Di suatu siang, Anjasmara tampak berada di sebuah kedai untuk mengisi perut. Pemuda berusia dua puluh tahun ini berbaur dengan pengunjung lain.
Ketika sedang menikmati santapannya, tiba-tiba terdengar gumaman pengunjung kedai lain. Bisik-bisik dengan nada penuh ketakutan. Sepertinya mereka tidak berani bersuara keras.
Si pemuda segera mencari tahu apa yang terjadi. Anjasmara memutar bola mata ke sana kemari tanpa memalingkan kepala.
Tak lama kemudian di jalan depan kedai tampak lewat satu rombongan orang. Rupanya ini yang dibicarakan orang-orang.
Anjasmara melihat seorang gadis yang diikat seluruh badannya, diusung di atas tandu yang dipikul oleh empat lelaki berbadan kekar.
Di belakangnya ada belasan orang berjalan mengikuti. Setelah lewat jauh, Anjasmara baru menanyakan hal tadi kepada pemilik kedai.
Si pemilik kedai tampak ragu untuk menjawab. Seolah takut terdengar oleh rombongan yang lewat tadi. Sampai-sampai keringat kecil menetes di dahinya.
"Tenang saja, Pak. Mereka sudah jauh, katakan saja!" bujuk Anjasmara.
"Itu gadis persembahan untuk Dewi Gedeng Permoni!" Suara si pemilik kedai sedikit berbisik, tapi masih terdengar jelas ke telinga Anjasmara.
"Persembahan?" Anjasmara kerutkan dahi. Mencari jawaban lain.
Kemudian Si pemilik kedai agak mengeraskan suara dari sebelumnya. Merasa keterangan ini harus disampaikan kepada tamunya.
"Desa ini dikuasai oleh wanita setengah siluman Dewi Gedeng Permoni yang setiap purnama meminta gadis persembahan. Karena kalau tidak menuruti permintaannya, maka desa ini akan selalu dilanda bencana,"
"Tidak masuk akal!" gumam Anjasmara. "Terus sudah berapa gadis yang dikorbankan?" tanyanya kemudian.
"Ini yang ke dua belas!"
"Waduh!" umpat Anjasmara.
Lagi-lagi kening Anjasmara semakin mengkerut. Dia harus tahu lebih banyak tentang hal ini, dia harus ikut campur masalah ini. Desa ini harus dibebaskan dari penipuan yang dilakukan Dewi Gedeng Permoni.
"Ini pasti cuma akal-akalan. Ada apa dibalik semua ini?" gumam Anjasmara.
Setelah beres makan dan membayar, Anjasmara segera keluar dari kedai. Dia diam-diam mengikuti rombongan yang membawa gadis persembahan.
Tidak susah untuk mengejar rombongan itu karena menggunakan ilmu meringankan tubuh yang dia miliki. Apalagi rombongan tersebut berjalan biasa saja.
Rombongan pembawa Gadis Persembahan itu kini sedang menaiki sebuah bukit kecil yang pepohonannya begitu rapat bagaikan di hutan.
Suasana di sana juga tampak mencekam seolah-olah di balik semak yang tersembunyi sudah ada makhluk mengerikan yang siap memangsa. Namun, Anjasmara tidak merasa gentar sedikit pun.
Anjasmara terus menguntit tanpa mengeluarkan suara. Dia ingin tahu seperti apa tempat yang akan menjadikan gadis di atas tandu itu sebagai persembahan.
Rombongan pembawa Gadis Persembahan sampai di puncak bukit yang tanahnya datar dan cukup luas seperti lapangan yang sisi-sisinya dipagari pepohonan.
Sementara Anjasmara sudah menemukan tempat untuk bersembunyi dengan aman. Keberadaannya tidak akan terendus oleh orang-orang itu.
Di tengah-tengah lapangan itu ada sebuah lubang besar seperti sumur yang dikelilingi batu-batu ukuran sedang yang disusun melingkar. Lubang ini dijaga empat lelaki bertubuh kekar.
Gadis yang diusung tandu diletakan di dekat lubang sumur. Lalu entah dari mana asalnya tiba-tiba berkelebat satu sosok dan mendarat tepat di depan Gadis Persembahan. Seorang wanita berpakaian seperti putri bangsawan.
Wanita berumur sekitar tiga puluh tahun. Wajahnya dewasa, tapi cukup menarik karena terbantu bentuk tubuh sintal padat menggoda kaum lelaki.
Di kepalanya terpasang sebuah mahkota kecil. Sorot matanya tajam. Pakaiannya begitu ketat sehingga memperlihatkan lekuk tubuhnya yang indah. Dada Anjasmara berdesir melihat tubuh wanita ini.
"Sembah untuk Dewi Gedeng Permoni!"
Belasan lelaki yang membawa Gadis Persembahan membungkuk dalam termasuk empat penjaga sumur.
"Berdiri!"
Semuanya kompak berdiri lagi. Dewi Gedeng Permoni memandang semua pengikutnya. Tatapannya tajam dan tegas. Aura kepemimpinan memancar kuat dari wajahnya yang tegas.
"Terima kasih atas Gadis Persembahan untuk purnama kali ini. Seperti biasa antarkan sedikit imbalan ini kepada orang tuanya!"
Salah satu penjaga sumur mengeluarkan buntalan kain yang berisi perhiasan emas. Salah seorang pengantar menerimanya.
"Lemparkan persembahan!" perintah Dewi Gedeng Permoni.
Dua orang penjaga melepaskan gadis persembahan yang diikat di tandu. Kemudian diangkat dan dilemparkan ke dalam sumur. Tidak terdengar suara apapun saat si gadis melayang masuk ke lubang sumur.
Setelah upacara persembahan yang hanya melemparkan tumbal ke dalam sumur, Dewi Gedeng Permoni berkelebat lenyap lagi. Para pengantar langsung menuruni bukit.
Pada saat Gadis Persembahan dilemparkan, Anjasmara sudah melesat ke dalam sumur. Ingin tahu apa yang ada di dalamnya.
Gerakan si pemuda tidak terlihat oleh mata kasar orang-orang yang berada di sana karena saking cepat, ringan dan tidak menimbulkan suara ilmu ringan tubuhnya.
Ilmu meringankan tubuh yang sudah sempurna. Didapat dari gemblengan kakeknya.
Ternyata lubang kecil hanya di atas saja. Setelah menembus satu tombak, ruangan di dalamnya cukup besar seperti ruangan dalam goa.
Tubuh si gadis yang jatuh melayang itu ditangkap oleh seseorang yang sudah siap menunggu di bawah.
Tap!
Begitu tertangkap, si gadis langsung diturunkan lagi. Kemudian orang ini menggiringnya ke sebuah lorong yang lebarnya hanya menampung satu orang saja. Si gadis berjalan di depan.
Sosok Anjasmara yang laksana angin berputar-putar sangat cepat mengikuti dari belakang.
Lorong itu cukup panjang dan gelap. Karena ingin tahu lebih cepat, Anjasmara melesat mendahului.
Setelah diselidiki ternyata lorong ini menuju sebuah rumah agak besar yang berdiri di lereng bukit.
Tersembunyi di antara pohon-pohon yang menjulang tinggi. Tempat ini sepertinya tidak banyak orang tahu, terutama warga sekitar bukit ini.
Segera saja Anjasmara mencari tempat sembunyi lagi di antara pohon-pohon yang rindang itu. Kemudian mengintai rumah tersebut. Pandangan dan pendengarannya ditajamkan.
Di dalam rumah itu, Dewi Gedeng Permoni sudah menunggu bersama tiga orang lelaki yang berpakaian mewah seperti pejabat kerajaan.
Si Gadis Persembahan sudah sampai di sana. Dia disuruh duduk di depan tiga lelaki yang langsung meleletkan lidah melihat paras dan bentuk tubuh yang menggiurkan.
"Bagaimana?" tanya Dewi Gedeng Permoni meminta pendapat mengenai gadis itu.
Si gadis hanya diam pasrah sambil menundukkan wajah. Dia sama sekali tidak tahu akan seperti apa nasibnya setelah ini.
Dia hanya menyangka akan dijadikan tumbal untuk Dewi Gedeng Permoni wanita yang dianggap setengah siluman itu.
Dalam pikiran si gadis dia akan dimakan mentah-mentah oleh wanita yang berdandan seperti dewi itu, mengingat teman-teman yang sebelumnya dijadikan persembahan tidak pernah kembali lagi.
"Siapa namamu?" tanya salah satu lelaki.
"Wuni," jawab si gadis tak berani mengangkat kepala.
"Wuni, kau akan ikut mereka ke suatu tempat. Ketahuilah kau bukan jadi tumbal persembahan, tapi sebenarnya kau akan menerima kehidupan yang lebih menyenangkan daripada sebelumnya. Asalkan kau harus mematuhi perintah mereka!" Dewi Gedeng Permoni menjelaskan.
Dalam pikiran si gadis bertanya-tanya. Namun, dia sudah menduga sesuatu. Mendadak saja sikapnya tampak ketakutan. Sementara Anjasmara sudah paham dengan apa yang lihatnya.
"Benar, kan? Gadis itu dijual dan kemungkinan akan dijadikan wanita penghibur," batin Anjasmara.
Dia harus bertindak menyelamatkan gadis itu dan gadis-gadis sebelumnya yang dijadikan tumbal. Lalu dia segera turun dan mendarat di halaman rumah itu.
Kemudian Anjasmara masuk ke rumah itu lewat pintu depan. Kehadirannya yang tiba-tiba, sangat mengejutkan seisi rumah. Bagaimana tidak, tak ada satu pun yang mengenal si pemuda.
"Siapa kau?" Dewi Gedeng Permoni langsung berdiri dengan mimik permusuhan bahkan sudah siap melancarkan serangan.
"Aku Dewa Gedeng Permoni yang akan menyelamatkan dia dan mengirim kalian ke neraka!" Anjasmara asal menyebut nama dengan maksud menakuti sambil menunjuk si gadis.
"Lancang!" maki Dewi Gedeng Permoni menatap tajam seraya berkelebat ke depan sambil melepaskan satu pukulan tapak.
Tenaga dalamnya cukup besar. Serangannya ini membawa segelombang angin cukup kuat.
Anjasmara diam menanti datangnya serangan. Tatapannya menembus bola mata wanita berpakaian mewah itu.
Seketika jantung Dewi Gedeng Permoni berdesir mendapat tatapan setajam itu. Apalagi memandang postur si pemuda yang ternyata menggoda jiwa. Sesuatu dalam lubuk hatinya tiba-tiba meronta kuat.
Sudah terkesima tambah terkejut lagi karena tiba-tiba musuhnya menghilang tak berbekas, Anjasmara menggunakan Ilmu yang bernama Raga Angin.
Dewi Gedeng Permoni mendapati tempat kosong. Bahkan dia tak bisa menahan laju tubuhnya hingga terdorong ke depan.
Dirinya hampir menubruk sebuah pohon kalau tidak segera mengimbangi diri. Dewi Kalahenget memutar badan, mencari-cari Anjasmara, tapi tidak menemukan juga.
"Siapa orang itu, kenapa tiba-tiba saja ada di sini?"
Sementara itu tiga lelaki berpakaian bangsawan hendak menangkap gadis bernama Wuni. Namun, mereka langsung terpental menghantam dinding sebelum bisa menyentuh si gadis.
Mereka hanya orang biasa yang tidak memiliki kepandaian silat. Tendangan yang dilepaskan Anjasmara membuat perut mereka terasa sangat mual. Jeroan mereka seperti hancur.
Ketiganya jatuh bergulingan di lantai susah bergerak karena kesakitan dan napas sesak. Bahkan untuk menjerit pun tidak bisa.
"Kalian jangan kabur!" seru Anjasmara yang tiba-tiba muncul entah dari mana.
Kemudian dia berbalik mengejar Dewi Gedeng Permoni yang kini berada di luar rumah. Wanita itu tampak kebingungan.
Seandainya Anjasmara manusia biasa yang dapat disentuh mungkin dia masih bisa melawan, tapi melihat sosok pemuda yang tidak bisa disentuh itu membuat pikirannya benar-benar menyangka dia sedang berhadapan dengan dewa.
"Sudah saatnya aku menghentikanmu!"
Dewi Gedeng Permoni kaget mendapati Anjasmara hendak menyerangnya. Dia segera siapkan ilmu andalannya.
Wanita ini masih penasaran dengan Anjasmara. Benarkah dia dewa yang turun ke bumi.
Pertarungan pun terjadi, tetapi hanya beberapa jurus saja. Karena Anjasmara langsung menguasai.
Ternyata Dewi Gedeng Permoni bukanlah lawan yang berat baginya. Tidak seperti namanya yang mirip tokoh sakti dalam pewayangan.
Sementara Dewi Gedeng Permoni, mendapati lawan yang lebih tangguh segara saja dia bergerak mundur lalu berbalik cepat.
Dia sudah merasakan hawa sakti si pemuda sangat kuat dan menyimpulkan dia tidak akan bisa melawan Anjasmara.
Anjasmara tahu wanita ini hendak kabur. Sebelum itu terjadi, si pemuda segera berkelebat menghadang.
Dua tangannya yang seperti sedang mendorong secara tidak sengaja menyentuh sepasang gundukan gunung kembar milik Dewi Gedeng Permoni yang tak bisa menghentikan laju gerak tubuhnya.
"Eh!"
Anjasmara terkesiap, tapi sudah terlanjur. Wajah Dewi Gedeng Permoni memerah. Tubuhnya bergetar.
Wanita itu seperti menjadi orang linglung. Pesona Anjasmara membuat pikirannya melayang.
Sentuhan tangan yang tidak sengaja itu membuatnya merasakan sesuatu yang sudah lama tak dia dapatkan.
Akhirnya Anjasmara segera melepaskan telapak tangannya yang menempel ke gundukan indah milik wanita itu.
Dewi Gedeng Permoni terhuyung kehilangan tenaga lalu roboh dengan ekspresi yang aneh. Dia seperti kehilangan kekuatannya. Tubuhnya lemah. Apa yang terjadi padanya? Pikiranya antara sadar dan tidak.
Padahal Anjasmara tidak menggunakan ilmu apa pun saat menyentuh gunung kembar itu. Sifat angkuh yang ditunjukkan Dewi Gedeng Permoni sebelumnya seketika lenyap berganti menjadi wanita yang merasakan hidup hampa.
Anjasmara menghampiri Wuni yang masih tampak ketakutan. Dia menyuruh gadis itu pulang dan membawa warga desa ke bukit ini untuk menangkap orang-orang yang telah menipu warga selama setahun ini.
"Dewi Gedeng Permoni bukan siluman atau manusia setengah siluman. Dia manusia biasa. Gadis-gadis yang telah dijadikan persembahan aslinya dijual dijadikan wanita penghibur,"
Begitulah Anjasmara meyakinkan Wuni agar berani mengungkapkan kebenarannya. Tiga lelaki yang sedianya akan membawa Wuni itu diikat jadi satu di sebuah pohon.
Kemudian Anjasmara menggendong Dewi Gedeng Permoni yang terbaring lemah ke dalam rumah. Wanita itu dibaringkan di lantai kayu yang sudah mengkilap.
Dewi Gedeng Permoni yang masih setengah sadar merasakan tatapan lembut pemuda gagah itu.
Bahkan senyum Anjasmara menyeruak mengobrak-abrik sanubari sang Dewi. Seketika kesadarannya pulih.
Debaran jantung wanita dewasa yang bertubuh molek ini bagaikan menghentak hendak menembus keluar tatkala wajah Anjasmara begitu dekat dan merasakan hembusan napasnya.
Dewi Gedeng Permoni sudah lupa segalanya. Saat ini dia menginginkan sentuhan yang sudah lama tak ia nikmati. Sampai-sampai lirih suaranya mendesah pelan.
Bagaimana tidak, karena saat itu tangan Anjasmara sudah menyusup ke balik kemben yang kini longgar dan meraba sesuatu yang kenyal di dalamnya.
Si pemuda terkesiap sekejap mendapati buah bulat yang begitu kencang dan tegang, tapi selanjutnya dia malah menikmati bahkan meremas agak lebih keras membuat wanita bertubuh sintal ini merintih keenakan.
Rupanya Anjasmara tidak tahan melihat tubuh indah Dewi Gedeng Permoni sejak tidak sengaja menyentuh buah montoknya.
Sintal, sepasang gunung yang besar. Lebih besar dari wanita yang pernah dia temui sebelumnya.
Padahal usia Dewi Gedeng Permoni jauh lebih tua, tapi lekuk tubuhnya masih menggoda. Kulit mulus dan kencang.
Wanita itu menggelinjang kegelian. Bahkan kedua tangannya bergerak menarik punggung Anjasmara sehingga pemuda ini menindih tubuhnya.
Kembennya telah terlepas begitu saja sehingga bagian atas tubuhnya terpampang bebas tanpa penghalang.
Anjasmara mengatur perasaannya. Kulit tubuh Dewi Gedeng Permoni memberikan sensasi nikmat yang beda. Apalagi dua bulatan yang mengganjal di dada.
"Aku akan mengabulkan keinginanmu," bisik Anjasmara di telinga Dewi Gedeng Permoni sambil memeluk erat tubuh wanita tersebut sampai agak sesak napasnya. "Asalkan kau memenuhi permintaanku!" Lalu menghembuskan napasnya ke leher wanita itu.
"Apapun permintaanmu... Ahhh!... Aku akan berikan... Owh!"
Dewi Gedeng Permoni merasakan sensasi yang tak tergambarkan ketika menerima hembusan napas dan sentuhan yang membuat urat-uratnya menegang.
Secara refleks tangannya menarik pakaian yang melekat di bagian bawahnya sehingga terlepas dan tubuhnya polos tanpa sehelai benang.
"Kemana gadis-gadis itu dijual?" Bisik Anjasmara lagi sambil meremas kembali gundukan yang masih kencang itu. Membuat wanita ini semakin merasa terbang.
Sementara di bagian bawah Anjasmara merasakan tangan Dewi Gedeng Permoni bergerak-gerak melepas celananya. Wanita ini benar-benar haus cumbuan.
Sambil menyelam minum air. Sambil menikmati tubuh Dewi Gedeng Permoni, Anjasmara mendapatkan pula informasi ke mana gadis-gadis persembahan itu dijual.
Dewi Gedeng Permoni memberitahukan apa yang diminta Anjasmara sambil tangannya meraba ke bagian bawah lelaki gagah itu.
"Aku sudah memberitahukan semuanya. Sekarang ayolah, berikan aku kepuasan yang sudah lama tidak pernah aku rasakan. Begitu melihatmu, gairah asmaraku melonjak seketika sangat kuat, oooh …!"
Dewi Gedeng Permoni seolah lupa akan dirinya yang berpura-pura menjadi siluman yang meminta tumbal setiap purnama kepada warga desa.
Dia memang lupa begitu melihat kegagahan tubuh Anjasmara. Apalagi ketika secara tidak sengaja bola kembarnya tersentuh. Dia langsung menjadi wanita yang merindukan kehangatan.
Secara refleks kedua kaki Dewi Gedeng Permoni merenggang. Kemudian Anjasmara memberikan apa yang didambakan Dewi Gedeng Permoni.
Selanjutnya mereka terlarut dalam keindahan. Untungnya mereka mencapai puncak sebelum orang-orang desa yang dibawa Wuni datang.
Setelah keduanya berpakaian rapi lagi, tiba-tiba Anjasmara mengikat kedua tangan Dewi Gedeng Permoni.
"Kenapa?" Wanita ini kaget. Lalu dia mendengar suara ramai di luar rumah.
"Kau masih harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu kepada warga desa!"
Kemudian Anjasmara membawa Dewi Gedeng Permoni ke luar dan menyerahkannya ke warga desa yang dipimpin langsung oleh Ki Kuwu.
Anjasmara memberitahukan kepada warga ke mana gadis-gadis lain dijual. Semua warga berterima kasih kepada si pemuda, sosok tak dikenal yang tiba-tiba saja muncul menyelamatkan gadis persembahan.
"Bukankah kau yang tadi makan di kedai?"
Ternyata salah seorang mengenali Anjasmara. Rupanya orang ini pernah melihat si pemuda di kedai sebelumnya.
Anjasmara jadi agak canggung. Akhirnya dia menjelaskan bahwa dia tidak percaya tentang Dewi Gedeng Permoni. Maka dia bergerak menyelidiki sendiri dan inilah hasilnya.
Atas kebaikannya ini, Anjasmara diperkenankan untuk singgah ke rumah Ki Kuwu.
***
Di saat sedang melangkah menyusuri sebuah jalan lebar yang sepertinya akan memasuki sebuah perkampungan lagi setelah melewati daerah perkebunan, Anjasmara mendengar sesuatu yang mengetuk hatinya.
Terdengar suara bentakan pertarungan disertai teriakan-teriakan khas suara wanita. Anjasmara segera mencari asal suara itu.
Ternyata pertarungan itu berada di ujung bawah jalan yang menurun. Jalan yang tengah ia tempuh beberapa tombak kedepan terdapat turunan.
Di bawah itu terlihat lima lelaki berbadan tegap yang pakaiannya seragam warna kuning tengah mengeroyok seorang gadis.
Tidak tanggung lima lelaki ini menyerang menggunakan senjata masing-masing berupa parang. Sedangkan si gadis menggunakan pedang.
“Hai, pengecut!” teriak Anjasmara, “Masa lima lelaki mengeroyok satu perempuan!”
Lima pengeroyok hentikan serangan menoleh ke Anjasmara. Sesaat mereka heran melihat sosok pemuda gondrong kemudian saling pandang dan terbahak-bahak bersama.
"Ada kunyuk mau jadi pahlawan!" ujar salah satunya.
"Gayanya sok gagah!" sambut yang lain.
"Budak 'berag' yang nafsu lihat perempuan cantik, mau membelanya biar disebut jagoan!" timpal yang lain yang diakhiri tawa meledek.
Belum berakhir ketawa mereka tahu-tahu sosok Anjasmara sudah berada di tengah arena pertarungan.
Lebih parah lagi kelima orang ini langsung merasakan hantaman dari pukulan dan tendangan yang mengenai perut hingga mereka terjajar beberapa langkah ke belakang.
Suara tawa mereka lenyap berganti keluhan menahan enek.
"Setan!"
"Keparat!"
Akan tetapi Anjasmara tak memberi kesempatan dia langsung menyerang lagi. Bertumpu pada kaki kiri, kaki kanan menendang dengan gerakan cepat ke arah tiga lawan.
Sementara dengan memiringkan badan, dua tangan menghantam ke dua orang lainnya.
Namun kali ini serangan Anjasmara tak menemukan sasaran karena lima lawannya sudah bergerak cepat menghindar, tetapi tak menyurutkan serangan.
Anjasmara terus menyerang dengan jurus-jurus yang didapat dari kakeknya yang merupakan bekas seorang Rajaresi di kerajaan Kendan yang sudah berganti nama menjadi Galuh.
Tentu saja lima orang ini heran dan kesal. Lawannya cuma satu orang tapi seperti memiliki seratus tangan dan kaki walaupun tanpa senjata, arahnya tepat ke sasaran yang mematikan.
Sehingga senjata mereka tak bermanfaat di genggaman. Kesal tapi tidak ingin malu juga, masa mengeroyok satu orang saja yang tampaknya masih muda itu kewalahan.
Maka mereka terus mencoba melawan. Akal mereka sudah tertutup oleh gengsi. Namun, apa yang terjadi?
Dukk!
"Uh..!"
Salah satu lawan terjengkang hingga jatuh terkena tendangan kaki yang telak. Empat lainnya tentu saja meradang. Empat parang berputar bersahutan menyerbu Anjasmara.
Dua tangan Anjasmara menghadang sabetan dua parang dengan menghantam tepat di pergelangan sehingga dua senjata itu terlepas dari genggaman.
Bersamaan dengan itu, kaki kanan menjulur menghadang dua serangan yang lain.
Satu kibasan kakinya berhasil mengenai pergelangan tangan lagi. Hasilnya sama, dua parang mental lagi.
Selanjutnya dalam waktu sekejap saja dua tangannya menekuk maju sehingga dua sikunya menjotos wajah dua lawannya.
"Auh..!"
Dua orang ini terjengkang. Bersamaan juga saat itu kakinya yang tadi menyepak kiri kanan di atas tepat mengenai leher lawan sehingga mereka terpental dan jatuh bergulingan.
Hanya dengan dua gerakan cepat tadi empat lawan dibuat terjatuh. Lima orang itu terkapar semua di tanah. Anjasmara tidak membutuhkan tenaga besar untuk menjatuhkan mereka.
Kelima orang berseragam kuning ini perlahan bangkit lalu pergi meninggalkan tempat itu. Anjasmara tidak mengejar mereka, dia butuh keterangan tentang mereka dari gadis yang dikeroyok tadi.
"Tunggu pembalasan kami, bocah!" seru salah satunya.
"Siapa mereka?" tanya Anjasmara setelah kelima orang itu lenyap.
"Mereka anak buahnya Raksana," jawab si gadis berkulit aga gelap, tapi manis.
"Raksana?"
Kemudian si gadis menceritakan keadaan desanya yang dilanda kekacauan atas ulah seorang warga berilmu tinggi yang menggunakannya untuk menindas warga yang lain.
"Bahkan Raksana dan Gumara, anaknya, telah membunuh Ki Kuwu. Desa Peundeuy dikuasai mereka dan anak buahnya, berbuat sewenang-wenang. Memungut upeti panen seenaknya kepada warga,"
"Tidak ada yang memberitahukan ke kerajaan?"
"Setiap ada yang mau ke kerajaan selalu ketahuan, ditangkap, disiksa bahkan dibunuh!"
"Wah, kejam sekali mereka!"
"Lebih biadab lagi, Gumara selalu melecehkan gadis-gadis desa. Jika ada yang disukainya, akan ditangkap dan dijadikan budak nafsunya."
Naluri Anjasmara yang baik ingin berbuat sesuatu untuk menolong desa ini dari kesewenang-wenangan.
Siapa tahu dia menemukan seseorang yang sesuai dengan kriteria dari ibunya.
"Oh, ya, aku Anjasmara. Siapa namamu?" tanya si pemuda.
"Mayang Telasih!" jawab si gadis lembut. Dari tatapannya dia seperti sedang mencoba menembus raut wajah Anjasmara.
"Maaf, aku ingin membantu membebaskan warga dari ketakutan. Kalau boleh itu juga!" Anjasmara menawarkan jasa sambil membalas tatapan Mayang Telasih.