Bab 2

Aku seketika menoleh ke belakang, saat mendengar suara yang tidak asing lagi memanggil. Melihat melihat Naina berdiri di samping mobil.

Naina adalah anak—Pak Haji Agus. Pemilik tempat penampungan barang bekas. Pak Haji Agus adalah orang terkaya di kampung ini. Usahanya telah dikenal oleh masyarakat desa sekitar. Dahulu, dia juga merintis usaha rongsokan dari nol. Lama kelamaan menjadi maju, hingga bisa mengantarkan semua anak-anaknya sampai sekolah sarjana.

"Naina?!"

"Kamu mau apa malam-malam begini ke sini, Danu? Dan anakmu kelihatannya sudah kedinginan." Naina menatap heran. Mungkin sedang berpikir kenapa ada laki-laki gembel sepertiku masih berkeliaran malam-malam. Sedangkan takbiran sudah tiba. Semua orang merayakan dengan keluarga, tetapi aku malah di jalanan seperti gembel.

"Aku ingin menjual botol bekas hasil pencarian hari ini. Tapi kata Mang Damin sudah tutup. Jadi, botol bekasnya mau dibawa pulang lagi, Neng."

"Memang Mang Damin ke mana? Kok gudangnya ditutup?"

"Aku gak tahu, Neng. Dia cuma bilang mau merayakan takbiran keliling. Aku cuma disuruh balik saja. Kalau mau jual barang rongsokan datang satu Minggu lagi setelah selesai lebaran idul fitri. Kata Mang Damin tadi begitu.

"Astagfirullah, Mang Damin. Kunaon atuh. Abah meminta untuk membagi-bagikan sembako kepada para pengepul. Kenapa malah pergi, ya?"

Naina terlihat kesal. Jujur, aku tidak mengerti apa yang dia maksud. Naina hanya menggelengkan kepala saja. Kemudian, dia masuk membuka pintu gudang itu dengan menggunakan kunci cadangan.

"Danu, kalau kamu mau jual barang bekas ayo masuk. Aku akan menimbangnya dan membayar upahmu."

"Beneran masih bisa di buka, Neng Naina?"

"Benar, Danu. Sok atuh masuk! Anak kamu juga sudah kedinginan itu. Kasihan kalau dibiarkan di luar saja."

"Iya, Neng. Makasih sudah mau bantu aku."

"Sama-sama."

Naina menimbang karung yang kubawa berisi botol bekas dan juga kardus. Gadis di depanku sungguh rupawan. Selain cantik, dia juga baik hati. Lembut dan berbicara sopan. Beruntung pria yang mendapatkan dirinya. Wanita kaya dan juga soleha. AH, aku mulai berkhayal. Jangan sampai berandai-andai. Bisa kecewa bila tidak mendapatkan apa yang diinginkan. Benar bukan?

"Ini uangnya, Kang Danu," ucap Naina menyodorkan uang lembaran merah.

Aku masih memperhatikan wajahnya nan ayu. Senyumnya membuat hati berdetak dengan kencang. Andai ….

Tuh, kan aku mulai lagi berkhayal.

"Kang Danu, kenapa melamun atuh? Ini saya sudah kasih uang dari tadi kenapa tidak terima?"

"Eh, maaf atuh, Neng. Ini kebanyakan dari harga barang rongsokan yang saya jual. Biasanya, gak segitu."

"Ndak apa-apa, Kang Danu. Anggap saja ini bonus untuk Rafa."

"Tak usah, Neng. Merepotkan saja. Harga barang rongsokan itu hanya lima puluh ribu. Tapi Neng Naina memberikan dua ratus ribu. Itu kebanyakan Neng."

"Kan tadi saya sudah bilang kalau ini bonus untuk Rafa. Terima, ya, Kang?"

Naina memaksa untuk menerima uang pemberiannya. Jujur, aku malu bila harus menerima uang dari seorang wanita. Selama ini, Naina sudah banyak membantu. Dari mulai membelikan obat untuk ibu ataupun membelikan barang kebutuhan untuk Rafa. Entah bagaimana aku akan membalasnya.

Naina gadis manis yang baik hati. Siapa pun pria yang melihat kepribadiannya pasti akan jatuh cinta. Selain cantik dia juga anak orang terkaya di kampung ini. Siapa yang tidak kenal dengan Juragan Agus. Pria yang sukses menjadi pengusaha. Walau usaha yang dijalankan hanya menampung barang-barang bekas.

"Terima kasih, Neng Naina. Semoga Allah membalas kebaikanmu."

"Aamiin. Sama-sama Kang Danu."

"Maaf, Neng. Saya mau pamit pulang. Rafa ingin istirahat."

"Eh, tunggu Kang Danu!" Sergah Naina.

"Ada apa, Neng?"

"Ini ada oleh-oleh untuk Emak. Mudah-mudahan Emak suka, ya?"

Naina menyodorkan parcel berisi kue lebaran dan juga makanan lainnya. Ada juga minuman dalam botol yang biasa disuguhkan di hari lebaran.

"Apa ini, Neng?"

"Ini hadiah dari saya buat Emak, Kang. Ada beras, gula, minyak dan juga kue lebaran. Semua pemulung juga mendapatkannya tadi. Sudah dibagi sama Mang Damin."

"Subhanallah. Makasih, Neng. Semoga keluarga selalu diberi kesehatan dan rezeki yang berlimpah."

"Aamiin. Makasih atas doanya, Kang."

"Aku pamit, Neng."

"Gimana Akang pulang sambil menggendong Rafa dan bawa sembako ini?"

"Aku bisa gendong Rafa dan bawa sembako ini pulang, Neng. Gak usah khawatir. Aku orang kuat."

"Mari aku antar pulang aja, Kang. Kasihan rumah Akang jauh dari sini. Bawa Rafa dalam gendongan dan sembako pasti itu sangat melelahkan."

"Ndak usah, Neng. Aku malu kalau ngerepotin terus."

"Ndak apa-apa atuh, Kang. Manusia tolong menolong itu sudah kewajiban."

Aku bergeming. Masih terus menolak kebaikan Naina, untuk mengantarkan pulang. Tidak mungkin terus merepotkan dengan meminta bantuan. Dia sudah baik memberi uang dan sembako. Mana mungkin aku terus menerima bantuannya lagi.

Namun, dia terus memaksa hingga aku tidak bisa menolak dengan berbagai alasan. Kemudian, aku dan Rafa yang sudah basah kuyup langsung naik ke dalam mobil mewahnya.

"Duduk di samping sini atuh, Kang. Kenapa di belakang. Nanti saya dikira sopir lagi."

"Eh, iya, Neng. Tapi maaf bajuku basah. Nanti takut Neng Naina gak merasa nyaman karena duduk berdekatan denganku."

"Gak apa-apa, Kang."

Dengan malu-malu aku langsung duduk di depan. Naina menyetir dengan pelan meninggalkan gudang penampungan barang bekas. Mobil sedan berwarna merah langsung melesat menyusuri jalan. Jarak dari rumahku ke tempat penampungan sekitar lima kilometer. Bila ditempuh berjalan kaki tentu akan sangat melelahkan. Ditambah menggendong Rafa sepanjang jalan. Rasanya punggung ini hampir patah menanggung beban.

Setiap hari, aku bekerja dengan membawa Rafa. Bukan hal yang baik membawa anak balita semiran dia untuk diajak bekerja. Namun, dengan siapa dia harus kutinggalkan bila tidak ikut. Ibu tak mungkin bisa menjaganya.

Sejak Rafa ditinggal Sakira pergi, aku selalu membawanya. Ke mana pun Rafa pasti ikut walau sedang bekerja. Meski mandor tempatku melarang untuk membawa anak kecil, tetapi tidak peduli.

Bagiku, Rafa adalah segala-galanya. Dia tumbuh di lingkungan yang kurang sehat. Menjadikan pertumbuhannya kurang kuat. Tubuh kurus seperti kurang gizi. Jangankan untuk membelikan susu, untuk memberikan makanan bergizi pun aku tak sanggup.

"Danu! Anak kamu nangis tuh di ayunan!" Teriak bang mandor.

Segera aku berlari menghampiri Rafa yang masih berumur empat bulan. Kuberikan air gula yang sudah dipersiapkan dari rumah. Rafa tidak lagi menyusu pada ibunya. Sakira tanpa perasaan telah meninggalkan Rafa yang malang. Seharusnya, dia masih mendapatkan ASi dari ibunya. Namun Sakira tak mau menyusui. Dia malah memilih pergi dengan mantan kekasihnya orang kaya.

"Cup! Anak—Ayah, kamu jangan nangis, ya?" kutimang Rafa dengan lembut sembari menyanyikan lagu Nina bobo. Tak lama kemudian, dia tertidur kembali.

Seolah mengerti keadaan ayahnya yang susah. Bayiku kembali tertidur dengan nyenyak setelah puas minum air gula. Tidak memungkinkan aku untuk menggendongnya. Bila Rafa bangun dan tak ingin tidur lagi, terpaksa dia kuletakkan di atas punggung. Kubawa sambil bekerja di bawah teriknya matahari. Kadang, kala hujan turun pun dia tetap harus menamani ayahnya bekerja.

Jujur, aku tidak sanggup bila harus membayar sewa pengasuh. Gajiku sebagai buruh hanya pas untuk makan. Itu pun masih kurang bila harus membeli obat untuk ibu. Jika sudah begini, terpaksa kami harus menahan lapar. Pun dengan Rafa hanya puas minum air gula. Uang yang digunakan untuk membeli beras harus rela dipergunakan untuk membeli obat ibu.

"Ayah, kita jadi gak beli baju?" tanya Rafa tiba-tiba mengagetkan lamunanku.

"Em … ini sudah malam, Nak. Tokonya mungkin sudah tutup. Besok saja gimana?"

"Tapi besok lebaran, Yah. Rafa gak punya baju baru kayak teman-teman yang lain."

Aku terdiam. Ya Tuhan! Ayah seperti apa aku ini yang tidak bisa mengabulkan permintaan anaknya. Rafa tak pernah meminta baju yang mewah. Asal ada untuk dipakai di hari lebaran itu pun jadi. Namun, untuk mengabulkannya aku belum bisa. Sakitnya tuh di sini.

"Sabar ya, Nak. Nanti kalau ada toko yang buka kita pasti beli," ujarku menghiburnya. Barangkali Rafa mau mengerti. Jika tidak ada baju lebaran esok hari.

"Iya, Yah."

Mobil kembali meluncur. Semakin jauh meninggalkan tempat penampungan barang bekas. Naina terlihat tersenyum memperhatikan Rafa. Entah apa yang ada di dalam benak perempuan cantik itu. Sejak dari tadi mencuri pandang memperhatikan Rafa.

***

Bersambung.

Bab 3

Mobil berhenti tepat di sebuah toko pakaian. Naina memintaku untuk turun. Masih ada toko penjual baju yang masih buka pada malam takbiran. Padahal, waktu saat itu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Namun, keramain seakan tidak membuat para pengeruk rezeki ingin tidur.

Mereka tetap menjajakan baju hingga malam. Beruntung masih ada toko baju yang buka, hingga aku bisa membelikan ibu baju baru. Ya, impian yang selama ini telah tertunda. Melihat ibu memakai gamis baru terlihat cantik.

Bertahun-tahun memimpikan ibu memakai baju baru di hari raya idul fitri. Kemudian, kami akan datang bersilaturahmi ke rumah tetangga. Seperti tradisi yang sudah dijalankan selama ini. Saling maaf, memaafkan di hari idul fitri. Di mana manusia akan kembali suci. Bagai bayi yang baru lahir, lalu dihapuskan dosa-dosanya.

"Kang Danu, ayo turun! Kita belikan baju buat Emak," ucap Naina tersenyum lebar.

"Naina, ini toko baju yang sangat besar. Pasti harganya sangat mahal. Maaf, aku takut duitnya gak cukup buat beli baju Ibu," ujarku berkata jujur.

Baju satu set gamis biasanya akan mencapai harga dua ratus ribu. Sedangkan uang yang kupegang hanya tiga ratus ribu. Tadi bang mandor hanya membNainan uang tip saja. Katanya, gajiku sudah habis untuk dipotong hutang.

Memang selama ini, aku harus gali lubang tutup lubang untuk menutupi kebutuhan. Jika bang mandor membNainan uang tip itu pun sebagai hadiah THR untuk karyawan. Ia juga memberikan dua minuman botol soda. Setiap tahun, perusahaan tempatku bekerja tidak pernah memberikan bonus besar kepada para karyawannya. Meski kami telah bekerja keras. Ya, begitulah masih para pegawai buruh kasar. Kerja keras, tetapi hanya dibayar ala kadarnya saja.

Beruntung bang mandor tempatku bekerja sangat baik. Dia mengizinkan Rafa untuk ikut bekerja. Para pekerja lain tidak diperbolehkan. Hanya aku yang diperlakukan khusus. Walau begitu, teman-teman buruh lainnya tak pernah mengejek ataupun merendahkan. Mereka malah memberi semangat dan dukungan. Bahkan, ada yang ikut menjaga Rafa bila kami harus bergantian bekerja.

"Gak apa-apa, Kang. Biar Eneng saja yang traktir. Uangnya disimpan saja buat beli kebutuhan lainnya. Kebetulan Neng tadi dapat rezeki dari kantor. Wajar, kalau Neng juga ikut berbagi rezeki dengan keluarga Akang."

"Duh, aku jadi gak enak, Neng. Terus merepotkanmu. Aku jadi malu," ucapku menunduk. Tidak berani menatap wajah wanita cantik yang berdiri di hadapanku.

"Insya Allah, Eneng ikhlas. Akang gak perlu balas budi. Anggap saja ini kebaikkan karena Kang Danu sudah berbuat baik dengan menjaga Rafa."

"Masya Allah, mulia banget hati kamu, Neng Naina. Aku malu sama kamu."

Naina hanya tersenyum membalas kalimatku. Dia menggandeng tangan Rafa dan membawanya masuk ke dalam. Kami bak pasangan keluarga yang kecil yang bahagia. Naina cantik mempunyai kulit yang halus dan putih. Sedangkan aku … hanya seorang duda punya anak satu.

Kehidupanku pun tak pernah beruntung. Ditinggal istri karena aku miskin. Jujur, saat itu hatiku sakit karena melihat Hanum memilih pria lain yang lebih kaya raya. Dia pergi meninggalkanku dan juga Rafa yang masih membutuhkan kasih sayangnya.

"Kang Danu, ini gamisnya cocok buat Emak. Bentuknya juga simpel dan mempunyai warna coklat tua. Pas buat orang tua kalau menurutku," ucap Naina sembari menunjukkan gamis bermotif batik. Warna coklat tua serasi untuk seumuran ibu.

"Tapi harganya sangat mahal, Neng. Aku gak sanggup untuk membelinya."

Naina tersenyum, lalu berkata, "Kan saya sudah bilang. Saya yang akan membayar gamisnya, Kang."

"Tapi ini mahal, Neng. Aku gak sanggup untuk bayarnya nanti. Neng Naina sudah banyak membantu. Saya gak enak hutang terus sama Neng Naina."

"Saya gak minta balikin kok, Kang. Niat saya tulus ngasih ini ke Emak. Pasti Emak terlihat cantik bila memakai gamis batik ini," kata Naina tersenyum.

Kemudian, dia meminta pada pelayan toko untuk mengemasnya dalam kantong plastik.

"Ayah, Rafa boleh, ya beli baju Koko? Besok Rafa juga pengen ikut salat idul fitri bareng Ayah," Rafa berkata sambil menunjuk baju Koko warna putih.

"Iya, boleh, Nak. Ayah akan membelikan baju untuk Rafa."

"Hore!" Rafa akhirnya punya baju baru. Asyik! Makasih, ya, Yah?" Rafa langsung memelukku. Begitu aku mengiyakan untuk membeli sepasang baju koko.

Memang, sudah bertahun-tahun aku tak pernah membelikan baju untuk Rafa. Pakaian yang dikenakan dia semua diberikan oleh Wiji. Dia memberikan baju bekas kakaknya yang masih layak pakai. Kebetulan usia keponakan—Wiji sebaya dengan Rafa.

"Berapa harga bajunya, Nyonya?" tanyaku pada yang punya toko.

"Ini kualitas Bandung punya. Harganya satu set seratus lima puluh ribu."

Astaga!

Aku sedikit melotot ke arah penjual. Uang di saku celana hanya tiga ratus ribu untuk makan selama satu Minggu. Jika harus membelikan baju Rafa dengan harga segitu, sudah dipastikan akan berkurang.

"Ayah, jadi gak beli bajunya?" tanya Rafa dengan wajah sendu. Raut mukanya sedikit kecewa. Dia takut aku tidak jadi membelikan baju koko itu.

Untuk sesaat aku menarik napas. Memikirkan harga baju yang akan dibeli. Mungkin untuk orang lain harga itu tidak terlalu mahal. Namun untukku harga segitu terlalu tinggi. Ditambah lagi kebutuhan yang lain masih belum terpenuhi.

"Iya, jadi, Nak," jawabku mengeluarkan uang dari saku celana.

Namun dengan cepat Naina menahan. Lagi-lagi dia membayar baju yang hendak dibeli. Sungguh, aku merasa malu. Untuk kesekian kalinya dia membantu. Membuatku tak enak hati untuk menerima kebaikan dari gadis itu.

"Biar Neng aja yang bayar baju Rafa, Kang."

"Tapi, Neng."

"Udah gak usah nolak. Anggap aja sedekah."

"Aku gak enak bila Neng Naina terus membayar semuanya."

"Neng, kan sudah bilang sama Akang. Neng lakukan ini karena ikhlas gak ada maksud lain."

"Aku tahu Neng ikhlas. Tapi aku malu bila Neng terus membantu."

"Manusia memang harus saling bantu, Kang."

Akhirnya, aku harus mengalah pada Naina. Kubiarkan dia membayar semua baju itu dengan uang pribadinya. Termasuk kemeja untuk persiapan lebaran besok.

Gema takbir masih berkumandang sepanjang malam. Mobil melesat meninggalkan toko pakaian menuju pulang. Jarak yang ditempuh untuk menuju ke rumah tidak terlalu jauh. Hanya berdurasi tiga puluh menit.

Saat kami tiba di rumah, aku melihat halaman dipenuhi para warga. Ada bendera merah tertancap di depan gang. Perasaan ketika menjadi tidak enak. Jantung pun berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya.

Beberapa pasang mata memandangku kala melewati barisan para pria yang berkumpul memakai peci. Beberapa wanita di dalamnya sedang membacakan Yasin dan doa. Sepertinya ada orang yang meninggal. Namun siapa? Dalam hati pun bertanya-tanya.

"Ayah, siapa yang meninggal? Kenapa di rumah kita ramai orang baca doa?" tanya Rafa menggenggam tanganku. Jantungku seketika berdetak dengan kencang. Mungkinkah ….

Perasaan bercampur aduk menjadi satu. Semua hening tak bersuara. Tak ada satu pun yang berbicara mengatakan siapa kiranya tubuh yang sudah membeku itu.

"Ayah tidak tahu, Nak."

"Kang Danu, mungkinkah ibumu …." Kalimat Naina menggantung di udara.

Aku membisu. Tiba-tiba langkah kaki menjadi berat seperti ada batu yang menimpa.

"Assalamualaikum," ucapku masuk ke dalam.

"Waalaikumsalam."

Wiji tiba-tiba menghampiriku, dia menatap Naina yang masih memegang lenganku. Membuat perasaanku menjadi semakin tidak enak.

"Mas Danu, Ibu sudah meninggal."

"Apa?"

***

Bersambung.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED