Dalam perjalanannya menuju gunung es, lelaki tanpa pakaian itu berhenti sebentar di atas pohon. Dia menatap gunung es yang kurang lebih berjarak 20 kilometer lagi. Gunung es tersebut menjulang tinggi dan menembus awan hitam yang selalu berotasi di atasnya.
Memasukan energi roh lebih banyak ke tubuh fisik dia kembali melanjutkan perjalanannya.
Mengkombinasikan energi roh dengan energi fisik adalah kemampuan dasar seorang ahli beladiri. Mereka melakukan hal tersebut untuk meningkatkan kekuatan, mobilitas, dan mengurangi penggunaan energi fisik murni agar tidak cepat kelahan.
Sesampainya memasuki kawasan hutan mati. Walaupun di tanah terlihat berlumpur dan mengandung banyak air. Tapi hanya eksistensi seperti monster kuat yang akan ada di sana. Kawasan hutan mati meliputi radius 15 kilometer dari gunung es. Tumbuhan maupun hewan buas sekalipun tidak bisa bertahan hidup di sana.
Lelaki tersebut menatap beberapa monster yang berada di lintasannya. dia lalu berlari ke depan dan menghajar mereka secara membabi buta.
Sebagian dari monster tersebut lari setelah melihat betapa kuatnya lelaki itu.
Dia tersenyum puas lalu memandangi tangannya dengan penuh percaya diri.
"Ini benar-benar menakjubkan. Aku mengalahkan mereka dengan tangan kosong. Tidak salah menyebut diriku dewa."
Dia kemudian kembali berlari hingga mencapai gunung es. Ada lubang kecil di sana, lelaki itu masuk dan berhenti di depan sebuah pedang yang tertancap di dalamnya. Tanpa menggunakan banyak tenaga dia mencabut pedang tersebut dengan sangat mudah.
"Ini buruk!" ucapnya, wajah masam tidak bisa hilang dari ekspresinya.
Saat dalam perjalanan kembali pulang menuju dimana Tanya beristirahat. Lelaki tersebut mendengar teriakan beberapa manusia. Dari arah sumber suara tersebut, burung-burung menjauh. Dia cepat bergegas ke sana dengan niatan mengetahui apa yang terjadi. Tapi, semuanya terlambat. Lusinan mayat terkapar di berbagai tempat.
"Apa kau pelakunya?" tanya lelaki tersebut sambil mendongak menatap monster di hadapannya.
Monster hanya mengaum dengan keras. Walaupun tidak memiliki taring yang panjang. Tapi ia memiliki kulit tebal dan tanduk tumpul yang bisa merobohkan sebuah pohon. Kemungkinan besar mayat-mayat itu mati karena ditanduk.
"Jangan menatapku seperti itu. Kau terlalu arogan untuk menentang seorang dewa!" ucapnya.
Lelaki tersebut menghindari serangan monster itu dan mencari celah untuk memukul tengkuknya. Detik berikutnya ia memegang kepala bertanduk tersebut dan memasukan energi roh ke dalamnya. Setelah menjauh kepala monster tersebut meledak.
Saat memeriksa satu persatu manusia-manusia yang terbaring. Tidak ada satupun di antara mereka yang masih memiliki napas. Dia memutuskan untuk mengambil beberapa pakaian mereka dan bergegas pergi.
***
Cukup lama Tanya menunggu namun lelaki tampan yang mengaku dewa itu tidak kunjung datang. Dia tidak berani menginjakkan kaki ke luar karena baru saja terdengar suara menyeramkan dari sana. Tanya segera menyembunyikan badannya di balik balok es saat langkah kaki terdengar semakin mendekat.
Walaupun dewa itu berjanji untuk kembali lagi. Tapi dia khawatir suara tersebut berasal dari orang-orang yang mengejarnya sampai ke hutan. Saat terlihat siluet laki-laki berpakaian serba hitam, Tanya menahan napas agar tidak bersuara. Namun dia langsung menghela napas lega ketika wajah itu dia lihat.
"Dari mana kau dapatkan pakaian dan pedang itu?"
Tanya berdiri menampakkan diri dengan nada menginterogasi.
"Aku rasa kamu juga mendengarnya. Seekor monster mengamuk tidak jauh dari sini. Saat aku ke sana beberapa manusia sudah terkapar tidak bernyawa. Karena aku tidak memiliki pakaian. jadi aku mengambil milik mereka. Dan soal pedang, aku mengambilnya di gunung es," jelas dewa tersebut, berikutnya dia melemparkan kain ke arah Tanya.
"Pakailah!"
"Tidak!" Tanya membuang pakaian itu dengan jijik. "Kamu pasti bercanda menyuruhku memakai pakaian bekas mayat. Apalagi orang-orang itu yang mengejar aku ke sini untuk menghabisi ku. Sekali lagi aku tegaskan aku tidak akan memakainya!"
Lelaki tampan itu menghembuskan napas. Seharusnya Tanya memikirkan keadaan tubuhnya sekarang. Bukan hal kecil semacam itu terlebih dahulu.
"Baiklah kalau kau tidak mau. Tapi jangan salahkan aku kalau sampai kau mengandung anakku. Kau terlalu menggoda untuk itu."
"Heh!" Mata Tanya melotot, dia berpikir sejenak dan memahami yang lelaki itu katakan, dia segera menyilangkan tangan di dada. "A-apa kau melihatnya? Aku akan membunuhmu kalau berani macam macam. Aku akan memakai i–itu ... jadi cucikan terlebih dahulu!"
"Mencuci? Apa kamu baru saja menyuruh seorang dewa mencuci?"
"Aku tidak peduli apakah kau seorang dewa atau semacamnya. Lakukan perintahku!" ucap Tanya dengan angkuh.
Detik berikutnya, Tanya merasakan teror menakutkan. Bulu kuduknya naik saat lelaki itu melepas auranya. Tanya seperti sedang dipaksa untuk menundukkan kepala.
"Jangan mengatakan hal semacam itu. Hanya ada satu orang yang boleh memerintahku!" bentak Dewa itu memperingatkan, dia menghapus seluruh kebaikan di ekspresinya.
"Haaaaaaaaa!" Tanya berteriak dan itu membuat lelaki tersebut sedikit tersentak. "Ayah! hiks hiks hiks," rengek Tanya sambil terisak.
Lelaki itu mencolok telinganya sendiri dengan jari kelingking.
"Hei ... bisakah kah kamu diam?" Dia menatap Tanya dengan masam. "Berapa umurmu?"
"Enam belas tahun hiks!"
"Diamlah! kalau kamu menutup matamu dengan tangan. Lalu apa yang bisa menghalangi mataku ke dadamu?" Nada suara dewa itu mulai menurun dan masuk ke telinga Tanya. Dia juga menjadi enggan memancarkan aura seorang tirani lagi mengingat reaksi Tanya.
Tanya membeku karena cepat sekali dewa tersebut mengganti ekspresinya yang dingin menjadi santai. namun, Dia cepat-cepat menutup dadanya menggunakan tangan saat sadar dengan perkataan itu. Nyatanya dia lupa ada sobekan di sana, ia merasa orang di depannya benar-benar kurang ajar.
"A-aku akan membunuhmu!" Mata Tanya yang masih sembab menatap dewa tersebut dengan marah. Ledakkan amarah itu membuat suaranya sedikit meninggi. "Da-dasar mesum!"
"Tidak ada satupun manusia di bumi ini yang bisa membunuhku. Kau tahu? beberapa saat lalu seekor monster menatapku persis seperti yang kamu lakukan sekarang. Kemudian aku memecahkan kepalanya."
Tanya bergidik ngeri mendengarnya. Tidak seperti laki-laki umum yang memperlakukannya seperti ratu. Lelaki itu bahkan tidak menunjukkan sedikit saja rasa belas kasih.
"Terlepas kamu dewa atau semacamnya. Kamu adalah laki-laki ... dan orang kuat sepertimu harusnya memberi rasa aman untuk gadis kecil sepertiku!" tukas Tanya.
Alih-alih mendengarkan, dewa tersebut malah perlahan mendekatinya.
"Kau! Berhenti di sana!" teriak Tanya, ada kekhawatiran di nada suaranya yang tinggi. "Sudah kubilang seharusnya kamu melindungiku!"
Dewa tersebut berhenti tepat di depannya, mata indah itu lebih indah jika dilihat dari dekat. Dia sempat terpana tetapi dengan cepat menggeleng kecil agar segera sadar.
"Apa untungnya melindungimu?" tanya dewa itu membuka mulut.
"Aku adalah seorang tuan putri. Banyak orang yang ingin menjadi pengawal ku hanya karena ingin selalu melihatku. Dari mereka bahkan ada yang rela bersujud untuk posisi itu."
"Kamu benar-benar anak manja dan tahu caranya membual. Aku akan mencuci ini dan secepatnya mengantarkan kamu keluar dari hutan. Apa itu cukup?" Dia menghampiri pakaian yang tadinya dibuang gadis tersebut. Ada helaan napas kecil ketika dia memulai langkah.
Dada Tanya tidak habis-habisnya dihujam ketika beradu pandang dengannya. Entah itu hasil dari perasaan takut, atau karena lelaki itu terlalu tampan untuk dilihat dengan mata. Dia kembali dapat bernapas dengan normal setelah dewa itu mengambil cukup jarak dengannya.
Tanya mengangguk kecil dan menjawab, "Bisakah kamu mencarikan aku makan? Tubuhku sangat lemah dan tidak bertenaga."
Tanya menunggu jawaban lelaki itu dengan ragu. mau bagaimana pun kini dia memiliki pandangan yang berbeda sekarang. Aura yang sebelumnya dia pancarkan jauh lebih hebat daripada ayahnya–Robert Quinn–selaku pimpinan keluarga cabang yang tinggal di dekat hutan ini.
"Aku sudah bilang bahwa es itu mengambil energi dari tubuh seseorang. Menjauh dari sana dan tunggu aku kembali." Setelah meninggalkan kata-katanya lelaki itu melangkah pergi.
Tanya menjadi lebih fokus pada sekitarnya dan bertanya dalam hati, "Apa es ini benar-benar bisa mengambil energiku? terlepas dewa sifat yang mesum. dewa tersebut sepertinya cukup baik?"
Kemudian Tanya teringat kembali apa yang terjadi. Dia merasa bahwa orang-orang yang mengejarnya sampai ke hutan sudah mendapat karma. Namun, itu hanya sedikit dari mereka yang menyerang keluarganya, Tanya akan mencari sisanya.
Dia akan mencari mereka bahkan jika harus memeriksa sisi terdalam bumi.
Walaupun dirasa mustahil, Tanya berharap ada salah satu dari keluarganya yang bernasib sama sepertinya. Terutama kedua orang tuanya yang begitu ia sayangi. Tanya tidak tahu lagi apakah masih memiliki alasan untuk hidup atau tidak jika mereka berdua telah tiada.
***
Di sebuah rumah, laki-laki kisaran 40 tahunan menatap pedang di hadapannya. Dia tersenyum puas karena sudah berhasil mendapatkan apa yang dia inginkan. Seumur hidupnya ia tidak pernah melihat pedang sebagus itu. Sepertinya legenda tentang kemampuan seorang putri yang menyelamatkan dunia bukan hanya isapan jempol. Sang putri pasti memiliki kemampuan yang luar biasa. Hal tersebut dapat dilihat dari pedang yang dia gunakan saat perang melawan monster ribuan tahun lalu.
Sambil tersenyum pria itu mengelap pedang yang bersinar kebiru-biruan tersebut. Tidak lama setelahnya, seorang pelayan berpakaian jas hitam mengetuk pintu ruangan.
"Masuk!"
Pria yang baru datang itu menunduk hormat kemudian berkata, "Orang-orang yang dikirim oleh pimpinan pembunuh untuk membunuh nona muda Quinn tidak pernah kembali dari hutan malapetaka. Dia bertanya apakah tuan akan membayar mereka lagi untuk mencarinya?"
"Lupakan tentangnya. Hutan tersebut terlalu berbahaya. Tidak ada satupun orang yang pernah masuk terlalu dalam dan bisa pulang membawa nyawanya. Kita sudah menghabiskan banyak uang untuk membayar mereka. Tidak perlu membayar lagi untuk mencari orang dengan persenan tinggi sudah mati."
"Saya mengerti. Saya akan memberitahu mereka sekarang."
Setelah menyelesaikan urusannya pelayan itu undur diri. Dia meninggal tuannya yang memiliki ekspresi cerah di sana.
"Kalau aku bisa menggunakan pedang ini. Tidak sulit bagiku untuk mengambil alih posisi pemimpin di klan. Mungkin saja aku juga tumbuh menjadi kuat dan membuat sepuluh klan paling berpengaruh tunduk," imbuh lelaki itu lalu tertawa terbahak-bahak.