Bab 1

“Alison!”

“Alison!”

Tidur Aliya jadi terganggu akibat teriakan-teriakan yang terdengar dari luar. Saat ia mencabut earphone di telinganya, suara kegaduhan itu semakin jelas terdengar.

“ALISON!”

Aliya membangun tubuhnya dan mendengus. Apalagi yang dilakukan kembarannya itu? Tidak bisakah ia memberikan waktu yang tenang bagi Aliya untuk beristirahat? Dia selalu saja menimbulkan masalah yang membuat seisi rumah menjadi seperti ini.

Dengan berat hati, Aliya berjalan keluar dari kamarnya. Dia melihat seluruh penghuni rumah dihiasi raut wajah khawatir. Bahkan beberapa dari mereka terlihat begitu pucat seperti menghadapi kematian.

Apa yang terjadi?

Aliya melanjutkan langkahnya untuk mencari keberadaan orang tuanya. Tepat di ruang tamu, ia melihat Ibunya duduk di sofa, tengah menangis tersedu-sedu. Sementara Ayahnya berdiri di sisinya berusaha menenangkan.

“Jika seperti ini, bagaimana kelanjutannya?”

Aliya mendengar suara yang asing. Ternyata di sana orang tuanya bersama orang lain. Mereka tidak hanya berdua.

Tapi, siapa orang yang berani berkata dengan nada seperti itu pada Ibunya? Aliya merasa kesal.

“Kami akan usahakan,” ucap Addyson, Ayah Aliya.

“Usahakan? Apa lagi yang mau kalian usahakan? Sudah jelas-jelas anak itu lari dari pernikahannya sendiri!” cecar wanita itu.

Aliya yang mendengar itu, termenung. Ia mencoba mencerna apa yang ia dengar. Jika ini tentang pernikahan, bisa diduga, wanita yang dimaksud adalah Alison.

Jadi, apa kembarannya kini membuat masalah dengan lari dari pernikahannya yang esok akan diadakan?

Aliya membuang napas kasar.

Kini masalah yang ia buat benar-benar luar biasa.

Dia bahkan bisa membuat orang tua mereka terkena serangan jantung.

“Kami tidak mau menanggung malu, Addy. Jika acara ini dibatalkan, mau ditaruh di mana wajah kami?” Kini Ayah dari calon suami Alison juga ikut bicara. Dia terlihat marah dan kecewa. Tapi, sepertinya dia sadar jika ini bukan kehendak dua orang di depannya ini.

Jika Aliya tidak salah mengingat, pria itu bernama om Rendra. Dan istrinya bernama Mia. Lalu … putra mereka yang akan menikah dengan Alison, bernama-

“Argan!”

Ah! Ya, itu namanya.

Eh? Siapa tadi yang bicara itu?

Aliya mengintip ke ruang tamu dan melihat seorang pria yang berdiri di ambang pintu masuk. Pria itu terlihat kacau. Ekspresi wajahnya begitu kusut. Mungkin dia perlu disetrika lebih dulu supaya wajahnya bisa kembali licin.

“Cepat kamu juga bicara. Jangan hanya diam saja!” cecar Mia. Dia tampaknya tidak suka dengan keterdiaman putranya.

Dalam hati, Aliya setuju dengan Ibu Argan ini. Seharusnya, pria itu bisa meluapkan amarahnya di sini, mengaum seperti singa, karena mempelai wanitanya yang kabur sebelum mereka melakukan ijab kabul. Ayo mengamuk!

“Ibu saja,” jawab Argan tidak terlihat peduli.

Huu! Tidak seru!

Dia mungkin merasa terpukul dengan kejadian ini. Tapi, Aliya pikir, pria itu terlalu lemah hingga bisa begitu terpuruk hanya karena ditinggal seorang wanita. Dia terlihat menyedihkan.

“Aliya?”

“Eh?” Aliya mengerjap kaget.

Saat Rendra memanggil namanya, seketika semua mata di sana memandang ke arahnya.

Bibir Aliya mengukir senyuman kaku. Apa bisa mereka tidak melihanya dengan tatapan seperti itu? Jujur saja, Aliya merasa sedikit takut. “Apa aku mengganggu?”

Aliya pikir, keberadaannya tidak terendus oleh mereka. Mungkin karena ia terlalu menikmati menonton drama mereka, ia sampai tidak sadar jika posisinya sudah cukup jelas terlihat.

“Tidak, kamu-“

“Benar!”

Ucapan Rendra terpotong oleh seruan Mia yang terdengar sangat bersemangat. Wanita itu bahkan berdiri dengan senyum semringah, sangat berbeda dengan dia beberapa detik yang lalu.

“Dia!” Mia menunjuk Aliya, dan berkata, “Nikahkan dia dengan putraku.”

“Apa?!” Kali ini, reaksi yang ditunjukkan Aliya dan Argan sama. Mereka sama-sama berteriak tidak percaya. Mereka bahkan sempat saling melempar pandangan bingung, sama tidak mengerti dengan apa yang tengah terjadi saat ini.

“Ibu, tolong jangan bercanda!” ucap Argan. Dia tidak mungkin menikah dengan sembarangan perempuan. Ia memutuskan menikah pun karena ia dan Alison sudah berhubungan selama dua tahun. Meski Argan sendiri tidak menyangka jika Alison akan meninggalkannya tepat saat mereka akan menikah keesokan harinya.

Tapi, menggantikan calon istrinya dengan perempuan lain terdengar lebih gila. Argan tidak mengerti dengan jalan pikiran Ibunya itu.

“Siapa yang bercanda?” tukas Mia. “Ini lebih baik dari pada membatalkan pernikahanmu itu. Kita akan malu jika acara ini dibatalkan.”

 “Tapi, kenapa harus mengganti mempelai wanitanya?” Argan mengacak rambutnya kasar. Demi Tuhan, bukan ini yang ia inginkan.

“Lalu, kamu mau Ibu bagaimana, Argan? Sudah jelas-jelas calon istri kamu itu kabur. Apa kamu tidak kasihan dengan Ibu? Bagaimana dengan kehormatan keluarga kita? Kita harus menanggung malu atas sikap kekanak-kanakan perempuan pilihan kamu itu!” Ibu Argan mengomel.

Argan memalingkan wajahnya, merasa tidak bisa membalas. Tapi dia juga kecewa dengan keputusan Ibunya. Argan memilih diam setelah itu, karena ia juga tidak memiliki jalan keluar dari masalah ini.

Tapi, apakah ia harus benar-benar menikahi perempuan itu?

Argan melirik Aliya yang berdiri menoton orang tua mereka berdebat. Dia terlihat menikmati drama di depannya seperti tengah menonton sinetron di televisi.

Argan berdecak. Perempuan seperti inikah yang akan menjadi istrinya? Padahal Argan selalu memimpikan akan memiliki istri yang cantik dan anggun seperti Alison. Tapi, jika Alison tidak kembali juga saat pernikahan mereka, maka terpaksa Argan menikah dengan Aliya.

“Bagaimana, Aliya?”

Mereka semua menunggu jawaban Aliya, begitu juga Argan.

“Aku tidak mau.”

Rendra nyaris tersedak mendengar penolakan mentah-mentah dari Aliya. Ekspresi wajahnya saat mengatakan itu bahkan terlihat sangat datar. Dia tampaknya tidak menyukai Argan.

Argan yang menyadari itu merasa tersinggung.

Memang dia pikir Argan juga mau menikah dengannya? Bahkan jika diberi pilihan, Argan lebih memilih untuk mencari calon istri lain.

“Kenapa, Nak?” tanya Mia. Dia bicara dengan nada lembut. Sangat berbeda dengan ia saat bicara dengan Ibunya sebelumnya. Dia sepertinya ingin membujuk Aliya supaya menerima tawarannya.

Tapi, apakah semudah itu Aliya dibujuk?

“Jangan terlalu cepat menjawab. Kamu juga pasti akan bahagia saat menikah dengan Argan.”

“Pria itu bukan tipeku,” ucap Aliya mengibaskan tangannya. Ia memasang ekspresi malas ketika melirik Argan yang sok kegantengan itu.

Meski memang dia memiliki wajah di atas rata-rata, saat dia bersikap arogan, nilainya di mata Aliya seketika jadi minus.

Argan yang mendengar itu mendelik tidak terima.

“Aku juga tidak menyukaimu. Kamu pikir, kamu cantik?”

“Ya,” balas Aliya santai. Dia memainkan helaian rambutnya.”Aku selalu mensyukursi apa yang Tuhan berikan untukku.”

Argan hendak membalas, tapi seketika ia mengatupkan mulutnya kembali. Perempuan itu membuat Argan tidak bisa membalas, karena jika ia menghinanya, sama saja ia menghina ciptaan Tuhan.

Sial! Perempuan itu sungguh menyebalkan.

“Ngomong-ngomong, Tante. Apa tante yakin akan ada yang mau dengan anak tante ini?”

“Kenapa, Nak?” Mia terlihat bingung. “Apa Argan kurang menarik?”

“Tidak. Aku pikir, dia seperti penderita impoten.”

Raut wajah Argan seketika memerah. Semua orang menatap ke arahnya dengan tatapan menilai. Harga diri Argan tersenti akibat perkataan perempuan itu.

Ia bangun dan berteriak, “KITA AKAN MENIKAH BESOK, DAN AKAN KU BUKTIKAN BAHWA PERKATAANMU SALAH BESAR!”

Dia pergi dengan marah.

Aliya mengangkat sebelah alisnya heran, “Apa aku salah bicara? Aku kan hanya mengatakan apa yang aku pikirkan.” Dia mengendikkan bahunya acuh. Dia tidak peduli meski Argan tersinggung dengan ucapannya.

****

Bab 2

“Aku tidak mau!”

Ini masih pagi, bahkan langit belum terang sama sekali. Jam masih menunjukkan pukul 04, dimana para ayam pun masih tertidur pulas sebelum sinar matahari menerpa bumi dan memberi isyarat pada mereka untuk berkokok.

Aliya dipaksa untuk bangun dan merias diri untuk bersiap di hari ini sebagai pengantin dadakan.

Sialan! Ini bukan yang ia harapkan. Bukan Aliya yang ingin menikah. Kenapa justru ia yang jadi pengantin?!

“Aliya, tenanglah sedikit. Ibu berjanji akan memberimu hadiah besar jika kamu menurut untuk melakukan permintaan ini,” ucap Kirana, Ibunya.

Aliya duduk dengan wajah cemberut. Dia tidak tega menolak, tapi Aliya juga tidak bisa benar-benar ikhlas melakukan ini semua.

Aliya tidak pernah memiliki pikiran untuk menikah di usianya saat ini. Dia masih senang bermain bersama teman-temannya. Jika ia sudah memiliki suami, Aliya pasti tidak akan sebebas dulu lagi.

“Kenapa harus aku, Bu?” tanya Aliya memprotes. Padahal mereka masih bisa berusaha mencari Alison, dengan mengundur hari pernikahan ini hingga kembarannya itu ditemukan. Kenapa harus mengambil jalan seperti ini?

“Ini demi kebaikan semuanya,” ucap Kirana menenangkan. Dia mengusap pundak putrinya itu, berusaha meredakan perasaan kesalnya.

Kirana juga sadar apa yang ia lakukan cukup egois. Tapi, ia benar-benar tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan. Saat Alison pergi, ia meninggalkan begitu banyak masalah untuk mereka. Orang tua Argan bahkan tidak mau mendengar penjelasan mereka. Mereka tetap menuntut tanggung jawab, hingga akhirnya Aliya lah yang harus mengorbankan diri demi menyelamatkan keluarga mereka.

“Ibu, jangan memasang ekspresi seperti itu,” tegur Aliya. Meski dia tidak ikhlas melakukan ini, ia juga tidak suka melihat Ibunya bersedih karena sikap Aliya yang pemberontak.

Aliya menghela napas berat. Mau bagaimana lagi? Sifatnya memang seperti ini. Ia tidak suka diatur dan lebih suka hidup dengan caranya sendiri. Meski begitu, ia tidak banyak membuat masalah untuk kedua orang tuanya seperti apa yang sering Alison lakukan.

Hingga sekarang, karena sifat mereka yang bertolak belakang, Aliya dan Alison tidak pernah akur satu sama lain.

Mereka bak orang asing meski dulu mereka pernah berbagi rahim yang sama. Alison yang terlalu dimanja, dan Aliya yang terlalu pemberontak, mereka seolah berada di kehidupan yang berbeda.

“Jika bukan karena Ibu, aku tidak akan mau membantu menyelesaikan masalah Alison,” dengus Aliya. Ia terpaksa melakukan ini semua demi orang tuanya. Karena jika tidak, maka keluarga Argan akan melakukan sesuatu yang merugikan keluarganya. Aliya harus mencegah semua ini terjadi. Dia tidak mungkin tutuup mata atas apa yang terjadi pada keluarganya.

“Terima kasih, sayang.” Kirana memeluk Aliya, dan mengecup puncak kepalanya. Dia bersyukur putrinya mau mengerti dirinya. Meski ia sadar, ia tidak terlalu banyak memberi perhatian pada putrinya itu.

****

Selesai menemani Aliya merias wajahnya, Kirana memutuskan untuk keluar, dan membiarkan putrinya bersama perias yang bertugas menyelesaikan riasan putrinya itu.

Kirana bersandar di pintu setelah menutup pintu itu. Dia membekap mulutnya dan menangis. Ia merasa berdosa telah mendorong putrinya untuk melangsungkan pernikahan yang tidak ia inginkan. Tapi, Kirana tidak bisa berbuat apa-apa. Ia tidak bisa mencegah semua ini.

Addy melihat istrinya menangis. Ia pun menghela napas.

Pria itu mendekati Kirana, dan memeluknya.

Tangis Kirana semakin deras saat suaminya memeluknya. Kirana merasa sakit saat melihat Aliya mengenakan gaun pengantin, padahal putrinya belum siap untuk menikah.

“Aku merasa berdosa,” lirih Kirana. Dia meremas pakaian yang Addy kenakan. Kirana tidak sanggup untuk terus berpura-pura baik-baik saja di hadapan putrinya. Padahal sebagai Ibu, ia juga ingin putrinya bahagia. “Kenapa Alison harus pergi? Kenapa dia harus membuat Aliya menanggung akibat dari perbuatannya?”

“Anak itu memang selalu membuat masalah,” ucap Addy. Dia juga lelah menghadapi Alison yang selalu berbuat semaunya. Dia tidak memikirkan dampak yang terjadi setelah perbuatannya. Jika anak itu ada di depannya saat ini, Addy sangat ingin menamparnya sesekali. “Mungkin ini karena kita yang terlalu memanjakannya.”

“Padahal Aliya tidak salah, tapi dia yang harus dikorbankan. Ini semua salah Alison. Jika dia memang belum siap menikah, kenapa dia menerima lamaran kekasihnya?” ucap Kirana mengeluarkan segala keluh kesahnya.

Dia tidak mengerti dengan jalan pikiran putrinya itu. Dia terlihat sangat bahagia saat Argan melamarnya, dan terlihat begitu bersemangat setiap kali mereka merencanakan pernikahan. Lantas, kenapa saat mereka sudah hampir mendekati hari H, Alison justru menghilang dengan meninggalkan sepucuk surat yang mengatakan jika ia belum siap untuk menikah? Ini terasa sangat lucu, hingga rasanya Kirana ingin menampar putrinya itu dan memakinya.

“Bersabarlah. Suatu saat dia akan pulang.” Alison tidak mungkin terus berada di luar. Akan ada saatnya dia kembali ke rumah. Hanya saja, dia pasti menunggu situasi di rumah ini membaik.

Jika saat itu tiba, Addy tidak akan pernah melupakan semua masalah yang Alison tinggalkan untuk keluarganya.

Addy tetap akan memberi teguran dan hukuman pada putrinya itu.

Sudah cukup selama bertahun-tahun ia memanjakan putrinya itu. Kini dia tumbuh menjadi anak yang pembangkang dan tidak tahu terima kasih. Addy tidak akan lagi bersikap lunak. Ia akan memberi penegasan supaya Alison tidak lagi semena-mena pada mereka.

Sebagai orang tua, Addy pun merasa gagal, karena kini putrinya bahkan tumbuh menjadi seperti itu. Meski banyak orang yang mengagumi Alison, mereka tidak tahu jika di balik itu semua, Alison hanya seorang gadis yang manja dan banyak menuntut ini itu pada orang tuanya.

Dia sangat jauh berbeda dengan Aliya.

Meski Aliya tidak pernah mau dekat dengan keluarga dan lebih memilih menjaga jarak, terutama dengan Alison, Aliya tidak pernah meninggalkan masalah apapun. Dia bahkan tidak banyak menghabiskan uang seperti Alison.

“Aku berjanji akan lebih memberikan perhatian dan kasih sayangku pada Aliya, mulai saat ini,” janji Addy. Dia rasa, ia terlalu mengabaikan putrinya yang satu itu. Bukan karena ia lupa, tapi karena Aliya yang jarang memunculkan diri di hadapannya.

Aliya hanya pulang untuk tidur, dan pergi saat kuliah. Ia juga jarang ikut makan bersama, sehingga keberadaannya sering terlupakan.

“Bodohnya aku tidak berusaha mendekatinya sejak lama,” Addy tersenyum pahit. Waktunya ia tuangkan sepenuhnya untuk putrinya yang mengecewakannya. Sedangkan putri yang selama ini ia abaikan justru menjadi penyelamatnya keluarga. 

“Kita masih memiliki waktu untuk menebus semuanya,” uap Kirana. Dia hanya menyemangati suaminya dan dirinya sendiri. Meyakinkan diri jika mereka belum terlalu terlambat untuk memperbaki kesalahan. “Aliya anak yang baik. Dia akan mudah memaafkan kita.”

“Ya, kamu benar,.” Addy mengangguk setuju. Senyum getir terukir di bibirnya. “Tapi rasanya sulit memaafkan diri sendiri.”

Bab 3

Aliya mendengar apa yang Ibu dan Ayahnya katakan di depan pintu. Dia merasa ikut sedih mendengar tangis Ibunya yang kecewa pada sikap Alison. Kembarannya itu seperti tidak peduli pada kesulitan yang dihadapi mereka. Dia dengan tidak tahu dirinya malah pergi dan membiarkan mereka semua menanggung akibat dari perbuatannya.

Aliya menghela napas. Sejujurnya dia sangat ingin pergi dan melarikan diri juga. Tapi Aliya masih memikirkan orang tuanya. Jika ia pergi, bagaimana dengan mereka? Orang tuanya pasti akan mengalami masalah yang lebih besar jika Aliya juga melakukan hal yang sama dengan Alison.

Tapi, Aliya tidak yakin untuk menghadapi semua ini. Jika ia harus menikah secepat ini dengan pria yang bahkan tidak ia kenal, akan seperti apa kehidupannya nanti?

Aliya mungkin harus bicara dengan pria itu setelah resepsi selesai. Mungkin ia bisa bernegosiasi tentang penceraian setelah pernikahan berlangsung.

“Aliya, bagaimana? Apa kamu sudah siap?”

Aliya menoleh ke arah pintu ketika mendengar suara Ayahnya bertanya. Dia melihat pria itu melongokkan kepala di ambang pintu.

Addyson tertegun melihat wajah putrinya yang berbeda dari biasanya. Ia tidak bisa berkata-kata, terlalu terkejut dengan perubahan Aliya.

“Ayah?” Aliya terlihat bingung dengan keterdiaman Ayahnya yang tiba-tiba. “Apa Ayah baik-baik saja?” tanya Aliya khawatir.

Addy tersadar. Ia segera menggelengkan kepalanya untuk membuat dirinya lebih fokus. Kecantikan yang dimiliki putrinya bahkan membuat ia terpana.

“Maafkan Ayah. Ayah hanya tidak menyangka jika kamu bisa secantik ini,” puji Addy.

Aliya terkekeh kecil. Dia merasa sedikit tersanjung dengan pujian Ayahnya. Jika diingat, baru kali ini Ayahnya itu memberi pujian untuk Aliya. Hati Aliya terasa sedikit lebih baik setelah bertemu dengan Ayahnya itu.

“Terima kasih, Ayah,” ucap Aliya. “Hari ini aku akan menikah, tentu saja aku harus terlihat lebih cantik dari biasanya.”

“Ya. Dan kamu membuat Ayah tercengang,” kekeh Addy. Ia bahkan tidak menyangka jika putrinya ini bisa melebihi Alison. Mungkin karena Aliya jarang merias diri seperti yang selalu Alison lakukan, kecantikan yang ia miliki juga jadi sedikit tertutupi.

“Ayah berlebihan.” Aliya meletakkan kedua tangannya di pipi. Dia merasa sedikit malu. “Jangan terus memujiku seperti itu.”

“Putriku sangat pemalu, rupanya.” Addy mencubit pipi putrinya itu sambil tertawa ringan. Dia memeluk Aliya untuk terakhir kalinya sebelum ia melepaskannya untuk dimiliki pria lain.

Dalam hati, Addy merasa tidak rela membuat Aliya menanggung ini semua. Tapi, ia tidak memiliki pilihan. Addy hanya bisa berharap semoga Aliya bahagia setelah pernikahannya ini.

Jika Argan memilih untuk mengembalikan Aliya padanya, Addy juga tidak akan keberatan.

“Tidak terasa, putri Ayah sudah semakin besar.” Rasanya baru kemarin Addy memarahi Aliya karena terlalu sering memanjat pohon tetangga untuk mencuri buah. Tingkah ajaib putrinya itu sering membuat ia sakit kepala. Tapi terkadang, kenakalannya juga kerap kali membuatnya ingin tertawa.

“Tentu saja. Tidak mungkin aku akan terus menjadi seorang gadis,” ucap Aliya. Dia membalas pelukan Ayahnya, merasakan kehangatan yang sudah lama tidak ia rasakan.

Kapan terakhir kali orang tuanya memeluk Aliya seperti ini? Rasanya sudah lama sekali. Mereka terlalu sibuk dengan Alison, dan Alison juga terlalu memonopoli mereka, hingga Aliya lebih memilih menyibukkan dirinya di lingkungan luar. Karena Alison, Aliya berpikir jika rumah bukanlah tempat untuknya.

“Terakhir kali Ayah ingat, kamu sering bolos dari sekolah, lalu kabur dari rumah karena takut ayah akan memarahimu,” ucap Addy sembari menerawang ke masa itu. Waktu itu sebenarnya cukup lucu. Ia tidak marah pada Aliya, ia hanya khawatir karena Aliya membolos dengan teman-temannya yang merupakan laki-laki semuanya. Addy memang menunggu putrinya, tapi bukan untuk mengomelinya. Addy hanya ingin menasehati Aliya untuk berhati-hati saat bergaul dengan lawan jenisnya. Bagaimana pun juga, putrinya itu adalah seorang perempuan.

Tapi, sebelum Addy bertemu dengannya pun, Aliya sudah lebih dulu melarikan diri karena takut.

“Itu sudah lama sekali,” ucap Aliya.

Saat itu ia masih berumur sembilan tahun. Memang hanya di usia seperti itulah ia dan orang tuanya masih belum terlalu jauh. Semakin ia besar, semakin terbentang jarak antara mereka.

Aliya yang merasa sadar diri pun memilih untuk menjauh dengan sendirinya. Meski terkadang ia juga merasa kesepian dan iri dengan orang lain yang bisa dekat dengan orang tua mereka.

“Banyak yang sudah Ayah lewatkan,” ucap Addy. Ia menyesal tidak melihat pertumbuhan Aliya. Sekarang ia sudah harus melepaskan putrinya itu untuk pria lain.

“Tidak apa.” Aliya tidak masalah tidak memiliki banyak moment bersama mereka. Dia justru bahagia melihat Alison bisa mendapatkan kasih sayang penuh dari orang tua mereka. “Ayah selalu menjadi ayah terbaik untukku.”

Putrinya terlalu pegertian, higgga Addy semakin merasa tidak berguna. Kenapa dia tidak bisa bersikap adil untuk kedua putrinya? Kenapa baru saat ini ia menyadari ketidakbecusannya sebagai orang tua?

“Maafkan Ayah, Aliya.”

“Jangan terus berkata seperti itu.” Lama-lama, Aliya jengah mendengar kata-kata itu dari orang tuanya. Mereka bersikap terlalu berlebihan, seolah-olah di sini Aliya didorong untuk dikorbankan. Padahal, ia hanya akan menikah dengan pria yang seharusnya menikah dengan kembarannya. Ini tidak seburuk yang mereka pikir. Aliya juga tidak mungkin tidak bisa melindungi dirinya sendiri. Meski ia belum mengetahui perangai Argan, Aliya rasa ia bisa menghadapi pria itu jika dia bersikap kurang ajar padanya.

“Aku akan segera menikah. Tersenyumlah, Ayah.” Aliya menarik sudut bibirnya, membentuk senyuman. Dia juga meminta Ayahnya melakukan hal yang sama. Dia lebih suka melihat mereka memperlihatkan ekspresi seperti itu dari pada raut wajah bersalah mereka. Aliya merasa menjadi penyebab kesedihan mereka jika mereka terus seperti itu.

“Kamu bahkan tidak merasa sedih,” ucap Addy tersenyum getir. Padahal ia dan Kirana sudah merasa begitu terpukul karena memaksa Aliya untuk melakukan pernikahan ini. Tapi putrinya itu bisa melaluinya dengan tanpa beban.

Atau mungkin, ia hanya tidak menunjukkan emosinya karena tidak ingin membuat orang tuanya khawatir.

“Jangan mengkhawtirkan aku. Jika aku tidak bahagia, aku akan segera pulang dan menemui kalian.” Aliya berucap dengan sungguh-sungguh. Dia memegangi tangan Ayahnya, berusaha meyakinkan. Hanya dengan cara ini ia bisa membuat perasaan orang tuanya menjadi lebih baik. Dia tidak ingin melihat wajah sendu dari mereka. Setidaknya, walau ini pernikahan yang tidak diinginkan, Aliya tidak ingin orang tuanya menunjukkan ekspresi tidak rela saat Aliya mengucapkan janji pernikahan.

“Berbahagialah, Ayah. Hari ini, tidak seharusnya ada yang menangis,” ucap Aliya. “Jika pun ada air mata yang menetes, itu hanya air mata kebahagiaan. Lepaskan aku dan ridhoi aku untuk pergi bersama suamiku.”

“Kamu terlalu dewasa.” Mata Addy penuh dengan air mata yang menggenang. Sekuat tenaga ia menahan, tapi derai air mata tetap meluncur di wajahnya. Hatinya sakit, melihat ketegaran putrinya yang melebihi dirinya. Aliya bahkan terlihat tidak memiliki beban apapun dalam menghadapi masalah ini. “Jangan menyembunyikan apapun dari ayah, Nak. Jika suatu saat dia menyakitimu, kembalilah, dan katakan semuanya pada Ayah. Rumah ini, akan selalu terbuka untukmu.”

Aliya tersenyum, merasa tersentuh dengan apa yang dikatakan Ayahnya. Orang tuanya pasti sangat mengkhawatirkannya sehingga sulit bagi mereka untuk tersenyum di hari bahagia ini.

“Tentu, Ayah.”

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED