Si bocah menghentakkan kaki kanannya. Seketika itu juga bumi di sekitar itu bergetar, angin laksana puting beliung menghembus keras, mengintari tubuhnya. Pertanda bahwa si bocah tengah mengerahkan tenaga dalam yang cukup tinggi. Pada saat kedua kepalan tangan si bocah diarahluruskan ke depan dengan sebuah sentakan, angin itu langsung menyongsong dan menerbangkan kembali puluhan batang kayu itu ke berbagai arah. Beberapa batang patah berkeping-keping. Namun beberapa yang lainnya menancap dan menembusi pokok-pokok pohon besar yang dikenainya.
Beberapa saat kemudian, si bocah mengatur kembali nafasnya, lalu berkata santai, "Jika engkau tidak mau juga menampakkan wujudmu, maka bagiku engkau adalah mahluk pengecut dungu yang menyedihkan yang pernah aku kenal..!"
Setelah berkata demikian, si bocah membalikkan tubuhnya hendak meninggalkan tempat itu. Mendadak suara cekikikan yang bernada mengejek mengurunkan langkahnya.
Si bocah menghembuskan nafas kesal dan malasnya. Ia menoleh ke arah datang suara cekikikan itu.
Tetapi lihainya pula, begitu si bocah menengok, suara cekikikan itu berhenti. Si bocah mengamati setiap detail rimba dengan seksama yang disertai sikap waspada. Tetapi bayangan pun orang yang tertawa itu tak ada.
"Kikikikikiki...."
"Hmm...??"
Sontak si bocah menoleh ke belakang, dari mana suara cekikikan itu berpindah. Tetapi lagi-lagi suara cekikan itu berhenti mendadak. Si bocah benar-benar merasa dipermainkan oleh manusia misterius itu. Manusia itu bukan hanya mengeluarkan cekikikan ejekan saja, melainkan suara cekikikan dikirimkan dengan kekuatan tenaga dalam yang cukup tinggi, yang efeknya mampu menisik hingga ke dalam otak si bocah. Andaikata si bocah bukanlah seorang yang tidak memiliki ilmu kedigdayaan, maka bisa dipastikan pembuluh-pembuluh darah dan jaringan saraf di otaknya sudah pecah dan putus akibat efek dari suara cekikikan yang mematikan itu.
"Hm...! Sekali lagi aku harus berkata, bahwa engkau benar-benar manusia pengecut dungu yang pernah kukenal!" berucap si bocah dengan suara datar sambil menahan rasa dongkol yang sangat di hatinya.
"Haii haik haik haik haik...! Dasar bocah bodoh! Memangnya kapan kaupernah mengenal manusia lain selain gurumu yang berkulit putih, berhidung pesek, dan bermata sipit itu, he! Haiii haik haik haik haik...!"
"Ah, buset...!"
Si bocah kaget luar biasa. Serta-merta berbalik arah pandang lagi. Suara tertawa yang disertai kata-kata yang berisi ejekan itu telah berpindah lagi ke arahnya semula. Namun wujud orang yang tertawa itu lagi-lagi tidak tampak dalam pandangannya. Benar-benar seperti sesosok siluman.
"Hai, manusia aneh! Tampakkan dirimu!" bentak si bocah sembari berkacak kedua belah pinggangnya. "Siapakah engkau sebenarnya? Darimana kautau tentang guruku, heh...!"
"Haiiii...haik haik haik...! Jelas aku mengenalnya, bocah. Siapa yang tak kenal dengan Jenderal Hongli, seorang pendekar besar yang di negeri asalnya punya nama besar dengan julukan Wu Ying Jianke alias Pendekar Tanpa Bayangan? Bahkan siapa dirimu, riwayat hidupmu, dan mengapa engkau diberi nama La Mudu, semuanya aku tau...! Haiiii haik haik haik...!"
Lagi-lagi si bocah, yang ternyata bernama La Mudu itu, dibuat lebih kaget luar biasa. Bukan hanya karena suara manusia misterius telah berpindah lagi dari arah belakangnya, tetapi karena manusia itu mengenal sang gurunya dan dirinya!
La Mudu menggeleng-geleng pelan. Mungkin sebaiknya ia tak perlu untuk terus melayani manusia misterius itu. Ia pun memungut kembali kedua ekor kelinci hasil buruannya, dan membalikan tubuhnya untuk melanjutkan perjalanannya.
Tetapi untuk kesekian kalinya ia harus mengurunkan langkah kakinya. Sesosok manusia misterius itu telah berdiri tegap di hadapannya, sekitar dua puluh depa dari tempat ia berdiri. Akan tetapi si bocah alias La Mudu tidak mampu melihat dengan jelas sama sekali akan sosok dan wajahnya, karena orang itu telah melindungi seluruh tubuhnya dengan cahaya putih yang menyilaukan mata.
La Mudu benar-benar dibuat heran sekaligus terpukau terhadap manusia misterius di hadapannya itu. Di kepalanya mendengung seribu tanya, tentang siapakah gerakan dia? Selama ia hidup dan dibesarkan di Rimba Sorowua, tak pernah ia bertemu dengan manusia lain, kecuali dengan Hongli, gurunya. Setiap waktu ia hanya bercengkerama dengan laik-laki tua yang dipanggilnya dengan Ato (kakek) itu. Artinya, hanya beliaulah yang tau nama dan dirinya. Tentu saja, La Mudu tidak habis pikir, mengapa manusia misterius yang berdiri di hadapannya dengan berselimut cahaya putih mengetahui dengan pasti nama Ato dan dirinya.
“Siapakah gerangan dia?” membatin La Mudu. “Apakah dia adalah Ato yang sedang menyamar dan hendak 'bermain-main' denganku? Tetapi, jika mendengar suaranya, jelas itu bukan suaranya Ato. Tetapi, hmm, aku bisa memastikan, jika manusia misterius di depanku itu adalah seorang laki-laki tua. Mungkin seumuran dengan Ato.”
"Hai orang tua, siapakah dirimu sebenarnya? Dan apa tujuanmu mengganggu perjalananku?" teriak La Mudu dengan sikap pongah, sambil berdiri berkacak pinggang.
Ditanya demikian, laki-laki misterius di hadapannya malah menjawabnya dengan tertawa mirip ringkikan kuda. Lagi-lagi bukan suara tertawa biasa.
"Jika pun aku memberitahumu tentang siapa diriku, tetap juga percuma, Mudu. Karena engkau tidak pernah mengenal siapa pun di dunia ini, selain Ato sipitmu itu. Hmm, tujuanku tentu tak lain adalah menginginkan nyawamu, Mudu...! Aku menginginkan nyawamu, sebelum aku mencabut nyawa gurumu yang berwajah mirip punggung ketam yang direbus itu! Haiiiii...haik haik haik haik..."
"Huaa ha ha ha ha ha ha ha...,"
Tiba-tiba La Mudu tertawa terbahak-bahak sambil berkacak kedua pinggangnya. Sebuah tawa pongah, tapi juga mengandung kekuatan tenaga dalam yang tinggi.
"Di samping aneh, pengecut, dan payah, ternyata kau juga adalah orang tua yang suka bermimpi! Hua ha ha ha...! Jika kau memang memiliki ilmu lebih tinggi daripada aku, lebih-lebih ilmu guruku, mana mungkin kau menyembunyikan diri dari cahaya silap mata seperti itu?! Atau kausangat malu karena mungkin wajahmu terlalu buruk untuk dipamerkan kepadaku? Huaaaa…ha ha ha ha ha...!"
"Jaga mulutmu, bocah kurang ajar!"
Tampaknya si manusia misterius terpancing amarahnya oleh kata-kata La Mudu.
Dan itu justru membuat La Mudu kembali tertawa terpingkal-pingkal.
"Anak kecil seperti aku hanya hormat terhadap orang tua yang santun, tapi sama sekali tidak terhadap orang tua aneh, pengecut, usil, dan bermulut besar sepertimu, wahai manusia tua misterius...!" sahut La Mudu dengan memperlihatkan kepongahannya. Tak sedikit pun tersirat ketakutan sedikit pun di wajahnya.
Kemarahan si manusia misterius pun tak terbendung lagi demi disentil demikian pedas oleh La Mudu.
"Bocah ndablek yang benar-benar tak tahu adab! Aku harus segera mencabut nyawamu, kutu munyuk...!”
Habis berucap demikian, si manusia misterius pun mengeluarkan suara lengkingan tinggi yang mengandung kekuatan tenaga dalam tingkat tinggi, bersamaan dengan berputarnya tubuhnya. Mulanya putaran tubuhnya pelan, namun semakin lama semakin kencang laksana gasing raksasa. Dan putaran tubuh itu seakan-akan menarik angin dari segala penjuru, yang kemudian berkumpul dan membentuk angin dahsyat laksana puting beliung. Saking kencangnya hempasan angin ciptaan itu, menjadikan dedaunan dari pohon-pohon besar di sekitar itu rontoh berhamburan. Tampaknya si manusia misterius itu benar-benar ingin menghancurkan tubuh si bocah dengan kekuatan yang sangat besar.
Halnya La Mudu, menyaksikan peragaan ilmu tingkat tinggi dari si manusia misterius di depannya itu, agak menganga juga mulutnya karena takjub. Tetapi sama sekali tergambar rasa panik atau keder tak sedikit pun di wajahnya.
"Orang ini benar-benar memiliki kesaktian yang sangat tinggi! Hmm, aku tidak boleh bertindak ceroboh!" membatin La Mudu.
Pada saat manusia misterius mendorong kedua tapak tangannya ke depan yang disertai lengkingan tinggi, gulungan angin yang sangat panas menderu dengan dahsyat ke arahnya, La Mudu yang telah siaga dengan serangan yang sangat mematikan itu, segera menyentakkan kaki kanannya ke bumi dan menyingkir di tempat itu sembari melepaskan serangan balasan berupa cahaya biru, yang kekuatannya setingkat dengan kekuatan serangan lawan.
Bumm...!!
Puncak Sorowua bergetar laksana dilanda gempa. Akibat gelombang angin dari ledakan itu, menjadikan pepohonan di sekitar itu seketika berguguran daunnya, dan ada beberapa pohon yang sampai bertumbangan.
Saat keadaan kembali tenang, suasana senyap. Manusia misterius yang berlindung dari balik cahaya putih ciptaannya, terlihat celingukan. Dan dengan penuh kewaspadaan tinggi ia mengamati dengan seksama keadaan di sekelilingnya.
"Ke mana si bocah nakal itu? " gumamnya. "Dia benar-benar telah menyerap dengan baik semua ilmu yang aku ajarkan. Bocah yang benar-benar luar biasa...! Tak percuma aku membesarkan dan mengangkatnya sebagai murid. Kau akan menjadi seorang pendekar besar, Mudu. Kau akan menggantikan diriku. Dan dengan tanganmu sendiri, kau akan menghacurkan riwayat para manusia iblis yang telah membunuh keluargamu yang biadab itu!"
"Cissshh...!"
Manusia misterius, yang sesungguhnya adalah Dato Hongli alias Jenderal Hongli alias Wu Ying Jianke (Pendekar Tanpa Bayanga), tiba-tiba merasakan kepala dan punggungnya basah oleh siraman air yang hangat. Saat kepalanya diusap lalu menciumnya, maka merahlah wajahnya.
Serta merta ia mendongak ke atas. Di atas sebuah cabang pohon, tampak La Muda baru saja memasukkan kembali ‘burung’-nya ke balik celananya sambil cekikikan.
"Bocah kurang ajar! Orang tua dikencingi...!" geram sekali Dato Hongli. Dan tanpa membuang-buang waktu, satu larik cahaya biru yang disertai angin yang sangat panas ia kiblatkan ke atas.
Prakkkk...!!
Batang pohon bagian atas, tepat di mana La Mudu tadi bertengger, patah dan hancur. Namun sebelum cahaya barusan mencapai sasaran, La Mudu telah lebih dulu bergerak menghindar, dan tiba-tiba telah bertengger di cabang pohon yang berada di belakang Dato Hongli, dan kembali mengeluarkan cekikikan yang mengejek.
Saat Dato Hongli menoleh, dan langsung mengirimkan pukulan kembali. Tetapi baru saja pukulan berupa gumpalan cahaya panas sebesar kepala manusia itu dikiblatkan ke atas, La Mudu telah lebih dahulu mengirimkan serangannya berupa gumpalan cahaya panas yg sama.
Duarrrr...!!
Satu ledakan yang cukup dahsyat pun terjadi di depan Dato Hongli. Tak ayal, tubuh orang tua yang masih terus menyelimuti dirinya dengan cahay putih kemilau itu pun terpental ke belakang dan jatuh membanting pantatnya di atas reranting kering yang menumpuk.
Laki-laki yang berusia di atas lima puluh tahun itu merasakan sakit di bagian pinggangnya, sehingga mau tak mau harus meringis juga. Ia hendak mencoba mengatur kembali nafasnya dengan menyalurkan tenaga murni ke seluruh jaringan tubuhnya. Namun belum lagi ia melakukannya, tiba-tiba telinganya menangkap suara decakan seperti suara cecak. Ketika ia mendongakkan wajahnya, ternyata La Mudu sedang merogoh kembali "burung"-nya sambil cekikikan, dan siap menembakkan lagi air seninya kepadanya.
"Hei! Bocah kurang ajar!" damprat Dato Hongli, sambil serta-merta bergerak bangkit, bersamaan dengan mengiblatkan satu pukulan angin panas ke arah atas.
"Eit! Tak kena..!" ejek si bocah, sembari dengan cepat ia melesatkan tubuh tubuhnya ke cabang pohon yang lain.
Saat Dato Hongli kembali mengirimkan segumpal cahaya berwarna biru kemilau, tubuh si bocah meluncur ke bawah sembari mengirimkan pukulan balasan berupa satu larik cahaya merah membara.
Dengan gerakan yang sangat gesit, Dato Hongli bergerak menghindar sembari mengirimkan satu pukulan yang melahirkan selarik cakaya putih kemilau.
Bluarr...!!
Ledakan cukup keras terjadi.
“Hmm...?”
Dato Hongli dengan sikap waspada mengawasi daerah sekeliling. Tubuh murid kecilnya telah raib di tempatnya. “Dia benar-benar pantas menjadi calon pendekar agung!” gumamnya bangga.
Namun di luar dugaannya, si murid kecilnya, tiba-tiba melesat kencang dari arah sampingnya sembari mengiblatkan satu tendangan keras ke arah lengannya. Dengan cepat Dato Hongli menggeser tubuhnya ke depan sembari menarik salah satu kakinya. Saat tubuh murid kecilnya lewat di sampingnya, dengan cepat ia mendaratkan satu tendangan balasan dengan kekuatan sedang, dan...
Buggkh...!
Tendangan itu mendarat tepat di lengan kanan La Mudu, dan membuat tubuhnya tersuruk beberapa meter ke belakang.
Tetapi La Mudu masih mampu menahan tubuhnya agar tidah sampai jatuh terduduk. Namun, sakit akibat tendangan itu terasa hingga ke otaknya.
"Hmm, tendanganmu lumayanlah, orang tua aneh," ucap La Mudu sembari mengusap lengannya satu kali, menyembunyikan rasa sakit yang cukup luar biasa. "Tapi belum cukup untuk menghilangkan gatal di tubuhku!"
"Huaa ha ha ha ha...! Kau memang bocah yang bermental baja, Mudu, tapi sekaligus tengil! " ucap Dato Hongli. "Kalau begitu, aku harus segera melenyapkan gatal di tubuhmu untuk selama-lamanya...!”
Manusia misterius, atau Dato Hongli, rupanya sudah tidak sabar untuk melakukan serangan, yang sejatinya untuk menguji ilmu muridnya itu. Dengan didahului sebuah pekikan tinggi yang disertai pengerahan tenaga dalam, tubuh yang masih terselimuti oleh cahaya putih itu pun melayang secepat kilat ke arah La Mudu.
La Mudu segera menyambut serangan itu. Pertarungan dahsyat pun terjadi. Puncak Sorowua terasa bergetar. Daun-daun berguguran akibat dihempas oleh angin kencang bagai puyuh dari hasil olah kedigdayaan dan tenaga dalam kedua manusia murid berguru yang sangat sakti itu. Karena dalam pertarungan fisik jarak dekat ini, keduanya memperagakan berbagai jurus tingkat tinggi. Rangkaian pukulan dengan kombinasi gerakan pukulan yang cepat dan mematikan berusaha saling mencari sasaran para tubuh lawannya masing-masing. Namun hingga pada jurus keseratus pun, keduanya masih imbang. Tak ada satu pun tendangan maupun pukulan yang membentur dengan keras dan berarti pada tubuh keduanya.
La Mudu, yang memang telah digembleng sejak balita, telah memiliki tingkat ilmu yang sangat tinggi. Kesaktian dan kedigdayaannya hanya mampu dikur oleh sang gurunya saja, yaitu Dato Hongli. Sehingga serangannya masing-masing dapat dengan mudah dipatahkan, namun sama sekali tak bisa saling menciderai.
Walhasil, kedua manusia yang sama-sama berilmu sangat tinggi itu pun terlibat dalam satu pertarungan yang dahsyat dengan efek yang sangat mengerikan bagi alam di sekelilingnya. Ini adalah sebuah pertarungan uji coba yang paling serius yang dilakukan sang mantan jenderal perang terhadap murid yang telah dianggapnya sebagai anaknya sendri itu.
"Heaatt..!"
"Heaahh..!"
Bweet...!!
Bweett..!!
Sampai pada jurus yang kedua ratus pun, kedua guru bermurid petarung itu belum mampu menyarangkan pukulan maupun tendangan yang berarti ke tubuh lawan masing-masing.
Akan tetapi, ada satu hal yang jelas yang dirasakan oleh La Mudu saat itu, adalah bahwa lawannya sudah mulai ngos-ngosan nafasnya. Ia pun berteriak dan mengejek:
"Dasar orang tua yang tak mau mawas diri! Tenaga tinggal sisa, masih saja mau melawan anak muda..!"
La Mudu tiba-tiba kemudian melakukan serangan mematikan dengan menggerakkan kedua belah tangannya. Ia sedang memperagakan sebuah jurus yang bernama Kitir Dewa Pemusnah Naga. Jurus itu sangat berbahaya bagi lawannya. Dan Dato Hongli tau itu.
Akibat jurus itu membuat puncaj Sorowua bagai dilanda puting beliung yang dahsyat. Bukan hanya dedaunan yang berguguran, tetapi batang-batangepohon kecil sebesar batang pisang bertumbangan dan terhempas di berbagai arah.
Tiba-tiba La Mudu menghentikan serangannya, karena manusia misterius yang terbungkus cahaya putih kemilau itu sudah tak ada di sekitarnya.
La Mudu tersenyum penuh kemenangan. “Manusia itu pasti sudah lari tunggang-langgang ketakutan,” gumamnya dengan nada pongah.