Udara dingin yang menelusup melalui jendela kamar yang terbuka membuat Laura terjaga dari tidur lelapnya. Gadis itu mengerjapkan matanya di kamar remang-remang yang dia tempati. Hal pertama yang dia rasakan ketika membuka mata adalah asing, dia tak merasa familier dengan kamar yang terkesan gelap tersebut. Karena biasanya, dia tidur dengan lampu yang menyala.
Setelah beberapa saat berpikir, akhirnya Laura ingat bahwa semalam dia datang ke pesta anniversary pernikahan sahabat kedua orang tuanya. Laura awalnya berniat untuk pulang karena rasa kantuk yang tak tertahankan, namun dia tak menemukan keberadaan Mama dan Papanya yang tenggelam di kerumunan para tamu yang datang.
Akhirnya, Laura asal memasuki kamar yang terletak di lantai dua. Dan kini, Laura mengerti mengapa kamar yang di tempati kini terasa begitu asing karena memang itu bukan kamarnya. Mengambil ponselnya di samping bantal, Laura melihat ada banyak panggilan masuk dari Mama dan Papanya. Juga pesan yang menanyakan di mana keberadaannya.
“Wah … Mama sama Papa pasti khawatir banget. Mana udah jam empat gini,” gumam gadis itu mulai mengetikkan balasan untuk orang tuanya.
Di tengah kesibukannya itu, tiba-tiba Laura menerima pelukan tiba-tiba dari sampingnya.
“Aaa….“
Terkejut, gadis itu menjerit keras yang membuat seseorang di sebelahnya yang entah datang dari mana berujar kesal.
“Berisik banget!“
“Lepasin! Lo siapa, sih, meluk-meluk gue?“ Laura berteriak histeris seraya mendorong kepala seseorang yang tepat berada di sebelahnya. Gadis itu benar-benar terkejut dan takut. Bagaimana bisa ada orang asing yang tidur di sebelahnya? Yang bahkan, kini memeluknya dengan erat.
Lelaki di sebelah Laura akhirnya terjaga juga. Mereka sama-sama bangun dan duduk. Setelah lelaki misterius itu menyalakan lampu, keduanya melotot ketika melihat satu sama lain.
“Laura?“
“Kavin?“
Keduanya berujar bersamaan. Tampak jelas wajah mereka dipenuhi kebingungan. Terutama Laura, dia menyilangkan tangannya di depan dada ketika melihat Kavin satu ranjang dengannya.
“Lo ngapain gue, Kavin?“ tanya Laura was-was. Dia kenal Kavin, dia adalah anak sahabat kedua orang tuanya sekaligus tuan rumah di sini. Namun, mereka tak seakrab itu untuk tidur bersama. Laura tak salah jika berpikiran bahwa Kavin yang melakukan hal macam-macam terhadapnya.
“Lo ngapain di sini, Laura?“
Bukannya menjawab pertanyaan Laura, Kavin malah balik bertanya. Dia pun tak tahu kenapa bisa Laura berada di sana. Dia melotot ke arah Laura yang juga menatap dirinya penuh rasa tak suka.
“Ya tidur,” balas Laura apa adanya.
“Ya kenapa di sini? Gila lo ya?“ omel Kavin.
“Selamam kamar ini kosong, Kavin. Desainnya juga bukan kamar cowok, gue nggak mikir kalau ini kamar lo,” terang Laura tak ingin Kavin salah menilainya.
“Lancang banget jadi orang. Kal—”
“Ini kayaknya kita salah paham, deh. Tapi, bisa nggak lo pakai baju dulu? Gue risih lihatnya.“
Ucapan Kavin terpotong oleh Laura, dan karenanya dia menunduk dan melihat tubuhnya yang shirtless.
“Tunggu! Kenapa lo nggak pakai baju? Jangan-jang—”
“Nggak usah ngarang! Gue emang gini kalau tidur nggak pakai baju!“ sela Kavin lantas bangkit untuk mencari kausnya yang semalam dia lepas karena gerah.
Sementara Kavin mengambil kausnya, Laura pun mengikat rambutnya yang berantakan. Bersamaan dengan itu, kamar yang mereka tempati terbuka dari luar. Keduanya menoleh dan mendapati seorang wanita berumur tengah menatap mereka dengan wajah terkejut yang menyertai.
“Laura? Kavin? Apa yang kalian lakukan?“
•••
Samira, pelaku utama yang membuka kamar Laura dan Kavin, dan merupakan Nenek dari Kavin yang keberadaannya sangat dihormati di dalam keluarga itu. Setelah memergoki cucu satu-satunya yang kini dia miliki tengah berduaan dengan seorang gadis di dalam kamar, Samira menyeret keduanya untuk menghadap kedua orang tua mereka.
Dan di sini lah kedua remaja itu berada. Di ruang tamu, dihadapkan dengan wajah tak ramah dari lima orang dewasa yang telah memarahi mereka. Laura, gadis itu menunduk ketakutan tanpa berani menatap Mama dan Papanya, Renata dan Hans.
“Kamu nggak tahu aja gimana khawatirnya Mama kamu waktu kamu hilang semalaman, Laura. Kamu udah ngecewain Papa.“ Hans menatap putrinya dengan wajah yang membuat Laura merasa bersalah.
Walaupun begitu, Laura tak bisa tinggal diam dan terima begitu saja disalahkan. Dia harus melawan. “Pa, ini sem—”
“Kamu juga, Vin. Apa yang kamu pikirkan sampai-sampai berbuat kayak gitu sama Laura? Di kamar Karin. Mikir enggak?“ Kali ini Rusdi yang bersuara, selaku Papa dari Kavin. Di sampingnya, Vei, istrinya mencoba untuk menenangkan pria itu.
“Pa! Berapa kali harus kita jelasin? Ini salah paham! Aku nggak tahu kalau ada Laura di kamar itu,” desah Kavin hampir menyerah karena orang tua mereka tak kunjung percaya dengan apa yang mereka katakan.
“Setelah kejadian setahun yang lalu, kamu pikir Oma percaya sama yang kamu katakan?“ Samira berujar penuh dengan nada kekecewaan.
Mendengar itu, Kavin merasa tersinggung. Amarah mulai menghampirinya, dan dia dengan keras mencoba untuk menahannya.
“Ini sama sekali nggak ada hubungannya sama Karin, Oma! Oma nggak usah bahas masalah yang udah lalu!“
“Udah-udah! Semua alasan yang kalian lakukan sama sekali nggak masuk akal. Kalian harus bertanggung jawab atas apa yang telah kalian perbuat,” kata Rusdi.
“Maksud Om gimana?“ Laura meminta penjelasan. Tangannya tak melepas genggamannya pada baju yang Mamanya pakai. Dia sangat takut saat ini dan berharap Mamanya akan membantu.
“Kalian harus menikah.“
Suasana hening setelah itu, Kavin dan Laura sama-sama menoleh ke arah Samira yang baru saja membuka suara. Keduanya terlihat semakin terkejut, lebih tepatnya syok. Apalagi sekarang? Menikah? Di usia mereka ini? Benar-benar gila.
“Nggak mau!“ tolak keduanya bersamaan.
“Kavin … bener apa yang Oma kamu katakan. Kamu harus menikahi putri Om buat bertanggung jawab,” sambung Hans mengundang tatapan tak terima dari Laura.
“Papa! Papa nggak bisa kayak gitu, dong!“ rengek Laura menggoyangkan lengan Papanya. Namun, pria itu tak memedulikan Laura yang sudah hampir menangis.
“Ini nggak bener, Ma, Pa, Om, Tante, Oma! Kita nggak melakukan apapun!“ Kavin memohon kepada Samira.
“Karin dulu juga bilang kayak gitu, Kavin! Nggak ada maling yang ngaku!“ sentak Samira sekali lagi membuat Kavin marah.
“Oma nggak berhak ngomong kayak gitu!“ tekan Kavin kemudian bangkit dan meninggalkan ruangan itu.
Suasana tegang itu bertahan beberapa saat hingga Laura akhirnya juga angkat kaki dari sana. Gadis itu melangkah ke arah Kavin pergi tadi. Gadis itu berpikir tak mungkin untuk mereka melawan kehendak orang tua.
Dia, bersama-sama dengan Kavin harus memiliki rencana untuk menghadapi bencana ini. Mau tak mau, suka tidak suka, dia dan Kavin harus bekerja sama agar mimpi buruk ini tak akan menjadi nyata.
Setelah kedua anak manusia itu dengan teganya dipaksa untuk menikah, kesialan seakan terus mengikuti mereka. Bagaimana tidak? Dua hari yang lalu, mereka telah melangsungkan pernikahan privat yang mana hanya dihadiri oleh keluarga mereka. Kemudian, hari ini Kavin dan Laura diusir dari rumah mereka masing-masing. Mereka dilarang keras tinggal di rumah mewah kedua orang tua mereka.
Sebagai gantinya, Papa Kavin memberikan apartemen mewah yang katanya adalah hadiah pernikahan mereka. Keduanya sama sekali tak bisa menolak. Kehidupan baru mereka dimulai hari ini, di apartemen ini. YANG SIALNYA LAGI WALAUPUN MEWAH HANYA MEMILIKI SATU KAMAR.
“Ini Papa lo kayaknya udah tahu rencana kita mau pisah kamar, deh.“
Laura menghentikan langkahnya di ruang tamu, matanya menelusuri ruangan yang terdapat banyak perabot mewah itu. Tampak jelas oleh mata Laura bahwa barang-barang di sana sangat berkelas. Tak heran, keluarga Kavin kaya raya.
“Syukurin aja udah dikasih apart kayak gini, dari pada disuruh ngontrak,” cibir Kavin tak mengindahkan Laura dan lebih memilih untuk langsung masuk ke kamar berukuran 6x6 meter itu, cukup luas untuk ditinggali berdua. Itu belum termasuk kamar mandi dan walk in closet yang turut ada di dalamnya.
“Tapi janji, ya, Vin, kita bakal cerai setelah lulus sekolah. Gue nggak mau jadi istri lo terus! Gue mau kuliah di Harvard! Pokoknya gue mau ke luar negeri setelah lulus!“ Laura kembali mengingatkan perjanjian yang mereka buat sebelum menikah.
“Iya, bawel! Gue juga nggak mau lama-lama jadi suami lo!“
“Ya udah! Gue capek banget, mau istirahat.“ Laura menghempaskan tubuhnya ke sofa di ruang tamu. Koper yang sebelumnya dia bawa hanya dia letakkan begitu saja di samping sofa. Alih-alih mengikuti Kavin ke kamar, Laura memilih untuk istirahat di sana.
Dua jam berlalu, Kavin keluar dari kamar dan langsung menghela napas kasar ketika melihat Laura yang tidur di sofa dengan televisi yang menyala. Kavin tak apa-apa jika Laura hanya tidur selayaknya orang nomal. Namun, gadis itu? Sama sekali tidak normal. Posisinya SANGAT TIDAK ANGGUN. Dengan kaki terangkat ke sandaran sofa dan kepala yang hampir menyentuh lantai.
"Nyusahin banget nih cewek," gerutu Kavin takjub melihat tingkah Laura.
Pemuda itu berjalan ke arah televisi dan mematikannya, kemudian menghadap Laura yang sedang menikmati tidur manisnya.
"Laura, bangun!" ucap Kavin menarik kaki Laura yang naik ke sandaran sofa secara kasar.
Namun, tak ada reaksi apapun yang ditunjukkan oleh Laura, gadis itu tidak terpengaruh oleh tarikan Kavin di kakinya yang tidak bisa dibilang pelan. Kavin mengumpat di dalam hatinya. Benarkah Laura tertidur? Dia tidak mati, kan?
"Woi, Ra! Jangan tidur di sini, ah!" teriak Kavin di depan telinga Laura.
Lagi-lagi tak ada respon, tangan Kavin menyentuh bawah telinga Laura dan pergelangan tangannya. Dia mencoba mengecek denyut nadi gadis itu. Tak ada yang aneh, masih berdenyut seperti biasa. Laura masih hidup.
"Ra!" Kavin menggoyangkan bahu Laura, untuk kemudian menyerah.
Dia mengetahui fakta baru sekarang, gadis itu ketika tidur selayaknya orang mati. Sekalipun ada gempa, Kavin yakin seratus persen bahwa dia tak akan terbangun.
Menyerah, Kavin melangkah memasuki kamarnya, berusaha berpikir masa bodoh dengan keadaan Laura sekarang. Toh, gadis itu tak keberatan. Bukan salah Kavin juga, dia tak menyuruh gadis itu untuk tidur di sana.
"Punya bini satu saja nggak beres," keluh Kavin membaringkan tubuh atletisnya ke ranjang empuk di kamarnya.
Matanya terpejam, berusaha menghantarkan dirinya ke alam mimpi. Namun, belum genap satu menit dia memejamkan mata, entah mengapa dia khawatir dengan Laura. Ada perasaan tak tega singgah di hatinya.
Akhirnya, Kavin kembali bangkit dan menghampiri Laura. Menggendong Laura untuk dia pindahkan ke dalam kamar. Kavin menyelimuti Laura kemudian duduk di sofa yang berada di kamarnya. Pemuda itu bersandar pada sofa sambil memejamkan matanya.
“Buset, gue nggak nyangka kalau lo seperhatian itu sama gue.“
Celetukan dari Laura membuat Kavin membuka mata. Pemuda itu pun memelotkan matanya tatkala di atas kasur, Laura sudah duduk bersila sembari memeluk guling dan menatapnya. Jangan lupakan senyum lebar menjengkelkan yang gadis itu tunjukkan.
“Lo pura-pura tidur?“ Kavin bertanya kesal.
Gadis itu menggeleng. “Enak aja! Gue tuh beneran tidur. Cuma kebangun aja pas lo gendong tadi,” jelasnya menyengir tanpa ada rasa bersalah sedikitpun.
“Emang bener-bener nggak waras lo.“ Kavin memaki. Tangannya mengambil ponsel di saku kemeja yang dia kenakan, tak memedulikan Laura yang membuatnya kesal.
“Kavin,” panggil gadis itu setelah beberapa saat terdiam.
Panggilan Laura mengalihkan perhatian Kavin. Pemuda itu mendongak untuk menatap Laura yang kini melihatnya dengan tatapan aneh.
"Kenapa?"
Laura memegangi perutnya, lalu meringis ke arah Kavin. "Laper."
"Terus?" tanya Kavin dengan wajah datar, kenapa dia tidak peka juga?
"Kavin! Gue ini istri lo! Nggak tanggung jawab banget jadi suami! Lo mau gue aduin ke Mama?"
Laura bangkit dan melemparkan bantal ke Kavin. Lalu, dia menghentakkan kakinya pertanda kesal, dan keluar dari kamar seraya membanting pintu. Kakinya melangkah ke dapur, mencoba mencari apapun yang bisa dia makan.
Kavin menghela napas kasar, berpikir dosa apa yang pernah dia lakukan sampai mendapat istri sejenis Laura. Tak membiarkan Laura yang mungkin akan mengacau di luar, Kavin akhirnya menyusul Laura. Gadis itu terlihat duduk di sofa ruang tamu, sedang mengotak-atik ponselnya.
"Lo telfon siapa?"
Laura mendengkus menatap Kavin. Dia berbaring di sofa tanpa mengindahkan pertanyaan Kavin. Melihat nomor yang sama lalu menghubunginya lagi.
"Gue tanya, lo telfon siapa?"
Suara Kavin terdengar lagi. Dia berjalan ke arah Laura dan duduk di single sofa yang berseberangan dengan istrinya itu. Laura melirik Kavin dengan malas.
"Kepo lo. Bukan urusan lo juga," jawab Laura tak acuh. Kavin menghela napas kasar, dia kesal dengan gadis itu.
"Gue suami lo kalau lo lupa. Gue berhak atas lo." Kavin merebut ponsel Laura secara paksa dan mengotak-atiknya. Mengecek panggilan terakhir yang Laura lakukan.
"Lo barusan telfon Mama sama Papa lo?" Kavin menatap Laura tak percaya.
“Kalau iya kenapa, sih? Ribet banget!“ cibir Laura merebut kembali ponselnya.
"Laura, mikirlah! Kalau lo laper terus telfon mereka, gimana citra gue di hadapan mertua? Gue pasti dicap suami yang nggak bertanggung ja—"
"Berisik banget sumpah! Kalau nggak mau dipandang jelek sama Mama Papa gue ya ayo kita cari makan! Gue laper banget, Kavin! Laper laper laper!" potongnya merengek-rengek persis seperti anak kecil.
Kavin menghela napasnya, dia gemas sekali dengan Laura sampai-sampai ingin menenggelamkannya ke laut. Kenapa gadis itu begitu ribet dan mengesalkan?
"Kalau lo nggak mau keluar beli makan, gue bakal bilang ke Papa lo kalau lo nelantarin gue, nggak ngasih gue makan, terus ...."
Kavin tak memedulikan celotehan Laura, dia menarik tangan Laura untuk berdiri. Laura bingung dengan tindakan Kavin, dia pun menarik kembali tangannya dan menatap Kavin heran.
“Mau ke mana, sih? Kan udah janji nggak boleh sentuh-sentuh kalau udah nikah!“
Kavin membalikkan badannya, tatapan tajam dia berikan ke gadis yang menurutnya sangat merepotkan itu.
“Katanya lo laper. Gue mau cari makan,” jelasnya kemudian.
Ucapan Kavin pun mengundang senyum lebar Laura. “Asik, ayo, Vin! Gue udah laper banget nget nget!“ heboh Laura.
“Nggak, nggak jadi. Lo aneh banget jadi cewek.“ Kavin kembali duduk ke sofa.
“Ah, ayo! Pokoknya ayo ayo ayo! Gue pengin jajan banyak-banyak!“
“Lo mau makan apa?“ Kavin melontarkan pertanyaan itu begitu mereka keluar dari apartemen.
Tepatnya, kini mereka tengah berada di dalam mobil yang membelah jalanan ibu kota. Pemuda itu menoleh sekilas ke arah Laura yang tengah sibuk dengan ponselnya. Juga permen karet yang menyibukkan mulutnya.
“Cari mi ayam kalau nggak bakso kayaknya enak, deh. Dingin-dingin gini cocok,” balas Laura tetap fokus ke ponselnya.
Gadis itu tak memiliki maksud apa-apa dengan jawabannya. Namun, Kavin yang fokus menyetir malah mengernyitkan dahinya, menatap Laura sekilas.
“Lo ngode gue?“ tanyanya mengundang tatapan bingung Laura. Gadis itu terlihat tak mengerti. Kavin sangat membingungkan menurutnya.
“Maksud lo?“
“Tadi lo bilang kalau dingin. Itu kode biar gue meluk lo, kan?“ balasnya penuh percaya diri.
Laura menghentikan kunyahan permen karetnya. Matanya melotot lebar ke arah Kavin yang entah dari mana memiliki tingkat kepercayaan diri setinggi itu.
“Lo gila? Mana ada gue mau dipeluk-peluk sama lo!“ hardiknya bersedekap dada.
Kavin terkekeh kecil, mengundang lirikan tajam Laura, lagi.
“Pasti lo yang mau modus meluk-meluk gue, iyuhhh,” lanjutnya berakting ingin muntah.
Melihatnya, Kavin gemas sendiri. Menggoda Laura ternyata sangat mengasyikkan.
“Gue nggak pernah ada niat kayak gitu, Ra. Tapi misal lo mau, gue ya ayo aja. Dada gue tersedia buat lo bersadar.“
“Plis, ya, Vin! Plis banget, jangan kayak jamet goda sana goda sini! Jijik aku mas!“ pinta Laura mendramatisir keadaan.
“Udah lah, nggak asik banget lo,” cibirnya tak mendapat sahutan dari Laura.
Kavin pun akhirnya tak lagi bersuara ketika Laura hanya diam, dia mengendarai mobilnya dengan tenang. Jalanan agak lenggang malam ini, membuatnya tak perlu emosi untuk menghadapi macet.
"Beli bakso di deket perpus daerah aja, Vin. Gue pernah nyoba enak, kok."
Kavin mengangguk mendengarkan ucapan Laura. Sampai mereka akhirnya sampai di tempat yang Laura maksud, Kavin menatap gadis itu.
“Ayo!“ ajaknya membuka seat belt.
"Gue tunggu di sini aja, rame banget. Enakan makan di rumah,” tolaknya menatap kedai yang begitu ramai dijejali banyak pembeli.
“Ya udah, tunggu sini!“ Kavin langsung turun dan menuruti perintah Laura. Tanpa sepatah kata pun.
•••
Laura membuka matanya saat merasakan beban berat di dada dan perutnya. Gadis manis itu menunduk, dia cukup terkejut saat mendapati Kavin yang tidur dengan memeluknya. Ditambah lagi Kavin berbantalan pada dadanyam Membuat dirinya seolah guling.
"Kavinn!!“
Pemuda itu sontak membuka mata. Dia terkejut bukan main dan bangkit. Matanya menyorot tajam ke Laura. Telinganya di gosok kencang. Ingin rasanya dia mengumpat Laura yang telah mengganggu tidur manisnya.
“Laura, lo apa-apaan, sih? Kuping gue sakit banget,” gerutunya sangat kesal.
Keduanya memasang ekspresi wajah yang sama. Sama-sama ingin memaki satu sama lain. Laura pun mengikuti Kavin bangkit dan mereka kini duduk saling berhadapan. Tatapannya tak kalah tajam dengan Kavin.
“Siapa suruh lo lecehin gue, Kavin? Kurang ajar banget lo jadi cowok. Gue masih suci, ya, kalau lo nggak tahu,” omel Laura menggebu-gebu, dengan kedua tangan yang dia silangkan di depan dada.
Gadis itu mencebikkan bibirnya, yang entah mengapa terlihat menggemaskan di mata Kavin. Pemuda itu menyeringa, lantas mendekati Laura dan menyentuh kedua bahunya.
Dia berbisik pelan tepat di depan telinga Laura. “Laura Sayang, denger, ya! Gue suami lo, lo istri gue. Kalau gue mau ngapa-ngapain lo boleh aja, itu nggak pelecehan namanya.“
Menyeramkan. Ucapan Kavin terdengar sangat menyeramkan di telinga Laura. Gadis itu mendorong Kavin kuat, lalu memundurkan tubuhnya sampai menyentuh kepala ranjang.
“Kavin! Mesum banget jadi cowok! Kita kan udah janji nggak bakal ngapa-ngapain! Gue bakal laporin lo ke Komnas Perlindungan Anak! Nanti mampus lo membusuk di penjara,” teriaknya dengan menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Mengantisipasi apa yang akan dilakukan Kavin selanjutnya.
Mendengar itu, Kavin tertawa.
"Lo udah tante-tante gitu, ngadunya nggak ke Komnas Perlindungan Anak, bodoh!“
“Suka-suka gue lah! Minggir sana, jangan deket-deket gue!“ Lagi, Laura berteriak.
Kavin tersenyum puas melihat wajah cemas Laura, dia berbaring lagi dan menutup matanya. Selimutnya juga dia tarik sampai menutupi wajahnya.
“Nggak usah kegeeran! Gue nggak nafsu sama tubuh rata depan belakang lo,” hinanya terasa jlen di hati Laura.
"Kavin ngeselin banget! Ini juga termasuk pelecehan verbal! Pokoknya bakal gue aduin ke Kak Seto!“ marahnya sambil berdiri dan menarik selimut yang Kavin kenakan.
Sepersekian detik setelahnya, dia menyesal telah melakukan hal itu. Dia baru sadar jika sejak tadi Kavin tak memakai bajujya. Jadilah kini dia melihat tubuh atletisnya yang topless. Tiba-tiba pipinya panas, Laura merasakan hal berbeda ketika melihat perut kotak-kotak suaminya.
“Lihat apa lo sampai tersipu-sipu kayak gitu, Laura? Sekarang terbukti yang mesum siapa, kan? Gue aduin Mama lo kalau otak lo kotor, ya!“
“Ih, Kavin apaan, sih?“
Laura berlari ke kamar mandi. Sumpah demi apapun, dia sangat malu. Kenapa Kavin selalu menggodanya seperti ini? Ah, mau ditaruh di mana wajahnya? Pemuda itu benar-benar menyebalkan.
Sementara itu, Kavin hanya tertawa kecil. Tingkah kekanakan Laura benar-benar menghiburnya. “So cute.“
Laura cukup lama berada di dalam kamar mandi. Kavin yang sempat tertidur lagi tadi ingin sekali menendang pintu kamar mandi yang memuat Laura di dalamnya. Kavin sangat kesal karena harus menunggu terlalu lama.
"Ra, lo nggak mati, kan? Lama banget, deh, buset! Gue juga mau berendam!“
Kavin tak mendapati sahutan padahal dia sudah menggedor-gedor pintu sejak tadi. Dugaan-dugaan tak masuk nalar mulai menjalari otaknya. Bagaimana jika Laura pingsan? Atau lebih parahnya lagi mati? Bisa dihajar habis-habisan dia oleh orang tuanya jika terjadi apa-apa kepada Laura.
Setelah beberapa lama, Kavin menghela napas lega saat pintu di depannya terbuka. Namun, dia heran saat melihat Laura masih saja memakai baju tidur yang dikenakannya semalam. Lalu, ngapain Laura dari tadi?
"Lo ngapain dari tadi kalau nggak mandi? Minggir, gue mau masuk!"
Kavin menarik tangan Laura yang masih setia berdiri di depan pintu, namun Laura membuat dirinya beku. Laura mendongak menatap Kavin, mata Kavin terbelalak saat melihat mata Laura yang merah. Gadis itu baru saja menangis, hidungnya memerah dan bekas air mata masih tertinggal di pipi tembamnya. Kavin jadi berpikir lagi, apa yang Laura tangisi?
"Lo kenapa?" tanya Kavin akhirnya, kekesalannya menguap begitu saja saat melihat Laura menangis.
"Vin, gue jadi astronot," gumam Laura pelan, Kavin menautkan alisnya tak mengerti. Apa yang gadis ini bicarakan?
"Apaan, sih? Yang jelas, bego!"
"Nggak peka banget, sih," dengkus Laura menatap Kavin dengan kesal.
"Gue nggak tahu, bicara yang jelas!“
"Gue dateng bulan," ucap Laura akhirnya, sungguh dia malu sekarang. Mau ditaruh di mana mukanya sekarang? Tenggelamkan Laura sekarang juga!
"Maksudnya?" tanya Kavin masih belum paham dengan apa yang disampaikan Laura.
"Gue nggak bawa pembalut." Kavin membulatkan matanya. Dia paham sekarang.
"Maksud lo, gue disuruh beliin lo pembalut?" Laura mengangguk dengan pelan, Kavin menepuk dahinya. Yang benar saja.
"Nggak ya, Ra! Apa kata orang nanti?"
"Terus gue gimana, Vin? Nanti keburu telat sekolahnya," gumam Laura menatap Kavin yang kini terlihat frustrasi. Kavin mengangguk pasrah, dia berjalan ke arah lemari dan mengambil jaketnya.
"Lo kirimin yang jenisnya gimana, gue beliin di depan," ucap Kavin sebelum keluar dari kamar.