''Aku dimana?'' seorang gadis berusia 23 tahun baru saja tersadar dari tidur panjangnya. Dengan disertai luka di beberapa bagian wajahnya.
Sebuah ruangan yang seperti kamar tidur. Tetapi sangatlah mewah. Tidak mungkin rumah sakit bukan? atau hotel berbintang? Kim Hana meringis kesakitan dan bangkit dari tempat tidurnya.
Di dahinya terdapat perban yang membungkus luka, dan ada luka goresan di pipi kanannya. Dengan terhuyung Hana mencoba berjalan kearah pintu. Namun, ketika sampai di pintu dan ia coba membukanya, ternyata pintu tersebut dikunci dari luar.
Hana menghela nafasnya sejenak. Dengan lemas ia mencoba menggedor-gedor pintu, tapi nampaknya tidak ada seorang pun yang mendengarnya atau memang tidak mau mendengarnya.
Hana menekan kepalanya yang terasa begitu sakit, ia mengingat-ingat apa yang terjadi sebelumnya.
.
Beberapa jam sebelumnya.
Disebuah gelapnya malam, seorang gadis tengah berlari membelah kesunyian, ia berlari dengan raut wajah ketakutannya. Ya dia adalah Hana.
Kepalanya terus menoleh kebelakang memastikan bahwa tidak ada orang yang membuatnya berlari ketakutan seperti itu.
Kim Hana, gadis berusia 23 tahun. Yang hidupnya seakan tidak bermakna, tidak berguna dan merasa tidak diharapkan ada di dunia. Keluarganya sangatlah kekurangan, bahkan ibunya yang sudah tua pun masih bekerja, dan ayahnya? justru sang ayah hanya asik dengan dunia malamnya.
Setiap hari Hana mengurus pekerjaan rumah. Ibunya yang bekerja sangat jarang sekali berada dirumah. Karena itu sang ayah pun kerap mencoba melecehkan Hana, untuk memenuhi hasrat lelakinya.
Sempat Hana berteriak tapi sebuah pukulan keras yang didapatkannya dari sang Ayah. Hingga menimbulkan rasa trauma yang sangat dalam, dan bahkan membuat Hana sangat ingin mengakhiri hidupnya.
Beberapa kali Hana mencoba bunuh di-ri, tapi selalu gagal, sang Ayah yang terus menggagalkan upaya pengakhiran hidupnya.
''Jangan membuat rumah gubuk ini angker karena perbuatan mu!'' kalimat itu yang sering Hana dapatkan.
Bukan melarang karena sayang, tapi melarang karena tidak mau ikut terseret dalam kasus pengakhiran hidupnya.
Dan malam itu, waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Hana yang tengah tertidur merasa ada yang sedang menggriliya tubuhnya. Dengan perlahan, ia membuka matanya dan benar saja. Sudah ada tubuh seorang pria gempal yang berada di atas tubuhnya. Tangannya yang brengsek meremat buah dadanya.
Spontan Hana terjingkat dan menendang pria gempal itu, sehingga membuat pria itu terpental dan terjatuh.
''Akkkhhhhh!'' jerit Hana begitu kencang.
Ia segera menghidupkan lampu kamarnya dan ternyata seorang pria itu tak lain adalah Ayahnya sendiri.
''Ayah?'' suara Hana terdengar gemetar. Matanya turun melihat kearah pakaiannya yang dua kancingnya sudah terbuka. Ya ternyata yang dia rasakan didalam tidurnya benar, bahwa ayahnya kembali mencoba melecehkannya. Tapi kali ini sudah sangat keterlaluan.
Dengan cepat ia mengancingkan bajunya lagi, dan menarik selimut untuk membungkus tubuhnya.
Antonio menatap kesal pada anak gadisnya. Ia bangkit dan menghampiri Hana diranjang. Dan dengan sangat kasar, ia menjambak rambut panjang Hana sampai kepala Hana mendongak kebelakang.
''Anak sialan! kau mencoba melawan ku ya?!'' ucapnya penuh penekanan.
Bau alkohol yang sangat menyengat tercium dari mulut Antonio. Dan sudah dipastikan bahwa kali ini pria gempal itu sedang benar-benar mabuk.
Istilah orang tua tidak akan memakan anaknya sendiri, tidak berlaku pada Antonio. Bahkan serigala pun tidak rela melihat anaknya dikejar babi hutan. Tapi Antonio, ia bahkan mencoba melecehkan anak gadisnya dan berbuat kasar pada Hana.
''Ampun Ayah, Hana mohon lepasin, sakit!'' mohon Hana dengan sangat. Tapi sorot mata penuh nafsu Antonio tidak sedikitpun mengiba pada Hana. Ia justru mengeratkan tangannya dan semakin menarik kebelakang rambut Hana.
''Setelah Kamu menendang ku? kamu justru meminta dilepaskan? Cih!!'' wajah Hana diludahi bagaikan sesuatu yang sangat menjijikkan.
Hana terus menatap mata Ayah berharap ada sedikit rasa iba padanya. Tapi pengaruh minuman setan itu, Antonio pun tidak memiliki belas kasih lagi.
Hup!
Antonio men-jilati dengan kuat leher Hana yang terpampang indah didepannya. Hana terus memberontak, tapi Antonio semakin beringas. Bahkan ia meninggalkan noda merah di leher anaknya.
Air mata Hana terus berderai, ia terus memohon dan berteriak. Tapi sayang, suara teriakannya tidak cukup keras karena posisinya yang mendongak sangat kebelakang.
Tidak puas dengan menyerang leher Hana, tangan Antonio berusaha menerobos masuk kedalam celana tidur Hana. Tapi Hana terus menahannya dengan kedua tangannya.
''Ayah sadar Ayah! Hana anak Ayah!'' ucapan Hana sedikit membuat Antonio menghentikan aksinya, tapi sepersekian detik setelahnya, ia melakukannya lagi lebih dari sebelumnya. Ia memaksa ingin menyentuh anggota tubuh yang sensitif Hana dengan tangannya sendiri.
Hana melirik kearah meja samping ranjang. Ia melihat sebuah celengan berbahan tanah liat dan terbesit pikiran untuk mengambil sebagai alat pertahanannya.
Dan... Brakkk!
Bukan hanya sekedar alat pertahanan, Hana justru menghantam kuat kepala Antonio dengan celengan miliknya sehingga Antonio tersungkur dengan darah yang mengalir dari kepalanya.
Celengan itu pecah, dan isinya pun berantakan. Tapi Hana tidak peduli, dia hanya ingin terlepas dari kejahatan Ayah sendiri.
''Anak kurang ajar!!'' pekik Antonio. Melihat Antonio yang sudah terjatuh, Hana pun mengambil kesempatan itu untuk melarikan diri.
Dia berlari keluar kamar dan bahkan keluar dari rumah. Antonio terus memanggil Hana dan mengejarnya.
Tapi Hana terus berlari, berlari dan berlari. Ia tidak peduli dengan kakinya yang tel-lanjang, bahkan ada darah yang keluar dari telapak kakinya karena tadi terkena pecahan celengan. Tapi sungguh, Hana tidak peduli itu, ia hanya ingin terlepas dari niat buruk Antonio. Sejujurnya ia lebih rela mengakhiri hidupnya ketimbang menyerah dan menyerahkan mahkota yang sangat berharga pada ayahnya yang brengsek itu.
Hana terus berlari hingga tidak sadar kalau dia sudah berada jauh dari rumahnya. Dan disinilah dia berada, di sebuah jembatan layang. Merasa sudah aman dan ayahnya tidak lagi mengejar, Hana mengendurkan berlarinya. Dengan tersengal-sengal ia menyenderkan tubuhnya di pembatas jembatan.
Air matanya terus berderai, mengingat apa yang dilakukan Ayahnya, membuat ia merasa jijik dengan dirinya sendiri.
''Hana benci Ayah!'' teriak Hana dengan tangisnya.
Dengan kasar ia mengelap lehernya dengan kerah bajunya, sehingga meninggalkan lecet dari kukunya yang sedikit panjang. Hana menggila, ia terus menyeka lehernya sampai berdarah-darah.
Ia menoleh kebelakang, yang ternyata jembatan itu memiliki dasar sebuah jalanan raya juga. Ya jembatan layang yang terbentang diatas jalanan raya.
Hana berbalik, ia sudah mantap untuk mengakhiri hidupnya saat ini. Disini, ya di jembatan layang ini. Hana mulai menaiki pembatas jembatan itu dan kakinya sudah melangkah dan hampir melompat, tapi seorang pria datang lalu menyuntikkan sesuatu dilengannya, sehingga membuat Hana kehilangan kesadarannya.
''Buka!!'' teriak Hana meminta dibukakan pintu tapi tidak ada seorangpun yang menyahutinnya.
Mata melirik kearah jendela besar yang ada dikamar itu, entah setan apa yang bersemayam dipikirannya. Sehingga ia berniat melompat dari sana.
Dengan tertatih, Hana berjalan kearah jendela tersebut. Ia membuka tirai itu dan berusaha membuka jendelanya, dan berhasil.
Tapi sebelum itu, Hana melongok terlebih dahulu ke bawah yang ternyata ia berada dilantai 3 sebuah bangunan. Namun, ada yang aneh. Pada umumnya pasti orang akan merasa ngeri atau ketakutan karena berada diatas jendela setinggi itu, tapi berbeda dengan Hana. Ia bahkan sudah meletakkan kedua kakinya dan bersiap akan melompat dari sana.
Hana tidak takut lagi untuk mati, ia bahkan ingin sekali mati untuk mengakhiri penderitaan yang dia alami. Dia juga merasa hidupnya tidak lagi berharga karena pelecehan yang dilakukan Antonio padanya.
Daaann....
Aaaakkkkk! Bruggkkk!!
Teriakan Hana membuat penjaga pintu kamar yang ternyata sejak tadi ada di sana dan mendengar gedoran Hana, terjingkat kaget dan langsung masuk ke kamar untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.
Betapa terkejutnya pria berbadan besar itu, ketika melihat jendela yang terbuka lalu ia segera berlari dengan cepat untuk melihat ke bawah yang ternyata di sana sudah ada Hana yang terbaring dengan berlumuran darah.
''Astaga! Pengamanan 1!!!!'' teriak pria penjaga itu.
Dan hanya mendengar teriakan pria bernama Deri semua pun berkumpul pada titik dimana terdapat tubuh Hana yang berdarah-darah.
Dengan cekatan mereka langsung mengangkat tubuh Hana lalu membawanya masuk kerumah yang ternyata disana pula terdapat ruangan dengan alat rumah sakit yang sangat lengkap berserta dia orang dokter pribadi.
''Kalian sudah mengabari Tuan Anderson?!'' tanya dokter wanita dengan khawatir.
''Belum, kau urus saja Nona muda dulu. Nanti kami akan mengabari Tuan Anderson!''
''Hiissshh! aku hanya kasihan pada kalian. Kalian pasti tidak akan lolos begitu saja darinya!''
Karena ucapan dokter itu, beberapa pria itu tertunduk lemas. Ya mengingat Tuan-nya yang tempramen tentu tidak akan membuat mereka tenang karena telah membuat tawanannya terluka.
''Dimana dia?!'' teriak seseorang yang datang dengan tiba-tiba. Yang membuat semua orang gemetar takut walau hanya mendengar suaranya saja.
''Brengsek!!'' Bugh!
Seorang pria berbaju hitam yang tadi bertugas berjaga didepan pintu Hana, terkena pukulan cukup kuat diarea perutnya. Yang langsung membuatnya tersungkur hampir kehilangan nyawanya.
''Kalian juga ikut bertanggung jawab!'' ucapnya penuh peringatan.
Brakkk!
Sean Anderson nama pria itu. Pria yang datang dan menyelamatkan nyawa Hana saat ingin mengakhiri hidupnya sendiri. Dengan cara menyuntikkan obat penenang yang membuat Hana seketika kehilangan kesadarannya.
Kala itu, Sean yang tidak sengaja sedang melintas melihat seorang gadis yang menangis di pembatas jembatan dan akan menaiki pembatas itu, dan Sean pun sudah menebak kalau gadis itu akan mengakhiri hidupnya.
Ketika berhasil membuat Hana pingsan, Sean segera membawa Hana kerumahnya.
''Cari tahu latar belakang gadis ini!'' perintah Sean pada seorang kepercayaannya.
''Baik!''
Sean memanggil beberapa dokter pribadi untuk memeriksanya, yang kemudian ia tahu terdapat banyak luka beberapa bagian tubuh Hana.
Merasa iba juga merasa ada sesuatu yang aneh pada perasaannya. Entah kenapa ia tidak ingin Hana pergi darinya.
Sean meminta penjaga menjaga kamar Hana agar nanti saat Hana sadar, Hana tdiak akan pergi. Lantas, sekarang justru keadaan Hana sangat mengkhawatirkan yang pastinya membuat Sean sangat marah.
Brakkk!!
Sean membuka paksa pintu ruang pemeriksaan yang lebih persis seperti rumah sakit mini yang ada dirumah Tuan Sean Anderson.
''Bagaimana keadaannya?!'' tanyanya dengan khawatir.
''Tuan Anderson? ka—kami akan memeriksanya lebih teliti,'' sahut seorang dokter pria.
Mata elang Sean menatap tajam pada dokter pria itu. ''Siapa yang meminta mu ikut memeriksanya? hah!'' bentak Sean.
''Kalau kau berani menyentuhnya, ku pastikan jemari tangan mu hilang satu persatu!''
Blamm!!!
Sebuah peringatan dan pengancaman sekaligus itu membuat dua dokter itu merinding disko. Jelas-jelas ia hanya memeriksa kenapa harus mendapatkan peringatan seperti itu. Sangat gila bukan!
Sean teringat sesuatu, ia terdiam lal keluar lagi dari sana. Para anak buahnya gemetaran karena tatapan tajam Sean.
''Siapa yang tadi menyentuhnya?'' tanyanya pelan tapi tidak ada yang menjawabnya. ''Siapa yang menyentuhnya tadi?!!!'' suara Sean naik beberapa oktaf sehingga membuat semua orang terjingkat kaget.
Dua orang mengangkat tangannya dengan ragu-ragu, mengaku kalau memang tadi mereka yang mengangkat tubuh Hana sampai ke ruang pemeriksaan.
Mata Sean melirik kearah sebuah lemari kecil yang di sana terdapat sebuah jambuk buntut seekor kuda yang diawetkan.
Cetassss! Cetasss!
Dengan kejamnya ia mencambuk tangan kedua pria itu begitu kuat, sehingga meninggalkan luka yang menganga karena kuatnya cambukan Sean.
Cetassss Cetassss
Semua orang hanya diam, diam bukan berarti tidak ingin tahu, mereka diam karena mencari aman. Takut kegilaan Sean semakin menjadi.
''Dengar! ini peringatan untuk siapapun! selain wanita tidak ada yang boleh menyentuhnya dengan sengaja. Ataupun menatapnya selama 3 detik. Karena ku pastikan bola mata kalian akan ku congkel dan ku berikan pada dua anjing dibelakang! paham?!''
''Paham!!!''
''Good!''
Klik!
Sean menoleh dengan cepat mendengar pintu ruangan pemeriksaan dibuka. Dan dengan segera ia menghampiri seorang dokter wanita yang sepertinya akan bicara kepadanya.
''Bagaimana?''
''Nona muda selamat, hanya saja ada tulang tangan yang patah, tapi Anda tenang saja saya sudah memasangkan pen,'' jelas dokter wanita itu.
''Kau yakin hanya itu?''
''Yakin Tuan Anderson.''
''Kerja Bagus. Kalian keluar lah!'' Kedua dokter itupun patuh, keluar dari sana meninggalkan Sean yang hanya ingin berdua saja disana dengan Hana yang masih tidak sadarkan diri.
Sean berdiri depan ranjang. Tangannya dilipat diatas perutnya. Menatap Hana dengan tatapan teduh. ''Kau ini gadis seperti apa sih! kenapa ingin sekali mati?'' ucapnya dengan suara yang begitu pelan.
Sean mengambil duduknya disebelah ranjang. Tangannya terulur menyentuh tangan Hana yang di gips. Mengusap-usap dengan pelan seraya bergumam, ''Pasti sakit, jangan mengulanginya lagi, hmm?'' senyum tipis Sean muncul begitu saja. Senyuman yang begitu manis yang bahkan tidak pernah ia perlihatkan pada semua orang.
Dan memang seingatnya, dia belum pernah tersenyum walaupun dengan menonton sebuah drama komedi yang diputarkan oleh pamannya.
Wajah Hana yang begitu cantik, tertidur begitu damai dan tenang disana. Sean tidak mengalihkan matanya sedikitpun dari wajah cantik Hana. Bahkan ia pun tidak rela untuk berkedip.
''Ada apa dengan diriku?'' gumamnya yang berusaha mengalihkan pandangannya tapi tidak bisa karena ia akan kembali menatap Hana.
Tok tok tok!
Sebuah ketukan terdengar cukup keras membuat Sean menggertakkan gigi-giginya karena kesal.
''Sudah kubilang jangan mengganggu! rupanya mereka bosan hidup!'' gerutu Sean yang berjalan kearah pintu dan bersiap akan memberikan Bogeman mentah untuk si pengganggu.
''Sudah ku bilang jangan mengganggu!!''
Sean membuka pintu dengan marah, tapi tiba-tiba amarahnya tertahan karena melihat siapa yang datang.
''Ada apa?'' tanyanya begitu datar.
''Maaf Tuan, saya datang karena ingin memberikan apa yang Anda minta kemarin,'' jawab seorang pria yang wajahnya tak kalah dinginnya dari Sean.
Sean menoleh kebelakang, melihat Hana yang belum juga sadar. ''Kita bicara diluar!'' ajak Sean yang langsung melangkah keluar dan menutup pintunya dengan pelan.
Keanu Reeves, asisten dari Sean Anderson. Merasa heran dengan Tuannya yang terlihat peduli dengan gadis yang bahkan identitasnya saja belum diketahuinya.
Sean membawa Keanu kekursi yang ada di depan ruangan itu. Ia duduk dengan menunggu asistennya mengeluarkan beberapa berkas dari tasnya.
''Mau saya bacakan atau—''
''Hmm!'' Sean berdehem memotong ucapan Keanu memintanya untuk membacakannya saja.
Keanu menghela nafasnya, lalu mulai membuka lembaran pertama.
''Kim Hana, berusia 23 tahun. Hanya lulusan SMA di sekolah Pelita Bangsa. Siswi yang memiliki nilai terbaik dari semua siswa. Kim Hana hidup dari keluarga yang sederhana, Ibunya Julia dan ayahnya bernama Antonio. Julia memegang tanggung jawab penuh untuk mereka atau bisa dikatakan sebagai tulang punggung. Antonio, suaminya pernah menjadi karyawan swasta disalah satu anak perusahaan kita, tapi karirnya berkahir karena ketamakannya sendiri, yaitu menggelapkan dana yang berujung pemecatan tidak hormat. Kim Hana anak satu-satunya mereka, tapi dia tidak mendapatkan kasih sayang pada umumnya seorang anak semata wayang dari kedua orang tuanya. Bahkan Kim Hana kerap mendapatkan perlakuan kasar dari kedua orang tuanya. Dan yang terakhir kami dapatkan informasi, bahwa Kim Hana nyaris di perkosah oleh Antonio, ayahnya sendiri. Berikut identitas orang tua dari Kim—''
Srrretttt
Informasi yang sedang dibacakan oleh Keanu tiba-tiba terhenti karena Sean merebut berkas tersebut begitu saja.
Sean membuka berkas itu dan melihat informasi lengkap Kim Hana dengan teliti. Namun tiba-tiba ia terdiam, tatapannya jauh kedepan dan kembali menatap Poto Kim Hana yang disana sudah ada potret dari semenjak Kim Hana remaja hingga sekarang.
''Ternyata dia …'' gumam Sean.
''Ada apa, Tuan?'' tanya Keanu yang merasa aneh dengan Tuannya itu.
''Tidak ada.''
Sementara kedua pria tampan nan gagah itu sedang berbincang. Didalam sana, Hana mulai membuka matanya. Ia memperhatikan sekelilingnya yang dia tahu itu adalah sebuah kamar rumah sakit, tapi nyatanya masih berada di rumah tempatnya terkahir kali ia terbangun.
Kim Hana menoleh kearah kirinya yang disana terdapat dinding kaca yang dapat melihat langsung pemandangan luar. Ia tidak mengharapkan hidup lagi, tapi kenapa usahanya lagi-lagi gagal. Bahkan saat ini ia tengah memikirkan lagi bagaimana cara dia mati dengan cepat.
Namun, selagi ia melamun, pintu pun terbuka- seseorang datang dan melangkah kearahnya.
''Kau sudah sadar?'' tanyanya tapi tidak membuat Kim Hana tertarik untuk merespon ataupun sekedar menoleh sejenak.
Hana dapat merasakan kalau orang itu berjalan kearahnya dan duduk disampingnya. Wangi parfum pria menyeruak masuk ke dalam rongga hidungnya.
''Apa sudah merasa lebih baik?'' tanya Sean lagi, tapi Hana tetap bungkam.
''Apa—''
''Apa Anda yang menyelamatkan saya, lagi?'' potong Hana, tanpa menoleh kearah Sean.
''Bukan menyelamatkan, tapi melihat kau masih bernafas membuat ku membawa mu kesini,'' jawab Sean berbohong. Karena nyatanya bukan dia yang membawa Hana kesana.
''Saya lelah, saya ingin mengakhiri semuanya. Kenapa takdir begitu kejam, aku ingin mati.''
Sean tergemap, hatinya mencelos mendengar ucapan Hana. Tapi sebisa mungkin Sean bersikap dingin didepannya.
''Kau wanita bodoh! seharusnya kau berusaha untuk membalas semuanya. Tapi malah mencoba bunuh diri. Cih! pengecut!'' cela Sean dengan sangat tajam.
Kim Hana perlahan menoleh dan menatap datar Sean, yang Sean sendiri terkejut karena melihat Hana yang sudah menangis sejak tadi tapi tidak terlihat menangis karena tidak ada pergerakan bahu.
''Apa Anda pernah merasakan disulut api rokok yang menyala? apa Anda pernah makan sisa makanan binatang? Apa Anda pernah merasakan minum air seni Anda sendiri? Apa Anda— hiks!'' Hana tidak dapat meneruskan ucapannya, ia terisak begitu lirih. Sungguh penderitaannya sangatlah berat, hingga membuat dia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri.
Sean mengepalkan tangannya kuat-kuat, giginya menggeletuk, rahangnya begitu tegang. Ia marah mendengar itu. Sebenernya ia juga tidak pantas mengatai Hana dengan kata pengecut, tapi tujuannya adalah agar Hana lebih bersemangat ingin hidup.
Tapi ternyata memang penderitaan Hana memanglah berat, dan sangat wajar jika percobaan pengakhiran hidup lah jalan ninjanya.
Sean berlalu begitu saja meninggalkan Hana yang terisak seperti wajahnya yang dia buang ke arah lain.
''Beri pelajaran untuk Antonio!'' titah Sean pada anak buahnya.
Sean berjalan melewati para anak buahnya, wajahnya yang terlihat marah membuat semaunya tertunduk tidak berani menatap langsung wajah Sean.
''Panggil poli interna, aku mau dia mendapatkan pemeriksaan organ dalam tubuhnya!'' titahnya tanpa tolakan pada seorang dokter yang tadi menangani Hana.
''Baik Tuan!'' sahut kedua Dokter itu.
Sean pergi keruang kerjanya, ia duduk dikursi pribadi miliknya. Memijat pelipisnya dengan tidak nyaman dan, Brakkkk!
Sean melemparkan semua barang-barangnya yang ada diatas meja kesembarangan arah. Sungguh ia sangat ingin melampiaskan amarahnya. Maka ia mengambil sebuah senjata dari laci meja lalu melepaskan peluruh kesebuah boneka kayu khusus untuk melampiaskan amarahnya. Dor Dor Dor !
Tiga tembakan Sean lepaskan, tapi belum juga membuat emosinya reda. ''Siapapun diluar, masuk!!!'' teriak Sean dan beberapa detik kemudian seorang pria berbadan tegap dan besar masuk dengan ragu. Tapi baru saja ia masuk dan menutup pintunya, Sean sudah menarik pelatuknya lagi lalu menembakkan peluruhnya pada punggung anak buahnya dengan membabi buta, sehingga membuat pria malang itu tewas dalam sekejap. Gila, memang gila. Sean memang pria Gila!
Amarah Sean memang tidak bisa terkontrol. Ia tidak segan-segan melepaskan amunisinya ke orang yang sudah ia kehendaki. Terlebih lagi ia mengetahui kalau hal yang sangat menyedihkan terjadi pada Hana sebelumnya.
Dia marah bukan hanya pada Antonio, melainkan dengan dirinya sendiri. Ia merasa bodoh karena terlambat bertemu dengan Hana, yang seharusnya ia tidak perlu repot-repot menyalahkan dirinya sendiri, karena memang itu sudah menjadi garisan takdir.
Sedangkan dikediaman Antonio, dua mobil hitam sudah bertengger di depan rumah. Beberapa pria berbaju hitam keluar dan salasatu dari mereka mengetuk pintu beberapa kali.
Antonio yang ternyata baru saja terbangun dari tidurnya menatap tajam pada para pria itu. ''Siapa yang berani mengganggu ku!'' pekiknya.
Dan … Bugh!
Pria berbadan besar itu memukul pundak Antonio hingga pria pemabuk itu tidak sadarkan diri. Dan dengan segera mereka membawa Antonio masuk kedalam mobil.
Keadaan perkampungan yang padat penduduk, membuat semua melihat kejadian itu, tapi anehnya tidak ada yang berminat untuk menolong Antonio atau sekedar bertanya. Mereka hanya melihat dari halaman rumah masing-masing.
''Pasti dia sudah berhutang dari rentenir untuk judi. Biar dia mendapatkan ganjarannya,'' ucap salasatu warga disana.