Bab 1

Sesungguhnya suasana malam kala itu cukup indah dan hening dihiasi sinaran bulan purnama.Namun keheningan dan keindahan malam itu terkoyak, oleh sebuah suara teriakkan di markas sekte Rajawali Emas.

"Awas! Ada pencuri masuk ke ruang pusaka!!" teriak seorang anggota sekte kelas menengah, yang kebetulan berjaga di area markas bersama seorang anggota lainnya.

Crash! Crasshk!

"Arrgghssk!" bagai kilat berkelebat cahaya merah dari sebuah pedang, yang langsung menerbangkan dua buah kepala penjaga pintu di ruang pusaka sekte Rajawali Emas.

Dua penjaga ruang pusaka itu pun tewas tanpa kata, seorang di antaranya adalah anggota sekte yang baru berteriak tadi.

Slaphs!

Cepat sekali sosok berpenutup kepala kain itu melesat melewati pagar markas sekte, lalu lenyap di kegelapan hutan yang mengelilingi sekte Rajawali Emas itu.

Puluhan sosok berkelebatan keluar dengan cepat dari dalam markas sekte, mereka langsung menuju ke ruang penyimpanan pusaka dan sebagiannya melesat ke sekitar markas mencari sosok yang mencurigakan.

"Dua penjaga ruang penyimpanan pusaka telah tewas!" teriak seorang anggota sekte yang melesat ke arah penyimpanan ruang pusaka.

Seketika markas sekte Rajawali Emas menjadi gempar. Ki Somanatha selaku putra pertama dari Guru Besar sekte Rajawali Emas, langsung memeriksa ke dalam ruang penyimpanan pusaka sekte Rajawali Emas.

Dan hal yang paling ditakuti oleh sekte Rajawali Emas ternyata benar-benar terjadi.

"Hahh! Kurang ajar! Kitab pusaka Rajawali Langit dan pedang keramat Rajawali Emas telah hilang dari tempatnya!" seru Ki Somanatha terkejut dan murka bukan main mengetahui hal itu.

Ya, dia serasa tak percaya atas kenyataan telah hilangnya dua buah pusaka yang merupakan urat nadi dari sekte Rajawali Emas.

Akhirnya dia mengambil sebuah keputusan 'terpaksa' dalam keadaan darurat itu.

'Hhh! Terpaksa aku harus menghadap dan mengganggu tapa brata ayahanda Bilowo Djati di ruang khususnya', bathin Ki Somanatha, seraya menghela nafasnya.

Ya, di bagian belakang markas sekte Rajawali Emas terdapat sebuah bukit bernama bukit Dewa Pedang. Terdapat pintu batu geser tebal yang tersembunyi di bawahnya, yang tertutupi oleh tanaman rambat lebat.

Dan di sanalah pintu ruang-ruang laku khusus para leluhur sekte Rajawali Emas berada. Ruang laku khusus yang hanya boleh dimasuki oleh para ketua, pendahulu, serta leluhur ketua sekte Rajawali Emas.

Bisa dikatakan, ruang itu adalah ruang akhir bagi para ketua atau tokoh puncak di sekte Rajawali Emas, untuk menyepi dan mensucikan diri hingga akhir hayat mereka. 

Daghs!

Ki Somanatha menendang sebuah tombol rahasia, yang terdapat di sebelah kanan bawah sisi pintu batu geser.

Dia melakukan hal itu setelah menyingkirkan tanaman rambat lebat yang menutupi pintu batu geser.

Sebuah tombol rahasia yang tak akan mudah di temukan oleh orang luar bahkan anggota sekte biasa sekalipun.

Grrggh! Grrggh! Blaaghk!

Pintu batu geser pun terbuka dengan suara bergemuruh keras, Ki Somanatha segera masuk ke dalam ruang rahasia dan berjalan cepat menyusuri lorong rahasia itu.

Akhirnya Ki Somanatha hanya bisa mencapai ruang lorong terakhir yang masih terbuka. Karena jika ketua atau leluhur terdahulu telah wafat, maka ketua atau tokoh yang masuk berikutnya harus memukul tombol buka tutup pintu geser di depan ruang khusus itu.

Dan jika ruang khusus itu telah tertutup, maka siapa pun tak akan dapat membuka kembali pintu batu itu untuk selamanya!

Ki Somanatha terhenti di ruang khusus yang pintunya masih terbuka itu. Nampak sosok sang ayahandanya Eyang Bilowo Djati, yang masih berada dalam posisi bersila di dalamnya.

"Ayahanda, maafkan ananda telah lancang mengganggu tapa brata Ayahanda," ucap Ki Somanatha, seraya berlutut di depan sosok Eyang Bilowo Djati yang bersila dengan mata terpejam.

"Hmm. Katakan saja Soma, ada berita penting apakah di markas sekte?" ucap Bilowo Djati bertanya, namun sepasang matanya nampak masih terpejam.

"Ayahanda, maafkan kelalaian ananda dalam menjaga pusaka keramat sekte Rajawali Emas. Malam ini sekte Rajawali Emas telah kedatangan seorang pencuri.

Pencuri itu berhasil mengambil Kitab Rajawali Langit dan Pedang pusaka Rajawali Emas dari ruang penyimpanan pusaka, Ayahanda," ucap Ki Somanatha, dengan nada bergetar penuh penyesalan.

"Ahh! Demi Hyang Agung! Inilah rupanya makna wisik Matahari Tenggelam selama 90 tahun di atas langit markas kita.

Ayahanda telah mendapatkan wisik itu sejak beberapa waktu terakhir ini," seru kaget bergetar Eyang Bilowo Djati, saat mendengar kabar mengejutkan dari putra tertuanya itu.

"Ayahanda, apa yang harus Soma lakukan sekarang?" Ki Somanatha pun bertanya dengan wajah bingung dan panik pada ayahandanya.

"Putraku Soma, ruang penyimpanan pusaka sekte kita memiliki beberapa jebakkan rahasia, yang tak mungkin bisa di tembus dengan mudah oleh pencuri tersakti di kolong jagad sekalipun.

Jika sampai terjadi ada pencuri yang bisa masuk dan keluar dengan selamat dari ruang penyimpanan pusaka, maka artinya hanya ada satu kemungkinan!

Ada pengkhianat di antara kita! Di mana adikmu Raganatha?" seru Eyang Bilowo Djati.

"Ahh! Adik Raganatha sudah beberapa hari ini belum pulang ke markas Ayahanda!" seru Ki Somanatha terkejut.

Ya, dia baru terpikirkan soal kemungkinan adanya pengkhianat di antara tokoh sekte Rajawali Emas.

"Anakku Soma, wisik ayahanda kini sudah berubah menjadi suratan tertulis. Kebesaran sekte Rajawali Emas perlahan akan tenggelam, seiring dengan 'hilangnya' dua pusaka sekte kita.

Dan hanya salah satu dari keturunan terpilih kita, yang akan bisa membangkitkan kembali sekte Rajawali Emas menuju masa puncak keemasan tertingginya di kemudian hari!" seru Eyang Bilowo Djati, seraya terhenti berkata sejenak.

"Somanatha. Ayahanda cuma bisa berpesan, 'Walau apapun yang terjadi, jangan pernah membubarkan atau menutup sekte Rajawali Emas kita'!

Walau anggotanya hanya tinggal keluarga kita saja! Ingat itu Somanatha!" Eyang Bilowo Djati berkata dengan penekanan suara yang tajam dan dalam.

"Baik Ayahanda!"

"Sekarang adalah permintaan ayahanda yang terakhir. Kaupukul hancurlah tombol penutup pintu ruang khusus ayahanda, setelah kau berada di luar ruangan khusus ini, Somanatha!" seru Eyang Bilowo Djati tegas tak terbantahkan.

"Ayahanda..!" seru Ki Somanatha dengan suara sedih bergetar, hal yang menyatakan keberatan hatinya.

Karena dengan memukul hancur tombol pintu ruang khusus ayahandanya itu, berarti Eyang Bilowo Djati sudah memutuskan untuk tak berhubungan lagi dengan dunia luar.

Ya, Eyang Bilowo Djati akan terkurung hingga dia menemui ajalnya di dalam ruangan khusus itu!

"Lakukanlah Soma! Dan ingat, jangan sampai 'Mustika Rajawali Emas' yang berada dalam dirimu, jatuh ke tangan orang yang bukan keturunan langsung darimu!

Keluar dan jadilah tegar putraku!" seru tegas bergetar Eyang Bilowo Djati.

"Ayahanda ...." Ki Somanatha bersimpuh dan mencium wajah, tangan, dan lutut sang ayahandanya itu dengan perasaan pedih, sedih, dan berat hati.

Namun perintah sang ayahanda tetaplah perintah yang harus di patuhinya.

"Selamat jalan Ayahanda..!" Ki Somanatha mengucapkan salam terakhirnya.

Ya, Eyang Bilowo Djati adalah ketua ke 27 dari sekte Rajawali Emas. Dengan tertutupnya pintu ruang khusus itu, maka resmilah kini Ki Somanatha menjadi ketua ke 28 dari sekte Rajawali Emas.

Bruaghk! Grrghh! Blammp!

Ki Somanatha memukul hancur tombol pintu batu ruang khusus itu, dan pintu batu tebal lorong bergeser menutup dengan suara menggetarkan.

Ya, pintu ruang khusus ketua ke 27 Eyang Bilowo Djati telah tertutup rapat untuk selamanya!

***

Sementara itu di markas sekte Elang Merah, yang berlokasi tak begitu jauh dengan sekte Rajawali Emas berada.

Taph!

Mendarat ringan sesosok tubuh berpakaian hitam dengan memakai penutup kain hitam pula, melalui sebuah jendela yang di biarkan terbuka. 

"Ahh! Ketua sudah kembali rupanya. Bagaimana dengan keterangan yang kuberikan pada Ketua, sesuaikah?" terdengar seru gembira dari seorang lelaki di dalam ruangan.

"Keterangan yang sangat tepat dan berguna sekali Raganatha!" sahut sosok berpakaian hitam, seraya membuka penutup kepalanya.

"Hehehe! Wah, syukurlah kalau begitu. Karena aku berharap imbalan yang Eyang Prana janjikan di berikan malam ini juga," ucap sosok itu yang ternyata adalah Raganatha!

"Baiklah Raganatha. Terimalah imbalanmu ini!" Eyang Prana Wisesa berseru, seraya kelebatkan cepat pedang merahnya.

Bab 2

Craasshk!

Kelebatan cahaya merah secepat kilat menebas leher Raganatha, yang kala itu hanya bisa terpaku dengan mata terbelalak ngeri.

Blukh! Gludug, gludugh!

Kepala Raganatha seketika terlepas mencelat dari lehernya. Darah muncrat dari batang leher Raganatha, sebelum akhirnya tubuh itu ambruk dengan kepala menggelinding di lantai ruangan.

Ya, Raganatha! Pengkhianat sekte Rajawali Emas, yang ternyata adalah adik kandung dari Ki Somanatha telah tewas dengan cara mengenaskan.

"Hahahaaa! Dengan ini sekte Elang Merah akan menguasai wilayah Larantuka di Tlatah Pallawa ini!

Habislah kau Sekte Rajawali Emas! Mampuslah kau Bilowo Djati!" seru keras Eyang Prana Wisesa seraya tergelak puas.

Ya, bisanya Eyang Prana Wisesa menjebol ruang penyimpanan pusaka sekte Rajawali Emas, tak lain adalah berkat keterangan si pengkhianat Raganatha.

Bahkan Raganatha juga mengatakan pada Prana Wisesa, bahwa sudah setengah tahun lamanya ayahnya Eyang Bilowo Djati berada di ruang khusus laku leluhur sekte Rajawali Emas.

Sehingga dengan mudahnya Prana Wisesa menyelinap masuk dan mencuri dua Pusaka Pamungkas sekte Rajawali Emas!

Tanpa dia merasa takut akan berhadapan dengan Eyang Bilowo Djati, yang selama ini menjadi momok yang menciutkan nyalinya.

Dan masa kejayaan sekte Elang Merah di wilayah Larantuka, yang termasuk dalam Tlatah Pallawa pun dimulai sejak saat itu.

Sementara sang waktu terus bergulir...

***

Hingga tibalah 79 tahun kemudian.

Suatu pagi di desa Trowulan.

Pagi masihlah menyisakan embun di dedaunan. Saat seorang anak lelaki berusia sekitar 10 tahunan nampak sedang berlatih gerak jurus, di sebuah halaman sebuah bangunan tua yang cukup luas.

Dia berlatih ditemani oleh sang kakak wanitanya yang berusia 16 tahun. Dengan rambut di kepang dua, nampak kakak perempuan anak laki tersebut lebih luwes dan terampil dalam memainkan jurus yang sama.

"Jalu! Berlatihlah lebih serius! Lihat Larasati kakakmu!" seru seorang pria paruh baya, yang berdiri mengamati gerak jurus kedua anak itu.

Sepasang mata pria paruh baya itu menatap tajam putra bungsunya itu. Dia merasa kesal dengan sikap ogah-ogahan Jalu dalam berlatih.

"Iya Ayah!" sahut Jalu, dan barulah dia mulai serius memainkan jurus-jurus Rajawalinya.

"Nah begitu Jalu! Bagus!" seru sang ayah senang, melihat gerakkan Jalu yang kini menjadi sangat sempurna.

Ya, ternyata sekte Rajawali Emas masih ada hingga saat itu, walau anggotanya kini hanya tinggal Larasati dan Jalu saja. Keduanya adalah putra putri dari ketua sekte Rajawali Emas ke 30 saat itu, Ki Respati.

Nampak bangunan sekte yang sudah tua dengan papan nama sekte yang telah keropos pula ditelan usia. Semua hal itu seolah menunjukkan betapa minimnya anggaran sekte Rajawali Emas.

Hal yang dikarenakan memang sudah puluhan tahun sekte Rajawali Emas tak mendapatkan anggota baru.

Ya, pasca hilangnya dua pusaka pamungkas sekte, pamor sekte 'Rajawali Emas' terus memudar dan akhirnya seolah terlupakan.

Padahal dahulu kala, sekte Rajawali Emas adalah sekte yang sangat disegani kawan maupun lawan. Anggota atau murid-muridnya pun berdatangan dari hampir seluruh 5 wilayah di Tlatah Pallawa.

Namun kini?!

Semua bekas kejayaan sekte Rajawali Emas bagai lenyap ditelan perputaran waktu.

Tak ada lagi orang ataupun muda mudi yang sudi datang ke markas sekte Rajawali Emas, baik untuk sekedar bertanya-tanya, apalagi untuk bergabung dan menimba ilmu di sekte itu. Sepi!

Hal yang memang tak bisa dipungkiri pasti terjadi.

Karena tingkat kemampuan Ki Respati sebagai ketua sekte Rajawali Emas ke 30 saat itu, berada jauh di bawah kemampuan para ketua sekte lain yang berkembang pesat di wilayah Larantuka.

Hal ini tak lain disebabkan hilangnya pusaka Kitab Rajawali Langit yang berisi 11 jurus sakti Rajawali Surga Neraka. Dan juga pusaka Pedang Rajawali Emas sejak 79 tahun yang lalu.

Hal yang mengakibatkan makin menurunnya penguasaan atas 11 jurus dalam Kitab Rajawali Langit dari para ketua sekte berikutnya.

Sedangkan Ki Respati sendiri hanya mampu menguasai 5 jurus, dari 11 jurus sakti Rajawali Surga Neraka.

Dalam sejarah sekte Rajawali Emas, hanya pada masa ketua sekte ke 18 yang bernama Eyang Sangga Langit, sekte Rajawali Emas mencapai masa keemasan dan puncak kejayaannya.

Karena Eyang Sangga Langit telah berhasil menguasai ke 11 jurus Rajawali Surga Neraka dengan  sempurna.

Sementara sebut saja sekte Elang Merah, sekte Kera Putih, sekte Naga Terbang, sekte Harimau Besi, sekte Awan Hitam dan juga sekte Tapak Emas.

Keenam sekte itu memiliki ketua atau sesepuh yang berkemampuan tinggi. Rata-rata para ketua sekte itu sudah menguasai kitab pusaka sektenya dengan sempurna. Atau paling rendahnya sudah menguasai 3/4 dari kitab pusaka sekte mereka.

Dan dengan banyaknya anggota-anggota baru yang bergabung dan membayar biaya pelatihan serta biaya hidup mereka pada keenam sekte tersebut.

Maka soal anggaran pembangunan dan pemenuhan fasilitas sekte, tentu saja merupakan hal mudah bagi keenam sekte itu.

Hal dan kondisi yang tentunya sangat jauh berbeda bak bumi dan langit, dengan kondisi anggaran di sekte Rajawali Emas!

Bagusnya halaman belakang di markas sekte Rajawali Emas cukup luas, hingga bisa dimanfaatkan oleh Ki Respati dan keluarganya untuk bercocok tanam serta memelihara ternak ayam.

Sehingga bisa dibilang cukuplah, kalau hanya sekedar untuk menyambung hidup mereka sekeluarga saja.

Seusai berlatih dan sarapan, Jalu diperintah sang ayah untuk menjual 5 ekor ayam yang mereka pelihara untuk dijual ke pasar.

Dan uang hasil penjualannya akan langsung digunakan Jalu untuk membeli beras, serta keperluan lainnya di rumah mereka.

Sesampainya Jalu di pasar, dia langsung menuju ke lokasi penadah hewan yang hendak dijual di pasar itu.

Dan mau tak mau Jalu harus melalui sebuah warung makan, yang letaknya tak jauh dari lokasi para penadah ayam di pasar itu.

Sebuah warung makan yang sebenarnya enggan dilalui oleh Jalu, jika dia tidak dalam keadaan terpaksa.

"Wah! Teman-teman lihatlah! Anak dari sekte Rajawali Sungsang mau jualan ayam! Hahahaaa!" seru seorang anak usia belasan terbahak mengejek, seraya menunjuk ke arah Jalu yang hendak lewat di depan warung makan.

"Apa?! Rajawali Sungsang?! Hahaha!" terdengar seruan bernada mengejek dan terbahak dari tiga anak lain seusianya di warung makan itu.

"Hush! Arya! Jangan begitulah, mungkin dia kini sudah merubah nama sektenya menjadi sekte Ayam Panggang! Hahahaaa!" timpal seorang lagi di antara mereka.

Dan kembali tawa bergelak dari keempat anak lelaki di warung makan itu terdengar bersahutan.

Pandangan wajah mereka semuanya tertuju pada Jalu, dengan pandangan sinis dan menghina.

Jalu hanya diam saja, saat nama sektenya dijadikan bahan olok-olok kumpulan anak-anak itu.

Karena memang dirinya sudah terbiasa menerima makian dan hinaan dari anggota sekte lain, yang mengenalnya sebagai putra dari ketua sekte Rajawali Emas.

Dan Jalu juga tahu, siapa anak-anak usia belasan yang tak jauh dari dirinya yang berusia 10 tahun itu.

Ya, mereka adalah para anggota muda dari sekte-sekte yang memang letaknya berdekatan, atau hanya berlainan desa saja dengan sekte Rajawali Emas. 

Kebetulan pasar di desa Trowulan merupakan pasar teramai, di antara pasar ketiga desa lain di sekitarnya.

Maka pasar Trowulan otomatis dijadikan pasar tempat tongkrongan favorit bagi para anggota sekte baik tua maupun muda di wilayah Larantuka.

Namun tentu saja pasar di pusat kota Larantukalah yang terbesar dan teramai di antara semuanya, tapi memang letaknya cukup jauh bagi Jalu untuk ke sana.

Dengan menahan kekesalan hati dan menulikan kupingnya, Jalu terus berjalan melewati kumpulan remaja tanggung yang memuakkan itu.

Dikempitnya kelima ekor ayam yang dibawanya, tiga ekor di ketiak kanan sementara dua ekor di ketiak kirinya. Namun tiba-tiba saja,  

Stakh! Kekh! ... Kekh! Tiga ekor ayam terkulai mati.

Stakh! Stakh! ... Kekkh! Kekhh! Dua ekor ayam lagi menyusul mati.

"Hahh! ...

Bab 3

"Hahh! Ka-kalian brengsek!" seru marah dan terkejut Jalu bukan main, dia langsung memaki dan mendekati kawanan remaja itu.

Dilihatnya dengan marah dan sedih bangkai kelima ekor ayamnya yang telah mati, dengan leher remuk dihantam lesatan 5 buah batu kerikil.

Jalu bergegas menghampiri keempat remaja yang nampak masih tergelak mengejeknya, kendati mereka melihat kemarahan di wajah Jalu.

"Hahahaa! Kau mau apa ke sini?! Apa mau kami buat lehermu seperti kelima ayammu itu, hahh?!" seru tergelak seorang remaja diantara kawanan itu, seraya mengintimidasi Jalu.

Plakkh!

Secepat kilat Jalu menampar keras anak yang berkata mengancamnya itu.

"Akhssh!" remaja yang bernama Arya itu tertampar telak seraya mengaduh kesakitan. Karena dia merasa terlalu yakin, jika Jalu tak mungkin bernyali menamparnya.

"Sialan! Kau berani menamparku anak gembel! Hiahh!" seru marah Arya memaki, tendangan putarnya langsung melesat cepat ke arah kepala Jalu.

Daghhk! Gludug, gludukh!

Jalu yang memang telah siaga berhasil menangkis tendangan Arya itu. Namun karena dirinya kalah tenaga dalam, ia pun terdorong deras ke belakang.

Jalu sengaja gulingkan tubuhnya, untuk meredam daya hempas tendangan Arya. Lalu..

Seth! Taph!

Jalu meloncat bersalto dan kembali tegak menjejak tanah dalam posisi bersiaga.

"Aku tak cari permusuhan dengan kalian! Tapi mengapa kalian selalu menggangguku?! Kalian harus mengganti rugi kematian lima ekor ayamku!" seru Jalu lantang.

Tak nampak rasa ketakutan sama sekali dalam nada suara dan wajah Jalu.

Padahal dia menyadari, baik kemampuan jurus maupun tenaga dalam dia masih berada di bawah mereka semua.

"Diam kau sekte gembel! Kau tak pantas berada di dekat kami! Kami dari sekte ternama 'Kera Putih' dan 'Harimau Besi' tak ingin dekat-dekat dengan anak dari sekte sampah sepertimu!

Cepat kau pergi jauh-jauh dan menggelinding dari sini!" teriak seorang teman dari Arya.

"Tidak Dipa! Aku belum puas jika belum menghajar anak tak tahu diri ini!" seru Arya pada putra ketua sekte Kera Putih itu, seraya bersiap dengan jurus Harimau Besinya.

Tangan Arya nampak telah membentuk cakar seekor Harimau. Tak heran, karena Arya memang putra dari ketua sekte Harimau Besi, Ki Braja Denta.

"Aku tak akan pergi dari sini! Sebelum kalian mengganti harga kelima ekor ayamku!" seru Jalu tegas, matanya menatap marah pada Jalu.

Ya, Jalu teringat pada beras yang harus dibelinya untuk makan keluarganya nanti, hal yang membuatnya menjadi nekat.

"Anak cari mati! Hiahh!" Weshh! Arya berseru keras, seraya kembali ayunkan cakarnya kearah dada, yang juga dibarengi dengan tendangan keras ke arah pinggang Jalu.

Daghk! Paghh!

Jalu berhasil menangkis ayunan cakar Arya, namun pinggangnya tersepak telak oleh sisi telapak kaki Arya.

Wesh! Gusraghk!

'Akhs!" Jalu berseru pendek, tubuhnya terhempas ke samping dan ambruk ke tanah. Dia segera menggulingkan tubuhnya bermaksud menjauh.

Namun sialnya, Jalu malah berguling mendekat ke arah tiga rekan Arya.

Blaaghk..!

Spontan salah seorang diantara ketiga teman Arya langsung ayunkan sebuah tendangan, yang mengenai telak punggung Jalu.

"Heghs!" erang sesak Jalu, seketika tubuhnya terhentak keras. Rasa sakit dan sesak di pinggang dan punggungnya membuat Jalu cukup kesulitan untuk berdiri kembali.

Bagh! Bukh! ... Plakh!

Dan tanpa aba-aba lagi, keempat remaja itu langsung saja memberikan hajaran berupa tendangan, injakkan, dan pukulan, yang mendera di sekujur tubuh Jalu.

Sementara Jalu hanya bisa melindungi wajah dengan dua tangannya, dan menekuk kakinya untuk melindungi area vitalnya.

Hal yang mengagumkan saat kejadian itu adalah, sama sekali tak terdengar teriakkan mengaduh ataupun keluhan dari mulut Jalu.

Jalu nampak hanya menggigit bibirnya menahan rasa sesak dan sakit, akibat hajaran membabi buta keempat remaja liar itu.

Orang-orang di pasar hanya bisa diam dan terkesima melihat kejadian itu, karena mereka mengenali siapa keempat remaja jahat yang menghajar dan mengeroyok Jalu.

Ya, mereka semua merasa iba pada Jalu, namun mereka juga merasa takut dan ngeri dengan tokoh-tokoh di belakang ke empat remaja sok jagoan itu.

"Hei hentikan!" Seth!

Terdengar seruan seorang anak perempuan, yang langsung melesat masuk dalam arena perkelahian itu.

Bakhh! Paghk! Plaghk!

Tendangan dan pukulan berantai anak perempuan itu telak mengenai punggung, wajah, serta dada para remaja pengeroyok Jalu.

"Akhs! Uhgs! Hakssh!" seruan-seruan mengaduh kesakitan terdengar dari empat remaja brandalan itu.

"Adik Kirana! Apa yang kau lakukan?!" seru Arya terkejut, dia rupanya mengenali anak perempuan berusia 9 tahunan tersebut.

Namun anehnya ketiga rekannya langsung terdiam, saat mendengar nama Kirana disebut oleh Arya.

Ya, mereka semua mengenal siapa Kirana! Karena Kirana adalah putri dari ketua sekte 'Elang Merah', sekte paling ternama dan berpengaruh di wilayah Larantuka.

"Arya! Cepat bawa teman-temanmu menjauh dari sini!" seru marah Kirana, seraya menatap tajam ke arah Arya.

Sungguh anak perempuan yang gagah berani!

Namun nampak jelas tanda-tanda, jika nantinya Kirana akan menjadi seorang gadis yang cantik jelita. Hidungnya yang mancung, dan matanya yang bening di bawah naungan bulu mata lentik.

Serta ada sebuah tanda yang menjadikan Kirana cukup mudah diingat dan dikenali orang, yaitu sebuah titik tahi lalat yang berada tepat di tengah pertemuan kedua alis matanya.

Tanpa menjawab, keempat remaja sombong yang sok jago itu segera meninggalkan tempat itu.

Meninggalkan begitu saja sosok Jalu yang masih meringkuk di atas tanah dengan tubuh lebam di sana sini, akibat hajaran dari Arya dan ketiga temannya.

Kirana segera menghampiri sosok Jalu dan membantunya duduk, dilihatnya kondisi Jalu yang cukup mengenaskan. Anak laki yang sepantaran dengannya itu nampak mengalirkan darah di sudut bibirnya.

Kirana segera mengeluarkan sebuah guci kecil, dari balik selendang yang dijadikan ikat pinggangnya.

"Kau minum saja pil ini ya," ucap Kirana tersenyum, seraya menyerahkan sebuah pil untuk luka dalam Jalu. Sebuah pil ramuan khusus dari sekte Elang Merah.

Jalu hanya bisa menganggukkan kepalanya, sungguh dia memang merasa badannya bagai habis diinjak-injak gajah.

Dadanya terasa sangat sesak, perutnya mual, dan kepalanya seperti berdengung dan berputar-putar.

Rupanya beberapa tendangan Arya cs tadi juga beberapa kali menghajar telinganya. Sungguh keji!

"Pak boleh minta air putihnya," ucap Kirana pada pemilik warung makan, yang sejak tadi hanya bisa menonton keramaian dan kerusuhan yang terjadi di depan warungnya.

"Ohh! Baik Den Ayu!" seru sang pemilik warung makan dengan wajah ramah. Dia pun segera mengambilkan segelas air putih untuk Kirana.

Jalu segera meminum pil yang diberikan Kirana. Dan seketika itu juga dia merasakan rasa sesak serta denyut pusing di kepalanya perlahan mereda.

Hanya saja perutnya terasa mual tak tertahankan. Jalu pun berjalan cepat agak terhuyung ke arah pohon waru di samping warung, lalu..

"Hoekssh! Hoekssh!" Jalu memuntahkan isi perutnya di bawah pohon waru itu. Nampak warna merah darah juga mewarnai muntahan isi perutnya.

Tetapi ajaibnya, setelah memuntahkan isi perutnya, Jalu pun merasakan perutnya kembali terasa lega, dan rasa mual itu seketika menghilang.

'Sungguh pil yang mujarab!' bathin Jalu.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED