dia akan mencari lowongan selanjutnya.

Di tengah itu semua tiba-tiba Arthur meletakkan laporan Eva di atas meja. Lelaki itu menyingkirkan laporan itu, menggesernya ke tepi sampai di ujung sikunya. Kini dia mengatupkan kedua tangan di atas meja, itu pose yang sangat mengancam.

Tengkuk Eva merinding dan tulang punggungnya tiba-tiba menggigil.

“Tanggal berapa besok?” tanya Arthur tiba-tiba. Di tengah kesenyapan ini, suaranya yang serak dan berat terdengar seperti genderang perang bagi Eva.

Gadis itu segera menegakkan tubuhnya yang layu dan gemetar. “Tanggal empat belas, Tuan.”

“Ada perayaan?”

“Eh…” Di dalam pikiran Eva, Arthur mungkin sedang menanyakan mengenai perayaan perusahaan, atau perayaan hari nasional negara yang berhubungan dengan kepahlawanan, atau bisa jadi mengenai perayaan soal bisnis dan hal-hal ekononi. Jadi gadis itu berkata, “Tidak, Tuan.”

“Lalu kenapa aku melihat banyak orang sibuk membeli cokelat dan benda-benda warna merah muda?”

“Ooooh, pasti – pasti maksud Anda hari valentine. Eh, iya – iya besok adalah perayaan valentine, Tuan.” Eva berdeham demi menurunkan air ludahnya yang mengganjal di tenggorokan.

Mata dalam dan pekat milik Arthur menyisiri sosok Eva di depannya. Masih tanpa ekspresi CEO itu tidak melepaskan Eva sedikit pun yang saat ini gemetar seperti anak ayam yang kedinginan. “Kau punya kekasih?”

Heh? Eva mulai gelagapan sendiri. Ada apa sebenarnya ini? Arthur pasti memiliki sebuah tujuan terselubung. Oh, mungkinkan Arthur menangkap kinerja Eva yang tidak memuaskannya, maka dari itu CEO tersebut menduga bahwa semua ini terjadi karena Eva lebih fokus pada asmaranya? Iya, bisa saja begitu. Bisa saja Arthur menganggap Eva tidak bisa memisahkan urusan pribadi dengan pekerjaan. Ini tidak bisa dibiarkan. Eva harus menjelaskan.

“Tidak, Tuan. Saya tidak memiliki kekasih,” jelas Eva mulai menggelora. Sepanjang dia masih bisa mempertahankan pekerjaan bergengsi ini maka dia akan melakukan apa pun yang dia bisa. Masih banyak uang yang harus dia tabung, dan masih banyak anggota keluarga yang harus dia hidupi. “Selama ini saya masih lajang. Jika Anda berpikir bahwa….”

“Bagus,” sela Arthur. Dia tidak ingin mendengarkan jawaban atau penjelasan lanjutan dari Eva. Kini wajahnya condong ke depan sedikit, terlihat sangat tertarik.

Dan tak lama kemudian Arthur pun berdiri, berjalan menuju ke arah Eva. Gerakan tubuh tinggi semampainya saja seperti penguasa yang mematikan. Eva masih mempertahankan penilaiannya soal Arthur mengenai yang satu itu, dan Eva tidak sendirian.

Melihat Arthur yang mendekat tentu memberikan ancaman bagi Eva. Gadis itu beringsut mundur walau dia sama sekali tidak bisa bergerak banyak di atas kursi itu.

‘Ke-kenapa ini?’ gagap Eva di dalam hati. ‘Kenapa Tuan Arthur mendekatiku seperti itu?’

Apalagi saat menemukan Arthur sudah duduk di tepian mejanya sendiri dan kini berada pada jarak sangat dekat dengan Eva. Ujung lutut Arthur sendiri sudah menyentuh lengan ramping sebelah kanan milik Eva.

Eva menelan ludah dengan gugup. Matanya yang setengah mati melirik pada sepatu mengkilap milik Arthur. ‘Dia tidak akan mencekikku tiba-tiba kan?’ gagap Eva di dalam hati.

Tangan kekar Arthur terulur, meliuk dan jatuh pada dagu milik Eva. Dalam gerakan pelan CEO itu mencubit dagu tersebut, memaksa Eva untuk menatap mata Arthur secara langsung, memaksa Eva untuk menghilangkan kesenjangan di antara mereka berdua.

Dalamnya mata Arthur terlihat mengerikan untuk diarungi, jadi Eva menunduk tak berani mendongak. Akan tetapi karena keputusannya itu, justru membuat Arthur semakin memaksa wajah Eva untuk mendongak ke atas, memaksa gadis itu untuk menancapkan pandangannya pada mata Arthur.

Eva menurut. Dengan tenggorokan tercekat gadis itu melihat langsung pada mata Arthur, dan rasanya adalah mengerikan.

Arthur mendekatkan wajahnya perlahan. Dalam jarak sepuluh senti sebelum dia bisa menyentuhkan kulit wajahnya dengan kulit wajah Eva, CEO itu berbisik, “Jadilah pacarku!”

***

Bab 3

“Jadilah pacarku!” ujar Arthur pada Eva. Di wajah CEO itu tidak tergambar ekspresi lain kecuali hanya keseriusan.

Kontan saja itu membuat Eva tercenung, seperti terhipnotis. Kata-kata itu tak ubahnya gasing yang terus berputar di dalam pikiran dan telinga Eva.

“Jadilah pacarku! Jadilah pacarku! Jadilah pacaraku!”

‘Tidak!’ geleng Eva di dalam hati, bertempur dengan imajinasinya sendiri. ‘Itu hanya mimpi, mimpi yang sangat buruk.’ Lalu dia menganggukkan kepalanya. ‘Aku harus bangun, jika tidak nyawaku akan terancam. Tuan Arthur pasti siap untuk menghancurkanku nanti.’

“Haha.” Seperti orang gila, kini hanya tawa kecil yang bisa Eva keluarkan dari bibir penuh merekah miliknya. Dagunya yang masih mendapat cubitan dari jemari Arthur kini tiba-tiba saja menjadi memucat, menjalar hingga ke seluruh bagian wajahnya yang cantik, apalagi kala melihat betapa kelam dan mengancamnya tatapan Arthur padanya untuk saat ini.

“Eh, apa laporan saya sudah selesai Anda periksa, Tuan?” Pertanyaan bodoh yang dilontarkan oleh Eva itu hanya akan menyulut emosi Arthur hingga bisa meledakkan kantor itu. Akan tetapi hanya saja Eva tidak punya pilihan, demi menghindari satu kata yang sejujurnya sangat tidak mungkin diucapkan oleh Arthur Raymond Blade, dan juga demi menghindari hal buruk jika ternyata ini bukanlah mimpi.

Masih mencubit dagu Eva, Arthur semakin memberikan ekspresi yang sangat pekat. Mendung mendekat, mengumpulkan aura badai dan petir yang siap mengguncang. Hidung sempit dan runcing milik Arthur kini melebar, seperti tengah menyemburkan kemarahan. “Kau berani mengalihkan pembicaraan?” Sudut mata Arthur berkedut, menandakan bahwa apa yang telah dilakukan oleh Eva jauh dari kata bisa ditolerir.

Eva semakin beringsut takut, menghimpitkan punggung lebih dekat pada ujung kursi. Pinggulnya bergerak tak nyaman dengan wajah yang sedang berusaha menghindari kuasa Arthur. “Sa – saya – saya….” Degup jantung menggila lagi, dan jangan salahkan Eva karena hal itu. Tubuhnya juga sudah menggigil lebih parah apalagi kala melihat mata Arthur yang tiba-tiba saja memerah.

Kantor Arthur adalah kantor paling dingin di antara kantor yang lain, karena CEO itu memang sangat suka menyetel suhu ruangan di bawah setelan karyawan yang lain. Akan tetapi meski begitu kepala Eva rasanya sangat pengap hingga membuat gadis itu mengucurkan keringat sangat berlebihan. Hantaman pada dua suhu yang berlawanan!

Melihat Eva yang terlihat menderita dalam ketakutan telah membuat Arthur melunak. Jemarinya kini melepaskan dagu gadis itu dengan pelan, dan sejujurnya agak sedikit kasar. Apa yang telah dilakukan Eva padanya jelas-jelas sebuah penolakan halus. Dan bagaimana bisa seorang lelaki pewaris kekayaan paling besar di dalam negeri, yang kini mampu mendirikan perusahaannya sendiri, ditolak mentah-mentah oleh seorang gadis?

Dan parahnya gadis itu adalah gadis semacam Eva? Yang prestasinya tidak terlihat sama sekali, yang jenjang kariernya lempeng-lempeng saja, dan kecantikannya tidak terlalu diakui oleh banyak orang? Kenapa bisa begitu? Tentu saja harga diri Arthur seketika terluka, CEO itu merasa diinjak-injak. Arthur tidak terima.

“Aku tau kau mendengar ucapanku tadi,” desis Arthur. Meski suaranya merendah, tetap saja itu tidak menyurutkan kesan mendominasi yang tajam di dalam dirinya. “Dan aku menunggumu.”

Gila! Jika ini adalah sebuah pertunjukan maka pasti orang-orang akan membayar mahal demi menontonnya. Diam-diam Eva melirik ke sekeliling, demi menemukan kamera pengawas. ‘Siapa tau saja ini hanya prank dan jebakan kan? Mungkin saja para petinggi perusahaan sedang menikmati pertunjukan ini? Tapi kenapa mereka melakukan ini? Untuk apa? Apakah untuk membuat skandal agar aku bisa didepak?’ pikir Eva. Lagi-lagi hasilnya sama saja. Gadis itu tidak bisa menghindari kemungkinan dipecat dari perusahaan.

Arthur rupanya menyadari ke arah mana pandangan mata Eva mengarah. Timbul banyak kecurigaan tak berdasar di dalam pikiran Arthur sekarang ini sampai dia akhirnya menuduh Eva, “Apa kau berusaha mencari bantuan agar bisa lari dariku?” Arthur mengatakannya dengan bengis, terdengar tidak suka.

Eva mengerjabkan matanya beberapa kali dengan gerakan yang sangat cepat. Kemudian dia memikirkan ucapan Arthur yang tiba-tiba saja memberinya inspirasi. Lari! Itu adalah ide yang bagus.

“Ti – tidak. Bukan begitu, Tuan,” tunduk Eva sembari meremas jemarinya sendiri setelah dia menyadari betapa bodoh idenya soal lari itu. Jika Eva melakukannya maka bisa jadi gadis itu tidak akan bisa keluar dengan selamat.

Arthur pasti akan memanggil bagian keamanan demi mengamankan Eva. Atau Arthur bisa melakukannya sendiri mengingat betapa tinggi dan kekar tubuh lelaki itu. Dalam satu rengkuhan saja, Eva pasti tidak akan bisa menggerakkan tubuhnya lagi. Gadis itu kembali menggigil dan mulai meracau, “Sama sekali tidak, Tuan. Tidak, sungguh.”

“Tatap mataku!” perintah Arthur dengan sangat dingin.

Hal tersebut tentu membuat Eva semakin merasa kacau dalam kebingungan. Kenapa Arthur meminta Eva menjadi kekasihnya jika sampai sekarang Arthur masih bersikap begitu dingin dan keji padanya? Cinta harusnya dipenuhi dengan kehangatan dan kelembutan, seperti Jeremy.

Memaksakan keberaniannya, Eva kini mendongakkan wajah dan memandang langsung pada mata Arthur. Banyak belati yang serasa melesat dari manik mata CEO itu yang kini menyayat dan meruntuhkan kekuatan Evan.

“Aku akan memperingatkanmu sekali lagi. Jangan pernah berpikir untuk lari dariku! Dan kau harus mematuhi apa yang kukatakan tadi padamu!”

“Yang mana, Tuan?” serak Eva dengan gugup, akan tetapi dia tetap mencoba melawan ketakutannya sendiri agar kejelasan bisa dia dapatkan.

Arthur membuka mulutnya, hendak mengatakan sesuatu sampai akhirnya dia mengurungkan niatnya karena tiba-tiba saja lidahnya menjadi sangat kelu. Sial, menyatakan cinta pada seorang gadis ternyata memang sangat susah apalagi jika itu dilakukan untuk yang pertama kalinya.

Arthur mengibas tangannya di udara. “Aku tidak akan mengulang perintah itu lagi. Kau hanya perlu menurutinya.”

Di dalam hati Eva menggerutu, ‘Tidak bisa! Aku tidak bisa menjadi pacarmu! Aku sudah menyukai seseorang. Dia adalah Kak Jeremy, cintaku, manisku! Aku benci kau!’ Akan tetapi semua suara penuh kemarahan itu hanya bisa tertelan bersama kekalahan Eva. Pada akhirnya gadis itu hanya menunduk dan tidak bisa berbuat apa-apa.

Mengetahui bahwa kuasanya telah menyelimuti Eva dan membuat gadis itu berada di dalam genggamannya secara penuh, Arthur pun menyeringai. Inilah sensasinya saat dia mendapatkan Eva, seorang gadis yang akan membuat semua orang terheran-heran kepada Arthur, karena pasalnya CEO itu bisa mendapatkan jutaan gadis lebih baik dari Eva. Hanya saja hasrat Arthur melebihi penilaian orang lain.

“Kembalilah! Revisi lagi laporanmu, dan berikan padaku dua jam lagi!” Arthur membanting pelan laporan Eva di depan gadis itu.

Dengan sangat gugup Eva memberanikan diri untuk bertanya kembali, “Apa – apa kesalahannya masih sama, Tuan?” Eva hampir tersedak dan juga batuk berat kala itu jika saja dia tidak menata lidahnya sendiri agar berada pada posisi yang seharunya.

Bukannya menjawab secara langsung Arthur justru terkesan mempermainkan Eva. Melipat tangan kekarnya di depan dada bersama wajah yang datar dan dingin Arthur pun berkata, “Sudah berapa kali kau menyetor laporan padaku? Dan apa kau masih tidak bisa mengetahui letak kesalahanmu sendiri? Selama ini aku selalu mengawasimu dan kenapa pekerjaanmu TIDAK PERNAH BERES? HAH?” Semburan bertubi-tubi dari Arthur itu meledakkan jiwa Eva hingga membuatnya menjadi berkeping-keping.

Gadis itu sampai mencelos berkali-kali, menguatkan lututnya yang sudah serasa lumpuh. ‘Ini jelas bukan cinta! Ini pasti pembalasan dendam karena aku tidak pernah bekerja dengan baik di perusahaan ini,’ pekik Eva di dalam hati.

Kepalan tangan Eva tiba-tiba saja menguat. Setelah mendapati setetes keringat membasahi rok warna gelap miliknya Eva pun kembali mendongak. “Tuan, apa Anda melakukan ini semua karena membenci saya? Apa Anda ingin saya pergi dan mengundurkan diri dari perusahaan ini?”

Bagian bawah mata Arthur kembali berkedut kala mendengar pertanyaan bodoh dan omong kosong dari Eva. Bukankah tadi Arthur sudah mengancam Eva mengenai usaha untuk melarikan diri yang sangat dilarang oleh CEO itu? Lalu kenapa pertanyaan rendahan seperti ini bisa muncul?

Gigi Arthur bergemeretak, bersama matanya yang berair dan sangat merah karena emosi yang menggelegak. Nampaknya Arthur akan menghabisi Eva dengan semua amarahnya, sampai akhirnya Arthur mendapati wajah Eva yang pucat pasi kini menjauh dan pergi.

‘Lari!’ batin Eva menjerit. ‘Aku harus lari!’

Eva telah melarikan diri dengan langkah terseok dan nyaris menjatuhkan tubuhnya beberapa kali di atas lantai. Pintu bahkan dibanting oleh Eva yang diyakini pasti dilakukan karena ketidaksengajaan.

Mendapati Eva yang sudah pergi telah membuat tubuh Arthur menjadi sangat lemah. Tubuhnya jatuh di atas kursi secara mendadak, tangan memijit dahi sembari menutup mata. “Apa yang harus aku lakukan pada gadis itu?” desah Arthur. “Eva, berhentilah membuatku gila. Aku sungguh-sungguh menginginkanmu.”

***

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED