Bab 1

SUASANA rimba Sorowua, seperti biasa, begitu lengang. Burung-burung pun seakan-akan enggan bernyanyi kepada alam. Hari sebenarnya sudah menjelang siang, namun karena rimbunnya pepohonan yang demikian rapat dan berlumut, menjadikan keadaan di rimba ini seperti senja saja. Sinar matahari tak mampu menembus langsung ke dalamnya. Kabut-kabut abadi yang bertebaran di seantero rimba membatasi jarak pandang. Batu-batu cadas yang besar-besar dan berlumut bertebaran di mana-mana.

Kondisi yang demikian bukan saja menjadikan suhu di daerah ini begitu dingin, namun juga memberi kesan demikian wingit, angker. Maka tidaklah berlebihan, jika warga desa-desa di sekitar kaki gunung rimba ini menilainya sebagai rimba yang sangat besar uraga (sangat angker dan wingit), sehingga amat jarang orang yang berani memasuki rimba ini seorang diri, baik untuk berburu rusa, mencari sarang sarang tawon madu, maupun untuk mengambil kayu.

Konon, rimba Sorowua dijaga oleh sesosok siluman putih: berjubah putih, berjenggot putih, berkulit putih, serta bermata sipit. Entah dari mana desas-desus ini bermula. Namun yang jelas, desas-desus itu telah terlanjur dipercayai oleh masyarakat yang bermukim di sekitar kaki gunung itu sebagai sebuah kebenaran, setidaknya sejak lima belas tahun yang lalu. Walhasil, keperawanan rimba pun masih terjaga!

Dalam pada itu, di tengah rimba yang katanya sangat angker tersebut, mendadak sesosok bocah laki-laki berlari dengan demikian ringan dengan kecepatan tinggi, melesat ke arah barat.

Apakah ia juga sesosok siluman selain sesosok siluman yang berjubah putih, berjenggot putih, berkulit putih, serta bermata sipit seperti yang dipercayai oleh masyarakat di sekitar kaki gunung itu?

Entahlah. Namun yang pasti, kondisi rimba yang berkabut dengan pepohonan dan bebatuan yang besar-besar dan rapat di sana sini, sama sekali tidak digubris oleh si bocah yang naga-naganya baru berusia belasan tahun dan berperawakan kekar itu. Ia berlari seperti layaknya di tanah yang lapang dan terbuka. Rupanya si bocah sudah sangat hafal dengan medan rimba. Di kedua belah tangan masing-masing menjinjing seekor kelinci hutan. Rambutnya yang panjang melewati pundak dan terikat semacam kain, masih bisa bebas meriap kebelakang akibat kencangnya larinya.

Ketika tapak kakinya mendekati mulut sebuah jurang panjang sempit namun sangat curam yang menghadang di depannya, si bocah bukannya menghentikan larinya, tetapi...

"Hupp...!!"

Hanya dengan satu gerakan ringan mulut jurang itu pun dilampauinya. Kedua kakinya menapak indah di pinggir jurang yang di seberang. Sesaat si bocah berhenti, menengok ke belakang, ke dalam mulut jurang, dan...

"Hiiih...!!" Seperti ada sesuatu yang lucu, ia pun cekikikan, lalu kembali melanjutkan larinya.

Akan tetapi, belum lagi si bocah jauh dari mulut jurang sempit, mendadak satu kilatan cahaya putih kemilau menderu dahsyat kearahnya.

Wusss...!!

"Eittt...!"

Si bocah melakukan satu gerakan salto yang sangat cepat, melampaui ujung cahaya putih yang sangat mematikan itu.

Dumm...!!

Sebuah bunyi dahsyat terjadi. Cahaya putih kemilau itu menghantam dinding sebuah bebatuan raksasa yang tak jauh dari samping si bocah. Dinding batu cadas itu rontok dalam bentuk serpihan-serpihan kecil yang menghitam.

Bisa dibayangkan, jika serangan cahaya itu mengenai tubuh si bocah, mungkin tubuh si bocah akan berubah menjadi setumpuk abu, yang kemudian lenyap berhamburan dalam sekejap!

Tetapi anehnya, si bocah, yang rupanya bukanlah seorang bocah sembarangan, bukannya menggubris serangan berbahaya itu, apalagi sekedar mengelus dada, justeru dengan cueknya ia kembali cekikikan dan kembali melanjutkan larinya.

Namun, belum lagi beberapa jauh ia berlari, tiba-tiba sebuah bola api raksasa kembali menderu, memburu cepat ke arahnya.

Seolah-olah si bocah tak ambil peduli. Akan tetapi, ketika bola api itu tinggal beberapa meter lagi menghantamnya, tiba-tiba tubuh si bocah seolah-olah menyemplung ke dalam bumi dan bola api menghantam sebatang pohon yang berada di depan hingga tumbang dan terbakar.

Bumm...!!

Sesaat kemudian, tiba-tiba tubuh si bocah muncul kembali ke permukaan. Ia menggeleng-geleng pelan ketika melihat nasib pohon yang terkena bola api barusan, lalu melanjutkan larinya sambil meninggalkan suara cekikikannya.

Akan tetapi, lagi-lagi dari arah sampingnnya satu bola api kembali datang menderu ke arahnya.

Kaget juga si bocah mendapat kiriman bola api maut itu. Ia menghentikan larinya. Sadarlah ia bahwa seseorang tengah mengintainya dan menghendaki nyawanya. Namun ia tidak sempat berpikir tentang siapakah gerangan orang yang hendak mencelakakannya itu, karena bola api demikian cepat melesat ke arahnya. Dan ketika beberapa depa lagi bola api itu akan meluluhlantakkannya, si bocah menghentakkan kakinya, tubuhnya melesat ke atas, sehingga bola api lewat di bawahnya.

Bumm...!!!

Satu ledakan dahsyat yang disertai kepulan asap hitam pekat terjadi. Bola api menghantam permukaan bumi di mana si bocah tadi berdiri. Ketika asap hitam tebal lenyap, maka tampaklah sebuah lubang besar menganga yang menyerupai kawah kecil. Kenyataan itu memberi gambaran, bahwa bola api itu merupakan hasil olah nafas dan tenaga dalam tingkat tinggi dari sang empunya. Kedahsyatannya setingkat di atas serangan pertama berupa cahaya putih kemilau.

"Woiii...!" Teriakan si Bocah membahana. Dengan sikap waspada tinggi, ia mengedarkan pandangannya ke seantero daerah di sekelilingnya. Tapi tak tampak siapa-siapa, kecuali senyap kembali setelah gema suaranya lenyap. "Aku bisa pastikan bahkan engkau bukanlah jin atau henca! Jadi tak perlu bermain petak umpet. Jika ingin bermain-main denganku, maka tampakkan saja wujudmu. Tak perlu sembunyi-sembunyi begitu...!" (Henca = siluman; demit)

Tak ada sahutan, kecuali gema suaranya sendiri.

"Sangat burukkah wajahmu, sehingga kau tak berani menampakkan diri? Ataukah tubuhmu sangat bau...?" Si bocah kembali mencoba menyapa.

Namun lagi-lagi hanya disahuti oleh gema suaranya sendiri. Beberapa lama menunggu, masih juga tak ada tanda-tanda jika sang pengintai dan penyerang ada di sekitar itu.

"Jika kau tidak juga mau menampakkan diri, lebih baik aku melanjutkan perjalananku! Tak ada untungnya bagiku untuk melayani manusia aneh dan jelek sepertimu...!"

Naga-naganya si bocah tak berminat lagi untuk mendengar tanggapan dari si mahluk misterius itu, ia pun melanjutkan larinya.

Akan tetapi, baru beberapa puluh meter ia berlari si bocah, telinganya mendengar suara "krekk...!" dari arah belakangnya. Seperti suara reranting kering yang terpijak. Saat ia menoleh ke belakang...

Wuss...wuss...wuss...!!

Puluhan batang kayu yang rata-rata sebesar paha orang dewasa meluncur deras mengancam tubuh si bocah. Sesaat si bocah terkesiap mendapat ancaman itu.

“Kurang ajar! Rupanya dia benar-benar ingin mengajakku bermain...!”

Si Bocah menjatuhkan begitu saja dua ekor kelinci yang dijinjingnya. Ia tidak mau menganggap enteng terhadap serangan itu. Dengan cepat kedua tangannya disilangkan di depan dada sembari menyedot kekuatan alam dengan satu tarikan nafas. Pada saat puluhan batang kayu itu hanya beberapa depa menghujam tubuhnya, si bocah segera memutar kedua tangannya sedemikian rupa yang disertai teriakan nyaring dan berat yang memekakkan telinga mahluk apa pun yang mendengarkannya.

"Heaaahhh...!"

Bab 2

Si bocah menghentakkan kaki kanannya. Seketika itu juga bumi di sekitar itu bergetar, angin laksana puting beliung menghembus keras, mengintari tubuhnya. Pertanda bahwa si bocah tengah mengerahkan tenaga dalam yang cukup tinggi. Pada saat kedua kepalan tangan si bocah diarahluruskan ke depan dengan sebuah sentakan, angin itu langsung menyongsong dan menerbangkan kembali puluhan batang kayu itu ke berbagai arah. Beberapa batang patah berkeping-keping. Namun beberapa yang lainnya menancap dan menembusi pokok-pokok pohon besar yang dikenainya.

Beberapa saat kemudian, si bocah mengatur kembali nafasnya, lalu berkata santai, "Jika engkau tidak mau juga menampakkan wujudmu, maka bagiku engkau adalah mahluk pengecut dungu yang menyedihkan yang pernah aku kenal..!"

Setelah berkata demikian, si bocah membalikkan tubuhnya hendak meninggalkan tempat itu. Mendadak suara cekikikan yang bernada mengejek mengurunkan langkahnya.

Si bocah menghembuskan nafas kesal dan malasnya. Ia menoleh ke arah datang suara cekikikan itu.

Tetapi lihainya pula, begitu si bocah menengok, suara cekikikan itu berhenti. Si bocah mengamati setiap detail rimba dengan seksama yang disertai sikap waspada. Tetapi bayangan pun orang yang tertawa itu tak ada.

"Kikikikikiki...."

"Hmm...??"

Sontak si bocah menoleh ke belakang, dari mana suara cekikikan itu berpindah. Tetapi lagi-lagi suara cekikan itu berhenti mendadak. Si bocah benar-benar merasa dipermainkan oleh manusia misterius itu. Manusia itu bukan hanya mengeluarkan cekikikan ejekan saja, melainkan suara cekikikan dikirimkan dengan kekuatan tenaga dalam yang cukup tinggi, yang efeknya mampu menisik hingga ke dalam otak si bocah. Andaikata si bocah bukanlah seorang yang tidak memiliki ilmu kedigdayaan, maka bisa dipastikan pembuluh-pembuluh darah dan jaringan saraf di otaknya sudah pecah dan putus akibat efek dari suara cekikikan yang mematikan itu.

"Hm...! Sekali lagi aku harus berkata, bahwa engkau benar-benar manusia pengecut dungu yang pernah kukenal!" berucap si bocah dengan suara datar sambil menahan rasa dongkol yang sangat di hatinya.

"Haii haik haik haik haik...! Dasar bocah bodoh! Memangnya kapan kaupernah mengenal manusia lain selain gurumu yang berkulit putih, berhidung pesek, dan bermata sipit itu, he! Haiii haik haik haik haik...!"

"Ah, buset...!"

Si bocah kaget luar biasa. Serta-merta berbalik arah pandang lagi. Suara tertawa yang disertai kata-kata yang berisi ejekan itu telah berpindah lagi ke arahnya semula. Namun wujud orang yang tertawa itu lagi-lagi tidak tampak dalam pandangannya. Benar-benar seperti sesosok siluman.

"Hai, manusia aneh! Tampakkan dirimu!" bentak si bocah sembari berkacak kedua belah pinggangnya. "Siapakah engkau sebenarnya? Darimana kautau tentang guruku, heh...!"

"Haiiii...haik haik haik...! Jelas aku mengenalnya, bocah. Siapa yang tak kenal dengan Jenderal Hongli, seorang pendekar besar yang di negeri asalnya punya nama besar dengan julukan Wu Ying Jianke alias Pendekar Tanpa Bayangan? Bahkan siapa dirimu, riwayat hidupmu, dan mengapa engkau diberi nama La Mudu, semuanya aku tau...! Haiiii haik haik haik...!"

Lagi-lagi si bocah, yang ternyata bernama La Mudu itu, dibuat lebih kaget luar biasa. Bukan hanya karena suara manusia misterius telah berpindah lagi dari arah belakangnya, tetapi karena manusia itu mengenal sang gurunya dan dirinya!

La Mudu menggeleng-geleng pelan. Mungkin sebaiknya ia tak perlu untuk terus melayani manusia misterius itu. Ia pun memungut kembali kedua ekor kelinci hasil buruannya, dan membalikan tubuhnya untuk melanjutkan perjalanannya.

Tetapi untuk kesekian kalinya ia harus mengurunkan langkah kakinya. Sesosok manusia misterius itu telah berdiri tegap di hadapannya, sekitar dua puluh depa dari tempat ia berdiri. Akan tetapi si bocah alias La Mudu tidak mampu melihat dengan jelas sama sekali akan sosok dan wajahnya, karena orang itu telah melindungi seluruh tubuhnya dengan cahaya putih yang menyilaukan mata.

La Mudu benar-benar dibuat heran sekaligus terpukau terhadap manusia misterius di hadapannya itu. Di kepalanya mendengung seribu tanya, tentang siapakah gerakan dia? Selama ia hidup dan dibesarkan di Rimba Sorowua, tak pernah ia bertemu dengan manusia lain, kecuali dengan Hongli, gurunya. Setiap waktu ia hanya bercengkerama dengan laik-laki tua yang dipanggilnya dengan Ato (kakek) itu. Artinya, hanya beliaulah yang tau nama dan dirinya. Tentu saja, La Mudu tidak habis pikir, mengapa manusia misterius yang berdiri di hadapannya dengan berselimut cahaya putih mengetahui dengan pasti nama Ato dan dirinya.

“Siapakah gerangan dia?” membatin La Mudu. “Apakah dia adalah Ato yang sedang menyamar dan hendak 'bermain-main' denganku? Tetapi, jika mendengar suaranya, jelas itu bukan suaranya Ato. Tetapi, hmm, aku bisa memastikan, jika manusia misterius di depanku itu adalah seorang laki-laki tua. Mungkin seumuran dengan Ato.”

"Hai orang tua, siapakah dirimu sebenarnya? Dan apa tujuanmu mengganggu perjalananku?" teriak La Mudu dengan sikap pongah, sambil berdiri berkacak pinggang.

Ditanya demikian, laki-laki misterius di hadapannya malah menjawabnya dengan tertawa mirip ringkikan kuda. Lagi-lagi bukan suara tertawa biasa.

"Jika pun aku memberitahumu tentang siapa diriku, tetap juga percuma, Mudu. Karena engkau tidak pernah mengenal siapa pun di dunia ini, selain Ato sipitmu itu. Hmm, tujuanku tentu tak lain adalah menginginkan nyawamu, Mudu...! Aku menginginkan nyawamu, sebelum aku mencabut nyawa gurumu yang berwajah mirip punggung ketam yang direbus itu! Haiiiii...haik haik haik haik..."

"Huaa ha ha ha ha ha ha ha...,"

Tiba-tiba La Mudu tertawa terbahak-bahak sambil berkacak kedua pinggangnya. Sebuah tawa pongah, tapi juga mengandung kekuatan tenaga dalam yang tinggi.

"Di samping aneh, pengecut, dan payah, ternyata kau juga adalah orang tua yang suka bermimpi! Hua ha ha ha...! Jika kau memang memiliki ilmu lebih tinggi daripada aku, lebih-lebih ilmu guruku, mana mungkin kau menyembunyikan diri dari cahaya silap mata seperti itu?! Atau kausangat malu karena mungkin wajahmu terlalu buruk untuk dipamerkan kepadaku? Huaaaa…ha ha ha ha ha...!"

"Jaga mulutmu, bocah kurang ajar!"

Tampaknya si manusia misterius terpancing amarahnya oleh kata-kata La Mudu.

Dan itu justru membuat La Mudu kembali tertawa terpingkal-pingkal.

"Anak kecil seperti aku hanya hormat terhadap orang tua yang santun, tapi sama sekali tidak terhadap orang tua aneh, pengecut, usil, dan bermulut besar sepertimu, wahai manusia tua misterius...!" sahut La Mudu dengan memperlihatkan kepongahannya. Tak sedikit pun tersirat ketakutan sedikit pun di wajahnya.

Kemarahan si manusia misterius pun tak terbendung lagi demi disentil demikian pedas oleh La Mudu.

"Bocah ndablek yang benar-benar tak tahu adab! Aku harus segera mencabut nyawamu, kutu munyuk...!”

Habis berucap demikian, si manusia misterius pun mengeluarkan suara lengkingan tinggi yang mengandung kekuatan tenaga dalam tingkat tinggi, bersamaan dengan berputarnya tubuhnya. Mulanya putaran tubuhnya pelan, namun semakin lama semakin kencang laksana gasing raksasa. Dan putaran tubuh itu seakan-akan menarik angin dari segala penjuru, yang kemudian berkumpul dan membentuk angin dahsyat laksana puting beliung. Saking kencangnya hempasan angin ciptaan itu, menjadikan dedaunan dari pohon-pohon besar di sekitar itu rontoh berhamburan. Tampaknya si manusia misterius itu benar-benar ingin menghancurkan tubuh si bocah dengan kekuatan yang sangat besar.

Halnya La Mudu, menyaksikan peragaan ilmu tingkat tinggi dari si manusia misterius di depannya itu, agak menganga juga mulutnya karena takjub. Tetapi sama sekali tergambar rasa panik atau keder tak sedikit pun di wajahnya.

"Orang ini benar-benar memiliki kesaktian yang sangat tinggi! Hmm, aku tidak boleh bertindak ceroboh!" membatin La Mudu.

Bab 3

Pada saat manusia misterius mendorong kedua tapak tangannya ke depan yang disertai lengkingan tinggi, gulungan angin yang sangat panas menderu dengan dahsyat ke arahnya, La Mudu yang telah siaga dengan serangan yang sangat mematikan itu, segera menyentakkan kaki kanannya ke bumi dan menyingkir di tempat itu sembari melepaskan serangan balasan berupa cahaya biru, yang kekuatannya setingkat dengan kekuatan serangan lawan.

Bumm...!!

Puncak Sorowua bergetar laksana dilanda gempa. Akibat gelombang angin dari ledakan itu, menjadikan pepohonan di sekitar itu seketika berguguran daunnya, dan ada beberapa pohon yang sampai bertumbangan.

Saat keadaan kembali tenang, suasana senyap. Manusia misterius yang berlindung dari balik cahaya putih ciptaannya, terlihat celingukan. Dan dengan penuh kewaspadaan tinggi ia mengamati dengan seksama keadaan di sekelilingnya.

"Ke mana si bocah nakal itu? " gumamnya. "Dia benar-benar telah menyerap dengan baik semua ilmu yang aku ajarkan. Bocah yang benar-benar luar biasa...! Tak percuma aku membesarkan dan mengangkatnya sebagai murid. Kau akan menjadi seorang pendekar besar, Mudu. Kau akan menggantikan diriku. Dan dengan tanganmu sendiri, kau akan menghacurkan riwayat para manusia iblis yang telah membunuh keluargamu yang biadab itu!"

"Cissshh...!"

Manusia misterius, yang sesungguhnya adalah Dato Hongli alias Jenderal Hongli alias Wu Ying Jianke (Pendekar Tanpa Bayanga), tiba-tiba merasakan kepala dan punggungnya basah oleh siraman air yang hangat. Saat kepalanya diusap lalu menciumnya, maka merahlah wajahnya.

Serta merta ia mendongak ke atas. Di atas sebuah cabang pohon, tampak La Muda baru saja memasukkan kembali ‘burung’-nya ke balik celananya sambil cekikikan.

"Bocah kurang ajar! Orang tua dikencingi...!" geram sekali Dato Hongli. Dan tanpa membuang-buang waktu, satu larik cahaya biru yang disertai angin yang sangat panas ia kiblatkan ke atas.

Prakkkk...!!

Batang pohon bagian atas, tepat di mana La Mudu tadi bertengger, patah dan hancur. Namun sebelum cahaya barusan mencapai sasaran, La Mudu telah lebih dulu bergerak menghindar, dan tiba-tiba telah bertengger di cabang pohon yang berada di belakang Dato Hongli, dan kembali mengeluarkan cekikikan yang mengejek.

Saat Dato Hongli menoleh, dan langsung mengirimkan pukulan kembali. Tetapi baru saja pukulan berupa gumpalan cahaya panas sebesar kepala manusia itu dikiblatkan ke atas, La Mudu telah lebih dahulu mengirimkan serangannya berupa gumpalan cahaya panas yg sama.

Duarrrr...!!

Satu ledakan yang cukup dahsyat pun terjadi di depan Dato Hongli. Tak ayal, tubuh orang tua yang masih terus menyelimuti dirinya dengan cahay putih kemilau itu pun terpental ke belakang dan jatuh membanting pantatnya di atas reranting kering yang menumpuk.

Laki-laki yang berusia di atas lima puluh tahun itu merasakan sakit di bagian pinggangnya, sehingga mau tak mau harus meringis juga. Ia hendak mencoba mengatur kembali nafasnya dengan menyalurkan tenaga murni ke seluruh jaringan tubuhnya. Namun belum lagi ia melakukannya, tiba-tiba telinganya menangkap suara decakan seperti suara cecak. Ketika ia mendongakkan wajahnya, ternyata La Mudu sedang merogoh kembali "burung"-nya sambil cekikikan, dan siap menembakkan lagi air seninya kepadanya.

"Hei! Bocah kurang ajar!" damprat Dato Hongli, sambil serta-merta bergerak bangkit, bersamaan dengan mengiblatkan satu pukulan angin panas ke arah atas.

"Eit! Tak kena..!" ejek si bocah, sembari dengan cepat ia melesatkan tubuh tubuhnya ke cabang pohon yang lain.

Saat Dato Hongli kembali mengirimkan segumpal cahaya berwarna biru kemilau, tubuh si bocah meluncur ke bawah sembari mengirimkan pukulan balasan berupa satu larik cahaya merah membara.

Dengan gerakan yang sangat gesit, Dato Hongli bergerak menghindar sembari mengirimkan satu pukulan yang melahirkan selarik cakaya putih kemilau.

Bluarr...!!

Ledakan cukup keras terjadi.

“Hmm...?”

Dato Hongli dengan sikap waspada mengawasi daerah sekeliling. Tubuh murid kecilnya telah raib di tempatnya. “Dia benar-benar pantas menjadi calon pendekar agung!” gumamnya bangga.

Namun di luar dugaannya, si murid kecilnya, tiba-tiba melesat kencang dari arah sampingnya sembari mengiblatkan satu tendangan keras ke arah lengannya. Dengan cepat Dato Hongli menggeser tubuhnya ke depan sembari menarik salah satu kakinya. Saat tubuh murid kecilnya lewat di sampingnya, dengan cepat ia mendaratkan satu tendangan balasan dengan kekuatan sedang, dan...

Buggkh...!

Tendangan itu mendarat tepat di lengan kanan La Mudu, dan membuat tubuhnya tersuruk beberapa meter ke belakang.

Tetapi La Mudu masih mampu menahan tubuhnya agar tidah sampai jatuh terduduk. Namun, sakit akibat tendangan itu terasa hingga ke otaknya.

"Hmm, tendanganmu lumayanlah, orang tua aneh," ucap La Mudu sembari mengusap lengannya satu kali, menyembunyikan rasa sakit yang cukup luar biasa. "Tapi belum cukup untuk menghilangkan gatal di tubuhku!"

"Huaa ha ha ha ha...! Kau memang bocah yang bermental baja, Mudu, tapi sekaligus tengil! " ucap Dato Hongli. "Kalau begitu, aku harus segera melenyapkan gatal di tubuhmu untuk selama-lamanya...!”

Manusia misterius, atau Dato Hongli, rupanya sudah tidak sabar untuk melakukan serangan, yang sejatinya untuk menguji ilmu muridnya itu. Dengan didahului sebuah pekikan tinggi yang disertai pengerahan tenaga dalam, tubuh yang masih terselimuti oleh cahaya putih itu pun melayang secepat kilat ke arah La Mudu.

La Mudu segera menyambut serangan itu. Pertarungan dahsyat pun terjadi. Puncak Sorowua terasa bergetar. Daun-daun berguguran akibat dihempas oleh angin kencang bagai puyuh dari hasil olah kedigdayaan dan tenaga dalam kedua manusia murid berguru yang sangat sakti itu. Karena dalam pertarungan fisik jarak dekat ini, keduanya memperagakan berbagai jurus tingkat tinggi. Rangkaian pukulan dengan kombinasi gerakan pukulan yang cepat dan mematikan berusaha saling mencari sasaran para tubuh lawannya masing-masing. Namun hingga pada jurus keseratus pun, keduanya masih imbang. Tak ada satu pun tendangan maupun pukulan yang membentur dengan keras dan berarti pada tubuh keduanya.

La Mudu, yang memang telah digembleng sejak balita, telah memiliki tingkat ilmu yang sangat tinggi. Kesaktian dan kedigdayaannya hanya mampu dikur oleh sang gurunya saja, yaitu Dato Hongli. Sehingga serangannya masing-masing dapat dengan mudah dipatahkan, namun sama sekali tak bisa saling menciderai.

Walhasil, kedua manusia yang sama-sama berilmu sangat tinggi itu pun terlibat dalam satu pertarungan yang dahsyat dengan efek yang sangat mengerikan bagi alam di sekelilingnya. Ini adalah sebuah pertarungan uji coba yang paling serius yang dilakukan sang mantan jenderal perang terhadap murid yang telah dianggapnya sebagai anaknya sendri itu.

"Heaatt..!"

"Heaahh..!"

Bweet...!!

Bweett..!!

Sampai pada jurus yang kedua ratus pun, kedua guru bermurid petarung itu belum mampu menyarangkan pukulan maupun tendangan yang berarti ke tubuh lawan masing-masing.

Akan tetapi, ada satu hal yang jelas yang dirasakan oleh La Mudu saat itu, adalah bahwa lawannya sudah mulai ngos-ngosan nafasnya. Ia pun berteriak dan mengejek:

"Dasar orang tua yang tak mau mawas diri! Tenaga tinggal sisa, masih saja mau melawan anak muda..!"

La Mudu tiba-tiba kemudian melakukan serangan mematikan dengan menggerakkan kedua belah tangannya. Ia sedang memperagakan sebuah jurus yang bernama Kitir Dewa Pemusnah Naga. Jurus itu sangat berbahaya bagi lawannya. Dan Dato Hongli tau itu.

Akibat jurus itu membuat puncaj Sorowua bagai dilanda puting beliung yang dahsyat. Bukan hanya dedaunan yang berguguran, tetapi batang-batangepohon kecil sebesar batang pisang bertumbangan dan terhempas di berbagai arah.

Tiba-tiba La Mudu menghentikan serangannya, karena manusia misterius yang terbungkus cahaya putih kemilau itu sudah tak ada di sekitarnya.

La Mudu tersenyum penuh kemenangan. “Manusia itu pasti sudah lari tunggang-langgang ketakutan,” gumamnya dengan nada pongah.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED