Bab 1

Ruko Yolanda cakes pukul sebelas malam beberapa angkot berwarna merah sudah berjejer di samping ruko menunggu para karyawan yang akan pulang kerja.

"Domi, aku yang naik duluan yah. Kamu yang di belakang!" Sophie bergegas masuk kedalam angkot yang tersisa satu tempat duduk.

"Iyah hati-hati di jalan ya, Sop!" Dominique melenggang masuk ke dalam angkot di belakangnya berpisah pulang dengan Sophie malam ini.

"Tumben banget malam ini angkot penuh, biasanya sepi." Batin Dominique melirik angkot Shopie yang melaju lebih dahulu.

Sophie mendapatkan sisa duduk paling pojok untuknya itu adalah tempat yang paling nyaman buat menyandar melepaskan penat seharian bekerja.

Tangan Sophie membuka sedikit kaca angkot agar semilir angin malam dapat masuk menambah kesejukan. Udara malam hari dengan pemandangan jalan raya yang tidak pernah sepi dengan segala aktivitasnya. Hilir mudik kendaraan masih sangat ramai.

Sophie tidak tidur, dia hanya menutup matanya yang kelelahan dan telinganya mendengar celotehan-celotehan tidak jelas dari para penghuni angkot.

Ada yang saling ledek sesama teman, meluapkan emosi karena kesal di marahi bosnya, tertawa, bercanda yang tidak jelas juntrungannya dan ada juga yang turun ketika mereka sampai di tujuan.

Di pertengahan perjalanan angkot berhenti.

Bruk!! Telinga Sophie mendengar tempat duduk sopir di buka berarti ada satu orang yang duduk di depan dengan sopir.

Dan, brak-brak!!! Tiga orang pria masuk tergesa Sophie membuka mata, satu orang duduk di ambang pintu dua lagi berpencar berhimpit di antara para penumpang wanita. Sophie melihat gelagat aneh dari mereka. 'Aneh banget. Mau apa mereka?' Shopie yang bergelayut tanya di hati.

Mereka menatap para penumpang wanita dengan tajam seolah akan memakan dan menerkamnya. Suasana berubah hening seketika saat pria yang duduk di ambang pintu mengeluarkan pistol.

"Jangan berteriak kalau mau selamat serahkan semua barang-barang kalian!" ucapnya sambil menodongkan pistol kearah penumpang.

Hati Sophie sudah ketar ketir panas dingin di buatnya. Jantungnya berdetak tidak karuan, panik dan takut bercampur jadi satu. Mata Sophie melirik kearah sopir di lehernya sudah terhunus golok yang mengancam, meminta sopir menyerahkan uang setoran angkot serta melajukan angkot seperti biasa.

Riuh dalam angkot beberapa saat lalu berubah menjadi malam yang mencekam. Celotehan, tawa dan canda semuanya sirna berubah menjadi ketegangan disertai isak tangis.

Dua pria lain yang berhimpitan dengan para penumpang wanita tadi mengeluarkan golok,

"Ayo, serahkan!!" ucapnya mendelik tajam masih menodong-nodongkan goloknya.

Mereka ketakutan sampai tidak bisa bergerak hanya menuruti kemauan mereka yang melucuti paksa dan merampas barang-barang juga uang dari para penumpang wanita.

Sophie melihat sendiri dengan matanya saat salah satu dari mereka menjambret kalung seorang wanita sambil menodongkan goloknya di leher. Dan dia pun tak luput menjadi sasaran mereka, Sophie terpaksa menyerahkan dompet beserta isinya karena golok sudah menyambangi lehernya. Setelah melancarkan aksi mendapatkan semua barang rampasan mereka turun.

Angkot harusnya melaju pada pemberhentian terakhirnya terminal, tapi malam ini angkot berbelok arah pada Polsek terdekat.

Sophie yang syock boro-boro menangis seperti yang lain dia hanya diam dengan tubuhnya yang bergetar.

Sopir angkot turun dengan membawa para penumpang yang terlihat syock menggiring mereka untuk membuat laporan pada polisi sebagai korban dan saksi pembegalan dalam angkot.

Sophie duduk di depan ruang tunggu polisi setelah dia membuat laporan berita acaranya, dia mengeluarkan ponsel yang sedari tadi terus berbunyi dari saku dalam jaketnya. Ponsel Sophie selamat dari pembegalan karena dia menutupi dengan jaket.

"Sayang kamu dimana? Kok belum sampai?" suara dari seberang telpon.

"Polsek!" jawab Sophie dengan suaranya yang mulai parau.

Orang tadi kaget mendengar jawaban Sophie langsung menjalankan motor menuju tempat yang disebut. Tidak berapa lama motor berhenti ia melihat Sophie duduk sendiri di ruang tunggu polisi.

"Ada apa sayang? Kenapa kamu disini?" ucapnya memburu dengan pertanyaan terlihat khawatir dan panik.

Sophie masih belum menjawab. Dia hanya tertunduk, "sayang kamu nggak apa-apa kan?" tanyanya lagi menggoyangkan tubuh Sophie yang belum bereaksi dengan pertanyaannya.

Sophie mengangkat wajahnya menatap sepersekian detik kemudian Sophie sudah menangis sejadinya di pelukan sang pacar. Rasa yang dia tahan sejak tadi seketika membucah keluar dan tak tertahan.

Angkot Dominique berhenti di depan tukang nasi goreng pinggir jalan langganannya.

"Bang, biasa pedas pakai ati ampela telornya di dadar pakai daun bawang, nggak usah pakai acar dan ketimun, ingat jangan lupa lagi kemarin ada acar sama ketimunnya tuh!" ucap Dominique mengingatkan lagi pesanan nasi gorengnya.

"Eh Neng Domi, maaf kemarin ramai Neng, abang kelupaan, jadi nggak sengaja acar sama timunnya kemasukin ke nasi gorengnya si eneng," kata abang nasi goreng. "Ya sudah nggak apa-apa Bang, tapi sekarang jangan lupa lagi yaa," pinta Dominique.

"Iya Neng." Si abang nasi goreng langsung membuat pesanan Dominique.

Dominique duduk di bangku plastik sambil membuka ponsel memeriksa isi pesan yang sedari tadi berbunyi dari grup tempat kerjanya.

Huh, malam-malam masih ngebahas kerjaan. Orang-orang pulang nggak bawa kerjaan bisa tidur dengan nyenyak sedangkan kerjaanku ada saja yang di bahas. Keluh Dominique dalam hatinya.

Setelah melihat deretan pesan dalam grup yang meminta agar personil bisa lebih meningkatkan omset jualan dan service pada para pelanggan.

"Neng Domi, ini pesanannya."

"Eh iya berapa, Bang?"

"Biasa Neng lima belas ribu!" Dominique mengeluarkan uang puluhan ribu dua lembar dan memberikan pada abang nasi goreng.

"Ini kembaliannya Neng."

"Iya makasih ya, Bang!"

Dominique meninggalkan tukang nasi goreng berjalan pelan menuju gang rumah sewanya. Rumah kecil yang dia sewa tahunan karena rumah peninggalan kedua orangtuanya terpaksa dia jual untuk melunasi hutang-hutang ayahnya. Dominique harus bisa membagi pengeluaran dengan gajinya yang pas-pasan agar dia bisa berhemat dan bertahan hidup dengan keperluan yang lainnya.

***

Di sebuah apartmen mewah,

"Bagaimana John?" ucap seorang pria tampan berbadan besar berotot dengan punggung dan lengannnya yang penuh dipenuhi dengan tato hanya mengenakan handuk yang membalut di pinggang berdiri di jendela apartemennya sambil meminun wine.

John memberikan satu amplop yang berisi berbagai informasi dan foto seseorang. Pria tampan tadi menatap foto itu begitu dalam.

"Apa Tuan Haiden mau melihatnya langsung?"

"Uhmm ... sudah sepuluh tahun. Kau bahkan belum banyak berubah!" gumanya.

"Besok saya akan mengantarkan, anda?"

"Hmm!"

"Baiklah Tuan, saya tinggal. Selamat beristirahat jika ada hal mendesak anda bisa langsung menghubungi saya!" John berkata. Pria tadi hanya mengangguk dan John pergi menghilang dari hadapannya.

***

Dominique meletakan bungkusan nasi gorengnya di meja makan. Ia melempar tasnya sembarangan, tak berapa lama dia keluar dari kamarnya membawa handuk dan baju ganti masuk ke kamar mandi untuk berbersih dan berganti baju.

'Cepat makan lalu tidur' Dominiqie mengambil piring dan sendok dari dapur yang letaknya tidak jauh dari meja makan. Dia mulai membuka bungkusan nasi gorengnya awalnya dia menikmati hingga setelah beberapa suapan yang masuk ke mulutnya tiba-tiba buluk kuduk di tangannya berdiri.

Dominique makan nasi goreng merinding. 'Ada apa nih kok jadi merinding begini?' Dominique menghentikan makannya memegangi tengkuknya menengok kanan dan kiri. Sepiii.

'Akh masa ada setan sih!'Dominique bergidig. Melempar sendoknya. Meninggalkan nasi goreng miliknya.

Dominique kabur berlari masuk ke kamarnya menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut, " Jangan ganggu dong jangan ganggu pergi kau setaaannn ...," ucap Dominique dari balik selimutnya seperti lagu mbah dukunnya Alam.

Dan saat peristiwa itu terjadi di tempat lain seseorang sedang menatap foto Dominique dari ranjangnya dan berkata,

"Aku merindukanmu Domi, kali ini aku tidak akan melepaskanmu lagi!"

Bab 2

Dominique bangun dengan mata panda selimutnya sudah terjatuh dilantai.'Huh sial banget gara-gara mikirin ada setan semalaman aku jadi nggak bisa tidur' gerutu Dominique berjalan malas keluar kamarnya sambil menguap lebar dan meregangkan tangannya keatas.

'Sarapan apa yaa' Dominique berjalan masuk ke kamar mandi mencuci muka dan gosok gigi.

'Nyabu aja deh!' Dominique berjalan malas keluar gang sempit rumahnya. Tukang bubur sudah ramai pembeli Dominique memesan bubur ayam dan duduk berbarengan dengan yang lain.

Dari seberang jalan sudah terpakir mobil mewah yang mengawasi gerak-gerik Dominique. Seseorang dari kaca mobilnya sengaja dia turunkan hanya untuk melihat dengan jelas wajah Dominique.

"Hei John, apa itu?" Orang tadi mengerutkan kedua dahinya kesal.

"Bubur ayam, Tuan Haiden!"

"Aku tahu! Maksudku baju yang di pakainya. Kenapa dia keluar memakai pakaian seperti itu," gerutu Haiden semakin kesal.

"Itu daster, Tuan. Motifnya hello kitty!" John, pria bertubuh tinggi dan hampir sama dengan tubuh tuannya membalas ucapan tuannya dari kaca spion.

"Aku tahu. Maksudku kenapa dia keluar memakai pakaian seperti itu apa dia tidak punya baju lain? Sudah tipis, minim dengan wajah kumal dan lihat itu dia tersenyum manis dengan lelaki di hadapannya, membuatku sakit mata!!" Komentar Haiden disertai dengan eratan gigi dan cengkraman erat di kedua tangannya.

Hurf Tuan Haiden, anda selalu saja bersikap seperti ini kalau berurusan dengan nona Dominique. Keluh John dihati.

"Apa kita turun saja Tuan mungkin anda ingin menyapanya, anda kan sudah lama tidak bertemu dengan nona Dominique!" tawar John, akan membuka pintu mobilnya.

"Tidak jangan sekarang! Aku belum siap!" jawab Haiden sambil menutup kaca mobilnya.

"Kita tetap disini Tuan?"

"Tidak! Suruh saja orang biasa mengawasinya!"

"Selalu siaga Tuan. Selama sepuluh tahun dua puluh empat jam seperti yang anda perintah kan!"

"Kembali ke kantor kita akan memulai rapatnya. Aku ingin tahu kondisi perusahaan setelah sepuluh tahun kutinggalkan!"

"Baik Tuan"

Mobil mulai melaju meninggalkan Dominique yang masih menikmati sarapannya.

Waktu menunjukkan pukul sebelas siang Dominique sudah mandi rapih siap berangkat bekerja. Jadwal hari ini adalah shift siang untuk Dominique.

Dominique berjalan keluar rumahnya. Jarak perjalanan dari rumah sampai tempat kerja sebenarnya tidak terlalu jauh, namun karena Dominique berjalan kaki ke tempat pemberhentian angkot, menunggu angkot, belum ngetem angkot, mencari penumpang dan macet bisa menghabiskan waktu satu jam setengah untuk sampai ke tempat kerjanya. Dominique sebenarnya bisa naik ojek online tapi untuk seorang Dominique ongkosnya terlalu mahal, jadi dia tidak bisa irit buat kebutuhan lainnya. Sebelum berangkat kerja Dominique selalu menyempatkan diri membawa bekal, yaa walaupun isinya hanya nasi, mie goreng dan telur dadar buat seorang Dominique itu adalah makanan termewahnya.

Jam setengah satu siang Dominique sudah sampai di depan pelataran ruko berlantai empat, Dominique bekerja di sebuah cake shop. Setiap harinya di jalani dengan ceria dan penuh semangat. Ruko depan tersedia parkir yang cukup luas untuk para pengunjung security area cake shop selalu berjaga dan kadang membantu parkir mobil para pengunjung.

"Selamat siang Bu Ocha," sapa Dominique pada salah satu security wanita saat dia datang dan sedang melakukan check body juga isi tas Dominique sebelum masuk ke area kerjanya.

"Siang juga Mbak Domi, eh Mbak Domi sudah tahu belum kejadian semalam yang menimpa mbak Sophie?" tanya Bu Ocha langsung gercep bergosip saat Dominique datang.

"Belum tuh Bu memang ada apa ya? Sophie belum kasih tahu apa-apa kok sama aku," sahut Dominique sedikit penasaran.

"Itu loh Mbak, saya juga tahu dari ruko tetangga kita katanya dia kan semalam satu angkot sama mbak Sophie, dia bilang angkotnya kena begal," lanjut Bu Ocha

"Begal? Terus gimana keadaan Sophie sekarang, Bu?" wajah Dominique berubah menjadi khawatir.

"Mbak Sophie hari ini nggak masuk mbak kayaknya dia masih syock tadi saja pacarnya yang datang ngabarin bawa surat dokter!"

"Ya ampun kasihan Sophie dia pasti syock banget, terima kasih infonya Bu. Nanti aku telpon Sophie pas break, aku masuk dulu ya Bu takut telat belum ganti seragam!" Dominique melenggang masuk meninggalkan bu Ocha.

Dominique setengah berlari menaiki tangga menuju loker ganti saat menaiki tangga dia berpapasan dengan chef Justin yang turun membawa cake pesanan pelanggan.

"Selamat siang Chef," sapa Dominique sambil menundukkan kepala sapaan untuk semua orang ketika mereka bertemu ataupun berpapasan dengan seluruh penghuni ruko.

"Siang juga Domi," balas Chef Justin sambil tersenyum dan berlalu membawa cake turun.

'Wahh chef Justin masuk siang nih bisa break bareng nanti' guma dominique dihati terus tersenyum sampai loker ganti di lantai empat. Dominique membuka lokernya dia mengambil seragam kebesarannya dan masuk ke kamar ganti untuk berganti baju.

Celana panjang baju merah maroon berlogo nama cake shop di dada bagian sebelah kiri Dominique memasang emblem namanya di dada sebelah kanan. Rambutnya di cepol tak lupa apron order sudah melingkar di pinggang kecil Dominique. Sepatu hak lima centi sudah menunjang penampilannya, tak lupa riasan cerah sudah terpoles di wajah mungil nan imut milik Dominique ... .

"Siang Ra," sapa Dominique saat melihat Tara yang baru masuk loker ganti.

"Siang juga, Dom! Dom, kamu sudah dengar soal Sophie?"

"Iya, tadi bu Ocha sudah kasih tahu aku pas check body!"

"Kasihan banget Sophie, dia pasti ketakutan semalam!"

"Iya kebetulan semalam aku nggak satu angkot pulangnya. Nanti break aku telpon dia deh!"

Tara melirik jam di tangannya, "iya ayo turun!" ucap Tara menggandeng pinggang Dominique.

"Berapa personil hari ini?" tanya Dominique.

"Aku kasir, kamu, Mita, Ajeng serve di bawah yaa cuma kalau pas rame bantu kasir seperti biasa. Harry di bar sudah turun, bu Ririn MOD (Manager Of Duty) closing kita hari ini," sahut Tara.

"Sip ada breving siang kan?" tanya Dominique.

"He'em!" ucap Tara saat mereka sudah di depan mesin finger print untuk bergantian absen masuk.

Mereka semua mengikuti breving, breving promo yang sedang berlangsung di toko tak lupa breving service yang selalu jadi topik utama pembahasan demi menaikan omset. Yelyel semangat mengakhiri breving siang sebelum semua personil masuk area bergantian dengan shift pagi yang akan beristirahat.

Pertukaran shift di awali dengan saling sapa over handle tugas masing-masing tiap bagian. Untuk kasir mereka langsung tukar shift semua penjualan cash ataupun kartu shift pagi langsung ditarik agar tidak tercampur dengan penjualan shift closing.

Untuk serve area pelanggan dengan empat table biasanya mereka over handle untuk menjaga dan mengawasi table yang mungkin akan minta tambah ataupun meminta bon pembayaran. Pada area taking order dengan pelanggan langsung overhandle orderan mereka masing-masing dan tak lupa untuk mengecek kue pesanan yang sudah masuk ke pastry, agar pelanggan tidak menunggu lama kuenya. Bagian bar biasanya, over handle tugas membuat minuman dan pesanan yang masih dalam proses pembuatan. Setelah selesai over handle mereka shif pagi baru bisa beristirahat.

"Mbak," panggil salah satu pelanggan pada Dominique yang baru saja akan turun ke area pelanggan sudah berdiri di depan showcase cake tampak sedang memilih.

"Selamat siang kakak, boleh dibantu dengan pesanannya," ucap Dominique langsung bersiap mengeluarkan nota juga pulpen akan mencatat pesanan.

"Saya mau ini Mbak, strawberry cheesecake diameter dua puluh pakai tulisan happy birthday mama terus saya minta lilin angka lima puluh ya Mbak," pelanggan tadi memulai orderannya. Dominique menulis semua pesanan di dalam nota.

Tara dari meja kasir tampak memperhatikan orderan.

"Ada lagi tambahannya, kak?" tanya Dominique.

"Eh, iya ini Mbak." Pelanggan tadi bergeser ke arah showcase bread. Ketika pelanggan tadi berjalan kearah showcase bread Tara sigap mengikuti dia mengambil tray dan penjepit roti.

"Saya mau sosis bread empat, chicken mushroom dua, donat coklat dan keju masing-masing dua, muffin keju dua, egg tart dua, almond cheseenya dua, cinnamon roll empat ya mbak," ucapnya sambil menunjuk bread di showcase.

Tara dari dalam area mengambil pesanan roti-roti tadi.

"Ada lagi Kak?" Dominique yang melihat pelanggan tadi tampak berpikir.

"Saya mau paket macaroon dan praline yang isi delapan masing-masing empat ya Mbak isinya mix saja. Oke itu dulu saja Mbak," pelanggan tadi mengakhiri orderannya.

"Baik Kakak, ini notanya. Silahkan melakukan pembayaran pesanan di proses setelah pembayaran dan maximal menunggu lima belas menit. Terima kasihkasih, saya dengan Dominique jika ada tambahan kakak bisa panggil saya. Saya ada di sebelah sana." Dominique menyerahkan nota dengan kedua tangan dan menujukkan arah kasir untuk pembayaran juga posisi dirinya jika pelanggan tadi membutuhkan dirinya.

Pelanggan tadi langsung menuju kasir. Ajeng yang diberi kode Tara langsung naik mengambil alih packing roti ke dalam box sementara Tara membantu pembayaran.

Bab 3

Inputan pesanan secara otomatis masuk ke ruangan pastry dan tidak berapa lama semua pesanan keluar. Ajeng langsung memanggil pelanggan tadi dia mengulangi pesanan sebagai tanda check barang agar tidak Ada yang tertinggal.

Satu jam berselang shift pagi sudah kembali lagi di area. Mereka semua langsung melakukan pertukaran bergantian untuk istirahat. Dominique berjalan pelan menuju tangga duduk di salah satu anak tangga, tangannya mengeluarkan ponsel dari saku celana dan menelpon Sophie.

"Iya Dom," suara Sophie dari ujung telpon.

"Gimana keadaan kamu sekarang Sop? Tadi aku di kasih tahu sama bu Ocha."

"Sudah lebih baik Domi hanya saja sementara waktu aku nggak mau naik angkot dulu, masih trauma," ucap Sophie dengan suaranya yang masih berat.

"Iya aku ngerti kok. Terus gimana tuh para begal? Ketangkap?"

"Aku dengar langsung tertangkap soalnya pas laporan kejadian dekat banget dengan polsek jadi laporan langsung di proses dan beberapa jam kemudian mereka semua tertangkap!"

"Syukurlah kalau sudah tertangkap. Jadi tidak meresahkan. Kapan kamu masuk Sop?"

"Mungkin besok kamu kan tahu bu Ririn nggak akan kasih izin lama dia pasti ngoceh!"

"Iya sih "

"Terus nanti malam kamu pulang sendiri dong Domi?"

"Uhm, mungkin. Cuma hari ini dia masuk siang sih," ucap Dominique.

Sophie mengerti maksud arah pembicaraan Dominique tentang chef Justin yang sedang pedekate dengannya.

"Ngomonglah dia pasti mau kok nganterin kamu pulang!"

"Ah liat nanti aja Sop, ya sudah aku istirahat dulu ya!"Dominique menutup telpon dan memasukkan ponselnya ke dalam saku.

"Ehemm" Dominique menoleh kearah suara.

"Makan bareng yuk!" Chef Justin sudah berada di belakang Dominique duduk di salah satu anak tangga di belakang Dominique dan mendengarkan percakapan mereka di telpon.

"Eh emang kerjaannya sudah selesai?"

"Sudah yuk. Ini sudah aku bawakan jaket!" Chef Justin menunjukkan jaket miliknya.

"Uhmm, tapi aku bawa bekal!"

"Nanti bekalnya turunin saja buat ronde kedua anak-anak nanti malam," sahut Chef Justin yang tidak ingin ada penolakan dari Dominique.

"Tapi bekalku kan ..."

"Sudah ayok, kelamaan nanti jam breaknya keburu habis!" Chef Justin tidak sabar langsung memakaikan jaket menarik tangan Dominique.

Di luar Ruko sebuah mobil tampak mengawasi.

"Tuan Haiden, anda tidak turun? Atau mau saya pesankan sesuatu?"

John yang melihat Tuannya memandangi kaca mobil yang sudah dia buka.

"Hmmm."

Lalu dia menyadari sesorang yang sedang dia nantikan melewati mobilnya, bergandengan tangan. Matanya membulat dengan lebar.

"John, siapa dia? Berani sekali dia menyentuhnya. Kau tidak memasukkannya ke dalam laporan!" bentak Haiden sambil mengepalkan tangan meninju kursi kemudi yang di duduki oleh John.

"Maaf Tuan Haiden, saya juga baru melihatnya!"

"Bodoh kau! Cepat bereskan dia, aku tidak mau melihatnya lagi!!"

"Baik Tuan!"

"Kembali ke kantor aku muak melihatnya. Kita jemput dia nanti malam."

"Baik Tuan," sahut John dan langsung mengemudikan mobilnya.

Haiden melihat Dominique sedang makan siang bersama seorang laki-laki.

Cih, berani sekali kau tersenyum bahagia seperti itu. Apa kau lupa dengan janjimu. Batin Haiden menatap kesal pada Dominique.

"John" John melirik tuannya dari kaca spion.

"Iya Tuan"

"Bereskan tokonya!"

"Sedang dalam proses, Tuan"

"Aku mau secepatnya!"

"Baik Tuan"

Tuan-tuan kenapa toko jadi sasaran cemburu anda, padahal anda dengan mudah bertemu dengan nona Dominique. Gengsimu tinggi sekali Tuan. Batin John.

"Malam ini kamu pulang sendiri kan?" ucap chef Justin di sela makan mereka. Dominique hanya mengangguk.

"Aku antar kamu pulang ya!" pinta chef Justin.

"Memangnya kamu bisa pulang cepat biasanya kan aku yang duluan pulang," sapaan Dominique di luar cake shop tidak terlalu formil.

"Bisa dong. Stok barang dan yang lain sudah aku maksimalkan tinggal push beberapa point yang belum nanti setelah break bisa aku kejar dan pulang dengan tepat waktu," sahut Justin meyakinkan Dominique sambil memegang tangannya dan tersenyum.

"Oke aku tunggu di luar saja yah. Tidak enak sama yang lainnya."

Walau Dominique tahu pedekate mereka bukan rahasia lagi buat mereka di dalam lingkup kerja Dominique harus menghormati Justin sebagai atasannya.

"Oya kau sudah dengar belum kalau saham toko kita sudah beralih tangan. Toko kita sekarang pemegang kuasa tertingginya seorang pengusaha terkenal dan sukses dari Inggris."

"Uhm belum, aku baru dengar. Tidak masalah siapa pemegangnya yang penting tiap bulan tidak ada keterlambatan gaji lebih baik lagi ada kenaikan," canda Dominique yang tidak perduli siapapun atasannya sekarang, baginya yang penting salary tiap bulan tetap mengalir ke rekeningnya.

ARAMGYAN COORPOTARE.

John menatap tuannya yang gelisah dan tidak tenang, berulang kali dia dengar dengusan kesal dari mulut tuannya. Mood tuannya sedang tidak baik setelah peristiwa gandengan tangan tadi. Pekerjaan dan beberapa janji langsung di tolaknya John tidak pernah melihat sikap tuannya selama sepuluh tahun di Inggris seperti ini.

Tuannya terus mondar-mandir di ruangan seperti setrikaan. 'Cih, tuan, tuan cemburu sampai seperti itu.'

"John" ucapnya seperti dia habis mendapatkan ide. John meliriknya.

"Anda mau saya pesankan sesuatu Tuan? Mungkin ice chocolate di siang hari pasti akan terasa segar," tawar John sambil tersenyum menggoda Tuannya.

"Cih, kau punya telepati kenapa kau tidak katakan daritadi," umpatnya kesal menendang kaki John.

"Ini saya katakan Tuan, apa ada pesanan lainnya?" seringai John lagi menggoda tuannya dengan alis yang dia naikkan.

Haiden tampak berpikir. "Suruh dia yang antar. Aku penasaran melihat wajahnya dari dekat ketika melihatku, ah atau aku bersembunyi dan menggagetkannya. Dia pasti senang melihatku kembali," celoteh Haiden yang terlihat seperti anak kecil.

'Hmmm tuan Haiden bertemu dengan nona Dominique. Aku jadi tak sabar melihat pertunjukkannya. Nona Dominique pasti'

"Baik Tuan, segera saya laksanakan!"

John yang melihat tuannya berkacak pinggang dan mendelikkan mata kesal menunggu jawaban John.

"Lambat sekali kerjamu!" gerutu Haiden berjalan ke meja kerjanya duduk sambil menggoyakan kursi membayangkan suatu hal. John hanya melihat tingkah tuannya yang seperti anak baru gede.

"Dom, kamu di panggil Bu Natalie," teriak Ajeng saat Dominique akan turun ke area. Dominique mengerutkan dahi.

"Ada apa ya Jeng?" Dominique yang penasaran.

"Jiaahhh mana aku tahu Dom, tadi pas lewat di depan ruangannya bu Natalie cuma bilang itu!" Ajeng berlalu segera turun ke area.

'Ada apa yaa? Kok tiba-tiba buluk kudukku merinding. Ah, sudah temui saja dulu dia.' Dominique berjalan malas ke ruangan bu Natalie. Dominique mengetuk pintu.

Tuk. Tuk!

"Masuk," sahutan dari dalam terdengar Dominique membuka pintu.

"Duduk," perintah Bu Natalie.

"Siang Bu, Ibu panggil saya, ada apa? " Dominique penasaran tumben sekali dirinya di panggil ke ruangan manager biasanya kalau di panggil pasti dia di suruh back up toko lain yang kekurangan personil dia tidak ingin berlama-lama di ruangan bu Natalie.

"Siang Domi. Tolong kamu antarkan pesanan ice chocolate ke," Bu Natalie memberikan secarik kertas yang di lipat dua kepada Dominique.

"Ice chocolate, Bu? Bukannya kita ada pak Nanang delivery kita," Dominique terkejut karena dia merasa ini bukan tugasnya. 'Masak aku sih yang harus ngantar mana di luar lagi panas-panasnya' batin Dominique menolak hebat permintaan bu Natalie.

"Sudah jangan membantah. Cepat antarkan nanti kelamaan dan ingat jangan buat masalah," pesan Bu Natalie.

Dominique tertegun sesaat. 'Sepertinya ada yang aneh' gumanya dalam hati.

"Eh kok malah bengong. Ayo cepat pergi sana!" usir Bu Natalie. Dominique mengkrejapkan matanya, "ma-af Bu, berapa banyak yang harus saya kirim!" Dominique yang tidak bisa membantah lagi.

"Satu saja. Kamu cukup mengantarkan dan segera kembali, mengerti!" ucap Bu Natalie

"Baik Bu, saya berangkat," pamit Dominique beranjak dari duduknya yang membuat hatinya tiba-tiba kesal.

"Oya, ce chocolate sudah di bawah dan ini uang transport pakai ojek online biar cepat!" Bu Natalie menyerahkan selembar uang seratus ribu kepada Dominique. Dominique menerima uangnya dan segera keluar ruangan bu Natalie.

"Domi nih!" Rissa order taker menyerahkan ice chocolate ke tangan Dominique.

"Serius cuma satu, Ris? Orang yang pesan tidak ada kerjaan yaa dan kenapa harus aku yang antar sih kan ada pak Nanang!" Dominique setengah cemberut menerima ice chocolate tadi.

"Sudah cepat antarkan. Nanti keburu cair tuh esnya. Ojek onlinenya sudah menunggu di depan, aku tadi di suruh pesankan sama bu Natalie!" Dorong Rissa agar Dominique segera pergi.

"Iya, iya!" Dominique menyeret malas kakinya menghampiri tukang ojek online yang sudah menunggu. Ojek online langsung melesat ke alamat tujuan. Ojek Dominique berhenti di depan gedung besar dan berlantai tinggi. Panas matahari sampai membuat silau matanya saat menatap gedung.

'Lantai berapa tadi ya' Dominique mengeluarkan kertas tulisan bu Natalie.

"Lantai lima puluh, hah yang benar saja cuma ini doang tulisannya!" Dominique yang baru menyadari saat membuka lipatan kertas tulisan tangan bu Natalie.

Dominique celingak celinguk di depan pintu gedung dia tidak melihat tulisan "ARAMGYAN COORPOTARE" terpampang besar di depan matanya seorang pengawal berbadan besar langsung menghampiri Dominique.

'Ah, itu dia, aku tanya sama dia saja' batin Dominique.

"Selamat siang Pak, Pak, saya mau ke lantai lima puluh lewat mana ya?" ucap Dominique ramah. Pengawal tadi sepertinya sudah mendapatkan perintah segera membawa Dominique untuk mengikutinya menuju lift khusus.

"Pak mau tanya lantai lima puluh ruangan apa ya?" Dominique yang tidak sabar bertanya siapa sih orang iseng yang pesan satu ice chocolate dan menyuruhnya datang kemari. Dominique merasa aneh dengan pesanannya dan dia tidak merasa punya teman apalagi kenalan di gedung semewah ini. Pengawal tadi hanya melirik dan tidak menjawab.

Pintu lift terbuka Dominique melihat satu lorong dengan satu ruangan besar di bagian pojok.

"Sudah sampai Nona, silahkan!" ucapan Pengawal tadi membuat kerutan di dahi Dominique dan langsung menutup pintu liftnya.

'Nona? Apa Aku tidak salah dengar?Dominique berjalan menghampiri meja sekretaris.

"Selamat siang Mbak, saya mau mengantarkan pesanan ice chocolate," sapa Dominique saat di depan meja.

Dominique melihat wanita itu sedang asik dengan peralatan tempurnya mengoles bedak dipipinya. Wanita tadi menatap Dominique dari ujung rambut sampai kaki.

"Oh ice chocolate," sahutnya kesal dan sinis.

'Cih apalagi ini, kenapa jawabannya seperti itu. Apa aku bikin salah? Kenal juga tidak. Kenapa dia tidak ambil saja sih nih ice chocolate harus sekali apa aku yang antar sendiri ... eh, eh ... kok buluk kudukku berdiri yaah ada apa nih, kok tiba-tiba merinding'

Wanita tadi berdiri dengan kesal meletakkan alat tempurnya di meja. "Ikut aku," ucapannya, Dominique mengekorinya dari belakang.

Wanita tadi membuka knop pintu.

Ceklek!

"Tuan ice chocolatenya sudah datang," ucap wanita tadi berjalan menghampiri meja di ikuti dari belakang oleh Dominique.

'Ah pertunjukkannya di mulai' John tersenyum diam.

Haiden langsung berdiri dia tidak sabar melihat reaksi Dominique. 'Ah ini kenapa makin dingin dan merinding ya? Apa AC-nya terlalu dingin buatku' Dominique merasakan ada yang tidak beres apalagi setelah wanita tadi menggeserkan tubuhnya mempersilahkan Dominique untuk memberikan ice chocolate yang dibawanya.

"Terima kasih Mbak," ucap Dominique ramah pada wanita tadi,

"Ini Pak pesanan ice chocolatenya," ucap Dominique sambil menyerahkan ice chocolate tadi kepada orang di hadapannya sambil menunduk. 'Apalagi ini kok diam. Kenapa tidak di ambil sih?'

"Pak maaf ice chocolatenya!" Dominique menarik wajahnya penasaran melihat wajah orang di hadapannya.

'Belagu amat sih' umpat Dominique kesal. Saat mata mereka saling bertatapan mata Dominique langsung membulat lebar.

"Aakkhhh ... SETAANNNN!!!! " Teriak Dominique tangannya tidak sengaja menekan gelas plastik yang berisi ice chocolate tadi sehingga menyiram wajah dan mengotori bajunya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED