Di sebuah dapur, terlihat seorang gadis sedang sibuk menelfon dengan seseorang.
"Iya ya, Bu'de. Pasti Nay akan segera kirim uang kalau Nay udah gajian ya, Bu'de," ujarnya. "Kalau begitu Nay tutup dulu ya. Assalamualaikum."
"Huff!" Gadis cantik yang benama Nayla itu menghela nafas panjang. Dengan raut wajah yang terlihat sedih ia pun menutup teleponnya.
"Ada apa, Nay?" tanya Eni, teman satu kampung yang membawanya bekerja di rumah ini. "Apa Budemu meminta uang lagi?" tebaknya.
Dengan sangat lesu gadis berlesung pipi itu mengangguk lemas.
"Kok, Bude Rini sering banget sih minta dikirim uang sama kamu. Padahal, 'kan tiap bulan juga kamu udah selalu kirim duwit ke dia."
"Ya, mau gimana lagi? Uang itu juga untuk biaya pengobatan ibuku, Mbak."
"Emang Bude Rini minta dikirim uang berapa?"
"10 juta."
"Apaa?! Se-sepuluh juta! Gila banyak amit, Nay." Sontak Eni langsung terkejut ketika mendengar nominal yang disebutkan oleh Nayla.
Lalu, tiba-tiba saja kedua orang itu tersentak kaget, ketika mendengar ada keributan dari lantai atas. Dengan segera kedua wanita yang bekerja sebagai pelayan itu pun langsung bergegas ingin menuju ke sana.
Sementara di lantai dua. Terlihat wanita paruh baya sedang sibuk mengetuk pintu sebuah kamar.
Tok ... tok ... tok ....
"Rissa ... tolong buka pintunya, Sayang!" seru Winda sang Ibu dari Larissa itu merasa sangat khawatir dengan keadaan putrinya. Karena sudah sedari tadi ia mengetuk pintu kamarnya. Namun, putrinya itu tak kunjung mau membukanya juga.
"Kenapa anak itu belum juga membukakan pintu? Sebenarnya ke mana dia?" Rasa ketakutan mulai menyelimuti dirinya, dan pikiran buruk pun datang silih berganti hingga membuatnya cemas.
"Mah, ada apa?" tanya lelaki paruh baya yang berstatus sebagai suaminya itu dibuat kebingungan olehnya.
"Ini, Pah. Rissa dari tadi gak mau bukain pintu, Pah," jawabnya sembari menununjuk ke arah pintu kayu yang ada di hadapannya. "Mama jadi khawatir, Pah. Takut terjadi sesuatu padanya."
Seketika itu lelaki paruh baya yang bernama Aditama Putra ini ikut merasa panik. "APA! Dia tidak bukain pintu?" pekiknya kaget. "Apa-apaan anak itu? Bikin masalah saja! Apa dia gak mikir, pernikahannya hanya tinggal menghitung hari!" ujar Aditama mulai geram. Ia pun ikut mengetuk pintu.
Tok ... tok ... tok ....
"Rissa, Larissa! Buka pintunya!" teriaknya dengan suara yang cukup keras hingga terdengar menggema ke seluruh ruangan.
Sementara di sisi lain, dengan rasa penasaran dan juga ketakutan, terlihat beberapa pelayan langsung menghampiri majikannya.
"Maaf, Tuan. Kalau boleh saya tau, ada apa dengan Non Larissa?" tanya salah satu seorang pelayan wanita dengan raut wajah kebingungan dan khawatir menatap keduanya.
"Dasar pelayan bodoh! Gak perlu kamu tau. Cepat panggilkan orang, suruh mereka dobrak pintu ini!" titah Aditama kepada pelayan itu.
"B-baik, Tuan." Pelayan itu segera memanggilkan dua pekerja lelaki yang ada di rumah tersebut.
Tak lama kedua laki-laki beda usia itu mendatangi tuannya itu.
"Cepat kalian dobrak pintu ini!"
Tanpa berkata apa-apa, kedua orang itu mengangguk. Lalu mereka pun bergerak mendekati pintu. Kemudian mendobraknya tanpa aba-aba.
Brakk!
Pada akhirnya pintu pun terbuka. Lalu dengan terge-gesa semua orang yang ada di luar kamar segera masuk ke dalam kamar. Dan betapa tekejutnya mereka, di saat melihat kamar itu dalam keadaan kosong melompong tak berpenghuni.
"Larissa!" pekik nyonya besar dengan wajah yang panik. "Kemana anak itu? Pah, L-Larissa di mana, Pah?" pekik Winda syok.
"Dasar anak itu ... bisa-bisanya dia kabur dari rumah yang dijaga ketat! Cepat kalian semua cari Larissa sekarang juga!" teriak Aditama memberi perintah ke semua orang.
Sontak semua orang mencari keberadaan sang anak majikan. Hingga pada akhirnya salah seorang dari mereka melihat seuntas tali yang teikat di balkon menjulur ke bawah.
"Tuan, Nyonya, liat ini!" seru salah satu pegawai laki-laki yang bekerja sebagai sopir pribadinya.
"Pah ... lihat, kayaknya Larissa benar-benar kabur dari rumah!" ucap Winda menunjukan tali tersebut. Aditama bergegas ke balkon. Benar saja, seutas tali menggelantung.
"Sial! Sejak kapan otak anak itu pintar melakukan ini semua?" gumam laki-laki paruh baya itu. "Tunggu apa lagi? Dasar bodoh, kalian! Cepat kalian semua cari anak itu sampai ketemu! Aku gak peduli kalian mau cari ke mana. Yang panting anak itu harus bisa ketemu, titik!"
"Ba-baik, Tuan!" Semua para pekerja mengangguk dengan ketakutan.
"Dan ingat, jangan pernah kembali sebelum kalian bisa menemukan anak itu, MENGERTI!" kata Aditama murka, ia menarik tali itu lalu melemparnya dengan kasar.
"Brengsek! Kenapa anak itu pakai kabur segala? Bagaimana dengan rencanaku untuk memperbesar bisnis ini?" kata Aditama kesal.
Selang beberapa menit kemudian. Di ruang tamu.
Aditama tampak bingung. Berjalan mondar-mandir di ruangan itu. Winda pun ikut bingung. Putri satu-satunya kabur dari rumah, semua rencana akan gagal karena kebodohan putrinya itu. Bisa saja, calon suami putrinya akan menuntut ganti rugi dan akan menarik semua investasi dari bisnisnya. Winda duduk dengan wajah cemas, sesekali jari-jari lentik itu memijit keningnya yang mulai pening.
"Tuan ... Nyonya ...." Dua pegawai lelaki telah kembali. Lalu di belakang mereka ada para pelayan. Aditama dan Winda menoleh. Kedua pasang mata kedua orang tua Larissa mencari sosok anaknya.
"Di mana anak saya? Apa kalian sudah menemukannya?" tanya Winda kebingungan.
Tono dan Juki menunduk lebih dalam lagi. Keduanya saling melirik dan tak ada yang mau bicara. Keduanya takut dimarahi bosnya karena belum menemukan Larissa.
"Jadi, kalian belum bisa menemukan Larissa?" ujar Aditama mulai geram.
Keduanya menggeleng.
"Bodoh! Sudah kukatakan jangan kembali sebelum kalian menemukan anak itu!" bentak Aditama berada di puncak amarahnya.
"Selama ini apa saja kerjaan kalian, hah? Bagaimana bisa Larissa sampai melarikan diri? Bukankah aku menyuruh kalian untuk selalu mengawasinya dengan ketat selama 24 jam?" pekik Aditama, sang majikan merasa sangat geram. Kata-katanya penuh penekanan dan mengintimidasi semua anak buahnya.
"Ma-maafkan sa-saya, Tuan! Ini semua adalah salah saya. Karena saya yang lalai, sehingga saya tidak bisa menjaganya dengan baik," ucap Nayla, salah satu pelayan yang ditugaskan untuk menjaga Larissa. Dengan terbata gadis itu berusaha memberanikan diri untuk menjelaskan.
"Oh, jadi semua ini karena kamu?" Dengan tatapan tajam, lelaki paruh baya itu berjalan mendekatinya.
Nayla begitu ketakutan dengan tatapan Aditama yang mengintimidasinya. Dia bergegas menundukan kepalanya.
"Coba jelaskan padaku! Bagaimana bisa Larissa bisa lolos dari penjagaanmu, huh?"
"Ta-tadi s-saya keluar sebentar, Tuan. Non Rissa ingin minum jus jeruk. Mungkin, ketika saya sedang membuat jus jeruk di dapur, Non Rissa kabur, Tuan. Dan saya benar-benar tidak tau kalau Non Rissa akan kabur dari kamarnya," ucap Nayla menceritakan bagaimana kronologis kejadian itu.
"Lalu, waktu Rissa kabur tadi, kalian semua pada ke mana, huh? Masa tidak ada seorang pun yang melihatnya?" cercar Aditama menatap tajam ke arah semua orang-orang yang sedang berada di sana. "Dan kamu Pak Satpam, bukannya kamu sedang berjaga di depan?"
Seketika itu wajah Pak Satpam langsung terlihat pucat, ia merasa sangat gugup dan juga ketakutan. "Maafkan saya, Tuan. Mungkin waktu Non Rissa kabur, sa-saya sedang berada di toilet, Tuan," jawabnya.
"ALASAN! Selalu saja kalian memberi alasan sama. Bukankah saya sudah mengatakan pada kalian agar selalu mengawasinya. Saya pikir, kalian saja yang benar-benar tidak bisa menjaga Larissa!" Sambil mengggertakkan gigi, tangan lelaki paruh baya berkacama itu mengepal dengan sangat kuat. Ingin sekali ia menghajar semua pegawainya itu. Namun dengan cepat Winda langsung menghampirinya.
"Pah ... sabar, Pah! Sudah jangan marah-marah lagi, ya? Ingat dengan penyakit jantung, Papah!" sergah Winda. Sembari meraih tangan pria itu, ia pun mengusap-usap lengannya dengan lembut, berusaha untuk meredakan emosi suaminya.
"Bagaimana Papah tidak emosi, Mah? Rissa tidak ada sekarang, terus kita nanti harus bagaimana?" sahutnya cemas.
"Iya, Mamah juga gak tau. Mamah juga bingung, kenapa Larissa malah pakai kabur segala?" ujar Winda gusar. Wanita paruh baya yang sedang berdiri di sebelah suaminya itu terlihat sangat resah dan juga kebingungan.
Lalu dia melirik Nayla, "Semua ini gara-gara kamu yang gak becus jagain Rissa. Sehingga dia bisa sampai kabur dari sini!" bentak Winda melotot kesal pada Nayla.
"Ma-maaf, 'kan sa-saya, Nyonya!" ucap Nayla menunduk ketakutan.
Lalu dengan penuh amarah lelaki itu menatap ke arah gadis tersebut.
"Lalu, apa yang bisa kamu lakukan agar kami bisa memaafkan kamu?" Winda memincingkan matanya. Lalu memperhatikan Nayla dari rambut hingga ke ujung kaki.
Setelah diamati gadis itu mempunyai perawakan yang sama dengan Larissa. Lalu dengan tiba-tiba muncul sebuah ide di benaknya.
"Apa saja, Nyonya. Apa saja akan saya lakukan agar Nyonya dan Tuan mau memaafkan saya dan juga tidak memecat saya dari pekerjaan ini!" Dengan sangat memelas gadis tersebut memohon agar tidak dipecat dari pekerjaannya.
"Ok, kalau begitu ... kamu yang akan menggantikan Larissa besok!"
Deg!
"Mak-maksud, Nyonya?" Dengan wajah yang terlihat sangat syok, gadis berlesung pipi itu menatap sang majikan dengan kebingungan.
"Kamu yang harus menggantikan Rissa menikah besok!"
JEDDERR!
"APA! ME-MENIKAH?" pekik Nayla.
"Kamu harus menggantikan Rissa menikah besok!"
JEDDERR!
Bagai tersambar petir di siang bolong. Seluruh badan Nayla seolah kaku dan tak bisa digerakan. Ia benar-benar tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
"APA? ME-MENIKAH?" pekik Nayla merasa sangat syok.
Seketika itu semua orang yang sedang berada di ruang itu langsung tercengang dan juga kebingungan saat mendengar ucapan wanita itu. Namun, mereka semua masih tetap terdiam seribu bahasa tidak berani bersuara. Suasana di dalam ruangan itu terasa sangat mencekam dan menegangkan. Baik para pekerja ataupun sang majikan sama-sama merasa cemas, panik dan juga kebingungan.
Sedangkan Nayla masih berdiri mematung. Ia merasa sangat syok dan tidak pernah mengira kalau sang majikannya ini akan berkata seperti itu.
"Jadi bagaimana Nayla? Kamu sudah siap bertanggung jawab dan menggantikan anak saya?" tanya Winda menegaskan.
"Duh ... bagaimana ini? Aku belum mau menikah. Aku belum siap menikah dengan siapapun, apalagi dengan orang yang tidak aku kenal!" bisik batin Nayla, dia bingung. "Ya Tuhan, kenapa aku sangat ceroboh. Bisa-bisanya aku lalai dan harus menanggung semua ini?"
Nayla mendongak, wajahnya membias cemas. "T-tapi saya be--"
Drrttt ... drrttt!
Suara dering telepon masuk menghentikan ucapan Nayla. Ketegangan pun menjadi sedikit mencair. Tetapi tidak dengan Aditama, laki-laki itu semakin terlihat gugup, tegang kala matanya melihat layar ponsel yang baru saja ia rogoh dari saku celananya.
"Pak B-Bagas?" Sebut Aditama pelan. Namun Winda mendengar ucapan suaminya itu. Dia menghampirinya.
"Siapa Papah Bilang?"
Aditama memandang Winda dengan wajah pucat. Laki-laki itu terlihat sangat panik, kedua matanya langsung terbelalak lebar saat ia melihat ada nama seorang pria di sana. Dan nama pria tersebut adalah Bagas Dewantara si calon besan, yang tidak lain ayah dari Arga Dewantara sang calon pengantin pria yang akan menikah dengan putrinya besok.
"Pak Bagas, Mah! Dia telepon Papah, " jawabnya.
"Apa?! P-Pak Bagas?" pekik Winda kaget. "Aduh ... sekarang kita harus bagaimana, Pah?"
"Mamah tenang dulu, jangan panik! Papah mau menjawab teleponnya dulu!" pintanya kesal. Wanita yang terlihat sangat panik itu langsung terdiam. Dengan jantung yang berdetak sangat kencang, Aditama segera menjawab panggilan telepon tersebut.
"Ha-hallo, Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam. Hallo, Pak Adit. Apakah semua persiapan untuk pernikahan besok sudah siap?"
"Mampus! Sekarang aku harus jawab apa?" batin Aditama merasa gelisah.
"Hallo, Pak Aditama! Apakah Anda mendengarkan ucapan saya?" Lelaki yang berada di sambungan telepon itu kembali bertanya.
"E-eh iya, Pak. S-sudah, semua sudah siap, kok," jawabnya gugup.
"Baguslah, saya hanya ingin memastikan saja. Kalau begitu sampai ketemu besok," kata Bagas mengakhiri panggilan teleponnya setelah memberi salam.
"Wa-waalaikum sa-lam," sahut Aditama bernapas lega. "Huff ... hampir saja jantung ini terasa seperti mau copot," ucap Aditama merasa sedikit lega.
"Gimana, Pah? Apakah semua baik-baik saja?" Wanita itu menatap khawatir padanya.
"Iya, Mah, sekarang masih aman. Tapi besok, entahlah Papah juga tidak tau," sahutnya merasa sedikit frustasi. "Kita harus memikirkan ke depannya agar pernikahan anak kita tetap terjadi dan keluarga Pak Bagas tidak ada yang tau Larissa kabur dari pernikahan ini. Kalau tidak, bisa-bisa usaha Papah bangkrut!"
"Gak ... gak! Mamah gak mau jatuh miskin! Mamah sudah bosan hidup melarat seperti dulu! Pokoknya kita cari cara agar Pak Bagas tidak menarik investasinya dari perusahaan Papah!"
"Terus ... bagaimana caranya? Anak kita sudah kabur dan belum bisa ditemukan? Mamah tau, 'kan? Bukan cuma kemarahan dari keluarga Dewantara saja yang harus kita hadapi, Mah! Namun, kita semua pasti akan merasa sangat malu apabila pernikahan anak kita itu sampai dibatalkan."
Lelaki paruh baya itu sungguh merasa sangat khawatir dan juga sekaligus takut jika sampai pernikahan putrinya dengan anak sahabatnya itu akan batal. Ya, memang ini adalah kesalahan dirinya, karena dengan tanpa meminta persetujuan dari putri semata wayangnya itu, dia malah menjodohkannya dengan anak sahabat sekaligus relasi kerjanya yang sudah lama ia kenal sebagai keluarga yang sangat kaya raya dengan segala perusahaan yang dimiliki oleh keluar tersebut.
Sehingga dengan tanpa berpikir panjang lagi, lelaki berumur 48 tahunan itu langsung menerima usulan perjodohan dari adik iparnya yang sekaligus istri dari sahabatnya tersebut.
Namun, diluar dugaan, ternyata anak gadisnya itu sudah mempunyai seorang kekasih. Sehingga tentu saja gadis tersebut menolak perjodohan itu. Akan tetapi, kedua orang tuanya itu tetap saja memaksanya untuk menerima perjodohan ini. Hingga pada akhirnya terjadilah peristiwa ini. Di mana sehari menjelang hari pernikahan, anak gadisnya itu malah berhasil kabur dan melarikan diri entah ke mana.
Kini ia benar-benar merasa pusing tujuh keliling memikirkan semuanya. Bagaimana tidak? Apa bila sampai perjodohan ini gagal, yang ada pasti hubungan dua keluarga itu akan menjadi renggang dan bahkan keluarga Dewantara itu bisa saja malah memusuhinya nanti.
Lalu, sekarang ia harus bagaimana, agar bisa menyelamatkan perjodohan itu. Dengan wajah yang pucat pasi, rahangnya juga mengeras, lelaki itu terlihat sangat tegang.
Sang istri yang melihat kegelisahan itu langsung
teringat akan rencana yang sempat melintas di benaknya tadi. Lalu, ia pun menoleh ke arah gadis muda yang kini sedang berdiri menunduk ketakutan.
"Sudah Papah tenang saja, pernikahan itu pasti akan tetap terjadi, Pah. Karena ada dia ...." Tunjuk Winda ke arah Nayla. "Gadis bodoh itu akan menggantikan Larrisa selama putri kita belum ditemukan nanti!"
Deg!
Jantung Nayla berhenti persekian detik.
"Bukan begitu Nayla?" tanya Winda.
"Duh ... gawat ini? Apa Nyonya Winda sudah gila? Bagaimana bisa aku menjadi pengantin palsu yang akan menggantikan Non Rissa besok?" batin Nayla resah.
"Em ... s-saya--" Dengan terbata Nayla terlihat sangat kebingungan.
Winda kembali berkata. "Begini saja! Akan kuberi kau dua pilihan." Winda mulai berjalan mendekati Nayla yang masih tampak kebingungan diam mematung di tempatnya.
"Pilihan pertama kamu harus mau menjadi pengantin pengganti untuk anakku besok, dengan imbalan aku akan memberimu uang 10 juta. Bukankah kamu sedang sangat membutuhkan uang itu?" Winda menghentikan langkahnya, ia kini berdiri tepat di hadapan gadis itu. Sembari tersenyum miring ia menatap wajah gadis itu dalam.
Degg!
Lagi-lagi raut wajah Nayla tampak terkejut ketika mendengar ucapan dari wanita tersebut. Dalam hatinya pun berkata, "Dari mana Nyonya Winda bisa tahu soal uang 10 juta itu?"
"Hahaha ... dia pasti kaget. Bagaimana aku bisa mengetahui soal uang 10 juta itu," batin Winda. "Dia tidak tau saja, kalau aku sempat menguping pembicaraannya waktu di dapur tadi."
"Dan ... pilihan kedua, jika kamu tidak bersedia menggantikan Rissa duduk di pelaminan besok. Maka kamu harus membayar ganti rugi 100 juta kepada kami!" lanjut Winda sembari tersenyum smirk, dengan sengaja ia memberikan ancaman padanya.
"Apaa?! Se-seratus juta?" pekik Nayla semakin syok dibuatnya.
Dengan wajah yang terlihat tegang, keringat dingin mulai bercucuran membasahi dahinya. Kini ia merasa semakin tertekan. Karena ia tidak mungkin bisa mengganti rugi uang sebanyak itu. Jangankan 100 iuta, untuk sepuluh juta saja, ia sangat sulit mendapatkannya. Lalu, sekarang ia harus bagaimana? Apakah ia harus menerima tawaran ini?
"Bagaimana, Nayla? Apakah kamu sanggup mengganti rugi 100 juta?" tanya Winda kembali mengintimidasi.
Dengan menunduk lesu, gadis berlesung pipi itu menggelengkan kepala.
"Hahaha ... sudah kuduga, kau mana punya uang sebayak itu. Dengan begitu, sudah jelaskan? Berarti kamu harus bersedia menjadi penganti pengantin anakku besok!" tandas Winda lagi.
Tidak ada pilihan lain, entah itu adalah sebuah keputusan yang benar ataupun salah, dengan sangat terpaksa Nayla harus menyangggupinya.
"Baiklah, saya bersedia."
Keesokan harinya.
Di dalam sebuah kamar yang sangat mewah, seorang gadis duduk terdiam di depan cermin. Di depannya, ada banyak peralatan make up yang tergeletak di atas meja.
Ada dua orang perias sibuk memoleskan eye shadaow, blush on dan lipstik di wajah gadis itu. Sedangkan orang yang satunya lagi tampak sibuk membetulkan kebaya pengantin yang dikenakan oleh calon pengantin wanita tersebut.
Gadis itu nampak begitu cantik dengan kebaya pengantin berwarna putih yang menjulur panjang di bagian belakangnya itu, kini melekat indah di tubuh rampingnya.
Saking cantiknya, sang penata rias pun takjub memandangi hasil dari mahakaryanya yang paripurna itu terlihat begitu sempurna.
Dengan kulitnya yang kuning langsat ciri khas kulit orang indonesia, bibirnya yang tipis, hidung kecil yang mancung. Belum lagi lesung pipi di kedua sisinya yang menambah kesan cantik dan imutnya wajah gadis tersebut.
Hanya dengan polesan yang sederhana dan terkesan natural alias tidak medok ataupun mak-up yang tebal, pada dasarnya gadis itu memang sudah cantik. Sehingga sang penata rias pun tidak perlu melakukan banyak aplikasi di riasannya. Dan hasilnya pun sangat memuaskan.
"Wah, Nona benar-benar cantik sekali," ujar salah satu penata rias sambil terus memandang takjub gadis yang masih terdiam mematung di tempatnya itu.
Sementara gadis yang dipuji itu hanya sedikit mengulas senyum menanggapinya. Ia menatap kosong ke arah bayangan dirinya yang terpantul di dalam cermin.
"Saya yakin, calon suami Anda pasti akan terpesona melihat kecantikan Anda yang begitu sempurna ini. Dia sangat beruntung bisa menikahi Anda. Andai saya laki-laki, saya pun bisa langsung jatuh cinta dengan sekali melihat Anda, Nona!" ujar perias itu tak henti-hentinya menganggumi gadis tersebut.
"Apalagi, kecantikan Anda benar-benar alami. Coba Nona lihat, tanpa memakai make up yang tebal pun, Nona tetap terlihat sangat cantik. Saya benar-benar iri sama Nona!" Perias itu masih terus melanjutkan ocehanya.
Gadis yang berusia dua puluh satu tahunan itu hanya bisa tersenyum kecut mendengar segala pujian itu. Ia tetap terdiam dan tidak peduli apa yang perias itu katakan padanya. Bukan ia tidak suka pujian itu, akan tetapi gadis itu kini sedang merasa sedih, gundah gulana, karena memikirkan pernikahan palsunya ini.
Bagaimana ia tidak sedih? Pernikahan ini hanyalah pura-pura saja. Karena ia di sini hanya dijadikan sebagai pengantin palsu yang menggantikan sang anak majikannya yang telah melarikan diri dari pernikahan ini.
"Huff ...." Terlihat dengan sangat berat gadis itu menghela nafas. Sungguh ia masih belum percaya kalau dirinya kini akan menjadi calon pengantin. Ya, walaupun pernikahan ini hanya pura-pura saja, tetap saja dia merasa grogi, tegang dan juga sekaligus takut jika sampai ia ketahuan oleh si calon pengantin prianya nanti.
Namun, ia tidak ada pilihan lain. Ia harus rela melakukan ini semua demi bisa membiayai pengobatan ibunya nanti.
"Gimana, kamu sudah siap?" tanya Winda.
Sekètika itu Nayla terkesiak kaget dan lamunannya pun langsung buyar dengan begitu saja. Saat ia mendengar ada suara seorang wanita yang menyadarkannya dari lamunannya tadi, sontak ia menoleh ke arah sumber suara dan ia melihat ada dua orang paruh baya yang sedang berjalan mendekati dirinya.
Walaupun masih merasa ragu, mau tidak mau ia harus tetap siap. Dengan pelan Nayla pun mengangguk.
"Bagus. Ok, sekarang kamu pakai maskernya dulu!" ujar Winda seraya memasangkan sebuah masker cantik yang terbuat dari renda atau brokat kini telah menempel dengan sempurna menutupi wajah cantik gadis tersebut.
"Nah, kalau begini, 'kan pasti tidak akan ada yang bisa mengenalimu," ucapnya lagi.
Sesuai dengan permintaan sang majikan. Dengan sedemikian rupa, sang perias pengantin tadi telah memoles wajah Nayla hingga menyerupai wajah dari anak gadis sang majikannya yaitu Larissa sang calon pengantin yang asli.
Dengan rambutnya yang dicat warna sedikit pirang, kedua matanya menggunakan softlens kecoklatan. Dan tidak lupa riasan mak-up yang sebisa mungkin dibuat menyerupai sang calon pengantin aslinya itu, sudah bisa membuat orang terkecoh dan mengira bahwa ia adalah Larissa.
"Ya sudah, ayo kita keluar sekarang, Mah! Semua tamu udah pada nungguin, nih," ujar Aditama merasa sedikit cemas. Ia sebenarnya juga merasa takut jika sang calon pengantin prianya nanti bisa mengenali gadis ini.
"Iya ya ya, ayuk, Pah!" Perempuan paruh baya itu meraih tangan Nayla. Lalu ia ingin menuntunnya keluar dari kamar tersebut.
Namun, belum sampai mereka keluar dari kamar, tiba-tiba saja gadis itu malah berhenti di depan pintu. Dengan wajah yang terlihat sangat tegang, sungguh ia merasa sangat panik dan juga ketakutan.
"Loh, kok berhenti? Kamu kenapa lagi, Nayla?" Winda langsung terlihat sangat kesal.
"Em ... sa-saya takut, Nyonya. Takut kalau sampai ketahuan bagaimana?" jawabnya.
"Halah, kelamaan! Buruan kita sudah ditungguin banyak orang tau!" Dengan sangat kasar akhirnya Winda harus menyeret paksa tangan Nayla.
Sehingga membuat Nayla menjadi semakin panik saja. Dengan dada yang berdegup dengan sangat kencang, gadis cantik itu terpaksa mengikuti langkah sang majikan.
Langkah demi langkah terasa sangat berat tak kala ia semakin mendekat ke arah pelaminan. Di mana kedua bola matanya langsung tercengang ketika melihat siapa sang calon pengantin prianya.
"Tunggu-tunggu, ja-jadi ... di-dia yang akan menjadi calon pengantin prianya nanti? Bu-bukankah dia adalah ...." batin Nayla. Dengan mulut yang menganga lebar, kedua matanya langsung terbelalak merasa sangat syok melihatnya.
Sungguh ia tidak mengira kalau sang calon pengantin prianya adalah ....
"Di-dia!"