Bab 1

"Sekarang kamu istri saya, Sarah! Buka baju kamu!" Perintah Diko dengan nada dingin, tatapan mata pria itu bahkan tampak begitu merendahkan Sarah yang gugup berdiri di hadapannya. Satu tangannya melepaskan kancing kemeja yang ia kenakan saat mengucapkan janji suci siang tadi. Sarah membeku, ia bingung, bahkan kedua matanya melihat ke sembarang arah. Tak tahu harus berbuat apa.

"Lepas baju kamu! Saya mau kita lakukan sekarang! Kamu istri saya kan! Cepat, Sarah!" Makinya. Sarah yang sudah menanggalkan gaun pengantin dan menggantinya dengan dres corak garis tipis warna biru tua. Hanya bisa membalas tatapan Diko dengan sorot mata tak percaya jika pria yang menjadi suaminya begitu kasar.

Diko berdecak. Ia menarik tangan Sarah dengan paksa, membawa masuk ke kamar hotel mewah itu, kemudian melempar sarah ke atas ranjang dengan kasar. Ia melucuti pakaiannya hingga tak menutupi tubuhnya lagi. Sarah membuang pandangan, ia mencoba bangun untuk menghindar, namun Diko tak peduli. Ia akan melakukan kegiatan ranjang itu bukan karena cinta atau menjadi tugas suami. Namun, karena marah dan dendam.

"Diko!" Pekik Sarah saat ia mencoba berontak. Diko diam, tatapannya setajam pisau dengan aura segelap awan mendung. Sarah mulai menangis di sela berontaknya. Ia masih bertahan menutupi tubuhnya dengan tangan, hingga, satu tamparan mendarat di wajahnya. Sarah diam sembari memalingkan wajah. Kehalaian rambut menutupi sebagian wajahnya..

"Diko! STOP!" teriak Sarah lagi. Diko naik ke atas ranjang, bahkan kini ia seperti mencekik leher Sarah. Wajah wanita itu memerah, ia menangis.

"Diam, atau aku semakin membuatmu kesakitan, wanita sialan!" Makinya begitu murka. Sorot mata Diko memperlihatkan kebencian. Sarah terbatuk, tangan Diko terangkat dari leher mulus Sarah lalu beralih melepaskan apa yang menutupi inti Sarah.

"Kalau kamu tahu aku semarah apa sama kamu atas semua yang terjadi. Kamu akan tahu apa yang aku lakukan ke kamu nanti." Sarah tak bisa berbuat banyak. Ia berteriak, meronta, dengan hati yang hancur saat Diko segera melakukan hal itu. Merobos masuk begitu kasar, membuat rasa perih itu menjalar begitu sakit. Sarah hancur, ia malu, marah, juga kecewa dengan dirinya.

Ia mengeram emosi saat Diko tak menggubris ampunan supaya Diko berhenti. Bahkan Sarah dengan berani menampar wajah pria yang sedang bergerak di atasnya dengan brutal dan kasar.

"Bajingan!" teriak Sarah. Diko diam, menatap lekat sorot mata Sarah yang mendadak hilang binarnya. Berganti tangis dan muncul kekosongan dalam sekejap. Tak lama, Diko mengumpat Sarah, sembari terus menikmati apa yang ia perbuat di atas tubuh Sarah yang hanya diam tanpa bereaksi apa pun. Diko menghentak, ia merasa meledak di dalam Sarah. Dengan kasar mencabut miliknya, pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri, meninggalkan Sarah yang diam, dengan linangan air mata, dan bercak darah di sprei kamar hotel yang menjadi saksi hilangnya sosok Sarah yang ceria, terenggut paksa Diko bersamaan dengan apa yang ia jaga selama hidupnya.

***

Pagi menjelang. Semalam, keduanya tidur terpisah, Diko di sofa besar ruang TV, sementara Sarah di dalam kamar itu. Dengan perlahan, ia melepaskan sprei, lalu mencuci noda darah, terlalu malu jika petugas kebersihan kamar melihat hal itu. Sarah sudah bangun sejak pukul lima pagi. Duduk merenung dengan wajah murung menatap diri di depan cermin. Rambut panjangnya ia gerai, setelah ia keringkan dengan alat pengering rambut.

Ia diam, bahkan hanya melirik saat berjalan melewati Diko yang masih tertidur pulas. Ia melihat kertas pesan di atas meja makan kecil kamar suite itu, tertulis jika Sarah tidak perlu menyiapkan sarapan untuknya. Jika lapar, ia cukup pesan makanan melalui jasa room service.

Sarah lapar, ia tak ingat apakah kemarin ia makan atau tidak. Tangannya bergerak membuka kulkas kecil di kamar hotel itu. Ada teh kotak dingin, ia mengambilnya, lalu segera ia minum. Di sebelahnya, ada rak kaca, dengan jejeran cemilan berbagai merek. Sarah membuka biskuit cokelat. Ia duduk di kursi, menikmati makanannya tanpa peduli dengan Diko yang tampak bergeliat. Kemudian, perlahan pria itu beranjak, duduk sembari memegang kepalanya yang tertunduk mencoba mengingat apa yang terjadi malam sebelumnya.

Kepalanya terangkat perlahan, ia melihat Sarah sedang duduk, menikmati biskuit dan minuman teh seorang diri dengan pandangan lurus ke arah kulkas.

"Sarah ..." panggilnya. Sarah diam, ia mengabaikan.

"Sarah ..." panggil Diko sekali lagi. Sarah menoleh, sedetik kemudian ia kembali fokus dengan makanannya. Diko beranjak, masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dalam kamar, tak lama, ia berjalan keluar kamar dengan wajah lebih segar. Ia membuka kulkas, membuka air mineral lalu menenggaknya hingga habis. Botol kosong itu ia buang ke tempat sampah dengan cara melempar.

"Jawab kalau aku panggil." Suara itu begitu bernada dingin. Bahkan tangan kirinya sudah mencengkram wajah Sarah yang menatapnya tak suka.

"Punya mulut, kan! Jawab kalau aku panggil." Diko melotot, Sarah menatap dengan cahaya yang memudar dari matanya yang sedikit sayu.

Diko dengan kasar melepaskan cengkramannya. Lalu mendorong pipi Sarah dengan santainya.

"Wanita bodoh." Lanjutnya sembari mendorong kepala Sarah. Ia beranjak, meninggalkan Sarah yang masih diam di tempat.

"Ganti pakaianmu yang ada di koper merah. Kita harus menempati rumah baru untuk tempat tinggal. Pakaian-pakaian itu sudah disiapkan sektretarisku untukmu. Aku akan pesan makanan. Aku tidak mau disangka suami tak peduli badan kurus istrinya. Cepat, ke kamar, ganti bajumu. Kita makan bersama," ujarnya.

"Aku sudah kenyang. Makasih." Jawab Sarah ketus. Diko diam, dengan tangan memegang gagang telpon ia melirik Sarah yang berjalan pelan, jelas tampak kesakitan saat ia melangkah. Diko membuang pandangan, ia menatap ke luar jendela.

Baginya, bukan kali pertama ia bersetubuh, ia dan Abel, begitu sudah terikat untuk urusan ranjang padahal masih berstatus tunangan. Kini, hatinya nyeri, merasa mengkhianati Abel, padahal semalam, ia melakukannya tidak seperti bercinta pada umumnya atau saat bersama Abel.

Diko diam, terduduk setelah selesai memesan makanan. Abel, semenjak tahu jika pertunangan mereka batal, ia pergi untuk menenangkan diri ke Canada, merasa malu juga sakit hati dengan keluarga Diko. Keluarganya tak bisa berkutik karena Ayah Diko, orang yang segani oleh para pengusaha di banyak bidang, salah satunya pemilik stasiun TV ternama.

Semenjak Abel pergi dan pernikahan itu harus dilangsungkan karena Ayah Diko ingin menunjukkan kekuasaannya. Mulai detik itu juga, kehidupan Diko seperti terenggut. Dan kini, ia lampiaskan semua amarahnya, sakit hati, dan dendam kepada Sarah yang menjadi korban.

Petugas room service mengantar makanan. Diko dengan santai menikmati makanannya, sedangkan Sarah masih duduk di depan meja rias, mematut dirinya yang juga, separuh dirinya sudah direnggut Diko. Ponselnya berbunyi, pesan singkat ia dapatkan.

Ibu :

"Sarah, maafkan Ibu. Ibu akan berusaha membawamu pergi dari Diko, ya, nak, Ibu akan coba mencari cara terbaiknya. Bersabarlah di sana sayang, kuat dan tegar. Tunggu Ibu datang menjemputmu."

Tangan Sarah gemetar, ia menunduk, membekap mulutnya supaya isak tangisnya tak terdengar pria yang merenggut apa yang ia jaga, bersikap kasar, juga berucap seenaknya. Air mata mengalir deras, seraya tangan kirinya menggenggam erat ponsel miliknya. Ia tahu, hanya ibunya yang akan berada di sisinya. Ia anak tunggal, begitu dibanggakan oleh kedua orang tua, tapi, ia terkejut saat Ayahnya sendiri tega menjadikannya jaminan atas saingan bisnisnya. Bahkan, saat pria itu pergi dari dunia, Sarah bukannya mendapat pesan yang baik untuk menjalani hari-hari, justru surat wasiat bertuliskan jika ia, harus menikah dengan Diko, dan semua asset milik mendiang ayahnya, di serahkan ke pada keluarga Diko. Meninggalkan ibunya dalam kondisi terpuruk juga, karena terusir dari rumahnya, dan dipindahkan ke rumah lebih kecil di salah satu cluster perumahan biasa. Dipaksa meninggalkan haknya, dan kehidupan berada.

"Heh! Sini kamu." Suara Diko membuat Sarah cepat-cepat menghapus air mata. Ia beranjak, berjalan dan berhenti dengan jarak yang sudah ia putuskan supaya tak berdiri berdekatan dengan Diko.

"Masa cuti kerjaku sampai lusa. Kita pindah ke rumah itu siang ini juga. Sekrestarisku sudah menyiapkan semuanya. Aku harap kamu nggak banyak protes, apalagi mencoba berontak seperti semalam saat kita tidur satu ranjang."

Diko berjalan ke arah kamar mandi, meninggalkan Sarah yang membeku di tempat.

"Ya." Hanya itu jawaban Sarah. Ia beranjak, menyeret koper hitam miliknya, juga koper merah yang berisi pakaian baru miliknya. Ia duduk di single sofa, menatap lurus ke arah gordin abu-abu.

'Warna gordin itu, kini jadi warna favoritku. Abu-abu.' ucapnya dalam hati diakhiri senyum pahit yang ia tunjukkan pada dirinya sendiri.

Bersambung,

Bab 2

Diko mengemudikan mobil mewahnya seorang diri, ia tak suka jika memakai supir, kecuali jika ia baru tiba dari perjalanan bisnis di luar kota atau luar negeri. Sarah tidak duduk di posisi samping pria itu, tapi di belakang. Diko tak sudi jika bersejajar dengan Sarah.

Mobil masuk ke area perumahan mewah. Salah satu rumah besar di sana milik Diko. "Jangan turun sebelum saya pastikan di dalam sudah sesuai sama yang sama mau." ujarnya bernada dingin.

"Ya." Jawab Sarah tak kalah sengit.

Seorang satpam rumah membuka pagar, Diko memarkirkan mobil ke garasi yang ada dua motor besar mewah, dan satu mobil jeep mewah warna merah yang sudah pasti miliknya juga.

Sarah menghela napas. Rumah bernuansa hitam dan putih itu megah bak istana, ia sadar, kehidupannya akan terkekang setelah kakinya melangkah masuk ke dalam sana. Tak tahu akan seperti apa nasibnya nanti. Ponsel Sarah berbunyi, nama Diko muncul. Kening wanita itu mengkerut, sejak kapan ia menyimpan nomor Diko, seingatnya, ia enggan menyimpan.

"Ya," jawab Sarah.

"Masuk."

Hanya itu ucapan Diko, lalu telepon terputus. Sarah memasukan ponsel ke dalam tasnya, ia turun. Satpam berama Eko - Sarah membaca dari nama yang tertera di dada kanan seragam - tersenyum menyapa ramah.

"Selamat datang, Nyonya," sapanya. Sarah mengangguk ragu dengan senyum kaku. Ia berjalan mengkikuti Eko yang mengantar hingga ke dalam. Dekorasi rumah khas orang berduit tampak nyata di depan matanya. Ia tak kaget, karena beberapa waktu lalu pun, ia pernah berada di posisi Diko hingga hal itu terenggut paksa.

"Kita tidur satu kamar. Tugas kamu melayani saya, tanpa mengeluh sekali pun. Saya nggak peduli kondisi kamu. Di saat saya butuh, kamu harus siap. Untuk-urusan-apa pun." Tatapan tajam menusuk netra Sarah yang hanya bisa menjawab dengan tatapan kosong. Ia melihat sekeliling rumah, tangga berada di sebelah kiri, menempel pada dinding bercat putih.

"Kamar kita di atas. Di sini ada tiga kamar. Halaman belakang berukuran kecil dan sebelahnya ruang cuci baju. Itu dapur, itu pintu tembus ke garasi. Kamar tamu di bawah satu, ruang keluarga luas. Jangan sesekali kamu sentuh piano itu. Hanya Abel yang boleh memainkannya."

Saat menyebut nama itu, guratan kesedihan tampak pada raut wajah Diko. Sarah tak peduli. Ia mengabaikan ucapan Diko. Sarah juga tak tertarik dengan piano, ia hanya bisa bernyanyi, tapi tidak bermain alat musik.

"Hal terpenting. Di sini, semua kamu kerjakan sendiri. Saya tidak memakai jasa pembantu. Hanya Pak Eko yang saya pekerjakan sebagai satpam rumah."

Sarah bergeming. Ia meremas tas tangannya hingga buku-buku jemari memutih. Ia tau, Diko tak akan memberikan kemudahan baginya untuk menjalani hari-hari di rumah itu, maka dengan tetap sabar dan tegar, ia akan melakukan semuanya.

"Urusan belanja bahan makanan. Kita pergi bersama. Belanja kebutuhan makanan untuk satu minggu sekaligus. Aku lihat kamu pergi keluar rumah sendirian. Aku nggak akan segan hajar kamu."

Tatapan itu masih menusuk. Sarah tak gentar, ia menatap pria yang sudah menjadi suaminya itu dengan lekat.

"Kamu mau melakukan KDRT?" pertanyaan itu terlontar cepat dari mulut Sarah. Diko berjalan mendekat. Memegang rahang Sarah dengan keras. Menatap lekat kedua mata yang semakin redup binarnya, dengan sudut bibir tertarik sinis.

"Jika... perlu. Aku... akan sangat senang... melampiaskan ke kamu, Sarah." Lalu Diko melepaskan cengkraman di wajah itu dengan kasar, ia berjalan ke sofa mewah berbahan beludru warna red wine. Bokongnya sudah ia letakkan di sana, menyalakan TV dan penyejuk ruangan.

"Ngapain masih di sana! Lakuin tugas kamu! Bisa masak, kan!" ucapnya ketus. Sarah menuju ke lantai atas, ke arah kamar, ia ingin ganti baju lebih dulu sebelum kembali ke dapur untuk memasak nasi. Koper mereka sudah di bawa Eko sejak tadi, satpam itu juga hanya bisa diam dan mencoba tak peduli dengan ucapan Diko yang pasti jelas terdengar saat tadi ia masuk membawa dua koper besar.

Di dalam kamar, Sarah duduk lemas di pinggir ranjang. Ia mematut dirinya ke arah cermin.

Kuat, Sarah, kamu kuat. Sabar, sampai tiba waktunya, kamu bisa pergi sejauh mungkin dari Diko. ucapnya dalam hati.

***

Sarah sedang merapikan bahan makanan yang akan ia masak. Jujur, ia tak pandai memasak, hanya sebatas bisa, dan untuk rasa tak bisa dikatakan enak sekali. Biasa saja. Ia tak tahu apa kesukaan Diko perihal makanan, ia memasak sesuai apa yang akan ia makan. Malas ribet, ia memasak nasi goreng dengan bahan tuna kaleng, potongan wortel yang ia rebus setengah matang, irisan cabe rawit, bawang putih cacah halus dan butter.

Tak sampai setengah jam, masakannya tersaji di meja makan besar dengan kursi sebanyak delapan buah. Tawa pria itu terdengar dari arah luar, ia tak sendiri, ada dua temannya yang tak dikenal Sarah. Wanita itu menunduk, mengamati dirinya yang penampilan dengan pakaian rumah masih tampak tak memalukan suaminya.

"Hei! Sar..., aku kenalin ke dua sabahatku. Mahes dan Kyle. Satu lokal, satu blasteran."

Sarah tampak terkejut, ia melihat wajah ceria Diko seperti tak sebelumnya yang tampak dingin, congkak juga ketus saat bicara dengannya.

"Ini bini lo? Cantik gini, nggak kalah sama Ab--" Kyle belum sempat melanjutkan ucapannya, Mahes sudah menyikut lengan pria tersebut.

"Siapa bilang dia bini gue. Pembantu gue. Orang yang paling pantas gue injak-injak setelah keset di depan rumah." Nada bicara Diko menjadi berubah berat.

"Gila lo!" tukas Mahes.

"Bagus kita berdua nggak dateng kemarin, pesawat kita delay, hujan deras di Changi," lanjut Mahes.

"Gue emang lebih mengharap lo berdua nggak dateng. Dari pada lo lihat gue yang emosi karena pernikahan konyol ini. Bokap gue udah geser isi kepalanya." Diko berjalan santai ke arah meja makan. Menatap dua piring nasi goreng yang tersaji di atas meja makan. Sarah masih bergeming, ia menatap ke arah Diko yang mengambil satu piring, lalu membawa makanan itu ke tempat sampah.

"Kita pesan makan. Gue nggak sudi makan makanan dia." Dengan telunjuk mengarah pada wajah Sarah, Diko berjalan cuek bersama dua sahabatnya yang hanya menggelengkan kepala.

"Maafin, Diko. Dia terlalu cinta sama Abel," ucap Mahes sesaat sebelum berjalan menyusul suami Sarah itu ke ruang TV.

"Kita berdua nggak bisa apa-apa, Sar, sorry." Begitu pun Kyle. Ia bahkan mengangkat kedua tangannya ke atas. Tandanya, memang Sarah hanya sebatas pelampiasan kekecewaan dan amarah atas pernikahan paksa itu.

Sarah menuju ke meja makan, ia menarik kursi, duduk perlahan, menikmati masakannya dengan perlahan, otaknya berpikir keras, baru dua puluh empat jam ia menjadi istri Diko, sudah mendapat hinaan sebesar itu. Tangan Sarah meremas sendok yang ia pegang, ia mengunyah makanan dengan pelan, kemudian memejamkan matanya, mencoba mengontrol rasa emosinya yang menjalar mengakar.

Malam semakin larut. Diko sibuk mengerjakan pekerjaannya di kamar, meja di dekat pintu menuju balkon, menjadi tempat pria itu bekerja. Kedua matanya melirik ke arah Sarah yang pulas tertidur. Diko teringat kejadian semalam, bagaimana ia begitu kasar merenggut tubuh dan jiwa istrinya. Namun, kini mendadak ia menjadi terpancing dengan reaksi Sarah semalam yang menolaknya. Bagaimana itu bisa terjadi, yang seharusnya Diko membenci, mengapa justru membuatnya terangsang.

Diko beranjak. Mendekat. Lalu menarik selimut yang menutupi tubuh Sarah dengan piyama tidurnya. Wanita itu terkejut, kedua matanya menatap ke arah Diko dengan ruat wajah takut.

"Bangun." Aura dingin merasuk pria itu yang sudah melucuti apa yang ada di tubuhnya. Sarah menggeleng. Diko tak mau tahu.

"Sekali kamu kenolak. Aku suruh orang usir Ibu kamu dari rumah itu. Mau!" bentaknya.

"Kamu ancam aku dengan bawa-bawa Ibu?!" nada bicara Sarah tak kalah tinggi.

"Ya. Jika itu perlu." Pelototnya. Diko sudah tak sabar. Ia sudah begitu menginginkan. Sarah diam. Kedua matanya memerah, juga berkaca-kaca.

"Apa... aku cuma kamu jadikan pemuas nafsu dan pembantumu." tanya Sarah datar. Ia masih tak mau melepaskan pakaiannya.

"Ya. Kalau itu jawaban yang kamu mau tahu. Seharusnya nggak perlu kamu tanya. Di mata aku kamu terlalu rendah untuk di sanjung sebagai seorang istri dan wanita yang berharga. Sama sekali ti-dak. Abel tetap yang aku cinta. Kamu nggak akan bisa minta aku apalagi memohon supaya akh jatuh cinta sama kamu. Berlutut!" perintahnya. Sarah bergeming. Diko emosi, ia buru-buru memakai pakaiannya. Mengambil ponsel untuk menghubungi seseorang.

"Kamu akan lihat apa yang bisa aku lakukan untuk bikin kamu ikuti semua kemauanku. Sampah." Kalimat itu seringan kapas diucapkan Diko. Sarah berdebar. Mau apa pria di hadapannya itu.

"Bawa mereka ke sini. Saya mau ajari wanita ini bersikap." Lirik Diko dengan tatapan tajam.

"Mau apa kamu, Diko!" bentak Sarah. Senyum sinis tersunggih dari bibir pria itu.

Tak sampai setengah jam. Pintu kamarnya di ketuk. Ia berjalan, membuka pintu dengan dua orang pria bertubuh tinggi kekar layaknya penjaga pribadi masuk.

"Gagahi dia. Saya mau kalian rekam. Di kamar sebelah."

Sadis. Tega. Tak punya hati. Biadap. Kata-kata itu pantas Sarah ucapkan pada Diko. Sarah meronta, ia menolak, tetapi, tangan dua pria yang tampak sumringah itu segera membopong Sarah.

Kaki Sarah menendang-nendang ke sembarang arah, ia berteriak. Diko hanya berjalan mengikuti sembari menatap tajam ke Sarah dengan begitu merendahkan. Teriakan Sarah begitu kencang. Diko mengambil dasi miliknya. Ia menutup mulut Sarah dengan ikatan Dasi. Air mata wanita itu mengalir deras, kali ini ia memohon, tapi Diko diam, dengan raut wajah penuh amarah.

Dua penjaga itu menatap Diko. "Panggil Juan." Perintah Diko.

"Baik, Pak." Jawab keduanya kompak. Tak lama, datang pria bule, yang merangkul bahu Diko.

"Yakin, boleh saya cicipi istri kamu?" tanya pria itu.

"Lakukan. Dua penjaga tadi, boleh di sini kalau mau lihat. Sekedar melihat, anda yang bermain. Saya duduk di sini." Diko duduk santai. Menatap Sarah yang turun dari ranjang, mencoba kabur. Namun, tangan Juan sudah menarik tangan Sarah. Menjatuhkan tubuh wanita itu ke atas ranjang.

"Cantik, Bos, sekali lagi saya tanya. Yakin?" Juan menatap dengan sebelah alis terangkat ke arah Diko.

"Cepat lakukan atau kamu saya hentikan menjadi icon perusahan property saya!" bentak Diko.

"Ya, baiklah."

Juan melucuti pakaiannya. Sarah berlari, ia berlutut di kaki Diko, memohon untuk melepaskannya. Tangan Diko mencengkram wajah Sarah penuh ketakutan.

"Haruskah seperti ini, Diko?" tanya Sarah lirih.

Mata mereka saling beradu tatap. Diko tak lagi merasa menginginkan tubuh istrinya. Hal itu tertutup amarah luar biasa.

"Ya. Karena kamu harus hancur." jawabnya dengan seringai mematikan.

Tak ada ampunan. Sarah menjerit, saat Juan mengangkat tubuhnya. Dua penjaga tadi akhirnya diminta Diko keluar. Ia sendiri yang akan merekam perbuatan Juan ke Sarah.

"DIKO!" teriak Sarah. Wanita itu masih meronta, memanggil nama suaminya. "Di-ko, aku mohon jangan lalukan ini...," begitu penuh memohon juga lirih. Juan sudah menggerayangi tubuh wanita itu. Sehebat apa pun ia meronta, menolak, bahkan menjerit. Diko tak peduli, ia terus merekam, hingga hal itu terjadi, tepat di depan mata Diko, bagaimana tubuh wanita itu dinikmati pria yang bukan pasangan sah istrinya.

Setengah jam berlalu. Juan masih tak puas. Kamera ponsel menyorot Sarah, merekam ekspresi wajah wanita itu yang seperti hilang kesadaran. Kedua matanya terbuka dengan air mata mengalir seras membasai wajahnya. Menatap ke arah ponsel Diko dengan kekosongan. Tak peduli apa yang Juan lalukan padanya, Sarah, ingin mati saja.

Bersambung,

Bab 3

Kehidupan Sarah sudah hancur menurutnya. Bahkan dirinya sudah mati. Ia tak banyak bicara, bahkan, saat Diko menginginkan wanita itu melayaninya untuk urusan ranjang. Ia langsung melakukan tanpa bicara apapun. Ia bak mayat hidup berada di istana juga sekitar hidup Diko.

Satu bulan sudah mereka menikah. Kali ini, Diko memanggil dokter ke rumah. Ia ingin memastikan jika Sarah tak hamil. Wanita itu diminta Diko berdandan, ia tak suka melihat raut wajah Sarah yang pucat beberapa hari belakangan. Wanita itu menuruti kemauan Diko. Ia memoles wajahnya, ia diam saat menatap cermin. Bahkan, dirinya tak mengenali sosok cantik yang memantul di cermin itu.

"Kamu bukan Sarah. Sarah sudah mati." Lirihnya. Ia merapikan alat mekap. Suara Diko memanggil dari luar kamar, terdengar jelas. Sarah membuka pintu. Sosok dokter itu masuk seraya tersenyum.

"Saya Tyo," sapa ramah dokter itu. Sarah mengangguk pelan, ia lalu berjalan ke arah ranjang. Duduk di tepi. Menunggu perintah selanjutnya. Diko berdiri bersedekap, Tyo meminta Sarah berbaring. Kedua matanya bertemu tatap dengan Diko yang sangat membencinya, kilatan itu tak luntur dari sorot tajam mata Diko.

Tyo mulai memeriksa Sarah. Ia meminta Sarah melakukan tes urine untuk mengetahui apakah wanita itu hamil dengan alat tes kehamilan yang keakuratannya seratus persen.

Sarah duduk di atas kloset setelah melakukan tes urine tersebut. Tak ada ekspresi saat melihat tulisan di alat tersebut setelah bunyi bip beberapa kali.

Pintu kamar mandi di buka, Sarah berjalan, menyerahkan alat itu ke tangan Tyo, sebelum duduk kembali ke tepi ranjang. Tyo melihat tulisan yang muncul.

"Hamil." Kalimat itu membuat Diko terbelalak. Ia diam beberapa detik. Sarah menatap ke arah jendela luar, tanpa ekspresi apa pun. Tyo menatap lekat Diko yang sangat terkejut.

"Gugurkan." ucapan Diko bak petir di siang hari yang cerah. Sarah memejamkan matanya beberapa detik sebelum kembali terbuka. Diko berjalan meninggalkan kamar dengan angkuh. Tyo menoleh, menatap Sarah yang tampak kosong.

***

Diko berada di kantor. Kehamilan Sarah menjadi pikirannya yang mengacaukan konsentrasi dirinya salam bekerja. Ruangan itu terbuka, muncul pria dengan setelan jas formil mahal berjalan menghampiri. Russel, kakak laki-laki Diko yang menjabat sebagai Manajer keuangan. Jabatannya di bawah Diko yang menjadi CEO perusahaan tersebut.

Russel duduk di kursi, mengangkat satu kaki ke kaki lainnya. Menatap lekat Diko yang mengabaikan kehadiran kakaknya itu.

"Pengantin baru kusut amat. Gimana? Enak nggak, Sarah. Gue mau cobain boleh?" kekehan sinis tampak di wajah Russel di tambah seringai licik.

"Dia istri gue. Jangan coba-coba," sahut Diko tanpa menatap sang lawan bicara.

"Kenapa? Gue kok dengar desas desus kalau lo siksa dia? Lo apain? Lo nggak kayak di film yang kita lihat di Singapore kan?"

"Apa? Bdsm? Nggak lah." Sanggah Diko. Padahal ia melalukan lebih dari itu. Ia sudah menghancurkan harga diri Sarah melebihi hal hina seperti permainan sex tersebut.

"Oh gitu. Kalau boleh, gue pinjam semalam." Russel tertawa licik. Diko fokus membaca laporan pekerjaan anak buahnya termasuk Russel.

"Papa cariin lo. Dia tanya ke gue, apa Sarah sudah hamil. Papa mau cucu dari lo sama Sarah."

Hal itu seperti selaras dengan apa yang terjadi. Diko diam, kepalanya terangkat, menatap Russel dengan amarah tertahan.

"Bilang sama Papa. Nggak akan ada anak di antara gue dan Sarah." Kata-kata yang diucapkan begitu bernada menunjukkan kepastian. Hal itu memang tak diinginkan Diko. Ia sendiri tak tahu anak yang di kandung Sarah, anaknya atau anak Juan, bintang iklan blasteran Indonesia-Spanyol.

"Papa mau atur warisan. Gue dan Kak Riska nggak mau ya, gara-gara lo nggak turutin maunya Papa, hak kita jadi berkurang. Papa mau cucu, karena Papa mau kasih bisnis stasiun TV itu ke elo dan cucunya nanti. Jadi, gue dan kak Riska bisa handle bisnis tambang dan properti. Kita berdua udah capek ada di posisi yang dipimpin elo. Kita berdua kompeten, tapi Papa cuma lihat elo sebagai yang pantas memimpin semuanya.

Lo serakah kalau begitu namanya. Stasiun TV bisnis terbesar Papa. Satu itu aja lo pegang, lo nggak akan miskin sampai ke anak cucu lo nanti. Kasih dua Kakak lo buat pimpin." Kalimat panjang itu terdengar bukan seperti nasehat, tetapi lebih sebagai ungkapan isi hati.

Diko memang lebih dipercaya memegang kepemimpinan perusahaan. Sedangkan ayahnya kini hanya ingin memantau. Selain sudah tua, ia ingin anak-anaknya belajar mengendalikan apa yang seumur hidup mati-matian ia bangun. Konglomerat itu ingin menikmati hidupnya kali ini, dengan memiliki cucu sebagai pelengkap.

"Sekali lagi gue bilang. Nggak akan ada anak di antara gue dan Sarah. Kecuali kalau Papa merubah keputusannya, bolehin gue cerai dengan sarah untuk nikah sama Abel. Gue cuma cinta sama Abel." Tegas Diko.

"Terserah. Jujur, kalau gue lebih milih tahta dari pada wanita." Russel beranjak, meninggalkan sang adik yang menahan amarahnya. Diko melempar gelas berisi air putih miliknya ke dinding. Ia geram sembari berjalan mondar mandir. Mendadak, ide untuk ke Canada mengunjungi Abel terlintas. Dengan cepat ia meminta sekretaris mengurus semuanya. Gemuruh di dadanya, memunculkan energi baru yang membuat Diko tersenyum. Ia merindukan Abel, begitu dalam setelah lima bulan tak bertemu.

Sementara,

Di dalam kamar itu, Tyo yang kembali datang setelah sempat menolak untuk memberikan obat penggugur janin, kini sudah berdiri di tepi ranjang. Ia duduk setelah Sarah mempersilakan hanya dengan anggukan kepala.

"Sarah, aku tahu ini perbuatan melanggar hukum, baik hukum manusia atau pun Tuhan. Aku sadar itu. Pilihan ada di kamu. Diko menyulitkanku dengan mengancam menghentikan menjadi sponsor penelitianku untuk gelar profesor yang aku ingin raih. Kau berhak membenciku setelah ini. Posisiku sama sulitnya denganmu yang harus memutuskan hal ini."

Sarah diam, Tyo masih memegang obat tersebut di tangannya. Tyo terkejut saat ia benar-benar menatap lekat ke dalam netra Sarah. Baru pertama kali ia melihat tatapan sekosong itu, yang justru seolah mati.

Tangan Sarah meraih obat, ia membuka dengan cepat, secepat ia menelan dengan dorongan air putih yang sudah ia siapkan sejak tadi. Tyo terbelalak. Wanita di sampingnya tergolong nekat. Tyo mengusap kasar wajahnya sebelum menatap Sarah dengan kesenduan yang terpancar tanpa wanita itu ucap.

"Apa yang sudah Diko lakukan? Katakan?" Tyo meraih jemari tangan wanita itu. Namun, Sarah mundur, memberi jarak untuk posisi keduanya duduk.

"Apa aku bisa membantumu, Sar?" tanya Tyo lagi. Sarah masih diam.

"Apa reaksi obat ini, Dok?" Akhirnya Sarah berbicara.

"Kau akan merasakan seperti datang bulan, dengan nyeri yang sedikit lebih hebat. Hubungi aku jika kau mulai mengeluarkan darah. Aku akan membawa ke klinik, aku akan membersihkan rahim-mu."

Sarah mengangguk. Ia menyodorkan ponselnya ke arah Tyo. "Simpan nomormu di sini, aku akan hubungi jika itu terjadi."

Lalu Sarah kembali diam. Tyo mengangguk, ia mengetik nomor ponsel juga namanya untuk disimpan di ponsel itu.

"Hubungi aku jika Diko menyakitimu, Sarah," pinta Tyo. Bukannya jawaban, justru senyum sinis yang ditunjukan Sarah. Tyo paham, Diko begitu mencintai Abel, tapi terlalu jahat jika pria itu tega berbuat menyakiti Sarah terlalu dalam dengan hal diluar nalar. Tyo sebagai lelaki akan merasa malu mengenal pria sejahat itu.

Sarah masih bergeming, ia hanya menatap ke arah jendela lagi, Tyo mengikuti, ia melihat ke arah jendela balkon. "Kau mau keluar? Aku temani." Tawarnya. Sarah menggeleng.

"Pergilah, dan... terima kasih." Hanya itu. Sarah beranjak, ia akan membersihkan lantai bawah, karena tak ada pembantu, ia yang harus mengerjakan semuanya. Tyo berjalan di belakang Sarah yang postur tubuhnya semampai, harum wangi tubuh Sarah juga sangat baik. Diko keterlaluan memang, tak seharusnya Diko meminta Sarah menggugurkan kandungannya."

Tiba di lantai satu. Tyo memerhatikan Sarah yang mengeluarkan mesin pembersih lantai, ia mulai melakukan kegiatan membersihkan lantai ruang tamu besar, lalu ruang tengah, ruang TV dan berakhir di ruang makan.

Tyo masih di sana. Sarah tak memedulikan, hingga suara mobil masuk ke garasi. Tyo membuka pintu, tak lama muncul Diko yang terkejut melihat sosok Tyo. Diko hanya menyapa sekilas, lalu berjalan masuk.

"Istrimu sudah meminum obat penggugur kandungan itu. Sesuai maumu." ucapnya sedikit bernada kencang supaya Sarah mendengar juga. Diko berhenti melangkah. Ia diam sejenak.

"Bagus." Jawaban itu terdengar Sarah maupun Tyo. Kedua mata Sarah menatap Diko yang melangkah cepat ke arah kamar. Sempat Diko melirik ke arah Sarah hingga keduanya beradu tatap, lalu Diko memutuskan tatapan itu lebih dulu.

Tyo berjalan ke arah dapur, dekat ruang peralatan. "Sar, hubungi aku. Jangan lupa. Rahim-mu harus dibersihkan, jangan sampai timbul penyakit nantinya." Tyo tersenyum. Sarah menatap datar, bahkan mengangguk pun tidak.

Saat Tyo hendak melangkah pergi, Sarah memanggilnya. Tyo menoleh cepat. "Apa dokter punya obat penenang, aku kurang tidur akhir-akhir ini."

Tyo mengangguk. "Aku resepkan nanti," jawabnya. Sarah mengangguk. Ia mengantar Tyo hingga ke pintu ruang tamu. Dari atas, Diko melihat hal itu. Walau Sarah tak menunjukkan senyuman ke Tyo, ia tahu jika mereka tampak cocok dan berpotensi menjadi teman. Diko menerima panggilan telpon dari sekretarisnya, yang mengatakan jika ia bisa berangkat ke Canada lusa.

Tak sabar, Diko segera merapikan pakaiannya, dan memilih menginap di hotel dekat bandara hingga jadwal keberangkatannya nanti.

Bersambung,

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED