Malam itu, langit menggelap dengan cepat, seperti sebuah pertanda buruk yang menghantui langkah Isolde. Setelah pertemuan yang menegangkan di aula, segala sesuatu terasa seperti mimpi buruk yang perlahan menjadi kenyataan.
Isolde berdiri di depan cermin besar di kamar tidurnya, menyentuh gaun pengantin yang dikenakannya. Gaun itu berwarna hitam legam, seolah menyimbolkan kegelapan yang akan segera menyelubungi hidupnya. Benar-benar tidak ada yang mengingatkan pada kebahagiaan atau cinta. Setiap detailnya mengingatkan pada keputusan yang tak dapat diubah, pada pria yang akan menjadi suaminya-seorang pria yang dikenal lebih karena ketakutan daripada kekasih.
Suara langkah kaki terdengar di luar pintu.
Isolde menarik napas dalam-dalam, membalikkan tubuhnya untuk menyambut kedatangan pelayan yang masuk dengan wajah muram. "Lady Isolde," kata pelayan itu, "Duke Valemont telah tiba."
Duke Severian Valemont. Nama itu terdengar seperti petir yang menyambar.
Isolde mengangguk tanpa berkata-kata. Dalam hati, ia tahu bahwa ini adalah langkah terakhirnya-sebuah permainan yang harus ia mainkan dengan sangat hati-hati. Ia tak bisa menunjukkan kelemahan, tak bisa menunjukkan ketakutan. Dia harus bertahan, tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi untuk ayahnya yang berada di ambang kematian.
Pintu besar terbuka dengan bunyi gemerincing, dan di ambang pintu, berdiri seorang pria yang tidak terlihat seperti manusia biasa. Severian Valemont begitu tinggi dan tegap, dengan mata abu-abu yang tampak seolah mampu menembus jiwa setiap orang yang dipandanginya. Wajahnya yang tampan tidak mengandung emosi, hanya keheningan yang menakutkan. Rambut hitamnya yang rapi tertata dengan sempurna, seakan tidak ada sedikit pun kekacauan dalam hidupnya.
Isolde merasa hatinya berdegup kencang, namun ia menahan dirinya.
"Lady Isolde," suaranya dalam dan rendah, hampir seperti bisikan maut. "Akhirnya, kita bertemu."
Dia tidak mengulurkan tangan. Tidak ada sapaan ramah. Hanya tatapan tajam yang membuat Isolde merasa seperti seekor kelinci yang sedang diamati oleh serigala.
"Aku sudah mendengar banyak tentangmu, Duke Valemont," jawab Isolde, suaranya terdengar lebih mantap daripada yang dirasakannya. "Dan aku percaya kita akan saling mengenal lebih baik dalam waktu yang sangat dekat."
Severian menatapnya lebih lama dari yang diinginkan Isolde, seolah mengukur setiap inci tubuhnya, mencari kelemahan. Namun, ia tidak berkata apa-apa lagi. Hanya berdiri di sana, mata abu-abu itu masih mengintai, penuh dengan rahasia dan keheningan yang membekukan.
"Ruang makan telah disiapkan," kata pelayan itu dengan cemas, mencoba mengalihkan perhatian mereka dari ketegangan yang tercipta.
Isolde mengangguk dan melangkah menuju pintu, berusaha menyembunyikan rasa takut yang semakin membebani dadanya. Severian mengikutinya, langkah kakinya terdengar berat dan penuh kekuatan. Suara keduanya bergema di sepanjang lorong sunyi menuju ruang makan besar.
Saat mereka tiba, meja besar yang dihiasi dengan makanan dan anggur sudah siap, tetapi suasana itu terasa seperti jamuan bagi dua orang yang saling tidak mengenal.
Tanpa satu kata pun, mereka duduk di kedua sisi meja. Severian memulai makanannya dengan tenang, seakan segala sesuatu di dunia ini adalah urusan biasa baginya, sementara Isolde hanya bisa menatapnya, mencoba membaca ekspresi wajahnya yang tak terbaca.
Namun, suasana hening itu tidak berlangsung lama.
"Kenapa kau memilih untuk menikah denganku?" suara Severian pecah, tajam dan langsung, mengusik ketenangan yang sempat ada.
Isolde menatapnya, berusaha mengontrol suaranya agar tidak terdengar gemetar. "Aku tidak punya pilihan," jawabnya, matanya menatap lurus ke arah mata Severian yang penuh dengan misteri. "Ayahku akan mati jika aku menolak."
"Ah," Severian menyeringai, "sebuah pengorbanan yang menarik."
Isolde menahan diri untuk tidak mengungkapkan kebencian yang merayap di dalam dirinya. "Bukan pengorbanan. Hanya keputusan."
Severian mengangkat alis, tampaknya terkesan dengan keberanian Isolde. "Keputusan yang akan menentukan hidupmu. Keputusan yang akan menentukan hidup kita berdua."
Keduanya terdiam, namun ketegangan antara mereka semakin jelas. Isolde tahu, ini baru permulaan dari sesuatu yang jauh lebih gelap dan berbahaya daripada yang pernah dibayangkannya.
Pagi setelah perjamuan, Isolde terbangun dengan rasa cemas yang tak bisa dihilangkan. Bahkan udara di dalam kamar terasa lebih berat dari biasanya, seolah setiap sudut mengingatkannya pada perjanjian yang telah dibuat, pada takdir yang telah menunggu.
Dia duduk di tepi tempat tidur, tangannya menggenggam erat sisi kain selimut. Duke Severian Valemont, suaminya yang tak diinginkan, bukan hanya mengerikan karena ketenarannya yang menakutkan, tetapi juga karena kekuatan yang dia miliki. Ada sesuatu yang lebih gelap di balik matanya yang dingin, dan Isolde tahu itu. Dia tidak hanya menikah dengan pria yang dipandang sebagai iblis oleh banyak orang-dia menikahi seseorang yang tidak pernah berkompromi dengan kelemahan.
Pintu kamar terbuka dengan satu hentakan pelan, dan pelayan masuk membawa secangkir teh, mencoba mengalihkan pikiran Isolde.
"Lady Isolde," kata pelayan itu dengan suara lembut, "Duke Valemont mengundang Anda untuk menemui beliau di perpustakaan."
Isolde menatap pelayan itu dengan kosong. Perpustakaan. Sudah hampir satu hari sejak mereka menikah, namun perasaan ini-ketidaknyamanan yang mendalam-tak pernah meninggalkannya.
"Terima kasih," Isolde berkata singkat, dan meskipun ia tahu pertemuan itu tidak akan menyenangkan, ia tetap melangkah keluar dari kamarnya.
Langkahnya terasa berat, setiap detik berlalu membawa beban yang semakin menekan dada. Ketika dia memasuki perpustakaan yang luas, suhu ruangan itu terasa lebih dingin, lebih gelap. Rak-rak buku tinggi menjulang, menciptakan bayangan yang menyerupai dinding tak terlihat, memenjara siapa pun yang berada di dalamnya.
Di meja tengah perpustakaan, Severian duduk, menatap sebuah buku yang terbuka di hadapannya, namun tatapannya kosong, seperti sedang melamun jauh. Isolde menghela napas pelan dan melangkah maju, merasa semakin cemas saat semakin dekat dengan pria itu.
"Apa yang ingin Anda bicarakan, Duke?" tanyanya, berusaha menjaga suaranya tetap tenang meskipun dalam hatinya bergolak rasa takut dan kebingungan.
Severian tidak segera menanggapi. Dia hanya mengangkat matanya, memandangi Isolde dengan pandangan yang sulit dimengerti. Matanya yang abu-abu terlihat seperti dua kawah yang dalam, penuh dengan segala macam rahasia yang menunggu untuk terungkap.
"Apakah kau benar-benar ingin tahu?" Suaranya terdengar datar, namun ada nada yang hampir seperti peringatan di sana.
Isolde hanya bisa mengangguk. Dia tidak bisa lari, tidak bisa menghindari pria ini.
"Ini tentang kepercayaan, Isolde." Severian akhirnya berbicara, matanya tetap terkunci dengan mata Isolde. "Kau dan aku... tidak bisa hanya menjalani hidup ini seperti pasangan biasa."
Isolde merasakan keringat dingin menetes di pelipisnya. "Apa maksud Anda?"
Severian berdiri dari kursinya dan melangkah mendekat, tiap langkahnya membawa aura kekuasaan yang menakutkan. "Aku tidak percaya pada cinta, Isolde," katanya perlahan, suara yang dalam dan menakutkan itu menggetarkan suasana ruangan. "Kau hanyalah alat yang bisa kugunakan. Dan kau tahu itu."
Isolde merasa tubuhnya membeku, kata-kata itu seperti belati yang menusuk hati. Namun, dia berusaha menenangkan dirinya, berusaha menjaga pikirannya tetap jernih.
"Tapi aku masih manusia," balasnya dengan suara yang terjaga, meski ketakutan masih menggerogoti hatinya. "Aku tidak akan menjadi boneka dalam permainan Anda."
Severian tersenyum dingin, senyum yang tidak mengandung kehangatan sedikit pun. "Kau harus mengerti, Isolde, permainan ini lebih besar dari sekadar kita berdua. Jika kau ingin bertahan hidup, kau harus mengikuti aturanku."
Isolde menggigit bibir bawahnya, berjuang untuk mengendalikan perasaan yang hampir pecah. "Apa yang harus saya lakukan?"
Severian mendekatkan wajahnya, dan untuk pertama kalinya, Isolde bisa merasakan hawa dingin yang tajam di tubuhnya, seolah seluruh dunia terhenti di sekeliling mereka. "Belajarlah untuk menjadi bagian dari dunia ini. Belajarlah untuk tidak ragu, dan lebih dari itu, belajarlah untuk mempercayai dirimu sendiri."
Isolde menatapnya dalam diam, rasa benci dan kebingungannya semakin membara. Namun, dalam dirinya, ada sesuatu yang lebih kuat-sebuah tekad untuk bertahan, untuk mencari jalan keluar dari cengkeraman ini, meski itu berarti harus menghadapinya.
"Aku akan bertahan," bisiknya pelan, "meski harus bertaruh dengan nyawaku."
Severian mengangkat alisnya, tampaknya terkesan dengan keteguhan hati Isolde. Namun, di balik tatapannya yang tajam, ada sesuatu yang lebih gelap, seperti ancaman yang mengintai, siap menghancurkan siapa saja yang berdiri di jalannya.
"Baiklah, Isolde," katanya akhirnya, suaranya lebih rendah dari sebelumnya, "kita lihat seberapa jauh kau bisa bertahan."
Dan dengan itu, dunia Isolde yang sudah gelap, kini semakin menenggelamkan dirinya dalam kegelapan yang lebih dalam lagi.