Bab 3

"Aaaah! Kenapa kamu memukulnya? Dasar perempuan tua!"

Melihat aku memukul pria yang dicintainya, Chika berteriak seperti ayam betina marah dan berlari menghampiriku.

Bukannya menghindar, aku malah menatap langsung ke mata Surya.

Chika mendorongku hingga terjatuh dan perut bagian bawahku terbentur pinggir ranjang. Rasa sakitnya membuat wajahku pucat dan aku tidak bisa berdiri tegak.

"Sayang!"

Dengan gesit Chika segera memeluk lengan Surya, mencegahnya untuk mendekat dan menolongku.

"Pergi sana! Kamu memang nggak tahu diri!"

Surya menarik lengannya dari pelukan Chika dan dengan satu tangan, dia menjatuhkan gadis itu ke lantai.

Kemudian, dia mengangkatku dari lantai dan berusaha meletakkanku di ranjang untuk memeriksa lukaku.

Dengan sekuat tenaga aku berusaha keluar dari pelukannya, "Kotor sekali."

Yang aku maksud adalah ranjang rumah sakit, dan juga Surya.

Surya terdiam di tempat, matanya yang merah menatapku dengan tatapan kosong, tampak seperti anjing kecil yang ditinggalkan.

"Kak Surya, perutku sakit sekali ...."

Teriakan Chika membuat Surya kembali sadar.

Dia melihatku, lalu melihat Chika yang terpuruk di lantai. Bibirnya mulai bergerak untuk berbicara.

"Maaf, Yona. Tunggu sebentar ...."

Sambil berbicara, dia berbalik, mengangkat Chika dan segera berlari keluar.

"Kamu tahu nggak, anakmu hilang!"

"Kamu yakin mau mengabaikan keselamatan anakmu hanya demi dia?"

Langkah Surya terhenti sejenak, tetapi akhirnya dia tetap diam, menggendong Chika dan pergi cepat-cepat.

Aku menutup mata. Rasa benciku pada Surya sudah mencapai puncaknya.

Entah bagaimana aku bisa kembali ke rumah.

Kepalaku pusing, bayangan wajah Kiky yang menangis terus terngiang dalam pikiranku.

Aku tidak tahu apakah dia dipukul.

Apakah dia kelaparan.

Dia pasti sangat takut sekarang.

Pasti dia menangis mencari ibunya.

"Kiky ...."

Aku memeluk dadaku, menangis hingga napasku sesak.

Tidit ... ada pesan masuk di ponselku.

Tanpa peduli dengan luka di kakiku, aku berlari cepat untuk mengambil ponselku.

Pesan itu dari Chika.

Tanpa keterangan apa pun, hanya sebuah foto yang jelas dikirim untuk memancing kemarahanku.

Dalam foto itu, tangan Surya yang kokoh dengan jari-jari yang tegas sedang menyentuh lembut perut Chika yang mulai membuncit. Di pergelangan tangannya masih terpasang jam tangan yang aku berikan saat kami masih berpacaran.

Namun, cincin pernikahan di jari manisnya hilang entah ke mana.

Hanya menyisakan bekas putih.

Padahal, saat Surya mengusap air mataku, cincin itu masih terasa di wajahku.

Betapa lucunya.

Aku menenangkan diri dan langsung menulis pesan. "Aku tahu kamu pacaran dengan Surya, kembalikan anakku, aku akan bercerai dengannya."

Tidak lama kemudian, pesan Chika datang lagi.

"Kakak ngomong apa, sih? Aku nggak mengerti. Aku hamil anak laki-laki, buat apa aku ambil anakmu!"

Aku beri tawaran yang lebih besar: "Asalkan adikmu mengembalikan putriku dengan selamat, aku akan pergi tanpa bawa apa-apa dan tidak akan menuntut apa pun."

Chika: "Kak Surya saja tidak mau menemanimu mencari anak kesayanganmu yang hilang, kenapa kamu merasa perlu membahas ini denganku? Lagi pula, bagaimana kamu bisa yakin kalau 'hilangnya' anakmu itu bukan dengan persetujuan Kak Surya?"

Membaca pesan Chika, tubuhku langsung terasa dingin.

Sudah tiga hari Surya tidak pulang.

Bahkan setelah aku bolak-balik ke kantor polisi dan polisi sudah menahan Yudha.

Aku tetap belum bertemu dengan Surya.

Bahkan teleponku terus-menerus tidak tersambung.

Akhirnya, pada malam hari keempat, Surya baru pulang ke rumah.

Aku menatapnya tanpa ekspresi, mulutku ingin bicara, tetapi suaraku tercekat.

Seperti biasa, dia sangat perhatian, membawakan segelas air dengan suhu yang pas.

Tidak ada sedikit pun tanda penyesalan di wajahnya.

Aku menerima gelas itu dan langsung melemparnya ke arah Surya.

Mungkin karena merasa bersalah, dia tidak menghindar.

Dengan tegar dia menerima kemarahanku. Bahkan gelas yang menghantam kepalanya itu sampai membuatnya berdarah.

Bab 4

Surya mengusap darah di dahinya, lalu dengan hati-hati berlutut di depanku.

"Sayang, maafkan aku. Aku pulang terlambat. Aku ...."

Aku mengangkat tangan, dengan seluruh kekuatan aku menampar wajah Surya dengan keras.

"Surya, apa kamu ini masih manusia? Anakmu hilang, tapi kamu malah berhari-hari nggak pulang! Nyawa anakmu kalah penting dibandingkan hal nggak berguna itu, ya?!"

Ekspresi Surya langsung berubah dingin, terutama saat mendengar bagaimana caraku menyebut Chika.

"Apa kamu harus bicara sekasar itu? Apa maksudmu 'hal nggak berguna' itu! Mana sopan santunmu, Yona!"

Melihat pria di depanku, yang hatinya jelas sudah sepenuhnya berpihak pada Chika, aku sadar. Aku tidak bisa lagi berharap dia punya hati nurani.

"Mereka sudah buat anakku hilang, apa aku masih perlu pikirkan sopan santun?!"

"Dia ingin menikah denganmu, 'kan? Suruh dia kembalikan Kiky, maka aku akan langsung cerai denganmu! Aku kasih dia tempatku! Kiky masih kecil, dia pasti ketakutan ...."

"Cukup!"

Surya memotong kata-kataku dengan nada kesal.

"Yona, kamu sudah gila? Chika itu cuma anak magang yang nggak punya apa-apa, tapi kamu terus-menerus menyerangnya. Sekarang kamu malah menuduh dia seperti ini! Kamu mau bikin dia mati, ya?!"

Wajah yang dulu begitu hangat dan lembut kini sepenuhnya berubah jadi penuh kritik dan kebencian padaku.

"Lagi pula, kamu tahu aku sibuk kerja tapi tetap saja kamu minta aku menjemput Kiky. Kalau anak kita benar hilang, apa kamu nggak merasa itu salahmu juga?"

Aku menatap Surya dengan tidak percaya.

Aku tidak mengerti bagaimana dia bisa berbicara sekurang ajar itu dengan begitu percaya diri.

Pada saat itulah, aku benar-benar sadar bahwa, hati Surya sudah berada jauh.

Dia bukan lagi milikku atau Kiky.

Mungkin dia juga menyadari betapa tidak pantas kata-katanya, maka dia pun berlutut lagi. Dia menggenggam tanganku dengan lembut, sambil membujukku.

"Sayang, aku janji, Kiky pasti nggak apa-apa! Dia aman, kok! Kamu percaya aku, ya?"

Aku menarik tanganku sambil menatapnya.

"Kamu dan Chika yang bawa dia, 'kan?"

"Kalau dia memang aman, kenapa nggak kamu kembalikan ke aku?"

"Hanya karena dia hamil anakmu, dia nggak tahan lihat aku dan Kiky bahagia, makanya dia tega merebut Kiky dari aku?"

Surya menarik napas panjang. "Itu karena dukun bilang, perlu ada anak kecil di dekatnya supaya persalinannya lancar. Ibuku sampai mengancam akan bunuh diri, aku juga takut kamu nggak bisa terima. Jadi, aku nggak ada pilihan lain ...."

"Tapi, kamu nggak takut aku bakal mati gara-gara berpikir Kiky hilang, ya? Apa dukun itu nggak bilang kamu bakal jadi duda juga?"

Aku akui, dulu aku buta karena cinta, tapi aku bukan orang bodoh.

Hanya pria sombong macam Surya yang bisa percaya bahwa Chika itu wanita polos, tak berdosa.

Kalau dibilang Chika tidak terlibat, sampai mati pun aku tidak akan percaya.

Sebenarnya, saat Surya berselingkuh, aku tidak pernah berniat menyakiti Chika.

Namun, seharusnya dia tidak mengusik anakku.

Raut wajah Surya berganti-ganti, dan akhirnya dengan susah payah dia mulai bicara.

"Yona, aku tahu aku salah. Tapi setelah sekian tahun ini, kamu juga seharusnya memikirkan perasaanku."

"Ibuku sejak awal nggak mau menerima kamu, tapi dia sangat ingin punya cucu, sementara kamu sudah nggak memungkinkan untuk punya anak lagi. Setelah anak Chika lahir, aku akan beri dia uang dan mengirimnya ke luar negeri."

"Aku dan Chika sebenarnya cuma kecelakaan, tapi ketika ibuku tahu, dia mengancam bunuh diri. Makanya anak itu dipertahankan. Aku sama sekali nggak mencintai Chika, hanya kamu yang aku cintai sejak awal hingga sekarang."

"Dengan begitu, kamu juga nggak perlu susah-susah hamil lagi, kita akan punya anak laki-laki, dan ibuku perlahan akan menerima kamu. Bukankah begini lebih baik?"

Wajah yang dulu sangat aku kenal, sekarang tidak lagi terasa dekat sedikit pun.

Aku menatap Surya, lalu tertawa terbahak-bahak.

Aku tertawa sampai menangis.

"Tapi, Surya, aku nggak bisa menunggu selama itu."

Surya kehilangan kesabarannya dan mulai berteriak, "Mau sampai kapan kamu begini? Ibuku ingin seorang cucu, sementara kamu nggak bisa memberi itu! Aku sudah berkorban banyak untukmu, apa artinya kalau sekali ini saja kamu berkompromi untukku?"

"Kenapa orang lain bisa sabar, tapi kamu nggak bisa? Cuma beberapa bulan saja, Yona, kamu terlalu egois!"

Aku berteriak putus asa ke arah Surya, "Tapi aku kena kanker, Surya! Umurku nggak akan lama lagi!"

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari “B42207” di Goodnovel untuk membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Goodnovel untuk melanjutkan membaca.
B42207
Salin
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED