Bab 1

Sabila masuk kelas dengan terburu-buru, semalam dia bergadang menonton televisi sehingga dia telat bangun. Dia kini sudah diambang pintu kelas, bersyukur gurunya hari ini belum datang.

Sabila masuk dan duduk di sebelah sahabatnya. Dia bernama Amara, dia gadis yang pemalu dan jarang bergaul dengan teman yang lain selain Sabila.

Dia menatapkm Sabila aneh, karena Sabila tidak pernah telat masuk sekolah. Sabila tergolong siswi yang rajin dan pandai. Sabila selalu peringkat pertama di kelas. Teman Sabila juga banyak dari mulai kelas satu hingga kakak kelas.

"Tumben kamu telat, semalam ngapain?" tanya Amara.

"Nonton bola sama Papa," jawab Sabila santai sambil Mengeluarkan buku Pelajaran.

"Oh pantesan, tapi sejak kapan suka bola?" tanya Amara tak percaya Sabila menonton bola.

"Papa memaksaku, karena Kak Fahmi tidak di rumah. Mama nggak mau menemani Papa, jadi aku sasaran terakhirnya," jawab Sabila.

Guru sudah masuk ke kelas, seketika kelas menjadi hening. Pelajaran sekolah di mulai, semua antusias menyimak termasuk Sabila dan Amara.

"Ra, nanti sepulang sekolah kamu temani aku," kata Sabila pelan agar guru tidak dengar.

"Kemana lagi? Aku malas kalau menemani kamu cari buku lagi," sahut Amara. Pandangannya masih lurus ke depan agar guru tidak curiga.

"Bertemu pacar ku," jawab Sabila.

"Pacar!" pekik Amara keras. Mungkin dia terkejut karena Sabila diam-diam punya pacar.

Ya, Sabila punya pacar sebulan yang lalu. Sabila dan Jordi bertemu di toko buku. Merema berkenalan lalu bertukar nomor. Merema jadian lewat ponsel, ini adalah kedua kalinya merema bertemu setelah jadian. Yang pertama Sabila menemui sendiri.

"Amara, apa yang kamu katakan?" tanya Bu Fika yang sejak tadi menerangkan pelajaran matematika.

"Oh itu, tidak Bu. Aku hanya salah bicara saja," kilah Amara.

Beruntung Bu Fika tidak memperpanjang masalah ini. Jadi mereka semua melanjutkan pelajaran.

Waktu istirahat, Amara memberondong Sabila dengan banyak pertanyaan masalah pacar Sabila. Dia tidak percaya Sabila punya pacar.

"Aku pacaran diam-diam, makanya kamu nggak tahu, " jawab Sabila.

mereka sedang makan di kantin sekolah, selain bergabung dengan Amara. Sabila juga bergabung dengan teman yang lain.

"Aku dengar kamu punya pacar tadi?" tanya Sofi pada Sabila.

"Iya, baru sebulan. Kami pacaran lewat ponsel," jawab Sabila sambil meminum es sirupnya.

"Hati-hati, nanti kebablasan. Kamu tahu nggak Kakak kelas kita ada yang hamil karena pacaran," kata Sofi.

"Kamu tenang saja, aku pacarannya masih dalam batas wajar kok," sahut Sabila. Sabila memang tidak akan mau jika sampai Jordi meminta lebih.

Mereka segera ke kelas, karena waktu istirahat telah habis.

**

Sepulang sekolah Sabila mengajak Amara bertemu Jordi. Mereka bertemu di taman, yang tidak jauh dari sekolahan. Di sana juga banyak siswa yang nongkrong, ada juga yang berpacaran.

"Jordi, maaf ya kamu nunggu lama," kataku mendekati Jordi yang duduk seorang diri.

Sabila ke taman berjalan kaki, jadi agak lama. Karena jarak taman dan sekolah cukup dekat.

"Tidak apa-apa, aku kira kamu sendiri," kata Jordi tampak kecewa karena Sabila membawa teman.

"Kenalin ini Amara, dia sahabat aku," ucap Sabila pada Jordi. "Dan Amara, ini Jordi pacarku," kata Sabila pada Amara.

Mereka bertiga mengobrol cukup lama, setelah itu Amara mengajak pulang karena dia ada acara. Dengan berat hati Jordi mengizinkan Sabila segera pulang.

**

Amara hanya diam saja sepanjang perjalanan pulang. Kami pulang naik angkutan. Rumah Sabila dan Amara hanya beda RT saja.

Sabila turun duluan, karena rumahnya lebih dekat.

"Ra, sampai jumpa besok!" ucap Sabila sebelum turun dari angkutan.

"Iya," balas Amara.

Sabila berjalan menuju gerbang rumah, terlihat sepeda motor Kak Fahmi ada di rumah. Itu tandanya Kak Fahmi sedang di rumah.

"Assalamualaikum," salam Sabila saat membuka pintu.

"Waalaikumsalam," ucap Kak Fahmi. Dia sedang menonton televisi. "Aku tadi jemput kamu ke sekolah, tapi kamu nggak ada. Katanya sudah pulang sejak tadi. Tapi kenapa baru sampai rumah?" tanya Kak Fahmi.

"Aku ke taman sama Amara, Kak," jawab Sabila tersenyum.

"Kamu pacaran?" selidik Kak Fahmi.

"Kok Kakak tahu?" tanya Sabila.

"Kakak pernah sekolah makanya tahu. Jangan-jangan kamu ketemuan di taman dekat sekolahmu itu," kata Kak Fahmi.

"Iya, maaf ya Kak," ucap Sabila.

Kak Fahmi menasehatinya, Fahmi tidak mau Sabila pacaran dulu. Dia takut Sabila terjerumus ke pergaulan bebas.

"Kak, aku janji. Aku nggak akan kebablasan," ucap Sabila.

"Kalau Papa sama Mama tahu pasti mereka marah," kata Kak Fahmi.

Kak Fahmi tampak kecewa karena Sabila punya pacar. Namun, Sabila tidak menghiaraukannya. Sabila masih berhubungan dengan Jordi.

**

Siang itu batre ponsel Sabila habis, Sabila akan di jemput Jordi. Jadi Sabila pinjam ponsel Amara untuk menghubungi Jordi.

"Amara, Terimakasih ya," kata Sabila mengembalikan ponsel Amara.

Tidak berapa lama Jordi datang, Sabila ikut Jordi sedangkan Amara pulang naik angkutan. Sebelum pulang Sabila dan Jordi mampir beli es dulu di pinggir jalan.

"Amara nggak punya pacar?" tanya Jordi pada Sabila.

"Tidak, dia anak yang pemalu. Dia jarang punya teman lelaki," jawab Sabila.

"Owh begitu, pantesan keliatan pendiam. Beda sama kamu yang cerewet," puji Jordi pada Amara.

Sabila tidak merasa curiga karena Jordi memang seperti itu orangnya. Setelah itu Jordi mengantar Sabila pulang.

"Amara, bolehkah aku meminta sesuatu padamu?" tanya Jordi.

"Minta apa?" tanya Sabila polos sebelum naik ke motor Jordi.

"Aku minta kiss," ucap Jordi malu-malu.

"Maaf, aku nggak bisa," kata Sabila. Sabila urungkan niatnya untuk naik sepeda motor Jordi.

"Ya sudah tidak apa-apa. Ayo naik! Aku antar kamu pulang!" ajak Jordi.

Sabila terpaksa naik, namun ada rasa takut jika sewaktu-waktu Jordi memaksa meminta cium padanya. Sabila belum siap, Sabila takut Kak Fahmi tahu dan marah.

"Sudah sampai, cepat turun!" perintah Jordi agak kasar.

Sabila turun, Jordi langsung pergi tanpa mengucapkan salam ataupun. Sabila tahu dia marah pada Sabila karena Sabila menolak permintaannya.

Sabila masuk ke dalam rumah, Fahmi berada di dekat jendela sambil menyilangkan kedua tangannya di dada.

"Siapa dia? Pacarmu?" tanya Fahmi.

"Iya, Kak," jawab sabila takut.

"Jauhi dia, aku lihat dia playboy," kata Kak Fahmi.

"Kak Fahmi belum kenal dia kenapa menyimpulkan seperti itu? Apa Kak Fahmi mengenal dia sebelumnya?'' tanyanya setengah marah karena Fahmi membuatnya kesal.

"Kalau dibilangin itu percaya, kamu masih kecil belum waktunya pacaran," bantah Fahmi setengah berteriak.

Sabiila terkejut sekaligus kecewa, Sabila berlari ke kamar dan menutup pintu dengan kasar. Sabila menangis di kamar, Sabila sedih karena Fahmi tidak setuju dengan hubungan dan Jordi.

"Sabila, tolong percaya sama Kakak. Kakak melakukannya untuk kebaikanmu, Dek," ucap Fahmi dari luar kamar.

"Kakak jahat," ucap Sabila sambil sesegukan.

Fahmi masuk ke kamar Sabila, dia memelukku yang sedang menangis ditepi ranjang.

"Aku mengenal dia sebelum kamu mengenal dia," kata Fahmi membuat Sabila terkejut.

Sabila mendongakkan kepalanya , menatap wajah Fahmi yang tampak serius.

Bab 2

Sabila tidak menyangka Fahmi mengenal Jordi lebih lama. Saat Sabila berminat menanyakan lebih lanjut, Fahmi menghindar.

"Kak, bagaimana Kakak bisa kenal dia?" tanya Sabila penasaran.

"Sudahlah, kamu hati-hati saja. Kalau bisa jauhi dia," kata Fahmi melepaskan pelukannya dan berjalan keluar kamar Sabila.

"Aku ingin tahu, Kak," ucap Sabila. Tetapi Fahmi sudah menutup pintu kamar Sabila.

Sejak saat itu hubungan Sabila dengan Jordi mulai renggang. Bukan Sabila yang menjauhi Jordi, melainkan Jordi yang sepertinya menjauhi Sabila.

Sabila dan Jordi jarang berkomunikasi, bahkan kadang hanya seminggu sekali saja. Dan Jordi nampak biasa saja tidak keberatan.

**

Satu bulan kemudian

Sabila tengah membaca buku di perpustakaan. Amara menolak Sabila ajak ke perpustakaan dengan alasan dia lapar dan ingin segera ke kantin. Saat Sabila selesai membaca buku, Sabila ke kantin.

Dari jauh Sabila melihat Amara sedang menelfon seseorang di kantin. Dia tampak tertawa dan tidak seperti biasanya. Dia dan orang di sebrang sana tampak sangat dekat.

"Kamu, mau bertemu dengan lagi?" tanya Amara malu-malu.

"..."

"Baiklah, nanti jemput aku di tempat biasa," jawab Amara.

Dua minggu ini Sabila dan Amara jarang pulang bareng. Sabila sering mampir ke perpustakaan daerah dan Aara tidak mau saat Sabia ajak.

"Siapa, Ra? Happy sekali?" tanya Sabila sembari duduk di samping Amara.

Dia langsung mematikan panggilan itu saat Sabila datang. Dia nampak kaget ada Sabila di sampingnya.

"Siapa? Pacar mu?" tanya Sabila penasaran. Sabila kepo sekali dengan siapa dia berbicara.

"I-iya, aku jadian dengannya dua minggu yang lalu," jawab Amara tampak takut.

"Selamat, ya!" ucap Sabila. "Aku ikut senang, akhirnya kamu punya pacar. Kapan-kapan kita kencan bareng, ya," ajak Sabila pada Amara.

"Iya, semoga saja dia mau," jawabnya tertunduk.

Bel masuk sekolah berdering, Sabila dan Amara segera masuk ke kelas.

**

Waktu pulang, Amara tampak terburu-buru. Aku kepo dengan apa yang dia lakukan. Diam-diam Sabila membuntutinya. Dia berjalan menuju taman di mana Sabila biasa bertemu Jordi.

Sabila melihat Amara masuk ke dalam taman, Sabila mengikutinya.

"Sayang, kenapa baru datang?" tanya cowok yang baru saja Amara dekati.

Sabila semakin kepo, Sabila mendekat. Dan Sabila terkejut saat Sabila tahu siapa cowok yang ada di depan Amara. Amara bergelayut manja dalam pelukan Jordi.

"Sayang kemana kita hari ini?" tanya Jordi pada Amara.

Sabila mendekati mereka, semakin dekat semakin jelas penghianatan yang Amara lakukan padanya.

"Amara...," panggilnya.

Amara melepaskan pelukannya pada Jordi, dia menoleh ke belakang ke tempat di mana Sabila berdiri.

"Sabila, kamu di sini?" tanya Amara tampak takut.

"Iya, aku mengikuti kamu. Ternyata dia pacar barumu? Kekasih sahabatmu sendiri?" tanya Sabila sambil menahan air mata agar tidak tumpah di depan kedua manusia itu.

"Sabila, maafkan aku. Aku mencintai Jordi, dan Jordi juga mencintaiku," jawab Amara.

"Jangan meminta maaf padanya. Kamu tidak salah, dia yang salah. Dia tidak pandai berpacaran," ucap Jordi.

Apa yang dikatakan Fahmi benar, Jordi cowok playboy. Pantas jika Fahmi melarang Sabila dekat dengannya.

"Jordi, sekarang kamu pilih aku atau Amara!" pinta Sabila tegas. Sabila tidak mau larut dalam penghianatan mereka.

"Tentu aku memilih Amara, dia tahu cara berpacaran, bukan kaya kamu yang hanya jadi kutu buku," jawab Jordi.

Ada rasa sakit di hati Sabila saat Jordi terang-terangan memilih Amara. Sabila mundur dua langkah.

"Selamat untuk kalian berdua!" ucap Sabilalalu berlari keluar taman.

Sabila berlari sambil menangis, Sabila kecewa dengan apa yang dilakukan Amara padanya . Sabila menunggu angkutan tidak jauh dari taman. Tidak perlu menunggu lama, angkutan datang. Sabila segera naik, Sabila menangis di dalam angkutan yang hanya berisi Sabila dan satu orang cowok yang berseragam SMA dari SMA lain.

Sabila tidak peduli dengan apa yang orang lain pikirkan. Sabila terus menangis, hingga angkutan berhenti. Ternyata cowok itu turun, Sabila kini sendirian di dalam angkutan.

Sabila terus menangis, angkutan itu berhenti. Sabila masih belum turun dari angkutan.

"Dek, sudah sampai," ucap supir angkutan hingga turun memanggilnya. Angkutam itu biasa Sabila tumpangi, jadi dia hafal dimana Aabila turun.

"Iya, Pak. Ini uangnya," kata Sabila lalu memberikan ongkos dan segera turun.

Sabila langsung masuk ke halaman rumah karena gerbang rumah terbuka. Sabila masuk ke dalam dan berlari ke kamar. Fahmi dan Rani mungkin merasa aneh karena Sabila tidak mengucap salam dan langsung nyelonong ke kamar.

Sabila terus menangis, hingga terdengar Rani Mamanya mengetuk pintu.

"Sabila, kamu kenapa sayang?" tanya Rani di luar kamar.

Sabila masih enggan membukakan pintu yang Sabila kunci. Rani sepertinya tahu Sabila tidak ingin di ganggu. Dia berjalan menjauh dari kamar Sabila, terdengar dari langkah kakinya.

"Tidak dibuka," kata Rani, pasti dia berbicara dengan Fahmi. "Pasti ada masalah, coba nanti kamu dekati adikmu," ucap Rani.

Sabila di kamar sudah berhenti menangis. Dia ambil ponselnya, dan dia menghapus nomor Amara dan Jordi. Sabila kecewa pada mereka, Sabila tidak mau lagi punya hubungan dengan mereka.

Hingga malam Aabila masih mengurung diri di kamar, tidak mandi atau makan. Rani tampak khawatir. Dia terus mengetuk pintu kamar Sabila.

"Sabila, ayo makan sayang! Ini Mama bawakan makanan!" ajak Rani.

"Belum lapar, Ma. Nanti kalau lapar aku akan makan ke dapur sendiri," teriaknya.

Rani masih tidak percaya, dan sekarang menyuruh Fahmi membujuk Sabila untuk makan.

"Dek, makan dulu. Jangan bikin kita khawatir, sini bicara sama Kakak," kata Fahmi.

Entah mengapa dengan Fahmi, Sabila mau membuka pintu. Di depan pintu Fahmi membawa makanan.

"Masuk, Kak," kata Sabila. Fahmi masuk, Sabila menutup pintu kamar kembali.

Makanan di taruh di atas nakas dekat ranjang. Sabila dan Fahmi duduk di tepi ranjang.

"Ada masalah apa?'' tanya Fahmi.

"Kak, Amara..." ucapnya terhenti. Sabila kembali teringat penghianatan Amara. "Dia berhianat, dia berpacaran dengan Jordi," jawabnya terisak.

Fahmi memeluk Sabila, Sabila merasa nyaman karena Fahmi memang Kakak yang baik dan selalu memberi nasehatnya pada Sabila.

"Kamu sudah tahu kelakuan Jordi, kan? Dengan sahabat kamu saja dia mau, apa lagi dengan orang lain?" tanya Fahmi.

"Orang lain? Apa Jordi punya kekasih selain aku dan Amara saat ini?" selidiknya pada Fahmi yang tampaknya tahu sesuatu tentang Jordi.

"Iya, bahkan tidak hanya kamu, Amara dan temanku. Ada banyak lagi korbannya," jawab Fahmi.

Sabila heran, ternyata seplayboy itu Jordi? Bahkan tidak hanya dua melainkan tiga bahkan lebih. Pantas Fahmi menentang hebat hubungan ini.

"Berapa orang kekasih Jordi yang Kakak tahu?" tanya Sabila kepo dengan apa yang Fahmi tahu.

"Sekitar 5 orang, mereka rata-rata masih SMA. Hanya satu yang kuliah yaitu temanku, dia satu jurusan denganku di kampus," jawab Fahmi.

"Lima?" Aku tidak menyangka sebanyak itu kekasih Jordi. "Tolong ceritakan padaku, Kak! Apa yang Kakak tahu tentang dia?" tanya Sabila pada Fahmi.

Fahmi menatap Sabila, dia sepertinya enggan untuk bercerita. Tetapi Sabila ingin tahu apa yang dia ketahui tentang Jordi.

Bab 3

Fahmi menyuruh Sabila makan, setelah itu dia berjanji akan bercerita kepada Sabila tentang Jordi. Sabila pun tidak sabar, dia segera makan hingga habis.

"Kak aku sudah selesai makan. Tolong ceritakan!" pinta Sabila menagih janji Fahmi.

"Temanku bernama Sindi, dia berpacaran dengan Jordi setahun yang lalu. Sindi dan Jordi sangat terkenal dikalangan kampus. Mereka teman satu kampus, hanya saja beda jurusan. Jordi tidak mengenalku, tapi aku mengenalnya karena Sindi teman dekatku. Dia selalu bercerita tentang Jordi padaku." Fahmi bercerita.

"Apa Kakak suka dengan Sindi?" tanya Sabila polos.

"Tidak, dia sahabatku." Fahmi tampak salah tingkah. Sabila tahu Fahmi menyukai temannya bernama Sindi itu. "Entah mengapa sampai saat ini Sindi dan Jordi masih bersama. Padahal Sindi tahu, Jordi punya banyak wanita di tempat lain," kata Kak Fahmi.

"Kenapa dia sebodoh itu?" tanya Sabila. Fahmi malah menjitak Sabila pelan.

"Jangan berbicara seperti itu. Kita tidak tahu apa yang terjadi diantara mereka," bantah Fahmi tidak terima Sabila mengolok-olok Sindi. "Sampai siang itu aku melihat kamu diantar Jordi, jadi aku mulai melarangmu dekat dengan dia. Sindi orang yang nekat, kalau tahu kamu adalah kekasih Jordi, dia bisa datang ke sekolah kamu dan melabrakmu," ucap Fahmi.

"Kan yang salah Jordi, kenapa wanitanya yang kena marah? Harusnya dia marah pada Jordi," kata Sabila sedikit tidak suka dengan sikap Sindi.

"Sindi sangat mencintai Jordi, jadi kita mau menasehati dia seperti apapun tidak akan dipercaya." Fahmi sepertinya sangat membenci Jordi, Sabila bisa melihat dari tatapan matanya waktu itu.

Selesai bercerita, Fahmi keluar dari kamar Sabila dan membawa piring yang sudah kosong.

"Tidurlah! Jangan memikirkan Jordi lagi. Dia tidak pantas untukmu." Pesan Fahmi sebelum keluar kamar Sabila.

"Iya, Kak," jawab Sabila santai hendak tidur.

Sabila mulai terlelap, Sabila merasa sedikit lebih tenang.

**

Paginya Sabila ke sekolah. Ada yang beda dari pandangan teman-teman. Mereka menatap Sabila sinis dan tidak suka.

"Sabila, berapa semalam?" tanya salah seorang siswa.

"Maksud kalian apa?" tanya Sabila heran.

"Iya, berapa? Kalau murah aku booking kamu semalam deh," ucap yang lain.

Sabila menghampiri teman perempuannya. Menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.

"Dewi, apa yang terjadi?" tanya Sabila penuh rasa penasaran.

"Nih lihat!" ucap Dewi menyodorkan ponselnya pada Sabila.

Sabila tercengang, ada poster atas nama dirinya sedang mencari teman kencan. Bukan teman kencan melainkan teman tidur. Dalam poster itu Sabila membuka open BO. Pantas semua orang menatap Sabila aneh.

"Ini semua tidak benar," bantah Sabila sembari mengsmbalikan ponsel Dewi.

Ponsel Sabila bergetar, Sabila lihat banyak pesan masuk dari nomor tidak di kenal. Semua membookingnya, Sabila kesal dan masuk ke dalam kelas. Sengaja dimatikan ponselnya agar tidak mengganggu.

"Sabila, aku tidak menyangka kamu semurah itu. Pantas Jordi lebih memilihku," kata Amara. "Mulai sekarang kita bukan teman lagi," ucap Amara menjauh Sabila.

Sabila yakin ada orang yang sengaja mencemarkan nama baiknya. Namun, Sabila tidak tahu siapa orang itu.

Semua teman menjauhinya, Sabila selalu sendiri. Mereka tidak percaya kalau itu hanya sebuah fitnah. Sabila merasa dikucilkan.

"Sabila, kamu cantik, pintar sayangnya jual diri," ledek seorang siswa dia kakak kelas Sabila. "Udah pernah nyicipin Om-om belum?" tanyanya.

Sabila diam saja, hatinya terasa sakit mendengar semua orang meledeknya. Sabila tidak tahan, Sabika terpaksa kabur dari sekolahan. Sabila pulang dan menutup diri di kamar.

Poster itu juga sampai di media sosial orang tuanya. Mereka tidak percaya dengan hal itu. Malam ini Sabila di sidang mereka, termasuk Fahmi.

"Sabila, kenapa kamu melakukan ini?" tanya Papa.

"Pa, Sabila tidak melakukannya. Mama dan Kak Fahmi percaya, kan?" tanya Sabila pada Fahmi.

"Aku yakin ada yang sengaja mencemarkan nama baikmu," kata Fahmi.

"Aku rasa begitu, tapi aku tidak tahu siapa dia," ucap Sabila sedih.

Sabila hanya bisa menangis dalam pelukan Rani. Dika, Papa Sabila sudah yakin jika Sabila tidak melakukan itu. Namun, mereka juga malu atas fitnah ini.

"Papa malu, Sabila. Mereka yang tidak mengenal kamu pasti menganggap ini semua benar," kata Dika sedih.

"Maafkan Bila, Pa. Bila akan cari tahu siapa pelaku sebenarnya." Sabila sedih sekali.

Sabila tidak sanggup membuka ponsel, sementara Sabila tidak memegang ponsel. Ponsel Sabila dberikan pada Rani, Sabila meminta diantar dan dijemput setiap pergi sekolah.

Beruntung orang tuanya tidak keberatan. Mereka akan bergantian dengan Fahmi. Sabila dan Fahmi kini berada di kamar Sabila.

"Aku mencurigai dua orang," kata Fahmi.

"Siapa, kak?" tanya Sabila penasaran.

"Jordi dan Amara," jawab Fahmi. "Kamu baru saja bermasalah dengan mereka, jadi kemungkinan besar mereka," ucap Fahmi.

"Amara tidak mungkin melakukannya, Kak. Meskipun dia merebut Jordi tapi tidak mungkin mengfitnahku. Aku yakin ini ulah Jordi," ucap Sabila Yakin.

Sabila Yakin Jordi sakit hati padanta. Jadi dia melakukan hal ini untuk membuatnya malu.

**

Sabila tidak bisa tidur, Sabila teringat akan ucapan teman-temannya di sekolah. Mereka menjauhinya dan terus menghinanya. Tidak ada yang percaya dengannya sekarang.

Sabila tidak punya teman, dia lebih banyak diam dari biasanya. Rasanya dia sangat malu dengan fitnah yang menyebar ini.

Fahmi menguatkan Sabila, namun Sabila tetap saja Sabila yang rapuh.

"Dasar open BO," teriakan itu dari teman-temannya terus terngiang di telinganya. Seperti tertampar badai topan hingga membuatnya goyah.

"Tidak," teriaknya sekuat-kuatnya. Seketika seisi rumah mendatangi kamarnya.

Rani memeluk Sabila erat, menguatkan Aabila. Namun, Sabila benar-benar rapuh.

**

Pagi ini Fahmi mengantarnya ke sekolah. Sabila duduk sendirian, biasanya di sampingnya ada Amara. Tapi kini dia sudah duduk di tempat lain.

"Masih aja punya muka nongol di sekolah," ucap Jesi teman Sabila.

"Iya nggak punya malu banget sih dia. Tubuhnya diobral murah sekali," timpal yang lain.

Sabila tertunduk terus selama di dalam kelas. Hingga waktu istirahat tiba. Sabila masih duduk di dalam kelas. Tidak berani ke kantin atau ke perpustakaan seperti biasanya.

Terdengar suara heboh di luar, nama Sabila disebut-sebut.

"Ya ampun ada vidionya juga menyebar," teriak mereka.

"Vidio, mana mana," kata yang lain.

Sabila masih belum mengerti vidio apa yang di maksud mereka. Dan kaitannya dengannya.

Sabila tertunduk lesu, kepalanya pusing. Sabila mengambil minyak kayu putih di dalam tas. Sabila selalu sedia barang yang satu ini di dalam tas.

Ponselnya bergetar, Sabila membukanya. Ada pesan dari nomor yang tidak dia save.

Sabila terkejut melihat vidio berdurasi dua puluh detik itu. Dimana wajahnya terpampang di sana. Pandangan matanya kabur, sejenak kemudian Sabila sudah tidak ingat apapun.

Terdengar sayup-sayup temannya berteriak meminta tolong. Entah berapa lama Sabila tak sadarkan diri. Vidio itu masih dia ingat hingga dia sadar.

"Itu bukan aku," teriak Sabila sekeras mungkin. Ternyata Sabika sudah di rumah. Sabila kira dia bermimpi, setelah Sabila memeriksa ponselnya ternyata pesan itu masih ada.

Sabila membuang ponselnya dan hancur.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED