Malam hari di ruang UGD.
Angel langsung diantar ke ruang gawat darurat, Sisca yang basah kuyup langsung dihentikan oleh perawat, "Nyonya, tunggu di sini."
Sisca terus memantau kondisi di dalam ruangan. Di saat ini, dia merasa sangat pasrah, dia menggenggam tangan perawat dengan gemetar dan memohon dengan suara serak, "Tolong selamatkan anakku."
Suara Sisca bahkan terdengar sedang menahan tangisan.
Perawat langsung menasihatinya, "Tenanglah, Nyonya. Kami akan berusaha sepenuhnya."
Sisca hanya menganggukkan kepalanya, sepanjang jalan tadi dia sangat panik. Setiba di rumah sakit, dia pun merasa lega hingga perlahan-lahan jongkok karena kedua kaki yang merasa lemas.
Ketika Angel pingsan di punggungnya, perasaan akan kehilangan membuatnya merasa dunia terasa gelap dan segera kiamat.
Seluruh tubuh Sisca terus bergetar.
Enam tahun lalu, dia pernah merasakannya di saat Hendra memutuskan hubungan dengannya di penjara.
Di saat itu, dia bahkan merasa kesakitan ketika bernapas.
Saat sedang sedih, manusia akan merasakan mati rasa di seluruh tubuh. Ketika Sisca menempelkan tangannya ke dinding untuk berdiri, kedua kakinya malah tidak bisa berdiri sama sekali.
Sebuah tangan besar langsung memapahnya sambil berkata, "Hati-hati."
Sisca mendongak dengan sedih, "Dokter Richard?"
Orang ini adalah Richard Nathaniel, dia adalah dokter bagian pernapasan di Rumah Sakit Nasional. Tiga tahun lalu, dialah yang mengobati Angel saat sedang demam tinggi.
Richard tahu kalau Sisca adalah orang tua tunggal dan sendirian merawat anaknya, jadi dia pun sangat prihatin terhadap mereka berdua. Lama-kelamaan, mereka pun menjadi teman.
"Tadi aku lihat Angel dibawa ke dalam? Apa yang terjadi?"
"Saat aku sampai di rumah, wajah Angel memucat dan kesulitan bernapas. Aku nggak tahu apa yang terjadi, tapi dia bilang sangat sakit ...."
"Jangan khawatir, Angel pasti akan baik-baik saja. Mungkin saja ini hanya penyakit lama. Sebelumnya aku menyuruhmu membawa Angel ke sini untuk melakukan operasi pembuluh darah bagian jantung, kenapa kamu malah terus menunda?"
Angel mengidap penyakit jantung bawaan lahir, tapi hanya masalah pembuluh darah yang terbuka antara jantung. Dengan cara operasi dan istirahat beberapa saat, Angel bisa hidup seperti anak-anak pada umumnya.
Ini bukanlah penyakit kritis, tapi Sisca malah terus menundanya.
Sisca dengan kesulitan berkata, "Aku ... aku ... aku takut."
Dia menunduk dan mengaitkan kedua tangannya hingga jari tangannya memutih.
Angel adalah segala baginya. Ketika manusia menganggap seseorang sebagai segalanya, dia pasti tidak berani mengambil risiko.
Dia terlalu takut akan kehilangan.
Selain itu, Sisca juga belum memiliki uang yang cukup untuk biaya operasi.
Maka itu, dia pun terus menundanya.
Richard menepuk pundaknya sambil menasihati, "Ini bukan penyakit kritis, jadi jangan khawatir. Di dunia juga banyak pembuluh darah jantung anak-anak yang nggak tertutup, mereka nggak melakukan operasi dan tetap baik-baik saja. Tapi, karena sekarang Angel sudah memiliki gejala, jadi lebih baik segera dioperasi."
Sisca pun mengangguk sambil berkata, "Ya, kali ini aku akan melakukannya."
Setengah jam kemudian, Angel pun sudah keluar.
Sisca menghampirinya sambil bertanya, "Dokter, bagaimana kondisi anakku?"
"Sekarang sudah nggak masalah, tapi apakah kamu tahu kalau pembuluh darah jantungnya nggak tertutup?"
"Ya, aku tahu."
"Coba kamu diskusikan dengan suamimu tentang operasi anakmu. Sekarang kondisinya memang sudah stabil dan bukan penyakit yang serius. Nanti bahas dengan suamimu saja, lagi pula operasi saat kecil akan lebih cepat pulih."
Suami ....
Tatapan Sisca menjadi sedih, tapi dia tidak menjawab si dokter, dia hanya mengangguk sambil berkata, "Baik."
Angel dipindahkan ke bangsal umum.
Saat tengah malam, Angel pun terbangun.
"Ibu ...."
Sisca menanyakan dengan lembut, "Apa kamu lapar? Kamu mau makan apa? Ibu beli sekarang."
Angel hanya berbaring dan menatap Sisca sambil menggelengkan kepalanya, lalu berkata, "Ibu, apakah aku sakit?"
"Dokter bilang Angel akan segera sembuh. Bukankah Angel suka libur? Ibu sudah minta izin dengan sekolah, jadi kita istirahat di rumah sakit, ya?"
"Oke. Ibu, aku belum sempat tanya, kenapa ibu bau alkohol? Apa ibu minum bir?"
Sisca takut Angel mengkhawatirkannya, dia pun mengelus kepalanya sambil berkata, "Tadi malam ada acara dengan rekan kerja, jadi Ibu minum sedikit bir. Ibu nggak apa-apa. Angel dari dulu ingin makan ayam goreng, 'kan? Nanti setelah Angel sembuh, kita makan ayam goreng, ya?"
Angel tersenyum sambil berkata, "Aku juga ingin makan kentang tumbuk."
Barusan Angel selesai bicara, tiba-tiba terdengar suara seorang pria, "Kentang tumbuk sudah datang!"
Richard masuk dengan membawa makanan sambil berkata, "Aku beli sedikit bubur dan kentang tumbuk. Ayo makan dulu."
"Terima kasih, Paman."
Richard mengelus kepala Angel sambil berkata, "Angel, jaga dirimu baik-baik, ya. Jangan buat ibumu khawatir."
"Oke."
"Angel memang sangat pintar."
Sisca mengambil kentang tumbuk dengan sendok dan menyuapi Angel.
Richard melihat ruam di punggung tangan Sisca dan menanyakan, "Kamu alergi, ya? Aku tadi ke apotek beli salep alergi, nanti kamu oles, ya."
Sisca sedikit tercengang, dia langsung menjawab, "Setiap kali kami datang ke rumah sakit selalu merepotkanmu. Terima kasih, ya."
"Kalian sama sekali nggak merepotkan. Kamu merawat Angel sendirian juga bukan hal yang mudah, aku hanya membantu saja. Sisca, terkadang kamu nggak perlu melakukan semuanya sendirian. Kalau kamu perlu bantuan, kamu langsung cari aku saja. Aku akan berusaha sepenuhnya."
Sisca tahu Richard adalah orang yang baik, tapi Sisca tidak ingin memanfaatkan kebaikannya.
Sisca juga tahu maksud dari Richard, tapi dia tidak bisa membalas kebaikannya.
Terkadang ada beberapa hal yang tidak bisa dibantu oleh Richard.
Kini, Sisca sendiri sudah terjebak di dalam kegelapan, dia tidak boleh menarik Richard untuk terjebak bersamanya.
Setelah Richard pergi, Angel yang berbaring di atas tempat tidur tiba-tiba berkata, "Ibu, Paman Richard menyukaimu."
Sisca pun tersenyum dan berkata, "Dasar kepo."
"Memang begitu! Ibu, apakah kamu juga merindukan Ayah?"
Sisca yang sedang mengaduk tumbukan kentang langsung terdiam.
Sisca melihat ke bawah dengan menyedihkan sambil berkata, "Nggak, Ibu sekarang paling sayang Angel, Ibu nggak merindukan siapa pun."
Angel dengan kesal berkata, "Ibu, ayah sudah pergi bertahun-tahun. Ibu jangan patah semangat, dong!"
Sisca pun langsung tertawa, "Dari mana kamu belajar kata-kata seperti ini? Apa kamu bisa menulis kata-kata itu?"
"Aku belajar dari drama! Mami memang benar, dia bilang Ibu harus banyak menjalin hubungan dengan cowok ganteng agar bisa bahagia."
Sisca langsung mencubit hidungnya sambil berkata, "Apa kamu nggak takut Ibu mencari ayah tiri untukmu?"
Angel malah menjadi serius sambil mengernyit berkata, "Ibu, aku hanya berharap Ibu bisa bahagia."
Sisca duduk di samping tempat tidur sambil memeluk Angel berkata, "Ibu sudah cukup senang ada Angel di sisi Ibu."
Akan tetapi, Angel malah mengeluh, "Betapa baiknya kalau Ayah masih hidup ...."
Angel selalu mengira kalau ayahnya sudah meninggal.
Saat Angel masih tiga tahun, dia selalu menanyakan keberadaan ayahnya. Sisca memberi tahu kalau ayahnya sedang di pesawat luar angkasa. Saat Angel lima tahun, Sisca tidak bisa menyembunyikannya lagi, dia pun bilang kalau ayahnya sudah meninggal karena sakit.
"Ibu, apakah Ayah lebih tampan dari Paman Richard?"
Kalau tidak, kenapa ibunya tidak menyukai Paman Richard? Padahal Paman Richard baik sekali.
Di saat ini, tiba-tiba bayangan Hendra muncul di benak Sisca. Pria itu memang sangat mencolok walaupun berdiri di tengah keramaian.
Kalau dari penampilan, Hendra memang memiliki penampilan yang luar biasa.
Dulu di Universitas Aroha bahkan ada pepatah populer yaitu tidak gagal ujian dan bisa pacaran dengan Hendra adalah anugerah terbesar dalam hidup ini.
"Ya, ayahmu memang sangat tampan."
Setelah mendengarnya, Angel langsung menjadi bangga. Dia berencana untuk mencari cowok tampan seperti ayahnya untuk ibunya!
Setelah menidurkan Angel, Sisca membuka aplikasi bank dan menghitung jumlah uang yang dimilikinya.
Malam ini Sisca berhasil mendapatkan 70 juta dari Hendra, di tabungannya hanya tersisa 20 juta, dia bahkan perlu membayar uang sewa rumah di akhir bulan ini.
Biaya operasi Angel sebesar 200 juta, dia masih kekurangan sekitar 140 juta ....
Sisca tiba-tiba kehabisan akal.
Dia sangat bersyukur malam ini Hendra memberinya kesempatan mendapatkan 70 juta. Sekarang, dia bahkan berharap ada kesempatan dapat uang dari minum bir lagi.
Memang kenapa kalau alergi? Selama ada 200 juta, maka Angel sudah bisa dioperasi, karena sekarang Angel adalah orang terpenting bagi Sisca.
Keesokan hari, saat Nancy mengetahui Angel jatuh sakit, dia segera menuju ke rumah sakit.
Nancy datang ke rumah sakit dengan kantongan besar yang berisi makanan dan mainan, lalu berkata, "Duh! Angel, kenapa kamu semakin kurus?!"
"Mami!"
Sejak Angel lahir, Nancy langsung menjadikannya sebagai anak angkat.
"Mari cium Mami! Sayangku, tanganmu bahkan sudah bengkak karena infus."
Wajah Angel ditekan dengan kuat oleh Nancy hingga Angel berkata, "Mami! Mami terlalu ramah sampai wajahku sakit!"
"Eh, maaf. Angel, Mami beli makanan dan mainan untukmu. Apa kamu menyukainya?"
Sisca pun berkata, "Kamu beli terlalu banyak. Dia juga nggak sakit parah, jangan terlalu memanjakannya."
Nancy berkata tanpa rasa bersalah, "Dia masih anak kecil, jadi harus dimanjakan. Benar 'kan Angel?"
Angel pun tersenyum bahagia dan memainkan mata terhadap Nancy, lalu berkata, "Mami, aku sayang kamu! Muachh!"
"Aku sayang kamu!" ujar Nancy sambil membuat tanda hati.
Ketika Angel sedang ganti pakaian boneka barbie, Nancy langsung menarik Sisca keluar untuk berbicara.
"Apa kemarin malam kamu bertemu dengan Hendra di kelab malam?"
Sisca dengan tercengang bertanya, "Bagaimana kamu bisa tahu?"
"Billy yang memberitahuku, dia bilang Hendra memaksamu minum bir dan kamu langsung alergi. Hendra terlalu sadis! Jelas-jelas dia tahu kamu alergi alkohol, tapi ...."
"Aku baik-baik saja, aku juga sudah makan obat. Berkat sebotol bir itu, aku mendapatkan 70 juta, jadi aku nggak rugi."
Nancy langsung memelototinya sambil berkata, "Omong kosong apa kamu? Kalau kamu sedang sial, kamu akan mati karena alergi! Dasar bodoh! Seharusnya aku nggak membiarkanmu bekerja, kalau kamu nggak ke kelab malam, kamu juga nggak akan bertemu dengan pria itu!"
Sisca menghela napas panjang sambil berkata, "Beruntung atau sial, cepat lambat juga akan bertemu, 'kan?"
Nancy menatapnya dengan prihatin, "Jadi apa rencanamu ke depannya? Selama enam tahun ini, walau kamu nggak bertemu dengannya, dia juga membuatmu kehilangan pekerjaan, bahkan menyuruh semua perusahaan untuk nggak merekrutmu. Kemarin malam kamu pertama kali bertemu dengannya saja sudah hampir mati. Bukankah lain kali akan lebih kejam?"
Sisca menggelengkan kepala sambil berkata, "Aku juga nggak tahu. Lihat saja ke depannya bagaimana, sekarang aku juga tak mau pikir begitu banyak."
"Bagaimana dengan Angel? Apa kamu mau terus menyembunyikan keberadaan Angel dari Hendra?"
Sisca tersenyum canggung sambil berkata, "Kalau nggak menyembunyikannya, apa aku harus membawa Angel untuk menemuinya? Dia pasti akan merasa aku menggunakan Angel untuk meminta pengampunannya. Aku dan dia sudah berpisah sejak enam tahun yang lalu, aku tahu jelas sifat Hendra. Semua orang di dunia ini boleh mengkhianatinya, kecuali diriku. Kalau aku mengkhianatinya, nggak dibunuh olehnya saja sudah syukur."
Nancy langsung merinding dan berkata, "Pria ini terlalu menakutkan!"
Sisca malah merasa biasa saja, dia lanjut berkata, "Hendra adalah orang yang keras kepala. Dia akan sangat mencintai seseorang, kebalikannya dia juga akan sangat membenci seseorang."
Enam tahun lalu, ketika Sisca kerja paruh waktu di bar dan tangannya disentuh oleh tamu bar, setelah Hendra mengetahuinya, dia langsung membawa orang itu ke sebuah lorong gelap dan mematahkan tangannya.
Sisca takut orang itu dendam terhadap Hendra, jadi dia pun memeluknya sambil memintanya berhenti.
Kalau Sisca tidak menghentikannya, Sisca juga tak merasa aneh kalau orang itu dibunuh oleh Hendra.
Pada akhirnya, Hendra pun tidak membiarkannya bekerja lagi. Jari tangan Sisca yang disentuh pria itu terus-menerus dicuci dan digosok di wastafel sampai kemerahan baru dicium oleh Hendra.
Malam itu, Hendra menjadi sangat posesif, dia terus menekan Sisca di tempat tidur dan mencium seluruh tubuhnya.