"Apa? Pak Raffayel mengaku punya pacar? Padahal kenyataannya kan ...." Pria itu cepat-cepat menutup mulut saat Raffayel mendongak menatapnya. "Maaf," ujarnya sambil menunduk.
Asisten sekaligus sekretarisnya itu mengambil tempat di sebelah Raffayel. Pria dengan rambut plontos dan tinggi 170 lebih itu menoleh, mengamati ekspresi sang atasan dengan saksama. Sudah setengah jam Raffayel melamun di kursinya.
"Anda mau saya sewakan cewek panggilan?"
Raffayel menggeleng, kalau dia menyewa wanita panggilan, bukan tidak mungkin para pejabat tinggi perusahaan yang gemar celap celup akan mengenali wanita itu. Raffayel tidak mau mukanya tercoreng. Rencana untuk menghindari perjodohan dengan Hannah harus berhasil.
Masih ada waktu enam hari lagi, pikirnya kemudian menatap setumpuk berkas yang mesti dia periksa hari ini.
"LC, gimana? Atau model? Atau mungkin Pak Raffayel punya temen cewek yang bisa dimintai bantuan?" ujar asistennya masih berusaha memberi solusi, meski semua ditolak.
"Lupakan soal itu, hari ini jadwalku apa saja?"
"Ada rapat dengan tim pemasaran, ada pertemuan dengan relasi, dan makan siang bersama dengan Chairman." Bagian opsi terakhir membuat perut Raffayel agak melilit, untuk apa ketua mengajaknya makan bersama? Mau membahas soal perjodohan dengan putrinya? Apa pria tua itu belum tahu kalau Raffayel menolak perjodohan bisnis mereka?
"Brian, bagian makan siang ... bisa dicancel?"
"Tapi Chairman minta anda untuk meluangkan waktu agar bisa makan bersama dengannya." Brian bahkan menunjukkan pesan yang dia dapat dari ketua perusahaan itu pada Raffayel.
"Tolong kasih tahu, kalau aku ada rapat atau apapun itu. Aku yakin selain kami berdua, pasti ada Hannah."
"Anda menghindari Hannah? Apa sih yang salah dari dia, Pak?" tanya Brian penasaran, dia cukup lama mengenal Raffayel, tapi sampai sekarang dia masih belum mengerti kenapa atasannya ini malas sekali berhadapan dengan perempuan cantik seperti Hannah.
"Jika aku jelaskan, kamu gak akan percaya, Brian. Pokoknya beritahu pada ketua, kalau aku sibuk. Titik!" Raffayel menunjuk pintu keluar pada Brian, dan pria itu langsung paham kalau Raffayel perlu waktu sendiri sekarang.
Selepas Brian keluar, Raffayel menenggelamkan diri dengan pekerjaannya, melupakan sebentar masalah yang membelenggu pikirannya.
***
Elmy menutup telinganya dengan headphone. Suara ibunya yang mengomel dari luar cukup membuatnya meradang, dan sudah pasti dengan topik yang sama.
"Kapan sih kamu sadar, kamu itu udah 27 tahun! Udah siap buat nikah."
"Gak malu sama anak tetangga? Dua puluh lima tahun udah nikah, punya anak, sekarang suaminya kerja di perusahaan besar! Hidupnya enak! Kamu gak mau kek gitu, hah?"
"Noh, anak pak RT yang lebih muda dari kamu udah nikah kemarin. Kamu yang tua ini kapan? Mau sampai kapan kamu begini terus?"
Nikah. Nikah. Nikah. Gak ada gitu, pembahasan yang lain? Krisis moneter, kek? Soal bentuk bumi itu apa, kek! Apalah, yang ada faedahnya! Pikir Elmy sambil menggerakkan kursor ke bagian pencarian dan mengetik laman web yang biasa dia kunjungi.
Suara musik dari Sevdaliza membuat dia mengangguk-angguk. Dia menekan bagian penghasilan di laman web dan mengecek berapa hasil penjualan bab berbayar yang dia tulis akhir-akhir ini. Sebagai pengangguran baru, Elmy hanya memanfaatkan uang dari kegiatan menulis novel yang dia geluti sejak dulu. Hasilnya lumayan kalau novelnya sedang naik daun, tapi kalau gagal, ya gigit jari saja.
Saat melihat angka di web, matanya berair, bibirnya mengatup rapat. "Hah!" Elmy mendesah sambil menelungkupkan kepala di atas meja. "Kalau kek gini, sebulan aku gak bisa bayar utang ke Raffayel."
Kembali dia menegakkan badan dan membuka ponsel, membuka aplikasi mbanking-nya, mengecek berapa jumlah tabungan yang dia miliki sekarang. Tabungannya sisa beberapa juta lagi, dan sebentar lagi bakal raib. Dengusan napas berembus saat dia memanyunkan bibir.
Keluar dari aplikasi, Elmy membuka aplikasi pesan dan mengirim chat pada Raffayel. "Kirim norek, aku mau nyicil utang!" ketik Elmy sambil merengut. Duit yang seharusnya dia pakai sebagai cadangan selama tidak bekerja, kini kandas karena mobil mercedes sialan itu.
Tak lama ada balasan dari cowok itu, bukan sederet angka atau kalimat sindiran, tapi sebuah pertanyaan yang membuat alis tebal Elmy berkerut.
"Mau hutang kamu cepat lunas, gak?"
Pertanyaannya sudah mirip iklan pinjol, pikir Elmy. Jari kecil Elmy segera memencet kolom chat dan membalasnya, "Jangan bilang kamu mau nyuruh aku buat jual diri."
Beberapa detik saja Raffayel membalas. "Kalau kamu berpikir begitu, coba ngaca dulu deh. Emang body kamu menjual?"
Elmy meninju pahanya sendiri, luar biasa sebal dengan balasan Raffayel. Kalau saja dia tidak ingat ada hutang dengan pria itu, sudah sedari tadi dia block nomornya. Sembari menarik napas panjang, Elmy membalas chat tersebut.
"Terus ... mau nyuruh aku ngapain? Jadi babi ngepet?"
"Cocok sih. Tapi bukan itu yang aku mau. Besok, temui aku di lobby perusahaan Baskara Tbk. Tampil yang cantik, pakai pakaian rapi."
"Kamu serius mau ngejual aku?" tulis Elmy, namun tidak balas oleh Raffayel, membuatnya bertanya-tanya. Apa yang pria ini inginkan darinya? Apa Raffayel mau menidurinya? Cinta satu malam? Kalau iya, Elmy tidak bisa membiarkan keperawanannya direnggut hanya demi uang 30 juta! Tidak!
***
Raffayel sebenarnya tidak terpikir untuk memanfaatkan kelemahan gadis ini. Tapi, kemarin di depan tumpukan berkas yang nyaris membuatnya mual, Raffayel melihat chat Elmy, nama gadis itu langsung mengingatkannya dengan mobil mercedes yang lagi diservis.
Seakan dapat wangsit, Raffayel membalas chat Elmy dan mengajaknya bertemu hari ini di lobby perusahaan. Tadi pagi dia mengirim pesan, meminta gadis itu untuk datang sekitar jam 10-an.
Raffayel yang sedang merapikan berkas setelah selesai melakukan rapat bersama dewan direksi terkait kinerjanya dalam beberapa bulan ini, langsung keluar dari ruangan dan menyuruh Brain untuk mengosongkan semua jadwalnya.
"Loh? Tapi ...."
"Kali ini aku beneran ada urusan penting, Brian. Jadi tolong kosongkan semua jadwalku."
Brian mengangguk dan membiarkan Raffayel melangkah memasuki lift. Sampai di lobby, dia melihat Elmy duduk di sofa, tengah memainkan ponsel. Gadis dengan rambut pendek seleher itu mendongak menatapnya.
"Sudah lama menunggu?"
"Lumayan."
Raffayel menarik lengannya, membawa tubuh kecil Elmy ke dekapan. Tangan besar Raffayel mengusap rambut Elmy yang lembut. "Diam, jangan ngomong. Cukup aku aja yang ngomong," bisik Raffayel sengaja menunduk dan menempelkan bibirnya di depan telinga Elmy yang sudah memerah karena malu.
"Raffayel?"
'Bagus! Tepat waktu!' Raffayel bersorak dalam hati saat melihat wajah Hannah yang pias di depan sana. Cepat dia melepaskan pelukan dari badan kecil Elmy, merangkul pundak gadis itu dengan mesra.
Hannah melirik Elmy sekilas, lalu pada Raffayel. "Dia siapa?"
"Pacar aku."
Tahu kalau Elmy akan protes, dia cepat-cepat meremas pundak gadis itu dan tersenyum lebar padanya. Seolah memberi kode pada Elmy agar diam saja. Beruntung gadis mungil ini patuh.
"Pacar? Jadi, gadis ini yang bikin kamu nolak perjodohan kita?" tanya Hannah. Tersirat ejekan halus di kalimatnya, namun Raffayel tak peduli dan tetap tersenyum.
"Ya," sahutnya singkat. "Aku ada acara dengan pacarku. Aku duluan, Hannah." Raffayel segera menggenggam tangan Elmy dan menariknya pergi dari sana.
Di depan parkiran Raffayel melepas pegangannya dan melihat Elmy berkacak pinggang. Dari wajahnya jelas dia meminta penjelasan tentang semua yang Raffayel lakukan barusan.
"Kita bicara di dalam mobil saja."
Duduk bersisian di dalam mobil, Raffayel menoleh pada Elmy. "Seperti yang aku bilang di chat. Kamu mau utang kamu cepat lunas, kan?"
Elmy mengangguk.
"Kalau gitu, kamu harus turuti apa yang aku minta," kata Raffayel membuat mata Elmy yang bulat mengerjap. Cepat gadis itu menutup dada, menatap ngeri pada Raffayel yang menggeleng-geleng, berusaha mengeyahkan pikiran kotor gadis itu. "Bukan itu! Jauh banget kamu mikirnya. Aku cuma mau kamu ... jadi pacar aku."
"Pacar kamu? Kayak di depan gadis tadi?"
"That's right! Cuma bohongan. Aku perlu peran kamu sebagai pacar aku minggu ini. Aku bakalan ngenalin kamu ke ayah aku," kata Raffayel telak membuat Elmy terbelalak.
Elmy menyandarkan kepala di jok mobil, memandang keluar jendela sambil terus berpikir tentang rencana yang Raffayel katakan beberapa menit lalu.
Pria ini ingin dia jadi pacar bohongannya, untuk mengelabui sang ayah, dan menghindari perjodohan dengan gadis cantik yang sempat Elmy temui di lobby perusahaan Baskara.
Aneh, kok ada orang yang nolak perjodohan dengan gadis secantik itu, pikir Elmy. Dari tampilan saja Elmy sudah tahu, kalau gadis itu bukan dari kalangan bawah sepertinya. Mulai dari ujung kepala sampai kakinya dihiasi barang bermerk semua, dan wajahnya jangan ditanya lagi. Elmy bahkan terkagum-kagum melihat kecantikannya. Tapi kok cowok di sampingnya ini malah menolak?
"Kamu kenapa lihatin aku begitu? Aku tahu, aku itu ganteng. Jadi gak usah diliatin terus," celetuk Raffayel sambil memutar setir dan mobil pun berbelok memasuki area basement.
"Aku heran aja, kok kamu nolak perjodohan dengan cewek itu? Semua cowok di muka bumi ini pasti naksir dia, lah kamu buang-buang kesempatan buat punya istri cantik!" jelas Elmy panjang lebar.
"Aku gak suka sama dia, titik. Gak mau berdebat lagi," sahut Raffayel seraya melepaskan seatbeltnya dan bergegas keluar dari mobil.
Elmy menyusul dan berlari kecil agar bisa sejajar dengan pria itu. Dia mendongak dan menatap wajah Raffayel. "Alasannya apa? Aku penasaran, orang secantik dia ditolak oleh cowok kek kamu!"
Sejenak Raffayel berhenti dan melirik Elmy. "Alasannya? Ya, karena aku gak suka. Itu aja. Udah, jangan dibahas lagi."
Langkah besar Raffayel berayun menuju lift, disusul Elmy yang kini berdiri di sampingnya. Sampai di dalam apartemen mewah Raffayel, Elmy dibuat takjub oleh interiornya yang mewah dan kelihatan berkelas sekali. Furniturenya tertata rapi dan tampak modern.
Dia berjalan menuju sofa dan duduk di sana. Desahan lolos, ini sofa terempuk yang pernah dia duduki. Saat Elmy tenggelam dalam kemewahan yang ada di sekelilingnya, Raffayel muncul membawa dua gelas jus dan camilan, sementara di ketiaknya ada sebuah amplop cokelat.
Beberapa menit berlalu, Raffayel hanya duduk di seberangnya, membaca isi amplop cokelat yang dia bawa, sebelum pintu apartemen terbuka dan menampilkan sosok pria lain. Dari gestur dan cara dia bicara, Elmy yakin dia bawahan Raffayel.
"Brian, tolong kamu jadi saksi."
"Saksi?" tanya Elmy dan Brian bersamaan.
"Aku dan Elmy akan membuat kesepakatan, jadi sekarang ambil kertas di ruanganku dan tulis apa yang aku katakan," titah Raffayel pada Brian yang bergegas pergi menuju ruang kerja.
Elmy menegakkan badan dan menatap Raffayel lekat-lekat. "Kesepakatan apa? Buat jadi pacar kamu? Emang harus bikin surat perjanjian segala?"
"Aku berubah pikiran."
"Huh?"
"Aku mau kita menikah."
"Heh? Secepat itu kamu berubah pikiran?" seru Elmy kaget bukan main.
Raffayel menoleh dengan muka datarnya yang menyebalkan itu. "Terserah aku dong. Ini kan otak aku, hak aku berubah pikiran kapan saja."
***
"Hannah Yuanita Baskara Design!" Suara MC terdengar riang, disusul musik yang kini menggema di seluruh ruangan. Hannah yang tampil cantik dengan balutan dress hitam dengan rambut digelung tampak berjalan ke depan sebuah pita, di tangannya ada gunting yang siap memotong pita tersebut.
"Dalam hitungan ketiga, Bu Hannah potong pitanya," ujar MC lalu diiringi suara para karyawan yang berhitung.
Dihitungan ketiga, Hannah memotong pita berwarna pink itu dan suara sorak sorai terdengar riuh. Hannah tersenyum lebar, ayahnya mendekat dan memeluknya. "Selamat untuk pembukaan butik ketiga kamu di kota ini."
"Makasih, Ayah." Hannah tidak sesenang itu, mengingat Raffayel tidak bersama mereka. Dia sempat ingin mengajak Raffayel ke butik baru ini, tapi pria itu pergi bersama pacarnya. Hannah tidak tahu, itu benar atau tidak, tapi bagaimana cara Raffayel memeluk dan menyentuh gadis itu, cukup membuat Hannah gelisah.
Selama belasan tahun mengenal Raffayel, baru kali ini Hannah merasa sangat cemburu pada gadis yang dibawanya. Dia tahu Raffayel jarang menjalin hubungan, karena ayah Raffayel cukup ketat mengatur pergaulannya. Bahkan Hannah tak pernah melihat Raffayel menyentuh pacar-pacarnya terdahulu semesra dia menyentuh gadis tadi.
Jadi, bohong kalau Hannah tidak kepikiran soal ini. Kebahagiaan yang seharusnya dia rasakan sekarang, sirna, karena bayangan Raffayel yang memeluk pacarnya dengan mesra di lobby perusahaan tadi.
Melihat sang putri tampak murung, Baskara-ayah Hannah-menyentuh pundaknya. "Raffayel gak hadir di acara pembukaan ini?"
Hannah menggeleng. "Dia sibuk."
Baskara mengangguk. "Ya, dia juga kemarin membatalkan pertemuan dengan ayah. Brian bilang dia sibuk sekali akhir-akhir ini. Ayah pikir Raffayel memang tidak punya banyak waktu luang sekarang."
'Tepatnya dia membuat-buat alasan untuk menghindar dari kita.' Hannah menyela dalam hati, dia meremas dressnya dengan kuat sebelum mendongak dan tersenyum pada Baskara. "Meskipun dia gak ada, kehadiran ayah udah cukup."
Baskara tersenyum dan meninggalkan Hannah di meja, menjamu beberapa tamu penting yang ikut datang ke pembukaan butik putrinya. Sementara itu Hannah mengeluarkan ponsel dari tas kecil, mengecek pesan dan media sosial Raffayel, berharap pria itu membagikan momen kencannya.
Nihil.
Hannah menghela napas, lalu memotret kue di atas meja kemudian mengirim pesan pada Raffayel. Tak berharap banyak untuk balas, karena sejauh ini Raffayel hanya membalas pesannya kalau itu berurusan dengan perusahaan saja.
"Kamu lupa ya? Hari ini aku opening butik baru. Aku pesan kue kesukaan kamu, makanannya juga. Kamu gak mau datang sama pacar kamu?"
Senyum tipis terbit di bibir Hannah saat melihat centang biru menyala, dilanjut dengan balasan yang sedang diketik oleh Raffayel.
Sedetik kemudian, genggaman Hannah di ponsel mengerat melihat foto yang Raffayel kirim. Jemari Hannah gemetar oleh emosi, dia sontak melepaskan ponsel ke atas meja, menumpukan kedua tangan di lutut seraya tertawa getir.
"Maaf, tapi aku gak bisa tinggalin dia." Tulis Raffayel disertai foto seorang gadis yang tertidur di atas sofa, lengkap dengan selimut.
Hannah mengusap wajahnya, tak perlu bertanya di mana Raffayel sekarang. Karena dia tahu, sofa yang gadis itu tiduri adalah sofa di apartemen Raffayel.
'Mereka bersama di sana? Sejauh apa hubungan mereka?'
***
"Hubungan kita hanya sebatas suami istri bohongan, di depan keluargaku, keluargamu dan keluarga Baskara."
Elmy merapatkan selimut ke perutnya dan meringkuk mengamati tulisan yang diketik oleh Brian beberapa menit lalu. Cepat dia menatap Raffayel yang duduk santai di sofa seberang.
"Tapi ini nipu namanya!"
"Setidaknya kita beneran nikah, walau dalam jangka waktu yang ditentukan."
"Tap-"
"Tinggal jawab aja, mau apa enggak!" Raffayel mengamati muka Elmy yang bingung dan bimbang itu. Ya, dia paham, mana mungkin gadis ini akan langsung memutuskan. Dia pasti perlu waktu untuk berpikir.
"Kalau gak mau, kamu bakalan tetap bayar utang itu dalam satu bulan ini. Kalau iya, kamu boleh menambahkan aturan di perjanjian kita. Atau kamu mau menambah jaminan yang kamu inginkan juga bisa, selama aku bisa melakukannya."
Kata-kata yang Raffayel lontarkan cukup membuat mata bulat Elmy agak berbinar. Mungkin opsi kedua tampak menggiurkan baginya.
"Boleh aku mikir satu atau dua hari dulu gak? Ini keputusan besar," kata Elmy tetap ragu.
Raffayel tersenyum tipis dan mengangguk.
Bangkit dari sofa empuk itu, Elmy meraih tasnya dan mencangklong ke pundak. Sebelum langkahnya sampai di ambang pintu, dia berbalik dan menghadap Raffayel lagi. "Apa alasan kamu nolak Hannah? Dia anak Baskara, anak konglomerat di republik ini. Ayahnya punya perusahaan besar, dan kamu kerja di sana. Kenapa kamu nolak gadis secantik dan seanggun dia? Coba katakan!"
"Kalau aku katakan, apa itu jadi bahan pertimbangan?"
Elmy mengangguk mantap.
"Hannah tidak seperti yang kamu bayangkan, Elmy. Aku tahu sisi yang tidak kamu ketahui, itu alasannya."