Bab 1

Pagi itu, Sephia berdiri di jendela kamar yang menghadap ke taman luas di kediaman keluarga Varela. Angin pagi yang lembut tak mampu menenangkan gelisah di hatinya. Ia menatap jauh, namun pandangannya kosong. Hatinya seolah mengapung, tak tahu harus berpegangan pada apa. Tak ada tempat aman untuknya sekarang.

Semuanya dimulai ketika kecelakaan itu terjadi, hari yang seharusnya biasa-biasa saja berubah menjadi malapetaka. Ibunya yang sedang berjalan kaki tertabrak mobil mewah yang melaju terlalu cepat. Dari laporan polisi, pengemudi mobil itu adalah Elandro Varela, pewaris perusahaan besar, pria yang dikenal karena kekejamannya dalam dunia bisnis. Kecelakaan itu membuat ibunya terbaring koma, dan kondisi fisiknya kini tak bisa lagi seperti dulu.

Namun, bukan hanya kecelakaan yang membuat Sephia terjerat. Tuntutan dari keluarga Varela datang dengan kekuatan yang luar biasa. Mereka menuntut ganti rugi, tapi Elandro tidak sekadar ingin uang. Ia ingin sesuatu yang lebih-pembalasan, sebuah pengajaran.

"Sephia," suara berat itu terdengar dari pintu kamar.

Sephia menoleh, dan melihat sosok yang begitu asing bagi hidupnya. Elandro Varela berdiri di ambang pintu, matanya tajam, menyusuri setiap inci wajahnya seolah tengah menilai sesuatu. "Ibu Anda... akan saya rawat, namun ada satu hal yang harus Anda lakukan."

Sephia menelan ludah, merasakan ketegangan yang mencekam. "Apa yang Anda inginkan dari saya?" Suaranya hampir serak, terhalang rasa takut yang mulai mencengkeram.

Elandro melangkah masuk dengan angkuh, matanya tak beranjak dari Sephia. "Pernikahan ini adalah satu-satunya cara agar saya bisa memastikan ibu Anda mendapatkan perawatan terbaik. Anda akan tinggal bersama saya, merawatnya, dan... menjadi istri saya. Tanpa pengecualian."

Setiap kata yang keluar dari mulut Elandro seperti cambuk yang memukul jantungnya. "Apa?!" Sephia hampir tak percaya dengan apa yang ia dengar.

"Begitulah," Elandro berkata, seolah semuanya sudah direncanakan dengan rapi. "Dan tidak ada tempat untuk penolakan. Jika Anda berani menolak, maka ibu Anda akan kehilangan haknya atas perawatan ini."

Sephia terdiam, seolah kehilangan kata-kata. Tak ada pilihan lain. Ia terperangkap dalam kebisuan dan rasa cemas yang menggulung.

"Apa yang akan Anda lakukan?" Elandro bertanya lagi, seolah menunggu jawaban yang sudah ia duga sebelumnya.

Sephia menatap lelaki itu dengan rasa benci yang mengalir deras dalam dirinya. Ia ingin menolak, mengumpulkan keberanian untuk berontak, namun apa yang bisa ia lakukan? Ibunya membutuhkan perawatan, dan ia terjebak dalam kontrak tak tertulis yang memaksa dirinya menyerah.

"Saya akan melakukannya," jawab Sephia pelan, suaranya hampir hilang oleh beban yang terasa terlalu berat untuk dipikul.

Elandro tersenyum tipis, senyum yang lebih mirip sebuah ancaman daripada kebahagiaan. "Bagus. Maka, kita akan mulai hari ini."

Sephia tahu bahwa hidupnya akan berubah selamanya. Ia bukan hanya terikat pada tanggung jawab merawat ibunya. Kini, ia juga terikat dalam permainan berbahaya yang dimainkan oleh Elandro Varela, dan yang lebih menakutkan, ia tidak tahu apakah ia akan pernah keluar dari permainan ini dengan selamat.

Setelah Elandro pergi, Sephia duduk di tempat tidurnya, menggenggam erat lengan bajunya, berusaha menenangkan diri. Di luar sana, dunia tampak seolah tetap berjalan seperti biasa, namun bagi Sephia, dunia sudah berubah selamanya. Dalam kurungan emas ini, tidak ada yang bisa ia andalkan selain dirinya sendiri.

Apakah ia akan berhasil bertahan? Ataukah semua ini akan menjadi akhir dari segalanya?

Bab 2

Sephia duduk di ruang makan besar yang tampak megah, dengan jendela-jendela tinggi yang menghadap ke halaman belakang rumah mewah milik keluarga Varela. Cahaya matahari sore menembus masuk, menciptakan bayang-bayang lembut di lantai marmer yang dingin. Di depannya, hidangan makan malam telah siap disajikan, namun ia tak tertarik. Semua itu tampak seperti gambaran kehidupan orang lain-bukan miliknya.

Elandro belum kembali, namun Sephia tahu bahwa ia akan segera datang. Wanita yang melayani di rumah ini, bernama Camille, memberinya panduan singkat tentang segala hal yang perlu dilakukan, namun Sephia merasa terasing. Seakan ada jurang yang membentang jauh di antara dirinya dan kehidupan yang terpapar di depan matanya.

Sebelum kejadian itu, ia selalu merasa hidupnya cukup normal. Meskipun sederhana, kehidupannya penuh dengan kebahagiaan yang kecil. Namun sekarang, ia merasa seperti seorang tahanan yang tak tahu kapan akan dibebaskan, atau bahkan apakah kebebasan itu masih mungkin. Semua pilihan tampak hilang, dan yang ada hanyalah kewajiban yang tak terhindarkan.

"Apakah kamu sudah makan, Nona?" tanya Camille, dengan nada suara lembut yang memecah keheningan.

Sephia mengangguk pelan, meski kenyataannya ia sama sekali tidak merasa lapar. "Ya, terima kasih," jawabnya, suaranya lemah dan hampir tidak terdengar.

Camille tersenyum kecil, lalu pergi. Namun langkahnya sempat terhenti di pintu. "Nona, saya tahu ini sulit, tapi percayalah, Anda tidak sendirian di sini." Camille mengangguk singkat sebelum melanjutkan keluar.

Sephia menghela napas panjang, mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Rumah ini begitu megah, namun terasa kosong dan dingin. Setiap sudutnya tampak seperti sebuah pameran kemewahan, tak lebih dari sekadar lapisan yang menutupi kenyataan pahit yang tersembunyi. Ia teringat akan kata-kata Elandro, kata-kata yang mengikat hidupnya pada sebuah takdir yang tidak pernah ia pilih.

Tiba-tiba, suara langkah kaki yang berat terdengar mendekat. Sephia menegang, dan tanpa bisa menahan diri, ia berbalik untuk melihat siapa yang datang.

Elandro berdiri di ambang pintu ruang makan, mengenakan jas hitam yang membuatnya terlihat lebih tinggi dan lebih menakutkan. Wajahnya yang keras, dengan mata tajam yang seolah menembus setiap lapisan emosi, menatapnya tanpa ekspresi.

"Apakah Anda merasa nyaman?" tanyanya, suaranya datar, tidak ada kehangatan di dalamnya.

Sephia menunduk, berusaha menyembunyikan kegelisahannya. "Tidak... belum terbiasa," jawabnya jujur, tanpa berpikir.

Elandro melangkah masuk, mendekat ke meja makan, lalu duduk di ujung yang berlawanan dari tempat Sephia duduk. "Tidak perlu terbiasa. Ini rumah Anda sekarang. Anda tidak punya pilihan selain beradaptasi." Kata-katanya datar, tidak ada nada empati. Semua yang keluar dari mulutnya seperti keputusan yang sudah final, tak dapat diganggu gugat.

Sephia menatapnya dengan tajam, merasa marah dengan sikapnya yang dingin. "Saya hanya... tidak mengerti kenapa saya harus terjebak dalam situasi ini. Ibu saya sudah menderita cukup banyak, dan kini saya dipaksa menjadi bagian dari... semuanya ini." Suaranya hampir pecah, dipenuhi dengan amarah yang tertahan.

Elandro mengangkat alisnya, tidak terpengaruh oleh kemarahan Sephia. "Kamu tidak dipaksa, Sephia. Kamu memilih ini. Keputusanmu yang membuatmu berada di sini. Ingatlah, saya hanya melakukan ini karena ibu Anda membutuhkan perawatan. Jika Anda menginginkan sesuatu lebih baik, maka berikan apa yang saya minta."

Sephia merasa sakit mendengar kata-kata itu, merasa seperti seorang boneka yang hanya diperintah dan dihukum atas kesalahan yang tak seharusnya ia lakukan. Namun, apa yang bisa ia lakukan? Apakah ia bisa melawan, atau hanya terus menjalani kehidupan yang dipaksakan ini?

Elandro menatapnya sebentar, seolah membaca setiap reaksi di wajahnya. "Kamu harus tahu satu hal, Sephia," ujarnya, suaranya rendah dan penuh kekuasaan. "Di sini, saya yang memegang kendali. Kamu harus belajar cara menahan perasaanmu, atau kamu akan tenggelam dalam permainan yang saya buat."

Setiap kata yang diucapkan Elandro terasa seperti beban baru yang harus dihadapi Sephia. Sebuah ancaman, namun disampaikan dengan cara yang begitu tenang dan pasti. Ia tidak bisa melawan, setidaknya tidak sekarang.

"Apakah Anda... tidak merasa sedikit pun bersalah?" tanya Sephia, masih berusaha mencari sedikit keadilan dalam kata-katanya.

Elandro tertawa pelan, namun tawa itu tidak mengandung sedikit pun kehangatan. "Bersalah? Saya hanya melakukan apa yang diperlukan. Terkadang, dalam hidup, kita harus memilih apa yang terbaik untuk kita, meskipun itu berarti membuat orang lain menderita."

Kata-kata itu seperti memukul Sephia di dada. Ia tidak bisa mengerti bagaimana seseorang bisa begitu tidak peduli terhadap orang lain, terutama seseorang yang sudah memberi begitu banyak pada hidupnya. Elandro adalah pria yang tak mengenal belas kasihan. Bahkan, mungkin ia tak tahu apa itu penyesalan.

Malam itu, Sephia terbaring di tempat tidurnya, mata terpejam namun pikirannya masih berputar-putar, berusaha menerima kenyataan yang kini ia hadapi. Tidak ada yang bisa ia lakukan untuk mengubah semuanya. Ia hanya bisa berharap, dengan segala harapan yang tersisa, bahwa suatu hari ia bisa menemukan jalan keluar dari neraka yang baru saja ia masuki.

Namun, entah berapa lama lagi ia akan bertahan. Dalam kurungan ini, ia tak tahu apakah ia bisa tetap utuh.

Bab 3

Malam di rumah keluarga Varela terasa panjang, dan udara dingin meresap ke dalam tubuh Sephia meskipun api unggun di ruang tengah telah menyala. Semua tampak begitu besar, begitu asing, seperti dunia yang tidak pernah ia kenal. Dinding-dindingnya yang tinggi menutupinya seperti penjara yang tak terlihat, menghimpitnya dalam keheningan yang menyesakkan.

Namun, satu hal yang pasti-ia tidak bisa lari. Elandro Varela tahu betul bagaimana membuat seseorang merasa terkurung, bahkan ketika tubuh mereka bebas bergerak. Setiap kali Sephia mencoba melangkah, ada sesuatu yang mengikatnya kembali, seperti bayang-bayang yang mengawasi setiap gerakannya.

Pagi-pagi sekali, sebuah suara menggema di luar kamarnya. "Sephia, cepatlah turun. Ada hal yang perlu dibicarakan," suara Elandro yang berat dan tajam menyeruak ke dalam kamar, memecah keheningan pagi.

Sephia menarik napas dalam-dalam dan menatap bayangan dirinya di kaca cermin. Wajahnya pucat, mata lelah, dan bibirnya hampir tak mampu menyunggingkan senyum. Sebuah kenyataan keras yang harus ia terima-bahwa hidupnya kini sepenuhnya berada di tangan Elandro. Ia merasakan cemas menggelayuti hatinya, namun ia tahu bahwa menunda perintahnya hanya akan memperburuk keadaan.

Dengan langkah berat, Sephia berjalan menuju ruang makan. Di sana, Elandro sudah duduk di meja, tampak seperti raja yang duduk di tahta emasnya. Pemandangan ini begitu kontras dengan dirinya-Sephia yang merasa tak berarti, tak lebih dari sekadar perabot yang harus dipenuhi kewajibannya.

"Silakan duduk," ujar Elandro tanpa menoleh, suaranya dingin dan penuh kontrol. "Ada beberapa hal yang harus kita bahas tentang perawatan ibumu."

Sephia duduk di kursi yang disediakan, berusaha menahan getaran yang menguasai tubuhnya. "Apa yang harus saya lakukan?" tanyanya pelan, merasa seolah-olah ia tak punya pilihan selain menuruti setiap perintahnya.

Elandro akhirnya menatapnya, tatapannya tajam seperti pisau yang siap mengiris. "Saya ingin kamu berhenti berpikir tentang pilihan. Kamu sudah terjebak di sini, dan ini adalah hidupmu sekarang. Ibu kamu akan saya rawat, tapi kamu harus membayar harga untuk itu. Menjadi istri saya, menjalani kehidupan yang saya tentukan untuk kamu. Dan kamu akan mulai belajar bagaimana menjadi bagian dari keluarga Varela."

Sephia merasa hatinya seolah diremukkan oleh kata-kata itu. Menjadi istri Elandro? Meskipun pernikahan ini adalah paksaan, ia tahu betul bahwa dalam pandangan Elandro, itu lebih dari sekadar sebuah kewajiban-itu adalah permainan kekuasaan.

"Apa yang sebenarnya Anda inginkan dariku, Elandro?" Sephia tidak bisa lagi menahan pertanyaannya. Ia merasa begitu terperangkap, begitu tidak berdaya.

Elandro mengangkat alisnya, senyum tipis muncul di wajahnya. "Saya ingin melihat bagaimana kamu berkembang. Saya ingin melihat bagaimana kamu bertahan di dunia yang saya ciptakan untukmu. Hidup tidak akan mudah untuk kamu, Sephia. Tetapi itulah yang membuatnya lebih menarik, bukan?"

Sephia merasa ada kepahitan di dalam kata-katanya. Ia menundukkan kepala, berusaha menahan air mata yang hampir jatuh. "Anda pikir ini permainan, ya? Tapi saya tidak melihat ada yang bisa saya menangkan di sini. Semua ini hanya untuk menghukum saya dan ibu saya."

Elandro tidak menunjukkan tanda-tanda perubahan ekspresi. "Bukan tentang menghukummu. Ini tentang memastikan bahwa kamu memahami tempatmu. Di dunia ini, hanya mereka yang tahu cara bertahan yang bisa memenangkan permainan ini. Dan kamu, Sephia, harus memilih untuk bertahan, atau hancur."

Itu adalah kenyataan yang tak bisa dihindari-Elandro tidak akan membiarkan dirinya kalah. Ia akan terus menggulung Sephia dalam permainan yang tidak seimbang ini, dan ia tahu bahwa, pada akhirnya, hanya salah satu yang akan bertahan. Namun yang lebih mengerikan lagi adalah kenyataan bahwa Sephia tidak tahu apakah ia akan pernah bisa keluar dari perangkap ini.

Hari demi hari, kehidupan di rumah Varela menjadi lebih menekan. Sephia menghabiskan sebagian besar waktunya merawat ibunya, sementara Elandro tetap dengan rutinitasnya yang penuh kekuasaan, tak pernah menunjukkan belas kasihan atau kebaikan. Makan bersama hanya menjadi momen singkat, di mana Elandro akan menginterogasi Sephia tentang apa yang telah dia lakukan, dan memerintahkannya untuk menjalani hidup sesuai dengan aturan yang telah dia tentukan.

Namun, semakin lama, Sephia merasa ada sesuatu yang menggelora di dalam dirinya. Setiap kata dan tindakan Elandro yang penuh kekuasaan itu mulai membangkitkan perasaan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Frustrasi. Kebencian. Keinginan untuk melawan. Meskipun ia tahu bahwa berontak adalah hal yang berbahaya, namun ada api yang membara di dalam dirinya, yang seolah memanggilnya untuk melawan ketidakadilan ini.

Di tengah malam yang sunyi, saat Elandro sudah pergi untuk urusan bisnis, Sephia berdiri di depan jendela kamar, menatap bintang-bintang di langit. Hatinya penuh dengan konflik-di satu sisi, ia ingin bertahan demi ibunya, namun di sisi lain, ia merasa seperti kehilangan dirinya sendiri dalam permainan yang kejam ini. Ia tak bisa terus begini. Ia harus mencari jalan keluar, atau ia akan tenggelam dalam kekuasaan Elandro yang tak kenal ampun.

Namun, sebuah pertanyaan mengganggu pikirannya: apakah ia cukup kuat untuk melawan? Atau akankah ia terus terperangkap dalam neraka yang diciptakan oleh Elandro Varela?

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED