Lara, gadis cantik 23 tahun itu terkejut, ketika tiba-tiba Rey menggenggam jemarinya sambil menyodorkan sebuah kotak merah berbentuk hati.
Tampak sebuah cincin berlian berkilaun. Rey melambaikan tangannya dan memberi kode meminta mic pada seorang waitres, yang dengan segera menghampiri membawa nampan ditangannya berisi mic. Lelaki itu meraih mic, lalu menatap lekat kedua netra bening di depannya.
"Lara Angeswari ... Will you marry me?" Suara Rey menggema melalui mic yang dipegangnya, dengan tatapan penuh cinta.
"Jika kamu menerimanya, aku akan memboyong keluargaku, untuk melamarmu secara resmi di depan kedua orang tuamu."
Sontak seisi restoran yang sedang ramai pada jam istirahat makan siang itu menoleh pada mereka.
Restoran yang terletak di pusat kota itu selalu ramai dikunjungi. Selain desain interiornya yang mencuri perhatian, menu makanannya pun terbilang unik, karena menggabungkan masakan Nusantara dan Western.
Beberapa menu yang bisa dicoba diantaranya, Sandwich Oncom, Tenderloin Steak Sambal Matah, dan Spaghetti
Rawon yang merupakan favorit Lara. Seperti siang ini menu pilihan Lara Spaghetti Rawon di dampingi ice lychee tea.
Suasana restoran tiba-tiba seperti suara tawon yang berdengung. Lara terpana, hawa panas menjalari wajahnya, semburat merah merona di kedua pipinya.
Gadis cantik itu celingukkan memandang sekitarnya, dan benar saja mereka sedang menjadi pusat perhatian. Ia menjadi salah tingkah ternyata Rey melamarnya di tengah hari bolong disaksikan banyak pasang mata.
Dari awal mereka masuk memang sudah menyita perhatian pengunjung lainnya. Rey laki-laki 29 tahun berpangkat Letnan merupakan salah satu prajurit yang tergabung dalam komando pasukan khusus tempur, Kopassus.
Ia merupakan jebolan Intelegen, yang selalu berhasil dengan tugas- tugas rahasia negara. Jarang terlihat dengan seragam kebanggaannya, namun karena hari ini ada upacara Sertijab atau serah terima jabatan, setelah ceremonial Sertijab.
Rey terpaksa muncul dengan seragam kebanggaan abdi negara, di depan Lara untuk memenuhi janjinya. Sudah sering kali janji yang di buatnya gagal karena tugas yang mendadak.
Rey tahu kalau sering mengecewakan Lara, walaupun gadis itu tidak pernah mengungkapkan kekecewaannya, karena itu untuk memenuhi janjinya, terpaksa Rey memakai masker untuk menutupi wajahnya, karena waktu yang terbatas, tidak sempat untuk berganti pakaiannya.
Walaupun tertutup masker mata elang dan kening tebal yang berbaris rapi itu dapat memancarkan aura maskulin yang membuat pandangan mata semakin penasaran. Ditopang postur tubuh yang tinggi tegap, membuat semua mata yang menatap tak berkedip.
Berdampingan dengan seorang gadis yang juga tinggi semampai, kecantikan alami terpancar dari wajahnya yang terlihat babyface, dengan rambut pendeknya bak seorang Polwan. Memakai stelan berwarna kuning dipadu blazer abu-abu, seragam salah satu bank terpercaya di Indonesia.
Reynhard menatap penuh harap.
"Trima ... Trima ... trima ... " Suara riuh dari pengunjung restoran yang ikutan baper melihat pasangan yang sedang jatuh cinta itu.
"A-aku ... Yes." Lara mengangguk mengiyakan, karena tak sanggup berkata-kata lebih, tiba-tiba lidahnya terasa kelu. Sepasang mata indahnya mengerjab.
Dengan penuh perasaan Rey menyematkan cincin bertahta berlian itu ke jari manis Lara, lalu mengecup punggung tangan itu dengan lembut, walaupun tidak bersentuhan langsung dengan kulitnya karena Rey masih tetap memakai masker.
"Aku sangat mencintaimu." gumam Rey menatap intens pada manik Lara.
Terdengar siul-siul dan bisik-bisik dari pengunjung lainnya.
Lara mengusap sudut matanya, menahan gejolak di dalam dadanya. Mencoba untuk menyembunyikan perasaan karena banyak pasang mata yang memandang, namun rasa bahagia itu tetap terpancar dari wajah cantik nanp0 manis itu.
Gadis yang bekerja di sebuah bank itu sebelumnya bercita-cita berkarier dulu, tapi sejak mengenal Rey niatnya itu menguap, malah dengan anggukan cepat mengiyakan lamaran Rey. Dia telah jatuh dalam pesona Rey.
Tanpa mereka ketahui di sudut ruangan itu ada sepasang mata yang sedang memandang dengan hati yang nelangsa, menghempaskan asap rokoknya dengan kasar lalu melangkah keluar meninggalkan restoran itu.
"Kenapa terdiam?" tanya Rey sambil merapatkan kursinya ke arah Lara. Tangannya terulur mengusap sudut bibir Lara menghilangkan jejak minuman yang membuat bibir ranum itu basah. Di raihnya jemari lentik itu lalu menautkan kedua jemari mereka.
"Kamu biasanya heboh tapi kenapa sekarang membisu seperti ini?" Rey tertawa kecil dengan sikap Lara yang tak biasanya.
"Ini keputusan yang besar bagiku, dalam bayanganku ... tidak menikah muda. Aku ingin menikmati masa mudaku, aku takut tidak siap ... tidak siap untuk menghadapi permasalahan rumah tangga nanti. Takut tidak siap mendampingi seorang abdi negara. A-aku ... aku takut kamu tidak setia Mas .... " ujar Lara lirih.
Rasa yang membuncah di dalam ronggah dadanya antara bahagia namun juga terselip keraguan membuatnya tidak menyadari kalau suaranya masih bisa terdengar oleh pengunjung yang lainnya, karena mic yang tergeletak di atas meja mengarah ke arahnya.
"Ssstt ... " Rey menempelkan telunjuk di bibir Lara, jarinya bermain di sana, mengusap-usap benda kenyal itu dengan lembut. Sambil menatap kedua netra bening yang juga sedang memandangnya intens. Mereka terdiam untuk beberapa saat saling berbicara lewat tatapan mendamba penuh cinta.
"Ucapan adalah doa, kita akan memulai hidup yang baru, janganlah mengawali dengan kata-kata dan pikiran yang tidak baik," tukas Rey bijak sambil menyelipkan anakan rambut Lara dibalik telinga gadis itu.
"Jangan suruh aku untuk menunggu 2 tahun lagi sayang. Seperti yang kamu bilang akan menikah jika umurmu sudah 25 tahun. Aku membutuhkan rumah untuk pulang, aku merindukan seorang istri yang selalu menyambutku, hariku akan indah jika membuka mata di pagi hari yang pertama kulihat adalah dirimu. Jadilah Ibu dari anak-anakku."
Rey mencium punggung tangan Lara penuh cinta, di naikkan masker ke arah hidungnya, sehingga terlihat bibirnya yang seksi dengan senyumnya yang khas, di sesapnya dalam-dalam penuh perasaan lalu kembali menarik maskernya menutupi mulutnya.
Lara terpaku, hatinya menghangat. Percikan-percikan indah dapat di rasakan lewat sentuhan kecil lelaki yang sangat dicintainya itu.
"Aku tidak mempunyai Ayah dan Ibu sejak kecil, besar di Panti Asuhan. Kamu adalah cinta pertama dalam hidupku, dan aku janji akan menjadikanmu wanita terakhir dalam hidupku. Aku sampai mengambil keputusan ini karena aku yakin, pilihanku tidak salah, dan aku harap kamu pun tidak ragu padaku. Aku akan selalu setia." Lara menelisik kedua mata Rey, mencari kesungguhan di sana.
"I love you verry much ...." bisik Lara penuh cinta, hatinya berbunga-bunga.
Tak ada kata yang dapat mewakili perasaan bahagianya saat ini. Dan bisikan itu tetap masih terdengar di seluruh ruangan.
Sontak ruangan itu terdengar riuh kembali. Lara seperti dikembalikan ke dunia nyata, rona di wajahnya yang semula sudah menghilang muncul kembali.
Rey menatap intens pada mata indah itu, membawa genggaman itu di dadanya, lalu meraih mic yang sedari tadi tergeletak di atas meja.
Banyak pasang mata yang memandang ke arah mereka, terdengar bisik-bisik mereka seperti suara tawon.
Mata yang bagaikan elang itu memindai seisi ruangan, sambil memperbaiki letak masker untuk menutupi wajahnya, hari ini dia telah nekat untuk muncul di depan umum dengan seragam dinasnya, yang biasanya hanya di pakai di lingkungan markas. Hal itu karena tidak ingin melanggar janjinya lagi, entah sudah berapa kali Rey mengecewakan Lara dengan ketidak hadirannya.
"Aku juga sangat mencintaimu tapi satu hal yang harus kamu tau, dan perlu kamu pahami. Kamu hanya bisa menjadi yang kedua di hati ini." ujar Rey sambil menepuk-nepuk dadanya dengan genggaman tangan Lara, pelan.
Deg !
Suasana yang tadi mulai riuh tiba-tiba hening, berbagai macam pikiran berkecamuk dipikiran orang-orang yang ada di situ.
Mereka merasa tertohok mendengar pernyataan Rey. Kata-kata yang ditujukan untuk Lara tapi serasa mereka yang terluka. Geng cewe yang di sebelah meja serempak berdiri, seperti tak rela jika Lara dikecewakan. Tak rela jika lelaki pujaan mereka bukan tipe yang tak setia.
Apalagi Lara.
Bagaikan dihempaskan ke dasar jurang. Apa maksudnya sangat mencintai tapi hanya menjadi yang kedua? Apa maksudnya cinta pertama tapi menjadi yang kedua, Apa maksudnya menjadi wanita terakhir tapi hanya yang kedua? Apa Rey sengaja ingin mempermalukan Aku di depan orang banyak? Berbagai macam pertanyaan bergejolak di benak Lara.
"A-apa maksudmu?" lara menatap nanar ke arah Rey. Udara di sekitarnya tiba-tiba terasa panas, menjalar sampai ke kulit wajahnya yang mendadak terasa kaku.
Lara menyeruput
ice lychee tea menandasnya sampai habis demi membasahi jalur di lehernya yang tiba-tiba terasa kering.
Rey tersenyum penuh arti, melihat perubahan di wajah Lara.
"Aku seorang prajurit ... otomatis ... kesetiaanku yang paling utama untuk NKRI," ujar Rey sambil terkekeh. Lara memberengut sambil mencubit lengan Rey.
Suasana restoran tiba-tiba riuh kembali.
"Oohhh ... my soldier jadikan aku yang ketiga aku rela," celetuk salah satu cewek bertubuh gempal dari ke empat cewek yang duduk di meja sebrang, suaranya dibuat-buat seimut mungkin, sambil tangannya memegang kedua pipinya. Suara ngakak pecah di antara mereka.
"Eh ... ngehalu aja lo, nyadar dong, jadiin yang ke seribu juga babang soldiernya yang nggak rela." tukas seorang temannya sambil menower jidat gadis gempal itu.
"Body lu aja seperti kasur lipat gitu." sambungnya lagi.
"Ehh ... Jangan salah, kasur lipat gini kalau dibawa ke hutan lebih praktis buat di tidurin."
"Ngapain juga ke hutan?"
"Lah ... kan babang soldiernya kalau tugas kebanyakan ke hutan."
"Emang sih lebih praktis kalau dibawa ke hutan."
"Naaahhhh itu Lo tau."
"Buat ditidurin gorila." Lanjut si cepak, sontak teman-temannya ngakak berjamaah.
Lara dan Rey senyam-senyum melihat tingkah geng cewek yang absur.
"Memangnya apa yang kamu pikirkan saat aku bilang kamu yang kedua?" goda Rey sambil merapikan anakan rambut Lara yang menutupi wajah imut itu.
"Menyebalkan, bikin sport jantung, tau nggak!" Lara mencubit lengan Rey lagi. Yang dicubit pura-pura meringis kesakitan.
"Lho bukannya memang benar, apa yang aku katakan?" Tarikan di sudut matanya menandakan jika lelaki itu sedang tersenyum di balik maskernya.
"Kamu pasti sudah tau konsekuensinya menjadi istri seorang prajurit, menjadi yang kedua setelah ibu Pertiwi, siap di tinggal sewaktu-waktu," ujar Rey serius.
"Kepada Ibu Pertiwi aja aku setia, apalagi kepada seorang Lara Angeswari," lanjut lelaki yang bergaris wajah tegas nan kharisma itu.
"Setelah kita menikah aku tidak bisa seperti suami kebanyakan yang bisa hadir selalu di rumah, tidak bisa selalu menemani malam-malammu, tapi di mana pun aku melangkah, aku akan tetap setia. Aku harap kamu juga akan selalu setia, bisa menjaga dirimu, bisa juga menjaga nama yang kamu sandang sebagai ibu Persit nanti," Rey berkata dengan serius.
"So sweet ... aku pasti akan selalu setia." Lara tanpa malu meraih lengan Rey lalu memeluknya. Lelaki yang dulu, awal ketemu sempat membuat Lara takut, tetapi terpesona dalam diamnya.
Wajah yang tidak pernah senyum, dengan tatapan mengintimidasi, bicara juga seperlunya saja tapi begitu mengenal lebih dalam membuat Lara jatuh cinta setengah mati dengan pribadi Rey. Selain penyayang, Rey sangat pengertian dan romantis.
Tiba-tiba terdengar bunyi ponsel. Rey mengeluarkan benda pipi itu dari sakunya, melihat layarnya sejenak lalu dengan segera meletakkan benda pipih itu di telinganya.
"Siap! Saya akan segera kembali," kata Rey sambil menatap perubahan di wajah Lara. Lagi-lagi ia mengecewakan Lara, harus pergi saat mereka belum puas melepas rindu.
"Sayang, aku harus segera balik ke markas," ujar Rey lalu meletakkan sejumlah uang di atas meja untuk membayar pesanan mereka. Mengecup puncak kepala Lara. Hendak berlalu, tak ingin menatap wajah imut itu berlama-lama, hati tak rela untuk meninggalkan Lara lagi. Lara dengan segera memegang tangan Rey.
"Kamu harus kembali sekarang?" Lara menatap kedua manik mata Rey, berharap Rey bisa bertahan sejenak. Ada rasa yang tak rela jika Rey harus pergi, rasanya baru sebentar mereka bersama.
Rey mengusap tangan itu lembut, mengelus pipi mulus itu sambil menggangukkan kepalanya. Menatap dalam pada manik itu, tatapan tak rela ada kerinduan yang tak pernah tertuntaskan, tapi demi tugas negara harus dilakukan. Lara mengangguk pasrah, menatap punggung itu sampai hilang di balik pintu restoran.
Sudah menjadi hal yang biasa bagi Lara selama menjalin hubungan dengan Rey selama tiga tahun. Rey selalu tiba-tiba harus pergi lagi, begitu ada panggilan mendadak. Ada yang terasa hilang saat Lara merasa belum puas menikmati kebersamaan mereka.
Rey tergabung dalam group 3, sandy Yudha yang merupakan pasukan elite di jajaran TNI AD. Personil intelijen yang kerap menjalankan misi-misi khusus dan rahasia. Sering diterjunkan untuk melakukan tugas operasi intelijen tempur, yang turun terlebih dulu untuk memantau dan mengetahui kondisi dan situasi lapangan sebelum pasukan besar melakukan operasi militer.
***
Lara berlari kecil memasuki bank di mana dia bekerja, sudah telat sepuluh menit dari jam makan siangnya, Ia mengangguk ramah membalas sapaan satpam yang dilewati di depan pintu masuk.
Di dalam ruang credit department ternyata sudah ada Alex yang sama-sama bertugas di bagian analisis kredit.
"Thank's ya Lex," ujar Lara sambil mengambil alih surat-surat pengajuan kredit.
"Susah kalau orang sedang jatuh cinta, sampai lupa waktu."
"Eh, ibu Santi belum datang ya?" tukas Lara mengalihkan pembicaraan.
"Kelamaan nunggu Ibu Persit! Jadi sudah pulang. Katanya nanti besok kembali lagi. Soalnya ada keperluan mendadak, tuh formulirnya udah ditanda tangan." Mata teduh milik Lara membesar menatap Alex dengan tatapan penuh ancaman. Memanggilnya dengan ibu Persit.
"What ?! Ada yang salah dengan kata-kataku?" Alex mengangkat bahunya dengan kedua tangan menengadah berlagak bloon.
Alex, lelaki 27 tahun itu merupakan rekan kerja Lara juga sahabat dari Rey. Bahkan lebih dari itu mereka adalah team, yang tanpa sepengetahuan Lara, dan orang-orang di lingkungannya.
Mereka hanya tahu jika Alex dulu memang seorang anggota Kopassus tapi sudah dipecat karena suatu kasus, di mana kasus itu hanya merupakan rekayasa dari komando tertinggi agar penyamaran Alex meyakinkan. Alex sebenarnya juga salah satu Anggota Kopassus bagian intelijen, yang sedang menjalankan misinya dengan menyamar sebagai pegawai bank untuk melakukan penyelidikan kasus pencucian uang dan perdagangan senjata.
Dengan perawakan yang juga tinggi tegap yang tak kalah gantengnya dari Rey. Sejak dulu telah jatuh cinta dengan Lara, malah pernah mengungkapkan perasaannya, tapi ditolak. Rasa cinta pada Lara tidak pernah bisa hilang, walau telah mencoba menghilangkan perasaan itu, dengan melabuhkan cintanya pada gadis lain.
Diliriknya gadis cantik yang sedang serius menekuni lembaran kertas di depannya.
Alex menghempaskan tubuhnya di depan Lara.
"Nih !" Alex menyodorkan handphonenya.
"Apa? aku lagi sibuk!"
"Acara lamaran kalian tadi tranding topik."
"What?!' Lara terkejut, lalu cepat-cepat digesernya layar ponsel Alex. Lara, mengamati dengan seksama, Vidio dan fotonya bersama Rey ada di media sosial, namun yang terlihat hanya punggung Rey saja.
Hal itu yang Lara takutkan, dia sudah tahu bagaimana tugas Rey, takut wajah kekasihnya menjadi familiar di mata orang. Namun yang dikuatirkan tidak mungkin terjadi karena wajah Rey tidak nampak jelas. Pemilik akun tersebut ternyata salah satu dari Genk cewek yang bertubuh gempal tadi, dalam waktu singkat sudah dua ribu komentar yang menyematkan tagar lamaran.
"Huuff, dunia sekarang gerak dikit aja, semua orang pada tau." Lara kembalikan benda hitam itu tanpa ingin tau lebih lanjut.
"Yaah ... Kalau mau yang privasi jangan di tempat umum lah," tukas Alex anteng.
"Sudah siap nih jadi ibu Persit ?" Yang ditanya cuek saja sambil menekuni tumpukan kertas di depannya.
"Padahal aku masih cinta loh sama kamu, entah sampai kapan rasa ini akan hilang, aku masih berharap kamu trima aku."
Hhaah !
Lara melongoh.
Lara menatap Alex tak percaya.
"Ngomong apa barusan?!"
"Maksudku, siapa tau kamu mau trima aku jadi selinganmu, secarakan Rey waktunya hampir tidak ada buat kamu. Anggaplah sebagai pengisi waktu kosongmu," kata Alex dengan mimik lucu, menahan tawa.
"Kamu tu ya ... nggak ngotak tau nggak ... teman sendiri mau kamu tikung!"
"Ha-ha-ha ... Canda juga kali, serius banget. Dari tadi aku ngajak ngomong nggak nganggap pas ngomong gitu langsung kamu tanggapi." Alex terbahak-bahak memandang wajah Lara yang cemberut.
"Jadi kapan nih wak- "
"Emangnya kerjaan kamu udah selesai? Ngoceh aja dari tadi," potong Lara jengah yang merasa kerjaannya tidak bisa cepat selesai karena terganggu.
Padahal rencananya Lara ingin meyelesaikan semua tugasnya, biar bisa fokus untuk mengurus rencana pernikahannya nanti. Alex selalu usil, biasanya di tanggapi tapi kali ini Lara ingin kerjaannya cepat selesai.
Pria itu balik badan menuju mejanya menghadapi tumpukan kertas. Otaknya serasa tidak mau diajak kerja sama saat ini. Ada rasa yang mengganggu saat melihat Rey melamar Lara di restoran tadi.
Ada perasaan tak rela kerena Lara akan menjadi milik orang lain, cintanya untuk Lara tidak pernah hilang namun juga ada perasaan bersalah karena masih mencintai pacar sahabatnya sendiri.
'Kamu akan selalu memiliki tempat yang istimewah di hati ini, walaupun aku tidak bisa memilikimu. Akan aku pastikan kamu akan selalu berbahagia bersama Rey,' batin Alex sambil memandang wajah wanita pujaannya yang sedang serius dengan lembaran-lembaran kertas dihadapannya.
***
Lara melihat gawaynya berkali-kali namun masih sama, centang satu. Jam sudah menunjukan pukul 11 malam tapi ponsel Rey belum aktif juga.
"Selalu seperti ini," gerutu Lara.
"Lagi dan lagi!"
"Ya Tuhan apakah aku sanggup mendampingi seorang prajurit? rasa-rasanya aku tak sanggup, tapi aku begitu mencintainya, Tuhan," Lara bermonolog.
"Aku ingin habiskan tiap saat dengan dia, tidak seperti ini! Apakah aku sanggup menjalani hidupku dengan orang yang tidak akan selalu ada di sampingku." mata sendu itu memancarkan keraguan.
Lara mengusap wajahnya mencoba menghalau rasa yang berkecamuk di dada. Setelah siang tadi hatinya dibuat melambung tinggi dengan janji dan kata-kata romantis dari Rey, sekarang perasaannya seperti menggantung, dengan kehadiran Rey yang selalu tidak dapat diprediksi.
Dia mulai goyah untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih serius, ketakutan terbesarnya adalah keselamatan Reyperasaan was-was itu selalu merengut rasa nyaman di hatinya. Namun rasa cinta yang begitu besar selalu mengalahkan perang batin dalam dirinya untuk tetap bertahan dengan lelaki yang memiliki keterbatasan waktu bagi dirinya.
Lara memeluk guling sambil menatap foto Rey yang terpajang di meja riasnya, sosok lelaki tampan dengan seragam lorengnya dilengkapi baret merah. Rasa rindu itu kian menyiksanya, setelah dilamar dadakan siang tadi, malam ini sudah tidak ada kabar lagi.
Padahal Lara ingin bermanja-manja meluapkan rasa bahagianya bersama Rey. Sambil merancang persiapan untuk pernikahan mereka nanti. Lara mengerti akan profesi Rey yang seorang prajurit, tapi ada sisi lain dalam dirinya yang menginginkan seorang kekasih seperti pasangan lainnya yang selalu menghabiskan waktu bersama.
Gadis itu menginginkan keluarga kecil yang bahagia, suami yang selalu ada disampingnya. Bersama-sama menghabiskan waktu membesarkan buah hati mereka. Impiannya itu tidak bisa tergapai bersama Rey.
Kini ada rasa yang membuatnya ragu untuk menikah dengan Rey. Ada kebimbangan di hatinya untuk memutuskan hal yang akan membuat perubahan besar dalam hidupnya.
Lara bangkit berdiri menuju meja rias, meraih foto Rey, memandangnya lekat-lekat. Air matanya jatuh mengenai wajah Rey di atas bingkai foto itu. Diusapnya bulir-bulir bening itu. Perasaannya seperti terkoyak, ada rasa tak rela untuk kehilangan lelaki yang begitu dicintainya.
Lara membuka laci lalu memasukan bingkai foto itu. Tak lagi memajangnya.
" Aku harus mengakhiri semua ini, sayang."
Sementara itu di apartemennya, Rey baru saja membaringkan tubuhnya di sofa., setelah mengeringkan tubuhnya dengan handuk. Tubuhnya terekspos hanya boxer hitam yang menutupi bagian bawahnya.
Dia tadi dari bandara menjemput Ambar, Ibu Panti yang sudah dianggap sebagai ibunya sendiri beserta Nindy dan beberapa anak panti untuk mewakili sebagai keluarganya. Mereka datang atas permintaan Rey untuk acara lamaran. Saat ini tinggal di apartemen milik Rey yang lainnya. Apartemen yang sekarang merupakan tempat prifasinya yang tidak ada seorangpun datang kecuali team inteligennya. Sering juga di jadikan markas jika ada pertemuan mendadak.
Rey bangkit berdiri kembali, kakinya melangkah menuju sebuah lukisan besar yang tergantung di dinding, yang ternyata dibaliknya ada sebuah brangkas kecil yang menempel di dalam tembok.
Tangannya memutar kode pada brangkas itu tak lama pintu kecil itu terbuka. Matanya tertuju pada dua amplop coklat di antara beberapa pucuk pistol yang tergeletak di atasnya. Tangannya terarah mengambil dua amplop itu, lalu berjalan menuju sofa kembali. Menghamburkan seluruh isinya di atas meja kaca di depannya.
Matanya tertuju pada beberapa kartu kecil yang merupakan identitas barunya, melihatnya sejenak lalu fokus dengan beberapa lembaran kertas putih. Mengisinya kembali ke dalam amplopnya.
Lalu membuka amplop berikutnya.
"Devin ...CEO ... hhmm ... menarik," gumam Rey sambil mengamati nama yang tertera pada kartu kecil itu. Penyamarannya kali ini menjadi seorang CEO dari perusahaan yang memproduksi alat berat.
Pandangannya beralih pada lembaran-lembaran putih yang berisi informasi tentang tugas yang akan di laksanakan, kemudian mata elang itu fokus mengamati beberapa foto targetnya, hingga tatapannya beralih pada salah satu foto seorang wanita cantik dengan gayanya yang glamour. Rey menghempaskan napasnya, baginya lebih mudah menjalankan misi yang berurusan dengan mafia atau terosis daripada berurusan dengan wanita apalagi sampai harus menggunakan pesonanya untuk menjerat targetnya.
Bayangan Lara tiba-tiba melintas di benaknya, ada rindu yang menyelinap untuk gadis itu. Ia kembali merapikan isi amplop dan menaruhnya ke tempat semula. Lalu meraih benda pipih di atas nakas samping ranjangnya. Namun layarnya gelap kehabisan batrei, di tatap arloji yang melingkar di tangannya, sudah menunjukan pukul satu malam.
"Aku merindukanmu sayang," bisik Rey sambil membaringkan tubuhnya di ranjang.
***
[Pagi sayang, lagi ngapain maaf pesanmu baru terbaca.] Rey mengirimkan pesan begitu terbangun. Namun tak ada balasan dari sebrang.
[Kok di baca aja? Lagi sibuk ya?]
[Malam aku ke rumah.]
Dibaca lagi tanpa dibalas. Rey menarik napas, di hempaskannya dengan kasar tak biasanya Lara mengacuhkan pesannya, 'apakah dia lagi sibuk?' batin Rey.
Dengan gayanya yang parlente, Rey menuju apartemen yang di tinggali Ambar dan Nindy, membawa kebutuhan yang diperlukan sekalian membahas rencana pinangan nanti. Selepas dari sana Rey kemudian menuju markas.
Langit telah memerah ketika Rey kembali ke apartemennya. Meletakan barang bawaan yang merupakan keperluan misinya nanti. Memeriksa ponselnya kembali, namun hasilnya masih sama.
"Ada apa denganmu sayang," gumam Rey.
Rey mematut dirinya di cermin, aroma tubuhnya memancarkan aroma maskulin, setelah di semprot pewangi kenamaan, sehabis mandi.
Pria berwajah karismatik itu memacu kuda besinya, menuju rumah Lara, dengan berbagai tanya yang berkecamuk di kepalanya. Tidak seperti biasanya Lara mengacuhkan pesannya.
Pria berwajah tegas itu turun dari motornya. Hendak memencet bel tapi pintu itu tiba-tiba terbuka. Gadis cantik dengan baju rumahan muncul di depan Rey, terkesan natural dan sangat menarik. Senyum terukir di bibir lelaki itu, keningnya mengeryit saat pelukan hangatnya ditolak, lagi-lagi tidak seperti biasanya. Tanpa mempedulikan penolakannya, Rey menarik tubuh seksi itu semakin erat dalam pelukannya.
"Aku sangat merindukanmu." bisik Rey sambil mendusal hidungnya di rambut gadis itu. Lara terdiam menahan gemuruh di dadanya tiap kali berdekatan dengan Rey.
Hening.
"Hhmm ... maaf kemarin seharian sibuk di markas, terus ngantar Ibu ke apartemen, tidak sempat balas chat kamu, karna ponselku padam. Mami dan Papi ke mana, kok sunyi?" ujar Rey sambil menelisik wajah gadis di depannya, wajah imut yang selalu terbayang.
Lara tiba-tiba meraih tangan Rey lalu meletakkan sesuatu di sana. Mata lelaki itu melebar, ditatapnya benda bulat bertahta berlian di telapak tangannya, lalu kembali menatap sepasang netra bening di depannya.
Senyum khas yang semula terukir di bibir lelaki itu, menjadi kaku, perlahan menghilang.
"Apa maksudmu?!" Suara Rey tegas, tatapannya menghujam manik di depannya. Tujuannya datang ke sini untuk menyampaikan maksud kedatangan keluarganya nanti hendak meminang Lara pada orang tuanya namun gadis itu malah menyambut sebaliknya.
"Maaf ... aku sudah memutuskan sebaiknya kita akhiri hubungan kita."
Rey ternganga.