POV Angela
"Angela, kau dicari Ms. Miller di ruang seni," ujar salah seorang temanku, suaranya terengah-engah seperti baru saja berlari.
Ruang seni? Kenapa dia mencariku jam segini? Ini sudah saatnya pulang sekolah, dan aku harus segera menjenguk Mom di rumah sakit. Dengan rasa penasaran, aku menyusuri koridor yang sepi karena kebanyakan murid sudah pulang.
Ketika tiba di ruang seni, aku melihat pintunya sedikit terbuka. Aku melangkah masuk dengan ragu, mataku menjelajahi setiap sudut ruangan. Tapi, tak ada siapa pun di sana. Hanya terlihat deretan meja kerja yang berantakan dengan sisa-sisa peralatan melukis.
"Ms. Miller?" panggilku.
Hening. Tak ada sahutan, tak ada suara. Aku menghela napas dengan rasa frustasi. Apakah mungkin temanku salah? Atau mungkin Ms. Miller sudah pulang? Saat aku berbalik untuk pergi...
Kemudian hal itu terjadi.
Sebuah tangan menutup mulutku dari belakang, kasar dan tiba-tiba.
"Ssst."
Bisikan dan napas yang memburu dari orang itu menjalar ke tengkukku, membekukan tubuhku di tempat. Napasku tersengal, dangkal, dan putus asa.
"Jangan berisik. Aku tidak akan menyakitimu jika kau menurut," bisiknya lagi.
Jantungku berdetak kencang. Saat tangannya terlepas dari mulutku, aku berbalik dengan cepat untuk melihat siapa yang berada dalam ruangan yang sama denganku saat ini.
"Ian? Apa yang kau lakukan di sini?" tanyaku.
Dia tidak menjawab. Tiba-tiba, dia mengunci pintu ruangan ini dengan kunci yang dia ambil dari sakunya. Bunyi "klik" kunci yang terdengar, membuat jantungku berdetak lebih kencang.
"Apa yang kau lakukan?!" teriakku panik.
Ian berjalan mendekatiku, refleks membuatku berjalan mundur. Tatapan matanya membuatku semakin takut padanya. Aku berjalan mundur hingga tidak tersadar menabrak meja di belakangku.
"Kau terus menghindariku, Angela," katanya, nadanya dingin. "Kenapa? Aku sudah sabar selama ini, tapi yang kau lakukan hanya terus menjauh."
"Minggir," aku mencoba berjalan melewatinya, tapi tangannya segera mencengkeram lenganku dengan begitu kuat.
"Kau tidak mengerti," suaranya terdengar meninggi. "Aku lelah diabaikan."
Dorongannya datang tanpa peringatan, keras dan kuat hingga membuatku menghantam lantai. Rasa sakit menusuk ke punggungku. Sebelum aku bisa bangkit, Ian sudah berada di atasku, berat badannya menindihku.
"Kau milikku, Angela," bisiknya, napasnya hangat di telingaku.
"Lepaskan aku!" Suaraku pecah saat aku berjuang melepaskan diri di bawahnya. Jantungku berdetak kencang, setiap otot di tubuhku menegang untuk mendorongnya menjauh, tapi dia tidak bisa dihentikan.
"Berhenti melawan," desisnya, tangannya menyapu sisi wajah hingga ke leherku. "Kau membuatnya semakin sulit."
Mataku melebar panik saat dia membungkam mulutku dengan sebuah kain yang dikeluarkan dari saku celananya. Aku ingin berteriak, ingin melawan, tapi tubuhku tak berdaya. Dia menahan tubuhku, menekan dengan kuat, membuatku tak bisa bergerak.
"Diam dan nikmati saja," bisiknya lagi.
Air mata mengalir di wajahku saat aku berjuang untuk mendorongnya menjauh. Tangannya ada di mana-mana, melanggar batasan, dia juga mulai membuka kancing seragamku. Pikiranku menjerit, menolak untuk membiarkan ini terjadi padaku.
Dengan sisa kekuatan yang kumiliki, aku berhasil menendangnya hingga tubuhnya terhuyung mundur. Suara erangan kesakitannya adalah kemenangan singkat untukku.
Inilah kesempatanku. Aku langsung berlari ke arah pintu, gelombang adrenalin mengalir deras dalam tubuhku. Aku menerjang ke arah pintu, jari-jariku melepaskan kain yang membungkam mulutku. Akhirnya, kain itu terlepas, membuka jalan bagiku untuk berteriak.
"Tolong! Tolong aku!" teriakku dengan putus asa. Aku menggedor-gedor pintu dengan sekuat tenaga, berharap ada yang mendengarnya. Aku harus keluar dari sini.
Tapi Ian terlalu cepat pulih. Dia mencengkeram pergelangan tanganku dengan cepat, menarikku kembali dengan kekuatan brutal.
"Kau tidak akan ke mana-mana, Angela," bisiknya.
"Brengsek! Lepaskan aku!" teriakku lantang, tanganku berusaha mencakarnya tetapi cengkeramannya tidak goyah. Dia mencondongkan tubuhnya lebih dekat padaku, berusaha menciumku tetapi aku berhasil menghindarinya. Tidak, ini tidak boleh terjadi. Siapa saja, tolong aku!
"Angela, kau di sana?"
Hatiku melonjak mendengar suara Aaron di luar pintu. Rasa lega merayap dalam tubuhku, tapi tangan Ian langsung membungkam mulutku sebelum aku bisa menjawab.
"Jangan bicara," bisiknya di telingaku, tatapannya melirik ke arah pintu.
"Angela," suara Aaron memanggil lagi, lebih dekat sekarang.
Aku bisa merasakan tatapan Ian yang penuh amarah, membuatnya semakin tampak menakutkan. Tangannya menekan mulutku semakin kuat, membuatku kesulitan bernapas. Panik melandaku.
Aku menggerakkan kepalaku, mencari celah untuk melepaskan diri. Gigiku akhirnya menemukan sasaran di tangannya. Aku menggigit dengan sekuat tenaga, membuatnya meraung kesakitan hingga akhirnya menarik tangannya.
"Aaron!" teriakku, suaraku serak karena menahan napas. "Tolong aku!"
"Kau jalang!" teriak Ian. Seketika itu juga, dia menamparku dengan keras, membuat pandanganku terasa kabur, dunia terasa berputar-putar.
Rasa sakit menusuk pipiku. Ian mendekatiku lagi, tangannya kasar dan memaksa, berusaha menyentuhku kembali. Aku melawan lebih keras, mencakar dan menendang sekuat tenaga diiringi oleh tangisanku yang begitu histeris.
Tiba-tiba, terdengar suara dentuman keras dari luar, seperti seseorang yang sedang berusaha mendobrak pintu. Aku mendengar suara Aaron mengutuk di luar sana.
Tidak berapa lama, Aaron akhirnya berhasil mendobrak pintu. Mata kami bertemu. Aku tidak tahu bagaimana penampilanku saat ini di matanya. Aku pasti tampak kacau sekali.
"Brengsek!" teriak Aaron.
Aaron langsung menerjang Ian saat dia masuk, tinjunya melayang. Aaron mendaratkan pukulan yang kuat ke rahang Ian, tapi Ian membalas dengan cepat, menghantam perut Aaron dengan tinjunya.
Aku menyaksikan dengan ngeri saat perkelahian itu terjadi. Tiba-tiba, Aaron terhuyung, tubuhnya ambruk ke lantai ketika mendapatkan serangan bertubi-tubi dari Ian. Suara pukulan itu membuatku merasa ngeri.
"Tidak!" Aku menjerit, suaraku pecah. "Berhenti, Ian! Kau akan membunuhnya!"
Tapi, Ian tak menghiraukanku. Dia terus memukuli Aaron, tanpa henti. Tidak, jika ini terus berlanjut, Aaron akan mati.
Kepanikan merayap dalam diriku saat aku memindai ruangan mencari sesuatu, apa saja untuk membantu. Mataku tertuju pada sebuah kursi kayu di sana.
Aku bangkit dengan cepat. Tanpa berpikir panjang, aku meraih dan mengayunkannya sekuat tenaga. Kursi itu mengenai bahu Ian, membuatnya merintih kesakitan, dan mengeluarkan geraman marah.
"Sialan, kau jalang!" desisnya.
Dia berdiri, langkahnya cepat saat dia berjalan ke arahku. Aku berjalan mundur hingga punggungku menghantam dinding di belakangku. Aku ketakutan dan tidak tahu apa lagi yang akan dia lakukan padaku kali ini.
Ketika aku tersudut, tangan Ian langsung mencekikku, menekan tenggorokanku hingga udara seakan tersedot dari paru-paruku. Kedua tanganku berusaha memukul tangannya, tapi cekikannya semakin kuat, menguras sisa-sisa udara di tubuhku.
"Kau bisa menghentikan semua ini, Angela," desisnya. "Kalau kau mau menerimaku, semua ini tidak akan terjadi."
Air mata membanjiri mataku, mengaburkan penglihatanku. Cengkeramannya semakin mengencang di tenggorokanku. Dadaku terasa terbakar karena kekurangan udara, kekuatanku semakin memudar. Apakah aku akan mati di sini?
POV Angela
Aku tak tahu apa lagi yang terjadi saat aku menutup kedua mataku, tapi tiba-tiba cengkeramannya lepas dari leherku.
Aku melihat Ian terjatuh. Sepertinya ketika Ian fokus padaku, Aaron menyerangnya dari belakang. Ian terjungkal ke lantai, mengeluarkan rintihan kesakitan. Aaron langsung menghujani pukulan ke arahnya.
Aku terbatuk-batuk, paru-paruku akhirnya mendapatkan sedikit udara segar. Lututku lemas, tubuhku goyah, dan akhirnya terjatuh terduduk. Pandanganku terpaku pada Ian, tubuhnya terkulai di bawah pukulan bertubi-tubi dari Aaron.
Aaron akhirnya berhenti ketika Ian sudah tak berdaya. Dia mendekat, tatapannya terlihat sangat khawatir padaku. "Angela, kau baik-baik saja?"
Aku hanya bisa mengangguk lemah, aku tidak sanggup berbicara lagi. Hari ini, dunia terasa berputar terlalu menakutkan untukku. Aaron, seolah membaca pikiranku, menarikku ke dalam pelukannya. "Maafkan aku, Angela. Aku datang terlambat."
Kehangatan tubuhnya menenangkan badai di dalam diriku. Air mataku mengalir deras, membasahi bajunya, membawa serta semua ketakutan dan kecemasan yang kurasakan. Aku bersyukur, sangat bersyukur, karena Aaron ada di sini. Aku tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika dia tidak datang.
Dia melepaskan pelukannya dariku, lalu dengan gerakan cepat, dia melepas jaketnya dan memakaikannya padaku. "Kita pergi dari sini," bisiknya, suaranya terdengar lembut dan menenangkan.
Aku menatap matanya yang terasa hangat dan penuh kasih. 'Aaron, jika kau tahu yang sebenarnya, akankah kau masih bersikap baik padaku?' Pertanyaan itu kembali terbersit di benakku.
"Angela," panggilnya, suaranya sedikit khawatir, membuyarkan lamunanku. "Ayo pergi dari sini."
Aaron membantuku berdiri, tangannya menopang pinggangku. Saat kami keluar dari ruang seni, mataku menangkap sosok Ian yang terkapar tak berdaya di lantai. Dadaku sesak saat mengingat pelecehan yang hampir menimpaku tadi. Tetapi seolah menjawab kegelisahan dan ketakutanku, Aaron menggenggam tanganku, jemarinya memberiku kekuatan. Perhatiannya yang terasa hangat dan tulus, membuatku terharu. Dia memperlakukanku seolah aku adalah seseorang yang berharga untuknya.
Ketika kami tiba di pintu masuk sekolah, Aaron mengantarku hingga ke depan mobil. Sopir pribadiku sudah menungguku di sana.
"Terima kasih, Aaron," kataku.
"Kau harus ke rumah sakit," katanya. "Kau perlu diperiksa."
Aku menggeleng pelan, "Tidak perlu. Aku tidak apa-apa. Istirahat di rumah sudah cukup untukku. Tapi, lukamu..." Aku mengarahkan pandangan pada wajahnya yang babak belur.
"Jangan khawatir. Aku baik-baik saja." Dia menyentuh wajahnya sekilas, lalu tersenyum. "Kau sendiri harus memastikan lukamu dirawat saat pulang nanti."
Dia membantu membukakan pintu mobilku. Setelah memastikan aku duduk dengan nyaman, dia menutup pintu pelan.
Aku menatapnya melambaikan tangannya dari balik jendela. Rasa bersalah menggerogoti hatiku karena membiarkannya begitu saja. Segera, aku membuka jendela mobilku. "Aaron," panggilku.
"Ikutlah denganku. Aku akan mengantarmu pulang," kataku. Aku tahu dia naik bus sekolah, tapi bus sekolah sudah lama pergi karena keterlambatan kami keluar.
Aaron diam sejenak, raut wajahnya sulit terbaca. Matanya menatapku, namun terasa sebuah keraguan tergurat di sana. Aku tahu dia tipe yang mandiri, yang enggan meminta bantuan meskipun keadaannya mendesak.
"Ayolah," kataku, suaraku sedikit mendesak, "Aku tidak bisa membiarkanmu pulang sendirian dalam keadaan seperti ini."
Akhirnya dia mengangguk, dan sebuah senyuman tipis terukir di bibirnya yang terluka. "Baiklah," katanya.
Jantungku berdebar saat melihatnya duduk di sampingku. Wajahnya penuh luka, memarnya mencolok, dan sudut bibirnya berdarah. Aku tak bisa menahan diri. Jari-jariku perlahan menyentuh pipinya yang memar, membuatnya sedikit meringis.
"Apa sakit sekali?" tanyaku, cemas.
"Aku baik-baik saja. Jangan terlalu mengkhawatirkanku," jawabnya.
Sopirku tiba-tiba memotong pembicaraan kami. "Ke mana kita, Nona?"
"Kita pulang dulu," jawabku.
"Baik, Nona," balas sopir itu sebelum menjalankan mobil.
"Aaron, kau harus ke rumahku dulu. Aku akan mengobati lukamu."
"Tidak perlu. Ini hanya luka kecil, akan sembuh sendiri."
Aku mendesah, merasa frustasi dengan keras kepalanya. "Aaron Carter," panggilku.
"Lukamu bisa infeksi kalau dibiarkan. Aku akan mengobatimu, dan itu bukan permintaan. Aku tidak ingin mendengar alasan lagi," lanjutku.
Beberapa saat kemudian, mobil berhenti di depan rumahku. Aku mengantar Aaron masuk ke dalam.
"Duduklah di sini," ujarku, menunjuk sofa kulit cokelat tua di ruang tamu. "Aku akan ambil kotak P3K."
Aaron hanya mengangguk. Aku berjalan cepat ke dapur, di mana aku tahu kotak itu disimpan di laci bawah, dekat wastafel. Tanganku menarik laci itu terbuka, dan aku merasa lega ketika melihat kotak putih bertanda palang merah di sana.
Aaron masih duduk di sofa ketika aku tiba. Aku berlutut di depannya, membuka kotak P3K di atas meja. "Ini akan sedikit sakit," kataku, mencelupkan kapas ke antiseptik.
Perlahan, aku mulai membersihkan luka di pipinya. Tanganku bergetar sedikit, meski aku mencoba untuk tetap tenang. Jarak antara kami begitu dekat sehingga aku bisa merasakan napasnya menyapu wajahku.
"Kenapa kau harus begitu nekat?" tanyaku akhirnya, mencoba memecah ketegangan. "Ian bisa saja melukaimu lebih parah."
"Kalau itu berarti aku bisa melindungimu," katanya pelan. "Itu sepadan."
"Kau tidak perlu melakukan semua ini untukku," bisikku, menekan perban pada luka di alisnya. "Lihat dirimu sekarang. Kau terluka karena aku."
Aku menatapnya dan senyum kecil muncul di wajahnya. "Aku akan sembuh. Beberapa memar ini bukan apa-apa. Selama kau baik-baik saja, tidak ada hal lain yang lebih penting."
Gerakanku terhenti. Aku menatapnya, benar-benar menatapnya, dan untuk sesaat dunia di sekitar kami terasa hening.
Tangannya tiba-tiba menyentuh pergelangan tanganku, aku tersentak kecil. Sentuhannya lembut, namun ada kekuatan yang membuatku sulit bernapas.
"Aaron..." suaraku nyaris berbisik.
Dia tidak berkata apa-apa. Dia hanya menatapku dalam. Dia menarik tanganku perlahan, membawanya lebih dekat ke dadanya. Aku tidak bisa bergerak, tidak bisa berpaling.
"Angela," katanya, suaranya rendah, nyaris seperti bisikan. "Kau penting bagiku. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu."
Jantungku berdegup kencang. Bibirnya hanya beberapa inci dari bibirku, dan aku bisa merasakan kehangatan napasnya menerpa wajahku. Seluruh tubuhku terasa panas, dan aku tahu aku seharusnya mundur, memberi jarak. Tapi aku tidak bisa. Aku tidak ingin.
Mataku perlahan terpejam, rasanya seperti dunia ini hanya ada kami berdua, seperti waktu berhenti sejenak.
Namun, tepat saat itu, deringan ponselku memecah keheningan, membuatku tersentak.
Aku segera meraih ponsel yang tergeletak di meja. Aku menatap Aaron sekilas. "Aku harus menjawab ini," kataku pelan, seperti permintaan maaf.
Aaron hanya mengangguk, tanpa berkata apa-apa. Aku berdiri, melangkah menjauh ke sudut ruangan sebelum akhirnya menekan tombol hijau di layar.
"Halo," sapaku.
"Benar ini dengan Ms. Angela?" Suara wanita dari seberang sana terdengar tegang. "Ini dari rumah sakit. Kami ingin memberi tahu bahwa kondisi ibu Anda, Mrs. Jones, memburuk dan membutuhkan persetujuan segera untuk tindakan operasi.
"Apa yang terjadi?" tanyaku, panik.
"Keadaannya sangat kritis. Kami perlu bertindak sekarang."
Kata-katanya seperti petir yang menghantamku dengan keras. Hatiku terasa berat dengan kenyataan yang baru saja aku terima.
"Aku akan segera ke sana," jawabku.
Aku perlahan berjalan menuju ruang tamu dan melihat Aaron seperti tampak kebingungan melihatku. "Ada apa?"
Angela POV
Aku menunduk, berusaha menyembunyikan kekacauan yang bergejolak di dadaku. Telepon dari rumah sakit itu terus terngiang di kepalaku. Mom dalam kondisi kritis. Mereka membutuhkan persetujuanku untuk operasi. Tapi aku tidak tahu bagaimana menjelaskan semua ini kepada Aaron. Aku tidak ingin membebani dia lagi setelah semua yang dia lakukan untukku hari ini.
"Aku baru ingat ada sesuatu yang harus kuurus," kataku cepat, memaksakan senyum yang kuharap terlihat alami. "Aku harus pergi. Kau bisa gunakan mobilku untuk pulang."
Aaron menatapku, sorot matanya tajam. "Apa ada sesuatu yang terjadi?"
"Tidak ada. Ini hanya sedikit urusan keluargaku," jawabku. Aku bisa mendengar nada gugup yang menyelip dari suaraku.
"Angela."
Aku mendongak, dan mata kami bertemu. Aku berusaha menahan air mata yang hendak keluar dan aku berharap dia tidak menyadarinya.
"Kalau kau harus pergi, pergilah," katanya pelan. "Tapi kalau kau butuh bantuan, apa pun itu, katakan padaku."
Dadaku terasa sesak. Ada begitu banyak hal yang ingin kuungkapkan. Aku ingin jujur padanya tetapi kata-kata itu tidak pernah keluar. Aku hanya mengangguk pelan menanggapi perkataannya.
"Terima kasih, Aaron," bisikku sebelum berbalik dan berjalan pergi.
***
Perjalanan ke rumah sakit terasa begitu panjang. Aku terus mengkhawatirkan kondisi Mom. Pikiranku penuh dengan skenario buruk. Aku mencoba menelepon Dad beberapa kali, tetapi seperti sebelumnya, tidak ada jawaban. Pesan suara lagi, dan lagi. Rasanya seperti aku benar-benar sendirian menghadapi ini.
Setibanya di rumah sakit, aku bergegas menuju ruang ICU. Begitu tiba di pintu ICU, seorang perawat menghentikanku sejenak.
"Wali pasien atas nama Mrs. Jones?" tanya perawat itu.
"Ya, itu saya," jawabku cepat.
"Dr. Smith, dokter bedah kami, sudah menunggu untuk menjelaskan prosedur," katanya sambil mengarahkanku ke arah ruang medis.
Aku segera melangkah masuk. Dr. Smith, dengan jas putihnya, menatapku dengan serius begitu aku memasuki ruangan.
"Miss Jones, kita butuh segera melakukan operasi darurat untuk menyelamatkan ibu Anda," ujar Dr. Smith. "Namun, kami memerlukan persetujuan Anda untuk melanjutkan tindakan."
Aku menelan ludah, perasaan cemas semakin menghimpit. "Apa yang harus saya lakukan?"
Dr. Smith menjelaskan secara singkat prosedur dan risikonya. Setelah itu, dia menyerahkan formulir kepada perawat di sampingnya yang sudah siap dengan dokumen administrasi.
Perawat itu menunjuk ke meja kecil di pojok ruangan. "Silakan tanda tangani formulir ini," katanya.
Aku mengangguk dan tanpa ragu mengambil formulir itu. Setelah menandatangani dengan cepat, aku menyerahkannya kembali.
"Terima kasih. Kami akan segera memulai persiapannya," kata perawat itu sambil membawa formulir tersebut.
Aku hanya mengangguk, jantungku berdebar kencang, sementara aku hanya bisa menatap pintu ruang ICU, berharap Mom bisa melewati operasi ini.
Aku berjalan ke ruang tunggu. Ketika duduk di sana, kecemasan mengalir deras di kepalaku. Bayangan Mom terus muncul di pikiranku. Senyum lembutnya, tawa hangatnya yang selalu membuat rumah menjadi hidup. Sekarang, dia terbaring di ruang operasi, berjuang antara hidup dan mati.
Tidak terasa, air mata mengalir tanpa permisi, membasahi pipiku. Aku ingin Mom kembali padaku, menyemangatiku saat aku menghadapi ujian sekolah, atau sekedar mengingatkanku untuk makan. Aku merindukan semua itu, setiap detik kecil yang terasa begitu berharga.
Aku menggigit bibirku, mencoba menahan suara isak yang hampir lolos dari bibirku. Aku mencoba menenangkan diri sebelum akhirnya kembali mencoba menelepon Dad. Sama seperti sebelumnya, tidak ada jawaban.
Saat rasa khawatir semakin menyelimutiku, aku mencoba mengalihkan perhatian. Aku membuka layar, berharap menemukan sesuatu yang bisa memberikan sedikit ketenangan. Tapi sesuatu mengusikku, sebuah berita yang membuat mataku terbelalak tidak percaya.
"Perusahaan Jones Terancam Pailit Setelah Krisis Keuangan Meluas."
Aku membaca kalimat dari berita itu berulang-ulang. Aku tidak bisa mempercayai semua masalah ini akan menimpa keluargaku. Proyek gagal, investor mundur, dan perusahaan Dad, yang selalu dia banggakan, hanya selangkah lagi dari kehancuran.
Air mata mengaburkan pandanganku. Aku merasakan tanganku yang gemetar dan dadaku yang terasa sesak. Mom di ruang operasi, perusahaan Dad yang terancam pailit, dan kini dunia kami mungkin akan runtuh. Aku merasa terjebak dalam badai yang tiba-tiba menghantam hidupku. Bagaimana aku bisa menghadapi semua ini kelak?
Saat aku masih terjebak dalam pikiran itu, aku mendengar suara seorang wanita yang memanggil namaku dari kejauhan.
"Angela Jones?"
Aku mendongak, melihat seorang wanita paruh baya dengan pakaian elegan berdiri beberapa langkah dariku. Cara dia berdiri, dengan postur penuh percaya diri, membuatnya tampak mendominasi ruangan.
"Ya, saya Angela. Siapa Anda?" tanyaku.
Dia tersenyum tipis. "Namaku Victoria Bennett. Akhirnya kita bisa bertemu di sini."
Jantungku mencelos mendengar nama itu. Bennett. Ian Nathaniel Bennett. Apakah wanita di hadapanku ini ada hubungannya dengan si brengsek Ian? Seketika, ingatan kejadian di sekolah kembali menyeruak. Aku kembali teringat bagaimana dia mencoba melecehkanku, dan bagaimana Aaron datang tepat waktu untuk menghentikannya.
Dia melangkah mendekat, ekspresinya tampak dingin. "Aku mendengar cerita tentang anakku, Ian. Juga tentang temanmu yang telah membuatnya babak belur."
Aku mengepalkan tangan, menahan amarah yang mulai menguasaiku. "Ian pantas mendapatkan itu," jawabku dengan nada tajam.
Victoria tertawa kecil. "Pantas atau tidak, itu bukan sesuatu yang bisa kau tentukan. Aturan hanya berlaku jika seseorang itu memiliki kekuasaan. Sedangkan kau dan temanmu itu?"
"Jadi karena kami tidak memiliki kekuasaan, kami tidak berhak menegakkan apa yang benar?" tanyaku.
"Aku mendengar kabar tentang perusahaan ayahmu. Kau tahu betapa mudahnya untuk menghancurkan sesuatu yang sudah di ambang kehancuran, bukan?" lanjutnya.
Aku tertegun. "Anda tidak bisa mengancamku seperti ini!"
Dia menyeringai, wajahnya tetap terlihat tenang. "Mengancam? Aku hanya memberimu gambaran kenyataan. Di dunia ini, yang lemah hanya bisa bertahan jika mereka tahu tempatnya. Tapi, kau dan temanmu telah melanggar batasan dan berani mengusik keluargaku."
Aku membuka mulut untuk membalas, tetapi dia menyela.
"Tapi aku bermurah hati memberimu kesempatan, Angela. Berikan kesaksianmu sebagai korban besok. Pikirkan baik-baik. Orang yang hampir melecehkanmu itu adalah Aaron. Ian hanya datang menyelamatkanmu. Kau bisa menceritakan kisah itu dan menyelamatkan keluargamu."
Hatiku bergetar mendengar kata-kata menjijikkan itu dari mulutnya. "Kau ingin aku memfitnah Aaron?" suaraku mulai meninggi, tak terima dengan manipulasi yang tak terduga ini.
Victoria mengangkat alis, senyum tipis di bibirnya semakin lebar. "Kenyataan tidak selalu sehitam-putih yang kau pikirkan. Jika kau melakukan apa yang aku minta, keluarga Bennett akan membantu menyelamatkan perusahaan Jones. Dan ketika ibumu bangun, dia tidak akan menyaksikan kehancuran keluarganya."
Aku tercekat, kata-katanya seakan meresap ke dalam diriku dan membuat jantungku berdegup kencang.
"Tapi jika kau tidak melakukan apa yang aku minta," dia mengangkat alis, matanya terlihat penuh keyakinan, "Maka bersiaplah untuk kehancuran keluargamu."
Victoria kemudian mengeluarkan sebuah kartu nama dari dompetnya, lalu mengulurkannya padaku. "Sebaiknya kau pikirkan ini baik-baik, Angela. Jika kau berubah pikiran, kau bisa menghubungiku kapan saja."
Victoria membalikkan tubuhnya dan sebelum pergi, dia melontarkan satu kalimat terakhir. "Terkadang, untuk mendapatkan sesuatu yang besar, kita harus mengorbankan hal-hal kecil."
Dengan langkah angkuh, Victoria meninggalkanku begitu saja. Aku menatap punggungnya yang semakin menjauh, sementara tanganku gemetar menggenggam erat kartu namanya.
Aku ingin menghancurkan, merobek kartu itu hingga menjadi serpihan tak berarti tetapi ancamannya terus terngiang di kepalaku. Tidak. Aku tidak akan mengkhianati Aaron. Namun, pikiranku berperang dengan rasa takut. Aku tidak bisa membiarkan keluargaku hancur, tidak di tangan keluarga Bennett.
Tetesan air mata mulai mengalir di pipiku, tak bisa kutahan lagi. Siapa sangka hidupku akan sampai pada titik ini?
Waktu terasa berjalan lambat. Hingga akhirnya, suara berat engsel pintu ruang operasi membuatku mendongak.