"Sayang, maaf, mas pulangnya telat. Ini mobilnya mogok di tengah jalan. Mau dibawa ke bengkel udah pada tutup," ucap suara di seberang telepon.
"Terus sekarang mas ada dimana?" tanyaku khawatir.
"Masih di pinggir jalan, Dek. Entahlah ini mas bingung mau apa. Ya sudah, mas tutup dulu teleponnya ya. Kamu gak usah khawatir, mas pasti pulang, cuma agak telat. Ini mas mau nyoba benerin sendiri dulu," sahutnya kemudian. Dia menutup panggilan teleponnya.
Kulirik jam yang bertengger di dinding, jam bundar itu sudah menunjuk ke angka sembilan.
Hatiku begitu resah, selain menunggu suamiku pulang, aku juga menunggu Keysha. Detik jam terus merayap, suasana malam kian sepi. Lagi lagi aku berjalan mondar-mandir dan menyibakkan tirai jendela. Berharap mereka secepatnya datang.
Perasaanku bertambah khawatir karena tak ada kabar apapun dari Keysha. Aku sudah menghubungi Keysha, namun ponselnya tidak aktif. Sebenarnya apa yang terjadi pada gadis itu? Tadi siang, dia berpamitan denganku ada tugas kuliah dan sekalian main ke tempat kawannya.
Aku sebagai tantenya jelas sangat khawatir, anak gadis jam segini belum pulang. Ya, Keysha adalah keponakanku. Ia putri dari Mbak Niah, kakak kandungku. Usiaku terpaut 12 tahun dengan Mbak Niah. Jadi saat Mbak Niah berumur 12 tahun, aku baru lahir. Seiring berjalannya waktu, kami tumbuh bersama. Sifat Mbak Niah yang keibuan bisa ngemong aku yang masih manja. Dia selalu menuruti aku dan menyayangiku sepenuh hati. Hubungan kami terjaga dengan baik walaupun Mbak Niah sudah menikah.
Namun dua tahun lalu, sebuah musibah menimpa keluarga Mbak Niah, rumahnya kebakaran, ludes dilahap si jago merah. Mbak Niah dan suaminya mati terpanggang dalam kobaran api. Sedangkan Keysha, kebetulan dia ada diluar rumah saat kebakaran terjadi. Dia sangat shock dan terpukul harus kehilangan kedua orang tuanya beserta rumah dan harta bendanya di usianya yang masih belia. Aku, sebagai saudara satu-satunya Mbak Niah, akhirnya mengajak Keysha untuk tinggal bersamaku. Sebisa mungkin aku menghiburnya agar Keysha tak terpuruk dari rasa trauma. Tak butuh waktu lama, gadis cantik itu bisa ceria kembali.
Aku sangat menyayangi keponakanku itu. Justru banyak yang bilang kami seperti kakak dan adik, karena umur kami hanya terpaut 8 tahun. Umurku saat ini 28 tahun sedangkan umur Keysha menginjak 20 tahun. Ya, dulu Mbak Niah menikah muda. Dan kedua orang tua kami meninggal tak lama setelah Mbak Niah menikah.
Aku mengajak putrinya untuk tinggal bersamaku mengingat Mbak Niah sangat berjasa terhadapku. Mas Rizki pun menyetujui keputusanku, bahkan dia yang membayarkan biaya kuliah Keysha.
Detik demi detik berlalu, mereka masih belum pulang. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Akhir-akhir ini suamiku dan Keysha selalu pulang telat. Banyak alasan yang dia lontarkan. Ia bilang minggu ini sedang banyak pekerjaan, jadi dia harus lembur. Sebenarnya aku bisa maklum, memang pekerjaannya sangatlah padat, suamiku adalah seorang manager pemasaran.
Sedangkan Keysha, ia juga selalu beralasan jikalau pulang telat. Bukannya aku tak percaya, tapi aku memang menaruh curiga, mereka selalu kompak jika pulang telat, entah hanya kebetulan belaka atau bagaimana.
Tok... Tok... Tok...
Suara pintu diketuk. Kusibak tirai jendela, kulihat Keysha sedang berdiri dengan gelisah. Akupun membuka kunci dan memutar gagang pintu. Dalam sekejap pintu itu terbuka.
"Assalamualaikum, tante," sapanya sambil mencium tanganku.
"Waalaikum salam. Key, dari mana saja? Jam segini kok baru pulang?" tanyaku penuh selidik. Kulihat wajahnya kelelahan dan ada tanda merah di lehernya. Aku mengerutkan kening, apa yang dilakukan keponakanku diluar sana? Jangan-jangan dia terjebak dalam pergaulan bebas?
"Key, kenapa itu dengan lehermu?"
Keysha nampak gugup lalu menutupi sebagian lehernya dengan rambutnya yang panjang.
"Ada apa? Jangan buat tante khawatir!" tukasku kembali.
"Emmh gak apa-apa kok tan, ini tadi digigit semut, aku garukin sampai merah," jawabnya gugup, lalu dia langsung berlalu ke kamarnya dan mengunci pintu.
Aku tahu, Keysha pasti hanya beralasan. Dia tak pandai berbohong. Netranya menjawab semua itu. Lagi pula aku bukan anak kecil lagi yang dengan mudahnya dibohongi. Aku tahu itu bukan digigit semut, tapi itu tanda kissmark. Lalu Keysha melakukannya dengan siapa?
Sudah pernah kunasehati supaya Keysha tidak terjebak dalam pergaulan bebas, kalau tidak dia akan menyesal. Keysha menjawabnya dengan mantap.
"Tenang saja tante, Keysha bisa jaga diri," jawabnya waktu itu.
Aku sangat tahu dia adalah gadis yang baik, tapi sifatnya pendiam dan tertutup, dia tak mau curhat denganku.
"Key, sudah makan belum? Ini tadi tante masak sambel goreng ati kesukaanmu," teriakku dari luar pintu.
"Gak tante, Keysha masih kenyang, tadi sudah makan bareng temen-temen," sahutnya.
"Bener kamu gak apa-apa?"
"Iya tan, Keysha baik-baik saja. Tante jangan khawatir."
Aku berlalu lagi duduk di sudut sofa di ruang TV, pikiranku mulai kalut. Apa sebenarnya yang dilakukan gadis itu? Apakah pergaulannya diluar sana sudah sejauh itu?
Disisi lain aku juga memikirkan suamiku yang tak kunjung pulang.
Deru mobil memasuki halaman. Aku tahu itu pasti Mas Rizki. Aku sudah hafal dengan suara mobilnya. Kubuka pintu, kulihat dia keluar dari mobilnya. Wajahnya nampak sangat kelelahan.
Aku menyambutnya di depan pintu. Mencium punggung tangannya dan memeluknya adalah rutinitasku tiap dia pulang kerja. Ada yang berbeda dengan aroma tubuhnya. Wangi parfum perempuan begitu melekat di kemejanya. Bau wangi itu terendus di hidungku. Aku mendongak perlahan menatap manik matanya dalam-dalam.
"Ada apa, Dek?" tanyanya sambil tersenyum.
"Mas, jujur saja kamu itu habis dari mana?" tanyaku penuh selidik.
"Dari kantor lah, dek..."
"Tadi katanya mobilmu mogok? Tapi ini kenapa kemejamu bau parfum wanita?"
Dia justru terkekeh. "Iya, kebetulan mas punya kenalan orang bengkel, jadi mas telpon saja dia untuk memperbaiki mobil mas," jelasnya.
"Terus aroma parfum ini?"
"Ah ini? Tadi mas minta parfumnya orang bengkel, mas udah bau keringat," jawabnya dengan santai. Masa sih, kemana-mana orang bengkel bawa parfum? Aroma parfum wanita lagi! Kenapa mendengar jawaban itu, suamiku terkesan mengada-ada. Jangan-jangan dia berbohong padaku??ucapannya justru membuatku makin curiga. Apa yang dilakukan Mas Rizki di belakangku? Apakah dia telah mengkhianatiku?
"Mas mau mandi dulu, terus mau langsung tidur, capek banget," ujarnya sembari ngeloyor pergi.
"Mas, mau makan? Biar aku siapin..."
"Tidak usah dek, tadi mas udah makan di kantor," jawabnya tanpa berpaling ke arahku.
Aku berbaring diatas kasur. Tak lama, Mas Rizki keluar dari kamar mandi. Aku menatapnya tajam, apakah ada yang disembunyikan oleh suamiku?
"Mas, apa tadi kamu bareng sama Keysha?" tanyaku. Entahlah kenapa kecurigaanku menyeruak begitu saja. Melihat mereka pulang dalam waktu yang hampir bersamaan. Apa ini hanya kebetulan? Feelingku sudah merasa tak enak.
Dia memandang wajahku dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Enggak, kenapa memang?" tanya Mas Rizki, dia naik ke ranjang dan berbaring di sampingku. Dia meraih benda pipih dan berselancar di sosmednya, mungkin.
"Keysha juga baru pulang, Mas."
"Terus?" tanyanya sambil terus menatap layar ponselnya.
"Ada bekas tanda merah di lehernya, mas. Aku khawatir Keysha...."
"Dia sudah besar dek, dia pasti tahu mana yang terbaik untuk dirinya sendiri. Udah kamu gak usah khawatir, kamu kayak gak pernah muda aja," timpal Mas Rizki, dia kemudian meletakkan handphonenya diatas nakas lalu matanya mulai terpejam.
Aku belum selesai bicara, kenapa kamu sudah tidur sih mas! Biasanya kamu akan selalu peduli dengan apa yang kukatakan. Kenapa kali ini kau berbeda? Seakan tak mau menanggapi ucapanku. Kulirik suamiku kembali, dia sudah mendengkur. Cepat sekali dia terlelap, apakah dia sangat lelah?
Kuraih ponsel suamiku, ingin memeriksanya. Tapi ternyata ponselnya dikunci, aku tidak tahu kode untuk membuka layar ponselnya. Dan tak biasanya dia seperti ini, sebenarnya apa yang dia sembunyikan?
Mendadak kecurigaanku makin bertambah ketika sebuah notif pesan WA dari Keysha. Ada apa malam-malam gadis itu chat suamiku? Kalau ada apa-apa kan bisa tanyakan padaku! Namun sayangnya aku tak bisa membuka pesan itu, sudah kucoba berkali-kali untuk membuka kode, tapi selalu gagal. Membuatku sangat frustasi.
***
Aku terbangun, mencari sosok di sampingku, dia tidak ada. Jam yang bertengger di dinding masih menunjuk ke angka dua, dini hari. Ah, kemana suamiku pergi?
Aku menuju ke dapur, mengambil air minum, untuk menghilangkan rasa dahaga di tenggorokan. Tak sengaja samar-samar kudengar suara seseorang mengobrol di kamar keponakanku.
Aku berjalan mendekat dengan debaran jantung yang tak biasa.
"Om, Key takut, kalau Key hamil gimana?" suara manja keponakanku terdengar dengan jelas.
"Tenang saja, om akan bertanggung jawab."
Deg! Itu suara Mas Rizki. Apa yang mereka lakukan? Ingin kuketuk pintu namun urung kulakukan karena mendengar kejutan lainnya.
"Maksudnya, om akan menikahi aku?"
"Iya, sayang..."
"Lalu Tante Nadia, bagaimana?"
"Maafkan om, Key. Tapi om hanya bisa menjadikanmu sebagai istri kedua. Om masih mencintai Tante Nadia, hanya saja dia tak kunjung memberikan om keturunan. Kamu mau kan kalau jadi istri kedua?"
"Iya, om..."
Praankk ...
Gelas yang kubawa luruh seketika. Dadaku bergemuruh hebat. Ada deburan ombak bergulung-gulung mengikis hatiku. Sakit rasanya. Jantungku berdetak sangat cepat, emosiku membuncah. Butiran bening ini pun tak mampu tertahan. Air mataku sudah jatuh seperti kucuran air hujan. Sakit dan kecewa.
Segera aku berlari dan mengunci pintu kamar. Tak kuhiraukan panggilan Mas Rizki dari balik pintu. Ia merajuk agar bisa dibukakan pintu.
"Dek... Buka pintunya, dek! Mas mau bicara..."
Suara Mas Rizki terdengar bergetar. Suara yang dulu selalu mendamaikan hatiku, kini berbalik menyerangku seperti sayatan sembilu. Perih.
"Dek, buka pintunya, dek! Mas mau bicara!" teriaknya lagi sembari menggedor pintu.
"Tidak perlu ada yang dibicarakan lagi, mas. Aku sudah mendengar semuanya. Tega kamu, mas!"
"Nadia, ini gak seperti yang kamu pikirkan!"
"Tidak seperti yang kupikirkan bagaimana? Aku mendengar percakapanmu bersama Keysha dengan jelas."
"Nadia, kamu salah paham. Buka dulu pintunya, biar mas jelaskan."
"Ya jelas aku salah paham. Untuk apa kamu masuk ke kamar Keysha tengah malam begitu? Kau sudah menodainya, benar kan?"
"Mas tidak menodainya sayang, kami lakukan itu atas dasar suka sama suka."
Deg! Bagaikan disambar oleh petir mendengar pengakuannya. Suka sama suka katanya? Astaghfirullah hal'adzim... Jadi mereka melakukan hubungan yang terlarang, tanpa takut berbuat dosa?
"Dasar menjijikkan! Kenapa kamu tega melakukan ini padaku, Mas? Apa salahku? Apa hanya gara-gara aku belum bisa memberikan anak seperti yang kau mau? Jadi dengan teganya kau mengkhianati pernikahan kita?!"
"Tidak, Nadia."
"Cukup, mas. Cukup! Aku tak mau mendengar alasanmu lagi!"
"Nadia, aku masih mencintaimu. Tapi aku juga mencintai keponakanmu, Keysha!"
Dasar serakah! Harusnya satu wanita saja sudah cukup. Oh, ternyata benar, sebuah nasehat yang diungkapkan oleh orang-orang. Kesetiaan istri diuji saat sang suami tak punya apa-apa, dan kesetiaan suami diuji saat dia memiliki segalanya.
Kudengar derap langkah menjauh dari kamarku. Ah, bolehkah aku marah seperti ini? Hatiku sudah terlanjur sakit karenanya. Nyeri.
Entah sudah berapa liter air mata yang sudah kutumpahkan. Rasanya belum kering juga. Aku terkulai dibalik pintu sambil memeluk lutut. Rupanya hanya bualan belaka ketika dia bilang mencintaiku apa adanya. Buktinya, baru menikah lima tahun, dia sudah tega mengkhianatiku, hanya karena aku tak kunjung hamil.
Tak habis pikir, kenapa dia harus berselingkuh dengan Keysha? Keponakanku sendiri! Kejutan yang mereka berikan justru menambah beban luka di hatiku. Sakitnya terasa sampai ke ulu hati.
Aku mendongak dan mengerjap-ngerjapkan mata perlahan, jam sudah menunjuk angka lima pagi. Ah, rupanya aku ketiduran karena hatiku sangat lelah. Aku segera bergegas bangun untuk melaksanakan kewajibanku sholat subuh. Kubasuh wajahku secara perlahan, lalu segera mandi pagi.
Mau tak mau aku harus menghadapi kenyataan ini. Walau bagaimanapun juga, Mas Rizki masih suamiku. Oke, akupun harus membuatkannya sarapan, sebentar lagi dia akan berangkat ke kantor. Telat sedikit saja dia akan terjebak macet selama berjam-jam.
Sungguh aku tercengang melihatnya. Mas Rizki dan Keysha sedang bercengkrama di dapur. Entahlah apa yang mereka lakukan, sepertinya Mas Rizki sedang mengajari Keysha memasak. Sungguh menjijikkan, setelah aku tahu tentang hubungan mereka, justru mereka makin terang-terangan memperlihatkannya di depanku, tanpa rasa bersalah?
"Eh, dek, kau sudah bangun?" sapa Mas Rizki agak kikuk.
"Tante, biar hari ini Keysha yang masak. Tadi om udah kasih tahu resep-resepnya, ini sebentar lagi juga matang," ucapnya dengan nada manja. Mas Rizki pun tersenyum tanda setuju dengan ucapannya.
Aku tersenyum getir. Muak melihat mereka berdua. Mendadak mual perutku mendengar semua itu. Anak itu, dia yang tadinya sangat polos dan manja. Kini dia menusukku dari belakang?? Bagaimana perasaanmu teman? Bagiku, ini terlalu sakit. Laku bagaimana caranya aku mengumpulkan puing-puing hati yang sudah remuk dan berserakan?
***
"Dek, ada yang mau kukatakan padamu," ucap Mas Rizki memecah kebisuan.
Aku bergeming sambil terus mengoles roti dengan selai strawberry. Tak Sudi aku memakan masakan Keysha, walaupun makanan itu sudah tersedia di meja makan.
"Kamu gak makan masakannya Keysha, dek? Ini pertama kalinya dia memasak lho, harusnya kamu bisa menghargainya," ujar Mas Rizki.
Kulihat Keysha dengan bersemangat menyendokkan nasi plus lauk pauknya ke piring Mas Rizki. Dia pula yang menyiapkan air putih untuknya.
"Makasih, Key," sahut Mas Rizki sambil tersenyum manis. Memuakkan!
Tak berapa lama, Mas Rizki terlihat memicingkan matanya.
"Key, ini keasinan. Harusnya tambah garamnya sedikit aja."
"Masa sih, om?" tanyanya lalu dia mulai mencicipi masakannya sendiri. Beh... Beh... Dia melepehkan makanannya untuk mengurangi rasa asin. Keysha kemudian nyengir kuda.
"Maaf om..."
"Iya gak apa-apa, Key. Nanti belajar masak lagi ya sama Tante Nadia, lama-lama juga kamu akan terbiasa," sahut Mas Rizki dengan santainya.
Cuihh... Belajar masak bersama? Silahkan saja bermimpi! Dulu mungkin aku menginginkannya, tapi tidak sekarang setelah aku tahu kalian mengkhianatiku di belakang!
"Iya, om," sahut Keysha.
"Hari ini biar om sarapan roti selai saja."
Aku bangkit dari duduk, tapi genggaman tangannya mencegahnya untuk pergi.
"Duduk dulu, dek. Ada yang mau mas katakan padamu," tukasnya sambil menatapku dengan tegas.
Aku kembali duduk seperti yang dia minta.
"Katakan, mas!" sergahku. Sudah dari semalam aku menyiapkan hatiku untuk mendengarkan semuanya, meskipun satu sisi hatiku tidak akan kuat untuk menerima semua itu.
"Nadia, izinkan mas menikahi Keysha," pintanya dengan nada lembut.
Mendadak lidahku jadi kelu. Jantungku berdentam-dentam hebat seperti letupan gunung berapi. Panas dan bergemuruh.
"Kenapa tidak kau ceraikan aku dulu, Mas?" tanyaku dengan bibir bergetar hebat. Aku tak kuasa menahan semuanya. Air mataku berderai tanpa henti. Sungguh aku malu pada diriku sendiri. Kenapa aku nangis di hadapan mereka, terutama gadis itu. Ah bukan gadis, dia memang gadis tapi sudah tak perawan. Memang gila!
"Tidak Nad, sudah kubilang, aku mencintaimu. Aku tidak akan menceraikanmu."
"Kau bilang ini cinta? Kalau kau benar-benar cinta, tidak akan ada pengkhianatan dalam hubungan kita!" protesku penuh emosi.
"Nadia, poligami kan tidak dilarang oleh agama!"
Tiba-tiba sebuah suara mengagetkan kami bertiga. Ibu mertuaku datang dengan senyumannya yang sinis. Ya, dari dulu memang ibu mertuaku tak pernah menyukaiku.
"Apa maksud ibu?" tanyaku.
Ibu Mertuaku duduk di samping Keysha yang masih menatapku dengan tatapan tak suka.
"Harusnya bagus dong, Rizki mau berterus terang padamu, dan izin mau menikah lagi!"
Mas Rizki tersenyum, gayungnya seperti bersambut karena dibela oleh sang ibu.
"Diluar sana banyak lelaki yang menikah lagi tanpa istri pertamanya tahu. Kamu termasuk beruntung lho," ucapan ibu mertuaku sungguh seperti paku berkarat yang sengaja ditancapkan ke dalam daging.
Beruntung kata ibu? Hah, dasar ibu yang aneh, anaknya melakukan kesalahan justru dibela. Andai saja semalam aku tak memergoki hubungan mereka, mereka pasti akan menyimpannya rapat-rapat, bukan?
"Bagaimana Nadia, apakah kamu mau dipoligami? Lagi pula, adik madumu nanti keponakanmu sendiri."
"Sungguh miris kalian ini! Tidak punya akal! Apa ibu tidak tahu? Bahwa menikah dengan keponakan istri itu tidak diperbolehkan?! Kecuali sang istri diceraikan lebih dulu?! Apa kamu tidak tahu hal itu, mas?" nada suaraku mulai meninggi.
Ah ya! Pasti kamu tidak tahu, karena hati dan akalmu sudah dipenuhi oleh nafsu. Aku menatap tajam ke arah Mas Rizki dan juga Keysha. Mereka terdiam dan Keysha hanya menunduk.
"Baiklah mas, kalau kamu mau tetap menikah dengan Keysha, silahkan saja, aku tidak melarang. Tapi maaf, aku yang mundur mas," ujarku walau hatiku remuk redam.
"Tapi, Nad...."
"Terlepas dari hukum itu, sampai kapanpun Aku tak mau dimadu, mas. Aku tidak rela membagi suamiku dengan orang lain."
"Kamu paham apa resikonya kalau kau bercerai dengan Rizki, Nadia?!" tukas ibu mertuaku ikut menyela ucapanku.
"Aku paham, Bu. Aku tidak akan menuntut harta apapun dari Mas Rizki. Tapi aku minta hak rumah ini ada padaku. Walau bagaimanapun juga aku ikut andil dalam pembangunan rumah ini!"
"Tidak bisa begitu dong! Selama ini kan kau tidak bekerja!" seru ibu mertuaku lagi.
"Sudah Bu, sudah. Nadia juga berhak atas rumah ini. Pembangunan rumah ini sebagian menggunakan uang tabungannya ketika dia masih sendiri," pungkas Mas Rizki.
Maaf ya, Bu. Walau bagaimanapun aku tidak rela hasil jerih payahku tidak dihargai.
Ibu mendengkus kesal seakan dia tak terima dengan keputusan ini. Haruskah ibu mertua seperti ini aku hormati?
Aku bergegas ke kamar, dan memasukkan baju-baju suamiku ke dalam koper. Lalu menyerahkan koper itu padanya.
"Tega kamu ya, Nad! Orang masih makan malah diusir terang-terangan begini!" teriak ibu mertuaku lagi.
"Siapa yang lebih tega, Bu? Aku atau anakmu?" timpalku tepat menghunjam hatinya.
Ibu tak bisa berkata-kata lagi. Dia menatapku dengan sorot mata yang tajam. Ia benar-benar tidak suka denganku. Apalagi saat aku meminta rumah ini menjadi hakku. Entah apa yang membuatku lebih berani membela hakku sendiri.
"Silahkan ibu bawa anakmu dan calon mantumu yang baru, aku tidak sudi mereka berlama-lama ada disini!"
"Silakan pergi!" seruku dengan nada tinggi. Aku tak peduli mereka menganggapku tak berperasaan.
"Dasar menantu kurang ajar! Wanita tidak tahu diri!" ibu balas membentakku.
"Yang kurang ajar dan gak tahu diri itu anakmu, Bu! Tega-teganya dia berselingkuh bahkan dengan keponakan istrinya sendiri!"
Mas Rizki hanya diam, dia terlihat marah namun tak dapat mengungkapkannya.
"Kamu juga, Key, kemasi barang-barangmu! Tante beri waktu 10 menit, kalau tidak tante yang akan melemparkan baju-bajumu ke jalanan!" hardikku lagi.
Keysha menatapku dengan tatapan tidak suka. Ia kemudian pergi berjingkat ke kamarnya.
"Dek, tolonglah jangan seperti ini. Kita masih bisa bicarakan baik-baik," tukas Mas Rizki dengan tatapan menghiba.
"Sudahlah Rizki, buat apa kamu memelas seperti itu! Baguslah kalau kamu lepas dari wanita licik ini! Lagipula kamu juga bukan wanita yang sempurna! Kamu tidak bisa memberikan keturunan untuk Rizki! Biarkan Rizki memilih jalannya sendiri!" pungkas Ibu mertuaku.
Luka sayatan di hatiku bertambah menganga karena ungkapan ibu. Seorang ibu yang seharusnya menjadi penengah ketika ada masalah dalam rumah tangga kami, justru makin memperkeruhnya.
"Kamu yakin dek, mau pisah dari aku? Kamu yakin, bisa hidup tanpa aku?" tanya Mas Rizki seakan tak percaya dengan keputusanku.
"Aku yakin mas, meskipun hatiku sakit, tapi keputusanku takkan berubah, lebih baik aku mundur, mas. Silahkan kau menikah dengan Keysha, dan semoga kebahagiaanmu bisa terwujud."
"Tapi, dek... Kamu kan tidak bekerja? Bagaimana kamu bisa menghidupi dirimu sendiri? Selama ini aku yang selalu memberikan uang gajiku padamu. Apa kamu tidak menyesal berpisah denganku?" tanya Mas Rizki.
Hah, lucu sekali kau ini mas? Apa kau ini terlalu sombong? Mentang-mentang jabatanmu tinggi, seorang manager? Jadi memandang rendah aku yang hanya seorang ibu rumah tangga?
"Insyaallah Allah akan membantuku, mas. Kamu gak usah khawatir," lanjutku lagi.
Kau belum tahu saja mas, apa yang aku lakukan selama ini. Kamu itu terlalu merendahkanku sebagai seorang wanita. Dikira aku tak mampu untuk berusaha? Kamu salah besar mas. Bukan aku yang akan menyesal, tapi justru aku yang akan membuat hidupmu menyesal.
"Tante...." panggil Keysha. Dia sudah menenteng tas berisi pakaiannya, wajahnya terlihat sendu seperti enggan untuk meninggalkan rumah ini.
"Tolong maafin Key, Tan..." ujarnya. "Bolehkan kalau Keysha bilang ini? Key mencintai Om Rizki. Maafin Key, tante..."
Aku hanya tersenyum kecut. Aku tak pernah menyangka, gadis selugu kamu bisa setega ini sama tantemu sendiri. Padahal, almarhumah ibumu sangat baik pada tante. Ah sudahlah! Biarlah aku mengalah, tapi bukan berarti aku kalah. Aku hanya tidak mau bertahan dengan seorang pengkhianat. Aku tidak mau dimadu. Lebih baik aku yang mundur dari pada harus menelan pil sakit hati.
Mereka bertiga pergi meninggalkan rumah ini. Aku benar-benar sendirian sekarang. Benarkah keputusan yang kuambil sudah tepat?
Segera kututup pintu rumah. Hatiku tersayat begitu perih melihat Mas Rizki merangkul Keysha. Bahkan tidak segan-segan di hadapan ibunya. Keysha pun nampak menggelayut manja di lengannya. Aku benar-benar dikhianati.
***
Aku membereskan kamar Keysha mencari tahu apakah ada barangnya yang tertinggal di kamar?
Deg!
Ketemukan bungkus alat tes kehamilan yang sudah terpakai. Namun tak ada isinya. Tenggorokanku makin tercekat. Kelu. Mereka benar-benar sudah sejauh ini? Apakah Keysha benar-benar hamil?
Air mataku meleleh lagi, bahkan mereka sudah pergi, tapi kenapa rasa sakitnya masih tertinggal disini?
***
Kubasuh wajahku dan kembali memoles make up tipis-tipis, setidaknya agar sembabku tak begitu kentara. Kupandangi wajahku di depan kaca rias. Apakah wajah ini sudah terlihat tak menarik? Makanya Mas Rizki berpaling dariku?
Kuembuskan nafas dalam-dalam, mencoba mengurangi penat yang ada.
Aku segera memesan taksi online, dan menuju ke rumah Mirna, sahabatku. Dia juga pernah mengalami hal yang sama seperti ini. Dikhianati oleh sang suami. Padahal dia wanita yang sempurna. Diapun sudah memberikan dua anak yang lucu-lucu. Entahlah bagaimana dia bisa bertahan. Justru sekarang dia bisa hidup mandiri dengan usahanya.
"Nadia, kamu kenapa?" tanya Mirna dengan tatapan cemas.
"Mas Rizki mengkhianatiku, Mir," sahutku terisak.
"Astaghfirullah. Sama siapa, Nad?"
"Keponakanku sendiri,"
"Maksudmu Keysha? Gadis cantik itu? Anaknya almarhumah Mbak Niah?"
Aku hanya mengangguk menjawab pertanyaan Mirna. Hatiku rasanya ngilu.
"Astaghfirullah hal'adzim. Kenapa mereka tega menusukmu dari belakang sih! Keterlaluan!" gerutunya lagi. Dia memelukku. Ya, saat ini aku memang butuh sandaran.
"Aku akan selalu dukung keputusanmu, Nad. Jangan menyerah ya, kamu harus tetap semangat!" ujar Mirna lagi memberiku semangat.
"Mas Rizki mau menikahi Keysha, tapi dia gak mau menceraikanku, Mir."
"Dasar laki-laki tidak tahu diri. Aku tahu perasaanmu, Nad. Aku juga pernah merasakan hal yang sama. Tapi lebih baik, kau relakan saja mereka menikah, paling-paling hanya bisa nikah siri, tidak bisa nikah secara hukum negara karena tidak ada izin dari istri pertama," terang Mirna lagi.
"Ada yang membuatku lebih sakit dari sekedar itu, Mirna. Kemungkinan Keysha hamil, aku menemukan bungkus testpack di kamarnya."
"Astaghfirullah hal'adzim, mereka memang sudah benar-benar keterlaluan. Kau gugat cerai saja, Nad. Biar cepat lepas dari baj*ngan itu!"
Aku mengangguk. Aku juga sudah tidak sudi untuk jadi istrinya lagi. Hatiku terlalu sakit. Aku tak pernah menyangka, mereka tega mengkhianatiku. Keponakan yang aku sayangi, menjadi duri dalam rumah tanggaku. Pun suamiku, suami yang dulunya lembut padaku justru berkhianat menorehkan luka yang begitu dalam.
"Bagaimana kalau kamu ikut mengelola Butik Kinita?" tukas Mirna menghenyakkanku pikiranku. Aku menoleh memandang paras wajah sahabatku itu. Ia nampak sumringah meskipun pernah patah hati. Mungkin aku perlu mencontoh semangatnya.
"Tidak usah Mir, itu kan butik kamu."
"Tapi kamu juga punya andil dalam berdirinya butik itu. Kalau saja tidak ada tambahan uang modal dari kamu, mungkin Butik Kinita tidak bisa berdiri," ujar Mirna lagi.
"Itu usaha kamu, Mirna. Insyaallah aku akan berwirausaha sendiri. Aku masih punya uang tabungan dari bagi hasil yang kamu berikan," jawabku.
Dia hanya mengangguk sembari berusaha untuk menguatkan. "Baiklah, kalau itu keputusanmu. Aku akan selalu mendukungnya."
Dulu, aku memang memberikannya modal tambahan, karena saat itu Mirna sedang kesulitan keuangan. Pasca perceraiannya, sang suamipun angkat tangan tak pernah memberi anak-anaknya nafkah. Aku tidak tega, akhirnya kuberikan sebagian tabunganku padanya.
Tidak hanya itu, setiap bulannya aku mendapatkan 30% dari penghasilan bersih yang ia terima, sedangkan dia mendapatkan 70% karena Mirna yang mengelolanya sendiri serta dia banyak kebutuhan untuk menghidupi anak-anaknya. Aku sudah bilang tidak usah, aku ikhlas membantunya, tapi dia tetap saja memberiku uang bagi hasil. Dan selama ini uang itu kutabung tanpa sepengetahuan Mas Rizki.
Selama menikah dengan Mas Rizki, dia selalu mencukupi kebutuhanku. Aku sama sekali tidak kekurangan. Pola hidupku sederhana, membeli ketika butuh bukan karena keinginan atau gengsi. Justru sering kali aku kelebihan uang belanja, dan itu aku tabung juga, untuk dana yang tak terduga.
Mas Rizki tak pernah mengungkit-ungkit apakah uang belanja itu lebih atau kurang. Setiap bulannya Mas Rizki selalu memberiku 5 juta rupiah untuk uang dapur dan kebutuhanku. Sedangkan uang kuliah Keysha, listrik dan air dia yang membayarkannya, serta jatah uang untuk ibu dan uang pegangannya sendiri.
Kalau ditotal mungkin gaji Mas Rizki diatas 10 juta rupiah, dia tak pernah transparan mengenai gajinya. Jatahku hanya 5 juta, cukup atau tidak Mas Rizki tidak peduli, yang penting ada lauk di meja makan.
Bagiku yang masih belum punya anak, uang segitu lebih dari cukup untuk makan satu keluarga, aku, Mas Rizki dan Keysha. Selebihnya aku tabung di rekeningku sendiri. Untungnya Mas Rizki pun tak pernah tahu dan mengungkit ada berapa uang tabunganku.
Makanya tadi, dengan congkaknya dia mengatakan apakah aku bisa hidup tanpa dia? Secara selama ini dia yang menghidupiku. Dia pula yang memenuhi semua kebutuhanku. Oke, sepertinya mulai saat ini aku harus bangkit. Bangkit dengan kelebihan yang kumiliki. Akan kubuktikan pada Mas Rizki, bahwa akupun bisa hidup tanpamu.
Aku beranjak bangkit, setelah mencurahkan isi hatiku pada sahabatku itu, rasanya hatiku sedikit lega. Aku juga jadi punya semangat untuk menjalani hari-hariku.
"Aku pamit pulang ya Mir, terima kasih sudah menjadi teman curhatku."
"Iya, Nad. Kamu yang sabar ya dan harus tetap semangat!"
"Makasih, Mir,"
"Hati-hati dijalan ya, Nad," ujar Mirna lagi.
"Assalamualaikum,"
"Waalaikum salam."
***
Sesampainya di rumah aku lihat ada seorang pemuda seumuran Keysha sedang berdiri dengan gelisah. Ia nampak berjalan mondar-mandir di depan teras.
"Maaf mas, cari siapa ya?" tanyaku.
Ia nampak kaget dengan kedatanganku, lalu diapun tersenyum.
"Oh mbak, maaf, aku cari Keysha, apa Keysha'nya ada? Keysha tinggal disini, kan?" tanyanya dengan senyum seakan dipaksakan.
"Keysha'nya sudah gak tinggal disini lagi. Memangnya mas ini siapa?"
"Aku teman kuliahnya, mbak,"
"Teman apa teman?" tanyaku memancing.
"Ah anu, sebenarnya...."