Bab 1

Malam itu hening. Hanya suara jangkrik dan desir angin hutan yang terdengar dari sela-sela dinding bambu gubuk kecil di tepi hutan. Cahaya lampu minyak berkelip samar, menerangi wajah seorang gadis muda yang sedang duduk bersila di atas tikar usang. Gadis itu bernama Almira Safira, 17 tahun, rambut hitamnya tergerai menutupi sebagian wajah yang tampak sendu.

Sehari-hari, Almira membantu neneknya, Nenek Rahayu, bertahan hidup dengan menenun tikar dari pandan hutan, atau sesekali turun ke desa untuk menjual kayu bakar. Hidup mereka serba terbatas, jauh dari kebahagiaan yang semestinya dimiliki seorang gadis seumurannya.

Almira menatap keluar jendela bambu. Pandangannya kosong, tapi hatinya penuh gelisah. Sejak kecil, dia hanya tahu bahwa ayah dan ibunya meninggal dunia karena kecelakaan. Namun, semakin dewasa, ia mulai mendengar bisikan-bisikan lain. Ada desas-desus yang mengatakan bahwa kedua orang tuanya dibunuh.

"Apa benar, Nek?" tanya Almira suatu malam, dengan suara bergetar. "Apa benar ayah dan ibu tidak meninggal karena kecelakaan, melainkan dibunuh seseorang?"

Nenek Rahayu hanya menghela napas panjang. Matanya berkaca-kaca, namun bibirnya enggan menjawab jujur.

"Kau terlalu muda untuk memikirkan hal itu, Nak. Yang penting, kita harus tetap hidup," jawab neneknya lirih.

Tapi di hati Almira, rasa penasaran itu terus tumbuh.

Kehidupan Almira dan neneknya makin sulit sejak Rangga Prakoso, lelaki paruh baya berpengaruh di desa, mengincarnya. Rangga dikenal kejam, haus kekuasaan, dan memiliki banyak istri. Ia selalu mendapatkan apa pun yang dia mau, meski dengan cara kotor.

Beberapa hari lalu, Rangga datang ke gubuk mereka bersama dua pengawalnya. Suasana malam itu masih terbayang jelas di benak Almira.

"Rahayu..." suara Rangga berat dan dingin, "kau tahu, cucumu itu sudah besar. Wajahnya cantik, darah mudanya segar. Aku ingin menjadikannya istriku. Dia akan jadi istri keempatku."

Mata Almira melebar. Ia bersembunyi di balik pintu, tubuhnya gemetar mendengar kata-kata itu.

Nenek Rahayu mencoba menahan diri, menundukkan kepala meski hatinya bergejolak.

"Tuan Rangga, Almira masih terlalu muda. Usianya belum genap 19 tahun. Bersabarlah. Biarlah ia tumbuh dulu, baru setelah itu..."

Rangga menyipitkan mata, seakan menimbang-nimbang. Kemudian ia tersenyum sinis.

"Baiklah. Aku akan menunggu. Tapi jangan coba-coba melarikan diri dariku. Kalian tak akan bisa pergi ke mana pun tanpa aku tahu."

Suasana hening sesaat, hanya bunyi langkah Rangga dan pengawalnya meninggalkan gubuk yang terdengar. Sejak malam itu, hidup Almira dipenuhi ketakutan.

Hari-hari berikutnya, Almira berusaha menjalani hidup seperti biasa, namun di setiap langkahnya ia merasa diawasi. Setiap kali ia turun ke desa menjual kayu, orang-orang hanya berani menatapnya dari jauh. Tidak ada yang berani mendekat, apalagi berbicara, karena takut dimusuhi Rangga.

"Kenapa kita harus hidup seperti ini, Nek?" Almira bertanya suatu sore sambil menjemur kayu bakar. "Kenapa semua orang seolah-olah membenci kita?"

Nenek Rahayu tersenyum getir.

"Bukan membenci, Nak. Mereka takut. Rangga punya kuasa di desa ini. Dia bisa melakukan apa saja. Orang-orang lebih memilih diam daripada menolong kita."

Almira menunduk. Dadanya sesak. Rasanya seperti terpenjara meski tanpa jeruji besi.

Malam itu, setelah seharian bekerja, Almira duduk di depan gubuk sambil menatap langit penuh bintang. Ada rasa rindu yang mendalam pada kedua orang tuanya. Andai mereka masih ada, mungkin hidupnya tidak akan sesulit ini.

Ia teringat samar-samar pada sosok ayahnya, seorang petani sederhana yang suka bercanda, dan ibunya yang lembut penuh kasih. Namun, kenangan itu cepat berlalu, digantikan bayangan samar tentang malam ketika mereka meninggal. Suara bisikan orang-orang di desa kembali terngiang di kepalanya:

"Mereka dibunuh..."

"Ada orang berpengaruh di balik semua ini..."

Tiba-tiba, suara ranting patah terdengar dari belakang gubuk. Almira terkejut. Ia bangkit dan menoleh ke arah suara itu. Di bawah cahaya rembulan, terlihat sosok seorang lelaki terhuyung-huyung, tubuhnya berlumuran darah, lalu terkapar tepat di depan pintu belakang gubuk.

"Nenek!" teriak Almira panik.

Nenek Rahayu yang sedang berbaring segera bangkit. Wajahnya pucat saat melihat pemandangan itu.

"Ya Allah... siapa ini?" gumamnya.

Almira gemetar, tapi ia memberanikan diri mendekat. Lelaki itu masih muda, mungkin sekitar awal dua puluhan. Nafasnya tersengal, wajahnya penuh luka, dan darah mengalir dari perutnya.

"Nek, dia... dia masih hidup!" Almira berseru sambil berlutut di samping lelaki itu.

Nenek Rahayu menghela napas berat, lalu berlutut di sisi cucunya. "Cepat, bantu nenek. Kita harus membawanya masuk sebelum ada orang lain yang melihat!"

Dengan sisa tenaga, mereka berdua menyeret tubuh lelaki itu masuk ke dalam gubuk. Almira menyiapkan kain dan air, membersihkan darah yang menempel. Tangannya gemetar, tapi ia terus berusaha.

"Nek... siapa dia?" tanya Almira panik.

Nenek Rahayu menatap wajah lelaki itu dengan sorot tajam, seakan mencoba mengenali. "Nenek belum tahu, Nak. Tapi yang jelas... lelaki ini bisa membawa kita pada sesuatu yang besar."

Almira menatap neneknya, bingung sekaligus takut. Malam itu, tanpa ia sadari, hidupnya akan berubah selamanya.

Almira sulit tidur malam itu. Ia duduk di samping lelaki misterius yang masih tak sadarkan diri. Sesekali, ia merendam kain di baskom air, lalu menempelkan ke dahinya yang panas.

"Siapa kau sebenarnya...?" bisiknya lirih.

Di luar, angin bertiup kencang, membuat dedaunan berdesir nyaring. Di kejauhan terdengar lolongan anjing hutan. Hati Almira berdegup kencang, firasat buruk menghantuinya.

Sementara itu, jauh di desa, Rangga Prakoso duduk di kursi besar rumahnya, ditemani para pengawal. Wajahnya muram.

"Orang itu belum mati," katanya pelan, penuh amarah. "Cari dia. Kalau perlu, geledah hutan. Aku tidak ingin dia sampai ke tangan orang lain."

Dan tanpa Almira tahu, lelaki berdarah yang kini ia rawat adalah kunci dari misteri masa lalunya.

Bab 2

Hening menyelimuti gubuk reyot di tepi hutan. Lampu minyak yang tergantung di sudut ruangan bergoyang pelan, cahayanya bergetar seperti ikut menahan napas. Di atas dipan kayu sederhana, seorang lelaki muda terbujur, tubuhnya masih penuh perban seadanya yang dililit kain lusuh. Wajahnya pucat pasi, keringat dingin membasahi dahinya.

Almira duduk di lantai, bersandar pada tiang bambu. Matanya sayu, namun ia memaksa tetap terjaga. Sesekali tangannya meremas ujung kain basah, lalu ditempelkan ke kening lelaki itu.

"Nek, apakah dia akan selamat?" bisiknya lirih.

Nenek Rahayu yang duduk di dekat tungku, mengaduk ramuan herbal di panci kecil, hanya menghela napas. "Itu tergantung pada seberapa kuat nyawanya bertahan, Nak. Luka di perutnya dalam. Kalau tidak segera diobati dengan benar, bisa berbahaya."

Almira menunduk. Hatinya gamang. Ia sama sekali tidak mengenal lelaki itu. Namun entah mengapa, ia tidak tega membiarkannya mati begitu saja di depan gubuk mereka.

Sambil terus menunggu ramuan yang direbus, Nenek Rahayu sesekali melirik cucunya. Ada kekhawatiran di matanya, lebih dari sekadar soal luka lelaki asing ini. "Mira, dengarkan nenek," katanya serius. "Kalau lelaki ini sadar nanti, jangan sembarang bicara. Kita belum tahu siapa dia, juga belum tahu apa yang mengejarnya."

Almira mengangguk, meski hatinya penuh tanya. "Tapi, Nek... kalau dia berbahaya?"

"Kita akan tahu nanti," jawab neneknya tegas.

Malam semakin larut. Angin hutan berdesir lewat celah dinding bambu. Almira sempat terlelap sebentar, hingga tiba-tiba suara rintihan pelan membangunkannya.

"Uhh..."

Almira terlonjak, segera mendekat. Lelaki itu mulai menggeliat, matanya setengah terbuka. Nafasnya tersengal, tangannya bergerak mencari pegangan.

"Kau sadar?" Almira bertanya, suaranya gugup.

Lelaki itu membuka matanya lebar-lebar, menatap sekeliling dengan pandangan bingung. "Di... mana aku?" suaranya serak.

"Tenang," kata Almira, berusaha menenangkan. "Kau di gubuk kami. Jangan banyak bergerak, lukamu masih parah."

Lelaki itu meringis. Ia mencoba bangun, tapi langsung terbatuk keras. Darah segar menetes di bibirnya. Almira panik, menahan tubuhnya agar tidak memaksakan diri.

"Nek! Dia sudah sadar!" serunya.

Nenek Rahayu segera menghampiri, membawa mangkuk kecil berisi ramuan. "Minum ini dulu. Bisa meredakan sakitmu."

Dengan susah payah, lelaki itu meneguk ramuan pahit itu. Wajahnya meringis, tapi ia tidak melawan. Setelah beberapa teguk, ia kembali terbaring lemah.

"Siapa namamu, Nak?" tanya Nenek Rahayu lembut.

Lelaki itu menatapnya lekat-lekat, seolah menimbang apakah bisa percaya. Bibirnya bergerak pelan. "Namaku... Arga."

Almira mengulang dalam hati. Arga...

"Kenapa kau bisa terluka seperti ini?" tanya Nenek Rahayu lagi.

Arga menghela napas berat. Matanya menatap langit-langit gubuk. "Aku... dikhianati. Ada orang-orang yang ingin membunuhku. Aku lari... sampai sini."

Almira merinding mendengarnya. Kata-kata itu membuat suasana semakin mencekam. Siapa sebenarnya lelaki ini? Kenapa ada orang yang mengejarnya?

Malam itu, setelah Arga kembali terlelap karena kelelahan, Almira tak bisa tidur. Ia duduk termenung, menatap wajah lelaki asing itu. Wajahnya meski pucat, tampak tegas dengan rahang keras, alis tebal, dan bekas luka di pelipis. Bukan wajah orang desa biasa.

Nek benar... lelaki ini pasti membawa sesuatu yang besar, batinnya.

Ketika pagi menjelang, cahaya matahari masuk dari sela-sela dinding bambu. Almira segera bersiap keluar mengambil air di sumur kecil di ujung hutan. Tapi Nenek Rahayu menahannya.

"Mira, hati-hati. Kalau ada orang bertanya, jangan katakan tentang lelaki itu. Katakan saja kau hanya tinggal berdua dengan nenek."

Almira mengangguk. Ada rasa takut yang makin membesar dalam dirinya.

Siang itu, Arga terbangun lagi. Kali ini pandangannya lebih jernih. Ia melihat Almira sedang menumbuk ramuan daun di lesung kecil.

"Kau... yang menolongku?" suaranya masih lemah.

Almira menoleh, tersentak mendengar suaranya. "Ya. Aku dan nenekku."

Arga menatapnya cukup lama. "Terima kasih."

Almira menggeleng cepat. "Kau tidak perlu berterima kasih. Tapi... siapa yang melukaimu? Apa kau orang jahat yang sedang diburu?" tanyanya tanpa sadar.

Arga terdiam. Ada kilatan tajam di matanya. Namun kemudian ia menutup mata, menghela napas panjang. "Aku tidak bisa menjawab itu sekarang. Yang jelas... aku tidak bisa kembali ke desa. Ada orang berkuasa yang ingin menyingkirkanku."

Almira tercekat. Dalam sekejap, bayangan Rangga Prakoso muncul di kepalanya. Lelaki itu memang dikenal berkuasa, juga kejam.

Apakah mungkin Arga punya urusan dengan Rangga?

Sore menjelang, suasana gubuk sedikit tenang. Namun ketenangan itu tidak bertahan lama. Dari kejauhan, terdengar suara derap langkah kuda. Almira dan Nenek Rahayu saling berpandangan, wajah mereka tegang.

"Siapa itu, Nek?" bisik Almira panik.

Nenek Rahayu berdiri cepat. "Cepat! Bantu Arga masuk ke ruang belakang. Jangan biarkan mereka melihatnya!"

Dengan susah payah, Almira menolong Arga pindah ke bilik kecil di belakang, menutupinya dengan tikar tua. Arga merintih pelan, tapi ia mengerti situasi berbahaya ini.

Tak lama kemudian, terdengar suara keras dari luar.

"Rahayu! Buka pintumu!"

Almira menahan napas. Ia mengenali suara itu-suara pengawal Rangga.

Nenek Rahayu melangkah ke pintu, membukanya sedikit. "Ada apa datang malam-malam begini?" tanyanya dingin.

Pengawal itu menyeringai. "Kami hanya ingin memastikan kalian baik-baik saja. Tuan Rangga khawatir, kalian mungkin mencoba kabur."

Mata Almira melotot dari balik dinding. Hatinya berdegup kencang. Kalau mereka masuk dan menemukan Arga... habislah sudah.

"Pergi dari sini!" bentak Nenek Rahayu. "Kami tidak akan ke mana-mana. Jangan ganggu kami lagi!"

Pengawal itu tertawa kecil, lalu meludah ke tanah. "Baiklah, tapi ingat. Tuan Rangga bisa datang kapan saja, dan menjemput cucumu."

Mereka pun pergi, meninggalkan debu jalan setapak.

Almira terkulai lemas, nyaris menangis. Ia berlari ke ruang belakang, membuka tikar penutup. Arga masih di sana, napasnya berat tapi matanya menyala tajam.

"Itu... orang-orang yang mengejarmu?" bisik Almira.

Arga menatapnya lama, lalu menjawab lirih, "Ya. Dan kalau mereka tahu aku ada di sini... kalian berdua akan dalam bahaya besar."

Almira merinding. Malam itu, ia sadar: hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Kehadiran lelaki ini bukan hanya membawa misteri, tapi juga badai yang bisa menghancurkan segalanya.

Bab 3

Pagi itu, sinar matahari menyusup di sela-sela dinding bambu gubuk. Udara hutan masih dingin, disertai kabut tipis yang menggantung rendah di antara pepohonan. Suara burung bersahut-sahutan, menandai datangnya hari baru. Namun bagi Almira, pagi ini bukanlah awal yang menenangkan, melainkan permulaan dari rasa cemas yang semakin besar.

Ia duduk di dekat tungku, mengipasi api kecil yang memanaskan air. Di belakangnya, Nenek Rahayu masih tertidur di tikar, tubuh renta itu kelelahan setelah semalam mereka harus berjaga. Dari bilik kecil di sudut gubuk, terdengar suara batuk tertahan. Arga, lelaki asing itu, mulai sadar lagi.

Almira menoleh, menatap tirai lusuh yang menutup bilik. Hatinya berdebar. Bagaimana jika lelaki itu memang membawa bahaya? Bagaimana jika kehadirannya justru menyeret mereka lebih jauh ke dalam jurang masalah? Tapi di sisi lain, ada sesuatu dalam dirinya yang tidak tega.

Pelan-pelan, ia masuk ke bilik. Arga sudah duduk bersandar, wajahnya masih pucat, namun matanya menyala tajam. Ketika melihat Almira masuk, ia mengangguk kecil.

"Kau lagi," suaranya serak tapi tenang.

Almira membawa mangkuk berisi air hangat. "Minum dulu. Kau butuh banyak cairan," katanya sambil menyodorkan.

Arga meneguknya perlahan, lalu menghela napas lega. "Terima kasih."

Almira duduk di samping dipan kayu, menatapnya. Rasa penasaran menguasai hatinya. "Arga... siapa yang sebenarnya mengejarmu? Semalam kau bilang dikhianati. Apa kau bisa menjelaskannya padaku?"

Arga terdiam. Pandangannya jatuh pada retakan dinding bambu. Sekian lama ia tak berbicara, hingga akhirnya suara berat itu keluar, lirih tapi jelas. "Aku dulunya tinggal di desa. Bukan desa kalian, tapi desa tetangga yang lebih besar. Aku bekerja pada seseorang... orang yang sangat berkuasa. Dia mempercayakan padaku banyak hal. Tapi pada akhirnya, aku tahu terlalu banyak. Itulah sebabnya mereka ingin menyingkirkanku."

Almira menyipitkan mata. "Orang berkuasa itu... siapa?"

Arga menggeleng pelan. "Belum saatnya kau tahu. Yang jelas, dia punya hubungan dengan wilayah ini. Dengan desamu juga."

Hati Almira mencelos. Dalam benaknya, hanya satu nama yang muncul-Rangga Prakoso. Lelaki yang sama yang mengincarnya selama ini.

"Arga..." suara Almira bergetar, "apakah... apakah orang itu Rangga?"

Mata Arga menoleh cepat. Ada keterkejutan jelas, tapi ia tidak langsung menjawab. Hening sesaat membuat suasana makin mencekam. Lalu perlahan, ia mengangguk sekali.

Almira menutup mulutnya, tubuhnya gemetar. Jantungnya berdetak kencang. Seolah semua teka-teki yang selama ini hanya bisikan samar mulai menemukan arah.

"Apa... apa hubungannya dengan kematian orang tuaku?" tanyanya tanpa sadar.

Arga menatapnya dalam-dalam. Wajahnya tegas, meski masih lemah. "Orang tuamu..." ia terdiam, lalu menghela napas panjang. "Aku tidak tahu pasti. Tapi aku pernah mendengar nama mereka disebut-sebut. Seolah mereka tahu sesuatu yang tidak boleh mereka ketahui."

Air mata tiba-tiba mengalir di pipi Almira. Ia menggigit bibir, hatinya perih. Jadi benar... bukan kecelakaan.

Nenek Rahayu yang sejak tadi berdiri di ambang pintu, mendengarkan diam-diam, akhirnya masuk. Wajahnya suram. "Mira, jangan memaksa Arga bicara terlalu banyak. Dia masih lemah. Dan ada hal-hal... yang mungkin lebih baik belum kau ketahui sekarang."

"Tapi Nek!" suara Almira meninggi, penuh emosi. "Aku berhak tahu! Aku sudah hidup dalam bayang-bayang ketakutan bertahun-tahun. Kalau benar Rangga ada hubungannya dengan kematian Ayah dan Ibu, aku tidak bisa diam saja!"

Nenek Rahayu menatap cucunya dengan mata berkaca-kaca. "Nenek hanya ingin kau selamat, Nak..."

Arga memejamkan mata sejenak, lalu bersuara lirih. "Rangga... bukan hanya sekadar lelaki kaya yang berkuasa di desa. Dia punya jaringan luas. Orang-orang tunduk padanya bukan karena hormat, tapi karena takut. Dia menyembunyikan banyak rahasia kelam. Jika kau ingin tahu tentang kematian orang tuamu... cepat atau lambat, kau harus berhadapan dengan dia."

Suasana ruangan mendadak berat. Almira menunduk, menggenggam ujung kainnya erat-erat. Ketakutan dan tekad bercampur di dalam dadanya.

Hari-hari berikutnya, Almira dan neneknya merawat Arga dengan hati-hati. Mereka memberi makan dengan bubur sederhana, mengganti perbannya, dan menyembunyikannya setiap kali terdengar suara orang lewat di jalan setapak dekat gubuk.

Suatu sore, Almira sedang mencuci pakaian di sungai kecil tak jauh dari gubuk. Ia merendam baju-baju lusuh sambil termenung. Wajah Arga terus terbayang di kepalanya. Lelaki itu penuh misteri, tapi entah mengapa, ada sesuatu yang membuatnya percaya.

Tiba-tiba, suara tawa kasar terdengar dari kejauhan. Almira menoleh cepat. Dari balik pepohonan, tampak dua orang lelaki desa mendekat. Mereka dikenal sebagai anak buah Rangga.

"Hahaha... kau di sini rupanya, Almira," salah satu dari mereka bersuara licik.

Almira berdiri cepat, menahan gugup. "Ada apa kalian ke sini?"

Lelaki itu mendekat, menatapnya dengan tatapan nakal. "Kami hanya ingin memastikan kau baik-baik saja. Tuan Rangga selalu menanyakanmu."

Almira mundur selangkah. "Aku tidak perlu perhatian dari kalian. Pergi!"

Mereka tertawa lagi. "Jangan galak begitu. Kau tahu, sebentar lagi kau akan jadi milik Tuan Rangga. Lebih baik kau mulai belajar ramah."

Almira meremas ujung roknya, tubuhnya gemetar menahan marah. Ia ingin lari, tapi mereka menghadang. Untunglah, suara Nenek Rahayu dari kejauhan memanggil keras.

"Mira! Pulang sekarang!"

Anak buah Rangga melirik sekilas, lalu tertawa kecil sebelum pergi. "Besok-besok kita sambung lagi," ucap salah satunya sambil menyeringai.

Almira berlari pulang, jantungnya masih berdebar. Sesampainya di gubuk, ia langsung masuk, wajahnya pucat. Arga yang sedang duduk bersandar menatapnya penuh tanya.

"Ada apa?" tanyanya cepat.

Almira menggeleng, mencoba menenangkan diri. "Tidak... hanya orang-orang desa yang mengganggu."

Arga menatapnya tajam. "Itu bukan gangguan biasa. Mereka mata-mata Rangga. Kau harus berhati-hati."

Almira duduk, menatap Arga lekat-lekat. "Arga... kau bilang Rangga punya banyak rahasia kelam. Katakan padaku satu hal-kenapa orang-orang begitu takut padanya? Apa yang membuat dia bisa berkuasa?"

Arga terdiam sejenak, lalu suaranya pelan tapi tegas. "Karena dia menguasai sesuatu yang membuat orang lain bergantung padanya. Hasil bumi, perdagangan gelap, bahkan nyawa manusia. Orang-orang yang melawannya... tidak pernah kembali dengan selamat."

Nenek Rahayu mendesah panjang, wajahnya penuh duka. "Itu sebabnya nenek selalu melarangmu melawan, Mira. Rangga bukan orang yang bisa kau hadapi begitu saja."

Almira menatap keduanya dengan mata berkaca-kaca. "Tapi kalau kita terus diam, dia akan terus berkuasa. Dia akan terus menindas. Dan aku... aku tidak mau menjadi istri keempatnya!"

Arga menatap gadis itu lama, lalu perlahan berkata, "Mungkin... kau memang ditakdirkan untuk menjadi orang yang menentangnya, Almira."

Almira menelan ludah. Kata-kata itu menusuk dalam, seperti sebuah ramalan yang menggetarkan hatinya.

Malam itu, ketika semua terlelap, Almira tidak bisa tidur. Ia keluar gubuk, berdiri di bawah langit bertabur bintang. Angin malam menyapu wajahnya. Dalam hati ia berbicara pada kedua orang tuanya.

"Ayah, Ibu... apa benar kalian dibunuh karena tahu rahasia Rangga? Kalau benar begitu, aku akan mencari tahu. Aku akan mencari kebenaran. Aku berjanji..."

Tiba-tiba, dari kejauhan, terdengar lolongan anjing hutan, panjang dan nyaring. Hatinya merinding. Entah kenapa, firasatnya berkata, badai besar akan segera datang.

Dan di dalam gubuk, Arga yang tampak tertidur sebenarnya masih terjaga. Matanya menatap langit-langit, pikirannya penuh bayangan masa lalu.

"Aku tidak bisa tinggal di sini lama. Tapi... mungkin gadis ini memang kunci untuk menjatuhkan Rangga," batinnya.

Malam itu, tanpa ada yang tahu, tiga takdir mulai bertaut: Almira, Arga, dan Rangga. Dan semuanya hanya menunggu waktu untuk meledak menjadi pertarungan hidup dan mati.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED