Bab 1

Di sebuah lembah yang cukup luas, terdapat puluhan pendekar tingkat suci dan ratusan pendekar tingkat raja sedang mengepung seorang pendekar berambut panjang dengan parasnya yang di atas rata-rata. Para pendekar dari berbagai macam sekte dan aliran itu terlihat begitu murka dan kesal terhadap pendekar berwajah tampan dengan sebuah pedang tanpa bilah di tangannya itu.

“Hari ini kau akan menjemput ajalmu, Pendekar Pedang Patah!” teriak salah seorang dari ratusan pendekar yang ada di sana dengan geram.

Namun, berbanding terbalik dengan pendekar yang bergelar Pedang Patah itu. Dia tampak santai dengan eskpresi mengejek, menatap ke arah puluhan pendekar tingkat suci yang ada di depannya.

“Kau yakin aku akan menjemput ajalku? Mungkin kau salah tebak. Bisa saja kau yang lebih dulu pergi ke neraka, Pak Tua!” balas pemuda itu meneriaki pendekar yang tadi meneriakinya.

“Kurang ajar!” pekik pendekar yang kira-kira berumur tujuh puluh tahun ke atas. Namun, karena tenaga dalamnya yang tinggi, wajahnya terlihat jauh lebih muda dibandingkan usia sebenarnya. “Aku pendekar suci dari sekte Tapak, Genting Mahesa akan mengakhiri riwayat hidupmu hari ini juga.”

“Oh! Seramnya. Aku bisa merasakan celanaku basah karena mengompol saking takutnya,” ledek si pendekar yang bergelar Pedang Patah itu dengan ekspresi pura-pura ketakutan.

Lalu dari balik kerumunan pendekar tingkat suci dan raja itu, munculah seorang pria tua berjanggut dan berambut putih yang ia yakini berumur lebih dari seratus tahun. Sama seperti pendekar sebelumnya, pria tua ini juga pastilah dapat mempermuda penampilannya berkat tenaga dalam yang dimilikinya.

“Kau terlalu meremehkan orang, Anak Muda. Jangan salahkan kami jika kau meregang nyawa kemudian,” ucap lelaki berperawakan seperti biksu itu.

Pendekar itu tersenyum dengan percaya diri dan membusungkan dadanya. “Apa yang perlu kutakutkan jika aku memiliki pedang ini?” Ia mengacungkan gagang pedang tanpa bilah itu tinggi-tinggi ke atas langit.

Berkat pedang itu, ia dijuluki sebagai Pendekar Pedang Patah. Bukan berarti pedang itu jelek sehingga mudah patah, justru karena itulah kekuatan sesungguhnya dari pedang tanpa bilah itu berasal. Setiap kali serangan—baik itu fisik atau tenaga dalam—dapat dihalau dengan mudah oleh pedang tanpa bilah itu. Sebuah gagang pedang yang memiliki kemampuan untuk mementalkan semua serangan yang terarah pada pemegangnya.

“Kalau begitu, kau belum bertegur sapa dengan Pedang Pembalik Takdir milikku, Anak Muda,” ujar pria tua berambut putih tadi.

Pendekar Pedang Patah mengerutkan keningnya melihat sebuah pedang yang meliuk seperti sebuah keris yang tipis dan panjang. “Pedang aneh macam apa itu?” tanyanya sedikit mengolok. “Mari kita beradu saja kalau begitu, Kakek Tua!” teriaknya yang langsung melompat ke depan menerjang puluhan pendekar tingkat suci dan raja itu.

Melihat musuhnya melompat mendekat, para pendekar suci itu tentu saja tidak menyia-nyiakan waktu, mereka menarik keluar semua senjatanya mulai dari tombak, pedang, golok, dan lainnya.

“HYAAAAAH!”

Pertarungan tak terelakan, Pendekar Pedang Patah tampak menari-nari di tengah kerumunan pendekar tingkat tinggi itu. Setiap serangan yang terarah padanya dapat dengan mudah ia halau dengan pedang tanpa bilah miliknya.

“Hanya segini saja kemampuan dari para pendekar tingkat suci danr raja? Nenekku bahkan bisa melakukannya lebih baik,” ejeknya sambil terus bergerak menghindari semua serangan yang terarah padanya.

Genting Mahesa yang melihat sedikit celah dari musuh segala pendekar itu langsung mengeluarkan sebuah jurus pamungkasnya. “Raungan Singa!”

Ia melepaskan tinjunya ke udara yang ditujukan pada Pendekar Pedang Patah. Sebuah gelombang udara tak kasat mata tampak bergerak cepat mengincar tubuh bagian belakangnya.

Seakan menyadari ada bahaya yang mendekatinya, Pendekar Pedang Patah lantas memutar tubuhnya dan melihat serangan itu. “Lambat,” ucapnya melihat serangan dari Genting Mahesa yang memang terkesan lambat. Ia meletakan tangan kirinya di depan mulut seolah menahan kantuk menunggu serangan itu datang padanya.

Kemudian, saat serangan itu sudah mulai mendekat padanya, ia langsung memasang kuda-kuda siap siaga.

“Kembalilah ke pemilikmu,” katanya dengan santai memukul gelombang serangan itu kembali pada Genting Mahesa seolah-olah sedang memukul bola bisbol.

Genting Mahesa yang melihat serangannya berbalik kembali padanya—dengan laju dua kali lebih cepat—sontak membulatkan matanya. “Ap—sial.” Pak tua itu menggeram ketika jarak serangnya sudah tak mungkin dihindari lagi.

Namun, saat serangan itu hendak mengenainya, sebuah pedang berbentuk aneh seperti keris menahan dan menghilangkan serangan itu. “Lawanmu adalah aku, Pancaka sang Pendekar Pedang Patah yang menjadi biang onar di dunia persilatan.”

Pancaka—nama dari si Pendekar Pedang Patah—mendecih sebal pura-pura marah ketika serangannya dihalau dengan mudah. “Kau benar-benar tak asik, Pak Tua Surawisesa,” katanya dengan tampang cemberut.

Anggada Surawisesa—nama dari pendekar pemilik Pedang Pembalik Takdir—hanya tersenyum kecil dan menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar hal itu. “Kau benar-benar anak nakal, Panca. Kemarilah. Pak Tua yang tak asik ini akan mendidikmu dengan benar.” Setelah mengatakan itu, sebuah ledakan aura suci keluar dari tubuhnya.

Para pendekar suci yang melihat hal itu seketika mengambil satu langkah mundur. Mereka memang pendekar tingkat tinggi, tapi hanya segelintir pendekar suci saja yang memiliki tenaga dalam sebanyak tujuh gerbang seperti Anggada Surawisesa.

Dan salah satu yang bisa menyainginya tentu saja Panca. Pemuda berusia dua puluhan akhir itu balik menantang dengan meledakkan aura pembunuhnya yang berada di tingkat yang sama meskipun sedikit di bawah Surawisesa. Ia berada di gerbang keenam akhir.

“Boleh juga kau, Pak Tua. Mungkin aku akan meladenimu menari.”

Surawisesa tidak menjawab, ia memberikan isyarat tangan agar Panca mendekat.

Panca menyeringai lebar melihat hal itu. “Aku datang, Pak Tua. Bersiaplah!” Setelahnya, Panca melayang di udara dengan ilmu meringankan tubuh tingkat tingginya.

Melihat hal itu, Surawisesa pun melakukan hal yang sama. Mereka berdua melakukan jual beli serangan di udara. Para pendekar suci yang lain hanya bisa menatap hal itu dengan decak kagum.

Sebenarnya, Panca adalah pendekar yang cukup hebat. Namun, dia menyalahgunakan kemampuannya itu dengan melakukan perbuatan onar, merusak sekte, dan bertindak semaunya. Selama beberapa tahun ini, ia benar-benar membuat dunia persilatan kacau balau berkat pedangnya yang patah itu.

Pertarungan berlangsung sengit. Panca menyerang para puluhan pendekar tingkat tinggi di sana selagi ia bertukar serangan dengan Surawisesa. Akibatnya, hanya tersisa mereka berdua yang masih sadar di lembah yang kini tampak porak poranda itu.

“Kau … apa yang menimpamu sehingga kau berbuat sejauh ini, Panca?” tanya Surawisesa dengan napasnya yang terengah-engah. Ia melihat sekelilingnya di mana para rekannya tergeletak, sebagian tewas dan sebagian tak bisa bertarung lagi.

Sudah seharian mereka bertarung, dan keadaan cukup imbang karena perbedaan usia yang cukup jauh di antara mereka. Kalau saja Surawisesa berada di usia puncaknya, maka hampir mustahil Panca dapat bertarung seimbang dengannya.

Panca mendecih kesal mendengar Surawisesa berusaha mengulik masa lalunya. “Kupikir kau datang ke sini untuk bertarung, Pak Tua. Pergilah ke tempat lain kalau kau hanya ingin mengocehkan sesuatu yang tak penting.” Panca kembali melompat tinggi dan menukik tepat ke arah Surawisesa.

Surawisesa tampak tersenyum sekilas di wajah tuanya. “Kalau begitu, tidak ada cara lain. Aku harap kau bisa berubah setelah ini, Panca,” ucapnya. Ia lalu merapalkan sesuatu di depan pedang berkeloknya. “Pembalik Waktu!”

Sebuah gelombang dahsyat keluar dari hunusan pedang berkelok itu, membuat Panca yang sedang berada di udara terpental dibuatnya.

“AAAAKHHH!”

BRUK

Panca terpental cukup jauh lalu terjatuh dan tak sadarkan diri.

***

Hari sudah pagi ketika Panca tersadar dari pingsannya, ia mengerang sambil memegangi kepalanya yang berdenyut. “Emh, di mana ini?”

Namun, betapa terkejutnya ketika ia merasakan tangannya menyusut di balik baju yang kini membuatnya tenggelam di dalamnya.

“Apa-apaan ini!” serunya panik ketika ia mengarahkan kedua tangannya ke depan. “Aku berubah jadi bayi?!” Ia lantas berlari ke sungai yang berada tak jauh dariya dan melihat pantulan dirinya di air.

“Tidak, ini pasti mimpi. Tidak mungkin!”

Pancaka sang Pendekar Pedang Patah yang terkenal di seantero jagat dunia persilatan karena ilmu kanuragannya yang tinggi, serta sepak terjangnya yang begitu buruk di dunia persilatan, kini sedang terpaku di tepi sungai, menatap pantulan dirinya yang kini berubah menjadi anak kecil berusia lima tahun.

Bab 2

Panca masih berdiri mematung menatapi pantulan dirinya di air. Ia masih tak menyangka jika kini tubuhnya menyusut sampai sekecil ini. Ia mencoba mengingat-ingat lagi hal terakhir yang menimpanya sebelum ia menyusut menjadi seorang anak kecil berusia lima tahun.

“Sialan! Jangan-jangan aku berubah seperti ini karena jurus dari si tua Surawisesa! Tak bisa dibiarkan, aku harus segera kembali ke ukuran semulaku dan menuntut balas pada si tua sok asik itu.” Panca berjalan mondar-mandir di tepi sungai, masih dengan pakaiannya yang kini kebesaran.

“Tunggu dulu, pedangku!” pekiknya panik lalu berlari kembali ke tempat semula di mana ia tersadar. Dan wajah Panca semakin panik saat ia tidak mendapati pedang kesayangannya itu di sana.

“Kyaaak!” Panca menjerit sekuat-kuatnya yang terdengar seperti pekikan wanita. Pedang yang sudah seperti separuh hidupnya itu menghilang bersamaan dengan tubuhnya yang menyusut.

“Apa yang terjadi! Tidak mungkin, ini pasti mimpi! Ya, ini pasti mimpi. Aku harus bangun dari mimpi ini!”

Panca berlari kembali ke tepi sungai dan mencelupkan kepalanya cukup lama, berharap ia tersadar dari mimpi buruk ini. Namun, sekeras apa pun ia berusaha, Panca tidak terbangun atau setidaknya itu yang ia inginkan.

Dengan wajah melas dan getir seperti kehilangan sesuatu yang berharga, Panca memandangi langit di atasnya. “Aku … kembali ke hidupku yang dulu, lemah dan tak berdaya.”

Setitik air mata mengalir dari sudut kedua matanya. Ia meratapi nasibnya yang kini menjadi lemah. Sekelebat ingatan masa lalu kembali terlintas dalam benaknya, saat ia mengemis di sebuah pasar dan tidak ada yang memperdulikannya.

“Ini bukan waktunya untuk jadi cengeng!” Seketika Panca bangkit dari kesedihannya dan mengusap kasar jejak air mata di pipinya.

“Sekarang, akan aku cari si Tua Surawisesa itu untuk mengembalikan wujudku seperti semula.” Panca lalu melangkah pergi dengan amarah yang menggebu-gebu pada si tua Surawisesa yang sudah membuatnya seperti ini.

“Hey.”

Sebuah suara mengagetkan Panca. Ia tak berani bergerak dan hanya berdiri diam mematung ketika mendengar suara itu dari arah belakangnya.

“Anak kecil? Apa yang kau lakukan di sini. Hari sudah sore, sebaiknya kau pulang sebelum ibumu mencarimu,” kata suara itu lagi.

Panca dengan kikuk memutar tubuhnya, dan ia dapat melihat seorang gadis kecil—kira-kira seumuran dengannya—sedang menatap intens dirinya. Jika dilihat-lihat, gadis kecil itu pastilah dari keluarga yang berkecukupan. Panca berani menilai begitu karena pakaiannya yang berbahan sutra dan beberapa aksesoris seperti cincin serta anting emas menempel di tubuhnya.

“Siapa … kau? Apa yang kau lakukan di sini? Sejak kapan kau memata-mataiku!” tuding Panca pada gadis kecil itu dan memberondongnya dengan beberapa pertanyaan.

Gadis kecil itu tampak memiringkan kepalanya heran. “Apa yang aku lakukan? Aku ingin pulang. Sejak kapan aku memata-mataimu? Mungkin sejak kau bergumam akan membunuh seseorang yang kau panggil si tua tak asik. Dan siapa aku? Perkenalkan, namaku Sri Asih Kumalasari.” Gadis kecil itu lalu mengulurkan tangannya pada Panca sambil tersenyum lebar menunjukan giginya yang tanggal tepat di tengah.

“Namaku Panca,” sahut Panca sambil bersidekap, menolak jabatan tangan dari gadis kecil di depannya. “Dan kenapa kau mengamati orang asing selama itu? Apa kau ini maniak atau apa?”

Sri Asih awalnya bersedih karena sikap Panca, tapi gadis kecil itu mudah sekali berubah perasaannya. Ia lalu menarik tangannya dan menyunggingkan senyum bersahabatnya pada Panca. “Aku hanya penasaran. Aku belum pernah melihat wajahmu di sekitar sini, apa kau anak dari desa Antasari?” tanyanya kemudian, masih berusaha ingin mengenal Panca lebih jauh.

Panca mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi seakan ia merasa familiar dengan nama desa yang disebutkan oleh Asih. “Kenapa kau ingin tahu? Urus saja urusanmu.”

“Kenapa? Apa kau tidak punya rumah?” tanya Asih dengan polosnya. “Aku bisa membawamu ke rumahku kalau kau tidak punya rumah. Ibu pasti senang.”

“Cih. Aku tidak sudi ikut denganmu. Ada hal yang lebih penting yang harus aku urus. Jadi, sampai jumpa. Dan jangan pernah kau mengikutiku lagi,” ucap Panca memperingati Asih.

“Kenapa?” tanya gadis kecil itu polos.

“Karena ….” Panca hampir saja membocorkan tentang identitas aslinnya, tapi ia segera berkilah. “Karena tadi aku buang air besar di sana,” jawabnya asal sambil menunjuk ke sembarang tempat.

“Ap—ih, kau jorok!” pekik Asih mengambil langkah mundur menjauhi gundukan menjauhi Panca. “Kenapa buang air sembarangan? Apa benar kau tidak punya rumah?” Dengan ekspresi jijik ia masih berusaha ingin tahu lebih dalam tentang identitas bocah laki-laki di depannya ini yang mungkin saja bisa menjadi temannya.

“Aku punya—“

“Putri Asih! Putri Asih, di mana kamu?!” teriak sebuah suara membuat Panca lagi-lagi berjengit kaget.

Tanpa pikir panjang, ia menarik tangan Asih menjauh dari tempat tersebut. Entah kenapa ia bersikap begitu, mungkin karena pengalamannya yang pernah diburu di masa lalu membuat insting bertahan hidup Panca selalu aktif.

“Kau mau membawaku ke mana?” tanya Asih yang terpaksa berlari mengimbangi Panca yang menarik lengannya secara paksa.

“Kita harus menjauh dari sini karena ada—tunggu dulu. Siapa namamu tadi?” ucap Panca seakan baru menyadari sesuatu.

“Namaku Sri Asih Kumalasari,” jawab gadis kecil bernama Asih itu dengan polos dan tatapan bingung.

“Apa suara orang tadi mencarimu?”

Asih mengangguk cepat dengan wajah yang lugu. “Iya. Itu mungkin Jaka, dia adalah orang kepercayaan ayah dan ibuku untuk menjagaku.”

“Kenapa kau tidak bilang dari tadi?!” umpat Panca yang kesal karena kepolosan gadis di depannya ini.

“Kau tidak bertanya,” sanggah Asih membela diri. Ia dengan dengan lucunya mengerucutkan bibirnya dan melipat kedua tangannya di depan dada.

‘Dasar rubah kecil ini!’ umpat Panca dalam hati.

Panca yang sudah kehabisan akal, terpaksa harus beradaptasi dengan keadaannya saat ini sambil mengamati apa yang sebenarnya terjadi. Dan di depannya saat ini, ada gadis kecil kaya yang bisa saja ia manfaatkan selama proses tersebut. Ia berniat memanfaatkan Asih sementara waktu sambil mengamati dunia ini—atau setidaknya tempat di mana Panca kembali berubah menjadi bocah berumur lima tahun.

“Jadi, kau tinggal di mana?”

“Di sana,” tunjuk Asih ke sebuah gapura yang sangat familiar dalam benak Panca.

“Itu …. Kau tinggal di perguruan?” tanya Panca ketika melihat sebuah pintu masuk khas perguruan di depan mereka.

“Ya. Aku tinggal di perguruan Sekte Pedang Suci.”

“Oh jadi kau ting—APA!”

Bab 3

Entah sial atau tidak, Panca kini berada di kediaman Asih. Ia menatap bosan pada gadis kecil yang menggandengnya dengan riang untuk menemui ibunya. Dan mengingat hal ini, tentu saja membuat Panca merasa sedikit nostalgia. Dahulu, ialah penyebab kehancuran dari sekte Pedang Suci. Sekarang ia sadar akan satu hal, dirinya tidak menyusut tanpa alasan yang tidak jelas melainkan dirinya kini terlempar kembali ke masa lalu, tepatnya beberapa puluh tahun yang lalu waktu ia masih menjadi gelandangan dan pencuri demi menghidupi dirinya.

“Ibu, Ibu! Aku dapat teman baru. Ibu, di mana dirimu?” teriak Asih—masih setia menyeret Panca di belakangnya—mencari keberadaan ibunya.

“Iya, Nak? Ibu ada di dapur!” sahut ibunya sedikit berteriak.

Tanpa pikir panjang, Asih menghampiri ibunya yang berada di dapur—dengan Panca di belakangnya. “Ibuu! Lihat, aku dapat teman bermain! Dia juga tidak punya rumah, bisakah kita memberinya tempat tinggal?” rengek Asih tanpa memberi kesempatan ibunya menjawab.

“Ehm, bagaimana, ya? Bukankah tadi Jaka pergi mencarimu? Ke mana dia?” tanya balik ibu Asih berusaha mengalihkan perhatian anaknya dari permintaan egoisnya.

Seakan tersadar sesuatu, Asih menyengir polos menunjukan deretan gigi putihnya dan satu giginya yang tanggal di bagian tengah. “Kami meninggalkannya di hutan depan. Habisnya, Jaka selalu mengikutiku, Bu,” jawab Asih membela diri dengan wajah memelas.

Ibu Asih tersenyum maklum mendengarnya. Wanita muda itu lalu merendahkan tubuhnya dan mengusap pelan rambut hitam anaknya. “Nak, memang itulah tugas Jaka. Ia mendapat perintah dari ayahmu untuk menjagamu,” jelas ibu Asih berusaha memberi pemahaman pada gadis kecilnya. Lalu, pandangannya teralih pada Panca yang menatapnya dengan cengiran pura-pura polos.

“Ha—Halo, saya Panca.” Panca memperkenalkan diri dengan kikuk pada ibu Asih yang ia tahu bernama Ratna Kumalasari itu.

Ratna tersenyum singkat padanya. “Halo, anak manis. Aku ibunya Asih, namaku Ratna Kumalasari.”

Tepat seperti dugaan Panca. Wanita ini masih sama cantik dan anggunnya sejak dulu. Wanita yang sering ia khayalkan akan menjadi ibunya di masa lalu itu kini tengah tersenyum lembut padanya. Perlahan wajah Panca memerah karena hal itu.

“Jadi, Ibu. Panca boleh tinggal di sini, kan, Bu?” desak Asih menggoyangkan lengan ibunya tak sabaran.

Ratna kembali mengalihkan perhatian pada putri kecilnya itu. “Sabar ya, Nak. Ibu tidak bisa mengambil keputusan sebesar itu tanpa persetujuan ayahmu.”

Rahang Panca kini mengeras. Ia baru sadar jika suami dari Ratna adalah awal mula rasa bencinya pada sekte Pedang Suci. Tanpa sadar, ia mengepalkan kedua tangan mungilnya erat-erat—yang untungnya tidak diketahui oleh Ratna dan Asih.

“Ayah kapan pulang, Bu?” rengek Asih lagi.

“Sore ini dia baru akan kembali dari tempat kakekmu, Nak,” jawab Ratna dengan penuh kasih sayang membelai rambut putrinya.

“Jadi, Ayah pergi ke tempat kakek Surawisesa?”

“UHUK, UHUK, UHUK!” Panca tersedak ludahnya sendiri ketika ia mendengar Asih menyebut sebuah nama yang saat ini sedang ia cari—sangat.

“Kamu kenapa, Panca?” tanya Asih polos. Ia melepaskan genggaman tangan pada ibunya dan menepuk-nepuk pelan punggung Panca.

“Aku tidak apa-apa, Putri,” jawab Panca penuh hormat—tentu saja ia berbohong.

Sementara itu, Asih yang bingung dengan sikap Panca yang berubah sopan ini tak tahan untuk tidak menyeletuk. “Tumben kau menyebutku seperti itu, tidak seperti sebelumnya.”

“Ah—apa yang ka—maksudku Putri katakan? Aku sama sekali tidak mengerti,” sahut Panca sambil meringis memaksakan senyum dan mengatakan sesuatu pada gadis itu pelan. “Diam saja!” lirihnya pada Asih yang tak diketahui oleh Ratna.

Sementara itu Asih yang melihat tingkat aneh Panca hanya mengerutkan keningnya heran. “Kau kenapa, Panca? Sakit gigi?”

Ingin sekali rasanya Panca menjedukkan kepalanya ke dinding kayu di dekatnya, tapi akan sangat tidak etis dilihat oleh Ratna—orang yang begitu ia kagumi. Jadi, untuk saat ini Panca hanya diam tanpa menjawab pertanyaan Asih yang selalu di luar nalar itu.

Dan satu hal lagi yang Panca tahu pada akhirnya, bahwa Sekte Pedang Suci memiliki hubungan dengan Kuil Pedang Seribu—tempat di mana si kakek tua sialan yang telah merubahnya menjadi seperti sekarang ini tinggal. Mungkin itulah yang menjadi alasan kenapa si kakek tua itu murka kepadanya, karena ia telah meluluh lantakkan tempat ini di masa depan demi membalaskan rasa sakit hatinya pada si brengsek suami dari Ratna Kumalasari yang membuatnya sakit hati.

Saat Panca sedang sibuk dengan pikirannya, Asih kembali merengek pada ibunya untuk mengijinkan Panca tinggal agar bisa menemaninya bermain. “Ibu! Aku mohon, ijinkan Panca tinggal ya, Bu?”

Ratna yang melihat anaknya memohon sedemikian rupa hanya bisa tersenyum pasrah dan mengelus puncak kepala anak semata wayangnya itu. “Baiklah. Tapi kalau sampai ayah tidak mengijinkan, maka kau harus menerima keputusannya ya, Nak?”

“Baik, Ibu!” sahut Asih senang. Ia tahu, ayahnya pastilah tidak akan bisa untuk menolak keinginannya.

“Panca, ayo main di luar denganku.” Setelah mendapatkan apa yang diinginkannya, Asih menyeret paksa Panca yang gelagapan ditarik tiba-tiba seperti itu.

“Kita mau ke mana, Putri?” tanya Panca masih bertingkah sopan karena mereka masih dalam jarak pengawasan Ratna di belakang mereka.

Begitu Asih membawa Panca keluar rumah menuju lapangan luas tempat biasa para murid-murid ayahnya berlatih, Panca langsung berhenti dan memasang wajah datar. “Asih, sebaiknya lepaskan tanganku.”

Asih yang mendengar suara serta sikap Panca kembali berubah pun menoleh ke belakang. “Kenapa? Kenapa kau bersikap begitu padaku, Panca? Apa salahku?” tanya Asih sedih. Ia melepaskan genggaman tangannya pada pergelangan tangan Panca dan menunduk sedih menatap kedua kakinya.

‘Karena ayahmu yang keji itu telah menendang serta mengusirku dari tempat satu-satunya yang bisa aku sebut rumah! Dia menggusur tempat bernaungku demi kepentingannya sendiri!’ jawab Panca dalam hati. Ia tahu bahwa percuma ia mengatakan hal ini pada Asih yang hanya seorang bocah ingusan berusia lima tahun—sama sepertinya.

Ya. Alasan kenapa Panca mengacak-acak Sekte Pedang Suci adalah karena sikap Erlangga Kusuma—ayah Asih—yang pada saat itu menggusur pemukiman pengemis demi membangun sebuah cabang perguruan sekte pedang suci. Memang, Erlangga tidak mengusirnya secara kasar, ia bahkan memberikan uang ganti rugi.

Namun, Panca hanyalah anak kecil yang mudah dibodohi oleh orang dewasa. Para pengemis lainnya mengambil upah dan jatah milik Panca sehingga Panca berakhir menjadi gelandanga. Dan dari sanalah awal mula jalan kejahatannya dimulai.

“Hey, kenapa kau diam saja Panca.” Asih melambaikan satu tangannya di depan wajah Panca.

“A—Ah, aku tidak apa-apa. Jadi, sekarang kita mau apa?” tanya Panca berusaha mengalihkan kebencian dalam benaknya. Saat ini, fokusnya adalah kembali ke tubuh aslinya dan ia harus menemui Surawisesa secepatnya.

“Aku ingin mengajakmu berkeliling perguruan sekte pedang suci, maukah kau?” pinta Asih dengan kedua mata berbinar-binar.

‘Apakah mungkin ini jalanku untuk kembali meraih kekuatanku? Dulu, aku telat berlatih ilmu bela diri pada usia kepala dua. Sekarang, mungkin aku harus mulai lebih awal. Jika memang benar ini adalah masa lalu, maka aku harus memperbaiki semuanya … dan kembali meneror dunia, bwaahaha.’

Lagi-lagi, Panca terdiam dengan ekspresi yang berubah-ubah. Terkadang ia terlihat melotot tajam, tertawa, lalu sedih secara bersamaan. Dan Asih yang melihatnya hanya bisa menggeleng bingung.

‘Apa kepala Panca terbentur sesuatu sehingga ia menjadi aneh seperti ini?’

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED