Bab 1

“Alana mana minuman dan sarapanku? Ayo cepat Alana! Bisa-bisa aku telat nih.”

Wanita berparas biasa-biasa saja dengan daster lusuh berjalan tergopoh-gopoh dengan nampan berisikan sarapan pagi dan minuman hangat untuk suaminya.

Ia tetap tersenyum memperlakukan dengan baik David bak seorang raja.

“Ntar aku pulang dini hari, kamu nggak usah nungguin. Tidur aja kamu duluan!”

“Oh iya Mas. Tidak apa-apa kalau begitu. Aku sudah biasa menunggu kamu pulang kerja larut malam tiap hari kan?” ucap Alana memperlihatkan senyuman simpulnya.

“Iya, tapi tidak perlu juga kamu menunggu. Aku tidak tau pasti akan pulang jam berapa. Jadi, kamu tidak perlu begadang segala, hanya untuk menunggu aku pulang. Lagian, aku membawa kunci cadangan." Jelas David bersikap santai di hadapan sang istri.

“Ya sudah aku berangkat dulu.” David pamit mengabaikan Alana yang hendak mencium punggung tangan sang suami.

Alana hanya terpaku berdiri di ambang pintu, menatap David tampak buru-buru menjalankan mobilnya. Alana melihat jika sang suami tengah berkomunikasi via ponsel dengan seseorang, meski pun mengemudi mobilnya.

“Mas. Kamu semakin cuek saja padaku, dan ini bukan untuk pertama kalinya kamu mengacuhkanku, buru-buru pergi ke kantor. Kamu selalu terlihat bahagia ketika berkomunikasi entah dengan siapa melalui handphonemu.” Alana membatin.

Alana menarik napas panjang seraya kembali bergumam sendiri.

“Ya sudahlah. Biarkan saja. Apapun yang terjadi yang penting aku bahagia memiliki suami seperti mas David. Aku tidak ingin dia meninggalkanku, jadi aku harus berprasangka baik padanya. Jangan sampai pikiran buruk itu menguasai jiwaku membuat aku berasumsi yang bukan-bukan terhadap suamiku. Apapun yang dilakukan di sana, aku yakin dia pasti tidak akan menyakiti perasaanku.” Alana pun bergegas masuk kembali ke dalam rumahnya.

Ia pun melangkah mendekati kamarnya berberes-beres dan merapikan kembali kamar yang kerap ia huni berdua dengan sang suami. Meskipun, semenjak dua tahun belakangan ini David terlihat begitu sibuk. Tidak pernah pulang tepat waktu, justru ia lebih sering pulang dini hari bahkan pagi hari. Namun Alana selalu menepis setiap pikiran buruk yang hinggap di kepalanya perihal sang suami di luar sana.

Dia pun mengambil pakaian kotor David yang tergeletak di atas lantai kamar. Sepertinya itu pakaian kerjanya semalam yang tak sempat ia taruh keranjang kain kotor. Alana pun mengutip kemeja sang suami yang berada di lantai kamar. Namun ketika ia hendak mengangkatnya, ada sesuatu yang terjatuh dari saku kemeja tersebut.

“Apa ini? Ponsel siapa ini? Mas Davidkah? Masak sih? Setahuku Mas David hanya memiliki satu ponsel yang kerap ia bawa kemana-mana. Sekalipun ke kamar mandi, ponselnya tak pernah lepas dari genggamannya. Lalu ini ponsel siapa ya?” Alana tampak kebingungan seraya memegang sebuah ponsel yang baru pertama kali ia lihat.

Ia pun menyalakan ponsel yang masih dalam genggamannya. Ketika benda pipih itu aktif, ternyata ponselnya tak terkunci. Sehingga Alana pun mulai memeriksa ponsel tersebut, dengan maksud mengetahui siapa pemilik dari ponsel yang berada dalam satu kemeja kerja suaminya. Pesan pun bertubi-tubi masuk. Alana pun semakin penasaran, ia pun antusias untuk melihat pesan-pesan yang bertubi-tubi masuk ke dalam aplikasi hijau yang ada dalam ponsel tersebut.

“Istriku?”

Alana mulai membaca nama si pengirim pesan. Ia semakin penasaran, sebuah pesan masuk begitu banyak dari seseorang dengan nama istriku. Alana pun mulai membuka pesan pertama yang masuk ke ponsel yang belum jelas pemiliknya.

“Suamiku. Aku kangen nih. Maunya berduaan terus dengan kamu,” Alana membaca pesan tersebut yang dikirimkan oleh seseorang yang ditujukan entah untuk siapa.

“Istriku? Suamiku? Siapa perempuan ini? Lalu siapa pria yang diakui sebagai suaminya? Apakah ini ponsel milik mas David? Ya Tuhan. Jangan sampai itu benar-benar terjadi." Batin Alana mulai merasa gelisah.

Alana pun kembali membaca pesan berikutnya.

“Suamiku. Tidur berdua dengan kamu benar-benar suatu hal yang sangat menyenangkan buatku. Aku sangat bahagia melihat kamu begitu puas melakukan permainan kita semalam. Aku ingin kita mengulanginya lagi. Tapi jangan terburu seperti itu lagi ya sayang, kan aku tidak bisa menikmatinya.”

Deg!

Jantungnya Alana serasa berhenti berdetak. Membaca percakapan yang ada di pesan tersebut akan tetapi sepertinya pria yang dituju belum sempat membalas pesan dari perempuan yang dipanggil dengan istriku tersebut.

Tubuh Alana mulai mematung, rasa ketakutan pun menjalar sekujur tubuhnya. Ia pun membuka pesan sebelumnya antara perempuan dengan pemilik ponsel yang berada di tangan Alana.

Tubuh Alana seketika menjadi limbung hingga ia terjatuh dan terduduk di lantai. Dadanya naik turun menahan sesak yang tiba-tiba saja menyerang dadanya.

“Istriku, aku ingin kamu menyervisku di ranjang kita. Aku lagi stres, pekerjaan di kantor menumpuk. Aku ingin kita menikmati waktu berdua terlebih dahulu denganmu istriku, saling berbagi peluh dan bercumbu denganmu. Bergumul denganmu sayang tak pernah membuat aku bosan. Nanti malam kita mulai lagi ya. Pertempuran kita yang lebih sengit dari sebelumnya.” bibir Alana bergetar hebat, ketika membaca pesan yang membuat perasaannya mulai curiga terhadap sang suami.

“Ah Suamiku! Apa sih yang tidak aku berikan untukmu. Mau berapa ronde malam ini sayang? Terserah mau gaya apa pun, alan aku kabulkan. Aku juga tidak sabar untuk menikmati setiap inci tubuhmu." balas dari wanita itu.

“Jadi tidak sabaran lagi ya menunggu nanti malam. Aku pun juga sama denganmu istriku.”

“Oh ya, istri kamu di rumah gimana? Masih bercumbu dengan dia yah?”

“Ih. Amit-amit deh. Liat wajahnya aja aku sudah eneg. Apa lagi bercumbu dengannya. Bikin bosan, tampang plus dandanan kayak asisten rumah tangga kegitu. Mana bisa bikin aku klepek-klepek kayak denganmu istriku.”

Air mata Alana seketika menetes membasahi pipinya. Ia semakin yakin jika pria yang dipanggil sebagai suamiku itu adalah mas David. Alana sungguh tidak percaya jika suaminya tega berkhianat setega ini padanya. Dengan air mata berderaian, Alana kembali membaca percakapan antara sang suami dengan perempuan selingkuhannya.

“Ya sudah, ceraikan saja dia! Jika kamu tidak bahagia dengan perempuan pembantu itu, buat apa dipertahankan lama-lama. Campakkan saja dia! Aku yakin kamu tidak akan bahagia hidup bersama dengannya. Aku semakin penasaran, seperti apa sih tampang istrimu itu?” Air mata semakin membanjiri pipinya setiap kata-kata yang dibaca Alana seakan-akan mengiris hati dan jantungnya. Berkali-kali Alana mengelus dadanya, menahan rasa sakit yang tak mampu ia ungkapkan.

“Iya, kamu benar sayangku. Aku sungguh sudah mati rasa padanya. Bagiku dia hanyalah seorang pembantu, yang bertugas melayani makan, minum dan pakaianku serta menyiapkan semua kebutuhanku. Namun tidak untuk di ranjang, perempuan bau bawang itu benar-benar membuatku muak. Apalagi daster lusuh tidak pernah lepas dari tubuhnya, stylenya bagaimana layaknya mak-mak sejati.” Alana menggigit dari jemarinya, menahan rasa sakit atas kata-kata sang suami yang menghina dirinya habis-habisan di hadapan perempuan lain, yang saat ini mampu memberikan kebahagiaan untuknya.

“Ya sudah sayang, makanya ceraikan aja dia tunggu apalagi sih? Hubungan kita sudah 2 tahun sayang, sampai kapan kita seperti ini terus? Kapan kita nikahnya? Hidup bahagia berdua sayangku, tanpa ada perempuan pembantu itu menjadi penghalang hubungan kita."

“Tenang saja sayang. Aku menunggu waktu yang tepat, menyingkirkan perempuan itu dan kita bisa hidup bahagia berdua sayangku.”

Alana tak mampu lagi melanjutkan membaca pesan demi pesan yang sengaja tak dihapus dari ponsel tersebut. Ia terus menangis dari rasa sakit, bagai disambar petir di pagi hari. Ketika awalnya mengetahui suatu kebohongan yang selama ini tak pernah terbersit dalam benaknya terhadap sang suami.

Ingin lebih meyakinkan dirinya, Alana pun membuka galeri yang ada di ponsel tersebut. Tubuhnya semakin lemas ketika ia melihat foto sang suami bersama perempuan lain, yang diakui berparas jauh lebih cantik dari dirinya, dengan pakaian begitu seksi dan minim. David tampak begitu mesra beradegan panas dalam galeri-galeri yang mereka abadikan di dalam ponsel yang ternyata memang milik suami Alana.

“Jahat kamu Mas. Tega-teganya kamu menusukku dari belakang seperti ini. Apa kurangnya diriku di hadapanmu, hingga kamu sejahat ini memperlakukanku. Aku akui, menang aku tak secantik perempuan itu, dandananku sungguh tak semenarik dia. Namun tak semestinya kamu membalas ketulusanku sejahat ini. Selama 4 tahun pernikahan kita ini, aku akui aku belum bisa memberikan keturunan untukmu. Tapi apakah ini murni kesalahanku semata Mas? Hingga kamu membunuhku perasaanku dengan cara seperti ini. Aku sangat mencintaimu Mas, dan aku rela mengabdi untukmu, melakukan apapun yang kamu minta. Semata-mata karena aku mencintaimu dengan segenap jiwaku. Namun kamu malah membalasku dengan cara sekejam ini.” Dengan suara terbata-bata Alana mengungkapkan kehancuran yang ia rasakan atas kebohongan, pada akhirnya ia ketahui tanpa sengaja.

***

Bab 2

“Kamu ngapain aja sih di dalam..? Dari tadi aku berdiri di depan pintu. Lama banget buka pintunya.” Bentak Farida terlihat kesal pada menantunya, dikarenakan Alana tidak cekatan membuka pintu utama untuknya.

“Maafkan aku Ma. Tadi aku tengah beres-beres di dapur. Makanya suara bel tidak begitu terdengar,”

“Banyak alasan,” ucap Farida seraya masuk ke dalam rumah menuju ke arah ruang tamu.

“Ma, bentar ya. Aku buatkan minuman dulu,” ucap Alana tanpa berani menatap wajah Farida yang tampak memerah karena kesal akan menantunya.

“Ee eh... nggak usah! Aku udah nggak mood atas kelakuanmu. Mana David..?” tanya Farida dengan wajah bersungut-sungut menatap kesal ke arah Alana.

“Mas David belum pulang kerja Ma.” Tampak Farida mengangkat tangannya, lalu menatap ke arah jam yang melingkar di pergelangan tangannya.

“Udah hampir isya ini, kenapa belum pulang kerja juga..?” ujar Farida mengalihkan pandangannya ke arah Alana.

“Semalaman mas David nggak pulang Ma. Katanya ada dinas luar kota,” balas Alana seraya tersenyum menatap wajah Mama mertuanya, lalu kembali tertunduk.

Farida tampak mengamati Alana dari ujung rambut hingga ujung kaki. Ia menatap sinis ke arah Alana yang memang tidak disukainya, semenjak Alana belum mampu memberikan keturunan setelah pernikahan mereka telah berjalan 4 tahun lamanya.

“Pantas saja David enggan pulang cepat, bahkan lebih memilih nggak pulang. Dandanan istrinya aja kayak gini... Atau jangan-jangan, David malah enggan menjamahmu ya...? Makanya udah 4 tahun pernikahan kalian, kamu nggak hamil-hamil juga.”

“Ya Tuhan.. teganya Mama berkata seperti itu padaku. Sakit rasa hati ini, namun aku tak berani membalas perkataan kasarmu Ma. Semua semata-mata karena aku menghormati mas David,” gumam Alana menahan rasa sakit atas hujatan yang terlontar dari bibir Mama mertuanya.

“Maafkan aku Ma. Aku juga ingin memiliki keturunan dan memberikan cucu untuk Mama. Namun mungkin Tuhan belum memberikan rezeki itu pada kami. Namun aku yakin, lambat laun kami akan segera memberikan cucu untuk Mama kok,”

“Sudah. Sudah. Banyak alasan, pernikahan kamu itu sudah cukup lama, ngerti.. Jadi aku tak berharap begitu banyak untuk mendapatkan cucu darimu lagi. Kenapa kamu tak periksa saja kesehatan kandunganmu itu, bisa saja kan kamunya yang mandul. Makanya anakku nggak pernah betah berada di rumah melihat istri sepertimu. Udah udik, nggak bisa dandan dikit pun, kolot. Hanya bisa bikin malu suami saja. Suami mana pun nggak bakalan selera melihat istri berpenampilan layaknya pembantu rumah tangga sepertimu. Ya sudahlah..! Biar aku hubungi anakku dulu. Lama-lama bicara denganmu hanya memancing amarahku saja... Gara-gara kamu, bisa-bisa aku hipertensi naik darah.” Ucap Farida tampak buru-buru membuka tasnya, meraih ponsel miliknya.

“Ngapain lagi kamu berdiri di sini hah..? Ke dapur gih..! Bikinin aku wedang jahe cepat..!”

“Oh, iya Ma. Aku ke dapur dulu ya Mah.” Alana pun bergegas dengan langkah tergopoh-gopoh meninggalkan ruang tamu menuju ke arah dapur.

“Punya menantu bego banget. Udah dandan kayak mbok-mbok, pantas saja anakku nggak betah berada di rumah. Istri seperti itu malah bikin anakku nggak selera,” Farida ngomel sendiri seraya menghubungi putranya.

Alana hanya bisa mengelus dadanya, meski pun omelan dan ocehan kasar menusuk ke jantungnya. Semua sudah hal biasa ia dengar keluar dari mulut Mama mertuanya. Alana berusaha berlapang dada, tidak membenci ataupun dendam terhadap Farida. Meskipun, terkadang ucapan yang ia lontarkan sudah sangat keterlaluan. Hal yang paling menyakitkan, ketika David mengetahui hal tersebut. Justru lebih berpihak kepada Mamanya, dibandingkan sang istri hanya bisa tersenyum menutupi luka yang sesungguhnya telah menganga di dadanya.

Apalagi setelah kejadian Alana tak sengaja mendapatkan ponsel rahasia. Selama ini tak pernah ia ketahui, justru berisikan percakapan mesra mereka. Tak hanya sampai disitu, galeri mereka pun dipenuhi dengan foto-foto mesra yang sudah dapat dikatakan kelewatan batas. Sementara David sudah memiliki istri berstatus suami dari Alana.

Alana memilih diam meskipun hatinya terluka. Semua karena Alana tak ingin berpisah dari David, yang begitu sangat ia cintai dengan segenap jiwanya. Rasa bersalah terus menghantui diri Alana, selalu menyalahkan dirinya sendiri yang tak mampu memberikan keturunan untuk sang suami dan keluarganya.

“Tidak. Tidak. Aku tidak boleh menangis, wajar saja Mama berkata demikian padaku. Semua ini juga salahku, kenapa aku tak bisa kunjung hamil. Memberikan keturunan pada mereka. Oh Tuhan... Angkatlah cobaan dan kesedihan ini dari hidupku, aku percaya atas kebesaran-Mu. di mana aku sangat yakin pasti ada suatu rencana yang lebih luar biasa yang telah Engkau persiapkan untukku. Kuatkan hatiku Tuhan... Jangan sampai dendam dan sakit hati tumbuh dalam jiwaku terhadap mereka. Lapangkan dadaku,” Alana membatin berkali-kali mengusap tetesan air mata yang membasahi pipinya.

“Lanaaaa... Laanaaa... Mana wedang jaheku? Lelet banget sih jadi menantu. Pantes aja David sudah muak dan bosan padamu sehingga mencari-cari alasan agar tak pulang bertemu denganmu.” Omelan demi omelan kasar terus terlontar dari bibir Farida untuk Alana sang menantu. Alana mendengar semua ucapan kasar itu. Namun dirinya tak mampu untuk melawan, hanya membalasnya dengan senyuman di balik rasa luka yang semakin dalam.

“Ini Ma. Wedang jahenya, silakan diminum dulu mah..! Hati-hati masih panas.” Ujar Alana seraya menyerahkan segelas wedang jahe yang masih panas ke arah Farida.

“Heran deh. Punya putra udah tampan, mapan lagi. Kok malah mencari istri seperti ini toh.. Tak bisa diharapkan sama sekali. Seharusnya putraku menikah dengan gadis yang sepadan dengannya. Wanita karier berparas cantik, pintar bersolek dan pintar mencari duit. Bukan kayak kamu... Gak pantas-pantasnya menjadi istri putraku. Kamu itu pantas jadi pembantu, asisten rumah tangga di rumah ini.”

“Maafkan aku Ma. Karena aku tidak bisa seperti menantu yang Mama mau,” ucap Alana tertunduk sedih, berdiri di hadapan Farida. Tampak meniup-niup segelas wedang jahe yang berada di tangannya.

“Oh ya bentar ya Ma. Aku beres-beres dulu kamarnya. Mama pasti nginep di sini kan?”

“Jadi menantu kok goblok banget. Nggak punya mata ya kamu..? Lihat pukul berapa sekarang? Udah tengah malam tau. Ya jelas lah aku nginap di sini, mau ngina di mana lagi coba..? Nggak mungkin ke hotel juga kali..? Percuma dong putraku kaya, punya rumah mewah seperti ini kalau ujung-ujungnya aku harus nginep di luar. Sudah. Sudah, sana..! Beresin tuh kamarnya..! Aku udah capek berlama-lama berbicara denganmu, bikin kepalaku semakin sakit, mumet saja. Udah cepat sana beresin tuh kamar..! Aku mau istirahat sambil menunggu David pulang.” Farida membentak Alana hanya tersenyum kecut, bergegas melangkah menuju ke arah ruangan. Di mana kamar spesial berukuran besar diperuntukkan untuk sang mertua.

Akhirnya Alana pun selesai membereskan kamar untuk Farida. Ibu mertuanya itu telah masuk ke kamar tersebut untuk beristirahat. Baru saja Alana hendak melangkahkan kaki menuju ke arah kamarnya, tiba-tiba saja.

***

Bab 3

Tiba-tiba bel rumah berbunyi. Langkah Alana seketika terhenti disaat suara lantang berteriak padanya.

“Eh. Mau kemana kamu..?”

“Mau ke depan Ma. Sepertinya itu mas David deh yang pulang,” sahut Alana bersikap biasa saja meski Farida tak sedikit pun terlihat ramah padanya.

“Nggak usah. Nggak usah. Masuk saja kamu ke kamar cepat..! Biar aku yang membukakan utama itu.” Ucap Farida seraya menunjuk ke arah pintu utama.

“Tta—tapi Ma,”

“Udah. Masuk sana..! Ngeyel banget sih dibilangin,” hardik Farida menyeret langkah Alana menuju ke arah kamarnya.

Alana masih mondar-mandir dalam kamarnya. Seketika perasaannya tak enak. Sikap Farida seakan-akan menyembunyikan sesuatu darinya. Tak biasanya, ia tidak di perbolehkan membuka pintu untuk suaminya sendiri.

“Ada apa ini sebenarnya..? Kenapa Mama tak memperbolehkan aku membuka pintu untuk suamiku sendiri. Apa sebenarnya yang telah terjadi di belakangku..? Apa sesungguhnya disembunyikan Mama dariku. Sebegitu asingkah diriku, hanya karena aku tak bisa memenuhi permintaan mereka memberikan keturunan di rumah ini,” air mata Alana kembali berderaian membasahi pipinya. Perasaan tak nyaman dan gundah terus menghantui dirinya.

Dengan tergesa-gesa Alana menghapus air matanya. Ia pun bergegas menuju ke arah pintu kamarnya, menyelinap keluar mengintip apa sebenarnya terjadi di luar sana.

Dengan sangat hati-hatinya Alana melangkahkan kakinya mendekati ruang tamu. Ia pun mengintip di balik lemari pajang.

Deg..!

Jantungnya serasa berhenti berdetak. Ketika ia melihat pemandangan di ruang tamu. David duduk berdekatan dengan seorang wanita berparas cantik dalam balutan blazer dipadukan rok mini begitu sangat minim. Mereka duduk begitu sangat rapat di atas sofa ruang tamu nyaris tak ada celah. Sementara itu Farida bercerita begitu hangat diselingi tawa bahagia mereka bertiga. Kaki Alana seketika bergetar, seolah-olah tak mampu menopang tubuhnya. Dikala ia menatap sang suami merangkul mesra perempuan, tak lain perempuan yang pernah ia lihat dalam galeri ponsel rahasia milik sang suami. Bibir Alana bergetar hebat, tubuhnya merinding seolah-olah berada di awang-awang. Melihat pemandangan yang sangat mengiris kalbunya. Dengan santainya tangan David merangkul bahu sang perempuan dengan posisi tubuh mereka begitu dekat. Seolah-olah dirinya tak ada arti dan harganya di mata sang suami.

“Ma—Mas, apa yang kamu lakukan ini..? Teganya kamu bermesraan dengan perempuan lain di rumah kita sendiri. Ma, aku menantumu... Aku manusia Ma, bukanlah binatang. Tega-teganya kalian berlaku sejahat ini di belakangku.” Batin Alana menjerit tubuhnya masih gemetaran dengan air mata berderaian menatap ke arah ruang tamu.

“Saras, kamu begitu cantik Nak. Pantas saja David jatuh hati padamu,” ucap Farida memuji perempuan yang saat ini bersama putranya.

“Ah Tante, bisa aja deh.” Balas perempuan yang bernama Saras tampak tersipu malu seraya menyandarkan kepalanya di bahu David.

Alana semakin terbakar api cemburu. Sama sekali tak menyangka jika sang suami setega ini bermain api di rumahnya sendiri, lebih parahnya didukung oleh Mama mertuanya sendiri. Alana terus menangis seraya memegang dadanya tiba-tiba terasa begitu sangat sakit sekali. Ingin rasanya Alana berlari ke sana dan menghajar sang suami lalu menjambak rambut perempuan jalang tersebut. Namun ia tak memiliki keberanian untuk hal itu. Alana takut jika ia melakukan tindakan brutal, bisa-bisanya dia bakalan ditinggal bahkan mungkin diceraikan oleh David, yang sudah pastinya didukung oleh sang Mama mertua.

“Begitu santainya kamu Mas memamerkan kebahagiaan di rumah kita. Aku sakit hati, aku kecewa atas kelakuanmu dan juga atas kelakuan Mamamu terhadapku. Aku akan sabar jika kamu bisa menghargaiku, namun kamu justru semakin tega menusuk jantungku seperti ini. Belum hilang dari ingatanku atas isi ponsel yang selama ini kamu sembunyikan dariku dan sekarang dengan beraninya kamu membawa selingkuhanmu di rumah kita sendiri, didukung oleh Mamamu sendiri,” tangis Alana semakin menjadi, langit serasa ingin runtuh ketika ia harus melihat dengan mata kepalanya, begitu teganya David mempermainkan pernikahan mereka.

Tanpa rasa sungkan David menggenggam tangan kekasih barunya, sesekali tampak mengecup punggung tangan sang kekasih.

“Tunggu apa lagi? Kenapa kalian tak menikah saja..? Agar bisa memberikan keturunan, cucu untuk Mama.

“Ma. Jangan kenceng-kenceng dong ngomongnya. Ntar Alana denger lagi.” Ucap David sembari menaruh telunjuk di tengah bibirnya.

“Aaahhh.. ngapain mikirin dia. Jadi istri tak ada gunanya sama sekali, perempuan mandul seperti itu seharusnya kamu ceraikan saja..! Hanya menjadi bumerang saja di rumah ini,” balas Farida dengan senyum sinis.

Seketika Alana jatuh terduduk di lantai, mendengarkan semua percakapan mereka. Tak percaya jika orang yang ia kasihi justru menyakitinya seperti ini.

“Mana Alananya Tante..? Apa dia sudah tidur ya? Kenapa bukan dia saja membukakan pintu untuk kami?” tanya Saras dengan senyum miring.

“Sayang, tak bisa seperti itu. Aku sengaja menyuruh Mamalah membukakan pintu untuk kita, agar Alana tak melihat kedatanganku bersamamu sayang,” ucap David seraya mempererat rangkulan di bahu sang kekasih.

“Loh kenapa harus seperti itu..? Bukankah lebih baik jika dia lebih cepat mengetahui hubungan kita ini. Apalagi tante Farida juga sudah mau merestui hubungan kita. Lalu kenapa harus sembunyi-sembunyi seperti ini lagi,” ucap Saras terlihat kesal.

“Saras. Kamu sedikit bersabar nak. Karena Tante mengizinkan dengan restui kalian berdua, jika mendadak seperti ini kamu datang ke rumah ini. Tante tak mau, nanti perempuan gila itu mengamuk dan membangunkan para tetangga. Makanya kita harus bermain cantik, perlahan-lahan namun pasti kalian berdua menikah dan terserah David mau menceraikan Alana atau tidak.” Jelas Farida yang tak menyadari jika Sesungguhnya Alana mendengar semua percakapan mereka.

“Kamu sabar ya sayang. Kita tak mungkin tergesa-gesa seperti yang kamu mau. Apa yang dikatakan Mama itu benar.. Jika Alana melihat aku membawa perempuan lain di sini, bisa-bisa dia marah besar dan mengamuk. Aku tak mau para tetangga mengetahui hal ini,” ungkap David membujuk sang kekasih. Tangis Alana semakin menjadi ketika ia melihat sang suami mengecup mesra kening perempuan lain di hadapan Farida. Tak ada sedikit pun pembelaan untuknya atas kelakuan David tersebut.

“Ya sudah sebaiknya kamu beristirahatlah dulu di kamar sayang. Tadi Mama sudah menyuruh perempuan itu membersihkan kamar tamu untukmu, berhati-hatilah jangan sampai perempuan itu mengetahui keberadaan kalian ke sini. Karena belum waktunya dia melihat keberadaanmu Saras, yang tentunya bakal menikah dengan David.” Farida terlihat begitu ramah terhadap Saras, sangat jauh berbanding terbalik ketika berhadapan dengan Alana.

Alana segera bangkit dari lantai dan tergesa-gesa melangkah menuju kamarnya. Alana sengaja menghindar agar sang suami dan mertua menyangka jika dirinya tak mengetahui perbuatan mereka di belakang dirinya.

“Lalu, kamu tidur dengan perempuan itu sayang..? Ah aku nggak mau. Ntar kamu macam-macam lagi dengannya. Aku tak rela jika kamu berhubungan badan dengannya di belakangku.” Ucap Saras manja menuju ke arah kamar tamu dipandu oleh David dan Farida.

Alana sempat melihat dan mendengar percakapan mereka, membuat hatinya hancur. Justru dirinya yang diperlakukan semakin tak adil, tanpa perasaan sedikit pun dibohongi dan dikhianati oleh orang-orang yang kita sangat dipercaya.

“Apaan sih aah.. nggak bakalan aku lakuin hal itu dengannya. Melihat dia aja aku sudah tak bernafsu, apalagi untuk menjamahnya. Kamu tak perlu khawatir seperti itu sayang, aku hanya melakukan semuanya denganmu sayangku.” Saras bergelendot manja di tubuh David sembari melingkari tangan di pinggang David mendekati kamar tamu. Alana menggigit bibir bawahnya menahan rasa sakit yang tak mampu ia lukiskan.

Keadaan seketika hening. Farida sudah masuk ke kamarnya akan tetapi Alana tak bisa tenang berada di kamarnya. Hampir 10 menit sang suami tak kunjung datang ke kamar mereka.

Perasaannya semakin tidak menantu. Ia pun kembali keluar dari kamar mengendap-ngendap menuju ke arah kamar tamu, di mana saat ini wanita penggoda itu tidur di sana, pastinya bersama sang suami.

Alana sudah berada di depan pintu kamar yang tampak tertutup rapat. Jantungnya semakin berdegup kencang, ketika suara desahan tertangkap jelas di telinganya. Dengan tangan gemetaran Alana mencoba memutar kenop pintu kamar, yang ternyata tak terkunci dari dalam. Dengan nekatnya ia memutar perlahan karena pintu kamar tersebut dan pintu pun terbuka sedikit. Alangkah terkejutnya Alana, ketika ia mengintip ke arah dalam kamar tersebut.

***

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED