Bab 1

Suro Joyo harus bisa mendapatkan Bunga Puspajingga. Kalau sampai tidak bisa memetik bunga itu, maka seumur hidupnya bakal merasa gagal berbakti kepada ibundanya. Juga merasa gagal berbakti kepada ayahanda. Sang ayahanda yang memerintahkan Suro Joyo untuk memetiknya.

“Aku akan memetik bunga itu walau harus menempuh resiko apa pun!” tekat membaja di dada sang pemuda sambil memandang puncak Gunung Sumbing. Gunung yang kokoh berdiri menantang para pendekar untuk menaklukkannya.

Sudah beredar kabar di kalangan pendekar bahwa Bunga Puspajingga yang ada di tebing Gunung Sumbing telah mekar. Bunga itu menjadi incaran para pendekar dari delapan penjuru mata angin karena memiliki banyak khasiat yang sangat hebat.

“Setelah kupetik, Bunga Puspajingga akan kubawa pulang ke Istana Kerajaan Krendobumi untuk menyembuhkan Ibunda Niken Sari,” gumam Suro Joyo.

Pendekar tampan berpakaian serba putih itu berdiri di kaki gunung yang segera didaki. Sebelum mendaki, dirinya teringat tentang kedua kaki ibundanya yang lumpuh sejak Suro Joyo masih bayi sampai sekarang.

Kelumpuhan kaki Niken Sari akibat pukulan maut dari ajian seorang pendekar pilih tanding dari golongan hitam bernama Jati Kawangwamg. Saat Suro Joyo masih bayi, Krendobumi diserang Jati Kawangwang yang memiliki kesaktian luar biasa. Penyerang yang sangat hebat dan kebal segala macam senjata itu punya julukan Dewa Naga Baja.

Raja Agung Paramarta, ayahanda Suro Joyo kalah dalam pertarungan melawan Dewa Naga Baja. Agung Paramarta diselamatkan Maeso Item. Sedangkan Niken Sari yang mengalami kelumpuhan pada kedua kakinya diselamatkan Trinil Manis.

“Untung saja kedua orang tuaku diselamatkan para pendekar sakti itu,” kenang Suro Joyo tentang Maeso Item dan Trinil Manis. Sepasang pendekar yang tidak akur, tapi sama-sama mewariskan segala macam ilmu yang mereka miliki kepada Suro Joyo. Sepasang pendekar yang sebenarnya tidak layak disebut ‘sepasang’ karena mereka tinggal di pesanggrahan yang berbeda.

Maeso Item, suka berpakaian compang-camping, suka bersikap nyleneh alias aneh, tinggal di Goa Setan, memiliki julukan Pengemis Gila Goa Setan. Trinil Manis suka bersyair, berpikiran agak miring, memiliki julukan Penyair Edan Pantai Selatan, tinggal di sebuah pesanggrahan yang berada di Pantai Selatan.

Atas didikan kedua gurunya yang aneh, tapi berilmu dahsyat, Suro Joyo berhasil merebut kembali tahta Krendobumi dari tangan Jati Kawangwang. Tahta kembali ke tangan Agung Paramarta. Sekilas terbayang di benak Suro Joyo saat dirinya bertarung hidup-mati melawan si Dewa Naga Baja.

Saat itu lawan Suro Joyo tidak mempan segala macam jenis senjata sakti. Jati Kawangwang juga kebal segala macam ajian. Untung saja Suro Joyo mengetahui titik lemah musuh bebuyutan Kerajaan Krendobumi. Trinil Manis yang memberitahu Suro Joyo tentang kelemahan ajian lawan. Kelemahan si Dewa Naga Baja terletak di kepala bagian belakang. Ada bagian seluas lobang mata uang yang bisa ditembus dengan senjata atau pun ajian.

Saat Jati Kawangwang sedikit lengah, Suro Joyo menggunakan ajian andalannya, ajian Rajah Cakra Geni. Ajian dari Maeso Item. Dari telapak tangan kanan memancar sinar berbentuk cakra. Pukulan dari telapak itu adalah pukulan Cakra Geni. Benda apa saja yang kena hantaman, bakal lebur.

Hantaman dari ajian Suro Joyo menyambar bagia belakang kepala Jati Kawangwang. Tubuh Jati Kawangwang tumbang. Tergeletak di tanah. Suro Joyo ingin mendekat uti memastikan lawannya masih hidup ataukah sudah binasa.

Namun di luar dugaan Suro Joyo, ada sosok pendekar wanita berpakaian serba ungu bergerak sangat cepat. Pendekar wanita itu menyambar tubuh Jati Kawangwang. Tubuh Dewa Naga Baja lenyap dalam kelebatan kilat si pendekar misterius.

“Kalau saja waktu itu aku tidak kelelahan, pasti kukejar,” gumam Suro Joyo. “Aku masih penasaran. Jati Kawangwang sudah mati atau hanya terluka.”

Suro Joyo sampai sekarang masih memikirkan tentang bagaimana keadaan Jati Kawangwang. Kalau dia Jati Kawangwang masih hidup, tentu masih merasa gusar. Jati Kawangwang tentu akan kembali ke Krendobumi untuk menguasai kerajaan itu kembali. Dia telah merasakan enaknya menjadi raja dengan cara merebut paksa tahta dari yang berhak. Rasa nikmat itu tentu ingin dirasakannya lagi.

“Seandainya Jati Kawangwang masih hidup dan ingin merebut kembali Krendobumi, aku sudah siap menghadapinya,” kata Suro Joyo lirih, yang hanya bisa didengar diri sendiri. “Aku tidak akan membiarkan Krendobumi lepas dari tangan Ayahanda.”

Sejenak Suro Joyo melupakan tentang Jati Kawangwang. Dia kembali memikirkan cara tercepat untuk memetik Bunga Puspajingga. Kedua kaki ibundanya yang lumpuh harus disembuhkan secepatnya. Suro Joyo merasa sangat kasihan kepada sang ibu. Niken Sari tidak bisa menggunakan kedua kakinya untuk berjalan selama belasan tahun. Ingin secepatnya Suro Joyo melihat ibunya bisa berjalan dan melakukan apa saja dengan kedua kakinya.

Masalahnya aku tidak tahu jalan paling dekat menuju puncak gunung. Suro Joyo berkata dalam hati. Ini ada jalan bercabang. Satu menuju ke arah tenggara. Satunya menuju arah timur laut. Di antara dua jalan ini, mana yang paling cepat menuju puncak Gunung Sumbing?

Di puncak kebingungannya untuk memilih satu dari dua jalan yang mesti dilalui, ada seorang pendekar berjalan dari arah barat berhenti di pertigaan. Tidak jauh dari tempat Suro Joyo berdiri. Pendekar yang juga muda usia itu bernama Garjitalung. Dia sosok pendekar muda berwajah tampan, tidak kalah rupawan dibandingkan Suro Joyo.

Garjitalung mengenakan pakaian warna coklat muda yang cerah. Kecerahan warna pakaian itu menambah penampilannya semakin menawan. Di pinggangnya terselip tombak pendek yang terbungkus sarung kulit binatang warna hitam. Di dunia persilatan, Garjitalung termasuk pendekar hebat yang diperhitungkan oleh sesama pendekar.

Ketika melihat Suro Joyo, Garjitalung terlihat kaget. Dia tidak menyangka ada orang yang telah lebih dulu sampai di pertigaan ini. Dahi Garjitalung berkerut, merasa asing dengan sosok pendekar muda berpakaian serba putih. Dia cermati sosok pemuda yang berdiri di depannya dari ujung rambut sampai ujung kaki.

Keduanya bertatapan sejenak. Suro Joyo ingin bertanya, tapi Garjitalung mendahului.

”Hei, apa kamu tahu jalan terdekat menuju Gunung Sumbing?” tanya Garjitalung. Nada suaranya kasar. Sikapnya kurang menyenangkan bagi orang lain yang belum mengenalnya.

”Hei, kamu ini mau Tanya, apa mau ngejek?” Suro Joyo balik bertanya. Rasa kesal terdengar dari nada suara.

”Monyet! Beraninya kamu balik bertanya! Apa kamu belum tahu siapa aku?”

”Lho, memangnya kamu ini siapa? Kamu merasa lebih hebat ya?”

”Brengsek! Jangan bersikap sembarangan! Bisa-bisa nyawamu melayang dengan sia-sia!”

”Kamu juga jangan bersikap sembarangan pada orang yang belum kamu kenal. Bisa-bisa kamu kehilangan muka!”

Gemeretak gigi Garjitalung. Sikap dan kata-kata Suro Joyo membuatnya naik pitam. Dia yang selama ini dihargai sesama pendekar, kini serasa diremehkan oleh orang yang menurutnya bukan orang yang terkenal di belantara persilatan.

”Bangsat! Diam atau kurobek mulutmu!” gertak Garjitalung untuk menekan mental lawan bicara.

”Lho..., apa hakmu kok pakai nyuruh-nyuruh diam!” Suro Joyo menjawab dengan enteng. Sikapnya tenang, tidak terbawa arus kemarahan lawan bicara yang sikapnya menjengkelkan.

”Agaknya mulutmu perlu dibungkam secara paksa, hiaaat!”

Garjitalung langsung melancarkan pukulan-pukulan mautnya untuk menghantam wajah Suro Joyo. Pukulan-pukulannya gencar dan cepat untuk membungkam orang yang menyinggung perasaannya.

***

Bab 2

Beberapa jurus berlalu, tak satu pun pukulan berhasil menyentuh Suro Joyo. Pendekar berpakaian serba putih itu terus berkelit. Tak ada kemauan untuk menangkis atau balas menyerang.

Perilaku Suro Joyo membuat Garjitalung semakin murka. Dia secara cepat mencabut tombak pendek yang terselip di pinggangnya.

Mata tombak menyala merah membara, menimbulkan hawa panas di sekitarnya. Garjitalung menusukkan tombak pendek ke dada lawan.

Sontak Suro Joyo berjumpalitan di udara. Tombak hanya mengena angin, terus meluncur sehingga menghantam batu sebesar gajah.

Bhral!

Batu hancur berkeping-keping disertai ledakan yang memekakkan gendang telinga. Batu-batu berhamburan ke segala penjuru. Mencelat bersama tubuh Suro Joyo yang ramping.

Garjitalung celingukan ke segala arah mencari-cari lawannya. Sosok yang berpakaian serba putih itu lenyap seperti siluman. Ke mana dia? Apakah telah hancur bersama batu-batu itu?

“Ah, paling dia kabur karena takut melawan aku,” gumam Garjitalung sambil menyelipkan tombak pendeknya di pinggang. Dia tinggalkan pertigaan menuju arah tenggara.

Suro Joyo keluar dari balik batu, tempatnya bersembunyi. Senyum tipis tersungging dari bibirnya.

“Daripada meladeni pendekar syaraf, lebih baik menghindar saja,” gumamnya. Suro Joyo meneruskan perjalanan ke arah timur laut, menuju Gunung Sumbing.

Tujuan utama Suro Joyo adalah memetik Bunga Puspajingga. Dia melesat ke arah gunung yang tebingnya ditumbuhi bunga sakti itu. Dengan segala kemampuannya, Suro Joyo siap berebut Bunga Puspajingga di tebing Gunung Sumbing.

***

Cerita beralih ke sebuah tempat yang terletak jauh di utara Gunung Sumbing. Yakni di depan sebuah goa yang bernama Goa Barong.

Tampak dua pendekar yang sama-sama berkumis tebal bernama Banawa dan Banawi. Yang membedakan dari mereka adalah senjata yang mereka gunakan dan pakaian yang mereka kenakan.

Banawa suka berpakaian serba merah menyala, sedangkan Banawi suka mengenakan pakaian yang serba biru tua. Banawa menyelipkan golok besar di pinggangnya, Banawi menyelipkan pedang panjang di punggung.

”Banawi, benarkah bahwa di dalam goa ini ada harta karun yang berlimpah?” tanya Banawa pada saudara kembarnya.

”Aku tidak bisa memastikannya. Tapi berdasarkan kabar santer yang kudengar, mungkin itu benar,” jawab Banawi. ”Lagian, apa salahnya kita mencoba menjebol pintu goa ini? Kalau kabar itu benar, kita berdua bakal kaya raya.”

”Kalau kabar itu salah?”

”Tak apa-apa, hitung-hitung kita uji coba pukulan tenaga dalam jarak jauh yang pernah kita pelajari.”

Banawa mengangguk-angguk tanda mengerti. ”Kalau begitu, kita hantam saja pintu itu bersama-sama sekarang juga.”

”Benar. Ayo kita mulai!”

Dua pendekar berdiri kokoh menghadap ke mulut goa yang tertutup batu besar. Telapak tangan mereka masing-masing menempel dan berada di depan dada. Banawa berdiri di sebelah kanan, sedangkan Banawi berdiri di sebelah kiri.

Keduanya menghimpun tenaga dalam masing-masing untuk dipusatkan di kedua telapak tangan. Tubuh mereka bergetar hebat, asap mengepul dari telapak tangan masing-masing. Keringat mengalir deras di dahi mereka.

Pada puncak pencapaian tenaga dalam, keduanya saling bergeser ke kanan dan ke kiri. Tangan kanan Banawi bertapakan dengan telapak tangan kiri Banawa.

Tangan kanan Banawa dan tangan kiri Banawi secara bersamaan hantamkan pukulan tenaga dalam jarak jauh ke mulut goa yang tertutup rapat.

Zhab! Zhab!

Dari kedua telapak tangan mereka meluncur sinar biru. Terus melesat cepat ke mulut goa. Sinar itu menghantam tutup goa.

Ketika penutup goa terhantam, ada seberkas sinar merah mengelilingi batu penutup itu. Sinar merah melontarkan sinar biru kembali ke asalnya. Ke arah Banawa dan Banawi!

Banawa dan Banawi tak menduga bakal terjadi seperti ini. Mereka menjatuhkan diri di bebatuan depan goa. Di atas mereka meluncur sinar biru dengan lesatan panas yang cepat. Meluncur keluar ke arah pohon besar.

Brual!

Pohon itu hancur berkeping-keping. Daun, batang, dan akarnya berhamburan jadi potongan-potongan kecil. Berjatuhan ke bumi. Berserakan di berbagai penjuru menjadi serpihan-serpihan kecil.

Kenyataan itu menunjukkan bahwa tenaga dalam Banawa dan Banawi sungguh dahsyat laur biasa. Tenaga dalam pendekar kembar itu tidak bisa dianggap enteng oleh siapa pun.

”Sebenarnya tenaga dalam kita sudah mencapai tataran tinggi,” kata Banawa. ”Tapi pintu goa itu ternyata dilapisi kekuatan pembalik.”

”Siapa yang memasang tenaga pembalik itu?” tanya Banawi.

”Tentunya orang yang ingin sesuatu di dalam goa itu aman.”

”Berarti di dalam goa itu ada harta karunnya.”

”Benar. Kurasa demikian. Orang yang memasangi tenaga pembalik itu pasti orang yang menyimpan harta karun di dalam goa itu.”

”Siapa ya nama orang itu?”

”Kita belum tahu. Tapi itu perlu dipikirkan! Sekarang yang penting adalah bagaimana menemukan cara agar tenaga dalam kita lebih sempurna. Setelah itu, kita dapat menjebol pintu goa.”

”Untuk mencapai taraf sempurna, kita mesti berlatih lagi selama satu setengah windu,” kata Banawi.

“Maksudmu kita berlatih lagi selama dua belas tahun?” tanya Banawa.

”Iya.”

“Kalau kita berlatih selama itu, mungkin orang lain sudah menguasai harta karun dalam goa itu. Kita tidak mendapatkan harta itu.”

”Tapi ada cara lain agar kita mencapai tenaga dalam sempurna dalam waktu singkat, mungkin hanya sehari,” Banawa berkata sambil menatap Banawi.

”Ah, kamu jangan ngelindur! Mana mungkin ada cara seperti itu?”

“Aku tidak ngelindur. Ini benar-benar ada cara paling gampang agar kita bisa mendapatkan tenaga berlipat-lipat dalam waktu singkat.”

“Bagaimana caranya?”

”Banawi...,kau sudah pernah mendengar tentang Bunga Puspajingga?”

”Pernah, ibu sering mendongengkan tentang kesaktian bunga itu pada waktu kita masih kecil.”

”Tapi bunga tersebut ternyata bukan dongeng. Bunga Puspajingga benar-benar ada. Bunga itu tumbuh di tebing Gunung Sumbing.”

“Banyak sekali kesaktian yang ada pada bunga itu,” Banawa menambahkan, “antara lain dapat melipatgandakan tenaga dalam. Seorang pendekar bisa memiliki tenaga dalam berlipat-lipat dengan menggunakan Bunga Puspajingga.”

”Apakah kita akan memetik bunga itu?”

”Iya, aku yang akan mengambil bunga itu. Kau tetap berjaga di sini! Nanti bila telah didapat, bunga itu direndam dalam air putih.”

“Air putih rendaman Bunga Puspajingga kita minum,” kata Banawa, “maka tenaga dalam kita menjadi berlipat-lipat. Kita berdua nanti bakal mampu menjebol pintu goa itu.”

Banawi menghela napas sebentar. Baru kemudian berkata, ”Baiklah, aku berjaga di depan goa ini. Kalau kau ingin ke Gunung Sumbing, berangkatlah sekarang juga!”

Banawa meninggalkan Goa Barong. Berjalan menyusuri jalan setapak ke arah selatan. Pendekar muda yang suka berpakaian serba merah itu terus berjalan tegap dengan semangat menyala.

Dalam benaknya timbul khayalan-khayalan. Misalnya setelah kelak mendapatkan Bunga Puspajingga, dia dan saudara kembarnya segera menjebol pintu Goa Barong.

Harta dibagi dua, lalu mereka akan kaya raya. Banawa berkeinginan mempunyai istri setelah menjadi orang kaya. Bahkan dia juga berkhayal ingin mempunyai istri lebih dari satu.

Khayalan Banawa terlalu melambung, hingga tak menyadari bahwa hari telah menjelang senja. Banawa juga tidak menyadari ketika dia telah melewati Bukit Tengkorak. Dia juga tak tahu kalau ada sepasang mata mengawasinya dari balik bebatuan.

***

Bab 3

Orang yang sejak tadi mengawasi Banawa, nangkring di dahan pohon yang tinggi. Dia adalah sosok pendekar yang berpakaian serba ungu. Dengan sekali gerakan meluncur dan menginjak tanah tepat di depan Banawa.

Gerakan pendekar wanita berparas cantik itu tentu saja mengejutkan Banawa. Lebih-lebih setelah Banawa tahu sosok gadis yang berdiri di depannya, maka lebih terkejutlah dia.

”Westi Ningtyas!” teriak Banawa.

”Banawa!” gadis itu balas teriak.

Kedua pendekar itu pun saling bergerak mendekat. Saling berpelukan dengan erat. Erat sekali. Seolah-olah tak mau lepas untuk selama-lamanya.

”Aku rindu sekali, Banawa..., rindu sekali,” kata Westi Ningtyas, masih memeluk Banawa.

”Aku pun juga demikian, Westi,” balas Banawa. ”Siang malam aku selalu memikirkan dirimu. Hampir tiap malam aku sulit tidur karena rindu padamu.”

”Selama ini kamu kemana, Banawa?”

”Memperdalam tenaga dalam bersama saudara kembarku.”

”Sudah berhasil?”

”Sudah. Tapi tentang janjiku padamu itu..., ehm... maafkan. Aku belum bisa memenuhi janji dalam waktu dekat ini.”

Banawa melanjutkan, “Aku akan mengumpulkan harta yang banyak dulu. Baru setelah itu kita kawin.”

”Tak apa-apa, Banawa. Aku akan tetap sabar menunggu. Lagi pula, aku sekarang juga ada tugas penting dari kakakku.”

Westi merenggangkan pelukannya, kemudian melepaskan pelukan dari pemuda yang sudah lama menjadi kekasihnya itu. Keduanya duduk di atas batu hitam.

Saling berhadapan untuk saling menatap wajah sang kekasih. Dalam benaknya Banawa merasa bangga mempunyai kekasih secantik Westi.

Gadis tinggi semampai, hidung bangir, bibir bulat kecil, kulit halus, dan rambutnya panjang tergerai. Ikat kepala yang juga berwarna ungu lebih mempercantik penampilannya.

”Kakakmu memberikan tugas apa, Westi?”

”Kakakku luka parah dalam suatu pertarungan. Dia memberiku tugas untuk mencari penyembuhnya.”

”Kamu disuruh mencari apa?”

”Bunga Puspajingga.”

Mata Banawa terbelalak. Ini berarti dirinya mesti bersaing dengan Westi. Bahkan bukan hanya sekedar bersaing, tapi mungkin malah harus bertarung dan saling bunuh demi mendapatkan bunga sakti itu!

Jika hal tersebut harus terjadi, sungguh-sungguh sesuatu yang menyedihkan. Banawa tak sanggup membayangkan dirinya bertarung melawan Westi.

”Kenapa, Banawa? Kelihatannya kok kaget?” tanya Westi penasaran.

”Ehm..., begini Westi,” Banawa mengambil napas dalam-dalam. ”Aku juga ingin memiliki Bunga Puspajingga.”

”Untuk apa?”

”Untuk menyempurnakan tenaga dalamku. Bila ini berhasil, kamu juga memetik hasilnya.”

”Maksudmu apa, Banawa?”

Banawa pun menceritakan rencana dirinya bersama Banawi untuk menguasai harta karun yang terdapat dalam Goa Barong. Westi mengangguk-angguk tanda mengerti atas keinginan kekasihnya.

”Tapi bagaimana dengan kakakku? Dia benar-benar sangat membutuhkan bunga sakti itu,” kata Westi.

”Begini saja, Westi, bunga itu kita cari bersama-sama. Kalau sudah kita petik, kelopaknya dibagi dua. Bagimana?” tanya Banawa.

“Setuju! Pemikiranmu benar-benar hebat, Banawa! Kamu punya pemikiran yang cemerlang.”

Banawa mendekati Westi. Tangannya membelai wajah kekasih hati yang halus. Lalu keduanya berpelukan mesra.

Hari menjelang malam. Alam sekitar sudah mulai gelap karena sang mentari sudah lama tenggelam di ufuk barat. Makin malam makin gulita.

Samar-samar sinar bulan purnama menggantikan sang surya. Semakin malam, sinar bulan semakin terang benderang. Sinar terangnya menyinari jagat raya.

Banawa dan Westi berencana tidur di goa kecil yang ada di Bukit Tengkorak. Mereka berdua kelihatan sedang asyik duduk di depan perapian yang mereka buat.

Perapian kecil itu mereka buat dari ranting-ranting kering. Mereka membakar kelinci hutan yang baru saja mereka tangkap. Nyala api yang cukup besar mampu mematangkan binatang yang dibakar.

Dengan lezatnya sepasang kekasih itu menyantap daging kelinci yang sudah matang. Usai makan, mereka kembali duduk di luar goa kecil sambil menikmati keindahan malam bulan purnama.

”Westi. Apa yang kamu ketahui tentang Bunga Puspajingga?” tanya Banawa memecah kesunyian.

”Bunga Puspajingga wangi, kelopak tidak mudah layu atau runtuh dari tangkainya.”

Lanjut Westi, “Bunga sakti itu punya banyak kegunaan. Sayangnya, bunga itu tidak mudah hidup di sembarang tempat. Dia hanya bisa hidup di tempat yang tingginya ribuan tombak dari atas tanah.”

“Itu pun masih ada syarat lagi,” Westi menambahkan, “tanaman bunga itu tidak bisa tumbuh selain di tebing gunung. Sampai saat ini baru satu gunung yang diketahui telah tumbuh Bunga Puspajingga, yaitu Gunung Sumbing.”

”Bagaimana orang tahu kalau di gunung itu ditumbuhi Bunga Puspajingga?”

”Dari baunya akan ketahuan. Ketika Bunga Puspajingga mekar, dari seluruh areal gunung akan tercium bau yang harum. Mulai dari puncak gunung sampai kaki gunung akan tercium bau harumnya yang semerbak.”

”Selain itu, apakah ada bukti lain sehingga orang begitu yakin kalau di gunung itu ada Bunga Puspajingga?”

”Ada. Beberapa waktu yang lalu ada seorang pendekar dari timur berhasil memetik Bunga Puspajingga. Nama pendekar itu Garda Punjung. Waktu itu dia hanya memetik satu kumtum bunga sakti tersebut, walau sebenarnya ada dua kuntum bunga yang mekar.”

”Untuk apa Garda Punjung memetik bunga itu?”

”Tak ada yang tahu, hanya saja, kita perlu berterima kasih kepada Garda Punjung. Karena dia yang pertama mengetahui kalau ada Bunga Puspajingga di Gunung Sumbing.”

”Menurutmu, bagaimanakah bunga yang satu kuntum yang tidak dipetik Garda?”

”Kemungkinan sudah menjadi biji. Tapi ini tidak pasti, sebab bunga itu jarang menjadi biji. Oh ya, ada satu hal lagi, Puspajingga mekar hanya sekali dalam sewindu.”

”Masa?” Banawa terkejut. ”Selama delapan tahun, bunga itu hanya berbunga satu kali?”

”Benar,” jawab Westi tenang.

”Bangaimana kalau saat ini bunga itu tidak mekar?”

“Kata banyak orang, sekarang ini baunya masih semerbak, berarti masih mekar. Memangnya kenapa kalau sudah tidak mekar?”

“Bila sekarang bunga itu tidak mekar, maka sia-sialah perjalanan kita ini.”

”Jangan khawatir Banawa! Saya pernah lewat di kaki gunung itu belum lama ini. Saya mencium wangi Puspajingga.”

Makin larut malam, udara perbukitan semakin dingin. Banawa merapatkan diri pada sang kekasih. Begitu pula Westi semakin meringkuk dalam pelukan Banawa yang hangat.

”Banawa, selama setahun kita berpisah, apa kamu pernah berhubungan dengan wanita lain?” tanya Westi tiba-tiba.

”Tidak,” jawab Banawa jujur. “Memangnya ada apa?”

”Tidak ada apa-apa, hanya ingin tahu saja. Aku juga begitu. Tak ada pemuda yang kucintai selain dirimu.”

“Sejak pertama kamu memerawani aku di tengah hutan itu,” lanjut Westi, “aku bersumpah tidak akan berhubungan dengan pemuda lain.”

”Westi...,” panggil Banawa lirih sambil mempererat pelukannya pada bahu sang kekasih.

”Ada apa, Banawa?”

”Ehm..., aku....”

Agaknya Westi tahu yang dikehendaki Banawa. Dia segera memulai. Mencium bibir laki-laki idamannya dengan lembut. Lembut sekali. Membuat Banawa merasa terombang-ambing antara percaya dan tidak. Mimpi atau kenyataan?

Bukan mimpi. Ternyata kenyataan. Sebuah kenyataan yang membuat kedua sejoli itu kelelahan. Tidur pulas karena kelelahan. Tidur pulas sampai pagi.

Keesokam harinya Westi bangun terlebih dahulu. Dia segera meraih pakaiannya, berjalan menuju pancuran.

Gadis itu mandi di pancuran yang sangat dingin airnya. Membersihkan seluruh tubuh, hingga tak menyadari ketika sinar matahari menyentuh wajahnya.

Bergegas dia mengenakan pakaian yang berwarna serba ungu. Senjata andalannya berupa keris kecil diselipkan di pinggang. Keris kecil ini juga disebut cundrik.

Westi berjalan cepat ke depan goa kecil untuk membangunkan Banawa. Namun Banawa sudah tidak berada di tempat! Kemana dia? Westi mencari-cari di areal Bukit Tengkorak. Tapi tak menemukan yang dia cari.

***

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED