Bab 1

“Menjadi milikku adalah keharusan bagimu, karena aku menginginkan hal itu. Tubuhmu, jiwamu, setiap jengkal kulitmu. Hanya aku yang boleh memilikinya, dan hanya aku.”

Blade Corp, sebuah perusahaan multinasional yang sedang merangkak menuju nomor satu di dalam negeri. Akan terjadi sebuah insiden yang menggemparkan hari itu, ketika seorang gadis yang selalu menjadi bulan-bulanan CEO di perusahaan tersebut tiba-tiba dipaksa menjadi kekasih sang CEO.

Ini tentang Eva, seorang gadis yang selalu dipandang sebelah mata tiba-tiba saja menarik banyak sekali perhatian kala dia mampu membuat CEO-nya terobsesi padanya. Ini tentang Eva, yang bahkan nyaris tidak mengerti kenapa CEO-nya melakukan ini padanya, dan apa alasan di balik ini semua.

Ini tentang Eva, yang ingin melepaskan diri dari dominasi dan rasa obsesi yang menguasai CEO-nya.

Deret bangku departemen bagian penjualan sudah mulai sepi, apalagi pada musim akhir seasonal seperti sekarang ini. Ruangan kantor berbentuk cubicle yang berpetak-petak itu kini serupa labirin yang tak berpenghuni, walau masih terdengar suara ketukan keyboard jauh di sana.

“Senangnya mereka bisa pulang,” hela Evalina Megan Perth. Dia adalah salah satu karyawan paling junior di departemen tersebut. Wajahnya yang berbentuk oval itu kini seperti meleleh bersama semangatnya yang mulai surut.

Kepalanya melongok di atas meja kerjanya sendiri, melewati ujung ruang cubicle miliknya untuk melihat gerumbulan orang-orang yang sudah berarak di depan pintu keluar dan meninggalkan meja masing-masing. Bel pulang sudah berbunyi sekitar lima belas menit yang lalu, lautan manusia segera meledak setelah itu.

“Huh, apa yang bisa dilakukan karyawan junior dengan banyak pekerjaan sepertiku?” parau gadis berusia dua puluh tahun itu. Tangannya yang ramping dengan kuku jari yang lentik itu kini berdiri untuk menyangga wajahnya yang mulai pucat karena kelelahan bekerja.

Di tengah semua itu, seseorang menegur Eva, “Yang bisa kau lakukan hanyalah menyelesaikan laporan bulanan milikmu dan serahkan laporan itu pada Tuan Arthur.”

BLUSH! Belum apa-apa Eva sudah merona di tempatnya. Wajah pucat pasi layaknya mayat hidup miliknya telah mendapat pompaan darah dari jantungnya yang berdebar-debar. Eva tau suara itu, Eva tau suara yang menegurnya itu.

Dengan rona pipi yang sudah tidak bisa disembunyikan, Eva pun mendongakkan wajahnya pelan. Dalam kondisi normal dan bersemu seperti sekarang ini Eva layaknya seorang peri cantik yang sangat ramah, begitu berbeda dari yang tadi yang terlihat layu dan hampir meranggas.

“Oh, hai Kak Jeremy. Apa Kakak sudah mau pulang?” deham Eva dengan malu-malu setelah dia mampu merapikan rambutnya dengan gerakan kilat. Untuk menambah kesan manis dan imut, Eva sengaja menyelipkan rambut di belakang telinganya dengan manja.

Jeremy terkekeh geli. “Ya, aku memang akan pulang sekarang, dan sedihnya melihat juniorku harus tersiksa karena perintah langsung dari CEO-ku,” komentar Jeremy dengan tulus. Setelannya yang selalu rapi telah membalut sempurna tubuhnya yang sehat, yang agak padat karena otot. Senyumannya yang sangat manis itu seperti memberikan serbuk-serbuk sari pada Eva hingga membuat gadis itu berlinang air mata karena terharu.

‘Tampannya,’ leleh Eva bersama senyuman bodohnya.

Jeremy yang biasa mendapatkan perlakuan manis dari para gadis itu pun memaklumi reaksi berlebihan Eva, reaksi yang tak lain adalah tersenyum tanpa henti dengan mata kosong seperti berfantasi. Sekali lagi Jeremy tersenyum lalu menempuk pelan pundak Eva. Lelaki yang didaulat sebagai karyawan paling populer di perusahaan itu pun berkata, “Baiklah, aku pulang sekarang. Semoga pekerjaanmu lancar. Bye.”

“B – byeeee.” Eva seperti menjadi linglung seketika. Senyumannya yang bodoh tak lekas terhapuskan dari wajah cantik miliknya. Poninya yang menutupi dahi seolah memberikan hujan cinta penuh letupan merah muda yang diterbangi sayap kupu-kupu.

Eva tersentuh, dia jatuh cinta, dan semua itu karena Jeremy. “Gadis mana yang tidak akan jatuh cinta padanya?”

Di samping semua itu diam-diam seorang gadis lain tengah mengawasi Eva yang tengah kasmaran, dan juga Jeremy yang bereaksi biasa saja. Gadis itu adalah Sonia, teman dekat Eva di kantor tersebut. Sonia yang berperawakan tinggi bak model, ramping tapi terkesan kurus, dengan rambut ikal tak alami hasil salon kini mendekat pada meja Eva yang sudah tinggal lima langkah dari posisinya sekarang ini.

Tas branded warna hitam berbahan kulit buaya saat ini sedang Sonia tenteng. Dagunya mendongak dengan langkah kaki melenggak-lenggok bak model. Mungkin Sonia tengah lupa bahwa saat ini dia sedang berada di kantor, bukannya di atas catwalk.

Sonia melipat lengan panjangnya. Masih dengan dagu mendongak dia memandangi Eva yang tak bisa berhenti untuk melongok demi memandang kepergian Jeremy, si pujaan hati. Sekitar lima menit Sonia berdiri dalam diam, menjadi pengamat sampai akhirnya dia kehilangan kesabaran.

“Hey, hentikan lamunanmu itu! Kak Jeremy bisa langsung tau kalau kau menaksirnya. Kau mau membongkar rahasiamu sebelum valentine hah?” cerocos Sonia tanpa basa-basi, dia juga tidak memprediksi apakah nantinya Eva mendengar semua ocehannya atau sebaliknya.

Terkejut, Eva lantas membenahi posisinya. Dia juga merapikan rambut dan bajunya, seakan dia baru saja berbuat sebuah kesalahan. Setidaknya gadis itu mendengar teguran teman dekatnya yang bermulut blak-blakan.

“Oh iya aku lupa. Aduh, untung kau mengingatkan aku!” Eva tiba-tiba bingung sendiri. Dia meraba-raba meja kayu miliknya seolah dia buta. Tangannya turun demi menjelajahi laci meja dan lalu membukanya. Nampak sebuah kotak kado dengan bungkus warna biru di dalamnya, ada hiasan pita dan lalu tempelan surat bertuliskan, “Dear Kak Jeremy, From Eva.”

Eva menghembuskan napas sangat lega. “Untunglah kadonya masih di dalam laci.” Sambil memeluk kado itu, Eva tak berhenti mengucap syukur.

Sonia mencibir sendiri. Bibirnya yang penuh lipstick dengan riasan bold itu terlihat menyungging tak beraturan. “Tidak akan ada yang mencuri kado itu di dalam lacimu, jadi kau jangan memikirkan soal itu. Yang terpenting sekarang adalah kau harus mempersiapkan dirimu untuk mengakui perasaanmu pada Kak Jeremy besok malam.” Besok malam adalah hari valentine.

Melihat Sonia yang melipat lengan dan mendongak angkuh justru menghilangkan semangat Eva. Pasalnya adalah yang dia taksir sekarang itu seorang Jeremy, lelaki paling populer di perusahaan, yang digilai oleh seluruh gadis dari semua kalangan. “Aku tidak yakin. Aku hanya takut jika Kak Jeremy menolakku, atau dia sudah punya pacar.”

“Apa pun keputusannya dan apa pun yang terjadi kau tetap harus mencobanya. Tidak akan ada yang tau hasilnya kan? Sebagai teman dekat yang akan menjadi sahabatmu, aku selalu menendangmu dari belakang.”

Eva mengernyit, “Bukankah seharusnya mendorongku dari belakang ya?”

“Terserah aku, aku kan putrinya di sini.”

“Baik, Tuan Putri!” geleng Eva dengan agak menyindir. Tapi itu tidak membuat Sonia tersinggung sama sekali. Sonia adalah seorang gadis bermental baja dengan kepercayaan diri tak tertandingi.

“Ok, aku pulang dulu kalau begitu. Semoga berhasil dengan laporanmu malam ini, dan semoga kau berhasil dengan pernyataan cintamu besok.” Sonia berkedip, lalu mengecup pelan puncak kepala Sonia sebelum pergi.

“Sumpah dia tidak perlu melakukan itu,” desis Eva sembari melirik pada teman dekatnya itu, yang kini sudah berlenggak-lenggok bersama sepatu hak tinggi berwarna mencolok di kakinya.

Untuk beberapa saat gadis dengan rambut lurus hitam legam sebahu itu mencibiri Sonia tanpa henti. Eva juga menyebutkan semua keburukan Sonia dalam bisikan layaknya mantra yang sakti mandraguna, sampai seseorang mengetuk bagian luar meja bentuk cubicle miliknya, hingga membuat Eva mendongak dan kemudian membelalak.

Si pengetuk meja adalah Arthur Raymond Blade, yang merupakan CEO di perusahaan tersebut. Bukan hal lumrah bagi Arthur untuk turun langsung dan menemui seorang karyawan ecek-ecek seperti Eva, dan bukan hal yang lumrah bagi Arthur untuk tiba-tiba turun dan pergi memeriksa sendiri pada ruangan kantor para karyawan tersebut.

Jika Arthur mampu mengubah kebiasaannya, maka itu berarti bencana!

“Tu – Tuan Arthur!” Eva buru-buru berdiri. Semua semangatnya berkat Jeremy, dan semua energinya yang menggebu untuk menyumpahi Sonia kini telah surut. Bagai tikus yang terpojok di antara beribu predator, Eva hanya bisa menunduk bersama keringatnya yang tak bisa berhenti membasahi muka, tubuh, dan kepalanya. Wajahnya mulai pucat pasi dengan bibir yang tergigit penuh.

“Aku tunggu laporanmu satu jam lagi di ruanganku.” Hanya itu yang dikatakan oleh Arthur. Suara bass miliknya bisa mengancam dalam satu semburan paling lirih. Belum lagi matanya yang sangat dingin dan kelam di banyak kesempatan, dan wajahnya yang selalu pucat karena aura mengerikan miliknya.

Eva menelan ludah dengan kesulitan, bahkan Eva hampir tidak bisa bernapas kala merasakan ledakan jantungnya yang menggila, yang rasanya mempersempit paru-parunya. Dan ruangan kantor yang tadinya serasa gerah karena banyaknya pekerjaan yang menanti itu tiba-tiba terasa sangat dingin dan membeku, sampai membuat Eva kini menggigil pelan.

Jika Jeremy adalah surga dunia di perusahaan itu, yang bisa memekarkan kelopak paling rapuh di dalam hati Eva, maka Arthur adalah kebalikannya. CEO itu adalah neraka bagi Eva, dan mungkin bagi semua karyawan di perusahaan itu. Akan tetapi akhir-akhir ini nampaknya semua karyawan setuju bahwa hanya Eva yang mendapat neraka paling ganas dari Arthur.

Hal itu terjadi karena Arthur secara sengaja memberikan banyak pekerjaan melimpah tanpa henti pada Eva, hanya pada Eva, seakan CEO itu menaruh dendam paling pekat di seluruh bumi ini pada gadis itu, dan seakan Arthur ingin melihat kematian Eva di depan matanya demi bersiap untuk memakan dan melumat gadis itu.

Hanya Eva, hanya gadis itu, yang merasakan dominasi paling mematikan dari sang CEO. Hingga membuatnya ingin pergi dan melarikan diri, terlebih setelah Arthur menuntut Eva untuk menjadi kekasihnya suatu saat nanti.

***

Bab 2

“Sudah pukul tujuh. Aduh, itu berarti aku harus sudah pergi menuju ke kantor Tuan Arthur saat ini,” bisik Eva. Atau seharusnya gadis itu sudah berada di dalam kantor Arthur demi menyerahkan laporan bulanan yang baru selesai dia kerjakan itu. “Apalagi Tuan Arthur adalah CEO yang sangat perfeksionis, yang sangat disiplin, dan juga sangat mematikan. Huh, aku tidak berani membayangkannya.”

Dengan gerakan tergopoh-gopoh dan juga kebingungan, Eva menyambar hasil laporan bulanan miliknya. Lalu dengan langkah kaki secepat kilat gadis itu segera menuju pada satu-satunya undakan tangga di ruangan tersebut. Tangga itu akan mengantarkan Eva secara langsung menuju ke kantor milik Arthur.

Sempat tersandung, dan juga lutut menghantam pada tangga besi di bawahnya. Beberapa kali Eva juga terseok seperti terkena serangan lumpuh dalam sekejab. Saat itu dia sudah hampir menangis.

“Aku mau pulang saja,” erang gadis itu menyeka matanya yang masih kering. “Aku ingin tinggal saja bersama Ibu.” Akan tetapi itu hanya impian belaka karena saat ini dia harus berhadapan dengan seorang pemimpin perusahaan paling diktator di perusahaan di mana dia bekerja.

Di puncak tangga, Eva sempat tersengal kelelahan. Rasanya, semua udara di dalam paru-paru miliknya telah terenggut dari dalam tubuhnya. Rasanya, Eva ingin pingsan di tempat, bersama tubuhnya yang lemah dan berkeringat yang kini bersandar pada tembok kantor berwarna putih di belakangnya.

Di tengah itu tiba-tiba saja pintukantor milik Arthur terbuka. Nampaklah Arthur yang berdiri angkuh di luar pintu. Kedua lengan jatuh bebas di udara, dan mata memandang keji pada Eva yang tiba-tiba merasakan aura dingin menusuk pada tulang belakangnya.

“Tu-Tuan Arthur!” gagap Eva tanpa sadar di posisinya berdiri saat ini. Setelah pundaknya melompat karena terlalu kaget, kini Eva sudah berjalan cepat dengan wajah menunduk demi mendekati Arthur. ‘Bersikaplah biasa saja, Eva! Jika kau ingin segera keluar dari ruangan itu dan jika kau tidak ingin berlama-lama dengan CEO-mu yang galak itu, maka kau harus bersikap seperti biasa saja!’

“Masuk!” singkat Arthur pada gadis itu. Gila, bahkan suaranya saja seperti petir yang sudah menghancurkan keberanian Eva.

Eva benar-benar bisa menjadi gadis paling pengecut di depan Arthur, tapi justru itulah hal yang paling wajar. Tidak ada yang akan berani melawan kebengisan Arthur yang sangat keji.

“Ini laporan harian bulan ini, Tuan.” Setelah masuk dengan mengekori langkah tegap dan tegas milik Arthur, Eva menyerahkan laporan itu di atas meja Arthur. Dorongan pelan dan patah-patah milik Eva menggambarkan ketakutan terdalam milik gadis muda itu.

“Duduk!” perintah Arthur. Wajahnya masih tidak berekspresi sama sekali, seakan dia memiliki kelainan pada syaraf wajahnya. Akan tetapi jika memang begitu lalu kenapa Arthur bisa terlihat sangat bengis dan kejam? Belum lagi matanya yang sangat dingin dan beku, dan seringai mengerikan yang selalu dia tampilkan di depan Eva.

Sekarang hanya keheningan yang tersisa dan menyelimuti. Itu justru terdengar lebih mengancam lagi, apalagi napas Eva yang sedari tadi tidak bisa ditahan agar tidak tersengal. Pacuan jantungnya semakin menggila apalagi kala dia diam-diam melihat telapak tangan kekar milik Arthur yang kini sibuk membolak-balik kertas laporan miliknya, seolah mencoba mencari celah untuk membunuh Eva.

Eva tau bahwa laporan itu belum selesai diperiksa, akan tetapi jemari Arthur berhenti untuk membaliknya.

GLEK! Ini pasti ada masalah. Eva ingin menanyakan apa kesalahannya. Akan tetapi, sial, suaranya terlalu susah untuk dikeluarkan. Bahkan hanya untuk mendongak dan menatap langsung pada mata Arthur saja dia tidak berani.

“Napasmu,” gerung Arthur, yang saat ini membuat Eva seperti mendapat hantaman kapak di kepalanya.

‘Napasku? Ada apa dengan napasku?’ Eva menggigil di dalam hati.

“Terlalu keras,” sambung Arthur. “Aku tidak bisa berkonsentrasi. Apa kau sengaja melakukan itu untuk menggodaku?”

HAH?

Eva mendongak secara reflek. Secara mendadak gadis itu melupakan betapa takut dirinya pada sosok CEO yang berada di depannya untuk saat ini. Wajah Eva masih pucat pasi, dengan kepalanya yang kini menggeleng keras. “Ti – tidak. Bukan begitu. Saya….”

Eva terbatuk, karena kesulitan bernapas. Gadis itu megap-megap dan matanya melirik sekilas pada Arthur yang duduk tak peduli sembari melihatnya. ‘Apa dia gila? Aku bisa saja mati di depannya. Kenapa dia tidak terlihat cemas sedikit pun?’

Tak lama kemudian Eva bisa menenangkan dirinya sendiri, batuk sudah reda akan tetapi sebagai konsekuensinya tenggorokannya kini serasa perih. Sembari memegang tenggorokannya dengan canggung Eva berkata, “Ma – maaf, Tuan. Saya – saya sedang tidak enak badan.”

Hening kembali.

‘Tamat sudah,’ pikir Eva. ‘Aku pasti akan dikeluarkan dari perusahaan ini. Tidak ada yang lebih masuk akal dari itu, apalagi jika CEO-ku itu memang tidak menyukaiku sejak awal.’

Mungkin Eva yang kurang kompeten dan maka dari itu Arthur berusaha menyingkirkan Eva secara terselubung.

Diam-diam gadis itu sudah mempersiapkan diri. Eva juga sudah memikirkan barang-barang apa yang akan dia kemas terlebih dahulu, dan kemana dia akan mencari lowongan selanjutnya.

Di tengah itu semua tiba-tiba Arthur meletakkan laporan Eva di atas meja. Lelaki itu menyingkirkan laporan itu, menggesernya ke tepi sampai di ujung sikunya. Kini dia mengatupkan kedua tangan di atas meja, itu pose yang sangat mengancam.

Tengkuk Eva merinding dan tulang punggungnya tiba-tiba menggigil.

“Tanggal berapa besok?” tanya Arthur tiba-tiba. Di tengah kesenyapan ini, suaranya yang serak dan berat terdengar seperti genderang perang bagi Eva.

Gadis itu segera menegakkan tubuhnya yang layu dan gemetar. “Tanggal empat belas, Tuan.”

“Ada perayaan?”

“Eh…” Di dalam pikiran Eva, Arthur mungkin sedang menanyakan mengenai perayaan perusahaan, atau perayaan hari nasional negara yang berhubungan dengan kepahlawanan, atau bisa jadi mengenai perayaan soal bisnis dan hal-hal ekononi. Jadi gadis itu berkata, “Tidak, Tuan.”

“Lalu kenapa aku melihat banyak orang sibuk membeli cokelat dan benda-benda warna merah muda?”

“Ooooh, pasti – pasti maksud Anda hari valentine. Eh, iya – iya besok adalah perayaan valentine, Tuan.” Eva berdeham demi menurunkan air ludahnya yang mengganjal di tenggorokan.

Mata dalam dan pekat milik Arthur menyisiri sosok Eva di depannya. Masih tanpa ekspresi CEO itu tidak melepaskan Eva sedikit pun yang saat ini gemetar seperti anak ayam yang kedinginan. “Kau punya kekasih?”

Heh? Eva mulai gelagapan sendiri. Ada apa sebenarnya ini? Arthur pasti memiliki sebuah tujuan terselubung. Oh, mungkinkan Arthur menangkap kinerja Eva yang tidak memuaskannya, maka dari itu CEO tersebut menduga bahwa semua ini terjadi karena Eva lebih fokus pada asmaranya? Iya, bisa saja begitu. Bisa saja Arthur menganggap Eva tidak bisa memisahkan urusan pribadi dengan pekerjaan. Ini tidak bisa dibiarkan. Eva harus menjelaskan.

“Tidak, Tuan. Saya tidak memiliki kekasih,” jelas Eva mulai menggelora. Sepanjang dia masih bisa mempertahankan pekerjaan bergengsi ini maka dia akan melakukan apa pun yang dia bisa. Masih banyak uang yang harus dia tabung, dan masih banyak anggota keluarga yang harus dia hidupi. “Selama ini saya masih lajang. Jika Anda berpikir bahwa….”

“Bagus,” sela Arthur. Dia tidak ingin mendengarkan jawaban atau penjelasan lanjutan dari Eva. Kini wajahnya condong ke depan sedikit, terlihat sangat tertarik.

Dan tak lama kemudian Arthur pun berdiri, berjalan menuju ke arah Eva. Gerakan tubuh tinggi semampainya saja seperti penguasa yang mematikan. Eva masih mempertahankan penilaiannya soal Arthur mengenai yang satu itu, dan Eva tidak sendirian.

Melihat Arthur yang mendekat tentu memberikan ancaman bagi Eva. Gadis itu beringsut mundur walau dia sama sekali tidak bisa bergerak banyak di atas kursi itu.

‘Ke-kenapa ini?’ gagap Eva di dalam hati. ‘Kenapa Tuan Arthur mendekatiku seperti itu?’

Apalagi saat menemukan Arthur sudah duduk di tepian mejanya sendiri dan kini berada pada jarak sangat dekat dengan Eva. Ujung lutut Arthur sendiri sudah menyentuh lengan ramping sebelah kanan milik Eva.

Eva menelan ludah dengan gugup. Matanya yang setengah mati melirik pada sepatu mengkilap milik Arthur. ‘Dia tidak akan mencekikku tiba-tiba kan?’ gagap Eva di dalam hati.

Tangan kekar Arthur terulur, meliuk dan jatuh pada dagu milik Eva. Dalam gerakan pelan CEO itu mencubit dagu tersebut, memaksa Eva untuk menatap mata Arthur secara langsung, memaksa Eva untuk menghilangkan kesenjangan di antara mereka berdua.

Dalamnya mata Arthur terlihat mengerikan untuk diarungi, jadi Eva menunduk tak berani mendongak. Akan tetapi karena keputusannya itu, justru membuat Arthur semakin memaksa wajah Eva untuk mendongak ke atas, memaksa gadis itu untuk menancapkan pandangannya pada mata Arthur.

Eva menurut. Dengan tenggorokan tercekat gadis itu melihat langsung pada mata Arthur, dan rasanya adalah mengerikan.

Arthur mendekatkan wajahnya perlahan. Dalam jarak sepuluh senti sebelum dia bisa menyentuhkan kulit wajahnya dengan kulit wajah Eva, CEO itu berbisik, “Jadilah pacarku!”

***

Bab 3

“Jadilah pacarku!” ujar Arthur pada Eva. Di wajah CEO itu tidak tergambar ekspresi lain kecuali hanya keseriusan.

Kontan saja itu membuat Eva tercenung, seperti terhipnotis. Kata-kata itu tak ubahnya gasing yang terus berputar di dalam pikiran dan telinga Eva.

“Jadilah pacarku! Jadilah pacarku! Jadilah pacaraku!”

‘Tidak!’ geleng Eva di dalam hati, bertempur dengan imajinasinya sendiri. ‘Itu hanya mimpi, mimpi yang sangat buruk.’ Lalu dia menganggukkan kepalanya. ‘Aku harus bangun, jika tidak nyawaku akan terancam. Tuan Arthur pasti siap untuk menghancurkanku nanti.’

“Haha.” Seperti orang gila, kini hanya tawa kecil yang bisa Eva keluarkan dari bibir penuh merekah miliknya. Dagunya yang masih mendapat cubitan dari jemari Arthur kini tiba-tiba saja menjadi memucat, menjalar hingga ke seluruh bagian wajahnya yang cantik, apalagi kala melihat betapa kelam dan mengancamnya tatapan Arthur padanya untuk saat ini.

“Eh, apa laporan saya sudah selesai Anda periksa, Tuan?” Pertanyaan bodoh yang dilontarkan oleh Eva itu hanya akan menyulut emosi Arthur hingga bisa meledakkan kantor itu. Akan tetapi hanya saja Eva tidak punya pilihan, demi menghindari satu kata yang sejujurnya sangat tidak mungkin diucapkan oleh Arthur Raymond Blade, dan juga demi menghindari hal buruk jika ternyata ini bukanlah mimpi.

Masih mencubit dagu Eva, Arthur semakin memberikan ekspresi yang sangat pekat. Mendung mendekat, mengumpulkan aura badai dan petir yang siap mengguncang. Hidung sempit dan runcing milik Arthur kini melebar, seperti tengah menyemburkan kemarahan. “Kau berani mengalihkan pembicaraan?” Sudut mata Arthur berkedut, menandakan bahwa apa yang telah dilakukan oleh Eva jauh dari kata bisa ditolerir.

Eva semakin beringsut takut, menghimpitkan punggung lebih dekat pada ujung kursi. Pinggulnya bergerak tak nyaman dengan wajah yang sedang berusaha menghindari kuasa Arthur. “Sa – saya – saya….” Degup jantung menggila lagi, dan jangan salahkan Eva karena hal itu. Tubuhnya juga sudah menggigil lebih parah apalagi kala melihat mata Arthur yang tiba-tiba saja memerah.

Kantor Arthur adalah kantor paling dingin di antara kantor yang lain, karena CEO itu memang sangat suka menyetel suhu ruangan di bawah setelan karyawan yang lain. Akan tetapi meski begitu kepala Eva rasanya sangat pengap hingga membuat gadis itu mengucurkan keringat sangat berlebihan. Hantaman pada dua suhu yang berlawanan!

Melihat Eva yang terlihat menderita dalam ketakutan telah membuat Arthur melunak. Jemarinya kini melepaskan dagu gadis itu dengan pelan, dan sejujurnya agak sedikit kasar. Apa yang telah dilakukan Eva padanya jelas-jelas sebuah penolakan halus. Dan bagaimana bisa seorang lelaki pewaris kekayaan paling besar di dalam negeri, yang kini mampu mendirikan perusahaannya sendiri, ditolak mentah-mentah oleh seorang gadis?

Dan parahnya gadis itu adalah gadis semacam Eva? Yang prestasinya tidak terlihat sama sekali, yang jenjang kariernya lempeng-lempeng saja, dan kecantikannya tidak terlalu diakui oleh banyak orang? Kenapa bisa begitu? Tentu saja harga diri Arthur seketika terluka, CEO itu merasa diinjak-injak. Arthur tidak terima.

“Aku tau kau mendengar ucapanku tadi,” desis Arthur. Meski suaranya merendah, tetap saja itu tidak menyurutkan kesan mendominasi yang tajam di dalam dirinya. “Dan aku menunggumu.”

Gila! Jika ini adalah sebuah pertunjukan maka pasti orang-orang akan membayar mahal demi menontonnya. Diam-diam Eva melirik ke sekeliling, demi menemukan kamera pengawas. ‘Siapa tau saja ini hanya prank dan jebakan kan? Mungkin saja para petinggi perusahaan sedang menikmati pertunjukan ini? Tapi kenapa mereka melakukan ini? Untuk apa? Apakah untuk membuat skandal agar aku bisa didepak?’ pikir Eva. Lagi-lagi hasilnya sama saja. Gadis itu tidak bisa menghindari kemungkinan dipecat dari perusahaan.

Arthur rupanya menyadari ke arah mana pandangan mata Eva mengarah. Timbul banyak kecurigaan tak berdasar di dalam pikiran Arthur sekarang ini sampai dia akhirnya menuduh Eva, “Apa kau berusaha mencari bantuan agar bisa lari dariku?” Arthur mengatakannya dengan bengis, terdengar tidak suka.

Eva mengerjabkan matanya beberapa kali dengan gerakan yang sangat cepat. Kemudian dia memikirkan ucapan Arthur yang tiba-tiba saja memberinya inspirasi. Lari! Itu adalah ide yang bagus.

“Ti – tidak. Bukan begitu, Tuan,” tunduk Eva sembari meremas jemarinya sendiri setelah dia menyadari betapa bodoh idenya soal lari itu. Jika Eva melakukannya maka bisa jadi gadis itu tidak akan bisa keluar dengan selamat.

Arthur pasti akan memanggil bagian keamanan demi mengamankan Eva. Atau Arthur bisa melakukannya sendiri mengingat betapa tinggi dan kekar tubuh lelaki itu. Dalam satu rengkuhan saja, Eva pasti tidak akan bisa menggerakkan tubuhnya lagi. Gadis itu kembali menggigil dan mulai meracau, “Sama sekali tidak, Tuan. Tidak, sungguh.”

“Tatap mataku!” perintah Arthur dengan sangat dingin.

Hal tersebut tentu membuat Eva semakin merasa kacau dalam kebingungan. Kenapa Arthur meminta Eva menjadi kekasihnya jika sampai sekarang Arthur masih bersikap begitu dingin dan keji padanya? Cinta harusnya dipenuhi dengan kehangatan dan kelembutan, seperti Jeremy.

Memaksakan keberaniannya, Eva kini mendongakkan wajah dan memandang langsung pada mata Arthur. Banyak belati yang serasa melesat dari manik mata CEO itu yang kini menyayat dan meruntuhkan kekuatan Evan.

“Aku akan memperingatkanmu sekali lagi. Jangan pernah berpikir untuk lari dariku! Dan kau harus mematuhi apa yang kukatakan tadi padamu!”

“Yang mana, Tuan?” serak Eva dengan gugup, akan tetapi dia tetap mencoba melawan ketakutannya sendiri agar kejelasan bisa dia dapatkan.

Arthur membuka mulutnya, hendak mengatakan sesuatu sampai akhirnya dia mengurungkan niatnya karena tiba-tiba saja lidahnya menjadi sangat kelu. Sial, menyatakan cinta pada seorang gadis ternyata memang sangat susah apalagi jika itu dilakukan untuk yang pertama kalinya.

Arthur mengibas tangannya di udara. “Aku tidak akan mengulang perintah itu lagi. Kau hanya perlu menurutinya.”

Di dalam hati Eva menggerutu, ‘Tidak bisa! Aku tidak bisa menjadi pacarmu! Aku sudah menyukai seseorang. Dia adalah Kak Jeremy, cintaku, manisku! Aku benci kau!’ Akan tetapi semua suara penuh kemarahan itu hanya bisa tertelan bersama kekalahan Eva. Pada akhirnya gadis itu hanya menunduk dan tidak bisa berbuat apa-apa.

Mengetahui bahwa kuasanya telah menyelimuti Eva dan membuat gadis itu berada di dalam genggamannya secara penuh, Arthur pun menyeringai. Inilah sensasinya saat dia mendapatkan Eva, seorang gadis yang akan membuat semua orang terheran-heran kepada Arthur, karena pasalnya CEO itu bisa mendapatkan jutaan gadis lebih baik dari Eva. Hanya saja hasrat Arthur melebihi penilaian orang lain.

“Kembalilah! Revisi lagi laporanmu, dan berikan padaku dua jam lagi!” Arthur membanting pelan laporan Eva di depan gadis itu.

Dengan sangat gugup Eva memberanikan diri untuk bertanya kembali, “Apa – apa kesalahannya masih sama, Tuan?” Eva hampir tersedak dan juga batuk berat kala itu jika saja dia tidak menata lidahnya sendiri agar berada pada posisi yang seharunya.

Bukannya menjawab secara langsung Arthur justru terkesan mempermainkan Eva. Melipat tangan kekarnya di depan dada bersama wajah yang datar dan dingin Arthur pun berkata, “Sudah berapa kali kau menyetor laporan padaku? Dan apa kau masih tidak bisa mengetahui letak kesalahanmu sendiri? Selama ini aku selalu mengawasimu dan kenapa pekerjaanmu TIDAK PERNAH BERES? HAH?” Semburan bertubi-tubi dari Arthur itu meledakkan jiwa Eva hingga membuatnya menjadi berkeping-keping.

Gadis itu sampai mencelos berkali-kali, menguatkan lututnya yang sudah serasa lumpuh. ‘Ini jelas bukan cinta! Ini pasti pembalasan dendam karena aku tidak pernah bekerja dengan baik di perusahaan ini,’ pekik Eva di dalam hati.

Kepalan tangan Eva tiba-tiba saja menguat. Setelah mendapati setetes keringat membasahi rok warna gelap miliknya Eva pun kembali mendongak. “Tuan, apa Anda melakukan ini semua karena membenci saya? Apa Anda ingin saya pergi dan mengundurkan diri dari perusahaan ini?”

Bagian bawah mata Arthur kembali berkedut kala mendengar pertanyaan bodoh dan omong kosong dari Eva. Bukankah tadi Arthur sudah mengancam Eva mengenai usaha untuk melarikan diri yang sangat dilarang oleh CEO itu? Lalu kenapa pertanyaan rendahan seperti ini bisa muncul?

Gigi Arthur bergemeretak, bersama matanya yang berair dan sangat merah karena emosi yang menggelegak. Nampaknya Arthur akan menghabisi Eva dengan semua amarahnya, sampai akhirnya Arthur mendapati wajah Eva yang pucat pasi kini menjauh dan pergi.

‘Lari!’ batin Eva menjerit. ‘Aku harus lari!’

Eva telah melarikan diri dengan langkah terseok dan nyaris menjatuhkan tubuhnya beberapa kali di atas lantai. Pintu bahkan dibanting oleh Eva yang diyakini pasti dilakukan karena ketidaksengajaan.

Mendapati Eva yang sudah pergi telah membuat tubuh Arthur menjadi sangat lemah. Tubuhnya jatuh di atas kursi secara mendadak, tangan memijit dahi sembari menutup mata. “Apa yang harus aku lakukan pada gadis itu?” desah Arthur. “Eva, berhentilah membuatku gila. Aku sungguh-sungguh menginginkanmu.”

***

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED