Dila juga pernah lihat, Ayah mimik susu sama Tante. Kata Ayah, dikulkas stok susu habis. Padahal mimik itu kan buat Dedek Hamdan. Iya kan Mah?"
Tubuh ini meremang, nafas tersenggal dengan kepala yang terasa berdenyut-denyut. Kusandarkan tubuh yang begitu lemas, menyentak kepala secara kasar dengan tembok.
Tidak!
Tidak mungkin mereka mengkhianatiku. Tidak mungkin!
Aku berusaha menghalau pikiran buruk, yang membuat kepala semakin berdenyut-denyut. Kepala terasa mau pecah memikirkan kegilaan ini.
Tapi Dila ... anak sekecil itu tidak mungkin berbohong. Dila bicara begitu lugas, tak ada tekanan atau kebohongan sedikit pun. Lagi pula untuk apa Dila bicara bohong?
Astaga. Ada apa ini?
"Mah, kok melamun?" Dila menyentuh wajahku. Wajah ini terasa begitu panas, pun dengan mata dan tubuhku.
"Mamah sakit, kok pucat?" Dila menempelkan telapak tangannya diwajahku.
"Eh--itu, anu. I-ya Mamah tidak enak badan." ucapku dengan tubuh menggigil, tangan memijit pelipis dengan pelan.
Ingin kembali melontar kata dan memastikan, namun, hati seakan tidak sanggup. Aku begitu shock dengan apa yang di ucapkan oleh Dila.
Aku atur nafas yang terasa sesak, memukul dada sambil membuang nafas panjang. Aku harus berpikir dengan jernih. Ucapan Dila tidak bisa aku telan dengan mentah, jika memang kedua manusia itu bermain curang dibelakangku. Aku sendiri yang akan mencari buktinya.
Menelan saliva dengan susah payah, kedua tanganku terangkat menyentuh pundak Dila.
"Sayang ..." aku menatapnya lurus-lurus, agar Dila berfokus melihat dan mendengar ucapanku dengan jelas.
"Iya, Mah?" sahut anak perempuan pemilik mata sipit itu.
"Dila kalau Ayah dan Tante sedang pijit-pijit, telepon Mamah ya."
Dila terlihat bingung, wajah polosnya tak bereaksi apa-apa.
Aisshhh ... aku bicara apa sih!
Huhhh
Aku kembali membuang nafas panjang. Bagaimana mungkin Dila aku suruh yang tidak-tidak.
Berpikirlah, Larissa.
"Mm ... biasanya Ayah pijit Tante jam berapa, sayang?" tanyaku sambil memasang senyum. Sekedar membuat Dila merasa nyaman.
Gadis cantik itu menempelkan telunjuknya dibibir, matanya melihat keatas seakan berfikir.
"Jam berapa ya ..."
"Tidak tahu, Mah." ucapnya.
Aku menghela nafas gusar, menggigit bibir mencoba berfikir kembali.
Bik Narti ... oh iya. Bik Narti, kenapa aku tidak kepikiran.
"Bik Narti ada tidak, kalau Tante minta pijit sama Ayah," ucapku dengan suara berbisik.
"Bik Narti naik keatas, Mah. Sholat. Terus nyiram tamanan," ucap Dila.
"Siang atau sore?" tanyaku. Dila menggelengkan kepala.
Aku mendesah frustasi, Dila masih terlalu kecil. Sulit untuk bertanya lebih banyak.
"Kakak Dilaa ..." suara Hella terdengar dari luar, tak lama pintu kamar terbuka pelan. Hella masuk ke dalam kamar dengan senyum sumringah sambil menuntun Hamdan ditangan kirinya.
Senyum itu ... entah mengapa aku muak melihatnya.
Debaran dada bertalu-talu, jika ingin mengikut hawa nafsu. Ingin sekali aku memb3nturkan kepalanya pada sudut meja.
"Eh ada Mamah Rissa." ucapnya saat melihat kearahku. Wajahku menegang, aku ingin memaksakan senyum tapi entah kenapa terasa sulit untuk digerakan.
Hamdan ... bocah mungil itu berjalan dengan langkah berat, lalu terjatuh diatas lantai.
"Ayok, bangun lagi, Dek." seru Hella menyemangati anaknya. Hamdan memegangi tangan Hella, perlahan bangun dan kembali berdiri satu dua langkah berhasil dia lakukan.
Hella bersorak riang, mencium dengan gemas anak laki-lakinya.
"Pintar, anak Bunda." ucapnya senang.
Entah mengapa aku hanya diam, tak bereaksi apapun melihat kebahagiaan mereka. Wajahku datar, kepalaku bahkan semakin terasa panas.
"Ayok, Kak Dila main keluar. Sudah mandi, sudah cantik. Ayok kita jalan-jalan," tangan Hella terulur, ingin meraih tubuh anakku.
Dikompleks perumahan ini, sore hari sangat ramai. Banyak anak kecil bermain diluar rumah, kebetulan ditengah-tengah gang ada lapangan besar. Ibu-Ibu penghuni kompleks rata-rata keluar menemani atau mengawasi Putra dan Putri nya bermain.
"Jangan!" ujarku. Kening Hella mengkerut, menatap heran kearahku.
"Kenapa?" tanyanya. Aku menatap lurus tampangnya, pengakuan Dila tentu saja membuat aku merasa marah dan jij*k padanya.
"Aku mau ajak Dila keluar, ada yang mau dibeli." ucapku. Hella menyunggingkan senyum lalu menganggukkan kepalanya.
"Dedek Hamdan main dulu ya, Kakak Dila." Hella tersenyum kearah anakku. Aku hanya mematung, memandanginya yang keluar dari pintu.
Jika benar apa yang dikatakan Dila, berarti Hella benar-benar ular berkepala dua. Awas saja jika aku menemukan bukti, aku tidak akan mengampuni mereka berdua.
Dasar Ibl**s!
Tanganku mengepal kuat, gigiku bergelutukan menahan amarah.
"Kita mau kemana, Mah?" Dila menelisik wajahku.
"Kita ke supermarket, beli ice cream." ucapku sambil memasang senyum.
***Ofd.
Jika di perhatikan wajah Hella lebih cerah, dia pun terlihat memakai lipstik walau hanya didalam rumah. Berbeda dari yang aku kenal sebelumnya, Hella bahkan sangat cuek dengan penampilannya.
"Makan disini aja, Bik. Mau kemana sih?" ucapku saat melihat Bik Narti ingin beranjak dari kursi.
Bik Narti tersenyum lalu kembali duduk ditempat semula.
Aku berjalan melewatinya, membuka lemari pendingin dan mengambil air mineral dari dalam. Aku duduk tepat didepan Bik Narti, Bik Narti terlihat salah tingkah sesekali mencuri pandang kearahku.
"Kenapa, Bik?" tanyaku setelah meneguk air dingin itu, lalu menaruhnya didepanku.
"Eh, tidak apa, Neng." jawab Bik Narti, lalu mempercepat santapannya.
Bik Narti bergegas bangkit, menaruh piring bekas makan dan mencucinya.
"Duduk, Bik. Ada yang mau saya tanyakan." ucapku begitu melihatnya mengelap tangan pada celemek.
Wajah Bik Narti terlihat tegang, cenderung takut saat berhadapan denganku.
Sepertinya ada yang aneh.
Bik Narti sudah bekerja padaku saat Dila berusia tiga bulan. Tentu saja aku sudah menganggapnya keluarga sendiri, pun dengan Bik Narti selama ini dia terlihat santai dan menikmati pekerjaannya. Tidak ada kecanggungan atau takut yang terlihat sejauh ini.
"Ada yang ingin, Bibik sampaikan?" tanyaku dengan suara tenang. Bik Narti yang semula menunduk, kini mendongkakkan wajah menatap ragu kearahku.
"Mereka bermain g*la dibelakangku, bukan?" tanyaku dengan wajah datar. Bik Narti nampak terkejut, pupil matanya melebar mendengar ucapanku.
"Si-siapa, Neng?" tanya Bik Narti sambil mengalihkan pandangan.
"Siapa lagi ..." aku bersedakap dada. Bik Narti semakin menundukan wajah.
"Kenapa Bibik tidak cerita, Bibik ada dipihak mereka?"
Bibik mendongkak kaget, menggeleng dengan cepat.
"Lalu?"
"Pak Rudi ... dia mengancam saya, Neng." ucapnya dengan suara pelan, wajahnya terlihat semakin menegang.
Aku menghela nafas panjang, menyenderkan tubuh dipunggung kursi.
"Mengancam gimana?" tanyaku datar. Sejujurnya aku kecewa pada Bik Narti.
"Pak Rudi, mengancam akan memecat jika mengadu. Bibik tidak ada pilihan, suami Bibik sedang sakit sudah dua bulan tidak bisa jalan, dia butuh obat dan berobat. Anak-anak pun masih kecil, jika Bibik tidak kerja mau makan apa anak-anak." ucapnya dengan mata berkaca-kaca, raut penyesalan tergambar jelas diwajahnya.
Aku bergeming, mengingat ucapan Mas Rudi yang menyarankan agar aku meliburkan Bik Narti.
Sepertinya dia takut, Bik Narti akan membongkar rahasianya. Tapi sekarang, dia tidak akan bisa mengelak.
"Saya kecewa sama, Bibik. Saya sudah menganggap Bibik bagian dari keluarga. Bibik tega menutupi semuanya dari saya." ucapku dengan suara pelan penuh kecewa.
Bik Narti menggelengkan kepala, air mata mengalir deras dari matanya.
Ahh ... aku tahu ini semua bukan sepenuhnya salah Bik Narti.
"Maafkan Bibik, Neng. Sungguh ... tidak ada maksud Bibik menyembunyikan ini semua." ucapnya sambil sesegukan. Tak ada sedikit pun rasa iba di hati, yang ada hanya rasa marah dan kesal pada diri sendiri.
"Maaf, Neng. Maafin Bibik ..." Bik Narti semakin menangis tersedu-sedu. Aku tahu dia sangat menyesal dengan perbuatannya.
"Baiklah, saya akan memaafkan Bibik." ucapku setelah beberapa saat terdiam.
"Tapi ... bisakah Bibik melakukan sesuatu untuk menebus kesalahan, Bibik?" tanyaku intens.
"Bisa, Bibik akan melakukan apapun, agar Neng Rissa kembali percaya sama Bibik." jawabnya cepat, penuh keyakinan.
"Baiklah. Hal pertama yang harus Bibik lakukan adalah ...."
Bik Narti menarik nafas, mengangguk tegas saat aku menyelesaikan kalimat.
***Ofd.
"Baiklah. Hal pertama yang harus Bibik lakukan adalah ...."
Bik Narti menarik nafas, mengangguk tegas saat aku menyelesaikan kalimat.
Suara salam terdengar dari ruang tamu, Bik Narti sedikit menjauh lalu berjalan keluar lewat pintu belakang.
"Huh ... panas." suara Hella terdengar derap langkah semakin jelas mendekat.
"Mbak," Hella menyapa saat melihat kearahku, lalu berlalu menuju lemari pendingin.
"Mamah ..." anak cantikku berlari, lalu menyodorkan tangan didepanku.
"Gimana pestanya, ramai yang datang?" tanyaku sambil menyambut uluran tangannya. Dila begitu anggun, dengan rambut panjang berponi dan balutan dress selutut berwarna pink.
"Ramai, Mah. Nanti kalau Dila ulang tahun undang semua teman sekolah sama teman ngaji ya, Mah." jawabnya riang.
Aku mengangguk, melebarkan senyum. Menyetujui ucapannya. Dila memang belum pernah merayakan ulang tahun mengundang teman, setiap tahun aku hanya membeli kue tart dan membawanya ketempat bermain atau sekedar mengajaknya berwisata.
Dila menaruh dua paper bag ulang tahun diatas meja, lalu mendekati Hella.
"Mau minum dingin, Tant." ucapnya.
"Dila boleh minum dingin, Mbak?" tanya Hella sambil menoleh.
Aku bergeming sesaat, menatap wajah culasnya lalu mengangguk singkat.
Aish ... susah sekali berpura-pura tidak mengetahui kebejatan mereka. Pintar sekali dia, bisa bersikap normal padaku tanpa rasa bersalah sedikit pun.
"Acaranya meriah sekali, Mbak. Ada badut dan atraksinya juga." Hella bercerita begitu antusias matanya berbinar sambil menoleh kearah Hamdan.
"Bentar lagi Hamdan, pas dua tahun ..." kalimatnya tergantung, dia menoleh kearahku dengan senyum simpul yang tersemat dibibirnya. Aku berpura tak mendengar mengangkat minuman lalu meneguknya.
Hella menautkan alis, heran melihat sikapku yang tak acuh padanya. Ya ... biasanya aku adalah orang yang paling peka terhadapnya, apa lagi jika menyangkut tentang Hamdan.
"Wah banyak ya makanannya," aku mengalihkan perhatian, tersenyum manis saat Dila membongkar paperbag oleh-oleh dari pesta temannya.
"Iya, Mah." sahut Dila penuh semangat. "Aku boleh makan semuanya kan, Mah?" tanyanya penuh harap.
"Boleh sayang, tapi jangan banyak-banyak ya. Buat besok-besok lagi, nanti giginya sakit kebanyakan makan yang manis-manis." sahutku sambil membelai pucuk kepalanya. Dila mengangguk senang, tangan mungilnya menyerahkan satu paperbag pada Hamdan.
Hmm ... andai kamu tahu, Nak. Anak manis yang ada disampingmu akan merebut Ayahmu, cepat atau lambat.
Miris sekali.
Repleks aku mendecis, Hella menoleh dengan tatapan aneh.
"Bawa masuk kamar makanannya sayang, kalau sudah dibuka segera habiskan ya." ucapku sambil memasukan bungkusan makanan ringan itu kedalam paperbag, lalu menuntun Dila masuk kedalam kamar.
"Sudah siang, bobo dulu ya ... Hamdan," ucapku dengan senyum ramah. Senyum palsu lebih tepatnya.
"Cuci kaki, sama cuci tangan. Tuh sudah mau jam setengah tiga. Dila belum bobo, nanti pusing kepalanya," ucapku sambil menunjuk jam dinding yang ada diruang tamu. Dila berlari kecil menuju toilet, tak lama terdengar aktifitasnya.
Pukul lima sore, motor besar Mas Rudi memasuki rumah. Aku sengaja menunggunya diteras, sambil sesekali mengamati bunga yang bermekaran ditaman kecilku.
Mas Rudi melepas helm, berjalan kearahku dengan tentengan plastik putih ditangannya.
"Nih, Mas bawain martabak." dia menaruh plastik itu diatas meja. Aku hanya menoleh, menganggukkan kepala.
"Aku perhatikan setiap hari sabtu lembur terus ya, Mas." ucapku.
"Iya. Alhamdulillah, Mah." ucapnya sambil menghempaskan bokong dikursi sebelahku. Mas Rudi menyodorkan tangan, aku bergeming sesaat lalu menyambut uluran dan menciumnya.
"Lumayanlah ya. Buat bayar cicilan rumah sama motor," ucapku dengan senyum lepas.
"Iya. Lumayan," sahutnya. Senyumku menghilang, aku menarik nafas dalam-dalam.
Gaji Mas Rudi sebagai operator disebuah pabrik tidak sampai menyentuh dua digit. Jika dihitung-hitung, gajinya hanya cukup untuk bayar cicilan rumah dan motor besarnya saja.
Cicilan rumah cluster dua lantai kami, 3.525.000 selama lima belas tahun. Sekarang sudah masuk tahun keempat. Cicilan motor besarnya selama 36 bulan 2.300.000. Saat ini cicilan belum ada satu tahun. Belum lagi uang bensin, uang dansos, uang pegangannya dan cicilan kecil lainnya.
Aishh ... pusing menghitungnya.
Selebihnya urusan dapur dan segala tetek bengeknya menggunakan uang gajiku. Gajinya mana bisa menutupi semuanya. Sungguh aku ikhlas dan Ridho membantu meringankan segala bebannya.
Untung saja, aku sudah mempunyai mobil sebelum menikah. Jadi aku tidak perlu memikirkan tagihannya.
"Kenapa, Mah? Kok melamun?" Mas Rudi memperhatikan wajahku.
"Tidak apa. Hanya sedikit lelah," ucapku.
"Istirahat yuk," ajaknya lalu bangkit dari kursi. Aku mengangguk, berjalan mendahuluinya.
"Yah yah, yah yah ..." Hamdan berjalan tertatih, melangkah berat menghampiri Mas Rudi. Aku hanya mengamati, tak berniat menyentuh bocah mungil itu. Entahlah, sejak aku tahu Bunda anak itu bermain gila. Anak yang tak bersalah pun, kini aku enggan melihatnya.
Celoteh Hamdan semakin riang saat Mas Rudi membawanya kedalam gendongan. Membuat hati berdenyut ngilu melihatnya.
"Eh, jangan. Pakde habis pulang kerja, capek." Hella jalan tergesah menuju suamiku.
"Tidak apa, La." jawab Mas Rudi. Bibirku melengkung miring, malas melihat keduanya. Aku memilih untuk pergi, jalan menuju kamarku. Terserah mereka mau apa, aku tidak peduli.
Aku jatuhkan bobot ini ditepi ranjang, menghembuskan nafas sekuat-kuatnya. Ada yang bergemuruh didalam dada, membuat nafas sesak dan sakit kepala. Aku pijit kening ini dengan pelan, perbuatan mereka tentu saja sangat merusak fikiranku.
Aku masih tidak menyangka, orang yang aku sayangi dengan setulus hati bisa mencabik-cabik relung jiwaku.
Ahh ... kalian sungguh tega.
"Kamu kenapa, Mah?" aku sedikit terlonjak saat kedua tangan menyentuh pundakku. Aku menghela nafas, tersenyum tipis sambil menggeliatkan badan mencoba melepas pegangan Mas Rudi dengan halus.
Aku sampai tidak mengetahui kapan dia masuk, aku pikir dia akan mampir kekamar Hella.
"Wajahmu pucat, Mah. Kamu sakit?" aku menepis tangannya yang hendak mendarat dikeningku.
"Sedikit lelah, tadi aku sudah bilang, kan?" ucapku.
"Ke Dokter ya, minta vitamin." tatapannya begitu lembut, biasanya aku akan luluh dan patuh. Tapi saat ini aku malah muak melihatnya.
"Tidak perlu, aku mau berbaring saja." sahutku. Mas Rudi menghela nafas, menatap sedih kearahku.
Cih! Apa maksudnya tatapan itu.
Terdengar lagi hela nafasnya lalu dia beranjak dari sisiku dan berjalan menuju toilet.
Selesai menunaikan sholat tiga rakaat, aku kembali bersandar dipunggung ranjang. Ucapan Dila kembali terngiang dikepala.
Tubuh bergetar hebat, nafasku tersendat dengan air mata yang menggalir deras. Hati ini pilu, aku merasa manusia paling bodoh yang ada dimuka bumi ini.
Entah kemana perginya Mas Rudi, sehabis mandi tadi dia pamit keluar ingin kerumah teman untuk membicarakan sesuatu.
"Neng ..." suara Bik Narti terdengar dari luar pintu.
Aku beringsut dengan malas, menghapus jejak air mata berjalan menuju pintu. Sengaja aku mengunci pintu, takut Mas Rudi memergoki aku sedang menangis.
"Apa, Bik?"
"Boleh Bibik masuk?" ucapnya sambil celingukan.
Aku membuka pintu lebih lebar, setelah Bik Narti masuk aku segera menutupnya.
"Kenapa?" tanyaku.
"Itu ... maaf sebelumnya." Bik Nar terlihat ragu.
"Bicara aja, Bik." ucapku. Bik Nar terlihat menarik nafas panjang.
"Biasanya Pak Rudi dan Hella pergi keteras belakang jam sebelas malam," ucap Bik Narti dengan suara pelan.
Hatiku berdenyut, kepala langsung panas mendengar ucapannya.
"Sejak kepan mereka ..."
Hhaaahh ... nafasku tercekat. Tak bisa melanjutkan pertanyaan.
Bik Narti menatap iba, aku memejamkan mata dengan hati yang berkecamuk.
Pedih. Sakit kecewa dan marah bercampur menjadi satu.
Apa aku harus membu-- nuh keduanya?
Perbuatan mereka sungguh melukai hati dan harga diriku.
"Bibik memergoki mereka sekitar tiga minggu yang lalu, saat itu Bibik ingin buang air dan melihat pintu belakang masih terbuka setengah ..." Bik Nar menghentikan kalimat, dia menggenggam tanganku dengan erat.
"Lanjutkan saja, Bik. Aku mau mendengarkan," lirihku dengan suara bergetar. Bik Narti menarik nafas, menatapku lurus-lurus.
"Saat saya mau menutup pintu, saya melihat Bapak dan Hella sedang berci*man ...."
Aisshh ...
Runtuh sudah pertahanan ini, aku tersungkur terjatuh diatas lantai dengan isakan tertahan didalam tenggorokan.
Perselingkuhan mereka memang benar adanya, celoteh Dila bukan isapan jempol belaka.
Aku mulai menangis sesegukan, sekuat apapun hati seorang wanita aku yakin jika mereka ada diposisiku saat ini mereka pasti menjerit juga. Tubuhku menggigil tak sanggup membayangkan perbuatan bejat mereka.
"Si*lan kamu, Mas. Huhu ...."
"Sudah, Neng. Sudah ... jangan ditangisi manusia tak punya hati seperti mereka." Bik Narti memeluk mengusap-usap punggung belakangku.
Cukup! Cukup sudah kalian membod*hiku selama ini.
Aku tidak akan tinggal diam, akan aku buat mereka menyesal sudah membuatku menangis saat ini.
Aku seka secara kasar wajah dan pipi ini, aku bangkit dan membuka pintu dengan kasar.
Awas kau perempuan bin*l. Akan aku buat kau menjadi gelandangan malam ini juga!!
Aku turuni anak tangga dengan langkah lebar, Bik Narti mengikuti dari belakang dengan suara cemas.
"Sabar, Neng. Sabar ...."
Brak!!
Aku tendang dengan kuat pintu kamar Hella, mataku terbelalak saat melihat isi didalam kamar.
***Ofd.
Tinggalkan komen dan lopenya dong, biar aku makin semangat 🥰🥰