Dalam pikiran si gadis bertanya-tanya. Namun, dia sudah menduga sesuatu. Mendadak saja sikapnya tampak ketakutan. Sementara Anjasmara sudah paham dengan apa yang lihatnya.
"Benar, kan? Gadis itu dijual dan kemungkinan akan dijadikan wanita penghibur," batin Anjasmara.
Dia harus bertindak menyelamatkan gadis itu dan gadis-gadis sebelumnya yang dijadikan tumbal. Lalu dia segera turun dan mendarat di halaman rumah itu.
Kemudian Anjasmara masuk ke rumah itu lewat pintu depan. Kehadirannya yang tiba-tiba, sangat mengejutkan seisi rumah. Bagaimana tidak, tak ada satu pun yang mengenal si pemuda.
"Siapa kau?" Dewi Gedeng Permoni langsung berdiri dengan mimik permusuhan bahkan sudah siap melancarkan serangan.
"Aku Dewa Gedeng Permoni yang akan menyelamatkan dia dan mengirim kalian ke neraka!" Anjasmara asal menyebut nama dengan maksud menakuti sambil menunjuk si gadis.
"Lancang!" maki Dewi Gedeng Permoni menatap tajam seraya berkelebat ke depan sambil melepaskan satu pukulan tapak.
Tenaga dalamnya cukup besar. Serangannya ini membawa segelombang angin cukup kuat.
Anjasmara diam menanti datangnya serangan. Tatapannya menembus bola mata wanita berpakaian mewah itu.
Seketika jantung Dewi Gedeng Permoni berdesir mendapat tatapan setajam itu. Apalagi memandang postur si pemuda yang ternyata menggoda jiwa. Sesuatu dalam lubuk hatinya tiba-tiba meronta kuat.
Sudah terkesima tambah terkejut lagi karena tiba-tiba musuhnya menghilang tak berbekas, Anjasmara menggunakan Ilmu yang bernama Raga Angin.
Dewi Gedeng Permoni mendapati tempat kosong. Bahkan dia tak bisa menahan laju tubuhnya hingga terdorong ke depan.
Dirinya hampir menubruk sebuah pohon kalau tidak segera mengimbangi diri. Dewi Kalahenget memutar badan, mencari-cari Anjasmara, tapi tidak menemukan juga.
"Siapa orang itu, kenapa tiba-tiba saja ada di sini?"
Sementara itu tiga lelaki berpakaian bangsawan hendak menangkap gadis bernama Wuni. Namun, mereka langsung terpental menghantam dinding sebelum bisa menyentuh si gadis.
Mereka hanya orang biasa yang tidak memiliki kepandaian silat. Tendangan yang dilepaskan Anjasmara membuat perut mereka terasa sangat mual. Jeroan mereka seperti hancur.
Ketiganya jatuh bergulingan di lantai susah bergerak karena kesakitan dan napas sesak. Bahkan untuk menjerit pun tidak bisa.
"Kalian jangan kabur!" seru Anjasmara yang tiba-tiba muncul entah dari mana.
Kemudian dia berbalik mengejar Dewi Gedeng Permoni yang kini berada di luar rumah. Wanita itu tampak kebingungan.
Seandainya Anjasmara manusia biasa yang dapat disentuh mungkin dia masih bisa melawan, tapi melihat sosok pemuda yang tidak bisa disentuh itu membuat pikirannya benar-benar menyangka dia sedang berhadapan dengan dewa.
"Sudah saatnya aku menghentikanmu!"
Dewi Gedeng Permoni kaget mendapati Anjasmara hendak menyerangnya. Dia segera siapkan ilmu andalannya.
Wanita ini masih penasaran dengan Anjasmara. Benarkah dia dewa yang turun ke bumi.
Pertarungan pun terjadi, tetapi hanya beberapa jurus saja. Karena Anjasmara langsung menguasai.
Ternyata Dewi Gedeng Permoni bukanlah lawan yang berat baginya. Tidak seperti namanya yang mirip tokoh sakti dalam pewayangan.
Sementara Dewi Gedeng Permoni, mendapati lawan yang lebih tangguh segara saja dia bergerak mundur lalu berbalik cepat.
Dia sudah merasakan hawa sakti si pemuda sangat kuat dan menyimpulkan dia tidak akan bisa melawan Anjasmara.
Anjasmara tahu wanita ini hendak kabur. Sebelum itu terjadi, si pemuda segera berkelebat menghadang.
Dua tangannya yang seperti sedang mendorong secara tidak sengaja menyentuh sepasang gundukan gunung kembar milik Dewi Gedeng Permoni yang tak bisa menghentikan laju gerak tubuhnya.
"Eh!"
Anjasmara terkesiap, tapi sudah terlanjur. Wajah Dewi Gedeng Permoni memerah. Tubuhnya bergetar.
Wanita itu seperti menjadi orang linglung. Pesona Anjasmara membuat pikirannya melayang.
Sentuhan tangan yang tidak sengaja itu membuatnya merasakan sesuatu yang sudah lama tak dia dapatkan.
Akhirnya Anjasmara segera melepaskan telapak tangannya yang menempel ke gundukan indah milik wanita itu.
Dewi Gedeng Permoni terhuyung kehilangan tenaga lalu roboh dengan ekspresi yang aneh. Dia seperti kehilangan kekuatannya. Tubuhnya lemah. Apa yang terjadi padanya? Pikiranya antara sadar dan tidak.
Padahal Anjasmara tidak menggunakan ilmu apa pun saat menyentuh gunung kembar itu. Sifat angkuh yang ditunjukkan Dewi Gedeng Permoni sebelumnya seketika lenyap berganti menjadi wanita yang merasakan hidup hampa.
Anjasmara menghampiri Wuni yang masih tampak ketakutan. Dia menyuruh gadis itu pulang dan membawa warga desa ke bukit ini untuk menangkap orang-orang yang telah menipu warga selama setahun ini.
"Dewi Gedeng Permoni bukan siluman atau manusia setengah siluman. Dia manusia biasa. Gadis-gadis yang telah dijadikan persembahan aslinya dijual dijadikan wanita penghibur,"
Begitulah Anjasmara meyakinkan Wuni agar berani mengungkapkan kebenarannya. Tiga lelaki yang sedianya akan membawa Wuni itu diikat jadi satu di sebuah pohon.
Kemudian Anjasmara menggendong Dewi Gedeng Permoni yang terbaring lemah ke dalam rumah. Wanita itu dibaringkan di lantai kayu yang sudah mengkilap.
Dewi Gedeng Permoni yang masih setengah sadar merasakan tatapan lembut pemuda gagah itu.
Bahkan senyum Anjasmara menyeruak mengobrak-abrik sanubari sang Dewi. Seketika kesadarannya pulih.
Debaran jantung wanita dewasa yang bertubuh molek ini bagaikan menghentak hendak menembus keluar tatkala wajah Anjasmara begitu dekat dan merasakan hembusan napasnya.
Dewi Gedeng Permoni sudah lupa segalanya. Saat ini dia menginginkan sentuhan yang sudah lama tak ia nikmati. Sampai-sampai lirih suaranya mendesah pelan.
Bagaimana tidak, karena saat itu tangan Anjasmara sudah menyusup ke balik kemben yang kini longgar dan meraba sesuatu yang kenyal di dalamnya.
Si pemuda terkesiap sekejap mendapati buah bulat yang begitu kencang dan tegang, tapi selanjutnya dia malah menikmati bahkan meremas agak lebih keras membuat wanita bertubuh sintal ini merintih keenakan.
Rupanya Anjasmara tidak tahan melihat tubuh indah Dewi Gedeng Permoni sejak tidak sengaja menyentuh buah montoknya.
Sintal, sepasang gunung yang besar. Lebih besar dari wanita yang pernah dia temui sebelumnya.
Padahal usia Dewi Gedeng Permoni jauh lebih tua, tapi lekuk tubuhnya masih menggoda. Kulit mulus dan kencang.
Wanita itu menggelinjang kegelian. Bahkan kedua tangannya bergerak menarik punggung Anjasmara sehingga pemuda ini menindih tubuhnya.
Kembennya telah terlepas begitu saja sehingga bagian atas tubuhnya terpampang bebas tanpa penghalang.
Anjasmara mengatur perasaannya. Kulit tubuh Dewi Gedeng Permoni memberikan sensasi nikmat yang beda. Apalagi dua bulatan yang mengganjal di dada.
"Aku akan mengabulkan keinginanmu," bisik Anjasmara di telinga Dewi Gedeng Permoni sambil memeluk erat tubuh wanita tersebut sampai agak sesak napasnya. "Asalkan kau memenuhi permintaanku!" Lalu menghembuskan napasnya ke leher wanita itu.
"Apapun permintaanmu... Ahhh!... Aku akan berikan... Owh!"
Dewi Gedeng Permoni merasakan sensasi yang tak tergambarkan ketika menerima hembusan napas dan sentuhan yang membuat urat-uratnya menegang.
Secara refleks tangannya menarik pakaian yang melekat di bagian bawahnya sehingga terlepas dan tubuhnya polos tanpa sehelai benang.
"Kemana gadis-gadis itu dijual?" Bisik Anjasmara lagi sambil meremas kembali gundukan yang masih kencang itu. Membuat wanita ini semakin merasa terbang.
Sementara di bagian bawah Anjasmara merasakan tangan Dewi Gedeng Permoni bergerak-gerak melepas celananya. Wanita ini benar-benar haus cumbuan.
Sambil menyelam minum air. Sambil menikmati tubuh Dewi Gedeng Permoni, Anjasmara mendapatkan pula informasi ke mana gadis-gadis persembahan itu dijual.
Dewi Gedeng Permoni memberitahukan apa yang diminta Anjasmara sambil tangannya meraba ke bagian bawah lelaki gagah itu.
"Aku sudah memberitahukan semuanya. Sekarang ayolah, berikan aku kepuasan yang sudah lama tidak pernah aku rasakan. Begitu melihatmu, gairah asmaraku melonjak seketika sangat kuat, oooh …!"
Dewi Gedeng Permoni seolah lupa akan dirinya yang berpura-pura menjadi siluman yang meminta tumbal setiap purnama kepada warga desa.
Dia memang lupa begitu melihat kegagahan tubuh Anjasmara. Apalagi ketika secara tidak sengaja bola kembarnya tersentuh. Dia langsung menjadi wanita yang merindukan kehangatan.
Secara refleks kedua kaki Dewi Gedeng Permoni merenggang. Kemudian Anjasmara memberikan apa yang didambakan Dewi Gedeng Permoni.
Selanjutnya mereka terlarut dalam keindahan. Untungnya mereka mencapai puncak sebelum orang-orang desa yang dibawa Wuni datang.
Setelah keduanya berpakaian rapi lagi, tiba-tiba Anjasmara mengikat kedua tangan Dewi Gedeng Permoni.
"Kenapa?" Wanita ini kaget. Lalu dia mendengar suara ramai di luar rumah.
"Kau masih harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu kepada warga desa!"
Kemudian Anjasmara membawa Dewi Gedeng Permoni ke luar dan menyerahkannya ke warga desa yang dipimpin langsung oleh Ki Kuwu.
Anjasmara memberitahukan kepada warga ke mana gadis-gadis lain dijual. Semua warga berterima kasih kepada si pemuda, sosok tak dikenal yang tiba-tiba saja muncul menyelamatkan gadis persembahan.
"Bukankah kau yang tadi makan di kedai?"
Ternyata salah seorang mengenali Anjasmara. Rupanya orang ini pernah melihat si pemuda di kedai sebelumnya.
Anjasmara jadi agak canggung. Akhirnya dia menjelaskan bahwa dia tidak percaya tentang Dewi Gedeng Permoni. Maka dia bergerak menyelidiki sendiri dan inilah hasilnya.
Atas kebaikannya ini, Anjasmara diperkenankan untuk singgah ke rumah Ki Kuwu.
***
Di saat sedang melangkah menyusuri sebuah jalan lebar yang sepertinya akan memasuki sebuah perkampungan lagi setelah melewati daerah perkebunan, Anjasmara mendengar sesuatu yang mengetuk hatinya.
Terdengar suara bentakan pertarungan disertai teriakan-teriakan khas suara wanita. Anjasmara segera mencari asal suara itu.
Ternyata pertarungan itu berada di ujung bawah jalan yang menurun. Jalan yang tengah ia tempuh beberapa tombak kedepan terdapat turunan.
Di bawah itu terlihat lima lelaki berbadan tegap yang pakaiannya seragam warna kuning tengah mengeroyok seorang gadis.
Tidak tanggung lima lelaki ini menyerang menggunakan senjata masing-masing berupa parang. Sedangkan si gadis menggunakan pedang.
“Hai, pengecut!” teriak Anjasmara, “Masa lima lelaki mengeroyok satu perempuan!”
Lima pengeroyok hentikan serangan menoleh ke Anjasmara. Sesaat mereka heran melihat sosok pemuda gondrong kemudian saling pandang dan terbahak-bahak bersama.
"Ada kunyuk mau jadi pahlawan!" ujar salah satunya.
"Gayanya sok gagah!" sambut yang lain.
"Budak 'berag' yang nafsu lihat perempuan cantik, mau membelanya biar disebut jagoan!" timpal yang lain yang diakhiri tawa meledek.
Belum berakhir ketawa mereka tahu-tahu sosok Anjasmara sudah berada di tengah arena pertarungan.
Lebih parah lagi kelima orang ini langsung merasakan hantaman dari pukulan dan tendangan yang mengenai perut hingga mereka terjajar beberapa langkah ke belakang.
Suara tawa mereka lenyap berganti keluhan menahan enek.
"Setan!"
"Keparat!"
Akan tetapi Anjasmara tak memberi kesempatan dia langsung menyerang lagi. Bertumpu pada kaki kiri, kaki kanan menendang dengan gerakan cepat ke arah tiga lawan.
Sementara dengan memiringkan badan, dua tangan menghantam ke dua orang lainnya.
Namun kali ini serangan Anjasmara tak menemukan sasaran karena lima lawannya sudah bergerak cepat menghindar, tetapi tak menyurutkan serangan.
Anjasmara terus menyerang dengan jurus-jurus yang didapat dari kakeknya yang merupakan bekas seorang Rajaresi di kerajaan Kendan yang sudah berganti nama menjadi Galuh.
Tentu saja lima orang ini heran dan kesal. Lawannya cuma satu orang tapi seperti memiliki seratus tangan dan kaki walaupun tanpa senjata, arahnya tepat ke sasaran yang mematikan.
Sehingga senjata mereka tak bermanfaat di genggaman. Kesal tapi tidak ingin malu juga, masa mengeroyok satu orang saja yang tampaknya masih muda itu kewalahan.
Maka mereka terus mencoba melawan. Akal mereka sudah tertutup oleh gengsi. Namun, apa yang terjadi?
Dukk!
"Uh..!"
Salah satu lawan terjengkang hingga jatuh terkena tendangan kaki yang telak. Empat lainnya tentu saja meradang. Empat parang berputar bersahutan menyerbu Anjasmara.
Dua tangan Anjasmara menghadang sabetan dua parang dengan menghantam tepat di pergelangan sehingga dua senjata itu terlepas dari genggaman.
Bersamaan dengan itu, kaki kanan menjulur menghadang dua serangan yang lain.
Satu kibasan kakinya berhasil mengenai pergelangan tangan lagi. Hasilnya sama, dua parang mental lagi.
Selanjutnya dalam waktu sekejap saja dua tangannya menekuk maju sehingga dua sikunya menjotos wajah dua lawannya.
"Auh..!"
Dua orang ini terjengkang. Bersamaan juga saat itu kakinya yang tadi menyepak kiri kanan di atas tepat mengenai leher lawan sehingga mereka terpental dan jatuh bergulingan.
Hanya dengan dua gerakan cepat tadi empat lawan dibuat terjatuh. Lima orang itu terkapar semua di tanah. Anjasmara tidak membutuhkan tenaga besar untuk menjatuhkan mereka.
Kelima orang berseragam kuning ini perlahan bangkit lalu pergi meninggalkan tempat itu. Anjasmara tidak mengejar mereka, dia butuh keterangan tentang mereka dari gadis yang dikeroyok tadi.
"Tunggu pembalasan kami, bocah!" seru salah satunya.
"Siapa mereka?" tanya Anjasmara setelah kelima orang itu lenyap.
"Mereka anak buahnya Raksana," jawab si gadis berkulit aga gelap, tapi manis.
"Raksana?"
Kemudian si gadis menceritakan keadaan desanya yang dilanda kekacauan atas ulah seorang warga berilmu tinggi yang menggunakannya untuk menindas warga yang lain.
"Bahkan Raksana dan Gumara, anaknya, telah membunuh Ki Kuwu. Desa Peundeuy dikuasai mereka dan anak buahnya, berbuat sewenang-wenang. Memungut upeti panen seenaknya kepada warga,"
"Tidak ada yang memberitahukan ke kerajaan?"
"Setiap ada yang mau ke kerajaan selalu ketahuan, ditangkap, disiksa bahkan dibunuh!"
"Wah, kejam sekali mereka!"
"Lebih biadab lagi, Gumara selalu melecehkan gadis-gadis desa. Jika ada yang disukainya, akan ditangkap dan dijadikan budak nafsunya."
Naluri Anjasmara yang baik ingin berbuat sesuatu untuk menolong desa ini dari kesewenang-wenangan.
Siapa tahu dia menemukan seseorang yang sesuai dengan kriteria dari ibunya.
"Oh, ya, aku Anjasmara. Siapa namamu?" tanya si pemuda.
"Mayang Telasih!" jawab si gadis lembut. Dari tatapannya dia seperti sedang mencoba menembus raut wajah Anjasmara.
"Maaf, aku ingin membantu membebaskan warga dari ketakutan. Kalau boleh itu juga!" Anjasmara menawarkan jasa sambil membalas tatapan Mayang Telasih.