Bab 1

Dalam keadaan di mana malam tidak bisa membuatnya berpikir tentang arah tujuan. Seorang gadis berlari secepat yang dia bisa seolah dikejar kematian. Dia hanya terus maju tanpa arah menembus semak belukar dan ranting pepohonan. Sebagai seorang putri yang tidak pernah mengenal luasnya bumi serta tingginya langit. Dia tidak sadar langkahnya telah membawanya jauh masuk ke dalam hutan.

"Argghhh!"

Dia terpental ke tanah setelah menabrak dahan pohon yang cukup kokoh. Pandangannya menangkap langit malam yang tidak bisa menampakkan apa-apa selain kegelapan.

"A-Ayah ... "

Sambil memegangi dadanya yang berdarah, gadis itu mencoba menstabilkan napas yang naik turun. Rasa perih terasa amat menyakitkan di tubuhnya yang lelah dan luka-luka.

Aku tidak boleh mati di sini. Orang-orang biadab itu harus membayarnya!

Membayangkan kembali apa yang terjadi pada keluarganya. Kebencian yang murni menjalar ke seluruh tubuh gadis tersebut. Dia berusaha mendapatkan pijakannya kembali. Dengan langkah yang putus-putus ia berharap dapat mencapai tempat yang lebih aman.

Cukup lama kesusahan menjejakkan kaki, sampailah gadis itu di depan sebuah gua yang memancarkan cahaya. Awalnya ia cukup takut untuk mendekat, tapi penasaran yang kuat menelan ketakutannya.

Semakin mendekat ke sana dingin semakin menusuk tulang. Arah cahaya yang menyilaukan membuatnya menyipitkan mata. Mencari sesuatu yang meredup serta kemudian dikepung gelap.

"A ... aku tidak ingin mati," gumamnya lemah sebelum akhirnya tidak sadarkan diri.

***

Suara air yang menetes terdengar menenangkan. Kelopak mata gadis itu akhirnya mau memperkenalkannya pada dunia. Entah benar seperti yang dia lihat, atau hanya sebatas halusinasi saja, seorang lelaki tampan tanpa mengenakan pakaian mengisi penuh pandangannya.

"Kau siapa?"

Untuk sesaat gadis itu berpikir yang dia lihat hanyalah mimpi karena tidak ada jawaban. Sampai lelaki itu mengerutkan dahi dan menunjuk dirinya sendiri. "Aku? Aku seorang dewa," ungkapnya.

Gadis itu memandangi orang yang mengaku dewa tersebut lebih intens. Rambutnya yang panjang dan tubuhnya yang atletis sungguh memanjakan mata. Penampilannya memang menggambarkan sebuah kesempurnaan.

"Apa dewa memang tidak mempunyai uang untuk membeli pakaian? Dan yang lebih penting di mana ayah serta keluargaku yang lain?"

Lelaki tersebut mengedarkan pandang ke sekitar. Dia memeriksa apakah ada seseorang selain gadis di depannya. Setelah dirasa tidak ada, dia kembali memandangi gadis itu.

"Ayahmu? Apa dia di sini juga? Aku tidak melihatnya dari tadi," jelasnya lagi.

"Apa kamu seorang dewa yang suka bercanda? Aku sudah mati, kan? jadi harusnya kamu mempertemukan aku dengan keluargaku."

Gadis tersebut tidak habis pikir apakah petugas di akhirat benar-benar diperbolehkan memiliki sisi humor.

"Aku sangat yakin bahwa kamu belum mati. Apa kamu mayat hidup yang bisa berbicara?"

Gadis itu mengangkat tangannya. Walaupun ada noda darah di pakaian yang ia kenakan. Tapi luka yang sebelumnya terasa sangat perih sembuh tanpa bekas.

"Lihatlah! Semua lukaku sembuh. Aku pernah mendengar bahwa di akhirat orang-orang tidak memiliki luka. Mereka juga tidak mengenakan pakaian, dan sekarang kau tidak mengenakannya," ujar gadis itu memberikan pengetahuan tentang akhirat.

"Begitu, ya? Aku belum pernah ke akhirat. Jadi aku tidak yakin apakah itu benar."

"Kau ini dewa apa? Bagaimana bisa dewa tidak pernah ke sana? Berhentilah membuat humor dan cepat bawa aku ke keluargaku!"

Gadis itu menjadi jengkel, dia masih terbaring di tempat yang sangat dingin. Tubuhnya memang sepenuhnya sembuh tapi dia sama sekali tidak memiliki tenaga untuk bergerak.

"Aku benar-benar belum pernah ke sana. Aku bahkan tidak tahu siapa kamu. Bagaimana bisa aku tahu ayahmu dan mengantarkan kamu ke tempatnya. Jadi, aku bingung harus bagaimana," kata lelaki itu berusaha meyakinkan.

Gadis di depannya masih tidak terlihat percaya. Dia perlu metode lain untuk meyakinkan ia masih berada di bumi. Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Setelah berpikir sejenak lelaki tersebut memiliki ide.

TUK!

"Aawhhh!"

Gadis itu memegangi dahinya sambil meringis. Warna merah terlihat jelas di kulit putihnya. Dia hampir saja menangis.

"Kenapa kau menyentilku? Ini sangat sakit."

"Ini diperlukan ... kau tahu? di akhirat kamu tidak lagi menemukan rasa sakit."

Gadis itu mengangguk dan melayangkan tatapan kesal. Setengah sadar dia menyoroti laki-laki yang telanjang tersebut.

"Tunggu! kalau ini bukan akhirat kenapa kamu tidak menggunakan pakaianmu?!" teriaknya panik seolah sadar akan sesuatu.

Walaupun bisa menggunakan tangannya, gadis tersebut tetap saja tidak bisa berbuat apa-apa terhadap tubuhnya yang sulit digerakkan. Bahkan jika dalam keadaan normal, seorang perempuan tidak bisa mengalahkan kekuatan fisik seorang laki-laki. Ketakutan berangsur-angsur menjalar di pikirannya.

"Menurutmu aku sedang apa?" Lelaki itu sedikit menggoda.

"Kalau kamu berani macam-macam. Aku akan membunuhmu sepuluh kali. Tidak! akau akan bunuh kau ratusan bahkan ribuan kali!"

Lelaki tersebut tersenyum memperhatikan reaksi aneh gadis di depannya. "Tenanglah! Aku hanya akan menyentuhmu jika sudah mendapatkan izin. Aku sudah mengatakan bahwa aku seorang dewa. Aku baru saja terlahir kembali. Jadi aku tidak mengenakan pakaian."

"Bagaimana aku harus mempercayai pernyataan konyol itu? Kau pasti berbohong! Obat apa yang kamu masukan ke tubuhku? Apa yang akan terjadi jika aku tidak bangun?"

"Tentu saja kamu akan mengandung anakku."

"Heh!" Gadis yang tidak percaya dengan jawaban lelaki itu melayangkan sorot tajam. "Kau ingin mati?!"

"Kali ini aku juga bercanda. Aku sama sekali tidak memberimu obat. Pakaian saja aku tidak punya, apalagi hal-hal semacam itu. Kamu berbaring di balok es yang menyerap energi kehidupan. Tentu saja tubuhmu sangat sulit untuk digerakkan."

"Apa kamu mengatakan kebenaran?" Mata gadis itu menyipit.

Lelaki itu memberikan ekspresi santai. "Aku tidak berbohong. Jadi bagaimana?"

"Apanya yang bagaimana?"

"Aku mendapat izin menyentuhmu atau tidak?"

"Tentu saja tidak!" tegasnya dengan kesal. "Aku akan membunuhmu kalau itu terjadi!"

Walaupun lelaki di depannya sangat tampan, dia tidak akan mau melakukan hal yang tidak senonoh. Apalagi ia baru saja menginjak umur 16 tahun. Hal semacam itu masih tabu dalam hidupnya.

"Jangan tersenyum!" teriaknya kesal.

Lelaki tersebut segera menghapus ekspresinya dan bertanya, "Nah, siapa namamu?"

"Tanya."

"Nama yang bagus." Lelaki tersebut menengok sebentar ke luar gua. Lalu mengalihkan padangan lagi menatap Tanya intens.

"Aku akan pergi sebentar untuk memastikan sesuatu. jadi, jangan keluar dan tetaplah di sini!" pintanya memperingkatkan.

"Tunggu!" Saat laki-laki tersebut hendak pergi, langkahnya dihentikan oleh suara Tanya.

"Ada apa?"

"Bagaimana jika hewan buas datang?"

"Mereka tidak akan berani ke sini. Tenang saja, aku hanya sebentar dan akan secepatnya kembali."

"Aku akan membunuhmu jika tidak tepat janji."

"Baiklah. Aku pergi."

Setelah laki-laki tersebut pergi Tanya mencoba beringsut. Dia benar-benar berada di atas balok es besar. Beberapa es lain baik yang menempel di atas gua ataupun yang berada di dasar, berangsur-angsur mencair. Tanya lalu memeriksa kondisi tubuhnya, dia mendapati banyak robekan di gaun biru muda yang dia pakai. Pakaian tersebut sudah tidak layak karena salah satu robekan membuat dadanya tampak.

"Apa dewa mesum itu melihat dadaku tadi? Ah, mustahil menemukan pakaian di hutan ini. Bagaimana aku harus mencarinya," gerutu Tanya.

Bab 2

Dalam perjalanannya menuju gunung es, lelaki tanpa pakaian itu berhenti sebentar di atas pohon. Dia menatap gunung es yang kurang lebih berjarak 20 kilometer lagi. Gunung es tersebut menjulang tinggi dan menembus awan hitam yang selalu berotasi di atasnya.

Memasukan energi roh lebih banyak ke tubuh fisik dia kembali melanjutkan perjalanannya.

Mengkombinasikan energi roh dengan energi fisik adalah kemampuan dasar seorang ahli beladiri. Mereka melakukan hal tersebut untuk meningkatkan kekuatan, mobilitas, dan mengurangi penggunaan energi fisik murni agar tidak cepat kelahan.

Sesampainya memasuki kawasan hutan mati. Walaupun di tanah terlihat berlumpur dan mengandung banyak air. Tapi hanya eksistensi seperti monster kuat yang akan ada di sana. Kawasan hutan mati meliputi radius 15 kilometer dari gunung es. Tumbuhan maupun hewan buas sekalipun tidak bisa bertahan hidup di sana.

Lelaki tersebut menatap beberapa monster yang berada di lintasannya. dia lalu berlari ke depan dan menghajar mereka secara membabi buta.

Sebagian dari monster tersebut lari setelah melihat betapa kuatnya lelaki itu.

Dia tersenyum puas lalu memandangi tangannya dengan penuh percaya diri.

"Ini benar-benar menakjubkan. Aku mengalahkan mereka dengan tangan kosong. Tidak salah menyebut diriku dewa."

Dia kemudian kembali berlari hingga mencapai gunung es. Ada lubang kecil di sana, lelaki itu masuk dan berhenti di depan sebuah pedang yang tertancap di dalamnya. Tanpa menggunakan banyak tenaga dia mencabut pedang tersebut dengan sangat mudah.

"Ini buruk!" ucapnya, wajah masam tidak bisa hilang dari ekspresinya.

Saat dalam perjalanan kembali pulang menuju dimana Tanya beristirahat. Lelaki tersebut mendengar teriakan beberapa manusia. Dari arah sumber suara tersebut, burung-burung menjauh. Dia cepat bergegas ke sana dengan niatan mengetahui apa yang terjadi. Tapi, semuanya terlambat. Lusinan mayat terkapar di berbagai tempat.

"Apa kau pelakunya?" tanya lelaki tersebut sambil mendongak menatap monster di hadapannya.

Monster hanya mengaum dengan keras. Walaupun tidak memiliki taring yang panjang. Tapi ia memiliki kulit tebal dan tanduk tumpul yang bisa merobohkan sebuah pohon. Kemungkinan besar mayat-mayat itu mati karena ditanduk.

"Jangan menatapku seperti itu. Kau terlalu arogan untuk menentang seorang dewa!" ucapnya.

Lelaki tersebut menghindari serangan monster itu dan mencari celah untuk memukul tengkuknya. Detik berikutnya ia memegang kepala bertanduk tersebut dan memasukan energi roh ke dalamnya. Setelah menjauh kepala monster tersebut meledak.

Saat memeriksa satu persatu manusia-manusia yang terbaring. Tidak ada satupun di antara mereka yang masih memiliki napas. Dia memutuskan untuk mengambil beberapa pakaian mereka dan bergegas pergi.

***

Cukup lama Tanya menunggu namun lelaki tampan yang mengaku dewa itu tidak kunjung datang. Dia tidak berani menginjakkan kaki ke luar karena baru saja terdengar suara menyeramkan dari sana. Tanya segera menyembunyikan badannya di balik balok es saat langkah kaki terdengar semakin mendekat.

Walaupun dewa itu berjanji untuk kembali lagi. Tapi dia khawatir suara tersebut berasal dari orang-orang yang mengejarnya sampai ke hutan. Saat terlihat siluet laki-laki berpakaian serba hitam, Tanya menahan napas agar tidak bersuara. Namun dia langsung menghela napas lega ketika wajah itu dia lihat.

"Dari mana kau dapatkan pakaian dan pedang itu?"

Tanya berdiri menampakkan diri dengan nada menginterogasi.

"Aku rasa kamu juga mendengarnya. Seekor monster mengamuk tidak jauh dari sini. Saat aku ke sana beberapa manusia sudah terkapar tidak bernyawa. Karena aku tidak memiliki pakaian. jadi aku mengambil milik mereka. Dan soal pedang, aku mengambilnya di gunung es," jelas dewa tersebut, berikutnya dia melemparkan kain ke arah Tanya.

"Pakailah!"

"Tidak!" Tanya membuang pakaian itu dengan jijik. "Kamu pasti bercanda menyuruhku memakai pakaian bekas mayat. Apalagi orang-orang itu yang mengejar aku ke sini untuk menghabisi ku. Sekali lagi aku tegaskan aku tidak akan memakainya!"

Lelaki tampan itu menghembuskan napas. Seharusnya Tanya memikirkan keadaan tubuhnya sekarang. Bukan hal kecil semacam itu terlebih dahulu.

"Baiklah kalau kau tidak mau. Tapi jangan salahkan aku kalau sampai kau mengandung anakku. Kau terlalu menggoda untuk itu."

"Heh!" Mata Tanya melotot, dia berpikir sejenak dan memahami yang lelaki itu katakan, dia segera menyilangkan tangan di dada. "A-apa kau melihatnya? Aku akan membunuhmu kalau berani macam macam. Aku akan memakai i–itu ... jadi cucikan terlebih dahulu!"

"Mencuci? Apa kamu baru saja menyuruh seorang dewa mencuci?"

"Aku tidak peduli apakah kau seorang dewa atau semacamnya. Lakukan perintahku!" ucap Tanya dengan angkuh.

Detik berikutnya, Tanya merasakan teror menakutkan. Bulu kuduknya naik saat lelaki itu melepas auranya. Tanya seperti sedang dipaksa untuk menundukkan kepala.

"Jangan mengatakan hal semacam itu. Hanya ada satu orang yang boleh memerintahku!" bentak Dewa itu memperingatkan, dia menghapus seluruh kebaikan di ekspresinya.

"Haaaaaaaaa!" Tanya berteriak dan itu membuat lelaki tersebut sedikit tersentak. "Ayah! hiks hiks hiks," rengek Tanya sambil terisak.

Lelaki itu mencolok telinganya sendiri dengan jari kelingking.

"Hei ... bisakah kah kamu diam?" Dia menatap Tanya dengan masam. "Berapa umurmu?"

"Enam belas tahun hiks!"

"Diamlah! kalau kamu menutup matamu dengan tangan. Lalu apa yang bisa menghalangi mataku ke dadamu?" Nada suara dewa itu mulai menurun dan masuk ke telinga Tanya. Dia juga menjadi enggan memancarkan aura seorang tirani lagi mengingat reaksi Tanya.

Tanya membeku karena cepat sekali dewa tersebut mengganti ekspresinya yang dingin menjadi santai. namun, Dia cepat-cepat menutup dadanya menggunakan tangan saat sadar dengan perkataan itu. Nyatanya dia lupa ada sobekan di sana, ia merasa orang di depannya benar-benar kurang ajar.

"A-aku akan membunuhmu!" Mata Tanya yang masih sembab menatap dewa tersebut dengan marah. Ledakkan amarah itu membuat suaranya sedikit meninggi. "Da-dasar mesum!"

Bab 3

"Tidak ada satupun manusia di bumi ini yang bisa membunuhku. Kau tahu? beberapa saat lalu seekor monster menatapku persis seperti yang kamu lakukan sekarang. Kemudian aku memecahkan kepalanya."

Tanya bergidik ngeri mendengarnya. Tidak seperti laki-laki umum yang memperlakukannya seperti ratu. Lelaki itu bahkan tidak menunjukkan sedikit saja rasa belas kasih.

"Terlepas kamu dewa atau semacamnya. Kamu adalah laki-laki ... dan orang kuat sepertimu harusnya memberi rasa aman untuk gadis kecil sepertiku!" tukas Tanya.

Alih-alih mendengarkan, dewa tersebut malah perlahan mendekatinya.

"Kau! Berhenti di sana!" teriak Tanya, ada kekhawatiran di nada suaranya yang tinggi. "Sudah kubilang seharusnya kamu melindungiku!"

Dewa tersebut berhenti tepat di depannya, mata indah itu lebih indah jika dilihat dari dekat. Dia sempat terpana tetapi dengan cepat menggeleng kecil agar segera sadar.

"Apa untungnya melindungimu?" tanya dewa itu membuka mulut.

"Aku adalah seorang tuan putri. Banyak orang yang ingin menjadi pengawal ku hanya karena ingin selalu melihatku. Dari mereka bahkan ada yang rela bersujud untuk posisi itu."

"Kamu benar-benar anak manja dan tahu caranya membual. Aku akan mencuci ini dan secepatnya mengantarkan kamu keluar dari hutan. Apa itu cukup?" Dia menghampiri pakaian yang tadinya dibuang gadis tersebut. Ada helaan napas kecil ketika dia memulai langkah.

Dada Tanya tidak habis-habisnya dihujam ketika beradu pandang dengannya. Entah itu hasil dari perasaan takut, atau karena lelaki itu terlalu tampan untuk dilihat dengan mata. Dia kembali dapat bernapas dengan normal setelah dewa itu mengambil cukup jarak dengannya.

Tanya mengangguk kecil dan menjawab, "Bisakah kamu mencarikan aku makan? Tubuhku sangat lemah dan tidak bertenaga."

Tanya menunggu jawaban lelaki itu dengan ragu. mau bagaimana pun kini dia memiliki pandangan yang berbeda sekarang. Aura yang sebelumnya dia pancarkan jauh lebih hebat daripada ayahnya–Robert Quinn–selaku pimpinan keluarga cabang yang tinggal di dekat hutan ini.

"Aku sudah bilang bahwa es itu mengambil energi dari tubuh seseorang. Menjauh dari sana dan tunggu aku kembali." Setelah meninggalkan kata-katanya lelaki itu melangkah pergi.

Tanya menjadi lebih fokus pada sekitarnya dan bertanya dalam hati, "Apa es ini benar-benar bisa mengambil energiku? terlepas dewa sifat yang mesum. dewa tersebut sepertinya cukup baik?"

Kemudian Tanya teringat kembali apa yang terjadi. Dia merasa bahwa orang-orang yang mengejarnya sampai ke hutan sudah mendapat karma. Namun, itu hanya sedikit dari mereka yang menyerang keluarganya, Tanya akan mencari sisanya.

Dia akan mencari mereka bahkan jika harus memeriksa sisi terdalam bumi.

Walaupun dirasa mustahil, Tanya berharap ada salah satu dari keluarganya yang bernasib sama sepertinya. Terutama kedua orang tuanya yang begitu ia sayangi. Tanya tidak tahu lagi apakah masih memiliki alasan untuk hidup atau tidak jika mereka berdua telah tiada.

***

Di sebuah rumah, laki-laki kisaran 40 tahunan menatap pedang di hadapannya. Dia tersenyum puas karena sudah berhasil mendapatkan apa yang dia inginkan. Seumur hidupnya ia tidak pernah melihat pedang sebagus itu. Sepertinya legenda tentang kemampuan seorang putri yang menyelamatkan dunia bukan hanya isapan jempol. Sang putri pasti memiliki kemampuan yang luar biasa. Hal tersebut dapat dilihat dari pedang yang dia gunakan saat perang melawan monster ribuan tahun lalu.

Sambil tersenyum pria itu mengelap pedang yang bersinar kebiru-biruan tersebut. Tidak lama setelahnya, seorang pelayan berpakaian jas hitam mengetuk pintu ruangan.

"Masuk!"

Pria yang baru datang itu menunduk hormat kemudian berkata, "Orang-orang yang dikirim oleh pimpinan pembunuh untuk membunuh nona muda Quinn tidak pernah kembali dari hutan malapetaka. Dia bertanya apakah tuan akan membayar mereka lagi untuk mencarinya?"

"Lupakan tentangnya. Hutan tersebut terlalu berbahaya. Tidak ada satupun orang yang pernah masuk terlalu dalam dan bisa pulang membawa nyawanya. Kita sudah menghabiskan banyak uang untuk membayar mereka. Tidak perlu membayar lagi untuk mencari orang dengan persenan tinggi sudah mati."

"Saya mengerti. Saya akan memberitahu mereka sekarang."

Setelah menyelesaikan urusannya pelayan itu undur diri. Dia meninggal tuannya yang memiliki ekspresi cerah di sana.

"Kalau aku bisa menggunakan pedang ini. Tidak sulit bagiku untuk mengambil alih posisi pemimpin di klan. Mungkin saja aku juga tumbuh menjadi kuat dan membuat sepuluh klan paling berpengaruh tunduk," imbuh lelaki itu lalu tertawa terbahak-bahak.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED