"Ketemu kau, gadis nakal!" Tiba-tiba pintu kamar terbuka dan terdengar suara bass seorang pria paruh baya.
Seorang perempuan berdiri di balkon kamar memandang ke arah luar, mengenakan gaun pengantin putih yang indah. Rias wajahnya terlihat sempurna, namun matanya terlihat kosong.
Perempuan itu tak menoleh, pandangannya masih lurus ke depan, wajahnya berubah tegang. Pria yang datang memanggilnya adalah ayahnya, Dominic Toretto, pemimpin keluarga mafia yang disegani.
Ia menatap putrinya dengan tajam, "Pergilah ke altar! Dan menikahlah dengan Vincenzo De Luca, Elena Toretto," titahnya tegas.
Perempuan itu menelan ludah, merasa ketakutan. Namun ia berusaha menyembunyikan perasaannya.
"Hari ini kau akan menikah, entah hidup atau mati," sambung Dom, dan berlalu pergi meninggalkan putrinya yang terpaku di tempatnya.
Elena Toretto, putri ketiga dari pasangan Dominic Toretto dan Lucia Falcone Toretto, tumbuh dalam keluarga mafia yang penuh intrik dan kekerasan. Kini, ia harus menikah dengan Vincenzo De Luca, seorang pria yang terkenal sebagai pembunuh berdarah dingin, demi perjanjian kekuasaan dan uang. Vincenzo penerus kubu mafia dari keluarga De Luca yang terkenal kuat.
'Aku yakin papa akan marah jika tahu aku berpura-pura menjadi El. Tapi ini satu-satunya cara untuk melindungi adikku,' gumam Alessia dalam batinnya.
Flashback On
Sehari sebelum acara pernikahan digelar, langit sore tampak mendung dan angin berhembus cukup kencang. Elena mendatangi kamar Alessia, sang kakak yang tangguh dan pintar. Diantara semua anak di keluarga Toretto, Elena lah yang paling lemah dan tidak bisa diandalkan, berbeda dengan Alessia yang selalu menjadi kebanggaan keluarga.
Ketukan lembut di pintu kamar Alessia mengakhiri aktifitas sang kakak.
"Masuk," ucap Alessia.
Pintu kamar terbuka perlahan, Elena muncul dengan wajah sembab dan mata yang memerah. Air mata masih mengalir deras di pipinya, mencerminkan rasa takut yang begitu mendalam.
"Al, aku sangat takut. Papa ingin membuangku," kata Elena sambil menangis. Alessia segera mendekap adiknya, merasakan betapa gemetar tubuh gadis itu. Kepanikan dan rasa takut terpancar jelas dari sorot matanya.
Alessia berusaha menenangkan Elena dengan mengusap punggung adiknya lembut, "Tenanglah, Elena. Apa yang membuatmu begitu takut? Kita akan menghadapinya bersama." Alessia mencoba menenangkan Elena, berbicara dengan nada lembut namun tegas.
Elena mengisakkan tangisnya, berusaha menjelaskan apa yang telah terjadi. "Papa bilang, jika aku tidak bisa membantu bisnis keluarga, aku tidak ada gunanya untuk keluarga ini. Dia akan membuangku, Al."
Alessia merasakan amarah membuncah dalam dirinya. Namun, dia tahu bahwa sekarang bukan waktunya untuk marah. Alessia harus menjadi pilar kekuatan bagi adiknya yang lemah ini.
"Aku tahu aku anak yang tidak berguna, aku cacat dan sakit-sakitan. Karena itu Papa mengirimku untuk mati."
Alessia merasa hatinya teriris mendengar pengakuan adiknya. Dengan lembut, ia memeluk Elena dan mengusap kembali punggungnya untuk menenangkan adik yang rapuh itu. "Tidak, El. Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi padamu. Aku berjanji," ujar Alessia dengan penuh tekad.
Elena menatap wajah sang kakak, mencari kepastian dalam sorot mata Alessia. "Bagaimana? Bagaimana caranya, Al? Itu tidak mungkin bisa."
Gadis berusia dua puluh dua tahun, melorotkan tubuhnya duduk di lantai kamar dengan kedua tangannya yang gemetar di pangkuannya. Air mata tak henti-hentinya mengalir membasahi pipinya yang pucat pasi. Di hadapannya, Alessia, kakaknya, terdiam menatapnya dengan mata yang juga berkaca-kaca.
"Salah satu dari kita harus menikah dengan Vincenzo De Luca," ucap Elena dengan suara yang serak. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha menahan isaknya. "Dan Papa sudah mengambil keputusan, aku yang akan mereka kirim ke si pembunuh berdarah dingin itu."
Elena menutup wajahnya dengan kedua tangan, terisak pilu. "Kamu tahu kan, setiap wanita yang bersamanya selalu berakhir tidak selamat," katanya lirih, suaranya tercekat oleh tangisannya yang semakin menjadi.
Alessia mendekat dan mengusap lembut kepala sang adik, mencoba memberikan kekuatan. Lalu menatap wajah adiknya yang terdapat bekas luka, hatinya terasa pilu dan penuh penyesalan.
"Sebelumnya kamu sudah melindungiku," ucap Alessia lembut sambil mengusap bekas luka di kening adiknya, "sekarang giliranku untuk melindungimu."
Alessia memeluk erat adiknya sejenak, lalu melepaskannya perlahan. "Aku akan menikah dengan Vincenzo De Luca untuk menggantikanmu," gumamnya lirih, berjanji pada adiknya dan juga pada dirinya sendiri.
Flashback Off
Hari itu pun akhirnya tiba, hari dimana Alessia akan menghadapi takdir hidup barunya. Entah akan dibawa kebahagiaan, atau malah kesengsaraan. Keadaan hidup atau mati.
Sebelum keluar menuju altar, Alessia berdiri di hadapan cermin, memandangi dirinya yang sudah berbalut gaun pengantin putih yang menutupi seluruh tubuhnya. Tubuhnya bergetar hebat, mencoba menguatkan hati.
'El, aku akan lakukan apa pun untuk melindungimu. Meskipun itu menjadi hal terakhir yang kulakukan,' batinnya mantap.
Di altar, ia melangkah dengan hati berat, didampingi sang ayah. Suasana hening, seolah menggantung. Para tamu undangan sudah berkumpul di sana, namun ada satu orang yang menjadi pusat perhatian semua orang. Vincenzo, mempelai pria yang seharusnya berdiri di samping Alessia, belum juga hadir padahal waktu sudah melewati batas yang ditetapkan.
Alessia berdiri di depan pendeta dengan wajah yang masih tertutup oleh kain penutup pengantin. Deru napas para tamu terasa berat dan tajam. Wajah mereka tampak tegang, terutama Dom yang duduk di barisan depan, tangannya menggenggam erat kursi. Semua orang terlihat gelisah, menunggu dengan cemas kedatangan Vincenzo.
"Apakah sudah ada kabar dari calon pengantin pria?" tanya seseorang dengan suara berat, sambil menoleh ke arah pintu.
Robert, paman dari calon mempelai pria baru saja menerima kabar buruk melalui panggilan telepon dari orang kepercayaannya. Isi berita itu membuat tubuhnya seketika kaku.
"Mohon ma-maaf pak, sepertinya keponakan saya, Vincenzo, mengalami kecelakaan," ujar Robert dengan suara terbata-bata, sambil berusaha menahan getaran emosi yang menghampiri.
"Bisakah saya minta doanya untuk keselamatan keponakan saya." pinta Robert membuat suasana tambah tegang. Raut wajahnya terlihat gusar dengan tatapan yang sulit diartikan.
Atmosfer di sekitar ruangan tiba-tiba berubah menjadi tegang, dengan berbagai bisikan dan desas-desus mengenai sosok Vincenzo bergulir di antara para tamu. Sejumlah di antaranya bahkan mengungkapkan rasa kecewa karena belum sempat menyaksikan pernikahan Vincenzo dengan salah satu putri keluarga Toretto.
"Sayang sekali, padahal aku berharap bisa menyaksikan si pembunuh berdarah dingin itu menikah," sindir salah satu putri dari keluarga Bianchi, dengan tatapan tajam dan nada mencemooh.
Wanita yang bernama Caterina Bianchi itu lalu melanjutkan, "Kudengar dia sangat mengerikan."
"Mungkin itu sebabnya semua wanita yang menghabiskan malam bersamanya akan berakhir mati," timpal Matteo, mantan kekasih Alessia.
Ekspresi kecewa menyelimuti wajah Dom. "Ini tidak bisa diterima! Bagaimana dengan kesepakatan kita?" ujarnya dengan nada tertekan.
Robert mencoba menenangkan Dom, "Tenanglah, Dominic Toretto. Kamu akan tetap mendapatkan apa yang sudah kita sepakati. Dan putrimu akan tetap menjadi pengantin di keluarga De Luca."
"Maksudmu?" tanya Dom tak mengerti arti ucapan dari Robert.
"Dengan cara lain," jawab Robert sambil berdiri dari kursinya, merapikan jasnya dan menatap Dom tajam.
"Baiklah, menurutku acara ini harus tetap dilaksanakan. Dan aku akan menggantikan posisi pengantin pria menikahi putrimu, Dominic Toretto," ucap Robert lantang dan penuh percaya diri.
Robert berdiri dengan penuh percaya diri di tengah-tengah tamu undangan, hendak melangkah maju. Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dari belakang, membuat semua orang menoleh. Seiring suara langkah itu, muncul sosok Vincenzo dengan wajah tegas dan langkah pasti, meskipun penampilannya berantakan, dengan bercak-bercak darah di pakaiannya.
Alessia yang penasaran juga ikut menoleh, seraya menelan ludah ketika melihat penampilan Vincenzo, calon suaminya. 'Ya Tuhan, apa dia baru saja membunuh seseorang?' gumam Alessia dalam hati, merasakan bulu kuduknya berdiri.
Alessia menarik napas panjang, mencoba menenangkan hatinya yang terasa berdebar hebat.
"Maaf, aku terlambat," ucap Vincenzo santai, "ada banyak tikus jalanan yang harus dibereskan saat di perjalanan tadi," lanjutnya seraya mengedarkan pandangan ke seluruh tamu undangan dengan gaya khasnya.
Vincenzo berhenti tepat di samping Robert, lalu menatapnya tajam. "Vin-Vincenzo," sapa Robert gugup serta terkejut melihat kehadiran keponakannya.
"Kecewa melihatku datang, Paman Robert?" ucap Vincenzo dengan nada sinis, seraya mengusap bekas darah yang menghiasi bibir seksinya dengan senyum smirk.
"Omong kosong apa yang kau bicarakan? Kami semua menunggumu tiba di sini," bantah Robert, wajahnya terlihat kesal. "Karena kau sudah ada di sini, jadi kita bisa memulai pernikahan ini."
"Bagus, tunggu apa lagi?" Vincenzo kembali melangkah mendekati calon mempelai wanita. "Ayo kita mulai!" potongnya tegas.
Suara Vincenzo menyebabkan pendeta terkesiap, namun hanya bisa menuruti perintah dan menjalankan tugasnya. "Baiklah, mari kita mulai," ujarnya dengan suara bergetar.
Dari kejauhan, seorang perempuan bersembunyi di balik tembok besar, matahari menciptakan bayangan gelap di wajahnya. Ia menatap pernikahan yang seharusnya menjadi miliknya dengan air mata bergulir pelan di pipinya. Dalam hati, ia menggenggam erat tangannya dan berdoa agar Tuhan melindungi kakaknya.
"Elena Toretto, benarkah itu kamu?" tanya pendeta, tatapannya memandang gadis di hadapannya.
Gadis itu mencengkram erat bunga di tangannya, merasakan degup jantungnya semakin kencang. "Itu bukan namaku, Pak," ucapnya, suaranya terdengar gugup.
Dengan mengumpulkan keberanian, perempuan itu perlahan membuka penutup kain yang menutupi wajahnya. Matanya yang tajam menatap lurus ke arah pendeta lalu beralih pada calon suaminya.
"Namaku Alessia, Alessia Toretto."
#####
"Elena Toretto, benarkah itu kamu?" tanya pendeta, tatapannya memandang gadis di hadapannya.
Gadis itu mencengkram erat bunga di tangannya, merasakan degup jantungnya semakin kencang. "Itu bukan namaku, Pak," ucapnya, suaranya terdengar gugup.
"Namaku Alessia, Alessia Toretto."
Sontak semua orang terkejut dengan pengakuan calon mempelai wanita tersebut, terlebih Dom sang ayah. Alessia adalah anak kebanggaannya, dan tak mungkin ia rela memberikannya pada Vincenzo si mafia yang diberikan julukan pembunuh berdarah dingin.
"Apa-apaan ini, Alessia?" kata Dom dengan wajah yang berubah merah marah. Ia berdiri tegak dari tempat duduknya.
"Alessia, apa yang sedang kamu lakukan? Dimana adikmu, Elena?" timpal Lucia, ibunda Alessia, dengan nada suara gemetar.
Tiba-tiba suasana kembali menjadi ricuh. Namun Alessia berusaha tetap tenang meskipun tubuhnya telah bergetar hebat sejak tadi. Dia mengalihkan pandangan dari wajah cemas kedua orang tuanya, tanpa memberikan respon apa pun.
Alessia menatap Vincenzo yang tengah berdiri di hadapannya, menyaksikan drama keluarga Toretto. "Kau menikah denganku, atau tidak sama sekali?" tanyanya tegas, mengabaikan tekanan dari sekelilingnya.
"Tidak!" teriak Dom, wajahnya memerah karena emosi. "Aku setuju untuk menikahkan putri bungsuku, bukan untukmu, Alessia."
Namun, Alessia tetap tidak menggubris larangan sang ayah. Ia hanya perlu mendengar jawaban dari Vincenzo. Pria berwajah tegas itu membalas tatapan tajam Alessia dengan santai, bahkan ia menyunggingkan sedikit senyuman melihat keberanian wanita yang akan menggantikan calon pengantinnya.
"Robert, bagaimana ini? Uruslah!" tegur Dom pada paman Vincenzo yang telah membuat kesepakatan dengannya.
"Kau menyapa orang yang salah, calon ayah mertua," kata Vincenzo menegur Dom, nada suaranya kalm dan yakin.
Vincenzo menatap calon mertuanya, sorot matanya menandakan kekuatan. "Apa kau lupa siapa pemimpin De Luca setelah ayahku meninggal?" ujarnya, membuat Dom terdiam sejenak.
"Ya, benar. Itu adalah aku, bukan pamanku," lanjut Vincenzo tegas, membuat Robert merasa terhina dan dijatuhkan harga dirinya.
Pria keturunan Jerman itu kemudian mengalihkan pandangannya, menatap wanita cantik di hadapannya yang sedang menatap balik ke arahnya.
"Dan aku akan memilih sendiri dengan siapa aku akan menikah," ungkapnya.
Vincenzo merapihkan jasnya, lalu berdiri tegak sambil memandangi wajah cantik Alessia. "Aku akan menikahi Alessia Toretto, atau aku tidak akan menikah dengan siapa pun sama sekali," ucapnya tegas.
Hati Alessia mencelos saat mendengar jawaban Vincenzo yang setuju untuk menikah dengannya. Padahal ia berharap laki-laki berdarah dingin itu akan membatalkan pernikahan dan perjanjian dengan keluarganya. Namun ternyata dugaannya salah, dan kini sepertinya ia telah terperangkap dalam kandang singa.
"Baiklah, berarti semua sudah beres. Tunggu apa lagi?" kata Alessia seolah menantang, dengan memasang wajah tegar dan berani.
"Mari kita mulai, Pak," kata Vincenzo, menginterupsi pendeta.
Tatapannya beralih kembali pada Alessia, lalu ujarnya, "Aku sudah tidak sabar ingin segera mencium pengantin baruku." Vincenzo tersenyum sinis.
Acara pernikahan pun dimulai, pendeta mulai membacakan serangkaian prosesi. Setelah acara selesai, Alessia dibawa ke hotel yang telah disiapkan, tempat mereka akan menghabiskan malam pengantin.
Namun, tidak seperti pengantin baru pada umumnya yang akan senang dan bersemangat menanti malam pengantin, Alessia justru dilanda kekhawatiran. Sejak perjalanan menuju hotel, ia berpikir keras tentang apa yang akan terjadi padanya, apakah dia akan mati malam ini dan besok hanya tinggal namanya saja?
Wanita itu menggelengkan kepalanya keras untuk menepis segala kegundahan yang ada. 'Tidak! Aku tidak boleh lemah, aku harus bisa menghadapi kenyataan ini,' gumamnya tegas dalam hati.
Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian tidur, Alessia menyadari bahwa pakaian yang disediakan hanya ada lingerie yang sangat seksi. Karena pikirannya sibuk memikirkan kelangsungan hidupnya, ia tak berpikir tentang pakaian. Terpaksa, Alessia menghela napas berat sambil mengenakan pakaian yang ada, berusaha mengesampingkan kekhawatiran yang menghantuinya.
Wanita itu terduduk di tepi ranjang, merasakan gelisah dan cemas yang menyergap dirinya. Napasnya tak karuan, berusaha tetap waspada dengan situasi sekitarnya. Dia teringat cerita adiknya, Elena, yang meminta agar selalu membawa persiapan jika sewaktu-waktu bahaya datang.
"Aku tidak boleh lemah," gumam Alessia sambil berusaha menenangkan detak jantung yang kencang.
Dibalik keringat yang mengucur di keningnya, ia memeriksa sebuah pisau kecil yang sudah ia siapkan dan disembunyikan di balik pahanya. Pisau itu adalah pemberian Elena, yang menyuruhnya untuk menghabisi Vincenzo sebelum ia justru jadi korban pria itu.
Tak lama, pintu kamar mandi terbuka. Vincenzo muncul hanya dengan memakai boxer, membuat Alessia terkesiap. Refleks, ia bangkit dari tempat tidur dan menatap laki-laki yang kini telah menjadi suaminya dengan tatapan ketakutan yang berusaha disembunyikan.
Dengan langkah santai, Vincenzo mendekati Alessia. "Kau terlihat sangat gugup, istriku," ucapnya dengan santai namun terdengar merendahkan.
"Hmm, aku hanya sedikit khawatir dengan malam pengantin kita, suamiku," jawab Alessia berusaha untuk tetap tenang, sambil meremas jemari tangan yang gemetar.
"Aku tahu apa yang mereka katakan tentangku hingga membuatmu takut," ujar Vincenzo, seolah bisa membaca pikiran Alessia.
Sambil melangkah melewati Alessia yang terpaku, ia menambahkan, "Bahkan mereka memberi julukan untukku. Pasti kau pernah mendengarnya, kan?"
Vincenzo mengambil botol anggur yang berada di atas nakas lalu menuangkannya ke dalam gelas. "Katakanlah apa saja yang kau ketahui tentangku?" Vincenzo menegak minumannya hingga habis, lalu menatap Alessia dengan tatapan datar, membuat Alessia semakin merasa ketakutan.
"Pembunuh berdarah dingin?"
Tangan Alessia semakin mencengkram erat pakaiannya.
Vincenzo tersenyum penuh arti. "Aku juga sudah mendengar apa yang mereka katakan tentangmu. Kau anak kedua keluarga Toretto yang sangat dibanggakan oleh keluargamu. Perempuan cerdas yang bisa menyelesaikan segala masalah di keluarga Toretto."
Vincenzo makin dekat ke Alessia, suaranya merendah, "Pantas saja ayah mertua enggan melepaskanmu dan lebih memilih membuang adikmu yang dianggap tak berguna."
Mendengar omongan tentang adiknya, Alessia tegas berkata, "Stop! Jangan pernah menghina adikku!" Tubuhnya menegang, tatapannya tajam ke arah Vincenzo.
Dengan sikap angkuh khasnya, Vincenzo hanya mengangkat bahu sambil berkata, "Setidaknya aku senang karena tidak jadi menikah dengan adikmu."
Alessia menatapnya dengan dingin sambil membalas, "Setidaknya adikku beruntung tidak menikah dengan pria sepertimu."
Vincenzo tersenyum sinis. "Tapi sayangnya, kau harus berkorban demi adik kesayanganmu itu, istriku." Laki-laki itu mendekat lagi, namun Alessia dengan sigap berjalan mundur, menjaga jarak.
"Kata orang-orang kau adalah wanita pendiam dan pemarah. Ternyata benar kau memang pemarah, tapi menurutku kau lebih cerewet untuk ukuran seorang pendiam." Vincenzo mencoba menyentuh wajah Alessia, namun wanita itu langsung menghempas kasar tangan kekar pria itu, yang merupakan suaminya.
"Jangan sentuh aku!"
Vincenzo menampilkan senyum jahatnya. "Di keluargamu kau memang wanita tangguh, tapi hari ini, di sini, kau bukan siapa-siapa. Kau hanyalah seorang istri dari Vincenzo De Luca. Dan layanilah aku karena aku adalah suamimu."
Dalam kemarahan yang meletup, Alessia berkata sambil mengepalkan tinjunya, "Dasar bajingan!"
Doorr!!
"AAaaaaa.."
***
Dooorr!!
"Aaaa!" Alessia menjerit terkejut, sementara Vincenzo dengan refleks cepat berbalik badan melihat situasi.
Brak!
Suara pintu yang terbuka dengan keras memecahkan keheningan. Sebelum Vincenzo sempat bereaksi, seorang pria bertopeng menerjang masuk, pistol di genggamannya, dan langsung menodongkan senjata itu ke arah Vincenzo.
Dooorr!!
Pria bertopeng melepaskan tembakan, tapi Vincenzo berhasil menghindar dengan sigap. Dengan napas memburu, Vincenzo bertanya, "Siapa yang mengirimmu?!"
"Kau tidak perlu tahu, De Luca. Aku hanya perlu memastikan kau tidak keluar hidup-hidup malam ini," sahut pria bertopeng itu, menekan pistol semakin keras ke arah Vincenzo.
Sadarkan diri, Vincenzo menyadari bahwa dalam situasi seperti ini, satu kesalahan kecil bisa berakibat fatal. Dia melirik lampu meja yang ada di dekatnya, dengan cepat merebutnya dan melemparkannya ke arah penyerang. Gerakan Vincenzo begitu lincah sehingga mengejutkan penyerang sampai tercekat dan sedikit kehilangan keseimbangan.
Pria bertopeng itu tersentak, matanya membelalak ke arah Vincenzo, sambil berusaha mengarahkan kembali pistolnya.
"Brengsek! Kau akan menyesal!" bentaknya dengan suara berat.
Doorr!! Doorr!! Doorr!!
Namun, Vincenzo telah bergerak lebih cepat. Dalam sekejap, dia menerjang ke depan, menggenggam erat pergelangan tangan penyerang yang memegang pistol. Tegak lurus di depan matanya, terlihat pria itu mengejan karena sakit ketika Vincenzo memelintir pergelangan tangannya dengan kekuatan penuh. Pistol itu terlepas dari genggaman penyerang, jatuh ke lantai dengan suara berdentang.
Mereka terlibat dalam perkelahian sengit, saling bertukar pukulan dan tendangan di tengah ruangan tersebut. Nafas Vincenzo terengah-engah, wajahnya memerah karena usahanya menahan serangan sambil mengangkat lengan kirinya untuk menangkis. Tetapi pria bertopeng itu kuat dan cekatan, memukul Vincenzo berkali-kali tanpa ampun.
Bugh! Bugh! Bugh!
Alessia, sementara itu, bingung dengan apa yang terjadi di depan matanya. Dadanya berdebar kencang, tak tahu harus berbuat apa. Haruskah ia menolong Vincenzo, sang suami, atau membiarkannya saja agar ia juga bisa terhindar dari pernikahan yang tak diinginkannya ini?
Rasa gelisah dan keguncangan membayang di wajahnya, matanya melotot tak berkedip saat ia berpikir, 'Siapa sebenarnya pria bertopeng itu? Apakah dia berpihak kepadaku?'
Sembari gumam mengais-ngais rambutnya yang acak-acakan, Alessia bermonolog pada dirinya sendiri, matanya tetap terpaku memandangi pertarungan sengit antara kedua pria di depannya.
"Siapa yang mengirimmu, huh?" tanya Vincenzo, wajahnya merah padam kesal.
Penyerang hanya tertawa pelan, lalu tiba-tiba menendang Vincenzo dengan keras, membuatnya terhuyung ke belakang dan akhirnya jatuh terduduk. Penyerang itu segera meraih pisau yang tersembunyi di pinggangnya dan meluncurkan serangan ke arah Vincenzo. Namun, kali ini Vincenzo berhasil menghindar dengan gesit bergeser ke samping.
Sebelum pria bertopeng itu sempat menancapkan pisau lagi, Vincenzo menyapu kaki penyerang dengan cepat dan membuatnya terjatuh juga. Kedua pria itu bergumul di lantai, bergantian memegang kendali.
Di saat Vincenzo terpojok, penyerang berbicara sambil mengejek, "Ucapkan selamat tinggal, Tuan De Luca."
Namun, tiba-tiba terdengar pekik kesakitan. "Shit!" Pria bertopeng itu terpental ke samping hingga terbentur sudut ranjang dan keningnya mengucurkan darah.
"Alessia." Vincenzo tersenyum tipis, bangga melihat keberanian istrinya yang menendang pria bertopeng itu tanpa ragu.
"Pakai ini," ujar Alessia sambil mengeluarkan pisau yang ia sembunyikan di balik paha mulusnya. Dengan sigap, ia melemparkannya kepada Vincenzo yang langsung menangkapnya.
Tepat setelah Vincenzo menerima pisau tersebut, ia berbalik bersamaan dengan pria bertopeng yang hendak menyerangnya lagi.
Jleb!
Salah satu pisau menancap tepat di bagian perut salah satu diantara mereka. Alessia memejamkan mata, perasaannya tak menentu.
Langkah kaki seseorang terdengar mendekat, membuat Alessia membuka mata perlahan. "Rupanya kau sudah menyiapkan senjata, hm," ujar Vincenzo sambil menghapus sisa darah di pisau Alessia dengan kain.
Wajah Alessia menegang saat melihat suaminya sudah berada tepat di depan wajahnya. Vincenzo mengangkat lingerie Alessia dan menyelipkan kembali pisau yang telah ia bersihkan ke tempat asalnya.
"Siapa orang itu?" tanya Alessia, mencoba mengalihkan pembicaraan.
Vincenzo berjalan ke arah meja kecil di dekat ranjang, mengambil sepotong kue dan melahapnya dengan santai. "Sepertinya hadiah pernikahan," sahutnya sambil tersenyum sinis.
"Kenapa kau bisa sesantai itu?" tanya Alessia dengan wajah cemas.
Vincenzo tertawa pelan, "Aku sudah terbiasa menerima hadiah dadakan seperti ini."
Alessia menggelengkan kepala, tak habis pikir bagaimana nasibnya nanti, apa ia bisa hidup tenang di tengah kehidupan yang penuh bahaya bersama suaminya? Ia sendiri, meski lahir dan tumbuh di keluarga mafia, belum pernah merasakan hidupnya terancam seperti saat ini. Dahulu, banyak anggota keluarganya yang melindunginya, tetapi sekarang, di lingkungan baru bersama suaminya, ia tak tahu mana kawan, mana lawan.
Tangan Alessia bergerak tidak sadar, menggenggam erat pisau yang tadi sudah diletakkan lagi di pahanya. Melihat itu, Vincenzo tersenyum dan mendekat, meraih dagu istri cantiknya yang tampak berkeringat karena tegang. Alessia hanya bisa diam, menahan napas saat merasakan hembusan napas hangat Vincenzo menyapu wajahnya.
"Kau boleh menyimpan benda itu dan menggunakannya dalam situasi berbahaya, tapi aku tidak mengizinkanmu menggunakannya untukku," bisik Vincenzo tepat di telinga Alessia, membuat seluruh tubuhnya bergidik.
Wanita bermata bulat itu mendongak dengan wajah waspada, "Aku hanya berjaga-jaga dari bahaya, bisa saja kau tiba-tiba akan membunuhku."
Vincenzo menjauhkan wajahnya, kemudian tertawa lepas. "Tenang saja, Sayang. Kau tidak akan dalam bahaya selama bersamaku."
Alessia mendesis, "Berikan aku alasan untuk mempercayaimu."
Tangan Vincenzo terulur, membelai lembut rambut Alessia hingga menyentuh wajahnya yang sedikit pucat. "Karena aku tidak akan pernah mengizinkan bahaya itu datang padamu," jawab Vincenzo tegas.
Dia mengangkat dagu Alessia, memastikan tatapan mereka bertemu. "Dan aku juga tidak akan membunuhmu."
Alessia menelan ludah, mencoba menenangkan diri. Wanita itu sempat terlena oleh ucapan manis suaminya yang terdengar begitu meyakinkan sesaat kemudian ia kembali memfokuskan diri agar tidak percaya begitu saja.
"Sekarang istirahatlah." Vincenzo lantas menyuruh istrinya menuju tempat tidur.
Meski menurut tapi Alessia tetap waspada, Vincenzo memandanginya pergi, seraya berkata, "Aku akan tidur di sofa."
***
Pagi yang cerah dengan cahaya mentari yang mulai memanjat di ufuk timur menghangatkan dunia. Matahari mulai menyelinap masuk melalui celah jendela, membangunkan Alessia yang terlelap dalam tidurnya. Perlahan ia membuka matanya dan menatap sekeliling, mencari sosok suaminya, Vincenzo. Namun, ruangan itu tampak kosong tanpa kehadiran pria itu.
Ingatannya kembali melayang ke kejadian semalam, sikap Vincenzo yang lembut dan perhatian terhadapnya seolah bertolak belakang dengan reputasi yang diberikan orang-orang bahwa Vincenzo adalah seorang pembunuh berdarah dingin. Alessia merasa bimbang, sebagian hatinya ingin mempercayai Vincenzo, namun keraguan masih menggelayut di benaknya.
Drrtt! Drrtt! Drrtt!
Tiba-tiba, ponsel Alessia bergetar di atas nakas, membuatnya terkejut. Ia meraih ponsel itu dan melihat layar yang menyala.
"Halo, Marco?" sapa Alessia pada saudara laki-lakinya, anak pertama dari keluarga Toretto.
"Alessia?" balas Marco dengan napas lega, "Syukurlah kamu baik-baik saja. Aku sangat mengkhawatirkanmu."
"Kenapa kamu tidak menjawab panggilanku?" cecar Marco dengan cemas yang terpancar dalam suaranya.
Alessia menghela nafas sejenak sebelum menjawab, "Maaf, aku sepertinya tertidur sangat lelap hingga tak sadar ada panggilan darimu."
Sejenak suasana hening..
Alessia mengusap pelipisnya, "Oh, shit! Aku lupa ada acara makan siang bersama siang ini," desahnya panik.
"Bagaimana keadaan di sana? Apa acaranya sudah dimulai?" tanyanya penasaran.
"Ya, tapi itu bukan masalah utamanya," sahut Marco.
"Aku ingin kamu datang ke sini sekarang. Elena mencoba melarikan diri tadi malam dan dia berhasil di tangkap oleh anak buah Papa." Wajah Marco tampak gusar, ia menyisir rambutnya dengan jari-jari tangan sambil menggigit bibir.
Sebagai kakak tertua, dia merasa frustrasi, namun tak bisa berbuat banyak karena kedua orang tuanya cenderung memihak pada anak yang memberikan keuntungan bagi mereka, sementara dia dan Elena dianggap tak berguna.
"Aku tak tahu apa yang akan Papa lakukan pada Elena," lanjutnya dengan nada khawatir.
***