Silvia Gauri melarikan diri dari pernikahannya! Berita tentang pernikahan itu sudah menimbulkan kehebohan tersendiri di masyarakat. Di mana-mana orang-orang membicarakannya. Seperti yang digambarkan oleh media, pernikahan itu seharusnya menjadi yang terbesar abad ini. Namun sayang sekali, sekarang mungkin hanya akan menjadi lelucon belaka! Orang-orang tidak akan henti-hentinya membicarakan pernikahan yang ditinggal kabur pengantin wanitanya.
Esther Yuri menatap dirinya yang terpantul di dalam cermin. Bayangan dirinya balas menatapnya, seolah-olah sedang mengejek dirinya yang sedang dipermainkan oleh nasib. Dengan kesal, dia mendekati gaun pengantin yang tergeletak di lantai. Tanpa ampun, diinjaknya keras-keras gaun itu sambil berpikir, 'Mengapa? Mengapa aku yang harus membereskan kekacauan yang dibuat oleh Silvia?'
"Lanjutkan saja!" Tiba-tiba sebuah suara mengejutkannya. "Kalau kau masih marah, ada sepuluh gaun lagi yang bisa kau injak!" Esther menoleh. tidak jauh darinya, dia melihat ibunya, Hanna Yuri, berdiri tegak sambil menatapnya dengan tajam.
Esther terhenyak. Dia berdiri mematung. Pikirannya bekerja keras mempertimbangkan dua hal yang berlawanan. Lalu, diam-diam dia mengambil napas dalam-dalam sebelum akhirnya berkata, "Aku sangat membutuhkan uang untuk membayar biaya pengobatan Nenek. Kalau kau bisa membantuku, lakukan sekarang juga, dan akan kulakukan yang kau minta. Aku akan menikahi Rudy Afif dan menggantikan Silvia, segera setelah kudapatkan uangnya."
Tidak butuh waktu lama bagi Hanna untuk memutuskan tindakannya. Sambil tersenyum masam, dia mengeluarkan ponsel dari sakunya, menelepon sekretarisnya. "Nona Chandra, tolong hubungi bagian administrasi rumah sakit."
Setelah mengatur semua yang dibutuhkan, Hanna menutup telepon. Dia lalu berjalan menghampiri Esther. Diamatinya gadis itu dari atas ke bawah. Raut mukanya tampak tidak puas. Dia kesal melihat putrinya memakai gaun pengantin yang sama sekali tidak terlihat menarik. Dia berjalan menjauh, mengambil sesuatu. Lalu, dia kembali mendekati Esther dengan gunting di tangan.
Dengan wajah muak, dia mengangkat gunting itu sambil berkata, "Beraninya kau menatapku seperti itu! Kau memang putriku. Tapi, setiap kali aku melihatmu, kau mengingatkanku pada ayahmu yang tidak berguna! Dia tidak pernah melakukan apa pun untukku. Aku harus berjuang sendirian untuk mendapatkan apa yang kumiliki sekarang. Jadi, jangan salahkan aku karena mengabaikanmu. Kau harus tahu, orang-orang yang ingin sukses memang perlu bersikap egois dan lebih memperhatikan diri mereka sendiri."
Sambil melampiaskan kekesalannya, Hanna memotong gaun yang dikenakan putrinya. Dia membuat lubang besar di bagian lengannya.
Seolah belum puas menumpahkan kemarahan, Hanna menoleh ke arah pramuniaga yang sedang menunggu di luar ruangan. Dia lalu berteriak dengan galak, "Hei, jangan cuma berdiri di sana! Gaun pengantinnya robek. Ambilkan yang baru untuknya! Silvia kami ini bukan sembarang orang. Dia pantas mendapatkan gaun pengantin terbaik."
Esther mengernyitkan hidungnya. Ini pertama kalinya Hanna mengakuinya sebagai putrinya. Tetapi, rupanya dia terlalu cepat menyimpulkan. Dia langsung merasa kecewa ketika Dara memberi tahu semua orang bahwa Silvia adalah putri kesayangannya sementara kenyataannya dia hanyalah seorang pengganti.
Esther menggigit bibir bawahnya sambil menahan perasaan. Lalu, sambil tertawa mengejek dia berkata, "Ayahku memang pria tidak berguna! Bisa-bisanya dia menikahi wanita sepertimu yang tidak keberatan menjadi istri Paman Gauri. Aku pasti akan senang sekali melihat wanita lain merayu Paman Gauri, seperti yang kau lakukan."
"Tutup mulutmu! Beraninya kau!" Hanna tidak mampu mengendalikan amarahnya. Dia mengangkat tangannya, hendak menampar wajah putrinya. Tapi, dia kemudian melihat riasan Esther yang sempurna. Dia tidak boleh merusaknya. Kecantikan Esther yang memesona akan membantunya mencapai tujuannya. Pikiran itu cukup untuk membuatnya tenang. "Aku tidak akan berdebat denganmu hari ini," katanya kemudian, berusaha mengalah. "Pokoknya, nikahi saja Rudy dan jangan membuat keributan! Dan ingat, jangan mempermalukan Marga Gauri dan Silvia!" Hanna memperingatkan dengan tegas.
Esther menyeringai.
Rudy? Semua orang tahu siapa dia. Pria itu begitu kaya dan berkuasa. Dalam hal kehidupan pribadi, namanya sering dikaitkan dengan begitu banyak wanita. Dengan mudahnya dia berganti-ganti pacar, seolah satu pacar untuk satu hari saja dalam setahun. "Kenapa Rudy ingin menikahi Silvia?" Esther bertanya-tanya dalam hati.
"Jalani saja pernikahan ini! Meskipun kau tidak mengenal Rudy, pernikahan ini cukup layak. Aku sungguh merasa tak enak telah mengabaikanmu, tapi mulai sekarang, hidupmu akan berubah. Kau akan menjadi orang kaya dan menikmati hal-hal yang menyenangkan. Kau bisa memiliki hal-hal yang sebelumnya tidak pernah kau bayangkan. Sudah waktunya kita menghapus semua kenangan lama dan memulai dari awal!"
Mendengar kata-kata ibunya, semua perasaan yang telah lama dipendam Esther di dalam hatinya mendesak keluar dalam bentuk air mata. Titik air bening itu mengalir seperti anak sungai di pipinya. 'Bahkan seekor harimau ganas pun tidak akan pernah memperlakukan anaknya seperti ibuku memperlakukan aku.' katanya dalam hati.
Dengan tubuh masih bergetar menahan perasaan, Esther menyambar gaun pengantin dengan kasar.
"Baiklah! Aku akan menikah dengannya! Aku berjanji padamu, aku akan menikahi Rudy atas nama Silvia. Tetapi... mulai saat ini juga, aku bukan putrimu lagi. Kau tidak punya hak apa pun lagi untuk ikut campur dalam hidupku. Selain itu, jika hal yang buruk terjadi pada Nenek, aku tidak akan mengampunimu!"
Mendengar itu, Hanna tersenyum puas. "Asalkan kau menikahi Rudy, akan kulakukan apa pun yang kau katakan."
Hanna belum pernah bersikap begitu baik pada Esther. Tapi kali ini, dia bersedia melakukan apa saja untuk Esther, asalkan dia bisa menjualnya kepada Rudy. Bertahun-tahun kemudian, ketika Esther mengingat kembali momen ini, dia selalu menghela napas, menyadari nasibnya yang sungguh tak terduga. Pernikahan yang hari ini membuatnya putus asa ternyata memberinya perlindungan terkuat di kemudian hari. Hal-hal yang tidak pernah diduganya terjadi begitu saja. Satu demi satu.
"Pernikahan akan segera dimulai. Sang pengantin, bergegaslah!" sergah Hanna dengan suara menuntut.
Pernikahan itu digelar sesuai jadwal. Meski pengantinnya tidak seperti yang direncanakan, semua hal lain dalam pernikahan itu berjalan dengan lancar. Gaun pengantin yang putih, karpet merah yang terhampar, bunga warna-warni yang semerbak, dan para tamu yang anggun... Pernikahan itu tidak kalah megahnya dengan yang biasa dilihat orang di layar lebar. Tapi, hati Esther sedingin es. Dia tidak menunjukkan emosi apa pun.
Meskipun pernikahan itu luar biasa, Esther bahkan tidak menatap suaminya. Para tamu yang hadir tersenyum pada pasangan itu, tapi bagi Esther, senyum itu justru menusuk hatinya. Dia merasa semua orang di sekitarnya sedang mengejeknya ketika dia tengah terombang-ambing di hari pertama pernikahannya.
Meskipun Rudy memegang tangannya dengan erat, dia sama sekali tidak berbicara dengan suaminya itu. Setelah acara pernikahan selesai, Rudy mengibaskan tangan Esther dengan kasar. Dengan suara dingin, dia berkata, "Kau pulang saja dulu. Ada pekerjaan yang harus kuselesaikan."
Esther pun diantar pulang oleh sopir Rudy. Hanya berdua bersama sopir membuatnya berpikir bahwa inilah kesempatannya untuk mencari tahu lebih banyak. Dengan penuh rasa ingin tahu, dia bertanya kepada pria itu ke mana Rudy pergi. Tampaknya sang sopir tahu banyak tentang keberadaan majikannya. Dengan acuh tak acuh, sopir itu menjawab, "Vila Bakung."
"Vila Bakung?" Esther pernah mendengar tentang vila itu. Menurut rumor, seorang selebriti wanita yang cantik bernama Ayu Septiani tinggal di Vila Bakung. Meskipun pikiran ini agak mengganggu, Esther tersenyum cuek. Sepertinya rumor itu benar, Ayu memang pacar Rudy. Suaminya itu pasti sedang memeluk dan menghibur Ayu saat ini. Esther berpikir, tak ada alasan baginya untuk merasa cemburu. Memang sejak awal, dia tidak pernah menginginkan pernikahan itu. Sebaliknya, fakta bahwa Rudy sudah punya pacar mungkin justru menguntungkan baginya. Dia tidak akan mengalami banyak kesulitan dalam membujuk Rudy untuk menerima tawarannya.
Di dalam kamar pernikahan mereka, Esther sudah lama duduk termangu, menunggu Rudy. Ruangan itu dipenuhi nuansa pernikahan yang indah dan syahdu, tapi Esther sedang tidak ingin bersikap romantis atau menunjukkan kasih sayang. Perasaannya bercampur aduk. Begitu banyak yang terjadi dalam satu hari ini.
Esther menduga Rudy tidak akan kembali malam ini. Dia pasti terlalu sibuk dengan pacarnya Jadi, Esther bangkit dan pergi ke kamar mandi untuk berganti pakaian dan menyegarkan diri. Air yang membelai kulitnya mungkin akan membantunya berpikir lebih jernih.
Karena benar-benar lelah secara fisik maupun mental, dia berlama-lama di dalam kamar mandi. Banyak hal terjadi hari ini, dan dia perlu merenungkannya.
Air panas membuat suhu di kamar mandi menjadi lebih tinggi. Uap yang berhembus membuat cermin tertutup oleh embun. Pikiran Esther benar-benar kacau.
Hanna, Silvia, Rudy dan Ayu berdesakan memenuhi pikirannya.
Dia kehilangan ketenangannya.
Dia berendam dalam air hangat untuk menenangkan dirinya. Lalu, dia membalut dirinya dengan handuk. Kemudian diambilnya handuk lain untuk mengeringkan rambutnya. Ketika keluar dari kamar mandi, dia melihat Rudy sedang duduk di dalam kamar dengan wajah datar.
Ruangan itu gelap. Hanya lampu dinding yang menyala. Tapi, kegelapan di ruangan itu tidak ada apa-apanya dibandingkan kegelapan di wajah Rudy. Entah apa yang sedang dipikirkannya.
Selama lebih dari 20 tahun hidupnya, ini pertama kalinya Esther mengenakan pakaian seminim itu di depan seorang pria itu.
Saat melihat Rudy, secepat kilat dia berbalik dan menyambar pakaiannya. Tapi, tidak kalah cepat, Rudy menghentikan dan menangkapnya. Lalu dia melempar Esther ke rumah atas ranjang. "Sepertinya kau sangat ingin menghabiskan malam pertama denganku?" ucap Rudy dengan nada mengejek.
Hanya selembar handuk yang menutupi tubuh Esther. Air pun masih menetes satu demi satu dari rambutnya yang basah. Meskipun dia sudah menghapus riasan pengantin yang tebal, mata Rudy tidak puas-puas memandangi wajahnya yang polos.
Rudy bisa mencium aroma sabun mandinya sendiri. Dalam pikirannya, dia merasa Esther kewalahan oleh aroma kejantanan yang menguar dari tubuhnya. Aroma yang manis tapi kuat. Memikirkan hal itu membuat hasratnya terpacu.
Tetapi, dia segera mendapatkan kembali ketenangannya ketika mata Ayu yang berkaca-kaca terlintas di benaknya.
Dia dan Ayu sudah dalam hubungan selama dua tahun. Dia tidak boleh mengecewakannya.
"Aku..." Esther menjawab dengan kedua mata yang terbuka lebar, dia terlihat sangat lugu.
Sebelum dia bisa menyelesaikan perkataannya, Rudy menyelanya dan berkata, "Silvia, aku menjadikanmu sebagai istriku hanya untuk menyenangkan hati kakekku, jika sampai sekarang kamu masih berpikir untuk tidur denganku dan mengokohkan statusmu sebagai istriku, maka aku sarankan kamu berhenti bermimpi"
Rudy memilih Silvia dari ribuan kandidat lainnya hanya karena dua alasan. Pertama, rumor yang menyebar di luar bahwa Silvia adalah anak manja yang berasal dari keluarga kaya, dia adalah gadis bodoh yang telah menyia-nyiakan waktunya. Kedua, Simon Gauri adalah orang yang serakah, hanya dengan memberikan sedikit keuntungan maka dia akan bersikap baik. Selain itu, menurut Rudy, keluarga Gauri tidak akan menjadi ancaman baginya.
Tapi lihatlah apa yang terjadi. Silvia mencoba memikatnya dengan kecantikannya! Dia memamerkan tubuhnya yang setengah telanjang setibanya aku di rumah. Siapa bilang dia wanita bodoh!
Sangat terlihat jelas bahwa dia mengetahui bagaimana cara merayu pria dengan tubuhnya.
Esther awalnya ingin berbicara baik-baik dengan Rudy, tetapi setelah mendengar perkataan pria itu, seketika itu juga dia berubah menjadi sangat marah, dan hendak memanfaatkan situasi tersebut untuk melampiaskan keluh kesahnya.
Dia bangkit dari tempat tidur dan menegakkan badannya lalu menatap mata Rudy dengan berani. Tatapan mata Rudy yang dingin dan ekspresi acuh tak acuh menunjukkan bahwa dia tidak menghormatinya.
Esther semakin marah.
"Tuan Afif, Anda memiliki Nona Septiani yang sangat cantik sebagai pacar Anda. Saya yakin penampilan saya yang biasa-biasa saja, tentunya tidak akan membuat Anda tertarik," kata Esther sambil memberikan senyuman dingin.
"Saya juga tahu kemampuan saya, jadi saya tidak berani meminta Anda untuk memperlakukan saya dengan baik. Saya hanya berharap Anda bermurah hati untuk menandatangani ini, Tuan Afif." Esther mencengkeram erat handuknya dengan satu tangan, lalu menggunakan tangan yang lain untuk mengambil dokumen dari dalam tasnya. Kemudian dia memberikan dokumen itu kepada Rudy.
"Tuan Afif, saya hanyalah orang biasa. Anda ingin saya menikah dengan Anda dan saya telah melakukannya. Saya tahu bahwa Anda mempersunting saya hanya untuk mengalihkan perhatian orang-orang. Tapi bisakah Anda melepaskan saya, saat Anda tidak lagi membutuhkan saya? Saya akan sangat menghargai kebaikan Anda." Esther berbicara dengan nada tulus, sama sekali tidak terdengar ada ejekan, maupun kepura-puraan dalam nada bicaranya.
Rudy sedikit tercengang mendengar perkataannya.
Dalam perjanjian itu hanya tertulis dua kalimat.
Persyaratan Pertama: Pihak A (Rudy Afif) akan membantu keluarga Gauri untuk melewati masa krisis yang tengah berlangsung dan sedang dihadapi keluarganya.
Persyaratan Kedua: Pihak A dan Pihak B sama sekali tidak boleh melakukan hubungan intim dalam bentuk apa pun.
Esther sudah menandatangani perjanjian tersebut di bagian pihak B. Rudy melihat tanda tangan Esther, sangat natural dan indah, terkesan lembut tapi tegas.
"Tuan Afif, mohon segera tanda tangan," kata Esther sembari menyerahkan penanya pada Rudy.
Pria itu sedikit terkejut, tapi tetap keras kepala merasa Esther hanya sedang bermain taktik dengannya.
Sebenarnya dia merasa bersalah karena telah memanfaatkan Silvia, dia kembali ingin memberi tahu gadis itu tentang hal yang sebenarnya terjadi. Dia akan berusaha menebusnya nanti, Tapi, apa yang di lihat di depan matanya itu membuat dia bingung.
"Taktik apa yang sebenarnya sedang kau rencanakan?"
"Tuan Afif!" Esther cemberut, dia berpikir dengan heran, 'Mengapa pria itu begitu yakin kalau aku sedang mempermainkannya? Aku tidak merencanakan konspirasi apa pun, sebenarnya aku malah sama sekali tidak ingin punya hubungan sedikit pun dengannya. Itulah sebabnya aku menyiapkan perjanjian ini. Apakah kau bisa mengerti?'
"Anda pasti telah bertemu dengan orang yang tak terhitung jumlahnya, dan mudah bagi Anda untuk menilai apakah saya sedang mempermainkan Anda atau tidak. Lagi pula, menandatangani perjanjian ini sama sekali tidak ada ruginya bagi Anda, bukan?"
Rudy menatapnya tanpa mengedipkan mata sama sekali. Ekspresi mata Esther yang bersih tak terlihat adanya kebohongan. Rudy akhirnya setuju untuk menandatangani perjanjian itu tapi dengan satu syarat tambahan, "Aku akan menandatangani perjanjian ini asalkan kamu dapat menyetujui permintaanku."
Esther menyeka matanya sembari Rudy menambahkan satu kalimat di atas kertas itu, 'Pihak B Silvia Gauri harus berperan seperti istri yang baik saat dibutuhkan oleh Pihak A.'
Esther sejenak bimbang, tapi pada akhirnya dia menganggukkan kepala pertanda setuju, Rudy lalu menandatangani perjanjian itu.
Melihat Rudy telah menandatangani perjanjian itu, dia pun merasa lega, dan berhati-hati mengambil kembali dokumen itu. Dia berencana akan membingkai perjanjian itu nanti setelah mempunyai kesempatan.
Dia terlalu fokus pada dokumen itu sampai tidak menyadari bahwa handuk yang menutupi tubuhnya sudah jatuh ke lantai.
Pupil mata Rudy menjadi gelap dengan ekspresi yang tidak bisa dijelaskan.
Esther mempunyai mata yang jernih, berkilau seperti bintang di langit. Bulu matanya yang panjang dan lentik, kulitnya yang putih bersih tanpa noda dan sedikit perona merah di wajah; bibirnya halus lembut seperti bunga mawar.
Sampai di saat Rudy melihat tubuh Esther, dia sedikit tercengang.
Tubuh itu ... begitu menawan!
Wanita itu tidak hanya memiliki wajahnya cantik dan anggun, tetapi dia juga memiliki lekuk tubuh yang sempurna dengan payudara dan bokong yang besar. Kulitnya terlihat halus, lembut dan juga lembab.
Rudy tak kuasa menahan diri untuk tidak menatapnya.
Baru setelah beberapa saat Esther menyadari bahwa ia telanjang di hadapan Rudy, ruangan itu tiba-tiba menjadi hening. Dia mengangkat kepalanya, dan seakan-akan melihat lelucon di mata Rudy. Mengikuti tatapan pria itu, wajahnya menjadi merah, dan dengan segera menarik handuk menutupi tubuhnya. Dia merasa sangat malu.
Dia berpikir, 'Apakah Rudy akan mengira aku sengaja melakukannya?'
Dengan malu-malu melihat sebentar ke arah Rudy, dan menemukan bahwa mata pria itu bersih dan tampak tenang, seakan-akan tidak terjadi apa-apa.
Esther merasa sedikit kecewa.
Dia tidak percaya diri, selalu merasa tidak puas dengan bentuk tubuhnya, bokong yang tidak cukup besar, bahkan setelah melihat reaksi Rudy, jelas bahwa dia tidak menarik baginya.
Sayangnya, dia tidak tahu seberapa sulitnya Rudy menahan ekspresi wajahnya. Dia tidak ingin kehilangan muka di hadapan gadis muda ini.
Tapi dia jelas melihat kekecewaan di wajah Esther.
Rudy telah menjalin hubungan bersama Ayu selama dua tahun, malam yang mereka habiskan bersama bisa dihitung dengan jari bahkan ketika mereka tinggal bersama, Rudy tetap menjaga wibawanya.
Di dunia ini, Ayu adalah orang yang paling mengerti dirinya, dan juga gadis yang paling baik. Oleh karena itu, dia tidak akan mengambil keperawanannya sebelum dia menikahinya.
Ini adalah caranya menunjukkan rasa hormat terhadap Ayu dan juga dirinya sendiri.
Mata Rudy tertuju kepada Esther yang berdiri di depannya, tapi pikirannya tak tahu melayang ke mana.
Tidak tahan lagi dengan tatapan Rudy, dengan wajah yang malu, Esther berkata, "Tuan Afif, ini sudah larut malam, sebaiknya Anda pergi beristirahat."
Dia mengucapkan kata "pergi" dengan suara yang lebih berat.
Esther menunjukkan sikap yang jelas di mana dia tidak ingin tidur sekamar dengan Rudy, karena itu, dia mengingatkannya untuk pergi.
Rudy pun tersadar dan akal sehatnya kembali, dalam hatinya ada rasa enggan untuk pergi, tapi dia tetap mengiyakan, lalu membalikkan badannya pergi ke ruang belajar. Meskipun bertahun-tahun tidur sambil memeluk Ayu, tapi dia tak pernah sekali pun hilang kendali. Namun, sekarang dia tidak bisa menahan diri untuk tidak mengeram, jadi Rudy memutuskan untuk mandi dengan menggunakan air dingin selama 30 menit, dengan begitu perasaannya menjadi sedikit mereda.
Keesokan paginya, Esther dibangunkan oleh suara alarm yang berdering. Meskipun dia sudah menikah dan menjadi Nyonya Afif, berada di posisi yang membuat banyak orang iri, tapi jauh dalam lubuk hatinya, ia tahu posisinya hanya sementara, cepat ataupun lambat akan digantikan oleh Ayu.
Untuk pernikahan Silvia, dia sudah mengambil cuti selama 3 hari dan harus kembali bekerja.
Setelah berdandan, dia pergi ke ruang makan dan melihat Rudy sudah berada di sana.
Acara pernikahan kemarin sangat sibuk, dan pada malam hari cahayanya terlalu gelap sehingga dia tidak bisa melihat penampilan Rudy dengan jelas. Sekarang dia berdiri di depan pintu ruang makan dan dengan diam-diam memperhatikan Rudy.
Dia harus mengakui bahwa Ia menikahi seorang pria yang sangat hebat.
Jas hitam yang Rudy kenakan semakin menonjolkan postur tubuhnya yang sempurna. Wajahnya yang cerah dan gagah membuat Esther sulit untuk mengalihkan pandangan darinya.
"Bisakah kamu berhenti menatapku? Duduklah untuk sarapan," ucap Rudy tanpa sedikit pun melihatnya.
Esther merasa malu ketika pria itu seakan mampu membaca pikirannya. Dia pun perlahan duduk di kursi sebelah kiri Rudy.
Sarapan yang tersaji sangat menggugah selera, namun Esther sudah merasa kenyang setelah menyantap semangkuk bubur. Saat dia meletakkan mangkuk dan sendok, dia menyadari bahwa Rudy tengah menatapnya dengan mengerutkan kening. "Kenapa kamu tidak menambah jam tidurmu? Kamu tidak perlu bangun sepagi ini," ucap Rudy.
"Tidak, menurutku aku sudah tidur dengan cukup," ucap Esther sambil menggelengkan kepalanya. Dia merasa sikap Rudy berbeda dari hari kemarin. Meskipun dia masih menjaga jarak, namun hari ini dia bersikap lebih sopan dan ramah. Sehingga Esther juga bersikap ramah saat mengobrol dengannya. "Sebelumnya aku telah meminta cuti selama tiga hari. Jadi hari ini adalah saatnya aku kembali bekerja."
"Bekerja?" tanya Rudy dengan bingung. Dia sama sekali tidak mengetahui bahwa wanita di sebelahnya ini memiliki pekerjaan, anak buahnya juga tidak memberinya informasi apa pun tentang hal ini.
"Iya, kerja!" Esther melihat jam dan berkata, "Aku hampir terlambat. Aku harus segera berangkat sekarang."
"Tunggu," ucap Rudy sambil berdiri dan mengancingkan jasnya. "Aku juga mau berangkat kerja dan kita menuju ke arah yang sama. Jadi biarkan aku mengantarmu," kata Rudy.
Arah yang sama? Pria itu bahkan tidak tahu di mana dia bekerja. Kenapa dia tiba-tiba ingin mengantarku?
Esther memiliki keraguan di benaknya, namun pria itu tetap bersikeras ingin mengantarnya. Setelah masuk ke mobil, Esther memberi tahu alamat tempat dia bekerja. Lallu dia pun bersandar di kursi mobil untuk beristirahat.
Rudy tidak berkata sepatah kata pun, tetapi dia memikirkan banyak hal di benaknya.
Alamat di mana Esther bekerja adalah alamat sebuah perusahaan periklanan yang terkenal di Kota Yasnaya. Meskipun perusahaan ini berukuran kecil, perusahaan ini memiliki masa depan yang cukup menjanjikan.
Sepengetahuannya, perusahaan ini tidak memiliki hubungan dengan keluarga Gauri sama sekali. Sehingga menimbulkan pertanyaan di benaknya, kenapa seorang Nona dari keluarga Gauri bisa bekerja di sana?
Kebetulan perusahaannya juga sedang bekerja sama dengan perusahaan periklanan itu. Jadi dia penasaran untuk tahu lebih jauh apa yang sebenarnya wanita itu ingin lakukan.
Esther "bangun" tepat pada waktunya, ketika mereka hampir tiba di alamat yang diberikannya. Dia meminta pria itu untuk menghentikan mobilnya di sudut jalan.
Dia tahu apa yang akan terlintas di benak rekan-rekannya jika mereka melihatnya turun dari mobil limusin, jadi dia ingin menghindari hal itu terjadi.
Rudy menuruti permintaan wanita itu tanpa banyak bertanya. Esther turun dari mobil dalam suasana hati yang ceria, lalu melambaikan tangannya kepada pria itu sesaat sebelum dia berjalan masuk ke gedung tempatnya bekerja.
Rudy heran, ini adalah pertama kali baginya melihat seseorang yang merasa senang saat pergi bekerja.
Kembali bekerja setelah cuti tiga hari membuat Esther sedikit malas. Dia berusaha menyemangati dirinya sendiri di depan pintu Perusahaan Periklanan Komandia.
Meskipun sekarang dia adalah seorang Nyonya Afif, namun dia bertekad untuk tetap bekerja sekeras yang dia bisa. Tak peduli apa pun yang terjadi dalam hidupnya, dia bersumpah pada dirinya untuk tidak akan pernah melepaskan pekerjaan yang disukainya ini. Pekerjaan ini merupakan satu-satunya sumber keuangan dan ketenangannya. Bagaimanapun, dia harus menanggung biaya pengobatan neneknya yang sedang sakit.
"Ri, akhirnya kamu kembali!" Sang manajer, Arya Kurniawan menyambutnya saat dia memasuki ruang kerja. Tiga tahun yang lalu dia bukanlah siapa-siapa di sini, namun sekarang dia adalah perencana iklan terbaik yang dimiliki perusahaan ini.
Dia memang bukanlah yang paling berpendidikan dan juga bukanlah yang paling patuh terhadap peraturan, tetapi yang jelas dia merupakan asisten Arya yang paling bisa diandalkan.
Esther terkejut melihat penampilan pria di depannya. Wajah pria itu kuyu dengan janggut yang seakan sudah sangat lama tidak dicukur. Esther hanya cuti selama tiga hari, namun melihat penampilan pria itu seakan dia sudah begitu lama tidak masuk kerja. Pria itu tampak kusut dan kelelahan didera oleh tumpukan pekerjaan.
"Kamu harus membantuku sekarang." ucap Arya sambil memegang tangan Esther seakan sedang memohon.
Dari penampilan dan bahasanya, Esther mengerti bahwa pria itu sedang menangani sebuah proyek besar. Meskipun seluruh perusahaan telah bekerja sama secara terpadu dan sudah melakukan revisi sebanyak lima kali, tetapi sang klien masih belum puas dengan rencana yang diajukan. Oleh karena itu, semua orang di perusahaan merasa frustrasi, dan Arya adalah orang yang perlu bertanggung jawab atas hal ini.
Arya sudah lama mendirikan perusahaan ini. Namun kegagalan ini merupakan yang pertama baginya.
"Siapa kliennya?" tanya Esther mengerutkan keningnya dengan penasaran.
"Siapa lagi kalau bukan Perusahaan Cemerlang..." Arya menghela napas kemudian melanjutkan. "Perayaan ulang tahun perusahaan akan diadakan pada tanggal 8 bulan depan dan kami merencanakan pesta anggur untuk perayaan itu."
"Perusahaan Cemerlang?" Bukankah itu perusahaan milik Rudy?
"Apakah pesta anggur adalah permintaan mereka?" tanya Esther dengan penasaran.
Sebagian besar perusahaan memang memilih untuk merayakan ulang tahunnya dengan cara ini. Pertama, karena ini akan menjadi sebuah acara pertemuan biasa. Kedua, makan malam yang menyenangkan adalah sebuah bentuk penghargaan bagi staf yang telah bekerja keras bagi kemajuan perusahaan. Namun, dia merasa ada kejanggalan ketika membayangkan Rudy dengan setelan jasnya; mengajak bersulang satu demi satu kelompok staf yang ada.
Itulah sebabnya dia mengajukan pertanyaan tersebut.
"Oh tidak. Mereka tidak memintanya." Dengan hat-hati Arya berusaha mengingatnya kembali. Mereka hanya meminta usulan rencana untuk perayaan itu, namun mereka tidak membatasinya pada pesta anggur itu saja.
"Baiklah, berikan dokumen perusahaan itu padaku. Biarkan aku membuat perencanaannya."
Arya pun mengucapkan terima kasih berkali-kali kepada Esther atas bantuannya. Tapi, jika perencana andalannya masih tidak mampu menemukan solusi untuk hal ini, maka dia akan dalam masalah besar.
Maka di hari pertamanya kembali bekerja, Esther sudah sibuk dengan rencana perayaan ini. Saking sibuknya hingga dia lupa untuk makan siang. Hingga Hanna pun menelepon untuk mengingatkannya akan hal itu.
Namun hal itu lebih seperti angin lalu.
"Esther, apa kamu sudah makan siang?" Hanna pura-pura bersikap seperti seorang ibu yang perhatian.
Jika saja Hanna tidak mendesaknya untuk menikahi Rudy kemarin, Esther mungkin masih akan tersentuh oleh perhatiannya. Tapi sekarang...
Rasa hormat dan sayang Esther kepada Hanna sudah hilang.
"Simpan perhatian itu untuk diri Ibu sendiri. Apa yang Ibu inginkan? Aku sedang sibuk saat ini."
"Apa? Kamu pergi bekerja sehari setelah pernikahanmu?" tanya Hanna.
"Bukankah memang seharusnya aku kembali bekerja setelah cutiku selesai?" cibir Esther. "Apakah menurut Ibu, Rudy akan memberikan uangnya kepadaku?"
"Itulah yang seharusnya dia lakukan, mengingat kamu adalah istrinya sekarang..." gumam Hanna.
Tapi Esther sedang tidak memiliki banyak waktu dan kesabaran untuk mendengarkan omong kosong dari Hanna, jadi dia menyela, "Sebenarnya apa yang Ibu inginkan? Kalau hanya ingin membicarakan ini, aku akan menutup telepon."
"Tunggu, tunggu, tunggu ..." Hanna berusaha menghentikan Esther agar tidak menutup teleponnya. Pada kenyataannya, Hanna sama sekali tidak peduli dengan Esther. Yang ingin dia ketahui hanyalah apakah Rudy akan menepati janjinya atau tidak. "Esther, karena kamu adalah istrinya sekarang, tolong tanyakan kepada menantuku tentang janjinya kepadaku. Kapan dia akan memenuhi janjinya? Nenekmu... tagihan medis untuk nenekmu harus segera dibayar..."
Begitu mendengar perkataan Hanna, Esther mengepalkan tangannya hingga ujung jarinya pucat. Namun Esther masih dapat mengendalikan emosinya dan berbicara dengan dingin, "Percayalah padaku, aku akan menepati janjiku. Tapi jika ada hal buruk yang terjadi pada nenekku, aku bersumpah akan menghancurkan segala yang kamu sayangi dalam hidupmu. Kamu bisa memegang kata-kataku."
Hanna menanggapi perkataan Esther dengan suara lembut. "Jangan khawatir tentang nenekmu. Bagaimanapun, dia adalah ibu mertuaku..."
Esther merasa kesabarannya telah habis hingga dia memutuskan untuk menutup pembicaraannya dengan Hanna.
Dulu dia pernah bermimpi untuk memperbaiki hubungan keluarga yang dimilikinya, namun sekarang dia tak mengharapkan apa pun lagi dari hubungan itu.