Udara malam terasa lembap, membalut kulit mereka yang berkeringat di dalam kamar. Lampu gantung tembaga menyinari samar dinding bata yang dingin, kontras dengan desahan hangat dua tubuh yang saling menjelajah. Rafael berdiri di pinggir ranjang dengan tatapan gelap, napasnya berat, sementara Aurora terbaring di bawahnya, rambut pirangnya berantakan di atas seprai putih.
Kemeja Rafael sudah tak beraturan, terbuka hingga dada, menampilkan lekuk otot yang tegang. Tangannya menelusuri tulang selangka Aurora, lalu naik ke rahangnya, mengangkat wajah gadis itu paksa agar menatap matanya.
Aurora menahan napas, tubuhnya bergetar antara takut dan rindu akan sesuatu yang tak bisa ia jelaskan. Rafael mendekat perlahan, mencium bibirnya dengan tekanan yang tak sepenuhnya lembut, seolah mencampur amarah dengan keinginan yang lama terkubur. Ciuman itu memabukkan membakar syarafnya.
Tangannya yang kuat kini bergerak lebih berani, menyusuri tubuh Aurora seolah menandainya, seolah menuntutnya untuk tunduk. Dan ketika jemari mereka saling mencengkeram, ketika napas mereka berpadu dalam satu desahan tertahan, ketegangan di antara mereka memuncak dalam diam yang menggantung.
Namun tepat saat penyatuan itu nyaris terjadi Rafael berhenti.
Tubuhnya kaku.
Kedua tangannya kini mengepal, dan wajahnya menjauh dari wajah Aurora, menatap ke arah jendela yang tertutup tirai tipis. Napasnya memburu, bukan karena gairah, tapi karena gelombang emosi lain yang tiba-tiba menyesakkan dadanya.
Aurora membuka mata, matanya yang masih berkabut menatap Rafael dengan bingung. "Rafael? Kenapa kau berhenti?"
Rafael menoleh perlahan. Matanya gelap, namun bukan lagi karena hasrat.
"Aku..." Suaranya serak, nyaris tak terdengar. "Aku tak bisa. Tidak malam ini."
Ia bangkit, mengambil kemejanya yang terjatuh di lantai dan memakainya dalam diam.
Aurora duduk, menarik selimut menutupi tubuhnya, berusaha memahami perubahan yang begitu tiba-tiba.
"Apakah aku melakukan kesalahan?" tanyanya pelan.
Rafael menggeleng. "Bukan kau."
Ia menatapnya lama, seolah mencoba berkata sesuatu yang tertahan terlalu lama. Tapi akhirnya ia hanya berkata:
"Aku hanya... hampir lupa alasan kenapa aku mendekatimu."
Lalu ia melangkah keluar kamar, meninggalkan Aurora dalam keheningan yang kini berubah menjadi tanda tanya besar.
***
Dua bulan lalu, di kantor perusahaannya, Rafael berdiri membeku di depan layar proyektor. Angka-angka laporan keuangan menari-nari dalam grafik yang absurd dan semuanya salah. Celah itu tak akan terlihat oleh sembarang mata, tapi Rafael adalah pria yang membangun sistem ini dari nol. Ia tahu saat sesuatu dipalsukan.
Dan seseorang telah melakukannya berbulan-bulan.
"Cross-check semua akun vendor dalam dua belas bulan terakhir," perintah Rafael kepada sekretarisnya, Nadine, dengan rahang terkunci.
Beberapa jam kemudian, Rafael melihat rekening bayangan yang telah ditemukan. Didalamnya terdapat transfer bertahap, uang mengalir perlahan tapi pasti ke perusahaan fiktif yang kemudian ditelusuri hingga satu nama.
Edgar Marvelo.
Mitra bisnisnya yang sudah ia percaya selama ini, pria berusia 50an yang berdiri bersamanya saat mereka memotong pita pembukaan gedung baru enam bulan lalu. Rafael tak percaya, sampai ia melihat rekaman email terenkripsi, dan persetujuan tanda tangan digital yang tak terbantahkan.
"Kenapa?" gumam Rafael lirih, berdiri di ruang rapat kosong sambil memandangi kota yang perlahan dibungkus senja. "Kita membangun ini bersama."
Namun tak ada jawaban. Edgar sudah kabur ke luar negeri sebelum Rafael bisa menuntutnya. Menghilang, seperti pengecut. Meninggalkan nama baiknya, perusahaannya, dan satu-satunya warisannya di kota ini, Aurora Marvelo.
***
Rumah keluarga Marvelo berdiri seperti istana yang kosong. Dinding putihnya masih bersih, halaman rumput masih terawat, namun tak ada kehidupan nyata di dalamnya selain jejak-jejak masa lalu yang tertinggal. Dan kini, satu-satunya pewarisnya kembali.
Aurora berdiri di tengah ruang tamu yang luas, memandangi foto ayahnya yang tergantung di dinding. Senyum Edgar yang tenang di balik pigura emas kini terasa asing. Ia mencoba tersenyum, tapi hatinya merinding. Terlalu banyak yang berubah. Terlalu banyak pertanyaan yang belum terjawab.
Sejak tiba dari Paris dua hari lalu, Aurora tak pernah sekalipun berhasil menghubungi ayahnya. Telepon mati. Email tak dibalas. Aurora tidak mengerti kenapa tiba-tiba ayahnya memutuskan pembiayaan kuliahnya di Paris. Bahkan dia pulang dengan sisa tabungan yang tak seberapa.
"Ayah, kau di mana?" tanyanya, penuh kesal.
Namun hari itu ia tak punya waktu untuk tenggelam dalam pikiran sendiri. Karena sesaat kemudian, suara mesin mobil terdengar di luar. Dari balik jendela, ia melihat seorang pria keluar dari mobil. Pria itu tinggi, gagah, mengenakan jas gelap dan kacamata hitam.
Aurora membuka pintu sebelum bel sempat berbunyi.
"Siapa ya?" tanyanya waspada.
Pria itu melepas kacamatanya perlahan. Mata cokelat gelapnya langsung terkunci pada wajah Aurora. Pandangannya menusuk. Dalam. Seolah mencoba menelanjangi jiwanya.
"Aurora Marvelo?" tanyanya tenang.
"Ya."
"Aku Rafael Valentino."
Aurora terdiam. Nama itu familiar. Sangat familiar. Ia pernah mendengarnya dalam satu percakapan telepon ayahnya, atau mungkin dari sebuah artikel bisnis yang samar ia baca. Tapi yang ia ingat pasti Rafael Valentino bukan nama kecil. Rafael adalah pria penting. Seseorang yang punya kuasa.
Dan dari tatapannya, Aurora tahu... kedatangannya bukan untuk bersilaturahmi.
"Aku datang bukan untuk basa-basi," lanjut Rafael sambil melangkah masuk tanpa diundang. "Kita perlu bicara. Tentang ayahmu."
Aurora menutup pintu perlahan, membiarkan pria itu masuk ke dalam rumahnya atau lebih tepatnya, rumah ayahnya. Ia mengikuti Rafael ke ruang tamu, lalu duduk berhadapan dengannya.
"Jika kau tahu di mana ayahku, tolong katakan padaku," ucap Aurora akhirnya. "Aku sudah mencarinya berminggu-minggu."
Rafael mendengus pelan, mengejek. "Tentu saja kau tidak akan tahu."
Aurora menatapnya bingung. "Apa maksudmu?"
Rafael bersandar, menyilangkan kaki dan menatapnya tanpa senyum. "Ayahmu mencuri uangku. Meninggalkanku dengan kehancuran. Dan dia menghilang seperti pengecut. Sekarang, dia meninggalkanmu di sini di rumah mewah hasil uang kotor."
Aurora membeku. "Apa maksudmu uang kotor?"
"Jangan pura-pura tidak tahu, Aurora." Suaranya menjadi lebih tajam. "Kau wanita cerdas. Tapi jangan bodoh soal bisnis ayahmu. Dia menipuku. Mengambil jutaan dolar dari merger perusahaan kami, memalsukan dokumen, dan melarikan diri. Sekarang, dia mewariskan semua ini padamu. Termasuk... utangnya."
Aurora bangkit berdiri, suara gemetar. "Aku tidak tahu apa pun tentang itu. Aku tidak pernah terlibat dalam bisnis ayahku. Dia bahkan jarang bercerita!"
"Tapi kau tetap pewarisnya." Rafael berdiri pula, kini berhadapan langsung dengannya. Hanya beberapa inci memisahkan mereka. "Dan sebagai anak yang baik... kau akan membayarnya."
"Dengan apa?" desis Aurora. "Aku tidak punya uang sebanyak itu."
Rafael menyeringai pelan, gelap dan tajam.
"Ada banyak cara untuk membayar. Dan kau akan tahu satu per satu, Aurora Marvelo."
Aurora menahan napas. Matanya membulat, memandang Rafael yang kini berdiri begitu dekat. Aura lelaki itu seperti badai, dingin dan tak tertebak. Tapi Aurora bukan tipe wanita yang mudah diintimidasi, meskipun seluruh tubuhnya menggigil, ia tetap mengangkat dagu dengan penuh harga diri.
"Bagaimana jika aku menolak?" tanyanya, suaranya pelan namun jelas, seperti tantangan.
Rafael tidak langsung menjawab. Ia menatapnya lama, seolah ingin memastikan bahwa Aurora benar-benar tak tahu apa-apa. Lalu perlahan, senyumnya tumbuh. Tapi bukan senyum ramah. Itu adalah senyum milik seorang pria yang terbiasa menang dalam segala bentuk permainan kotor.
"Kau pikir kau punya pilihan?" balas Rafael, suaranya rendah, nyaris berbisik namun menggema seperti dentuman. Ia melangkah lebih dekat hingga Aurora hampir terdorong mundur.
Bersambung ...
Aurora menatap Rafael tajam, dadanya naik turun menahan emosi. Ia melangkah maju, berdiri di antara Rafael dan pintu keluar, menantang langsung sorot matanya.
"Kau tak bisa memaksaku begitu saja," ucapnya tegas. "Urusanmu dengan ayahku, bukan denganku. Jadi jika kau benar-benar ingin uangmu kembali, pergilah cari dia. Bukan datang ke sini dan mengancamku."
Suasana menjadi senyap sesaat. Mata Rafael menatapnya lekat, lalu perlahan ia tertawa keras dan penuh ejekan. Tawanya menggema di seluruh ruangan yang kosong, membuat Aurora makin membeku.
"Tepat sekali, Aurora Marvelo," kata Rafael sambil berjalan menjauh darinya, ke arah jendela besar yang menghadap danau. "Aku memang harus mengambil uangku dari ayahmu..."
Ia berhenti, berbalik. Tatapan matanya kini dingin, wajahnya keras. Ia mengangkat dua jarinya dan menjentikkannya sekali.
"...dan karena dia pengecut yang lari seperti anjing, maka aku akan mulai dari satu-satunya warisannya."
Pintu rumah terbuka serempak. Beberapa pria berseragam hitam masuk dengan cepat, rapi, dan terorganisir. Mereka langsung bergerak dan mulai membuka lemari, mencatat barang-barang, menyegel rak-rak, menggulung karpet mahal, menurunkan lukisan keluarga.
"Apa yang kalian lakukan?!" pekik Aurora panik. Ia berlari ke tengah ruangan, menghadang salah satu pria yang membawa vas antik. "Berhenti! Ini rumahku! Kalian tidak berhak!"
"Atas perintah Tuan Rafael Valentino, properti ini disita," ucap salah satu pria dingin.
Aurora menghalangi mereka, tapi tubuhnya yang ramping tak sanggup menghentikan mereka semua. Salah satu dari mereka bahkan menarik koper yang masih tergeletak di tangga, koper Aurora yang belum sempat dibuka sejak ia pulang dari luar negeri.
"Jangan! Itu milikku! Koper itu milikku, bukan ayahku!" teriak Aurora sambil berlari dan meraih koper itu.
Namun pria berbadan besar itu mendorongnya ke belakang dengan kasar. Aurora terjatuh, kedua kopernya terlempar ke depan pintu. Nafasnya tercekat, rasa sakit menjalar di siku dan lututnya yang membentur lantai.
Saat itulah Rafael berjalan tenang ke arahnya, lalu berhenti di ambang pintu, menatapnya dari atas.
Ia merogoh saku jasnya, mengeluarkan sesuatu, lalu melemparkannya ke lantai sebuah kartu nama miliknya.
"Kalau kau berubah pikiran, kau tahu ke mana harus menghubungiku," ucapnya dingin, sebelum berbalik dan melangkah keluar.
Aurora menatapnya dengan mata membara, penuh luka dan amarah.
"Aku akan menuntutmu, Rafael. Kau akan membayar semua ini."
Rafael berhenti sejenak, lalu menoleh setengah, menyeringai.
"Coba saja, Aurora. Tapi pastikan kau bisa bayar pengacara terlebih dulu."
Ia pun masuk ke dalam mobil hitamnya dan melaju pergi, meninggalkan Aurora yang terpuruk di ambang rumah, rambutnya berantakan, napas tersengal, matanya menatap penuh tekad dan dendam.
Aurora menatap kartu nama itu sekilas. Ia meraihnya dengan tangan gemetar, lalu tanpa ragu merobeknya tepat di tengah, serpihannya jatuh seperti debu kehinaan yang tak ingin ia simpan lebih lama.
"Kau pikir aku akan mengemis padamu? Mimpi," desisnya lirih, penuh tekad.
Masih dengan tubuh yang terasa nyeri akibat dorongan tadi, Aurora menyeret kedua kopernya keluar dari halaman rumah yang dulu menjadi tempat ia dibesarkan. Tak ada lagi pelayan yang menyambut, tak ada lagi kehangatan. Hanya dingin malam dan sepi yang menghantui langkahnya.
Ia duduk sebentar di bangku halte tak jauh dari gerbang. Tangannya meraba saku kecil di jaket, menarik dompet lusuh. Isinya tipis. Tabungannya hampir habis. Rumah itu adalah satu-satunya sandaran, dan sekarang hilang begitu saja.
Desahan lelah keluar dari bibirnya. Tapi ia tak menangis. Matanya tetap tajam, meski lelah jelas membayang.
Beberapa jam kemudian, Aurora berhasil menemukan sebuah kamar sewa kecil di daerah pinggiran kota, murah dan sederhana. Dindingnya tipis, perabotnya tua, tapi setidaknya ia punya atap untuk bermalam.
Saat ia duduk di ranjang mungilnya yang berderit, Aurora membuka ponselnya yang sejak tadi mati karena baterai habis. Setelah mencolokkan charger, layar menyala, beberapa notifikasi bermunculan.
Salah satunya membuat matanya membesar.
[Selamat! Anda telah diterima bekerja di RV Group . Harap hadir besok pukul 09.00 di kantor pusat kami.]
Jantung Aurora melonjak.
"Ya Tuhan," bisiknya, perlahan senyum kecil merekah di wajah yang sejak tadi dipenuhi luka. "Setidaknya ada satu hal yang berjalan sesuai rencana."
Dengan cepat, ia berdiri dan membuka koper. Dikeluarkannya satu-satunya setelan formal yang masih rapi. Disetrika seadanya di kamar itu. Sementara di kepalanya, ia mulai menyusun rencana baru.
Rafael boleh mengambil rumah dan nama keluarganya.
Tapi masa depan? Itu miliknya. Dan ia akan merebutnya kembali dengan tangannya sendiri.
***
Keesokan harinya.
Langkah Aurora menyusuri koridor lantai atas RV Group, gedung kaca menjulang yang terlihat terlalu mewah untuk suasana hatinya pagi itu. Ia mengenakan blazer hitam sederhana dan rok pensil yang dijepit seadanya dengan pin, hasil modifikasi dadakan semalam.
Seorang sekretaris menyambutnya di depan pintu ruangan paling ujung. "Silakan masuk. Pak Presiden Direktur sudah menunggu Anda."
Aurora menarik napas panjang, memperbaiki kerah blazernya, lalu mengetuk pintu sekali sebelum membukanya.
"Selamat pagi. Saya Aurora Marvelo, pegawai baru untuk bagian pemasaran. Saya diminta-"
Kata-katanya terhenti seketika saat pria di kursi eksekutif itu berbalik dengan lambat, tersenyum lebar, dan menyilangkan tangan santai.
"-untuk langsung melapor pada saya," potong Rafael, suaranya rendah dan penuh kemenangan. "Selamat datang, Aurora."
Aurora membeku di tempat. Matanya menyipit, dadanya bergemuruh karena kejutan dan kemarahan yang mendadak kembali membuncah.
"Kau? Bagaimana bisa? Kalau aku tahu ini perusahaanmu, aku tidak akan datang," katanya tajam, nyaris meludah.
Rafael terkekeh pelan, lalu berdiri, mendekatinya perlahan seperti singa yang melihat rusa masuk kandang. "Sayangnya, kamu sudah datang. Dan lebih sayang lagi, kamu tidak punya pilihan lain sekarang."
Aurora berbalik, hendak keluar begitu saja. Namun suara Rafael menghentikannya tepat di ambang pintu.
"Perusahaan cabang kami hampir bangkrut, Aurora. Karena ulah ayahmu, Edgar Marvelo. Aku bisa bawa ini ke pengadilan, dan kamu... akan ikut diseret sebagai ahli waris."
Aurora perlahan berputar, wajahnya memucat namun tetap garang. "Kau tak bisa menyalahkanku atas dosa ayahku."
"Aku tak menyalahkanmu. Aku hanya membuatmu bertanggung jawab," Rafael menjawab, suaranya tenang namun dingin. "Jika kau keluar sekarang, aku pastikan tak satu pun perusahaan di industri ini akan mau menerima namamu di resume. Dan... polisi akan tertarik memanggilmu."
Aurora menggertakkan giginya, gemetar bukan karena takut, melainkan karena kesal yang nyaris meledak.
"Ini pemerasan."
"Ini bisnis," Rafael menjawab dengan senyum puas. "Tapi jangan khawatir, aku tetap akan menggajimu. Setengah gaji dari standar posisi marketing senior."
Aurora menahan napas. "Setengah? Itu bahkan tidak cukup untuk bayar kamar kos dan makan!"
"Karena itu aku siapkan kompensasi tambahan," katanya dengan smirk di wajahnya.
Aurora menatap pria itu dengan sorot yang membara, ia tahu telah masuk ke medan perang, dan satu-satunya jalan keluar adalah menang.
Bersambung ...
Aurora berdiri mematung di depan sebuah rumah mewah berarsitektur klasik modern, terletak di kawasan elit Kensington. Pilar-pilar tinggi menopang balkon lantai dua, jendela-jendela besar menghadap taman yang begitu tertata rapi hingga tampak seperti lukisan.
Namun yang paling membingungkannya bukan kemegahan rumah itu, melainkan fakta bahwa ia kini berdiri di depan pintu utamanya, tanpa tahu bagaimana bisa sampai ke sini.
"Kenapa aku di sini?" gumamnya pelan.
Sebuah suara berat dan dalam menyelinap tepat di telinganya, membuat tubuhnya seketika merinding.
"Karena mulai hari ini, kau akan tinggal di sini, Aurora."
Aurora berbalik cepat dan mendapati Rafael berdiri sangat dekat di belakangnya, dengan senyum tipis yang mengandung terlalu banyak rahasia.
"Apa maksudmu?" Aurora menyipitkan mata, curiga. "Kau... mau menjadikanku tawanan?"
Rafael terkekeh, tawa rendah dan tajam yang terdengar jauh lebih sinis daripada menyenangkan. "Oh, Aurora. Jangan lebay. Ini bukan penjara. Tapi... rumah baru untukmu."
Ia membuka pintu besar itu dan memberi isyarat agar Aurora masuk. Ragu-ragu, Aurora melangkah masuk dan mendapati interior rumah yang tak kalah mewahnya. Marmer putih, lampu gantung kristal, dan tangga spiral yang menjulang tinggi.
Namun semua rasa kagum lenyap ketika Rafael berjalan ke arah sofa, mengambil sesuatu, lalu melemparkannya ke arah Aurora. Gadis itu nyaris tak menangkapnya, lalu menatap benda itu dengan kening berkerut.
Itu... seragam pelayan?
"Apa ini?" tanyanya tajam.
"Seragam kerjamu. Mulai hari ini, kau adalah asisten rumah tangga pribadiku." Rafael melipat tangan, menyandarkan punggung ke dinding dengan senyum puas.
Aurora melotot tak percaya. "Kau gila."
"Bisa jadi," Rafael menjawab ringan. "Tapi kau tenang saja, aku akan memberimu kamar yang layak, ranjang empuk, dan dua kali makan sehari. Sarapan dan makan malam di rumah. Untuk makan siang, kau akan makan di kantor."
Aurora mengepalkan tangannya. "Aku pegawai marketing, bukan... pembantu."
"Pegawai yang digaji setengah, yang menanggung utang ayahnya, dan tidak punya tempat tinggal yang layak," sahut Rafael, mendekat. "Kau bisa menolak, tentu saja. Tapi kalau begitu, silakan kembali ke kamar sempitmu dan hidup dengan mi instan setiap malam."
Aurora terdiam. Tawanya kering.
"Kau benar-benar ingin mempermalukanku, ya?"
"Aku hanya memastikan kau belajar arti tanggung jawab," jawab Rafael. "Mulai besok, jam lima pagi, kau harus menyiapkan sarapan. Jam enam, pakaian kerjaku harus sudah siap. Dan malam hari, makan malam hangat di meja. Jangan terlambat."
Aurora menatapnya penuh benci, tapi ia tahu tak ada jalan keluar.
"Kau pikir aku akan menerima semua permainanmu? Jangan harap! Meski aku harus tinggal di jalanan, aku tidak akan pernah menginjakkan kaki di rumah ini dan menyiapkan sarapan untukmu!" ucap Aurora dengan lantang dan pergi dari sana.
Meninggalkan Rafael yang tersenyum licik, seolah akan ada kejutan lain yang harus diterima oleh Aurora.
***
Aurora tiba di kamar sewanya di pinggiran kota. Namun, langkahnya terhenti saat melihat dua koper besarnya digeletakkan begitu saja di depan gerbang rumah kos. Aurora berlari kecil, matanya membelalak tak percaya. Belum sempat ia membuka mulut, pintu rumah kos terbuka. Ibu kos yang bertubuh tambun dan berkacamata keluar, menenteng dompet di tangan.
"Apa ini? Kenapa koper saya di luar?" tanya Aurora cepat.
Ibu kos menghela napas pendek, lalu menyodorkan amplop kecil berisi uang. "Ini uang sewamu. Aku kembalikan. Maaf, aku tak bisa biarkan kamu tinggal di sini lagi."
Aurora terperangah. "Apa maksudnya? Kenapa? Ini satu-satunya tempat yang bisa aku bayar! Aku nggak punya tempat lain!"
"Aku tak bisa menjelaskan," kata si ibu kos singkat, lalu memutar tubuh hendak kembali ke dalam rumah.
"Bu, tolong! Aku sudah kerja sekarang, walau hanya mendapatkan setengah gaji, tapi aku masih bisa bayar."
Ibu kos berhenti sejenak di ambang pintu. "Aku tak ingin masalah. Maaf, Aurora. Lebih baik kau pergi saja."
Tanpa penjelasan lebih lanjut, pintu ditutup.
Aurora berdiri terpaku. Matanya menatap kosong pada koper-kopernya yang kini seperti simbol betapa hidupnya sudah benar-benar kehilangan pijakan. Wajahnya tertunduk, merasakan napasnya berat tapi lagi-lagi, tak setetes pun air mata keluar.
Hari menjelang malam. Suhu mulai dingin dan perutnya mulai perih. Ia berdiri dengan lelah, menarik koper pelan, dan berjalan menyusuri jalanan kota yang tak lagi ramah.
Saat ia melewati sebuah restoran kecil dengan aroma masakan yang menggoda, perutnya kembali berkeroncong. Ia ragu sejenak di depan pintu, lalu masuk. Tidak ada pilihan lain. Ia masih punya sisa uang receh di dompet, cukup untuk makan sederhana malam ini.
Aurora duduk di pojok ruangan. Memesan sup kentang dan sepotong roti. Saat pelayan meninggalkan meja, seseorang terburu-buru masuk ke dalam restoran dan menabraknya dengan keras. Aurora terhuyung sedikit, pria itu sempat bergumam minta maaf, tapi wajahnya tertutup hoodie besar dan masker. Ia langsung berlalu dan keluar dari pintu lain tanpa memberi waktu Aurora untuk mencermati.
Aurora menggeleng kecil. "Orang-orang semakin aneh," gumamnya. Ia kembali menikmati makanannya dengan lahap.
Namun begitu makanan habis dan tagihan datang, ia membuka tas kecil di pangkuannya... lalu membeku.
Dompetnya tak ada. Aurora mengaduk isi tas, menyibak saku jaket, bahkan meraba-raba saku belakang jeansnya.
Kosong, bahkan uang sewa kosnya pun hilang.
"Tidak... tidak mungkin," bisiknya panik. Nafasnya tercekat.
Pelayan menunggu dengan ekspresi tak sabar. "Maaf, Nona. Pembayaran Anda?"
Aurora menatap pelayan dengan wajah hampir menangis, tapi dia tak sanggup untuk bicara.
Kini Aurora di kantor polisi. Ia duduk di kursi plastik dingin, memeluk tas kecilnya yang nyaris kosong. Wajahnya pucat, rambutnya berantakan. Seorang polisi muda sedang menanyainya, sementara pemilik restoran berdiri di dekatnya, bersilang tangan dengan ekspresi kesal.
"Aku tidak mencoba kabur," jelas Aurora untuk kesekian kalinya. Suaranya lirih tapi tegas. "Dompetku dicopet, seseorang menabrakku sebelum aku selesai makan. Aku bisa buat laporan kehilangan."
"Ah, alasan klasik," gumam si pemilik restoran dengan nada mencibir. "Sudah makan, terus pura-pura dompet hilang. Jangan-jangan itu memang niat awalmu."
Aurora menunduk. Pipinya panas. Jantungnya nyeri, bukan karena takut, tapi karena harga dirinya diinjak-injak.
Lalu, suara langkah terdengar di luar ruangan. Tegas, mantap, dan mengisi udara dengan aura dominasi. Pintu terbuka perlahan, dan berdirilah Rafael Valentino dengan setelan jas rapi dan senyum samar di bibir.
"Saya akan bayar makan malam nona ini. Dan tambahan kompensasi karena waktu Anda terbuang," katanya sambil menatap Aurora dengan penuh kemenangan.
Si pemilik restoran langsung melunak, senyumnya muncul tiba-tiba. "Ah... terima kasih, Tuan. Kalau begitu saya tidak akan perpanjang urusan ini." Ia pun keluar dengan cepat, menghindari masalah.
Polisi yang tadi memeriksa hanya mengangguk kecil. "Kalau begitu, kami anggap selesai. Tapi sebaiknya Nona tetap melapor soal pencopetan."
Aurora masih terpaku. Matanya menatap Rafael tajam, penuh rasa tak suka. "Apa kau menguntitku?"
Rafael terkekeh pelan. "Jangan terlalu percaya diri. Aku hanya memastikan investasi baruku tidak kelaparan atau tidur di sel semalaman."
"Kau pikir ini lucu?" bisik Aurora, suaranya gemetar. "Kau pikir aku senang menjadi orang yang harus diselamatkan olehmu, setelah semua yang kau lakukan?"
Rafael mencondongkan tubuh, menatapnya langsung. "Aku hanya membantu. Tapi jika kau lebih suka kelaparan, aku bisa pergi sekarang," ucapnya lalu berjalan pergi meninggalkan Aurora yang dilema.
Bersambung ...