Bab 2

Tiba-tiba dia mendengar suara perempuan menangis di dalam toilet. 

Ranti mencoba mendengarkan. 

"Udah, cowok bajingan kayak gitu ga usah lo tangisin ga pantes," ucap suara salah satu perempuan dalam toilet. 

"Gue ga nyangka aja dia tega sama gue. Dia ninggalin gue gitu aja, padahal gue udah berkorban banyak buat dia, hiks hiks hiks …," ucap seorang perempuan yang menangis. 

Ranti lagi-lagi menghela napasnya, dan menunjukkan ekspresi wajah malasnya. 

Lalu tiba-tiba terdengar pintu toilet dibuka, dan kedua gadis yang berada di dalam toilet itu pun keluar. Lalu Ranti pun ikut keluar dari toilet. 

Gadis itu masih menangis. 

"Udah, mending sekarang kita ke kantin kita makan, lo belum makan kan. Kalo lo terus-terusan nangis kayak gini yang ada lo malah sakit," ucap seorang perempuan yang menjadi temannya. 

"Ehh, lo ngapain sih buang-buang air mata lo cuma buat nangisin cowok kayak gitu. Pake ga mau makan segala lagi," ucap Ranti tanpa basa-basi. 

"Lo apaan sih, Ran. Ga usah ikut campur deh sama urusan orang," ujar  gadis yang menangis itu. 

"Gue bukannya mau ikut campur, gue cuma ngingetin lo aja kalo lo buang-buang waktu nangisin cowok kayak gitu. Gue kasih tau ya, di luar sana itu banyak cowok-cowok yang lebih baik, lo ga usah lah pake nangis-nangis kayak gini segala," ujar Ranti. 

"Lo ga ngerti, Ran, karena lo ga pernah ada diposisi gue. Lo ga pernah kan disakitin sama cowok? Selama ini cowok-cowok kan yang sering ngejar lo," tutur teman kampus Ranti yang masih menangis. 

"Iya Ran, lo sih enak dikejar-kejar terus sama cowok-cowok," ucap teman yang satunya. 

"Lahh enak dari mana, yang ada gue keganggu kali. Gue juga ga minta tuh cowok-cowok itu ngejar-ngejar gue," ujar Ranti. 

"Yaudah deh mending kita keluar aja, dari pada di sini terus," ucap temannya. 

Kedua gadis itu pun pergi dari toilet, meninggalkan Ranti yang masih berdiri. Lalu tiba-tiba Siska masuk ke toilet lalu melihat teman kampusnya yang keluar dalam keadaan sedih. 

"Ran, lo di sini ternyata gue cari cariin. Ehh itu kenapa kayak abis nangis gitu?" tanya Siska. 

"Galau," jawab Ranti singkat. 

"Galau? Galau kenapa?" tanya Siska. 

"Ya gara-gara cowok lah, apalagi," jawab Ranti. 

"Lo ngapain jadi ke sini sih? Bukannya tadi lo bilang mau ke kantin?" tanya Siska. 

"Gue males ah, gue mau makan di luar aja," ucap Ranti 

"Lo kenapa sih? Lo tadi ngehindar kan, dari Rama?" tanya Siska. 

"Elo tuh ya, udah tau pake nanya," ucap Ranti. 

"Lo kenapa sih, Ran? Padahal. Rama itu cowok baik-baik loh," ucap Siska. 

"Ehh gue ga pernah bilang yah, kalo Rama itu bukan cowok baik-baik," ujar Ranti. 

"Terus kenapa lo ngehindarin dia terus? Rama kan cuma ngajak ngobrol doang, terus tadi kayaknya mau ngajak makan bareng, lagian kan lumayan kita bisa makan gratis, iya ga?" ucap Siska sambil mengangkat alisnya. 

"Aduh, Ka. Gue tuh ga suka yah manfaatin orang kayak gitu, kasihan apalagi cuma soal makan doang," ucap Ranti. 

"Tapi kan mereka yang ngajak, Ran, bukan kita yang minta kan?" tanya siska. 

"Ya sama aja. Kalo kita setuju sama aja manfaatin juga. Lagian gue ga mau ngasih harapan apa pun," ucap Ranti. 

"Jadi dari sekian cowok di kampus yang ngejar-ngejar lo, ga ada yang lo suka gitu?" tanya Siska. 

Ranti pun menoleh dan menatap Siska. 

"Ga ada," ucap Ranti singkat. 

"Ga ada, karena lo sukanya sama gue," ucap Siska sekenanya 

Ranti mengeryitkan dahinya dan berdesis. 

"Ga jelas tau ga lo," ucap Ranti dan langsung pergi meninggalkan Siska. 

"Ehh Ran …," ucap Siska lalu menyusul Ranti. 

"Ran, tungguin gue," ucap Siska. 

"Apalagi sih lo. Lo kalo mau bahas soal cowok lagi, engga deh," ucap Ranti langsung berjalan. 

"Ngga ngga gue ga bakal bahas cowok lagi. Gue cuma mau ikut lo, lo mau makan kan?" tanya Siska. 

"Ya tapi gue mau makan di luar kampus," jawab Ranti. 

"Yaudah gue ikut," ucap Siska. 

Ranti pun langsung berjalan, lalu disusul oleh Siska. 

Sementara itu. Soraya masih di dalam kamarnya, lalu Soraya pun menelpon seseorang.

"Halo, Om," ucap Soraya.

"Iya, ada apa?" tanya laki-laki di sebrang sana.

Soraya menghela napasnya dengan kasar.

"Om, aku ga tau lagi nih cara buat ngedeketin Reno. Aku udah berusaha ngehubungin dia, ngajak dia makan tapi tetep aja Reno ga mau, kayaknya dia masih sakit hati karena dulu aku pernah ngekhianatin dia," ucap Soraya.

"Kamu tenang aja, Om juga akan terus berusaha ngebujuk Reno biar dia mau balikan sama kamu. Yang penting sekarang kamu yakinin Reno kalo kamu bener-bener sudah berubah dan tulus sayang sama Reno. Kamu juga ga perlu terlalu memaksa Reno, kasih kebebasan sama Reno. Setelah itu kamu pikirin gimana caranya supaya Reno bisa suka lagi sama kamu," ucap seorang laki-laki paruh baya yang sedang bermain biliard.

"Tapi gimana caranya, Om, bikin Reno suka lagi sama aku?" tanya Soraya.

"Kamu bisa memakai trik pas kamu pertama kali bertemu Reno di Jerman. Kamu juga bisa manfaatin momen kamu dan Reno pacaran dulu agar Reno bisa mengingat kembali kenangannya sama kamu. Dan kamu juga tau kan, bagaimana sifat Reno. Om yakin kamu tau gimana caranya ngedeketin Reno, dan bikin Reno balik lagi sama kamu," ujar laki-laki itu di telepon.

Soraya pun langsung berpikir, matanya tajam mengarah ke jendela kamarnya.

"Oke, Om, aku akan berusaha ngerebut hati Reno lagi. Om liat aja, Reno akan jatuh ke tangan aku lagi," ucap Soraya dengan mata yang penuh dengan keyakinan.

"Bagus, om tunggu hasilnya. Bye, Sayang," ucap laki-laki tersebut.

"Bye, Om," ucap Soraya dengan senyum sinisnya lalu mematikan sambungannya.

Bab 3

Tok tok tok. suara pintu diketuk 

"Masuk," ucap Reno. 

Reno yang sedang sibuk bekerja dengan berkas dan laptop didepannya. 

"Hai, Ren, kamu lagi sibuk yah?" tanya laki-laki paruh baya yang bernama David dan berstatus sebagai paman Reno. 

"Ehh Om, ngga kok Om cuma lagi ngecek laporan karyawan aja. Ada apa, Om?" tanya Reno. 

David berjalan dan duduk di sofa yang ada di ruangan Reno. 

"Ga penting sih, cuma mau ngajak kamu ngobrol aja," jawab David. 

"Ngobrol soal apa, Om?" tanya Reno dan berdiri. 

Reno pun lalu berjalan menghampiri David dan duduk di sofa dengan posisi berhadapan dengan David. 

"Sebetulnya Om agak kecewa sama kamu Ren, soal kamu memutuskan untuk pindah dan memilih untuk hidup sendiri. Tapi setelah Om pikir pikir lagi ya mungkin itu ada baiknya buat kamu. Kamu jadi bisa belajar hidup mandiri, oh iya, kemarin lusa Sonia pulang ke Indonesia dan dia nanyain kamu. Katanya kenapa kamu pindah ga ngasih tau dia, dan sayangnya dia juga ga bisa ketemu kamu Ren, padahal Sonia bilang, dia kangen banget sama kamu," ucap David. 

"Sonia pulang Om? Kok dia ga ngabarin aku?" tanya Reno. 

"Iya. Kemarin lusa itu Sonia pulang katanya sih cuma sebentar, dan tadinya juga Sonia mau ke tempat kamu tapi mendadak Sonia dapat kabar kalo dia harus balik lagi ke Jerman. Jadi, kemarin dia langsung balik ke Jerman," jawab David. 

"Oh gitu, nanti kalo Sonia pulang ke Indonesia lagi aku akan temuin Sonia Om," ucap Reno. 

"Oh iya Ren. Om cuma mau ingetin kamu aja, kamu jangan terlalu sibuk kerja kamu juga harus pikirin masalah jodoh, om denger kamu selalu menolak Soraya kalau Soraya ngajak ketemu, kenapa Ren?" tanya David. 

Reno meresponnya dengan senyuman. 

"Bukan gitu Om, ya Om bisa liat sendiri gimana kerjaan aku, dan kebetulan sekarang juga aku ada rapat om jadi kemungkinan tidak bisa kemana-mana," jawab Reno. 

"Nah itu dia masalahnya. Tadi kan Om sudah bilang kamu jangan terlalu sibuk sama pekerjaan, kalo urusan pekerjaan kan bisa kamu serahin ke bawahin kamu, dan kamu tinggal nunggu laporannya," ucap David. 

Lagi-lagi Reno merespon dengan tersenyum. 

"Om kan tau kalo aku ini masih baru di perusahaan, jadi perlu banyak belajar. Dan kalo untuk urusan jodoh ya mungkin nanti akan ada waktunya Om," ujar Reno. 

Kini David yang merespon dengan senyuman. 

"Ren, Ren. Kamu aja menghabiskan waktu kamu di kantor dan bekerja, gimana caranya kamu bisa mendapatkan jodoh?" tanya David. 

"Nanti mungkin akan aku urus Om untuk waktunya, tapi untuk sekarang ini aku mau fokus ke pekerjaan aku dulu," ucap Reno. 

"Seharusnya kamu tidak perlu banyak waktu untuk menemukan pasangan Ren, karena diluar sana juga banyak gadis-gadis yang mengejar kamu, dan kamu tinggal pilih salah satu dari mereka dan meluangkan sedikit waktu kamu untuk mereka, tapi menurut om Soraya lebih cocok sama kamu Ren," ucap David. 

Lagi-lagi Reno tersenyum. 

"Cocok aja belum cukup Om," tutur Reno dan sedikit tersenyum namun menundukan kepalanya. 

"Ya Om tau, Soraya dulu mungkin pernah menyakiti hati kamu Ren. Tapi sekarang, Om liat Soraya sepertinya beneran tulus sama kamu, dan sudah berubah. Apa kamu ga mau, ngasih kesempatan kedua untuk Soraya?" tanya David. 

"Semenjak aku putus dengan Soraya aku memutuskan untuk melupakan Soraya. Dan sekarang perasaan itu sudah tidak ada Om, dan sekarang aku memilih untuk fokus pada perusahaan," jawab Reno. 

David menghela napasnya. 

"Ternyata susah juga ngebujuk Reno. Sialan, sepertinya aku harus memakai cara lain" ucap David dalam hatinya. 

David dan Soraya bekerja sama agar Reno mau menikahi Soraya. 

"Ya sudah, Om paham gimana perasaan kamu. Tapi yang terpenting kamu juga harus memikirkan masa depan kamu Ren," ucap David sambil menepuk pundak Reno. 

"Iya Om, sebelumnya terima kasih ya Om sudah mau mampir ke sini," ucap Reno. 

"Iya sama-sama Ren. Om juga sekalian mau lihat perkembangan kantor kamu ini, ya sudah kalo gitu Om permisi dulu yah, kebetulan Om juga ada urusan lain," ujar David 

"Iya Om, hati-hati ya Om," ucap Reno. 

"Ya," ucap David. 

David lalu berjalan dan keluar dari ruangan Reno. sementara Reno menatap punggung David yang keluar dari ruangannya. 

Reno menghela napasnya dan menyandarkan tubuhnya di sofa. 

***

Ranti baru saja memasuki kamarnya, Ranti melemparkan tasnya ke kasurnya, dan juga langsung merebahkan tubuhnya. 

"Hmm, capek banget rasanya," keluh Ranti. 

"Ya ampun udah jam segini lagi, gue kan ada sift sore hari ini," ucap Ranti melihat jam tangannya. 

Ranti memejamkan matanya, rasa lelah terlihat diwajah Ranti. Lalu jam weker Ranti berbunyi, Ranti langsung membuka matanya. 

"Yaelah, perasaan baru aja gue rebahan udah bunyi aja itu jam. Hmm, enak kali ya jadi orang kaya yang banyak duit, ga perlu capek-capek keluar buat kerja banting tulang cuma buat makan," keluh Ranti. 

"Engga ngga ngga, gue ga boleh ngeluh," ucap Ranti dan bangun seketika. 

"Gue harus bersyukur, diluar sana masih banyak orang yang hidupnya lebih sulit dari gue. Inget Ran inget, lo harus banyak bersyukur. Lo juga bukan cewek lemah yang gampang putus asa, yang gampang ngeluh, lo kuat Ran lo ga boleh ngeluh kayak gini, lo harus semangat," ucap Ranti 

Ranti bangun dan bersiap untuk berganti pakaian.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED