Ayahku menjualku kepada Alpha Vincent sebagai "Kontrak Disiplin", menjadikan aku bukan sebagai Mate yang dihormati, melainkan tawanan yang disembunyikan di gudang berdebu.
Namun, neraka yang sesungguhnya dimulai saat Isabel, wanita licik yang ia puja, datang menginvasi hidupku.
Isabel memalsukan penyerangan dan menuduhku sebagai pelakunya. Tanpa mendengar penjelasanku, Vincent menyeretku ke penjara bawah tanah dan merantaiku dengan perak murni—racun paling mematikan bagi kaum kami.
Saat kulitku melepuh dan mendesis terbakar oleh lilitan rantai, Vincent justru melakukan hal yang paling kejam. Dia melelang kalung peninggalan almarhum ibuku tepat di depan mataku.
"Vincent, belikan itu untukku," rengek Isabel manja. "Anjingku butuh kalung baru."
Tanpa menatapku, Vincent memberikannya.
"Terjual untuk Isabel."
Hancur. Bukan hanya tubuhku, tapi juga jiwaku. Mereka menertawakanku, menyebutku jalang yang tidak berguna, sementara aku menahan rasa sakit dari *Silver* yang menggerogoti tulangku.
Vincent tidak tahu satu hal. Darah yang ia tumpahkan malam ini bukanlah darah Omega lemah.
Itu adalah darah *White Wolf*, serigala paling langka dan suci yang memiliki kekuatan penyembuh mutlak.
Di ambang kematian, aku mendongak, menatap mata pria yang dulu kucintai itu dengan tatapan kosong.
"Saya, Sofia Permana..."
Vincent tertegun, matanya membelalak melihat aura putih menyilaukan yang tiba-tiba meledak dari tubuhku, melelehkan rantai besi itu.
"...menolakmu, Vincent Dirgantara, sebagai Mate-ku."
Malam itu, saat dia meraung kesakitan karena putusnya ikatan jiwa kami, aku bangkit dari abu, membakar penjara itu, dan berlari menuju takdirku sebagai Luna di Pack lain yang jauh lebih kuat.
Bab 1
Sofia POV:
Di sudut paling terpencil di perpustakaan kediaman Dirgantara, aku melakukan ritual kecilku.
Jemariku sama sekali tidak gemetar. Napasku berhembus stabil, berirama dengan detak jantung yang perlahan mengeras.
Satu per satu, aku merobek lembaran kulit domba tua itu.
*Krak. Krak.*
Bunyi kertas tebal yang terkoyak terdengar begitu memuaskan—renyah dan tajam, seolah aku sedang mendengarkan patahnya tulang-belulang belenggu yang selama ini menjeratku.
Ini adalah "Kontrak Disiplin"—sebuah penghinaan tertulis yang dikirimkan oleh ayahku sendiri, Hendra, sebagai persembahan untuk Alpha Vincent. Sebuah dokumen yang menyatakan bahwa aku, putrinya, hanyalah properti cacat yang perlu dididik ulang.
Sekarang, dokumen itu hanya menjadi serpihan sampah di atas meja mahoni yang dingin.
Aku menatap tumpukan sobekan itu. Anehnya, tidak ada amarah yang membakar di dadaku. Yang ada hanyalah ketenangan yang absolut, dingin dan jernih seperti permukaan danau beku di musim dingin.
Ini bukan sekadar merusak dokumen. Ini adalah pemutusan hubungan.
Dari kejauhan, aku bisa mendengar hiruk-pikuk pelayan yang sedang mempersiapkan makan malam di aula utama. Suara tawa, denting gelas kristal, dan aroma daging panggang yang samar menyelusup masuk melalui celah pintu.
Duniaku dan dunia mereka terpisah oleh dinding tebal dan status sosial yang tak terlihat namun mencekik.
Di sini, di antara rak-rak berdebu ini, aku hanyalah hantu. Seorang Omega yang tidak diinginkan.
Keheningan itu pecah seketika. Pintu perpustakaan didorong terbuka kasar, tanpa didahului ketukan sopan santun.
Isabel melangkah masuk.
Dia mengenakan gaun sutra berwarna merah muda yang mencolok, wajahnya dihiasi senyum polos yang terlalu lebar untuk menjadi tulus. Di tangannya, dia membawa seikat mawar merah segar.
Dia berjalan melewaticu seolah aku adalah perabot usang, langkah kakinya berisik saat ia menuju vas bunga di meja tulis Alpha.
Aroma parfum sintesis yang menyengat langsung memenuhi ruangan, menampar indra penciumanku.
Baunya menusuk, campuran menjijikkan antara gula hangus dan esens bunga kimiawi, begitu kuat hingga mencekik aroma alami kayu tua dan buku-buku yang menenangkan.
Di dunia kami, *Scent* atau aroma tubuh adalah identitas jiwa. Tapi Isabel selalu menutupi ketiadaan aroma *Wolf*-nya dengan parfum mahal ini.
Baunya seperti invasi. Dia sedang menandai wilayahnya dengan cara yang paling artifisial.
"Oh, sayang sekali," gumam Isabel, mengatur bunga-bunga itu dengan gerakan yang dilebih-lebihkan.
Dari jendela yang setengah terbuka, suara tawa berat seorang pria terdengar.
Vincent.
Jantungku tersentak, sebuah respons terkondisi yang aku benci setengah mati.
"Vincent, kau nakal sekali!" pekik Isabel, tawanya melengking sengaja agar menembus dinding perpustakaan, memastikan aku mendengarnya.
Kemudian, dia berbalik menatapku. Senyumnya berubah, matanya menyipit dengan kilatan tajam yang merendahkan.
"Sofia, tolong bereskan vas bunga yang lama. Airnya sudah bau," katanya dengan nada manis yang menjijikkan.
Itu bukan permintaan. Itu adalah perintah dari seseorang yang merasa dirinya adalah calon Luna.
Perutku terasa mulas. Insting *Omega* dalam diriku ingin menunduk, ingin patuh pada siapa pun yang memiliki status lebih tinggi.
Tapi aku menelan rasa mual itu. Jemariku mengepal di balik rok gaunku yang lusuh hingga kuku-kukuku menancap di telapak tangan.
Pintu terbuka lebih lebar, dan Vincent melangkah masuk.
Aura Alpha-nya langsung mendominasi ruangan seperti badai yang tiba-tiba menerjang. Udara terasa lebih berat, seolah oksigen disedot keluar oleh kehadirannya yang mengintimidasi.
Dia bahkan tidak menatapku.
Matanya menyapu meja tulis, melewati tumpukan kertas kontrak yang baru saja kurobek, seolah itu tidak ada artinya. Seolah usahaku untuk memberontak hanyalah lelucon anak kecil yang tidak lucu.
"Vincent," Isabel merengek, segera menghambur dan memeluk lengan kekar pria itu seperti lintah. "Lihat, Sofia sepertinya tidak senang dengan kontrak dari ayahnya. Dia merobeknya. Mungkin dia merasa tidak pantas menerima 'didikan' darimu?"
Kata-kata itu berbisa, dirancang untuk merendahkan dan memprovokasi.
Vincent menoleh padaku. Tatapannya dingin, kosong, seperti melihat serangga yang mengganggu di ujung sepatunya.
Aku menahan napas. Tanganku yang terkepal memutih.
Bekas gigitan di leherku berdenyut nyeri, mengingatkanku pada kesalahan fatal tiga tahun lalu.
Saat itu, aku bodoh. Aku mencoba memberinya obat tidur agar bisa kabur dari perjodohan gila ini. Tapi takdir mempermainkanku. Obat itu memicu *Heat* pertamaku.
Dan malam itu, Vincent mencium *Scent*-ku.
Hukum alam mengambil alih. Biologi kami berteriak. Kami bersatu dalam kegilaan *Mate*. Dia meninggalkan gigitan di leherku—tapi bukan *Marking* yang sempurna. Hanya gigitan kepemilikan tanpa pengakuan jiwa.
Selama dua tahun, dia menggunakan *Alpha's Command* untuk membungkamku, menyembunyikan hubungan kami, sementara aku dengan naifnya berpikir *Mind-Link* tipis di antara kami adalah tanda cinta yang belum mekar.
Tapi Isabel datang. Sang "penyelamat" palsu.
"Biarkan saja," suara Vincent terdengar datar, tanpa emosi. "Dia hanya sedang mencari perhatian. Seperti biasa."
Kalimat itu menghantamku lebih keras daripada tamparan fisik.
Isabel tertawa kecil, kemenangan terpancar jelas di wajahnya yang berlapis riasan tebal.
Aku menarik napas dalam-dalam, menekan *Inner Wolf*-ku yang melolong sedih di sudut pikiranku. Tidak. Tidak ada lagi air mata.
Cukup.
Saat mereka berbalik untuk meninggalkan ruangan, aku membungkuk perlahan. Bukan untuk menghormati mereka, tapi untuk memungut serpihan kertas di lantai.
Setiap sobekan adalah harga diriku yang pernah diinjak, dan kini kumpulkan kembali.
Setelah pintu tertutup dan langkah kaki mereka menjauh, aku merogoh saku tersembunyi di balik lapisan rokku.
Aku mengeluarkan secarik kertas kecil yang kusut.
Di sana tertera koordinat perbatasan dan frekuensi *Mind-Link* darurat untuk Pack Yarunica.
"Vincent Dirgantara," bisikku pada kesunyian ruangan, suaraku bergetar bukan karena takut, tapi karena adrenalin. "Kau pikir aku hanya Omega-mu? Kau salah."
Aku menatap ke luar jendela, ke arah hutan gelap di kejauhan yang bermandikan cahaya bulan pucat.
"Mulai hari ini, kau bukan hanya kehilangan Mate yang kau buang," ikraku pada malam. "Tapi kau kehilangan jiwa yang tidak akan pernah bisa kau kendalikan lagi."
Sofia POV:
Ruang gerakku semakin menyempit, dan itu terjadi secara harfiah.
Jejak keberadaan Isabel kini menodai setiap sudut mansion. Syal sutranya tersampir sembarangan di kursi bacaku, botol-botol kosmetiknya menganeksasi rak kamar mandi yang dulu kugunakan, bahkan anjing pudel kecilnya tidur di atas bantal sulam peninggalan ibuku.
Invasi ini bukan sekadar tentang benda. Ini tentang penghapusan eksistensiku.
Dan Vincent membiarkannya.
Malah, pagi ini, dia menyuruh pelayan memindahkan sisa barang pribadiku ke gudang penyimpanan di dekat dapur. Alasannya terdengar begitu logis sekaligus kejam: kamar lamaku akan direnovasi untuk "tamu penting".
Tamu penting itu, tentu saja, Isabel.
Wanita itu berjalan mengelilingi mansion dengan gaun-gaun mewah, memerintah para pelayan seolah mahkota Luna sudah bertengger di kepalanya.
Siang itu, rapat strategi Pack digelar di aula besar.
Sebagai putri seorang Alpha—meskipun ayahku memiliki reputasi korup—aku memiliki naluri dan pengetahuan tentang manajemen logistik. Aku berdiri di sudut, memegang berkas laporan persediaan pangan musim dingin yang telah kusiapkan semalaman.
"Alpha," aku mencoba bersuara saat ada jeda dalam diskusi. "Laporan logistik untuk..."
"Aduh!"
Suara Isabel memotong kalimatku bagaikan pisau. Dia memegang kepalanya, tubuhnya limbung secara dramatis ke arah Vincent.
"Kepalaku pusing sekali, Vin. Mungkin efek dari racun *Rogue* waktu itu masih ada," rintihnya.
Semua mata di ruangan itu—para Beta dan Gamma—langsung beralih padanya, melupakan eksistensiku seketika.
Vincent dengan sigap menangkap pinggangnya. "Kau butuh istirahat, Bel."
Aku berdiri terpaku.
Inilah segitiga kekuasaan yang menyedihkan. Vincent, sang raja. Isabel, ratu palsu yang manja. Dan aku, orang asing yang tak terlihat.
Isabel melirikku dari balik bahu Vincent, seringai tipis terukir di bibirnya.
"Maaf ya, Sofia," katanya dengan nada yang dibuat-buat lemah. "Bisa kau ambilkan air? Laporanmu pasti membosankan untuk didengar saat kepalaku sakit begini."
Kuku jariku memutih mencengkeram berkas. Harga diriku tercabik, tapi aku menunduk, berpura-pura merapikan kertas.
"Tentu," jawabku datar.
Aku menggunakan pekerjaan sebagai perisai. Jika aku sibuk, mungkin aku tidak perlu merasakan pedihnya diabaikan.
*
Malam itu, bulan purnama menggantung tinggi.
Udara terasa bermuatan listrik. *Inner Wolf* di dalam diriku gelisah, mencakar-cakar dinding kesadaranku ingin keluar.
Pintu gudang—kamar baruku—terbuka kasar.
Vincent berdiri di sana. Matanya gelap, pupilnya membesar menelan warna irisnya. Bau alkohol bercampur dengan feromon Alpha yang kuat menguar darinya, mendominasi ruangan sempit itu.
Dia melangkah masuk, menutup pintu dengan tendangan kaki.
"Vincent?"
Tanpa kata, dia mendorongku ke dinding. Tangan besarnya mencengkeram bahuku, menahan segala bentuk perlawanan.
Napasnya panas menerpa leherku. "Baumu..." geramnya rendah, suaranya bergetar. "Kenapa baumu selalu membuatku gila?"
Itu adalah insting *Mate*. Biologi sialan yang tidak peduli pada hati yang patah.
Tubuhku mengkhianatiku. Kulitku meremang saat dia menekan tubuhnya padaku. Ada sengatan listrik yang menjalar di tulang punggungku—tanda ikatan yang tak terbantahkan.
Tapi pikiranku menjerit.
*Tidak. Bukan begini.*
Dia mendekatkan wajahnya ke leherku, gigi taringnya memanjang, siap untuk mengklaim.
Tiba-tiba, rasa sakit yang luar biasa menghantam perut bagian bawahku.
Rasanya seperti ada api cair yang dituangkan paksa ke dalam rahimku.
"Argh!" Aku tersentak, mendorong dadanya sekuat tenaga. Wajahku pucat pasi.
Vincent terhuyung mundur, bingung. "Apa yang—"
*Wiuuuuung!*
Sirine bahaya Pack meraung memecah keheningan malam.
Suara lolongan serigala penjaga terdengar bersahutan. *Rogue attack!*
Mata Vincent langsung jernih. Kabut nafsu menghilang, digantikan oleh kewaspadaan naluriah seorang Alpha.
"Sial," umpatnya.
Dia berbalik, melupakan aku sepenuhnya dalam sekejap mata. Tugas memanggil.
Saat dia bergegas keluar, kertas kontak Yarunica yang kusimpan di balik bantal terjatuh ke lantai karena guncangan tadi.
Langkah Vincent terhenti di ambang pintu. Matanya menangkap kertas itu.
Dia memungutnya. Membacanya sekilas.
Tatapannya beralih padaku, dingin dan tajam. "Yarunica? Kau berencana lari ke sana?"
Dia mendengus, tertawa kecil yang menyakitkan. "Tempat itu keras, Sofia. Omega manja sepertimu tidak akan bertahan sehari pun di sana tanpa perlindunganku."
Aku menatapnya lurus. Rasa sakit di perutku masih menyiksa, tapi aku menegakkan punggung.
Mataku berkata: *Itu bukan urusanmu.*
"Vincent!" Suara Isabel terdengar dari lorong, panik dan manja. "Aku takut! Suara sirine itu!"
Vincent meremas kertas itu, lalu melemparnya kembali ke arahku seperti sampah.
Dia memilih pergi. Dia memilih Isabel. Lagi.
Mereka menghilang di ujung lorong, Vincent merangkul bahu Isabel, menenangkannya.
Aku tertinggal sendiri dalam kegelapan.
Perlahan, aku memungut kertas yang kusut itu.
Aku mengambil pena dari meja, mencoret nama kontak di sana, dan menulis satu kata besar di sampingnya: KEBEBASAN.
Tanganku beralih ke perutku yang masih berdenyut nyeri.
*Inner Wolf*-ku tidak lagi hanya mencakar. Dia menggeram.
Ada sesuatu yang bangkit di dalam darahku. Sesuatu yang purba. Sesuatu yang berwarna putih.
Sofia POV:
Keputusan itu sudah final.
Aku menerima tawaran pernikahan politik dari Alpha Alexander Nugraha. Surat balasannya sudah kuremas menjadi bola kertas tak berbentuk dan kulemparkan ke dalam perapian, namun setiap kata di dalamnya sudah terpatri, membakar memori di otakku.
Aku duduk terpaku di depan cermin retak di kamar gudangku yang lembap.
Di telapak tanganku, tergeletak sebuah kotak beludru usang. Di dalamnya, tersimpan cincin perak sederhana—benda yang pernah Vincent tempa dengan tangannya sendiri untukku saat dia masih remaja. Itu terjadi jauh sebelum dia menjadi Alpha yang dingin, jauh sebelum Isabel datang dan meracuni segalanya.
Dulu, aku mengira cincin ini adalah janji abadi. Sekarang, aku tahu ini hanyalah belenggu yang mencekik.
Tanpa ragu sedikit pun, aku melemparkan cincin itu ke dalam lidah api perapian yang menyala kecil.
Aku menyaksikan logam itu memerah, melepuh, lalu menghitam menjadi arang tak berharga.
"Peranku dalam drama murahan ini sudah selesai," bisikku pada bayanganku sendiri yang tampak menyedihkan.
Tidak ada lagi air mata. Air mataku sudah lama mengering untuk pria yang bahkan tidak pantas mendapatkan setetes pun kesedihanku.
Aku menghabiskan dua hari berikutnya dengan mengubur diri, mempelajari struktur politik Pack Yarunica. Aku menghafal nama-nama tetua, memetakan jalur perdagangan, dan meresapi sejarah mereka. Aku mempersiapkan diriku untuk menjadi Luna bagi Pack lain, mematikan segala rasa dan memori tentang Dirgantara.
Tapi Vincent tidak membiarkanku pergi dengan tenang.
*Alpha's Command*—perintah mutlak seorang Alpha—tiba-tiba bergema, menghantam tengkorakku dan memaksaku hadir di pesta penyambutan resmi Isabel malam ini.
Tubuhku bergerak di luar kehendakku. Aku tidak punya pilihan selain menyeret kakiku yang berat menuju aula pesta.
Vincent berdiri di sana, tampak begitu gagah dan berkuasa dalam setelan jas hitamnya. Di lengannya, Isabel menggelayut manja, mengenakan gaun putih berkilauan seolah-olah dia adalah pengantin wanita yang suci.
Saat aku melangkah masuk, tatapan Vincent langsung terkunci padaku. Ada kilatan aneh di matanya—mungkin rasa bersalah yang terpendam, atau mungkin kebingungan karena melihat betapa dingin dan matinya tatapanku.
Namun, momen itu hancur dalam sekejap.
Seorang *Rogue* yang menyusup—atau lebih tepatnya, disewa untuk berada di sini—tiba-tiba membuat keributan. Dia menerjang ke arahku, mencoba menyentuhku dengan tangan kotornya.
Secara refleks, aku menepis tangannya kasar. "Jangan sentuh aku!"
Isabel, yang berada dua meter dariku, tiba-tiba menjerit histeris. "Aaa! Dia mendorongku!"
Tubuhnya jatuh terduduk dengan dramatis dan anggun, seolah sudah berlatih berkali-kali.
Vincent langsung berbalik, matanya menyala merah oleh amarah. Dia buta. Dia tidak melihatku yang sedang dikepung *Rogue*. Dia hanya melihat Isabel, 'korban' yang rapuh.
"Bawa Isabel ke tempat aman!" perintahnya menggelegar pada para pengawal, mengabaikan keberadaanku sepenuhnya.
Namun, puncak penghinaan itu terjadi saat sesi lelang amal dimulai.
Sebuah kalung tua dimunculkan di panggung. Napasku tercekat. Itu adalah *Moon Amulet*, peninggalan satu-satunya dari ibu kandungku yang dicuri ayahku dan dijual demi judi.
Aku maju dengan langkah gemetar, suaraku parau menahan tangis. "Aku menawar semua tabunganku untuk itu."
Isabel tertawa kecil, suara yang terdengar seperti denting gelas pecah. "Oh, kalung jelek itu? Vincent, Sayang, belikan untukku. Anjingku butuh kalung baru."
Tanpa menatapku, Vincent mengangkat tangannya. "Terjual untuk Isabel."
Duniaku runtuh seketika.
Isabel mengambil kalung itu, mengayun-ayunkannya di depan wajahku dengan senyum mengejek. "Lihat, bahkan ibumu yang jalang itu tidak bisa melindungimu."
*Jalang.*
Kata itu memicu ledakan nuklir di dalam kepalaku.
Bukan kemarahan biasa. Ini adalah lahar panas yang meledak dari inti jiwaku yang paling dalam.
Sakit yang luar biasa menghantam dadaku. *Inner Wolf*-ku melolong, bukan lolongan kesedihan, tapi lolongan perang yang menuntut darah.
Tanpa sadar, cakarku memanjang, menembus kulit ujung jariku. Aku menerjang.
Bukan untuk membunuh, tapi untuk mengambil kembali apa yang menjadi hakku.
Cakarku menggores lengan Isabel saat aku merebut kalung itu. Darah segar menetes ke lantai marmer.
"Dia menyerangku! Dia gila!" jerit Isabel, suaranya melengking.
"TANGKAP DIA!" Suara Vincent menggelegar, memenuhi ruangan.
*Alpha's Command* menghantamku seperti palu godam tak kasat mata, memaksaku berlutut, menghancurkan perlawananku.
Malam itu berakhir di kegelapan penjara bawah tanah.
Mereka merantaiku dengan perak murni.
*Silver*. Racun mematikan bagi kaum kami.
Kulitku mendesis dan melepuh di setiap titik di mana rantai itu menyentuh. Rasa sakitnya membakar, menjalar hingga ke sumsum tulang, membuatku ingin menjerit namun suaraku tertahan.
Aku terbaring di lantai dingin yang lembap, napasku tersengal berat.
Dari celah pintu besi yang berkarat, sayup-sayup aku mendengar percakapan dua penjaga.
"Kasihan Nona Sofia. Dia tidak tahu kalau Alpha Vincent menerima tugas 'mendidik' dia cuma untuk balas dendam pada ayahnya."
"Iya, kudengar Alpha bahkan merekam pertemuan mereka dulu sebagai bukti pemerasan. Benar-benar kejam."
Darahku membeku seketika.
Jadi, malam pertama kami... penyatuan suci Mate kami... itu semua hanya senjata politik? Hanya alat untuk menghancurkan ayahku?
Aku merasa ingin muntah. Perutku bergejolak hebat.
Tiba-tiba, rasa sakit di perutku kembali, kali ini seribu kali lipat lebih parah. Perak itu tidak hanya melukai kulitku, tapi bereaksi dengan sesuatu yang purba di dalam darahku.
Darah *White Wolf* yang selama ini tertekan, kini berontak.
Vincent muncul di balik jeruji besi. Wajahnya terlihat lelah, ada keraguan yang melintas di matanya saat melihat luka bakar di tubuhku.
"Sofia..." suaranya terdengar ragu.
Namun Isabel muncul di belakangnya, memeluk pinggangnya posesif, menatapku dengan senyum kemenangan yang menjijikkan.
Cukup.
Aku memejamkan mata, mengumpulkan sisa-sisa tenaga terakhir dari jiwaku yang telah hancur lebur.
Rasa sakit fisik ini tidak ada apa-apanya dibandingkan lubang menganga di hatiku.
Aku berdiri, tertatih namun pasti. Rantai perak itu mendesis semakin keras, membakar kulitku, tapi aku tidak peduli lagi.
Aku menatap lurus ke dalam mata Vincent. Mata yang dulu kucintai setengah mati. Sekarang, aku hanya melihat orang asing yang kejam.
Aku membuka mulutku, suaraku parau namun bergema dengan kekuatan aneh yang membuat obor di dinding berkedip ketakutan.
"Saya, Sofia Permana..."
Mata Vincent membelalak, menyadari apa yang akan terjadi. "Sofia, jangan—"
"...menolakmu, Vincent Dirgantara, sebagai Mate-ku."
*KRAK!*
Rasanya seperti ada benang baja yang putus di dalam otakku.
Sakitnya membutakan, seolah jiwaku dirobek paksa. Vincent terhuyung ke belakang, memegangi dadanya, meraung kesakitan saat ikatan itu putus.
Tapi bagiku, rasa sakit itu diikuti oleh gelombang kekuatan yang memabukkan.
Api putih meledak dari tubuhku, terang dan menyilaukan. Rantai perak itu meleleh seperti lilin. Pintu sel besi terlempar hingga menghantam dinding seberang.
Aku berlari.
Aku membakar gudang penyimpanan saat aku lewat. Biarkan semuanya hangus. Biarkan kenangan busuk ini menjadi debu.
Malam itu, langit di atas kediaman Dirgantara berwarna merah oleh api amarahku. Dan aku berlari kencang menuju kegelapan hutan, meninggalkan abu masa laluku jauh di belakang.